Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa Kelas XI IPS Pada Mata Pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Rasau Jaya Topik Hidayat1. Novita Sariani2 Prodi Pendidikan Geografi. Fakultas IPPS. Universitas PGRI Pontianak Email: novitasariani@upgripnk. Submitted: 09-01-2. Reviewed: 11-01-2025 | Accepted: 08-02-2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Geografi di kelas XI IPS SMA Negeri 1 Rasau Jaya. Pendekatan kualitatif digunakan dengan melibatkan guru Geografi dan lima orang siswa sebagai subjek penelitian. Pengumpulan data melalui berbagai teknik: observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi, pedoman wawancara untuk guru dan siswa, serta dokumen-dokumen terkait. Pada pembelajaran geografi, adanya faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa. Minat dapat didefinisikan sebagai kecenderungan atau ketertarikan yang kuat terhadap suatu objek, aktivitas, atau ide, yang mendorong individu untuk terlibat secara aktif dalam mengejarnya. Minat merupakan aspek psikologis yang fundamental dalam memotivasi perilaku manusia. Minat belajar siswa dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi aspek psikologis seperti rasa ingin tahu dan motivasi, serta kondisi fisik siswa. Sementara itu, faktor eksternal mencakup pengaruh lingkungan sekitar, termasuk keluarga, sekolah, dan masyarakat. Implikasi dari temuan ini menekankan pentingnya peran guru dan lingkungan dalam meningkatkan minat belajar siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Kata Kunci: Belajar Siswa. Geografi. Minat. Pembelajaran. ABSTRACT This study aims to determine students' interest in learning Geography in class XI IPS at SMA Negeri 1 Rasau Jaya. A qualitative approach was used, involving the Geography teacher and five students as research subjects. Data was collected through observation, interviews, and documentary The instruments used included observation sheets, interview guides for teachers and students, and relevant documents. Several factors influence students' interest in learning in the Geography learning process. Interest can be defined as a tendency or strong attraction to an object, activity, or idea which motivates individuals to pursue it actively. Interest is a fundamental psychological aspect that drives human behaviour. Internal and external factors influence students' interest in learning. Internal factors include psychological aspects such as curiosity, motivation, and students' physical Meanwhile, external factors encompass the influences of the surrounding environment, including family, school, and community. The implications of these findings emphasize the importance of teachers and the environment in enhancing students' interest in learning to achieve better learning Keywords: Geography. Interest. Learning. Student Learning PENDAHULUAN Pendidikan nasional merupakan pilar penting dalam pembangunan bangsa. Sebagai sebuah sistem, pendidikan berperan krusial dalam mewujudkan cita-cita nasional dengan membekali individu dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi warga negara yang produktif dan bertanggung jawab. Undang-Undang Nomor 20 JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara jelas menggariskan tujuan pendidikan di Indonesia. Tujuan tersebut adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, dan berkemampuan, serta menjadi warga negara yang baik (Depdiknas, 2. Tujuan negara sesuai amanat Pembukaan UUD RI 1945 alenia IV pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memberikan akses pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negara, yang dapat ditempuh dengan pendidikan formal maupun informal. Pendidikan formal merupakan jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang dirancang untuk mengembangkan potensi individu secara optimal, dimulai dari tingkat dasar, seperti sekolah dasar, dan berlanjut hingga ke tingkat tinggi, seperti perguruan tinggi. Melalui pendidikan formal, individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk hidup di masyarakat. Pendidikan informal merupakan bentuk pembelajaran yang terjadi di luar lembaga pendidikan formal. Proses ini bersifat fleksibel dan berlangsung sepanjang hayat, di mana individu secara aktif terlibat dalam berbagai pengalaman sosial yang membentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan mereka. Keluarga dan komunitas berperan sebagai sumber pembelajaran yang utama dalam pendidikan informal. Belajar merupakan proses dinamis yang melibatkan perubahan perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Melalui proses belajar, individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai baru yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi. Belajar dapat dipahami sebagai suatu proses psikologis yang melibatkan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Proses ini tidak hanya melibatkan akuisisi pengetahuan, tetapi juga pengembangan keterampilan dan sikap yang relevan dengan konteks belajar. Minat belajar tidak hanya sekedar preferensi individu, tetapi juga merupakan faktor yang sangat mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Siswa yang memiliki minat yang tinggi cenderung lebih termotivasi untuk belajar, lebih aktif dalam berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, dan lebih mampu menyerap materi pelajaran. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar mereka (Friantini & Winata, 2. Minat belajar merupakan dorongan internal yang berasal dari dalam diri siswa dan berperan krusial dalam keberhasilan proses belajar. Meskipun demikian, gaya pengajaran guru juga menjadi faktor eksternal yang signifikan dalam mempengaruhi minat belajar siswa. Guru memiliki peran yang krusial dalam membangkitkan dan mempertahankan minat belajar JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Salah satu cara efektif untuk mencapai hal ini adalah dengan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi, sehingga siswa merasa tertantang dan terinspirasi untuk terus belajar (Yunitasari & Hanifah, 2. Dalam era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang pesat, pendidikan menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Perubahan sosial yang cepat, termasuk pergeseran nilai dan norma dalam masyarakat, turut mempengaruhi cara siswa belajar dan berinteraksi di lingkungan pendidikan. Selain itu, dampak pandemi COVID-19 telah mengubah secara drastis metode pembelajaran, memaksa institusi pendidikan untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring dan hybrid. Hal ini tidak hanya menuntut guru untuk menguasai teknologi baru, tetapi juga mengharuskan siswa untuk memiliki keterampilan digital yang memadai. Tantangan-tantangan ini menuntut inovasi dalam strategi pembelajaran dan pendekatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan siswa, agar mereka tetap termotivasi dan terlibat dalam proses belajar meskipun dalam situasi yang tidak menentu. Pelajaran Geografi berkontribusi signifikan dalam mengembangkan kemampuan kognitif siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, menganalisis data spasial, dan memecahkan masalah lingkungan. Mata pelajaran ini membekali siswa dengan pengetahuan tentang prosesproses alam dan sosial yang membentuk muka bumi dan masyarakat. Melalui pembelajaran Geografi, siswa diajak untuk mengembangkan kemampuan spasial, yaitu kemampuan untuk memahami lokasi, jarak, arah, dan hubungan antar ruang. Selain itu, belajar Geografi juga membantu siswa memahami proses-proses alam seperti pembentukan tanah, iklim, dan bencana alam, serta bagaimana proses-proses tersebut memengaruhi kehidupan manusia (Riska et al. , 2. Pengetahuan Geografi sangat relevan dalam konteks dunia yang terus Dengan mempelajari Geografi, individu dapat memahami proses-proses alam yang membentuk lingkungan hidup, serta dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan. Pemahaman ini penting untuk mengembangkan kesadaran lingkungan dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang berkelanjutan. Minat belajar siswa dapat ditingkatkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan relevansi antara materi pelajaran dengan konteks kehidupan mereka. Dengan menghubungkan materi pembelajaran dengan isuisu aktual dan permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar. Penelitian sebelumnya oleh (Pantouw et al. , 2. menunjukkan terdapat 4 faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Geografi di SMA Kosgoro JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Tomohon, yaitu perhatian orang tua, minat belajar, fasilitas belajar, dan pembelajaran Perhatian