Prive. Volume 2. Nomor 1. Maret 2019 http://ejurnal. id/index. php/prive The Influence of Housing Loan (KPR) to Non Performing Loan and its Impact on Return On Asset (Case Study on PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Hasan Fahmi Kusnandar1. Maman Sulaeman2. Gun Gun Gunawan 3. Rangga Puja Debara4 1,2,3 Politeknik Triguna Tasikmalaya Universitas Siliwangi e-mail: hasanfahmi2kusnandar@gmail. Abstract The purpose of this research is to know a housing loan, non performing loan and return on asset as well as the influence of housing loan on non performing loan, and to determine the influence of housing loan and non performing loan are either partially or simultaneously on return on asset at PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. The method used in this research is descriptive method analysis with aproach a case study to the PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. The data collected form the primary data and secondary data with analysis technique using path analysis. The results showed that : . a housing loan on PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. shows the biggest result in the year 2015, non performing loan on PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. shows the biggest result in the year 2012 until year 2015 and return on asset on PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. shows the biggest result in the year 2010 . housing loan significant effect on non performing loan . housing laon in partial does effect significant to return on asset, partial non performing loan does not effect significant to return on asset and housing loan and simultaneous non performing loang does effect significant on return on asset. Keywords: Housing Loan. Non Performing Loan, and Return On Asset Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyaluran kredit pemilikan rumah, non performing loan dan return on asset serta mengetahui pengaruh penyaluran kredit pemilikan rumah terhadap non performing loan, dan mengetahui pengaruh penyaluran kredit pemilikan rumah dan non performing loan secara parsial maupun secara simultan terhadap return on asset pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan studi kasus pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder dengan teknik analisis data menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : . penyaluran kredit pemilikan rumah pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. hasil terbesar pada tahun 2015, non performing loan pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. hasil terbesar pada tahun 2012 sampai tahun 2014 dan return on asset pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. hasil terbesar pada tahun 2010, . penyaluran kredit pemilikan rumah berpengaruh signifikan terhadap non performing loan, . penyaluran kredit pemilikan rumah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return on asset, non performing loan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return on asset dan penyaluran kredit pemilikan rumah dan non performing loan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap return on asset. Kata Kunci: Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah. Non Performing Loan, dan Return On Asset PENDAHULUAN Pembelian rumah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara tunai maupun Pembelian rumah secara tunai dapat dilakukan apa bila pembeli tersebut memiliki uang dengan jumlah yang sama dengan harga rumah tersebut. Namun bagi pembeli yang memiliki jumlah uang yang lebih rendah dibanding dengan harga rumah, pembelian rumah dapat dilakukan secara angsuran atau kredit. Dengan adanya alternatif kredit perumahan menjadikannya banyak diminati oleh kalangan masyarakat dengan penghasilan rendah. Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, salah satu cara pemerintah dalam membantu masyarakat dari golongan menengah ke bawah adalah dengan memberikan kredit melalui bank. Bank Tabungan Negara merupakan satu-satunya bank umum yang fokus bisnisnya terhadap pembiayaan perumahan baik subsidi maupun yang non subsidi. Dengan fokus bisnis tersebut, maka Bank Tabungan Negara mempunyai peranan penting dalam membantu pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia dengan menyediakan kredit perumahan dengan tingkat suku bunga yang rendah. Dengan besarnya volume penjualan kredit setiap tahunnya, berarti perusahaan tersebut harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi. Adanya penjualan kredit yang dilakukan, dapat mengurangi kemungkinan risiko seperti munculnya biaya penambahan pegawai dan pengurusan Saat semua masalah ini bermunculan, secara langsung akan menghambat kelancaran operasional yang harus dicapai perusahaan. Pendapatan terbesar dalam Bank yang dapat mempengaruhi modal adalah pendapatan bunga dan penyaluran kredit. karena dari peningkatan penyaluran kredit maka perolehan pendapatan bunga meningkat, meningkatnya perolehan pendapatan ini dapat menutupi seluruh beban termasuk non performing loan. Setelah pendapatan dikurangi beban dan non performing loan baru didapat laba dimana peningkatan laba ini akan mempengaruhi pertumbuhan modal. Karena penyaluran kredit memberikan pemasukan yang sangat besar maka masing-masing bank dalam membuat penyaluran kredit yang berbeda-beda. Dengan tujuan menambah jumlah modal, walaupun ada pendapatan bank yang diperoleh selain dari bunga misal, biaya administrasi tabungan dan jasa transfer. Pengelolaan kredit bermasalah atau non performing loan menjadi sangat penting karena hal ini berdampak pada kinerja perusahaan. Non performing loan ini menunjukkan seberapa besar kolektibilitas Bank dalam mengumpulkan kembali kredit yang telah Tingginya non performing loan dapat mempengaruhi kebijakan Bank dalam menyalurkan kreditnya yaitu Bank menjadi lebih berhati-hati. Karena bank yang tetap memberikan kredit ketika non performing loan-nya tinggi berarti Bank tersebut termasuk risk taken. Batas maksimum persentase kredit bermasalah pada setiap perbankan di Indonesia harus mengacu pada peraturan yang di buat oleh Bank Indonesia tentang batas kewajaran tingkat non performing loan yaitu sebesar 5%. Peraturan ini penting agar setiap perbankan yang ada Indonesia tetap menjaga tingkat non performing loan. Tingkat kelangsungan usaha Bank berkaitan erat dengan aktiva produktif yang dimilikinya, oleh karena itu manajemen Bank dituntut untuk senantiasa dapat memantau dan menganalisis kualitas aktiva produktif yang dimilikinya. Kualitas aktiva produktif menunjukkan kualitas aset sehubungan dengan risiko kredit yang dihadapi oleh bank akibat pemberian kredit dan investasi dana bank. Pertumbuhan kredit yang lambat tersebut ditengarai lebih disebabkan faktor penawaran yaitu keengganan bank untuk menyalurkan kredit, yang sering disebut sebagai fenomena credit crunch. Faktor yang biasanya mempengaruhi perilaku bank dalam menawarkan kredit perbankan dapat disebabkan oleh banyak hal seperti rendahnya kualitas aset perbankan, nilai non performing loan yang tinggi atau mungkin saja anjloknya modal perbankan akibat depresiasi sehingga menurunkan kemampuan bank dalam memberikan pinjaman (Juda Agung, 2. Banyaknya jumlah kredit yang disalurkan akan menentukan laba yang diperoleh. Namun, tidak berarti jumlah kredit yang disalurkan akan memberikan laba yang besar pula, karena dalam penyaluran kredit kemungkinan timbul risiko kredit bermasalah dan hal ini akan berdampak pada tingkat non performing loan perbankan. Untuk itulah perlu adanya kebijakan pemberian kredit yang tepat dan efektif yang diterapkan perbankan agar tingkat kredit bermasalah dapat berkurang. Penyaluran dana melalui pemberian kredit merupakan usaha yang terpenting bagi bank karena proporsi terbesar dari penyaluran dana yang ada adalah melaui pemberian Dengan demikian pendapatan yang utama dan bagi bank adalah usaha yang dilakukan dari kegiatan penyaluran kredit sehingga pada akhirnya akan meningkatkan perolehan laba operasi bank dengan biaya bunga yang harus ditanggung