ISSN: 2988-2850 Volume 2. Nomor 1. Januari 2024 DOI XX-XX Studi Fenomenologi Dalam Menghadapi Quarter Life Crisis Pada Siswa Menjelang Kelulusan Asmi Nurofiqhoh. Dewi Nailir Rohmah. Dewi Nur Laiali. Imam Roziqi. Risma Nasiatul Maulidiah. Hengki Hendra Pradana. Psikologi Islam. Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Indonesia Psikologi Islam. Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Indonesia Email : azminf@gmail. com, 2nailirdewi@gmail. com, 3ka. ell3216@gmail. imamrozikqi@gmail. com, 5maarisma52@gmail. com, 6hengkihendra@unublitar. Abstract This research aims to find out how to deal with the quarter life crisis in students approaching This research uses a qualitative method with a descriptive phenomenological approach, using observation and interview data collection techniques. Subjects in this study were selected using purposive sampling technique. The subjects were XII th grade high school students who experienced a Quarter Life Crisis aged 17-18 years, totaling 6 people, including three main subjects and three significant others with different ages to the main subject. The results of the research show that there are several strategies for dealing with the Quarter Life Crisis in students approaching graduation. The strategies explained are in several aspects of the Quarter Life Crisis, including the problem of finding a job being solved by choosing a role that suits him and maintaining relationships and exchanging ideas with friends, the lack of surrounding support is overcome by always communicating when there is discomfort with the environment, the aspect of feeling disappointed is overcome by trying to improve even though you have to go through sadness first, the aspect of feeling depressed is overcome by continuing to try to realize parents' hopes and always think positively and the aspect of selfexploration problems is overcome by trying to take new opportunities and build relationships. Keyword : Quarter Life Crisis. Students Approaching Graduation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara menghadapi quarter life crisis pada siswa menjelang kelulusan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif fenomenologi, menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Subjek merupakan siswa SMA kelas XII yang mengalami Quarter Life Crisis yang berusia 17-18 tahun yang berjumlah 6 orang, diantaranya tiga subyek utama dan tiga signficant others dengan usia yang berbeda dengan subjek utama. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada beberapa strategi dalam menghadapi Quarter Life Crisis pada siswa menjelang kelulusan, strategi yang dijelaskan terdapat dibeberapa aspek Quarter Life Crisis diantaranya masalah mencari pekerjaan diselesaikan dengan memilih peran yang cocok dengan dirinya serta menjaga relasi dan saling bertukar pikiran dengan teman, aspek kurangnya dukungan sekitar diatasi dengan selalu menyampaikan ketika ada suatu ketidaknyamanan dengan lingkungan, aspek perasaankecewa diatasi dengan berusaha memperbaiki meskipun harus melewati kesedihan terlebih dahulu, aspek perasaan tertekan diatasi dengan tetap berusaha mewujudkan harapan orang tua dan selalu berpikir positif dan aspek masalah eksplorasi diri diatasi dengan berusaha untuk mengambil kesempatan baru dan membangun relasi Kata Kunci : Quarter Life Crisis. Siswa Menjelang Kelulusan Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Pendahuluan Peserta didik menjelang kelulusan atau kelas XII adalah individu dalam masa transisi dari masa remaja melangkah ke masa dewasa atau yang sering disebut dengan Emerging adulthood (Papalia, 2. Periode ini secara spesifik berfokus pada usia 18 sampai 25 tahun (Arnett, 2. Pada masa emerging adulthood individu mempunyai krisis yang rentan, terutama saat individu kurang mempersiapkan diri menuju hal-hal yang akan ditemui dalam dunia sosial. Murithi . menyebutkan salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya krisis pada masa emerging adulthood adalah harapan keluarga untuk individu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik (Arini, 