El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Implementasi Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam Membangun Karakter Disiplin Siswa Muhamad Abdul Gofur1 Sherly Febriyanti2 STAI Bani Saleh Bekasi Jl. Hasibuan No. 68 Bekasi Timur 17113 Kota Bekasi Jawa Barat Indonesia opng38@gmail. febriyanti@gmail. Abstract: This study analyzes the implementation of the Seven Habits of Great Indonesian Children Program (P7KAIH) in building student discipline at Rawaterate 01 Elementary School. East Jakarta. The research employs a qualitative approach with a case study Data collection was conducted through in-depth interviews, participant observation, and documentation studies involving teachers and educational staff. The findings indicate that P7KAIH has been integrated into the school's daily routines and monitored using Teachers' understanding of the program is positive, and collaboration with parents has been established. The program's success is reflected in improved student punctuality and attendance. The main challenges stem from variations in family support and the early childhood transition period. Solutions implemented include repeated guidance, intensive socialization, and monitoring via journals. This study concludes that although the program contributes positively, its effectiveness can be enhanced through systemic strengthening of parental roles, the development of more diverse monitoring instruments, and continuous teacher training. Recommendations focus on stronger school-family synergy and periodic program evaluations. Keywords: Seven Habits of Great Indonesian Children. Discipline Character. School-Family Collaboration. Character Education. Qualitative Case Study. Abstrak: Penelitian ini menganalisis implementasi Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (P7KAIH) dalam membangun karakter disiplin siswa di SD Rawaterate 01 Jakarta Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi terhadap guru dan tenaga kependidikan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa P7KAIH telah terintegrasi dalam rutinitas harian sekolah dan dipantau menggunakan Pemahaman guru terhadap program ini positif, dan kolaborasi dengan orang tua telah terjalin. Keberhasilan program tercermin dari peningkatan kedisiplinan waktu dan kehadiran siswa. Kendala utama berasal dari variasi dukungan keluarga dan masa transisi siswa usia dini. Solusi yang diterapkan berupa bimbingan berulang, sosialisasi intensif, dan pemantauan via jurnal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun program berkontribusi positif, efektivitasnya dapat ditingkatkan melalui penguatan sistemik peran orang tua, pengembangan instrumen pemantauan yang lebih beragam, dan pelatihan guru yang Rekomendasi difokuskan pada sinergi sekolah-keluarga yang lebih kuat dan evaluasi program secara berkala. Kata Kunci: Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Karakter Disiplin. Kolaborasi SekolahKeluarga. Pendidikan Karakter. Studi Kasus Kualitatif. 130 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 PENDAHULUAN Pembangunan karakter disiplin pada jenjang sekolah dasar merupakan fondasi yang sangat penting dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 (Nurfadhilah, 2. Dalam konteks ini, disiplin bukan hanya sekadar pengaturan waktu dan perilaku, tetapi juga mencakup pengembangan sikap tanggung jawab, etika kerja, dan komitmen terhadap tujuan yang lebih besar. Dengan memiliki karakter disiplin yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan dengan lebih baik, serta berkontribusi secara signifikan bagi kemajuan bangsa. (Rahmah et al. , 2. Sebagai langkah konkret dalam menghadapi tantangan ini. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah meluncurkan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (P7KAIH). Program ini dirancang sebagai suatu pendekatan yang sistematis dan terstruktur untuk menanamkan tujuh kebiasaan positif yang diharapkan dapat membentuk karakter anak sejak dini. Kebiasaan-kebiasaan tersebut meliputi: bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, mencintai proses belajar, berpartisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat, serta tidur cepat (Sari et al. , 2. Melalui pembiasaan yang rutin dan konsisten, diharapkan anakanak dapat menginternalisasi kebiasaan-kebiasaan positif ini dalam kehidupan seharihari mereka (Berlianti et al. , 2. Secara ideal, program ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi penanaman nilai-nilai kedisiplinan, tetapi juga berfungsi sebagai pendorong bagi siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut di luar sekolah (Silalahi et al. , 2. Dengan demikian, nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan komitmen dapat terinternalisasi secara mendalam dalam diri siswa, yang pada gilirannya akan membentuk karakter yang utuh dan berkelanjutan. Melalui upaya ini, diharapkan generasi penerus bangsa tidak hanya menjadi individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, siap menghadapi tantangan global, dan berkontribusi positif terhadap masyarakat dan negara (Munawarsyah, 2. Dalam praktiknya, implementasi program P7KAIH di SD Rawaterate 01 Jakarta Timur menghadapi serangkaian tantangan yang cukup signifikan. Meskipun sekolah ini telah mengadopsi program tersebut dengan harapan untuk meningkatkan kebiasaan positif di kalangan siswa, hasil dari observasi awal dan studi pendahuluan menunjukkan bahwa pemahaman serta penerapan kebiasaan yang diharapkan belum mencapai tingkat optimal. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap situasi ini adalah pengaruh eksternal yang berasal dari lingkungan di luar sekolah. Tingkat dukungan yang diberikan oleh keluarga dan konsistensi pola asuh yang diterapkan di rumah memiliki dampak yang sangat besar terhadap keberhasilan program ini. Dalam banyak kasus, siswa mungkin menghadapi tantangan dalam menerapkan kebiasaan baik yang diajarkan di sekolah karena adanya perbedaan dalam nilai dan praktik yang diterapkan di rumah. Lingkungan sosial siswa juga memainkan peran penting. interaksi dengan teman sebaya dan normanorma yang berlaku di komunitas mereka dapat memengaruhi sejauh mana kebiasaan positif dapat diadopsi dan dipertahankan (Bakri et al. , 2. Di sisi lain, para guru juga menghadapi berbagai kendala dalam memantau dan mengevaluasi konsistensi penerapan kebiasaan yang diharapkan, terutama yang berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan di rumah, seperti tidur lebih awal dan melaksanakan ibadah (Wahyono et al. 131 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Keterbatasan dalam pengawasan ini menciptakan kesenjangan yang signifikan antara desain program yang ideal dan realitas yang kompleks di lapangan. Ini menunjukkan bahwa meskipun program P7KAIH dirancang dengan baik, tantangan yang dihadapi dalam implementasinya mencerminkan kebutuhan akan pendekatan yang lebih holistik dan kolaboratif, melibatkan keluarga dan komunitas dalam mendukung pengembangan kebiasaan positif di kalangan siswa (Oktaviana, 2. Berdasarkan perbedaan yang mencolok diatas, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam mengenai implementasi Program Pengembangan Karakter Siswa (P7KAIH). Fokus utama dari penelitian ini meliputi empat aspek kunci: proses perencanaan yang sistematis, pelaksanaan yang efektif, evaluasi yang komprehensif, serta identifikasi kendala yang muncul beserta solusi yang diusulkan untuk Melalui analisis ini, diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi strategis yang tidak hanya akan membantu dalam mengurangi kesenjangan yang ada, tetapi juga mengoptimalkan dampak program dalam usaha membangun karakter disiplin yang kuat di kalangan siswa. Penelitian ini akan mengkaji secara rinci rumusan masalah yang terdiri dari tiga fokus utama: . Pemahaman guru terhadap tujuan dan mekanisme P7KAIH, . Proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program yang diterapkan di lapangan, serta . Kendala-kendala yang dihadapi selama implementasi program dan solusi-solusi yang dapat diusulkan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Dengan pendekatan yang holistik dan analitis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan kebijakan pendidikan dan praktik di sekolah, serta meningkatkan efektivitas program dalam membentuk karakter disiplin yang diharapkan pada diri siswa. METODE Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dirancang secara cermat. Pemilihan pendekatan ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual mengenai fenomena yang terjadi dalam implementasi program