Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 DAMPAK BANTUAN BENIH JAGUNG PROGRAM TJPS TERHADAP PRODUKSI JAGUNG DI DESA BAUMATA KECAMATAN TAEBENU KABUPATEN KUPANG (The Impact of Corn Seed Assistance AuTJPSAy Program on Corn Production at Desa Baumata. Kecamatan Taebenu. Kabupaten Kupan. Oleh: Anis Alfi Sakinah. Serman Nikolaus. Maria Fransiska Darlen Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Nusa Cendana Alamat E-mail Korespondensi: anisalfis04@gmail. Diterima:05 Mei 2023 Disetujui:09 Mei 2023 ABSTRACT One of the important elements in agricultural cultivation is seed. The use of superior seeds can be a determining factor for the success of agricultural cultivation. It is noted that in the last two years corn production in Taebenu sub-district has increased. One of the factors that led to an increase in corn production in Taebenu District was the assistance of seeds through the Cattle Harvest Corn Planting (TJPS) program. So this study aims to determine the characteristics of corn seed assistance, production and income before and after the seed assistance program, and the significance of differences in corn production and income before and after the seed assistance This research was conducted by interviewing 51 sample farmer respondents. Data analysis used the Wilcoxon test, looking for the average value of production and income, and narrating the characteristics of the seed The results showed that corn seed assistance through the TJPS program received by farmers was in the form of hybrid varieties of corn seeds with a growth capacity of 80-85% as much as 30 kg/group of farmers which were distributed once per corn planting period. This assistance was distributed through farmer groups and then distributed to each member according to the area of land cultivated. TJPS assistance has a positive impact on farmers' production and income. After the seed assistance, the average production increased by 2,856. kg from before and income increased by IDR 7,353,956. 7%) from before. Keywords: seeds, corn, production, income. TJPS. ABSTRAK Salah satu unsur penting dalam budidaya pertanian adalah benih. Penggunaan benih unggul dapat menjadi faktor penentu keberhasilan budidaya pertanian. Tercatat bahwa pada dua tahun terakhir produksi jagung di kecamatan Taebenu mengalami peningkatan. Salah satu faktor yang menyebabkan adanya peningkatan produksi jagung di Kecamatan Taebenu adalah adanya bantuan benih melalui program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bantuan benih jagung, produksi dan pendapatan sebelum dan setelah adanya program bantuan benih, dan signifikansi perbedaan produksi dan pandapatan jagung sebelum dan setelah program bantuan benih. Penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai 51 sampel petani Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, mencari nilai rata-rata produksi dan pendapatan, dan menarasikan karakteristik bantuan benih. Hasil penelitian menunjukan bahwa bantuan benih jagung melalui program TJPS yang diterima petani berupa benih jagung varietas hibrida dengan daya tumbuh 80-85% sebanyak 30 Kg/kelompok tani yang disalurkan satu kali setiap periode tanam jagung. Bantuan ini didistribusikan melalui kelompok tani lalu dibagikan ke masing-masing anggota sesuai luas lahan yang diusahakan. Bantuan TJPS ini berdampak positif bagi produksi dan pendapatan petani. Setelah adanya bantuan benih rata-rata produksi meningkat 856,86 . ,7%) kg dari sebelumnya dan pendapatan meningkat sebesar Rp 7. 