JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 684-692 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah KONSTRUKSI PAI BERBASIS ADAB UNTUK MEMPERKUAT IDENTITAS SISWA DI ERA DISRUPSI Abu Bakar Dja'far1. Andi Hidayat2 1,2 Universitas Pamulang. Indonesia Email: dosen01637@unpam. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Islamic Religious Education Construction Etiquette Student Identity Era of Disruption ABSTRAK The current era of technological disruption brings radical challenges to the existence of Islamic education, where the flow of digital information often blurs the boundaries of ethics and students' identities. This study aims to analyze the strategy of constructing Islamic Religious Education (PAI) based on adab . as an effort to strengthen student identity in Madrasah Ibtidaiyah (Islamic elementary school. in facing the dynamics of this disruptive era. Through a qualitative method with a case study approach, data were collected using in-depth interviews, participatory observation of daily religious practices, and curriculum documentation studies. The results show that teachers' efforts in constructing adab begin with instructional planning that explicitly integrates the values of tabayyun . eligious trus. , amanah . , and tawadhu . eligious humilit. into teaching materials and digital interactions. Teachers play a central role as motivators through role models . swah hasana. that foster students' intrinsic pride in their Muslim identity, and as evaluators through authentic assessments that monitor the consistency of student behavior. Although the construction of adab has proven effective in building moral immunity, its success still faces obstacles in the form of dual student identities in the digital space and a lack of value synergy with the family environment. The conclusion of this study confirms that strengthening Islamic identity in the era of disruption requires an integrated "Digital Etiquette Literacy" model that integrates the school ecosystem and the role of parents to maintain the authenticity of students' character. ABSTRAK Era disrupsi teknologi saat ini membawa tantangan radikal terhadap eksistensi pendidikan Islam, di mana arus informasi digital sering kali mengaburkan batasan etika dan jati diri siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi konstruksi Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis adab sebagai upaya memperkuat identitas siswa di Madrasah Ibtidaiyah dalam menghadapi dinamika zaman yang disruptif. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif terhadap praktik keagamaan harian, serta studi dokumentasi kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya guru dalam mengonstruksi adab dimulai dari perencanaan instruksional yang secara eksplisit mengintegrasikan nilai tabayyun, amanah, dan tawadhu ke dalam materi ajar dan interaksi digital. Guru memainkan peran sentral sebagai motivator melalui keteladanan . swah hasana. yang membangkitkan kebanggaan intrinsik siswa terhadap identitas kemuslimannya, serta sebagai evaluator melalui penilaian autentik yang memantau konsistensi perilaku siswa. Meskipun konstruksi adab terbukti efektif membangun imunitas moral, namun keberhasilannya masih menghadapi hambatan berupa dualitas identitas siswa di ruang digital dan kurangnya sinergi nilai dengan lingkungan Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa penguatan identitas Islam di era disrupsi memerlukan model "Literasi Adab Digital" yang terintegrasi antara ekosistem sekolah dan peran orang tua guna menjaga orisinalitas karakter siswa. Kata kunci: Konstruksi PAI. Adab. Identitas Siswa. Era Disrupsi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Konstruksi PAI Berbasis Adab Untuk Memperkuat Identitas Siswa Di Era Disrupsi PENDAHULUAN Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan system pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan jaman yang sedang Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan(Nurul Zuriah, 2011. Selvia, 2. Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter bangsa, namun realitas sosiologis saat ini menunjukkan bahwa Indonesia masih terjebak dalam krisis integritas yang sistemik, di mana praktik korupsi telah merambah ke berbagai sendi Fenomena ini tidak hanya terjadi di ranah politik dan birokrasi, tetapi gejalanya mulai terlihat di lingkungan pendidikan melalui perilaku tidak jujur siswa, seperti menyontek, manipulasi kehadiran, hingga rendahnya rasa tanggung jawab terhadap aturan sekolah. Sebagai lembaga pendidikan umum di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Luwu. SMP 4 Malangke memiliki tanggung jawab besar untuk membentengi generasi muda dari mentalitas koruptif sejak dini. Pendidikan agama sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional memiliki tanggung jawab yang sama terhadap pencapaian dari tujuan pendidikan nasional. Pendidikan agama merupakan bagian pendidikan yang sangat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, antara lain akhlak, keagamaan dan sosial masyarakat. Agama memberikan motivasi hidup dalam kehidupan(Ibrahim & Yunus, 2021. Yunus, 2019, 2018. Oleh karena itu agama perlu diketahui, dipahami, diyakini dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga dapat menjadi manusia yang utuh. Agama mengatur hubungan manusia dengan Allah swt, manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan dirinya yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kebahagiaan lahiriah dan rohaniah(Yunus. Nurseha, 2020. Yunus, 2018. Era disrupsi teknologi saat ini telah membawa perubahan radikal dalam lanskap pendidikan, di mana arus informasi tanpa batas mulai mengaburkan batas-batas nilai tradisional dan etika spiritual siswa. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa siswa Madrasah Ibtidaiyah kini menghadapi tantangan krisis identitas akibat paparan budaya global yang sering kali kontradiktif dengan nilai-nilai Islam. Masalah utama muncul ketika Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sering kali hanya terjebak pada pemenuhan aspek kognitif dan formalitas kurikulum, sehingga gagal membentuk karakter yang mendalam dan resilien dalam menghadapi gempuran digital. Oleh karena itu, penguatan identitas melalui konstruksi adab menjadi urgensi yang tidak dapat ditawar, mengingat dalam tradisi intelektual Islam, adab merupakan fondasi utama sebelum penguasaan ilmu pengetahuan. Meskipun banyak penelitian terdahulu telah membahas implementasi kurikulum PAI secara umum, namun masih terdapat celah penelitian . esearch ga. terkait bagaimana adab dikonstruksikan secara sistematis sebagai sebuah budaya sekolah yang mampu menjadi filter moral di tengah ketidakpastian era Kebanyakan riset sebelumnya lebih berfokus pada hasil belajar siswa daripada proses internalisasi identitas yang berkelanjutan melalui praktik keagamaan sehari-hari. Kebaruan . dari penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang memosisikan adab bukan sekadar materi pelajaran, melainkan sebagai basis konstruksi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Konstruksi PAI Berbasis Adab Untuk Memperkuat Identitas Siswa Di Era Disrupsi identitas siswa yang adaptif terhadap perubahan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi konstruksi PAI berbasis adab di Madrasah Ibtidaiyah serta mengidentifikasi efektivitas praktik keagamaan harian dalam memperkokoh jati diri Muslim Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan model alternatif bagi institusi pendidikan Islam dalam menjaga orisinalitas identitas siswa di tengah arus disrupsi yang kian masif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus . ase stud. untuk mengeksplorasi secara mendalam proses konstruksi nilai-nilai adab dalam ekosistem pendidikan di [Sebutkan Lokasi Penelitia. Pendekatan kualitatif dipilih karena peneliti bertujuan untuk memahami fenomena sosial dan perilaku manusia secara alami, di mana peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dalam mengumpulkan serta menginterpretasikan data di lapangan. Subjek penelitian ditentukan secara purposive, yang melibatkan kepala madrasah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), serta siswa, guna memperoleh data yang komprehensif dari berbagai sudut pandang pemangku kepentingan Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga instrumen utama, yaitu observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung praktik keagamaan harian dan interaksi sosial yang mencerminkan budaya adab di lingkungan sekolah. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali kebijakan strategis dan filosofi pendidik dalam membangun identitas siswa di era disrupsi, sementara studi dokumentasi digunakan untuk menelaah kurikulum, tata tertib, dan perangkat pembelajaran yang relevan. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan kondensasi data, penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk menjamin keabsahan dan kredibilitas hasil penelitian, peneliti menerapkan teknik triangulasi sumber dan teknik, yaitu dengan membandingkan informasi dari berbagai narasumber serta mencocokkan hasil wawancara dengan fakta yang ditemukan selama observasi dan dokumen resmi sekolah. Melalui prosedur ini, diharapkan diperoleh temuan yang valid mengenai model konstruksi PAI berbasis adab yang mampu memperkuat identitas siswa dalam menghadapi tantangan zaman HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dalam melakukan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam, guru biasanya melakukan persiapan dan pengelolaan untuk menyukseskan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam tersebut. Kondisi yang terjadi di SMP Negeri 4 Malangke, dapat diperinci sebagai: Dalam hal persiapan mengajar dan orientasi tujuan pembelajaran yaitu selalu melakukan persiapan sebelum melakukan pembelajaran dan juga mengemukakan tujuan pembelajaran dari pembelajaran yang dilakukan pada waktu itu, agar peserta didik mengerti dan bisa menyerap materi dengan sempurna. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum mengajar, persiapan di sini dapat diartikan persiapan tertulis maupun persiapan mental, situasi emosional yang ingin dibangun, lingkungan belajar yang produktif, termasuk meyakinkan pembelajar untuk mau terlibat secara penuh. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan silabus mempunyai perbedaan, meskipun dalam hal tertentu mempunyai persamaan. Silabus memuat hal-hal yang perlu dilakukan peserta didik untuk menuntaskan suatu kompetensi secara utuh. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Konstruksi PAI Berbasis Adab Untuk Memperkuat Identitas Siswa Di Era Disrupsi artinya di dalam suatu silabus adakalanya beberapa kompetensi yang sejalan akan disatukan sehingga perkiraan waktunya belum tahu pasti berapa pertemuan yang akan dilakukan(Daulay, 2. Sementara itu. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah penggalan-penggalan kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru untuk setiap pertemuan. dalamnya harus terlihat tindakan apa yang perlu dilakukan oleh guru untuk mencapai ketuntasan kompetensi serta tindakan selanjutnya setelah pertemuan selesai . Dalam hal penggunaan metode, pembelajaran PAI yang ada di SMP Negeri 4 Malangke dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu metode. Hal ini mestinya guru tersebut menggunakan banyak metode pembelajaran. Dalam menentukan metode pendidikan yang dipakai, maka diperlukan sebuah pijakan. Untuk menentukan apakah metode pendidikan itu baik, maka diperlukan prinsip-prinsip tertentu. Maka jelaslah, bahwa bagaimanapun baiknya, peranan guru sangatlah mutlak Metode yang baik tidak akan mampu untuk mencapai tujuan, bila gurunya tidak baik pribadinya, dan sebaliknya(Nasution, 2011. Sanjani, 2. Dalam menentukan metode pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 4 Malangke sudah mulai mempertimbangkan persyaratan memakai metode dan hal-hal yang masih diperhatikan dalam pemakaian dan penentuan metode pembelajaran. Dalam hal penyediaan materi pelajaran, guru mulai melakukan inovasi dalam penyediaan materi pembelajaran, misalnya dengan membuat materi sendiri dan mencatatkannya. Maka dari itu, guru harus kreatif dengan mengusahakan materi PAI dari sumbernya secara Karena unsur materi merupakan salah satu unsur yang penting dalam suatu proses Pembelajaran tidak akan dapat berlangsung tanpa adanya materi. Dalam hal penggunaan media pembelajaran, guru PAI di SMP Negeri 4 Malangke hanya memakai media pembelajaran yang berupa papan tulis atau berupa alat pembelajaran yang kurang menarik motivasi peserta didik untuk belajar lebih giat. Mestinya pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malangke juga menggunakan media pembelajaran lainnya. Karena Pembelajaran yang baik harus dilaksanakan dengan menggunakan media pembelajaran Tanpa menggunakan media, maka pembelajaran tidak akan berhasil sepenuhnya. Meskipun demikian kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa biasanya seorang guru atau pendidik lebih memilih menggunakan satu media dalam pembelajarannya setiap hari dengan berbagai alasan, antara lain: ia sudah merasa akrab dengan media tersebut, ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri, atau media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian peserta didik(Tambunan. Padahal pada kenyataannya alasan-alasan di atas hanyalah merupakan alasan menurut pemikiran guru saja atau pemikiran dari satu pihak. Sedangkan peserta didik mungkin sudah merasa bosan dengan media yang digunakan atau media yang digunakan kurang tepat dan terlalu monoton. Seorang guru harus mampu memilih dan menggunakan media yang tepat dalam pembelajaran. Demikian juga dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam yang terjadi di SMP, seorang guru harus dengan tepat mampu memilih media yang digunakan untuk pembelajaran tersebut(Hikmawati, 2. Dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam di SMP, hampir semua media yang digunakan akan sesuai jika dipilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Jika tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, maka penggunaan media pembelajaran akan memakan banyak dana tanpa keberhasilan yang diinginkan. Jadi pada intinya, guru harus melakukan pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP dengan bantuan media Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Konstruksi PAI Berbasis Adab Untuk Memperkuat Identitas Siswa Di Era Disrupsi pembelajaran, agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien dan juga cepat serta . Pengadaan evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Malangke kelas VII dalam mata pelajaran dilaksanakan per KD, melalui evaluasi tulis, evaluasi lisan dan praktek. Pengadaan evaluasi pembelajaran ini hukumnya wajib atau harus dilakukan, tanpa evaluasi pembelajaran, maka keberhasilan pembelajaran PAI tidak dapat diketahui. Jadi, pembelajaran pendidikan agama Islam yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Malangke kurang efektif. Sehingga pembelajaran tersebut hendaknya lebih ditingkatkan lagi, agar mutu pendidikan di institusi tersebut khususnya, dan mutu pendidikan Nasional umumnya, meningkat. Upaya Guru dalam Perencanaan Konstruksi PAI Berbasis Adab di Era Disrupsi Upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam merencanakan konstruksi PAI berbasis adab dimulai dengan merekonstruksi paradigma bahwa di era disrupsi, kecerdasan intelektual tanpa landasan adab akan membuat siswa kehilangan jati diri. Guru menyadari bahwa perencanaan yang matang adalah fondasi utama, sehingga langkah awal yang dilakukan adalah melakukan analisis mendalam terhadap integrasi nilai-nilai adab klasik yang dikontekstualisasikan dengan tantangan digital saat ini. Dalam dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru secara eksplisit menyisipkan indikator karakter seperti tawadhu . endah hat. dalam berpendapat di media sosial, tabayyun . erifikasi informas. untuk menangkal hoaks, dan amanah dalam penggunaan perangkat teknologi. Dalam tahapan perencanaan, guru juga merancang strategi instruksional yang tidak lagi bersifat searah, melainkan berbasis pada Project Based Learning yang mengonstruksi adab dalam realitas virtual. Guru menyusun skenario pembelajaran yang menghadapkan siswa pada dilema etika digital, seperti perundungan siber . yber bullyin. atau plagiarisme, kemudian mengaitkannya dengan konsep adab terhadap sesama dan adab terhadap ilmu. Perencanaan ini juga mencakup pengembangan media pembelajaran berbasis IT yang kreatif, di mana guru merancang penggunaan konten video pendek dan simulasi interaksi digital yang santun, sehingga pesan moral yang disampaikan menjadi lebih relevan dengan gaya hidup siswa generasi alfa. Selain aspek materi, perencanaan guru PAI juga menyentuh aspek ekosistem sekolah yang lebih luas. Guru tidak hanya merencanakan pengajaran di kelas, tetapi juga merancang instrumen penilaian autentik berupa "Portofolio Adab Digital" dan jurnal refleksi harian. Dalam instrumen tersebut, guru menetapkan kriteria penilaian yang menitikberatkan pada konsistensi siswa dalam menerapkan adab, baik di lingkungan sekolah nyata maupun dalam interaksi di grup WhatsApp kelas. Hal ini dilakukan agar siswa memahami bahwa identitas Islam mereka tidak boleh luntur hanya karena berpindah ruang dari dunia nyata ke dunia Dengan perencanaan yang holistik ini, guru PAI berupaya menciptakan cetak biru pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi memiliki imunitas adab yang tinggi di tengah arus disrupsi. Peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai Motivator Dalam konteks penguatan identitas siswa, peran guru PAI sebagai motivator dimulai dengan membangkitkan kesadaran siswa bahwa adab adalah pembeda utama manusia di tengah otomasi mesin dan kecerdasan buatan. Guru merancang strategi motivasi melalui pendekatan Uswah Hasanah . , di mana tujuan utama bukan sekadar transfer teori adab, melainkan upaya membangkitkan kebanggaan siswa untuk menjaga identitas Guru menyusun narasi inspiratif mengenai tokoh-tokoh peradaban Islam Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Konstruksi PAI Berbasis Adab Untuk Memperkuat Identitas Siswa Di Era Disrupsi yang mencapai puncak ilmu pengetahuan karena mendahulukan adab, guna menyentuh aspek emosional siswa sehingga mereka merasa bahwa bersikap santun dan berintegritas adalah bentuk kemuliaan diri (Aoizza. di era yang kompetitif ini. Sebagai motivator, guru PAI juga merencanakan penggunaan teknik positive reinforcement dalam struktur pembelajarannya. Dalam interaksi harian, guru merancang sistem apresiasi bagi siswa yang menunjukkan adab mulia, seperti menghargai perbedaan pendapat saat diskusi atau menunjukkan kejujuran dalam tugas mandiri. Perencanaan ini bertujuan untuk menggeser motivasi siswa yang awalnya bersifat ekstrinsik . ekadar mengejar nila. menjadi motivasi intrinsik . eraih rida Allah dan ketenangan jiw. Guru meyakini bahwa dengan motivasi yang tepat, adab tidak akan dirasakan sebagai aturan yang mengekang, melainkan sebagai gaya hidup yang elegan dan membanggakan(Haniyyah, 2021. Luluk Aviva. Devy Habibi Muhammad, 2022. Marnatun. Surawan, 2. Lebih jauh lagi, peran sebagai motivator mencakup dialog interaktif yang membangun optimisme siswa menghadapi masa depan. Di tengah disrupsi yang sering kali menimbulkan kecemasan sosial, guru PAI memotivasi siswa untuk melihat diri mereka sebagai agent of adab yang mampu memberi warna positif di lingkungan digital. Dengan menanamkan visi bahwa "Adab adalah Identitas", guru PAI berhasil mengubah persepsi siswa sehingga mereka memiliki daya dorong yang kuat untuk menolak perilaku tidak beradab, meskipun sedang berada dalam anonimitas dunia maya sekalipun. Peran Guru PAI sebagai Evaluator dalam Konstruksi Adab Peran guru PAI sebagai evaluator memegang posisi sentral untuk memastikan bahwa konstruksi adab telah benar-benar terinternalisasi menjadi identitas, bukan sekadar akting di depan guru. Guru merancang sistem evaluasi yang bersifat holistik dan berkelanjutan, di mana penilaian tidak hanya bertumpu pada ujian tulis, tetapi mencakup pemantauan perilaku . ehavioral monitorin. dalam jangka panjang. Guru memahami bahwa keberhasilan konstruksi adab diukur dari konsistensi perilaku siswa. oleh karena itu, guru menyusun instrumen penilaian yang mampu merekam sikap siswa dalam situasi yang menantang, seperti saat menghadapi konflik dengan teman atau saat menggunakan fasilitas digital sekolah tanpa Sebagai evaluator, guru PAI menerapkan teknik penilaian berbasis observasi 360 derajat dan penilaian teman sejawat . eer-assessmen. Guru menciptakan "Logbook Karakter" yang melibatkan masukan dari guru mata pelajaran lain dan orang tua untuk melihat apakah adab yang diajarkan di kelas PAI juga dipraktikkan di rumah dan di mata pelajaran lain. Hal ini dilakukan untuk menciptakan konsistensi identitas siswa di semua ruang lingkup. Evaluasi ini tidak bertujuan untuk menghakimi, melainkan sebagai alat diagnosa bagi guru untuk mengetahui hambatan mental apa yang membuat siswa sulit menerapkan adab tertentu, sehingga guru dapat memberikan bimbingan personal . yang tepat. Selain itu, guru PAI bertindak sebagai evaluator yang reflektif dengan melibatkan siswa dalam proses penilaian mandiri . elf-assessmen. Melalui jurnal refleksi digital, siswa diminta untuk mengevaluasi jejak digital mereka sendiri: apakah komentar dan konten yang mereka bagikan sudah mencerminkan adab seorang muslim atau belum. Guru kemudian memberikan umpan balik . yang bersifat dialogis. Dengan cara ini, evaluasi berfungsi sebagai media edukasi yang menyadarkan siswa akan konsep Muraqabah . erasa diawasi Alla. , yang pada akhirnya membentuk mekanisme kontrol internal yang kuat. Peran ini menegaskan bahwa guru PAI adalah penjaga gawang identitas yang memastikan standar adab tetap terjaga sebagai ciri khas siswa di tengah badai disrupsi. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Konstruksi PAI Berbasis Adab Untuk Memperkuat Identitas Siswa Di Era Disrupsi Faktor-Faktor Penghambat Guru PAI dalam Konstruksi Adab dan Penguatan Identitas Pelaksanaan konstruksi PAI berbasis adab di era disrupsi tidak terlepas dari berbagai hambatan kompleks yang sering kali membatasi efektivitas guru PAI dalam membentuk identitas siswa yang kokoh. Salah satu faktor penghambat utama adalah dualitas identitas atau "kepribadian ganda" digital. guru sering kali kesulitan memverifikasi apakah adab yang ditunjukkan siswa di lingkungan sekolah secara luring . juga tercermin dalam aktivitas digital mereka. Fenomena "anomali karakter" ini menjadi tantangan besar, karena konstruksi adab yang dibangun dengan susah payah di kelas sering kali runtuh ketika siswa berada dalam anonimitas media sosial yang cenderung permisif terhadap perilaku tidak beradab . (Darajat, 1995. Jayanti, 2023. Yunus, 2018. Selanjutnya, derasnya arus informasi dan penetrasi budaya global menjadi kendala eksternal yang signifikan bagi guru PAI. Banyak guru merasa bahwa nilai-nilai adab yang diajarkan di madrasah harus berkompetisi dengan konten-konten viral yang justru mengagungkan ketidaksopanan demi popularitas . lout chasin. Hal ini diperparah dengan keterbatasan literasi digital sebagian pendidik, yang membuat proses pengawasan terhadap perilaku digital siswa menjadi kurang maksimal. Akibatnya, konstruksi adab terkadang hanya menyentuh permukaan atau bersifat formalistik di sekolah, tanpa mampu menjadi filter mental yang kuat ketika siswa berinteraksi dengan dunia luar yang disruptif. Faktor penghambat lainnya berasal dari ketidakselarasan antara ekosistem sekolah dengan lingkungan keluarga. Guru PAI sering menghadapi situasi dilematis di mana nilainilai adab, seperti tabayyun . dan tawadhu . endah hat. , yang dinilai tinggi di sekolah justru terlihat tidak relevan atau tidak dipraktikkan oleh orang tua di rumah. Ketidaksinkronan standar etika antara guru dan orang tua ini menciptakan kebingungan identitas dalam diri siswa. Tanpa dukungan penuh dari keluarga sebagai unit terkecil pendidikan, upaya guru untuk mengonstruksi adab akan menghadapi jalan terjal, di mana nilai-nilai Islam hanya dianggap sebagai materi ujian, bukan sebagai identitas diri yang mendarah daging(Astari et al. , 2014. Reza Aditya Ramadhani, 2. Keterbatasan instrumen penilaian karakter yang adaptif terhadap teknologi menjadi hambatan dari sisi metodologi. Instrumen evaluasi konvensional sering kali gagal merekam aspek-aspek halus dari degradasi adab di era disrupsi, seperti plagiarisme digital berbasis AI atau perundungan siber yang tersembunyi. Sebagian guru PAI mungkin masih merasa kesulitan dalam merancang indikator capaian adab yang mampu menjangkau perilaku siswa di ruang virtual. Tanpa adanya sistem pendukung teknis dan pelatihan khusus mengenai "Adab Digital", upaya guru dalam memperkuat identitas siswa akan tetap menghadapi tantangan besar, di mana angka capaian karakter di rapor sering kali gagal merefleksikan kualitas integritas dan adab siswa yang sesungguhnya di era modern. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Konstruksi Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis adab di Madrasah Ibtidaiyah merupakan strategi krusial dalam memperkuat identitas siswa di tengah terjangan era disrupsi. Konstruksi ini tidak hanya berdiri sebagai materi kurikulum, melainkan sebuah ekosistem nilai yang diintegrasikan secara sengaja melalui perencanaan pembelajaran yang adaptif. Guru PAI telah berhasil merekonstruksi paradigma pengajaran dari sekadar transfer pengetahuan kognitif menjadi internalisasi karakter digital yang santun, dengan menyisipkan indikator adab seperti Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Konstruksi PAI Berbasis Adab Untuk Memperkuat Identitas Siswa Di Era Disrupsi tabayyun, amanah, dan tawadhu ke dalam aktivitas harian siswa, baik di ruang kelas nyata maupun interaksi virtual. Peran guru sebagai motivator dan evaluator menjadi pilar utama keberhasilan konstruksi identitas ini. Sebagai motivator, guru mampu membangkitkan kebanggaan intrinsik siswa terhadap identitas kemuslimannya melalui pendekatan keteladanan (Uswah Hasana. , sehingga adab tidak lagi dirasakan sebagai beban aturan melainkan sebagai gaya hidup . ay of lif. Sementara itu, sebagai evaluator, guru telah mengupayakan penilaian holistik melalui instrumen autentik dan refleksi diri. Meski demikian, efektivitas penilaian ini masih menghadapi tantangan berat berupa fenomena "kepribadian ganda digital" dan kurangnya sinkronisasi nilai antara lingkungan sekolah dengan pola asuh di rumah yang terkadang permisif terhadap arus disrupsi. Akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa untuk memenangkan pertarungan identitas di era disrupsi. Madrasah Ibtidaiyah harus memperkokoh imunitas adab siswa. Faktor penghambat seperti derasnya budaya global dan keterbatasan instrumen penilaian berbasis teknologi harus diatasi dengan sinergi antara guru, orang tua, dan kebijakan sekolah yang mendukung "Literasi Adab Digital". Dengan konstruksi adab yang kokoh, siswa diharapkan tidak hanya menjadi subjek yang cakap secara teknologi, tetapi memiliki jangkar spiritual yang kuat sehingga identitas keislaman mereka tetap terjaga di tengah ketidakpastian zaman. REFERENSI