oleh pihak peminjam sebagai balas jasa dana yang diterima (Malayu S. P Hasibuan, 2006 : . Dari kegiatan penyaluran kredit tersebut maka dapat diukur sejauh mana tingkat efektifitas bank dalam mengelola dan menjalankan perbankan tersebut dengan Return On Asset (ROA), alasan dipilihnya ROA adalah karena ROA ini mengukur sampai sejauh mana kemampuan manajemen bank dalam menjalankan atau mengelola operasional bank secara efektif dan efisien dengan menggunakan sumber-sumber pendapatan dalam rangka pengembangan atau ekspansi usaha dan menciptakan pendapatan bank secara keseluruhan. ROA juga dapat mengukur tingkat efektifitas manajemen bank dalam mengelola aktiva yang dikuasainya dalam menghasilkan berbagai income atau pendapatan bagi pihak bank. Semakin tinggi ROA suatu bank, maka akan semakin baik pula posisi bank dilihat dari segi penggunaan Tabel 1 Realisasi Penyaluran Kredit PT. BTN Tahun 2013 - 2017 Rp. (Dalam Jutaa. Jenis Kredit Modal kerja Investasi Konsumer Pegawai Program Pemerintah Total Kredit Tahun Dari data tabel 1 diatas menunjukan jika realisasi penyaluran kredit pada PT. BTN Tbk. menunjukan kenaikan pada setiap tahunnya. Termasuk pada realisasi penyaluran kredit konsumer pada PT. BTN. Setiap tahunnya mengalami kenaikan, yang berada pada Rp. 000 di tahun 2017. Tinjauan Pustaka Sebagai salah satu lembaga keuangan, disamping memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang, usaha pokok bisnis perbankan adalah memberikan pelayanan kredit kepada para nasabahnya. Menurut Thomas Suyatno . 5: . , pengertian kredit adalah sebagai berikut : AuKredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam-meminjam antara bank dan lain pihak dalam hal, pihak peminjam berkewajiban melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang telah ditetapkanAy. Menurut Bank Indonesia . , kredit pemilikan rumah adalah suatu fasilitas kredit yang diberikan oleh perbankan kepada para nasabah perorangan yang membeli atau memperbaiki rumah. Hinga saat ini KPR masih disediakan oleh perbankan, meskipun sudah ada beberapa perusahaan pembiayaan . yang juga menyalurkan pembiayaan dari lembaga sekunder pembiayaan perumahan. Non performing loan menurut Almilia dan Herdiningtyas . 5: . adalah sebagai berikut : AuRasio keuangan yang berkaitan dengan resiko kredi. Resiko kredit adalah resiko dari kemungkinan terjadinya kerugian bank sebagai akibat dari tidak dilunasinya kembali kredit yang diberikan bank kepada debiturAy Sedangkan menurut PSAK No 31 Tahun 2009 tentang akuntansi perbankan meyatakan bahwa : AuNon Performing Loan pada umumnya merupakan kredit yang pembayaran angsuran pokok dan atau bunganya telah lewat 90 hari atau lebih setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukan. Kredit ini digolongkan sebagai kredit kurang lancar, diragukan dan macetAy Menurut Sumardi Ismail . 5: . menyatakan bahwa : AuReturn On Asset (ROA) merupakan Penilaian rentabilitas bagi bank secara kuantitatif didasarkan pada dua rasio, diantaranya yaitu : Rasio perbandingan laba dalam 12 bulan terakhir terhadap rata Ae rata volume perusahaan (ROA) dalam periode yang sama, dan Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional dalam periode yang Ay Kerangka Pemikiran Penyaluran kredit menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 menyatakan bahwa Penyaluran kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Dengan adanya timbal-balik atas pemberian kredit maka kredit merupakan salah satu sumber penghasilan bagi bank. Terutama bagi bank konvensional, pendapatan dari kegiatan kredit ini dapat berupa pendapatan bunga konvensional, pendapatan dari kegiatan kredit ini dapat berupa pendapatan bunga Semakin besar jumlah kredit yang disalurkan maka akan semakin besar pula pendapatan bunga yang akan diperoleh oleh bank. Penyaluran kredit merupakan kegiatan usaha yang mendominasi pengalokasian dana bank. Penggunaan dana untuk penyaluran kredit ini mencapai 70% - 80% dari volume usaha bank. Terkonsentrasi usaha bank dalam penyaluran