956,9 . ,7%) dari Kata Kunci : benih, jagung, produksi, pendapatan. TJPS. Sakinah et al. Dampak Bantuan Benih Terhadap Produksia Page 95 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 PENDAHULUAN Sektor pertanian memiliki fungsi seragam diantaranya meliputi aspek ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, pengentasan kemiskinan, dan kelestarian lingkungan. Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam peningkatan perekonomian Indonesia. Komoditas ini mempunyai fungsi multiguna, baik untuk konsumsi langsung, sebagai bahan baku utama industri pakan dan industri pangan, dan bahkan di Banyak Negara jagung sudah dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi. Menurut Nahak et al . , usahatani jagung memberikan tambahan pendapatan bagi petani dan memiliki keuntungan relatif lebih Oleh karena itu, perlu dilakukan upayaupaya agar produksi jagung tetap stabil, salah satunya melalui pembangunan pertanian. Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah penghasil jagung di Indonesia. Berdasarkan data BPS . produksi jagung di NTT pada tahun 2020 dan 2021 masing-masing 753 ton dan 750. 166 ton. Data tersebut mengindikasikan bahwa produksi jagung di NTT mengalami peningkatan. Hal serupa terjadi pada produksi jagung di Kabupaten Kupang. Pada tahun 2020 produksi jagung sebesar 49. 457,46 ton dengan luas panen 022,1 ha. Pada tahun 2021, produksinya 110,05 ton dengan luas panen sebesar 174,3 Ha. Kecamatan Taebenu merupakan salah satu dari 24 kecamatan yang ada di Kabupaten Kupang. Pada tahun 2020 produksi jagung di kecamatan ini sebesar 3. 208,25 ton dengan luas panen sebesar 1. 283,3 Ha, sedangkan pada tahun 2021 Produksinya mencapai 3. 401,72 dengan luas panen sebesar 1. 214,9 Ha (Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada dua tahun terakhir produksi jagung di kecamatan ini mengalami Salah menyebabkan adanya peningkatan produksi jagung di Kecamatan Taebenu adalah adanya program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Desa Baumata merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Taebenu yang merupakan daerah penerima bantuan melalui program TJPS. Program p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 ini didasari pada kenyataan bahwa produksi jagung di NTT masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Salah satu kegiatan yang terdapat dalam program TJPS ini dan menjadi faktor terpenting dalam peningkatan produksi jagung adalah penyaluran benih unggul. Hal ini dilakukan karena petani di Desa Baumata seringkali menggunakan kembali benih jagung dari hasil panen sebelumnya. Penyaluran benih unggul dalam program ini diharapkan mampu meningkatkan produksi jagung di NTT dan petani dapat berusahatani dengan menggunakan benih unggul yang diperoleh dari program ini. Dengan demikian perlu dianalisis keefektifan dari program tersebut melalui suatu penelitian tentang Bagaimana karakteristik dari bantuan benih jagung program TJPS kepada petani. Bagaimana produksi jagung petani sebelum dan setelah pelaksanaan program bantuan benih TJPS. Bagaimana pendapatan petani sebelum dan setelah pelaksanaan program bantuan benih TJPS, dan apakah produksi dan pendapatan jagung sebelum dan setelah bantuan benih jagung program TJPS terdapat perbedaan yang signifikan METODE PENELITIAN Penelitian Ini dilaksanakan Di Desa Baumata Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang pada bulan November - Desember 2022. Sampel yang telah diteliti adalah 51 petani jagung yang ada di Desa Baumata. Kecamatan Taebenu. Kabupaten Kupang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik wawancara dengan responden. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dapat diperoleh dari wawancara langsung dengan petani. Sedangkan data sekunder dapat diperoleh dari instansi terkait. Metode Analisis Data Untuk mengetahui karakteristik pelaksanaan program bantuan benih dari Pemerintah kepada petani dengan cara mencatat dan menarasikan karakteristik program bantuan benih oleh pemerintah kepada petani antara lain: jenis benih yang disalurkan, waktu pelaksanaannya, jumlah benih yang disalurkan, mekanisme penyaluran benih langsung ke petani atau melalui perantara . elompok tan. dan sebagainya. Untuk mengetahui produksi jagung sebelum dan sesudah pelaksanaan program bantuan benih menggunakan metode deskriptif kuantitatif yaitu dengan cara mencari nilai rata-rata produksi Sakinah et al. Dampak Bantuan Benih Terhadap Produksia Page 96 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 dengan tahapan sebagai berikut: jumlah produksi, biaya total produksi dan rata-rata . Jumlah produksi diperoleh dari total hasil pipilan kering jagung tiap petani dalam satu periode tanam atau dengan persamaan: AeQi = Q1 Q2 Q3 AA Q ke-i Dimana: AeQ= jumlah produksi jagung keseluruhan Q= produksi jagung petani i= suku ke i . Biaya total produksi adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi. Diketahui dengan rumus sebagai berikut: TC = TFC TVC Dinama: TC = biaya total TFC = biaya tetap total TVC = biaya variabel total . Rata-rata produksi diperoleh dari hasil perbandingan antara jumlah produksi dengan total sampel . Diketahui dengan persamaan sebagai AP = TP/L Dinama: = rata-rata produksi = jumlah total produksi = Jumlah petani Untuk mengetahui pendapatan usahatani jagung sebelum dan sesudah pelaksanaan program bantuan benih menggunakan metode deskriptif kuantitatif yaitu dengan cara mencari nilai rata-rata pendapatan dengan tahapan sebagai berikut: penerimaan, pendapatan dan rata-rata pendapatan. Untuk mengetahui penerimaan total diperoleh dari output atau hasil produksi dikalikan dengan harga jual output. Dapat ditulis dengan rumus sebagai TR = P x Q Dimana: TR = penerimaan total P = harga jual Q = jumlah output/produk yang dihasilkan Pendapatan penerimaan yang diperoleh pada periode tertentu. Untuk mendapatkan nilai pendapatan dapat digunakan persamaan sebagai berikut: I = TR Ae TC Dimana : I = Total pendapatan petani TR = Penerimaan Total(R. p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 TC = Biaya Total (R. Rata-rata pendapatan diperoleh dari hasil perbandingan antara total pendapatan petani dengan total sampel . Diketahui dengan pesamaan sebagai berikut: AR = TR/L Dinama: AR = pendapatan rata-rata TR = jumlah total pendapatan = jumlah petani . Untuk mengetahui signifikansi perbedaan produksi dan pendapatan menggunakan teknik analisis statistik nonparametrik yaitu Uji wilcoxon signed rank test. Uji wilcoxon adalah uji perbedaan antara 2 kelompok data berpasangan berskala interval atau ordinal tetapi berdistribusi tidak normal. Uji wilcoxon signed rank test merupakan uji alternatif dari uji pairing t test atau t paired apabila tidak memenuhi asumsi normalitas. Uji ini juga dikenal dengan istilah Wilcoxon Match Pair Test (Sugiyono, 2. Nilai statistik uji Wilcoxon ditentukan oleh nilai Z, dengan rumus sebagai berikut: Dimana: T = peringkat dengan selisih nilai terkecil N = jumlah pengamatan Sehingga rumusan hipotesisnya adalah: H0 : 01 = 02 . idak terdapat perbedaan produksi jagung sebelum dan sesudah menerima bantuan beni. H1 : 01 O 02 . erdapat perbedaan produksi jagung sebelum dan sesudah menerima bantuan beni. H0 : 01 = 02 . idak terdapat perbedaan pendapatan petani sebelum dan sesudah menerima bantuan beni. H1 : 01 O 02 . erdapat perbedaan pendapatan petani sebelum dan sesudah menerima bantuan beni. Pengujian hipotesis menggunakan A 5% . dengan kriteria sebagai berikut: Taraf nyata yang digunakan adalah =5% . Terima