2. Pada masa SMA, khususnya di kelas XII Siswa juga dihadapkan pada permasalahan mau melanjutkan ke mana selanjutnya, apakah langsung bekerja atau melanjutkan studi ke perguruan tinggi (Syaifani, 2. (Rizekia, 2. penelitiannya mengatakan bahwa kurangnya rencana karir siswa disebabkan karena siswa tidak mengetahui kepribadian, bakat, minat serta belum mampu merencanakan masa depan serta minimnya pengetahuan mengenai program studi lanjutan dan macam-macam karir. Perasaan tidak nyaman, khawatir, bingung, kecemasan dan ketidakpastian karir tersebut disebut dengan Quarter Life Crisis. AuAku jadi bingung mau jadi seperti apa, aku merasa tidak ada kemampuan yang bisa dimanfaatkan di masa depan dan aku sering cemas dan takut setelah lulusAy Ucap subjek II ketika diwawancara. Menurut (Permatasari, 2. krisis yang mereka alami adalah hal normal yang terjadi akibat transisi dari fase remaja menuju fase dewasa. Menurut Efnie Indriani dalam bukunya dengan judul Survive Menghadapi Quarter Life Crisis menyebutkan bahwa Quarter Life Crisis adalah kondisi krisis yang dihadapi individu ketika masuk pada fase seperempat kehidupan ditandai kebingungan dalam menentukan arah hidup dan kecemasan dalam menghadapi masa depan. Quarter Life Crisis memiliki banyak aspek, menurut Robbins & Wilner . alam Darminto, 2. Hal ini mencakup: . keragu-raguan dalam pengambilan keputusan. evaluasi diri yang kurang baik. terjebak dalam situasi yang menantang. perasaan prihatin terhadap hubungan interpersonal yang sedang dan akan dibangun. Faktor quarter life krisis menurut Thouless . dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri. Pengalaman pribadi, moral, kasih sayang, kecerdasan, dan emosi merupakan komponen internal yang berkontribusi terhadap quarter life krisis (Artiningsih. , & Savira, 2. Pengaruh yang berasal dari luar diri seseorang disebut dengan factor eksternal. Lingkungan sosial, kebutuhan hidup sehari-hari, pendidikan, adat istiadat, dan budaya merupakan contoh faktor eksternal (Amaliyah. Sedangkan aspek menurut Robbins dan Wilner . adalah masalah mencari pekerjaan dengan indikator belum siap menerima peran dan tugas baru pada dirinya dan berubahnya lingkungan sosial. Aspek kedua adalah kurangnya dukungan sekitar dengan indikator perbedaan pandangan diri sendiri dan orang tua dan muncul perasaan terjebak dan penolakan (Yesi Dwi Andari, 2. Aspek ketiga adalah perasaan kecewa Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi dengan indikator ketidak sesuaian ekspektasi dan kenyataan yang dialami serta merasa tidak bahagia atas keputusan yang telah diambil. Aspek selanjutnya adalah perasaan tertekan dengan indikator memiliki tanggung jawab baru dan menjadi tumpuan harapan lingkungan sekitar, perasaan ragu dengan indikator merasa ragu akan kemampuan dalam merealisasikan masa depan serta merasa cemas akan kehidupan yang dijalani dan aspek terakhir adalah masalah eksplorasi diri yang memiliki indikator mencoba banyak hal baru dan khawatir dengan relasi interpersonal yang akan dibangun (Artiningsih. , & Savira, 2. Pada (Afnan, 2. Nicole dan Carolyn melakukan penelitian tentang Quarter Life Crisis pada empat kelompok dewasa muda. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ketika menghadapi krisis quarter-life, lulusan sekolah menengah atas atau kelompok siswa tertentu menunjukkan tingkat kekhawatiran yang paling tinggi. Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai strategi Quarter Life Crisis terhadap siswa menjelang kelulusan untuk mendeskripsikan pengalaman dan strategi dalam menghadapi Quarter Life Crisis pada siswa kelas 12 menjelang kelulusan (Lukman Hakim, 2. (Lukman Hakim, 2. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif fenomenologi, yaitu pendekatan yang berkonsentrasi pada pengalaman pribadi individu atau suatu pengkajian yang digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman manusia (Suyanto, 2. Pada penelitian yang dilakukan bulan Desember 2023, tiga siswa menjelang kelulusan dari tiga sekolah menengah atas berbeda di kota Blitar tergolong mengalami quarter life crisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara menghadapi quarter life crisis pada siswa menjelang kelulusan. Informan inti, yaitu siswa/siswi kelas XII SMA/menjelang kelulusan yang mengalami Quarter Life Crisis. Subjek I memiliki inisial I berjenis kelamin laki-laki dengan usia 18 Tahun, subjek sedang menempuh pendidikan di STMI Blitar dengan informan pendukung kakak perempuan subjek dengan inisial D. Subjek II berjenis kelamin perempuan dengan inisial A, berusia 18 Tahun dan tengah menempuh pendidikan kelas XII di MA Al-Muslihuun Tlogo dengan informan pendukung kakak perempuan subjek berinisial D. Subjek i dalam penelitian ini adalah siswi SMA Nabawi Maftahul Ulum kelas XII dengan usia 18 Tahun berinisial Y, informan pendukung subjek adalah teman sekamar subjek di pondok pesantren Nabawi. Pengambilan responden dilakukan dengan menggunakan beberapa pertimbangan tertentu sesuai kriteria yang diinginkan (Sugiyono, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara menghadapi Quarter Life Crisis pada siswa kelas XII menjelang kelulusan, sehingga sampel yang dibutuhkan dianggap terpenuhi jika tujuan penelitian telah dianggap tercapai oleh peneliti. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal, yaitu Quarter Life Crisis yang diukur dengan wawancara mendalam dengan alat ukur panduan wawancara. Kartono (Basuki, 2. mendefinisikan wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu, merupakan proses Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. Teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri dari tiga alur kegiatan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Milles dan Huberman, 1. Hasil dan Pembahasan Orientasi lapangan dilakukan peneliti sesuai dengan penelitian sebelumnya pada subyek penelitian. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ada beberapa aspek dalam quarter life crisis menurut Robbins dan Wilner . Aspek-aspek tersebut yaitu: Masalah mencari pekerjaan Dari sudut pandang pasokan tenaga kerja, kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan menjelaskan masalah pengangguran karena setiap pencari kerja memilih untuk memasuki pasar tenaga kerja sesuai dekan kualitas unik mereka (Najoan, 2. dengan indikator belum siap menerima peran dan tugas baru pada dirinya dan berubahnya lingkungan sosial. Dalam menghadapi perubahan lingkungan sosial, subjek I (I) mengatakan AuDalam menghadapi perubahan lingkungan, saya berusaha menyesuaikan diri dan memilih sesuatu yang lebih cocok dengan diri sayaAy. Signifikan other subjek dalam hal ini mendukung dengan mengatakan AuDia kalau ada sesuatu yang nggak cocok di lingkungannya selalu bilang, nggak mau melakukan hal yang nggak cocok sama dirinyaAy. Sejalan dengan hal tersebut, subjek II (A) mengatakan AuMeskipun belum siap dengan peran baru yang akan saya jalani nanti, saya tetap mencari pandangan mengenai peran apa yang lebih cocok dengan diri sayaAy. Kakak subjek sebagai signifikan other mengatakan kalimat pendukung AuDia sering tanya tentang kegiatan apa kira-kira yang cocok setelah lulus, selalu browsing-browsing jugaAy. Sedangkan subjek i (Y) mengatakan AuYa, perubahan lingkungan dikarenakan suasana dimana semua orang sedang menentukan arahnya masing-masing untuk kedepannya. Saya menyikapinya dengan tetap menjaga relasi dengan teman-teman dan saling bertukar pikiran tentang hal-hal baik untuk kedepannyaAy. Dalam hal ini, teman subjek sebagai signifikan other mengatakan AuSubjek itu sering ngajak diskusi kalau di kamar, nanti kedepannya kira-kira apa yang bisa dilakukan setelah lulusAy. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi masalah mencari pekerjaan, yang dilakukan subjek adalah memilih peran yang cocok dengan dirinya serta menjaga relasi dan saling bertukar pikiran dengan teman. Kurangnya dukungan sekitar Dukungan sosial adalah bantuan dari orang lain yang berarti dalam kehidupan seseorang, seperti teman, keluarga atau guru. Pernyataan ini konsisten dengan pernyataan Sarason bahwa hubungan sosial yang erat seperti dengan orang tua, saudara kandung, guru, teman sebaya dan kehadiran orang-orang yang memberikan rasa aman, berharga dan kasih sayang adalah sumber utamanya (FATWA, 2. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Kurangnya dukungan sekitar dalam hal ini memiliki indikator perbedaan pandangan diri sendiri dan orang tua dan muncul perasaan terjebak dan penolakan. Dalam hal tersebut, subjek I (I) mengatakan AuBanyak tentangan dari orang lain mengenai pilihan yang ingin saya ambilAy, dalam menghadapinya subjek mengatakan AuSaya lebih memilih untuk mendengarkan saran mereka tanpa banyak menanggapiAy. Signifikan other subjek dalam hal ini mendukung dengan mengatakan AuSaya sebagai kakak hanya mengarahkan saja dan memberi saran, kadang juga meluruskan kalau dirasa pilihannya keliruAy. Sementara subjek II (A) mengatakan AuSaya akan selalu menjelaskan kepada orang tua saya bahwa saya bisa membuat pilihan saya sendiri dan saya merasa tidak nyaman dengan penolakan dari merekaAy. Signifikan other mengatakan kalimat pendukung AuDia sering berdebat dengan orang tua karena merasa mampu ngambil keputusan sendiriAy. Sedangkan subjek i (Y) mengatakan AuSaya selalu menyampaikan ketika ada suatu ketidaknyamanan kepada lingkungan saya sehingga saya mudah untuk menerima solusi dari ketidaknyamanan tersebutAy. Dalam hal ini, teman subjek sebagai signifikan other mengatakan AuSubjek itu anaknya terbuka, kalau nggak nyaman sama lingkungannya dia pasti ngomongAy. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi kurangnya dukungan sekitar, subjek memilih diam sementara subjek lain memilih untuk menyampaikan ketidaknyamanan atas penolakan yang diterimanya. Perasaan kecewa Kekecewaan adalah perasaan tidak puas yang dirasakan akibat harapan atau ekspektasi yang tak terwujud. Aspek ini memiliki indikator ketidak sesuaian ekspektasi dan kenyataan yang dialami serta merasa tidak bahagia atas keputusan yang telah Dalam menghadapi perasaan kecewa tersebut, subjek I (I) mengatakan AuSaya akan berusaha memperbaiki meskipun harus melewati kesedihan terlebih dahuluAy. Signifikan other subjek dalam hal ini mendukung dengan mengatakan Au Sejalan dengan hal ini, subjek II (A) mengatakan AuSaya sering merasa tidak puas dengan kenyataan hingga saya perlu waktu untuk mengambil jeda dan kemudian membangun harapan baruAy. Signifikan other mengatakan kalimat pendukung AuKalau ada hal yang tidak sesuai, dia selalu diam dulu. Nanti kalau sudah mulai bergerak dan berpikir lagiAy. Sementara subjek i (Y) mengatakan AuSaya mengikuti saja apa yang memang harus terjadi karena tidak mau pusingAy. Dalam hal ini, teman subjek sebagai signifikan other mengatakan AuSubjek anaknya santai, jarang kelihatan pusing san selalu enjoy meskipun ada masalahAu. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi perasaan kecewa, subjek mengambil jeda sejenak untuk merasakan sedih sebelum kemudian memperbaiki dan membangun harapan baru, pilihan lainnya adalah mengikuti apa yang seharusnya terjadi supaya tidak menjadi beban. Perasaan tertekan Individu merasa bahwa masalah yang dihadapinya semakin hari semakin berat. Ini menyebabkan banyak aktivitas lainnya yang terganggu dan tidak bekerja secara Adanya keyakinan pada individu bahwa masalah selalu ada di manapun dia berada dan dia menemukan bahwa masalah selalu membebani dirinya dalam banyak Orang-orang percaya bahwa cara masyarakat memandang siswa yaitu harapan yang diberikan kepada mereka untuk mencapai tujuan dan lebih sukses membuat ketidakmampuan mereka menghadapi kehidupan semakin menyiksa (Mutiara, 2. Perasaan tertekan disini memiliki indikator memiliki tanggung jawab baru dan menjadi tumpuan harapan lingkungan sekitar, perasaan ragu dengan indikator merasa ragu akan kemampuan dalam merealisasikan masa depan serta merasa cemas akan kehidupan yang dijalani. Dalam menghadapinya, subjek I (I) mengatakan AuMeskipun ragu, saya akan selalu mencoba bertanggung jawab dan berusaha semaksimal mungkin dalam hal-hal yang memang harus saya lakukanAy. Signifikan other subjek dalam hal ini mendukung dengan mengatakan AuDia sering tanya ke saya kira-kira bisa atau tidak kalau menerima tanggung jawab, mungkin masih