kredit tersebut disebabkan oleh beberapa alasan yaitu : . sifat usaha bank berfungsi sebagai lembaga intermediasi antara unit surplus dan unit deficit. penyaluran kredit memberikan spread yang pasti sehingga besarnya pendapatan dapat diperkirakan. melihat posisinya dalam bidang pelaksanaan kebijakan moneter, perbankan merupakan sektor usaha yang kegiatannya dibatasi. sumber dana utama bank berasal dari dana masyarakat sehingga secara moral mereka harus menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit (Dahlan Siamat, 2004:. Menurut PSAK Nomor 31 Tahun 2009 Tentang Akuntansi Perbankan menyatakan bahwa AuKredit bermasalah atau Non performing loan pada umumnya merupakan kredit yang pembayaran angsuran pokok dan bunganya telah lewat 90 . embilan pulu. hari atau lebih setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukanAy. Penggolongan kualitas kredit, menurut Pasal 4 SK Direktur BI Nomor 30/267/KEP/DIR tanggal 27 Februari 1998, yaitu sebagai berikut : Kredit Lancar . Kredit Dalam Perhatian Khusus . pecial mentio. Kredit Kurang Lancar . Kredit Diragukan . Kredit Macet . ad-deb. Dalam penyaluran kredit KPR tentunya memiliki resiko, misalnya terjadi kegagalan kredit dari pihak debitur sehingga menimbulkan kerugian pada bank. Untuk mengantispasi kejadian tersebut, pihak bank diharuskan menyisihkan sebagian dananya . embentuk PPAP) guna menutup kemungkinan kerugian. Tujuan pembentukan PPAP adalah untuk mengantisipasi jumlah kerugian yang akan terjadi akibat aktiva produktif dapat ditagih. (E. Rinaldy, 2008: . Untuk itu, dalam hal penanaman dana pada aktiva produktif ini tentunya harus dilakukakn dengan sebaik-baiknya oleh pihak manajemen bank. Penanaman dana yang bersifat spekulatif sangatlah tidak dianjurkan. Dari pernyataan diatas penulis dapat menjabarkan semakin besar kredit yang diberikan yang disertai tidak tepat dalam perhitungan, penjagaan dan pengawasan mutu kredit serta tidak tepat dalam menentukan sasaran maka Non Performing Loan ikut Begitupun sebaliknya jika semakin kecil penyaluran kredit yang disertai ketidakpastian dalam perhitungan, penjagaan dan pengawasan mutu kredit, serta tepat dalam menentukan sasaran maka non performing loan akan ikut menurun. Pengaruh bermasalah terhadap Return On Asset adalah jika tingkat kredit bermasalah dapat ditekan semaksimal mungkin, maka Return On Asset bank tersebut akan semakin baik dan semakin besar tingkat Non Performing Loan suatu bank, maka Return On Asset akan semakin kecil. Salah satu impikasi bagi bank sebagai akibat dari timbulnya kredit bermasalah tersebut adalah hilangnya kesempatan unutk memperoleh pendapatan dari kredit yang disalurkan, sehingga mempengaruhi Return On Asset bank (Boy Leon dan Ericksson, 2007:. Adapun indikator yang digunakan penulis adalah kredit bermasalah dan kredit yang disalurkan menurut Amilia dan Hendiningtyas . Serta indikator laba sebelum pajak dan total aktiva sesuai dengan ketentuan peraturan Bank Indonesia menurut Veithzal Rival . Rasio yang digunakan adalah Return On Asset, karena rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva yang dikuasainya untuk menghasilkan berbagai macam income. Semakin tinggi ROA yang dicapai maka semakin tinggi perusahaan tersebut menghasilkan laba atau profit. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa semakin besar penyaluran kredit maka pendapatan dari bunga pun akan bertambah dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian kredit tersebut lancar. Pendapatan dari bunga inilah yang akan menambah modal kerja perusahaan dan menambah asset perusahaan. Bagi bank yang dalam aktifitas ini menyalurkan dalam bentuk loanable fund, aktivitas pemberian kredit akan menimbulkan piutang serta mengharapkan tambahan berupa bunga. Dari kegiatan penyaluran kredit, bank akan menerima pendapatan berupa bunga pinjaman yang pada akhirnya akan meningkatkan perolehan Return On Asset (ROA) yang cukup signifikan. Sehingga Return On Asset (ROA) dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan manajemen bank dalam menjalankan operasional bank secara efektif dan efisien dengan penggunaan sumber-sumber pendapatan untuk mengembangkan usaha dengan menciptakan pendapatan bank secara keseluruhan serta dapat digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva yang dikuasainya untuk menghasilkan sebagai income atau pendapatan. Berdasarkan uraian tersebut maka kerangka pemikiran penelitian ini dapat digambarkan pada gambar berikut: Penyaluran Kredit (X. Indikator : Jumlah kredit yang Non Performing Loan (X. Indikator : perbandingan kredit bermasalah . redit kurang lancar, kredit diraguakan dan kredit mace. dengan total Return On Aset (Y) Indikator : perbandingan laba sebelum pajak dan total aktiva Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran di atas hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah berpengaruh Signifikan terhadap Non Performing Loan. Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah. Non Performing Loan berperngaruh pada Return On Asset (ROA) secara parsial dan simultan pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat penjelasan . xplanatory researc. , artinya penelitian akan menjelaskan secara mendalam hubungan sebab akibat antara variabel penelitian atau tentang suatu hal. Tabel 1 Operasionalisasi Variabel Variabel Definisi variabel Indikator Skala Penyaluran Kredit pemilikan rumah adalah suatu Total kredit KPR Rasio Kredit fasilitas kredit yang diberikan oleh Pemilikan perbankan kepada para nasabah (Dalam Rumah (X. memperbaiki rumah. (Menurut Bank Indonesia : 2. Non Performing Non Performing Loan : Non performing A Kredit kurang Rasio Loan (X. Loan pada umunya merupakan kredit yang pembayaran angsuran pokok dan A Kredit diragukan atau bunganya telah lewat 90 hari atau A Kredit Macet lebih setelah jatuh tempo, atau kredit (Kredit bermasalah : yang pembayarannya secara tepat waktu Total Kredit yang sangat diragukan. Kredit in digolongkan Disalurkan Dalam sebagai kredit kurang lancar, diragukan Saldo Debi. dan macet. Return On Assets (Y) Return On Assets adalah rasio yang Laba sebelum pajak yang digunakan manajemen bank dalam dan Total aktiva memperoleh keuntungan . secara (Lukman Dendawijaya 2005:. Jenis data yang akan digunakan merupakan data yang memiliki keterkaitan dengan masalah pengaruh Penyaluran Kredit. Non Performing Loan dan Return On Asset (ROA). Bertitik tolak dari judul penelitian yaitu AuPengaruh Penyaluran Kredit dan Non Performing Loan terhadap Return On Asset (ROA) Pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Periode 2012 - 2015Ay, maka berikut digambarkan paradigma penelitian berikut indikator setiap variabel penelitian, baik indikator independen, yaitu penyalurkan kredit (X. dan non performing loan (X. maupun variabel dependen, yaitu Return On Asset (ROA) (Y). Rasio Gambar 1 Paradigma Penelitian Keterangan : X1 : Penyaluran Kredit X2 : Non Performing Loan (NPL) Y : Return On Asset (ROA) Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi pearson product moment. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis jalur (Path Analysi. Untuk mengetahui besarnya pengaruh antara variabel terikat. Hubungan antar variabel tersebut dapat dilihat pada gambar 2 AYX1 AX2X1 AYX2 AYa Gambar 3 Hubungan Struktural Path Analysis Keterangan : = Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah = Non Performing Loan = Return On Assets = Faktor lain yang tidak diteliti AX2X1 = Koefisien jalur antara variabel X1 terhadap X2 AYX1 = Koefisien jalur antara variabel X1 terhadap Y AYX2 = Koefisien jalur antara variabel X2 terhadap Y AYa = Koefisien jalur antara variabel a terhadap Y HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengaruh Secara Parsial Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah Terhadap Return On Asset Pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Untuk menghitung pengaruh secara parsial Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah terhadap Return On Asset pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. sampai tahun 2015 dengan menggunakan software SPSS versi 17. Adapun data yang digunakan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel 2 Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dan Return On Asset PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Tahun 2008 Ae 2017 Tahun Penyaluran Kredit Pemilikan Return On Asset Rumah (KPR) (%) Rp(Dalam Jutaa. 