H0 jika Whitung < Wtabel , nilai sig . lebih besar dari 0,05 Tolak H0 jika Whitung > Wtabel , nilai sig . lebih kecil dari 0,05 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pelaksanaan Bantuan Benih Sakinah et al. Dampak Bantuan Benih Terhadap Produksia Page 97 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 Salah satu unsur penting dalam budidaya pertanian adalah benih. Penggunaan benih unggul dapat menjadi faktor penentu keberhasilan budidaya Sebelum adanya program TJPS kebanyakan petani menggunakan benih hasil panen sebelumnya, namun setelah adanya program bantuan benih TJPS petani menggunakan benih varietas hibrida yang tentunya jauh lebih bagus dari benih yang digunakan sebelumnya. Hal tersebut menjadi salah satu faktor meningkatnya produksi jagung di Desa Baumata. Selain itu diketahui bahwa sebelum adanya program TJPS petani selalu membeli dan melengkapi input produksi seperti benih menggunakan modal Sebelum mendapat bantuan benih jagung masyarakat sekitar wilayah penelitian merasakan kesulitan dalam hal meningkatkan produktivitas usahatani yang menyebabkan usahataninya kurang Kondisi ini telah berbeda saat adanya program TJPS. Volume pembelian input produksi petani sudah semakin berkurang karena adanya bantuan benih tersebut. Bantuan yang diterima petani melalui program ini berupa benih jagung varietas hibrida dengan daya tumbuh 80-85% sebanyak 30 Kg/kelompok tani yang disalurkan satu kali setiap periode tanam jagung. Bantuan ini didistribusikan melalui kelompok tani lalu dibagikan ke masingmasing anggota sesuai luas lahan yang diusahakan. Sebelum adanya program TJPS petani selalu menjual hasil produksi jagung ke pasar. Lain halnya setelah adanya program TJPS, program ini menyediakan pembeli/konsumen akhir yang sering disebut Offtaker sehingga petani tidak lagi mengalami kesulitan dalam mencari pembeli. Kondisi ini dapat memberikan motivasi bagi petani untuk terus berusahatani jagung dalam hal peningkatan pendapatan petani. Adapun mekanisme pendistribusian bantuan benih jagung di Baumata adalah: Pihak TJPS yang sudah diberi tugas oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur meminta izin di Pemerintah Kecamatan Taebenu dan Pemerintah Desa Baumata agar dapat melaksanakan program TJPS Setelah diberikan izin, pemerintah Desa Baumata menyiapkan kelompok tani dan jumlah anggotanya beserta data-data yang diperlukan. Setelah memperoleh data-data kelompok tani, pihak TJPS langsung turun dan menemui kelompok tani calon penerima bantuan dengan didampingi oleh PPL untuk melakukan penyaluran bantuan benih yang telah dianggarkan dalam program TJPS, kepada ketua kelompok tani yang bersangkutan. Kemudian ketua kelompok tani membagikan jumlah benih tersebut kepada anggotanya berdasarkan luas lahan yang diperuntukkan untuk program TJPS. p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 Kegiatan menanam jagung secara masal pernah dilakukan sebelum adanya program TJPS yaitu program Operasi Nusa Makmur (ONM) namun tidak berjalan dengan baik dikarenakan minimnya bantuan dana untuk daerah bawahan, kurang paham peta permasalahan dan lemahnya pengawasan. Program TJPS di Desa Baumata juga tidak berjalan dengan baik. Program ini telah memberikan dampak yang positif bagi petani yaitu meningkatkan produksi dan pendapatan petani sebelum dan sesudah menerima bantuan benih jagung dari program TJPS. Namun petani di Desa Baumata memilih tidak keterlambatan pendistribusian bantuan benih jagung. Selain itu benih jagung yang didistribusikan tidak tahan terhadap hama gudang. Hal itu mengakibatkan jagung harus cepat dijual atau dikonsumsi dan tidak bisa disimpan lama. Petani takut jagung rusak sebelum