orang tua memberikan sumbangan terbesar terhadap motivasi belajar siswa dengan kontribusi sebesar 0,694. Selain itu, faktor fasilitas belajar juga berkontribusi signifikan dengan nilai 0,672, diikuti oleh minat belajar yang memberikan sumbangan 0,511 dan faktor pembelajaran geografi dengan kontribusi 0,514. Penelitian (Nufus et al. , 2. juga mengindikasikan minat belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Kota Ternate terhadap mata pelajaran Geografi tergolong dalam kategori tinggi, dengan persentase mencapai 64,8%. Tingginya minat tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Dari segi internal, siswa menunjukkan perasaan senang, ketertarikan untuk mencari informasi, dan perhatian yang tinggi terhadap pelajaran Geografi. Sementara itu, faktor eksternal yang berkontribusi mencakup peran guru dalam memberikan motivasi, penggunaan model pembelajaran yang menarik, serta dukungan dari orang tua yang mendorong siswa untuk terus Hasil ini menegaskan pentingnya lingkungan belajar yang kondusif dan dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap Geografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah spesifik terkait rendahnya minat belajar siswa kelas XI IPS terhadap mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Rasau Jaya. Masalah ini mencakup faktor-faktor internal seperti rasa ingin tahu, motivasi, dan kondisi jasmani siswa, serta faktor-faktor eksternal yang meliputi pengaruh dari keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengeksplorasi rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, yang terlihat dari kurangnya partisipasi aktif, perhatian, dan antusiasme selama pelajaran. Dengan demikian, penelitian ini berfokus pada pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa dan bagaimana peran guru serta lingkungan dapat ditingkatkan untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Penelitian ini penting karena dapat memberikan wawasan mendalam tentang faktorfaktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran Geografi. Dengan memahami faktor-faktor ini, pendidik dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa. Penelitian ini berkontribusi pada bidang pendidikan dengan menyediakan data empiris yang dapat digunakan oleh guru dan pengambil kebijakan untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih baik. Temuan dari penelitian ini dapat membantu dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 responsif terhadap kebutuhan siswa, serta meningkatkan kualitas pengajaran Geografi di Novelty dari penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan kualitatif yang mendalam, yang melibatkan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hal ini memungkinkan peneliti untuk menggali pengalaman dan perspektif siswa serta guru secara lebih komprehensif. Penelitian ini juga menyoroti aspek-aspek spesifik dari pembelajaran Geografi yang sering kali terabaikan dalam penelitian sebelumnya. Dengan meneliti faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi minat belajar siswa dalam konteks Geografi, penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam literatur pendidikan yang berkaitan dengan mata pelajaran ini. METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan kerangka kerja sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data guna menjawab pertanyaan penelitian yang spesifik. Metode penelitian ialah prosedur ilmiah yang dirancang untuk memperoleh informasi yang valid dan reliabel untuk tujuan penelitian tertentu (Sugiyono. Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai fenomena yang diteliti, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data deskriptif yang kaya, seperti kata-kata tertulis atau lisan, guna menggambarkan secara rinci situasi dan kondisi yang terjadi. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran yang akurat dan mendalam mengenai suatu fenomena atau masalah yang sedang terjadi pada saat penelitian dilakukan. Melalui pengumpulan dan analisis data, penelitian deskriptif berusaha menjawab pertanyaan tentang apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana suatu peristiwa atau keadaan berlangsung (Achmadi & Narbuko. Data primer inidiperoleh dari observasi langsung ketika kegiatanpembelajaran geografi kelas XI IPS I SMA Negeri 1 Rasau Jaya. Peneliti mewawancara guru geografi dan 5 orang siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Rasau Jaya. Data sekunder ialah dokumentasi yang diperoleh oleh peneliti pada saat penelitian. Pengumpulan data melalui observasi partisipatif pasif, wawancara, dan studi Peneliti berperan sebagai pengamat yang tidak terlibat secara aktif dalam situasi yang diamati. Peneliti sebagai partisipasi pasif, hadir di lokasi penelitian untuk mengamati. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 melakukan wawancara, tanpa terlibat langsung dalam aktivitas yang diamati. Melalui observasi, peneliti berusaha memperoleh data empiris mengenai tingkat minat belajar siswa kelas XI IPS 1 terhadap mata pelajaran Geografi. Untuk menggali lebih dalam mengenai minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Geografi, teknik wawancara tatap muka dilakukan, menggunakan pedoman wawancara yang terstruktur untuk memastikan semua aspek yang ingin diteliti dapat tercakup. Data yang diperoleh dari wawancara kemudian akan dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi tema-tema yang muncul. Dokumen dapat berupa representasi fisik atau digital dari informasi, yang dapat berupa teks tertulis, gambar, grafik, video, atau bahkan artefak fisik seperti lukisan atau patung (Sugiyono, 2. Untuk menggali informasi mengenai minat belajar siswa, penelitian ini menggunakan pendekatan multi-metode. Selain melakukan observasi langsung yang didokumentasikan dalam bentuk foto, peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan siswa untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi, yang melibatkan pengecekan silang data yang diperoleh melalui berbagai metode penelitian untuk memastikan bahwa temuan penelitian konsisten dan dapat diandalkan. Penelitian ini mengadopsi pendekatan analisis data kualitatif untuk memahami makna yang tersembunyi di balik data yang Melalui proses analisis yang mendalam, peneliti dapat mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dalam data, sehingga menghasilkan temuan yang relevan dan Penelitimenggunakan teknik pengolahan dan analisis data (Miles & Huberman, 1. : data collection data, reduction, display, verification. ata kualitatif diperoleh melalui observasi dan wawancara, kemudian didokumentasikan dalam catatan lapangan. Data mentah ini kemudian direduksi melalui proses analisis data kualitatif untuk menghasilkan temuan yang lebih terstruktur dan bermakna. Mereduksi data ialah menyeleksi data yang relevan, mengkodekan data, dan mengidentifikasi tema-tema utama. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk yang lebih terstruktur, seperti matriks data, diagram alir, atau narasi deskriptif. Presentasi data yang efektif akan memudahkan peneliti dalam menarik kesimpulan yang valid dan reliabel. Proses penarikan kesimpulan merupakan tahapan yang Kesimpulan awal yang diperoleh perlu dikaji ulang secara kritis untuk memastikan bahwa kesimpulan tersebut telah didukung oleh data yang ada dan disusun secara logis serta Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, peneliti menarik kesimpulan yang JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 dapat menjawab pertanyaan penelitian. Kesimpulan yang dihasilkan harus didukung oleh bukti-bukti empiris yang kuat dan relevan dengan kerangka teoretis penelitian. peneliti memastikan untuk mematuhi aspek etika yang penting dengan cara mendapatkan izin dari pihak sekolah, guru, dan siswa sebelum melakukan penelitian. Peneliti mengajukan permohonan resmi kepada pihak sekolah SMA Negeri 1 Rasau Jaya untuk mendapatkan izin melakukan penelitian, serta menjelaskan tujuan dan manfaat dari penelitian Setelah mendapatkan izin, peneliti juga melakukan pendekatan kepada guru Geografi dan siswa yang terlibat, menjelaskan proses penelitian dan meminta persetujuan mereka untuk berpartisipasi. Untuk menjaga privasi dan kerahasiaan data peserta, peneliti menggunakan kode identifikasi yang tidak mengungkapkan identitas asli siswa dan guru dalam laporan penelitian. Selain itu, semua data yang dikumpulkan disimpan dengan aman dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian, sehingga informasi pribadi peserta tetap Peneliti berkomitmen untuk menghormati hak-hak peserta dan memastikan bahwa partisipasi mereka bersifat sukarela dan dapat dihentikan kapan saja tanpa HASIL DAN PEMBAHASAN Minat belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran geografi di SMA Negeri 1 Rasau Jaya Perasaan Senang. Salah satu indikator kuat minat belajar adalah adanya perasaan senang atau kepuasan ketika terlibat dalam aktivitas pembelajaran. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu materi cenderung menunjukkan antusiasme yang tinggi dan secara aktif mencari peluang untuk memperdalam pemahamannya. Salah satu indikator rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Geografi adalah kurangnya respon positif siswa terhadap penyampaian materi oleh guru. Siswa cenderung pasif dan kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pada saat guru bertanyahanya beberapa siswa yang mau bertanya. Ketertarikan siswa Indikator ke-2 ketertarikan siswa, yang tercermin dalam perilaku seperti aktif bertanya, memberikan tanggapan terhadap pertanyaan guru, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap materi pelajaran. Kemudian merespon ketika guru bertanya dan siswa merespon dengnn cukup baik pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru juga bisa dibilang siswa tersebut kurang memiliki ketertarikan dengan pelajaran yang JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 disampaikan, dan tidak berani menyimpulkan materi yang disampaikan. Perhatian Siswa Indikator ke-3 perhatian siswa. 3 indikator utama untuk mengukur tingkat perhatian siswa selama proses pembelajaran, yaitu konsentrasi, penyelesaian tugas, dan antusiasme. Hasil dari pengamatan yang telah peneliti lakukan ketika pembelajaran, siswa terlihat kurang fokus dan tidak bersemangat hal itu bisa dilihat saat pembelajaran berlangsung siswa mendengarkan dan fokus kepada guru yang menjelaskan materi. Keterlibatan Siswa Indikator ke-4 keterlibatan siswa. Pada indikator ini terdapat tiga aspek yang diamati yaitu kesiapan siswa saat menerima atau memperoleh pelajaran, menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, dan keaktifan dalam pembelajaran. Hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa pada keterlibatan siswa tergolong sngat rendah, terlihat dari kurangnya persiapan alat tulis dan LKS sebelum pembelajaran dimulai, serta sikap pasif selama proses pembelajaran, seperti jarang bertanya dan menjawab pertanyaan, menunjukkan rendahnya tingkat kesiapan dan keterlibatan siswa dalam mengikuti pelajaran. Keinginan/Kesadaran Siswa Indikator ke-5 keinginan/kesadaran siswa, yang diukur melalui dua indikator utama, yakni tingkat keingintahuan yang ditunjukkan melalui pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi, serta keberanian siswa untuk menyampaikan pendapat atau mengajukan Hasil Hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa keingintahuan siswa pada materi yang dijelaskan guru cukup rendah, yang terlihat dari ada beberapa siswa tidak bertanya pada guru mengenai materi yang disampaikan berulang kali. Faktor internal yang mempengaruhi minat belajar siswa kelas XI IPS I terhadap mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Rasau Jaya. Rasa Ingin Tahu Rasa ingin tahu ialah dorongan internal yang mendorong siswa untuk lebih berkonsentrasi pada suatu objek atau konsep tertentu, sehingga memicu minat yang lebih dalam untuk Siswa dikelas XI IPS I ini meiliki rasa ingin tahu yang cukup rendah. Kelima siswa SMA Negeri 1 Rasau Jaya mengatakan bahwabahwa siswa tidak mencatat hal-hal penting, atau ketika disuruh saja oleh guru. Akan tetapisiswa merasa senang jika JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Untuk itu, guru memiliki peranpenting dalam proses belajar siswa. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, guru mampu menyampaikan materi pelajaran secara efektif sehingga siswa dapat lebih fokus pada pemahaman konsep. Hal ini juga berkontribusi pada peningkatan minat belajar siswa. Agar dapat membangkitkan minat belajar siswa, guru perlu merancang kegiatan pembelajaran yang inovatif, menantang, dan bervariasi. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang dinamis dan menarik bagi siswa. Motivasi Motivasi energi yang menggerakkan seseorang untuk mewujudkan cita-citanya/keinginannya. Salah satu faktor yang mendorong siswa untuk belajar adalah kebutuhan akan pengakuan dari lingkungan sosialnya, baik di sekolah maupun di keluarga. Pada kelas XI IPS I SMA Negeri 1 Rasau Jaya, motivasibelajarnya dengan cara berteman dengan temanyang mempengaruhi semangat belajarnya, diberikan hadiah, dan mendapatkan nilai tinggiserta pujian. Ini sejalan dengan Maslow dalam (Slameto, 2. bahwa keinginan untuk mendapatkan penghargaan merupakan salah satu bentuk motivasi intrinsik yang kuat, di mana individu terdorong untuk berprestasi demi memenuhi kebutuhan akan pengakuan dan apresiasi dari orang lain. Perilaku ini dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi dari kebutuhan psikologis akan pengakuan, status, dan perhatian dari orang lain. Jasmani Meskipun kondisi fisik tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, namun penurunan kondisi kesehatan dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi siswa selama proses belajar. Peneliti mendapatkan hasil daritemuan penelitian bahwa siswa merasa bosanpada saat proses pembelajaran berlangsung, karena banyaknya materi dari guru, yang berdampak negative untuksiswa, kurangnya konsentrasi. Kondisi kesehatan yang prima memungkinkan siswa untuk menjalankan aktivitas belajar secara Hal ini tercermin dari kemampuan siswa untuk berkonsentrasi, menyelesaikan tugas, membaca, dan mencatat materi pelajaran dengan efektif (Rahmat et al. , 2. Kesehatan yang optimal merupakan faktor penting dalam mendukung proses belajar. Siswa yang sehat cenderung memiliki energi yang lebih tinggi, daya tahan yang lebih baik, dan ketahanan terhadap stres yang lebih tinggi. Kondisi ini memungkinkan siswa untuk lebih fokus, termotivasi, dan mencapai hasil belajar yang maksimal. Sebaliknya, kondisi kesehatan yang JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 kurang baik dapat menyebabkan penurunan kinerja akademik siswa. Faktor eksternal yang mempengaruhi minat belajar siswa kelas XI IPS terhadap mata pelajaran SMA Negeri 1 Rasau Jaya. Keluarga Hubungan keluarga yang harmonis memiliki peran yang sangat signifikan dalam memotivasi siswa untuk belajar. Sebaliknya, hubungan keluarga yang kurang harmonis dapat menghambat motivasi belajar siswa dan berdampak negatif pada prestasi akademiknya. Lingkungan rumah yang kondusif, ditandai dengan kerapian dan ketenangan, sangat penting untuk mendukung proses belajar anak (Al Fuad & Zuraini, 2. untuk memfasilitasi konsentrasi siswa terhadap materi pelajaran, sehingga mereka dapat lebih mudah memahami dan menyerap Peneliti menemukan bahwa orang tuaberpengaruh dalam kegiatan belajar siswa, dengan memberikan waktu yang efektif, dan memberikan fasilitas seperti handphone, media Sekolah Sekolah merupakan lingkungan yang dirancang secara khusus untuk memfasilitasi proses pembelajaran formal bagi siswa. Salah satu faktor penentu minat belajar siswa adalah gaya mengajar guru. Guru yang mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif akan lebih mudah memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dinamika sosial di dalam kelas dapat menjadi faktor yang signifikan dalam membentuk minat belajar siswa seperti membantu jika mereka kesulitan dalam mengerjakan tugas. Peneliti menemukan hasil temuan pada siswa kelas XI IPS I SMA Negeri 1 Rasau Jaya yaitu siswa merasa teman menjadi tempat untuk berdiskusi, bertanya jika adamateri yang belum jelas. Selain itu. Kebersihan lingkungan sekolah merupakan faktor penting yang berkontribusi pada kenyamanan dan minat belajar siswa. Dengan menjaga kebersihan lingkungan sekolah, diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif sehingga siswa dapat lebih fokus dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Lingkungan Masyarakat Lingkungan sosial, khususnya media massa, memiliki peran penting dalam membentuk minat belajar siswa. Media massa menawarkan beragam informasi dan hiburan yang dapat mempengaruhi minat dan motivasi siswa untuk belajar. Namun, pemanfaatan media massa yang efektif sangat bergantung pada kemampuan siswa dalam memilih dan menggunakan media secara bijak. Hasil temuan di kelas XI IPS I SMA Negeri 1 Rasau Jaya cara JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 meningkatkan minat siswa dalam belajar geografi adalah dengan cara belajar, bersosialisi dengan lingkungan sekitar agar mendapatkan informasi mengenai pembelajaran. Pembahasan Untuk meningkatkan minat belajar