ragu. Tapi usahanya juga besarAy. Subjek II (A) mengatakan AuSaya selalu mencoba untuk berpikir positif meskipun saya sering cemas dan ragu dengan kemampuan diri sayaAy. Signifikan other mengatakan kalimat pendukung AuKalau diberi tanggung jawab mikirnya lamaAy. Sedangkan subjek i (Y) mengatakan AuMeskipun sedikit cemas, tapi saya akan tetap mengusahakan untuk bisa mewujudkan harapan orang tua sayaAy. Dalam hal ini, teman subjek sebagai signifikan other mengatakan AuSubjek selalu berusaha untuk memenuhi ekspektasi orang tuanya, karena orang tuanya jauh jugaAy. Dari jawaban-jawaban diatas dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi perasaan tertekan, subjek akan tetap berusaha mewujudkan harapan orang tua dan selalu berpikir Masalah eksplorasi diri Eksplorasi diri merupakan kesiapan mencari pengetahuan tentang karir dengan menggunakan berbagai sumber daya yang sudah ada. Menurut Sharf . eksplorasi karir dihubungkan dengan pencarian pengetahuan dan informasi tentang sumber informasi untuk pelatihan dan pekerjaan. Sisi ini menunjukkan tanda-tanda banyak bereksperimen dan prihatin terhadap perkembangan hubungan dengan orang lain. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Aspek ini memiliki indikator mencoba banyak hal baru dan khawatir akan relasi interpersonal yang sedang akan dibangun. Dalam menghadapi hal ini, subjek I (I) mengatakan AuSaya selalu berusaha mengambil kesempatan baru dan membangun relasi dengan orang lainAy. Signifikan other subjek dalam hal ini mendukung dengan mengatakan AuDia kalau diajak cari pengalaman baru semangat banget, meskipun kadang mikir duluAy. Sejalan dengan hal ini, subjek II (A) mengatakan AuMeskipun saya takut mengambil kesempatan baru, saya akan selalu berusaha membangun relasi dengan orang lainAy. Signifikan other mengatakan kalimat pendukung AuDia takut banget buat ngambil kesempatan baru, kadang harus dipaksaAy. Subjek i (Y) juga mengatakan AuSaya selalu mengambil kesempatan baru yang belum pernah saya lakukan sehingga saya memiliki pengalaman-pengalaman tentang hal baru yang sangat berguna bagi sayaAy. Dalam hal ini, teman subjek sebagai signifikan other mengatakan AuSubjek itu aktif banget, selalu ngajak buat cari kegiatan baru jugaAy. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi masalah eksplorasi diri, subjek berusaha untuk mengambil kesempatan baru dan membangun relasi. Simpulan Berdasarkan pembahasan yang telah peneliti dapatkan dari hasil wawancara, dapat diambil kesimpulan bahwa ada beberapa strategi dalam menghadapi Quarter Life Crisis diantaranya: masalah mencari pekerjaan, subjek I berusaha menyesuaikan diri dan memilih sesuatu yang lebih cocok dengan dirinya, subjek II menjelaskan kepada orang tuanya bahwa ia bisa membuat pilihannya sendiri, subjek i menyikapinya dengan tetap menjaga relasi dengan teman-teman dan saling bertukar pikiran tentang hal-hal baik untuk kedepannya . kurangnya dukungan sekitar, subjek I memilih untuk mendengarkan saran mereka tanpa banyak menanggapi, subjek II menjelaskan kepada orang tuanya bahwa ia bisa membuat pilihannya sendiri dan ia merasa tidak nyaman dengan penolakan dari orang tuanya, subjek i selalu menyampaikan ketika ada suatu ketidaknyamanan. perasaan kecewa, subjek I berusaha memperbaiki meskipun harus melewati kesedihan terlebih dahulu, subjek II mengambil jeda dan kemudian membangun harapan baru, subjek i mengikuti saja apa yang memang harus terjadi karena tidak mau pusing. perasaan tertekan, subjek I mencoba bertanggung jawab dan berusaha semaksimal mungkin, subjek II selalu mencoba untuk berpikir positif meskipun saya sering cemas dan ragu dengan kemampuan diri, subjek i tetap mengusahakan untuk bisa mewujudkan harapan orang tuanya. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi . masalah eksplorasi diri, subjek I berusaha mengambil kesempatan baru dan membangun relasi dengan orang lain, subjek II mengambil kesempatan baru, ia akan selalu berusaha membangun relasi dengan orang lain, subjek i mengambil kesempatan baru yang belum pernah dilakukan untuk menambah pengalamnnya. Referensi