sampai di tangan offtaker. Jika hal tersebut terjadi maka dapat merugikan petani. Melalui banyak pertimbangan maka petani di Desa Baumata memilih tidak melanjutkan program tersebut meskipun produksi dan pendapatan petani meningkat setelah adanya program tersebut. Beberapa faktor lain yang mengakibatkan program TJPS tidak berjalan dengan baik yaitu tahap perencanaan tidak dilakukan dengan baik, terutama prediksi keberhasilan/kegagalan . dan analisis masalah . nalyse problem. sebelum dibuat keputusan . ecision makin. Masalah yang menghadang keberhasilan TJPS bukan saja keterlambatan pendistribusian benih namun benih yang digunakan, pemupukan, pendampingan PPL, luas lahan yang digarap, ketersediaan ternaga kerja produktif, pembasmian hama dan budaya kerja juga menjadi faktor penentu keberhasilan program Kenyataan dan pengalaman membuktikan luas lahan yang digarap hanya berkisar 0,4 - 0,5 ha/petani. Sementara tenaga kerja produktif terbatas akibat migrasi anak muda ke perkotaan . , beralih profesi sebagai tukang ojek dan keluar negeri sebagai TKI. Oleh karena itu pekerjaan menyiapkan lahan, menanam, menyiangi dan memanen sungguh berat bagi petani kalau tidak dibantu dengan alat mesin pertanian . , seperti traktor dan sebagainya. Selain itu terik panas matahari yang cepat membuat petani lelah dan berhenti bekerja. Petani NTT pada umumnya adalah petani subsisten dan bukan petani Petani bekerja sekedar bisa mencukupi kebutuhan makan sehingga merubah mereka menjadi petani pengusaha butuh waktu dan pendampingan Inilah kondisi sebenarnya sehingga sudah bisa diprediksi bahwa hasil panen tidak sesuai Sakinah et al. Dampak Bantuan Benih Terhadap Produksia Page 98 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 Program TJPS sendiri merupakan konsep kolaborasi pertanian dan peternakan untuk mendongkrak ekonomi masyarakat. Program TJPS kedengarannya menarik tetapi pelaksanaannya untuk mencapai tujuan terbilang sulit apalagi harus dikaitkan dengan pembelian sapi. Sederhananya, jika petani mempunyai uang untuk membeli sapi tentu banyak kebutuhan lain menanti seperti penyediaan pakan ternak, dan urusan kesehatan hewan yang membutuhkan biaya yang cukup banyak. Melihat menghambat keberhasilannya, pemimpin bijak mestinya memilih memusatkan perhatian pada satu sektor saja demi mengurangi resiko dan lebih memperhatikan kualitas benih jagung untuk Para petani sudah senang jika pemerintah membantu mereka meningkatkan produksi dan peroduktivitas tanaman jagung. Jika petani memiliki pendapatan lebih maka arahkan petani sesuai kebutuhan mereka tidak hanya membeli sapi atau hewan ternak saja. Mungkin ada beberapa petani yang ingin membuat kios pertanian daripada memelihara sapi. Produksi jagung Sebelum dan Sesudah Menerima Bantuan Benih Tabel faktor produksi dapat dilihat pada Tabel 1. p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 telah mengurangi biaya produksi petani, semakin kecil biaya produksi yang dikeluarkan tetapi faktor produksi tersedia secara optimal maka produksinya akan meningkat namun biaya yang dikeluarkan petani sedikit berkurang dari Data produksi jagung di Desa Baumata baik sebelum maupun sesudah adanya bantuan benih disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Produksi Jagung Selama Satu Periode Tanam Sebelum Bantuan Benih Produ ksi Jagung Dikon Dijual Jumla . Rat a-Rata . ,67 28,49 92,16 Setelah Bantuan Benih Rat a-rata . ,04 68,82 56,86 Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2023 Tabel 1. Ketersediaan Benih Setelah Bantuan Benih Jumlah Ratarata Secara umum terlihat bahwa produksi jagung di Desa Baumata setelah adanya bantuan benih mengalami peningkatan dibandingkan sebelum adanya bantuan benih. Hal ini dikarenakan program tersebut memberikan bantuan benih jagung yang berkualitas yaitu benih jagung varietas hibrida. Luas Lahan 24,40 0,48 24,40 0,48 . Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2023 Penggunaan benih jagung hibrida tersebut berpengaruh terhadap jumlah produksi jagung Faktor Produksi Benih . Sebelum Bantuan Benih Jumlah RataRata Dari tabel 1 terlihat bahwa penyediaan benih setelah adanya bantuan benih lebih sedikit dibandingkan dengan sebelum adanya bantuan benih dengan luas lahan produksi yang sama. Hal ini tidak terlepas dari peranan pemerintah dalam memberikan bantuan berupa benih jagung kepada petani di Desa Baumata. Bantuan benih yang diperoleh petani tersebut juga mempengaruhi biaya yang dikeluarkan untuk pembelian benih. Sebelum adanya bantuan benih petani selalu menyediakan benih menggunakan modal sendiri dengan jumlah yang besar, akan tetapi adanya program TJPS telah membawa perubahan bagi petani yaitu pemberian bantuan berupa benih jagung Biaya Produksi Jagung Rincian biaya produksi dapat dilihat pada Tabel 3 berikut. Tabel 3. Biaya Produksi Jagung Selama Satu Periode Tanam Biaya Input Biaya Tetap Biaya Sewa Alat Biaya Pemeliharaan Alat Sakinah et al. Dampak Bantuan Benih Terhadap Produksia Sebelum Bantuan Benih Jumla Ratah Rata (R. (R. Setelah Bantuan Benih Jumla Ratah (R. Rata (R. Page 99 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 Total Biaya Tetap Biaya Variabel Biaya Benih Biaya Pupuk Biaya Pestisida Biaya Pengairan Biaya Pengangkutan Upah Tenaga Kerja Total Biaya Variabel Jumlah Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2023 Data pada Tabel 3 diketahui bahwa jumlah biaya produksi yang dikeluarkan sebelum adanya bantuan benih lebih besar dibandingkan setelah adanya bantuan benih. Besarnya biaya produksi pada saat sebelum adanya bantuan benih dikarenakan seluruh biaya disiapkan oleh petani dengan memanfaatkan modal sendiri. Hal yang berbeda terjadi setelah adanya bantuan benih, bahwa dalam setiap periode tanam petani diberikan bantuan berupa benih sehingga petani hanya mengeluarkan biaya untuk membeli kebutuhan produksi yang masih kurang tersedia secara optimal. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani tersebut berpengaruh pada pendapatan petani. Semakin sedikit biaya yang dikeluarkan maka semakin besar pendapatan yang diperoleh Hal ini sejalan dengan Hakim . yang mengatakan bahwa pendapatan petani dipengaruhi oleh harga jual dan biaya produksi. p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 Biaya Sebelum Setelah Bantuan Benih Bantuan Benih Juml RataJumlah Rataah (R. Rata (R. (R. rata (R. Pengepakan Bongkar Muat Pengangkutan Total Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2023 Data pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa sebelum adanya bantuan benih, dalam setiap periode panen petani mengeluarkan biaya pemasaran seperti pengepakan, bongkar muat dan pengangkutan menggunakan modal sendiri. Namun setelah adanya bantuan benih petani hanya mengeluarkan biaya pengepakan saja karena biaya bongkar muat dan pengangkutan ditanggung oleh offtaker atau pengepul. Semakin sedikit biaya yang dikeluarkan maka semakin besar pendapatan yang diperoleh petani, begitupun sebaliknya. Artinya biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani tersebut berpengaruh pada jumlah pendapatan petani. Hal ini sejalan dengan Popoko . yang menyatakan bahwa besar kecilnya penerimaan dipengaruhi oleh jumlah produksi. Penerimaan Penerimaan petani dalam setahun dapat dilihat pada table 5. Biaya Pemasaran Jagung Biaya pemasaran adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk memasarkan