Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025. ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Hubungan Perceived Seriousness tentang Stroke dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Penderita Hipertensi di Kota Banda Aceh The Relationship Between Perceived Seriousness of Stroke and Treatment Compliance in Hypertensive Patients in Banda Aceh Esa Susanti1*. Aklima2. Marlina2 Mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan Universitas Syiah Kuala Dosen Bagian Keilmuan Keperawatan Gawat Darurat Universitas Syiah Kuala *Email: esasusanti20@gmail. ABSTRAK Perceived seriousness tentang stroke diperlukan untuk meningkatkan persepsi seseorang terhadap hipertensi yang dialami serta juga bisa meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perceived seriousness tentang stroke dengan kepatuhan pengobatan pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional study. Populasi pada penelitian adalah penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh. Teknik pengambilan sampel adalah non probability sampling dengan metode purposive sampling dengan jumlah sampel 100 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner perceived seriousness tentang stroke dan kuesioner kepatuhan pengobatan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis bivariat dengan uji Chi-square . ilai FisherAos exact tes. Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara perceived seriousness tentang stroke dengan kepatuhan pengobatan pada penderita hipertensi . -value = 0. 018 < 0. Semua tingkat pelayanan primer diharapkan bisa memberikan edukasi yang komprehensif kepada penderita penyakit Kata Kunci: Perceived seriousness, kepatuhan pengobatan, hipertensi ABSTRACT Perceived seriousness of stroke is needed to increase patient perception of hypertension and compliance with treatment. This study aimed to determine the relationship between perceived seriousness of stroke and treatment compliance in hypertensive patients in Baiturrahman Banda Aceh. The population of this quantitative research using a cross sectional approach is the population of hypertensive patients in the Baiturrahman Community Health Center Working Area. Banda Aceh. Non-probability sampling technique with purposive sampling method was used to select 100 research samples. Data were collected using the perceived seriousness of stroke questionnaire and the Morisky Medication Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Adherence Scale-8 (MMAS-. medication adherence questionnaire, and the analyzed using bivariate analysis with the Chi-square test (FisherAos exact test The study result showed a relationship between perceived seriousness of stroke and treatment compliance in hypertensive patients . -value = 0. All primary health care facilities are expected to provide comprehensive education to patients with comorbid diseases. Keyword: Perceived Seriousness, treatment compliance, hypertension PENDAHULUAN Meningkatnya prevalensi stroke menyatakan perlunya mengubah kepatuhan pengobatan menjadi lebih baik pada penderita hipertensi (Wang et al. , 2. Kepatuhan pengobatan berarti harus mengikuti dengan baik apa yang diarahkan dalam pengobatan seperti proses pemenuhan resep obat, ketepatan minum obat, pengecekan kesehatan, dan pencarian obat (Kartikasari et al. , 2. Tingkat kepatuhan pengobatan masih berada pada tingkat rendah. Seychelles. Gambia, dan Cina, tingkat kepatuhan pengobatan dengan antihipertensi pada penderita hipertensi masing-masing yaitu 26%, 27%, dan 43%. Kemudian, di Indonesia terdapat 13,3% penderita hipertensi tidak konsumsi obat dan 32,3% tidak rutin konsumsi obat. Sedangkan tingkat kepatuhan mengukur tekanan darah rutin sebesar 12% teratur, 47% kadang-kadang, dan 41% tidak teratur (Kartikasari et al. , 2. Faktor yang mendasari penderita hipertensi tidak mengkonsumsi obat yaitu karena penderita merasa sehat . ,8%), tidak teratur melakukan kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan . ,3%), mengkonsumsi obat herbal atau tradisional . ,5%), menjalankan terapi lain . ,5%), tidak ingat konsumsi obat . ,5%), tidak mampu membeli obat . ,1%), dan merasakan efek samping obat . ,5%) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Salah satu hal yang berperan dalam tingkat kepatuhan pengobatan adalah persepsi seseorang akan adanya bahaya yang bisa muncul dari penyakit yang Persepsi tersebut merupakan bagian penting dalam pengobatan yang disebut perceived seriousness yang merupakan salah satu komponen dari teori health belief model. Perceived seriousness atau perceived severity merupakan keyakinan atau persepsi seseorang terhadap keparahan atau keseriusan penyakit yang dialami. Dalam beberapa kondisi, persepsi keseriusan lebih dominan berpengaruh terhadap perilaku kesehatan daripada komponen lain dari health belief model. Dengan demikian, penelitian yang terkhusus pada Perceived seriousness bisa memberikan pengetahuan lebih aplikatif dan relevan untuk tindakan pada kondisi tersebut. Dalam beberapa penelitian, mengatakan seseorang yang memiliki persepsi keseriusan yang baik atau tinggi akan membuat mereka mengambil tindakan dan keputusan untuk mencegah, mengobati, dan mengontrol keparahan penyakit yang dialami. (Ghozali & Ningsih, 2021. Setiyaningsih et al. Berdasarkan pemaparan kasus tersebut, menjelaskan bahwa persepsi keseriusan mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini mencari dan mengetahui hubungan perceived seriousness tentang stroke dengan kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi di kota Banda Aceh. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari tanggal 25 November sampai dengan 09 Desember 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh dengan populasi penelitian ini yaitu penderita Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan menetapkan beberapa kriteria yaitu kriteria inklusi . sia >30 tahun dan kooperatif dalam penelitia. dan kriteria eksklusi . enderita hipertensi yang pernah atau sedang mengalami strok. dengan jumlah sampel 100 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada responden dengan menggunakan kuesioner perceived seriousness dan morisky medication adherence scale-8 (MMAS-. yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas sebelum penelitian. Data penelitian ini dianalisa dengan menggunakan Uji NonParametrick Chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel perceived seriousness dengan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini telah lulus uji etik oleh Komite Etik Fakultas Keperawatan Uniiversitas Syiah Kuala dengan kode HASIL Hasil yang ditunjukkan pada tabel 1 menjelaskan bahwa rata-rata penderita hipertensi berada pada usia dewasa madya . -59 Tahu. 49 responden . %), berjenis kelamin perempuan 86 responden . %), pendidikan terakhir pada tingkat pendidikan menengah 54 responden . %), rata-rata penderita hipertensi mengalami lama menderita hipertensi O5 tahun 56 responden . %), dan konsumsi obat hipertensi 91 responden . %). Tabel 1. Distribusi frekuensi data demografi responden . Data Demografi Umur (Riskesdas, 2. Dewasa Muda . -44 Tahu. Dewasa Madya . -59 Tahu. Lansia (Ou60 Tahu. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan terakhir Tidak Sekolah Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Pendidikan Tinggi Lama menderita hipertensi O 5 Tahun > 5 Tahun Mengkonsumsi obat hipertensi Iya Tidak Frekuensi Persentase (%) Hasil analisa data pada tabel 2 dapat disimpulkan bahwa 86 responden . %) memiliki perceived seriousness tentang stroke yang tinggi dan kepatuhan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 pengobatan pada kategori patuh. Berdasarkan hasil uji statistik pada variabel perceived seriousness tentang stroke dengan kepatuhan pengobatan penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh diperoleh Avalue 0. 018 (<0. Oleh karena itu, hasil tersebut menjelaskan bahwa Ha diterima dan H0 ditolak. Maka dinyatakan ada hubungan perceived seriousness tentang stroke dengan kepatuhan pengobatan pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh. Tabel 2. Hubungan perceived seriousness dengan kepatuhan pengobatan pada responden . Perceived Seriousness tentang Stroke Tinggi Rendah Total Kepatuhan Pengobatan Patuh Tidak Patuh 0 12 12. 0 14 14. Total AValue PEMBAHASAN Hipertensi yang dikenal sebagai the silent killer menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular aterosklerotik, gagal jantung, stroke, gagal ginjal, dan penyakit lainnya yang bisa berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan secara rutin agar penderita mengetahui bahwa dirinya mengalami hipertensi (Andala, et al. , 2. Karena risiko morbiditas atau mortalitas bisa terjadi secara dini dan meningkat ketika tekanan darah juga meningkat (Prabawati et al. , 2. Berdasarkan hasil uji statistik yang menggunakan uji korelasi Chi-square . menampilkan hasil A-value yaitu 0. Dikarenakan nilai A-value kecil 05 maka hasil tersebut dinyatakan Ha diterima dan H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan perceived seriousness tentang stroke dengan kepatuhan pengobatan pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh. Pada tabel 3 menunjukkan hasil analisa data bahwa 86 responden berada pada kategori persepsi keseriusan yang tinggi dan memiliki kepatuhan pengobatan pada kategori patuh, 12 responden berada pada kategori persepsi keseriusan yang tinggi dan memiliki kepatuhan pengobatan pada kategori tidak patuh, dan 2 responden berada pada kategori persepsi keseriusan yang rendah dan memiliki kepatuhan pengobatan pada kategori tidak Hasil penelitian yang menyatakan bahwa mayoritas responden berada pada kategori persepsi keseriusan yang tinggi ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prabawati et al. yang menunjukkan hasil bahwa persepsi keseriusan pada penderita hipertensi berada pada kategori tinggi . ,8%). Penelitian lain yang juga sesuai dengan hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Asmara & Indarjo . menyatakan bahwa persepsi keseriusan pada penderita hipertensi berada pada kategori tinggi . ,6%). Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Menurut peneliti, berdasarkan hasil analisa statistik penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penderita hipertensi menganggap bahwa stroke merupakan ancaman akibat dari tingkat keparahan hipertensi, sehingga perceived seriousness pada penelitian ini tinggi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam teori health belief model bahwa tingkat keparahan suatu penyakit yang dialami menyebabkan individu percaya bahwa akibat dari tingkat keparahan tersebut merupakan ancaman bagi hidupnya (Rosentock et al. , 1. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa 54 responden . %) berada pada tingkat pendidikan menengah. Hal ini bisa diasumsikan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin memiliki pemahaman dan informasi yang baik terhadap kondisi penyakit yang dialami sehingga akan berpengaruh pada persepsi keseriusan dari penyakit yang dialaminya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Abd El Rhman et al. bahwa tingkat pendidikan yang rendah berpengaruh terhadap pemahaman informasi tentang hipertensi sehingga seseorang akan bisa memiliki persepsi keseriusan yang rendah mengenai Menurut penelitian Nurhandiya et al. , menjelaskan bahwa terdapat kaitan antara persepsi keparahan yang rendah dengan tingkat pendidikan, yangmana tingkat pendidikan pada responden pada penelitiannya dominan pada tingkat sekolah dasar . ,9%). Hasil penelitian yang menyatakan bahwa mayoritas responden berada pada kategori patuh pada variabel kepatuhan pengobatan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prabawati et al. yang menunjukkan hasil bahwa kepatuhan terapi hipertensi pada penderita hipertensi berada pada kategori kepatuhan tinggi . ,5%). Pada distribusi frekuensi karakteristik responden yang menunjukkan hasil bahwa responden mayoritas mengalami hipertensi selama O5 Menurut peneliti, kepatuhan pengobatan ini ada kaitannya dengan lamanya menderita hipertensi. Dikarenakan penderita tergolong belum lama mengalami penyakit tersebut sehingga penderita masih khawatir dengan gejala yang dirasakan dan belum merasakan bosan dalam menjalankan pengobatan serta akan cenderung berobat ke puskesmas. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Al Rasyid et al. yang menjelaskan bahwa sseseorang yang mengalami hipertensi <5 tahun cenderung patuh dalam menjalankan pengobatan atau terapi karena terdapatnya rasa khawatir yang lebih besar dan keinginan untuk bisa sembuh. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Prabawati et al. yang menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan persepsi keseriusan dengan kepatuhan terapi hipertensi pada penderita hipertensi dengan nilai A-value 0,010. Penelitian oleh Puspita et al. juga menjelaskan bahwa perceived seriousness memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap upaya pencegahan hipertensi dengan hasil p<0. Sehingga dengan hasil ini bisa dinyatakan bahwa semakin tinggi persepsi keseriusan seseorang terhadap suatu penyakit maka semakin tinggi kepatuhan pengobatan atau upaya pencegahan terhadap penyakit yang dialami. Oleh karena itu, seseorang yang menganggap bahwa hipertensi yang dialami bisa menyebabkan terjadinya stroke sehingga penderita hipertensi akan menjalankan pengobatan atau terapi supaya tidak memperparah penyakit hipertensi yang dialami. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam teori health belief model pada komponen perceived seriousness yang menyatakan bahwa Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 keseriusan penyakit yang dirasakan akan membuat individu untuk mencari pengobatan dan pencegahan terhadap penyakit yang dirasakannya (Setiyaningsih et al. , 2. Salah satu aspek dalam kepatuhan pengobatan adalah memenuhi konsumsi obat sesuai resep (Lam & Fresco, 2. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil statistik bahwa 91 responden . %) mengkonsumsi obat hipertensi. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Ricinta et al. memaparkan bahwa perceived seriousness tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pencegahan hipertensi dengan nilai p=0. 445 > 0. Penelitian tersebut memaparkan bahwa perilaku pencegahan yang lebih tinggi berada pada tingkat persepsi keseriusan yang lebih rendah. Maka dinyatakan hasil penelitian tersebut, bertolak belakang dengan teori health belief model pada komponen perceived SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan pada 100 responden penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara Perceived Seriousness tentang Stroke dengan Kepatuhan Pengobatan pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh dengan A-value yaitu 0. 018 (<0. SARAN Bagi pelayanan dan tenaga kesehatan puskesmas, penelitian ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik dan meningkatkan pemberian edukasi yang lebih mendalam pada penderita hipertensi mengenai komplikasi yang bisa muncul ketika tidak patuh terhadap pengobatan yang dijalankan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan bisa digunakan sebagai bahan rujukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan karakteristik responden dengan perceived seriousness. DAFTAR PUSTAKA