16,496 16,509 17,050 17,267 17,411 17,511 17,775 17,985 18,139 18,329 (Sumber : PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Berdasarkan hasil perhitungan variabel X1 (Penyaluran Kredit Pemilikan Ruma. berpengaruh terhadap Y (Return On Asse. sebesar 0,798 dan diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0,636 atau 63,6% yang berarti bahwa Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah berpengaruh terhadap Return On Asset sebesar 63,6% dan sisanya 0,364 atau 36,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti, diantaranya Dana Pihak Ketiga dan Tingkat Suku Bunga. Variabelitas dari variabel Y dipengaruhi oleh variabel bebas X 1 artinya berapapun jumlah Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah akan selalu berpengaruh pada peningkatan jumlah Return On Asset. Dari hasil perhitungan kriteria tolak Ho jika -tA > thitung atau thitung>tA , maka dengan koefisien beta () = 0,798 diperoleh nilai thitung sebesar 2,773 sedangkan ttabel dimana = 5% yaitu df=10-2-1=7 diperoleh nilai ttabel sebesar 2,365 (Lampiran . sehingga thitung . > ttabel . atau jika dibandingkan dengan signifikansi 0,002 lebih kecil dari = Karena thitung>ttabel dan nilai sig 0,002 lebih kecil dari = 5%, maka dari hasil pengujian tersebut mengandung makna bahwa hipotesis diterima dan kaidah keputusan Ho ditolak dan Ha diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat keyakinan 95% hipotesis alternative diterima. Artinya bahwa secara parsial Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset. Hasil tersebut menunjukan bahwa apabila jumlah Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah mengalami perubahan maka akan berpengaruh terhadap jumlah Return On Asset yang didapat. Sesuai dengan pendapat Boy Leon dan Erricsson . 7: . yang menyatakan bahwa salah satu impikasi bagi bank sebagai akibat dari timbulnya kredit bermasalah tersebut adalah hilangnya kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari kredit yang disalurkan, sehingga mempengaruhi Return On Asset bank. Sesuai juga dengan Angga . yang mengkaji pengaruh Kredit yang Diberikan terhadap Return On Asset menyatakan bahwa apabila jumlah kredit yang diberikan berpengaruh signifikan terhadap return on asset pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk Tasikmalaya. Pengaruh Secara Parsial Non Performing Loan Terhadap Return On Asset pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk Tasikmalaya Adapun data yang digunakan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel 3 Non Performing Loan dan Return On Asset PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Tahun 2008 Ae 2017 Tahun Non Performing Loan Return On Asset (%) (%) (Sumber : PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Berdasarkan hasil perhitungan untuk variabel X 2 (Non Performing Loa. berpengaruh terhadap Return On Asset sebesar 2,0% dan sisanya 0,980 atau 98,0% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Variabelitas dari variabel Y dipengaruhi oleh variabel bebas X2 artinya berapapun jumlah non performing loan tidak akan selalu berpengaruh pada peningkatan jumlah Return On Asset. Dari hasil perhitungan software SPSS dengan kriteria tolak Ho jika -tA > thitung atau thitung>tA , maka dengan koefisien beta () = -0,143 diperoleh nilai thitung sebesar 1,226 sedangkan ttabeldimana = 5% yaitu df=10-2-1=7 diperoleh nilai ttabel sebesar 2,365 sehingga thitung (-1,. Ftabel dengan taraf signifikan = 5% maka dari tabel distribusi F-Snedecor diperoleh F. -k-. = 10-2-1 = 7 adalah sebesar 4,74 sehingga Fhitung . > Ftabel . atau jika dibandingkan dengan signifikansi 0,000 