hasil panennya selama satu musim tanam. Dalam penelitian ini, biaya pemasaran adalah total biaya yang dikeluarkan petani untuk pemasaran hasil panen jagung berupa biaya pengepakan, biaya pengangkutan dan biaya bongkar muat. Rincian biaya pemasaran dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 5. Rata-Rata Penerimaan Petani Dalam Satu Periode Tanam Jagung Tabel 4. Biaya Pemasaran Jagung Selama Satu Periode Tanam Sebelum Jumlah Produksi (K. Sakinah et al. Dampak Bantuan Benih Terhadap Produksia 292,16 Harga Yang Diterima (Rp/K. Rata-rata (Rp/K. Page 100 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 Sesudah 856,86 Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2023 Data pada Tabel 5 menjelaskan banwa adanya peningkatan penerimaan petani jagung setelah adanya bantuan benih. Meskipun harga yang diterima oleh petani lebih rendah yaitu sebesar Rp 4. 300/kg namun penerimaan petani lebih besar dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan jumlah produksi yang besar dari sebelum adanya bantuan benih, karena petani mendapat bantuan benih unggul dari program tersebut sehingga mempengaruhi jumlah produksi petani. Artinya semakin besar produksi maka semakin besar pula penerimaan yang diperoleh petani. Selain itu petani menerapkan pola tanam jagung yang dianjurkan oleh program TJPS dengan tujuan meningkatkan produksi jagung Di Desa Baumata. Keberhasilan program tersebut untuk meningkatkan produksi besarnya penerimaan. Pendapatan Rata- rata pendapatan petani jagung di Desa Baumata Pusat dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Rata-Rata Pendapatan Petani Dalam Satu Periode Tanam Jagung RataRata-Rata Rata-Rata Rata-Rata Rata Penerimaan Biaya Total Pendapatan Pendapat (Rp/petan. (Rp/petan. (Rp/petan. Sebelum 784,3 8. 206,1 2. Sesudah 509,8 4. 552,9 7. Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2023 Data pada Tabel 6 menjelaskan bahwa pendapatan petani jagung setelah adanya bantuan benih meningkat. Meningkatnya pendapatan petani tersebut dipengaruhi oleh penerimaan petani lebih besar dari sebelum adanya bantuan benih yaitu sebesar Rp 509,8 dengan biaya total sebesar Rp 552,9 lebih kecil dari total biaya Hal ini dikarenakan program p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 tersebut memberikan bantuan berupa benih jagung kepada petani yang menjadi salah satu faktor penyebab berkurangnya biaya yang dikeluarkan oleh petani sehingga meningkatnya pendapatan petani. Selisih antara penerimaan dan biaya total menjadi lebih besar sehingga pendapatan pentani pun meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian Artaman . yang mengatakan bahwa modal usaha atau biaya berpengaruh signifikan terhadap tingkat Efisiensi Biaya Pemasaran Efisiensi pemsaran jagung dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Efisiensi Pemasaran Jagung Sebelum dan Sesudah Program TJPS Di Desa Baumata Kecamatan Taebenu Waktu Pemasaran Sebelum bantuan Setelah bantuan Biaya pemasaran/kg (R. Nilai (R. (%) Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2023 Pemasaran jagung sesudah adanya bantuan benih termasuk efisien. Pada tabel 7 setelah adanya bantuan benih memiliki nilai Ec lebih rendah . ,3%) dibandingkan sebelum adanya TJPS . ,8%). Nilai Ec lebih tinggi sebelum adanya program TJPS adalah karena petani menjual jagung langsung ke pasar dengan mengeluarkan biaya pemasaran yang besar namun harga yang diterima kecil. Namun setelah adanya program TJPS nilai Ec lebih rendah karena biaya pemasaran ditanggung oleh offtaker sehingga biaya pemasaran yang dikeluarkan petani berkurang dari sebelumnya. Hasil tersebut sejalan dengan Soekartawi . yang menegaskan bahwa angka Ec