di lokasi penelitian yang telah ditentukan (Niwa, 2. Dengan menggunakan studi kasus, peneliti dapat mengeksplorasi nuansa dan kompleksitas situasi yang spesifik, yang memungkinkan analisis yang lebih kaya terhadap interaksi, dinamika, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan atau tantangan dalam implementasi program tersebut. Pendekatan kualitatif ini juga memberikan ruang bagi pengumpulan data yang lebih variatif, termasuk wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen, sehingga hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih holistik dan mendetail tentang konteks serta pengalaman yang dialami oleh para pemangku kepentingan di lapangan (Haki & Prahastiwi, 2. Penelitian dilakukan di SD Rawaterate 01 Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2024/2025. Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan lima orang guru kelas yang terlibat langsung dalam implementasi P7KAIH. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama: Wawancara Mendalam: Dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali persepsi, pengalaman, dan pemahaman informan. 132 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Observasi: Untuk mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan P7KAIH dan perilaku siswa di lingkungan sekolah. Studi Dokumentasi: Analisis terhadap dokumen pendukung seperti jurnal P7KAIH, rencana kerja sekolah, dan profil siswa. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Ravindran, 2. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan melalui uji credibility . dengan triangulasi sumber dan metode, serta ketekunan pengamatan (Marlina et al. , 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pemahaman Guru dan Integrasi Program Hasil wawancara yang dilakukan menunjukkan bahwa para guru memiliki pemahaman yang mendalam dan positif mengenai filosofi serta tujuan dari program P7KAIH. Mereka tidak sekadar menganggap program ini sebagai kewajiban administratif yang harus dipenuhi, tetapi lebih sebagai sebuah kerangka kerja yang berfungsi untuk membentuk kebiasaan baik yang akan memberikan dampak jangka panjang bagi siswa. Salah satu guru dengan tegas menyatakan, "Kami melihat tidur cepat dan bangun pagi bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebagai investasi penting untuk kesehatan dan perkembangan kecerdasan anak. Pernyataan ini dengan jelas mencerminkan kesadaran yang mendalam akan signifikansi pola hidup sehat dan disiplin sebagai fondasi yang krusial dalam mendukung pertumbuhan optimal anak-anak. Dalam konteks ini, pola hidup sehat tidak hanya mencakup aspek gizi yang seimbang, tetapi juga melibatkan kebiasaan fisik yang aktif, kesehatan mental, serta pengembangan emosional yang seimbang. Selain itu, disiplin berperan penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan positif yang akan membawa manfaat jangka panjang bagi anak-anak (Manik et al. , 2. Lebih lanjut, pernyataan ini juga menekankan komitmen yang kuat dari para guru untuk tidak hanya mengajarkan nilai-nilai tersebut di dalam kelas, tetapi juga menerapkannya dalam praktik sehari-hari. Dengan menjadi teladan yang baik dan mengintegrasikan prinsip-prinsip pola hidup sehat dan disiplin dalam interaksi mereka dengan siswa, para guru berkontribusi secara signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan holistik anak (Nangare et al. , 2. Melalui pendekatan ini, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan emosional yang baik, sehingga siap menghadapi tantangan di masa depan. Program ini telah diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam rutinitas harian di sekolah, menciptakan sebuah kerangka kerja yang mendukung perkembangan karakter siswa secara holistik. Setiap hari memiliki fokus kegiatan yang spesifik, dimulai dengan upacara bendera pada hari Senin, yang tidak hanya berfungsi sebagai simbol kebangsaan tetapi juga sebagai momen refleksi bagi siswa untuk mengingat nilai-nilai kebersamaan dan disiplin. Di hari Selasa, kegiatan senam bersama diadakan, yang tidak 133 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 hanya meningkatkan kesehatan fisik siswa tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan kerja sama di antara mereka. Selanjutnya, pada hari Rabu dan Kamis, sekolah mengadakan sesi literasi yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa. Kegiatan ini bukan hanya sekadar pengajaran materi, tetapi juga bertujuan untuk membangun kecintaan terhadap buku dan pengetahuan, serta mengembangkan kemampuan berpikir Akhir pekan diakhiri dengan kegiatan keagamaan pada hari Jumat, yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendalami nilai-nilai spiritual dan moral, serta membangun karakter yang berlandaskan pada etika dan integritas. Integrasi berbagai kegiatan ini sangat sejalan dengan teori pembentukan karakter yang diajukan oleh Thomas Lickona, yang menekankan pentingnya proses pembiasaan atau habituation dalam pengembangan karakter individu (Masudatik, 2. Lickona berargumen bahwa karakter tidak hanya dibentuk melalui pengajaran nilai-nilai, tetapi lebih jauh lagi, melalui praktik yang konsisten dan bermakna. Dalam konteks ini, kegiatan yang dirancang dengan baik berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat dan memperdalam pemahaman siswa terhadap nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan (Shifana et al. , 2. Melalui serangkaian kegiatan yang terstruktur, siswa tidak hanya diajarkan tentang nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati, tetapi juga diberikan kesempatan untuk secara aktif berlatih menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, melalui proyek kolaboratif, kegiatan sosial, atau program pengabdian masyarakat, siswa dapat mengalami langsung bagaimana nilai-nilai tersebut berfungsi dalam interaksi sosial mereka. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami konsep-konsep tersebut secara teoritis, tetapi juga merasakan dampak positifnya dalam tindakan nyata (Syadzali, 2. Dengan menerapkan metode ini, diharapkan siswa dapat menginternalisasi karakter yang baik, sehingga nilai-nilai positif tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas mereka. Proses ini mendorong siswa untuk melihat karakter sebagai sesuatu yang hidup dan dinamis, yang terus berkembang seiring dengan pengalaman dan interaksi mereka (Hambali, 2. Dengan demikian, pembentukan karakter bukan hanya sekadar tujuan pendidikan, tetapi juga sebuah perjalanan yang membentuk individu menjadi pribadi yang lebih baik dan berkontribusi positif bagi Perencanaan. Pelaksanaan, dan Evaluasi Sekolah sedang merancang dan merencanakan pelaksanaan program yang bertujuan untuk meningkatkan disiplin dan kebiasaan positif siswa di luar lingkungan Salah satu langkah kunci dalam inisiatif ini adalah pengembangan instrumen pemantauan yang dinamakan "Jurnal P7". Jurnal ini dirancang secara khusus untuk membantu dalam melacak dan memantau kebiasaan sehari-hari siswa, terutama dalam tiga aspek penting: kebiasaan bangun pagi, tidur dengan waktu yang cukup, dan pelaksanaan ibadah. Aspek kebiasaan bangun pagi menjadi fokus utama karena kebangkitan yang lebih awal dapat berkontribusi pada kesiapan mental dan fisik siswa dalam menghadapi aktivitas sehari-hari. Selain itu, tidur cepat juga menjadi perhatian, mengingat kualitas 134 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 tidur yang baik sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dan performa akademis siswa. Di samping itu, pemantauan ibadah bertujuan untuk mendorong siswa agar tetap terhubung dengan nilai-nilai spiritual yang dapat membentuk karakter dan moral mereka (Habiburrahim et al. , 2. Dengan adanya Jurnal P7, diharapkan guru dapat memperoleh informasi yang lebih komprehensif mengenai perilaku siswa di luar jam sekolah, yang sering kali sulit untuk dipantau secara langsung. Jurnal ini bukan hanya berfungsi sebagai alat pemantauan, tetapi juga sebagai sarana refleksi bagi siswa untuk mengevaluasi kebiasaan mereka sendiri, sehingga mereka dapat lebih bertanggung jawab terhadap tindakan yang mereka lakukan setiap harinya. Melalui pendekatan ini, sekolah berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung perkembangan karakter dan disiplin siswa secara keseluruhan (Barokati, 2. Dalam proses pelaksanaannya, terlihat adanya pola kolaborasi yang melibatkan tiga pihak utama: guru, siswa, dan orang tua. Meskipun kolaborasi ini menunjukkan potensi yang signifikan, sifatnya masih cenderung insidental dan belum terstruktur dengan baik untuk mencapai hasil yang optimal. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih sistematis dalam menjalin kerjasama antara ketiga elemen tersebut agar tujuan pendidikan karakter dapat tercapai dengan lebih efektif. Proses evaluasi program saat ini dilakukan melalui observasi perilaku siswa, seperti ketepatan waktu dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, serta pengecekan jurnal yang mencatat aktivitas dan perkembangan siswa. Namun, evaluasi yang dilakukan masih bersifat kualitatif, yang berarti bahwa analisis yang mendalam mengenai data yang dikumpulkan belum sepenuhnya diterapkan. Selain itu, kurangnya indikator keberhasilan yang terukur secara sistematis membuat evaluasi ini kurang dapat diandalkan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas program. Sebagaimana diungkapkan oleh Samawi dan Hariyanto, perencanaan yang matang dan evaluasi yang komprehensif merupakan kunci utama dalam mencapai keberhasilan program pendidikan karakter (Bancin et al. , 2. Kelemahan yang ada dalam aspek evaluasi ini tidak hanya berpotensi mengurangi akuntabilitas program, tetapi juga dapat mengaburkan pemahaman mengenai dampak yang dihasilkan (Haidir & Arizki, 2. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak yang terlibat untuk merumuskan metode evaluasi yang lebih terstruktur dan berbasis data, sehingga hasil dari program pendidikan karakter dapat diukur dan dianalisis dengan lebih akurat, memberikan manfaat yang lebih besar bagi siswa, guru, dan orang tua (Magdalena et al. , 2. Kendala dan Solusi Kontekstual Kendala utama yang diidentifikasi dalam proses pembelajaran anak adalah sebagai berikut: Variasi Dukungan Keluarga: Tingkat partisipasi dan konsistensi orang tua dalam mendampingi anak di rumah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Beberapa orang tua mungkin sangat terlibat dan memberikan dukungan yang kuat, sementara yang lain mungkin kurang aktif dalam proses ini. Variasi ini menciptakan tantangan yang cukup besar, mengingat bahwa lingkungan keluarga merupakan tempat utama di mana kebiasaan dan nilai-nilai dibentuk (Sawari et al. , 2. Dalam konteks ini, 135 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 dukungan orang tua tidak hanya berfungsi sebagai motivasi, tetapi juga sebagai fondasi yang memungkinkan anak untuk mengembangkan disiplin dan rutinitas yang positif. Ketidakstabilan dalam tingkat dukungan ini dapat menghambat perkembangan kebiasaan belajar yang baik, yang sangat penting bagi kemajuan akademis anak (Puspita et al. , 2. Masa Transisi Siswa Usia Dini: Siswa di kelas rendah, khususnya pada tingkat I hingga i, berada dalam fase transisi yang krusial dari pendidikan anak usia dini (PAUD/TK) menuju pendidikan dasar (SD). Pada tahap ini, anak-anak sering kali menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan rutinitas yang lebih terstruktur dan tuntutan akademis yang lebih tinggi (Soenaryo et al. , 2. Mereka yang sebelumnya terbiasa dengan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan bermain, kini harus beradaptasi dengan sistem yang mengharuskan mereka untuk mengikuti jadwal yang lebih ketat dan mematuhi aturan yang lebih formal. Proses transisi ini bisa menjadi tantangan tersendiri, karena anak-anak mungkin merasa cemas atau bingung dalam menyesuaikan diri dengan harapan baru yang dihadapi di lingkungan sekolah. Keterbatasan dalam kemampuan mereka untuk beradaptasi dapat berdampak pada motivasi dan pencapaian akademis mereka di awal perjalanan pendidikan formal mereka (Davidson et al. , 2. Solusi yang diterapkan di sekolah memiliki karakteristik kontekstual yang mendalam dan beragam, antara lain: Bimbingan Berulang dan Sabar: Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai pembimbing yang tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga melakukan pendekatan secara konsisten dan penuh kesabaran. Proses ini melibatkan pengulangan materi dan penguatan konsep yang telah diajarkan, sehingga siswa dapat memahami dan menginternalisasi pembelajaran dengan lebih baik (Nurzannah, 2. Dengan cara ini, guru menciptakan lingkungan yang mendukung, di mana siswa merasa nyaman untuk bertanya dan berinteraksi, sehingga meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Sosialisasi kepada Orang Tua: Sekolah mengadakan pertemuan rutin dengan orang tua siswa, yang bertujuan