siswa, guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing siswa. Strategi pembelajaran merupakan rancangan sistematis yang dirancang oleh guru untuk memfasilitasi proses belajar siswa, sehingga mereka dapat mencapai kompetensi yang Keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang tepat. Guru yang profesional harus mampu menganalisis karakteristik siswa, materi pelajaran, dan tujuan pembelajaran untuk kemudian merancang strategi pembelajaran yang efektif dan efisien. Model pembelajaran ialah kerangka konseptual yang komprehensif yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran ini mencakup seluruh aspek pembelajaran, mulai dari pemilihan metode pengajaran hingga mekanisme penilaian hasil belajar. Strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru bertujuan untuk merangsang minat, perhatian, dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar-mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Penelitian ini sejalan dengan (Kartila, 2. yang menyimpulkan bahwa Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe scramble secara efektif mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Melalui kerja sama dalam kelompok, siswa saling membantu dan bertukar pikiran untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe scramble telah menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme dan keterlibatan aktif siswa selama proses Sejalan pula dengan penelitian (SaAodiyyah, 2. bahwa mayoritas siswa, yaitu 80%, memiliki minat belajar yang tinggi terhadap mata pelajaran IPS. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator, seperti inisiatif siswa dalam mengerjakan tugas, tingkat konsentrasi selama pembelajaran, kebiasaan membaca buku referensi, dan pencapaian nilai yang melebihi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Motivasi internal yang kuat, seperti kesadaran akan pentingnya pendidikan, menjadi pendorong utama bagi siswa untuk aktif dalam proses Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 jumlah subjek penelitian yang terbatas, yaitu hanya melibatkan satu guru Geografi dan lima siswa dari kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Rasau Jaya, dapat mempengaruhi generalisasi hasil Kedua, pendekatan kualitatif yang digunakan, meskipun memberikan pemahaman mendalam, mungkin tidak sepenuhnya mencakup semua faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, karena data yang diperoleh bersifat subjektif dan tergantung pada persepsi Ketiga, waktu dan konteks penelitian yang terbatas dapat mempengaruhi dinamika interaksi antara siswa dan guru, serta faktor eksternal lainnya yang mungkin berperan dalam minat belajar siswa. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa minat belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Rasau Jaya tergolong rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, seperti rendahnya antusiasme untuk bertanya dan kurangnya fokus saat materi diajarkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa terdiri dari faktor internal, seperti rasa ingin tahu, motivasi, dan kondisi jasmani, serta faktor eksternal yang meliputi dukungan dari keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat. Temuan ini menekankan pentingnya peran guru dan lingkungan dalam meningkatkan minat belajar siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi intervensi spesifik yang dapat meningkatkan minat belajar siswa, seperti penerapan metode pengajaran inovatif atau penggunaan teknologi dalam pembelajaran Geografi. Selain itu, penelitian dapat memperluas cakupan subjek dan lokasi untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar di berbagai konteks. Melibatkan lebih banyak siswa dan guru dalam penelitian dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai strategi yang efektif untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam proses belajar. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kepada pihak sekolah SMA Rasau Jaya atas dukungan dan perizinaan selama pengambilan data dalam penelitian ini. Terimakasih pula kepada orang tua atas support finansial maupun material. Terimakasih banyak kepada seluruh pihak yang turut memantu pengerjaan artikel ini. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 203-215 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 DAFTAR PUSTAKA