lebih kecil dari = 5%. Karena Fhitung>Ftabel dan nilai sig 0,000 lebih kecil dari = 5%, maka dari hasil pengujian tersebut mengandung makna bahwa hipotesis diterima dan kaidah keputusan Ho ditolak dan Ha diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat keyakinan 95% hipotesis alternative diterima artinya Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (X. dan Non Performing Loan (X. pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (Y) sebesar koefisien determinasi 0,927 atau 92,7% yang berarti bahwa Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dan Non Performing Loan berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset sebesar 92,7% dan sisanya 0,073 atau 7,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Berdasarkan hasil tersebut maka hasil penelitian teruji bahwa Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dan Non Performing Loan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. Hal ini sejalan dengan teori Lukman Dendawijaya . 5 : . menyatakan bahwa Dana-dana yang dihimpun dari masyarakat dapat mencapai 80%-90% dari seluruh dana yang dikelola bank dan dana tersebut digunakan untuk kegiatan perkreditan mencapai 70%-80% dari kegiatan usaha bank untuk mendapatkan laba yang maksimum. Maka dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut (Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dan Non Performing Loa. mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Return On Asset. Semakin meningkat jumlah Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah maka akan semakin meningkat pula pada Return On Asset. Secara lengkap pengaruh antara variabel X1 dan variabel X2 terhadap Y dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: AYX = 0,798 AX2X1= 0,790 AYa= -0,218 AYX = -0,143 a2 Gambar 3 Nilai koefisien jalur antara variabel X1 dan X2 terhadap Y Dari gambar 4. 2 diatas, maka dapat ditentukan pengaruh dari suatu variabel ke variabel lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Tabel 4 Formula Untuk Mencari Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Antara Variabel Penelitian Pengaruh Langsung Pengaruh Tidak Langsung Total Pengaruh X1 Y = (Ayx. 2 = . 2 (Ayx. (Ax2x. (Ayx. (Ayx. A B = (C) = 0,636 (A) (Ax2x. (Ayx. ,636 (-0,. ) . (-0,. (= 0,418(C) 0,. = -0,218 (B) Y = (Ayx. 2 = (-0,. 2 = 0,020 (D) Total Pengaruh X1 dan X2 Secara Simultan (C D) = E = . ,418 0,. Pengaruh Faktor Residu Oo1- 0,856 Total (E F) = . X1 Y (C) (D) = 0,438(D) 0,856 (E) 0,144 (F) Keterangan : : Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah : Non Performing Loan : Return On Asset Dari hasil analisis diatas menunjukan bahwa koefisien determinasi jalur pengaruh variabel X1 (Penyaluran Kredit Pemilikan Ruma. dengan variabel X2 (Non Performing Loa. adalah sebesar 0,624 dan variabel X1 (Penyaluran Kredit Pemilikan Ruma. terhadap Y (Return On Asse. adalah 0,636 dan X2 (Non Performing Loa. terhadap Y (Return On Asse. sebesar 0,020. Dengan faktor residu atau faktor lain yang tidak diteliti tetapi berpengaruh terhadap Return On Asset adalah sebesar 0,144, diduga faktor terebut seperti Dana Pihak Ketiga dan Cost Of Fund. Kegiatan bank setelah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan dan deposito adalah menyalurkan kembali dana terebut kepada masyarakat yang membutuhkannya, kegiatan penyaluran dana ini dikenal dengan istilah alokasi dana atau kredit (Kasmir 2014: . KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan keyakinan 95% hipotesis alternative diterima artinya Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (X. dan Non Performing Loan (X. pada PT. Bank Tabungan Negara (Perser. Tbk. secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (Y) sebesar koefisien determinasi 0,927 atau 92,7% yang berarti bahwa Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dan Non Performing Loan berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset sebesar 92,7% dan sisanya 0,073 atau 7,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. DAFTAR PUSTAKA