untuk menyamakan persepsi dan membangun komunikasi yang efektif antara pihak sekolah dan keluarga. Dalam pertemuan ini, berbagai isu terkait perkembangan siswa, metode pembelajaran yang diterapkan, serta strategi dukungan di rumah dibahas (Malta et al. , 2. Dengan melibatkan orang tua dalam proses pendidikan, diharapkan mereka dapat berkontribusi secara aktif dalam mendukung pembelajaran anak, menciptakan sinergi antara sekolah dan 136 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Pemanfaatan Jurnal P7: Jurnal P7 berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang efektif antara guru, siswa, dan orang tua. Dengan mencatat perkembangan, tantangan, dan pencapaian siswa dalam jurnal ini, guru dapat memantau kemajuan siswa secara lebih Selain itu, jurnal ini juga menjadi alat yang berguna bagi orang tua untuk mengikuti perkembangan pendidikan anak mereka, serta memberikan umpan balik yang konstruktif (Rofi et al. , 2. Penggunaan jurnal ini tidak hanya meningkatkan transparansi, tetapi juga memperkuat kerjasama antara semua pihak yang terlibat dalam pendidikan siswa. Namun, meskipun solusi yang ada saat ini sudah mulai diterapkan, pendekatan tersebut masih tergolong reaktif. Untuk mencapai hasil yang lebih optimal, diperlukan pengembangan strategi yang lebih proaktif dan menyeluruh. Salah satu langkah penting adalah membangun kemitraan yang setara dengan orang tua, di mana mereka tidak hanya dilibatkan sebagai pihak yang menerima informasi, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak. Selain itu, penting untuk mengembangkan modul parenting yang dirancang secara khusus dan relevan dengan P7KAIH (Pengembangan 7 Kompetensi Anak Dalam Keluarga dan Lingkunga. Modul ini harus mencakup berbagai aspek yang mendukung orang tua dalam mengasuh anak, mulai dari penguatan nilai-nilai moral, hingga keterampilan komunikasi yang efektif. Dengan pendekatan yang sistemik dan kolaboratif, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih kondusif bagi perkembangan anak, serta meningkatkan peran serta orang tua dalam mendukung pendidikan dan kesejahteraan anak secara holistik (Afia & Malik, 2. PENUTUP Berdasarkan analisis mendalam yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa implementasi Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di SD Rawaterate 01. Jakarta Timur, telah menunjukkan perkembangan yang signifikan dan positif. Program ini tidak hanya berhasil diintegrasikan ke dalam budaya sekolah, tetapi juga dipahami dengan baik oleh para guru, yang berperan sebagai penggerak utama dalam proses Keberhasilan awal program ini tercermin dalam peningkatan indikator kedisiplinan dasar, terutama dalam hal ketepatan waktu siswa, yang menunjukkan adanya perubahan perilaku yang menggembirakan. Namun, meskipun terdapat kemajuan yang jelas, efektivitas program secara keseluruhan masih menghadapi beberapa kendala yang perlu diatasi. Dua faktor utama yang membatasi dampak program ini adalah: . ketergantungan yang tinggi pada dukungan keluarga yang tidak merata, di mana tidak semua orang tua memiliki pemahaman atau komitmen yang sama terhadap program ini, dan . sistem pemantauan dan evaluasi yang belum cukup kuat untuk mengukur dampak yang lebih mendalam dan berkelanjutan dari program tersebut. Oleh karena itu, keberlanjutan dan kesuksesan jangka panjang dari Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ini sangat bergantung pada penguatan kolaborasi antara sekolah dan keluarga yang lebih terstruktur. Hal ini mencakup pengembangan strategi komunikasi yang lebih efektif dan pelibatan orang tua dalam 137 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 proses pendidikan anak. Selain itu, pengembangan instrumen evaluasi yang lebih komprehensif dan sistematis juga diperlukan untuk dapat mengukur dampak program secara lebih akurat dan menyeluruh. Terakhir, peningkatan kapasitas guru dalam menghadapi kompleksitas dinamika keluarga siswa menjadi kunci untuk memastikan bahwa program ini dapat beradaptasi dan berkembang sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteks sosial yang ada. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan program ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar dan berkelanjutan bagi seluruh siswa di SD Rawaterate 01. UCAPAN TERIMA KASIH