yang rendah menunjukkan tingkat efisiensi pembiayaan yang relatif tinggi dan nilai Ec yang tinggi menunjukkan tingkat efisiensi pembiayaan yang rendah. Artinya semakin rendah nilai Ec semakin efisien pemasaran yang dilakukan karena biaya pemasaran semakin Signifikasi Perbedaan Produksi Petani Sebelum dan Sesudah Program Bantuan Benih TJPS Sakinah et al. Dampak Bantuan Benih Terhadap Produksia Page 101 Buletin Ilmiah IMPAS Volumen 24 No. 2 Edisi Agustus 2023 Berdasarkan uji Wilcoxon diperoleh nilai Z hitung sebesar 6,215, nilai ini lebih tinggi dibandingkan nilai Z tabel sebesar 1,675, selain itu nilai signifikansi 0,00 < 0,05. Dengan demikian hasil penelitian menolak H0 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara produksi petani jagung di Desa Baumata sebelum dan sesudah menerima bantuan benih jagung dari program TJPS. Artiya program bantuan benih ini berpengaruh terhadap produksi petani di Desa Baumata. Hal ini sejalan dengan dengan Juniarsih et al . yang menyatakan bahwa kebijakan subsidi benih jagung berdampak pada peningkatan produksi jagung Signifikasi Perbedaan Pendapatan Petani Sebelum dan Sesudah Program Bantuan Benih Berdasarkan uji Wilcoxon diperoleh nilai Z hitung sebesar 6,215, nilai ini lebih tinggi dibandingkan nilai Z tabel sebesar 1,675, selain itu nilai signifikansi 0,00 < 0,05. Dengan demikian hasil penelitian menolak H0 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan petani jagung di Desa Baumata sebelum dan sesudah menerima bantuan benih jagung dari program TJPS. Artiya program bantuan benih ini berpengaruh terhadap pendapatan petani di Desa Baumata. Hal ini sejalan dengan penelitian Ginting et al . yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan terhadap peningkatan pendapatan petani sebelum dan sesudah program BLBU Jagung Hibrida. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: Program bantuan benih jagung TJPS berdampak positif bagi produksi dan pendapatan Bantuan berupa benih jagung dari program ini mengakibatkan biaya produksi petani berkurang sehingga berdampak pada pendapatan Pemberian bantuan benih jagung yang berkualitas yaitu benih varietas hibrida memengaruhi peningkatan jumlah produksi karena benih unggul memberikan pertumbuhan yang lebih baik dan lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Perubahan jarak tanam yang p-ISSN : 0853-7771 e-ISSN : 2714-8459 TJPS mempengaruhi peningkatan jumlah produksi. Rata-rata produksi sebelum adanya program TJPS adalah 2. 292,16 kg dan rata-rata produksi sesudah adanya program TJPS adalah 2. 856,86 kg, artinya petani mengalami peningkatan produksi setelah menerima bantuan program TJPS. Rata-rata pendapatan sebelum adanya program TJPS adalah Rp 2. 577,6 dan ratarata pendapatan sesudah adanya program TJPS adalah Rp 7. 956,9, artinya petani mengalami peningkatan pendapatan setelah menerima bantuan dari dprogram TJPS. Terdapat perbedaan yang signifikan tantara produksi dan pendapatan petanisebelum dan sesudah adanya program TJPS. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang diberikan oleh penulis adalah sebagai Bagi petani disarankan untuk menggunakan bantuan benih dengan seefektif mungkin agar mengurangi biaya petani, dan lebih efisien dalam memanfaatkan input produksi khususnya dalam usahatani jagung. Bagi pemerintah diharapkan meningkatkan kualitas benih jagung yang diberikan kepada petani dan diharapkan kepada pemerintah dapat memberikan input-input produksi lainnya untuk mendukung pembangunan pertanian di daerah NTT. Selain itu perlu adanya evaluasi terkait program bantuan benih TJPS untuk pemberian bantuan serupa lainnya di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA.