Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 IMPLEMENTASI TEORI KOMUNIKASI KONTEMPORER BRANDING BUSANA MUSLIM SEBAGAI JALAN SYIAR Implementation Of Contemporary Communication Theory Of Muslim Fashion Branding As A Way Of Syiar Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 Doktoral Ilmu Komunikasi. Universitas Islam Bandung. Indonesia Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Islam Bandung. Indonesia Email: 30080024004@unisba. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji implementasi teori komunikasi kontemporer dalam branding busana Muslim sebagai sarana syiar Islam. Di era digital, fashion Muslim tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan berbusana syar'i, tetapi juga berperan sebagai medium dakwah yang efektif. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif untuk mengeksplorasi bagaimana teori komunikasi kontemporer dapat diterapkan dalam strategi branding busana Muslim untuk memperkuat pesan-pesan dakwah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi teori komunikasi kontemporer dalam branding busana Muslim memiliki tiga dimensi utama: dimensi spiritual yang menekankan nilai-nilai Islam, dimensi sosial yang mempertimbangkan konteks budaya, dan dimensi komersial yang memperhatikan aspek bisnis. Integrasi ketiga dimensi ini melalui strategi komunikasi yang tepat menghasilkan branding yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan Islam sekaligus memenuhi tuntutan pasar. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam pengembangan strategi branding busana Muslim yang dapat mempertahankan esensi syiar Islam sambil beradaptasi dengan dinamika industri fashion global. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi para praktisi industri fashion Muslim dalam mengembangkan strategi komunikasi yang lebih efektif. Kata kunci: Teori Komunikasi Kontemporer. Branding. Busana Muslim. Syiar Islam. Dakwah Visual ABSTRACT This research examines the implementation of contemporary communication theory in branding Muslim fashion as a means of Islamic propagation. In the digital era. Muslim fashion not only serves to fulfill the needs of Shariacompliant clothing but also acts as an effective medium for da'wah. This study uses a qualitative approach with descriptive analysis methods to explore how contemporary communication theory can be applied in Muslim fashion branding strategies to strengthen da'wah messages. The research results show that the implementation of contemporary communication theory in Muslim fashion branding has three main dimensions: the spiritual dimension that emphasizes Islamic values, the social dimension that considers cultural context, and the commercial dimension that pays attention to business aspects. The integration of these three dimensions through appropriate communication strategies results in effective branding in conveying Islamic messages while also meeting market demands. This research provides theoretical and practical contributions to the development of Muslim fashion branding strategies that can maintain the essence of Islamic propagation while adapting to the dynamics of the global fashion industry. These findings can serve as a reference for practitioners in the Muslim fashion industry in developing more effective communication strategies. Keywords: Contemporary Communication Theory. Branding. Muslim Fashion. Islamic Propagation. Visual Da'wah PENDAHULUAN Di era digital yang semakin berkembang, industri busana muslim telah mengalami transformasi signifikan(Qibtiyah, 2. , tidak hanya sebagai pemenuhan syariat(Rohmawati, 2. , tetapi juga sebagai medium dakwah dan syiar Islam yang efektif(Damayanti, 2. Fenomena ini Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 menarik untuk dikaji dari perspektif teori komunikasi kontemporer, mengingat peran strategis busana muslim dalam membentuk persepsi dan pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai Islam(Salleh, 2. Perkembangan industri busana muslim di Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menunjukkan menggembirakan(Damayanti, 2. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat Muslim akan pentingnya berbusana yang sesuai syariat(Rohmawati, 2. , sekaligus keinginan untuk tampil modis dan Branding busana Muslim modern telah berhasil memadukan aspek religiusitas dengan tren busana global(Kadir, 2. , menciptakan paradigma baru dalam dakwah visual melalui fashion(Salleh, 2. Implementasi kontemporer dalam branding busana Muslim menjadi sangat relevan(Suganda & Kartiko, 2. , mengingat kompleksitas pesan yang ingin disampaikan(Qibtiyah, 2. Tidak hanya sebatas pada aspek estetika dan komersialisasi, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan sosial yang lebih dalam. Melalui pendekatan komunikasi yang tepat, branding busana Muslim dapat menjadi jembatan yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas(Nurdianik et al. , 2. Dalam konteks ini, perlu dipahami bahwa branding busana Muslim sebagai medium syiar memiliki karakteristik unik yang konvensional(Sarastuti, 2. Semakin populernya hijrah di Indonesia, terutama di kalangan selebriti dan publik figur, turut memengaruhi perkembangan mode muslim. Bisnis busana muslim menghadapi tantangan dan peluang karena tren ini. Para selebriti dan influencer (Shen & de la Garza, 2. yang berhijrah berfungsi sebagai role model dalam menyebarkan pesan-pesan tentang mode Islam dan menginspirasi generasi muda untuk mengenakan pakaian yang menarik tetapi tetap sesuai dengan syariat(Nurdianik et al. , 2. Pesan-pesan yang disampaikan harus mempertimbangkan aspek syariat, nilai-nilai budaya lokal, serta tuntutan pasar global(Don. Hal ini menciptakan tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan strategi komunikasi yang efektif(Zis et al. , 2. Branding dalam industri fashion muslim harus dikaitkan dengan masyarakat Indonesia(Gopee. Keanekaragaman budaya yang ada di Nusantara memberikan inspirasi yang kaya untuk desain busana muslim modern. Bisnis lokal mulai menggabungkan elemen tradisional dengan prinsip Islam, menciptakan identitas yang berbeda yang membedakan fashion muslim Indonesia di seluruh dunia(Fatharani & Wirasari, 2. Hal ini menambah nilai dan berbeda dalam pendekatan komunikasi merek busana muslim Indonesia. Studi tentang implementasi teori komunikasi kontemporer dalam branding busana Muslim ini menjadi penting untuk . Mengidentifikasi pola-pola komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan Islam melalui fashion, . Menganalisis peran media sosial dan platform digital dalam memperkuat branding busana Muslim, . Memahami interaksi antara nilai-nilai Islam, tren busana global, dan preferensi konsumen dan . Mengembangkan strategi branding yang dapat mempertahankan esensi syiar tanpa mengorbankan aspek komersial. Perkembangan pasar dan e-commerce juga memengaruhi distribusi dan promosi busana muslim. Platform digital tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk menjual barang, tetapi mereka juga berfungsi sebagai alat untuk membentuk komunitas dan menyebarkan nilai-nilai Islam melalui mode. Brand busana muslim harus memahami perilaku pelanggan di internet dan touchpoints untuk mendistribusikan pesan branding mereka. Indonesia dapat menjadi pusat mode muslim global. Pasar domestik yang besar, ketersediaan sumber daya, dan inovasi desainer lokal mendukung hal ini. Untuk mencapai posisi tersebut, bagaimanapun, strategi komunikasi yang tepat dan konsisten diperlukan untuk meningkatkan kesadaran di tingkat nasional dan internasional (Wahyudi. Untuk menempatkan Indonesia sebagai Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 kiblat fashion muslim di dunia dan memperluas syiar Islam melalui fashion, penerapan teori komunikasi modern dalam branding busana muslim merupakan langkah penting. Untuk meningkatkan pemahaman tentang branding busana muslim sebagai jalan syiar di era digital, webinar telah menjadi alat yang efektif. Para ilmuwan, pengusaha industri fashion muslim, dan akademisi dapat berbagi informasi dan pengalaman dengan audiens yang lebih luas melalui platform online, yang memungkinkan mereka untuk melakukannya Webinar memungkinkan orang berbicara satu sama lain secara langsung, menciptakan ruang diskusi yang dinamis tentang bagaimana nilai-nilai Islam dapat digunakan dalam strategi branding Webinar menyajikan materi yang luas tentang teori komunikasi modern yang dasar dan bagaimana mereka diterapkan dalam industri fashion muslim. Para pembicara dapat menunjukkan studi kasus dari dunia nyata, memberikan contoh kampanye branding yang berhasil, dan menjelaskan teknik komunikasi yang efektif untuk menyebarkan pesan syiar melalui fashion. Selain itu, peserta belajar tentang cara mengoptimalkan strategi branding dengan berbagai platform online. Webinar juga membantu pelaku industri fashion muslim berkolaborasi dan berhubungan satu sama lain. Sesi tanya jawab dan diskusi memungkinkan peserta untuk berhubungan dengan praktisi lain, menemukan peluang untuk bekerja sama, dan mendapatkan pengetahuan bermanfaat dari pengalaman sukses merek. Hal ini membantu industri mode muslim berkembang lebih cepat sekaligus memperluas jangkauan syiar Islam melalui mode. Selain itu, para pelaku industri fashion muslim dapat menggunakan materi dan rekaman webinar sebagai sumber referensi Dengan dokumentasi digital dari webinar, peserta dapat mengakses kembali informasi penting dan membagikannya kepada tim mereka. Hal ini memiliki efek jangka panjang pada pengembangan strategi branding busana muslim yang memiliki nilai dakwah yang kuat dan berfokus pada bisnis. Webinar Implementasi Teori Komunikasi Kontemporer dalam Branding Busana Muslim sebagai Jalan Syiar bertujuan untuk memberikan wawasan komprehensif kepada para peserta mengenai penerapan teori komunikasi modern dalam pengembangan dan pengelolaan brand busana Muslim(Regina Deti & Ramayani Yusuf, 2. Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan kajian teoretis komunikasi kontemporer dengan kebutuhan praktis industri fashion Muslim, serta mengeksplorasi bagaimana keduanya dapat diintegrasikan secara efektif untuk memperkuat peran fashion sebagai medium dakwah di era digital. Melalui webinar ini, peserta akan dibekali dengan pemahaman mendalam tentang strategi branding yang memadukan aspek bisnis dengan nilai-nilai Islam, teknik pengembangan konten digital yang efektif, serta metode pengelolaan brand yang sesuai dengan prinsip Program ini juga bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pengalaman dan praktik terbaik antar pelaku industri fashion Muslim, memberikan inspirasi untuk pengembangan brand busana Muslim yang inovatif namun tetap sesuai dengan nilai-nilai Islam. Lebih jauh, webinar ini dirancang untuk memperkuat kesadaran tentang pentingnya aspek syiar dalam pengembangan brand busana Muslim, mengembangkan strategi komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui fashion, serta membangun komunitas yang peduli terhadap perkembangan fashion Muslim sebagai medium syiar. Diharapkan setelah mengikuti webinar ini, peserta tidak hanya mampu mengembangkan strategi branding yang efektif, tetapi juga dapat berkontribusi dalam memperkuat peran fashion Muslim sebagai sarana dakwah di masyarakat. KAJIAN PUSTAKA TEORI KOMUNIKASI KONTEMPORER Teori Komunikasi Kontemporer komunikasi klasik yang beradaptasi dengan perubahan zaman dan teknologi. Di era digital ini, komunikasi tidak lagi terbatas pada Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 bertransformasi menjadi berbagai bentuk komunikasi yang dimediasi oleh teknologi. Beberapa tokoh penting seperti Mark Poster dengan Teori Media Baru dan Manuel Castells dengan Network Society Theory telah memberikan kontribusi signifikan dalam memahami dinamika komunikasi kontemporer. Dalam perkembangannya, teori komunikasi kontemporer sangat dipengaruhi oleh kehadiran internet dan media digital. Computer Mediated Communication (CMC) menjadi konsep penting yang menjelaskan bagaimana manusia berkomunikasi melalui perantara teknologi. Marshall McLuhan Teori Determinisme Teknologi juga memberikan perspektif menarik tentang bagaimana teknologi media membentuk cara manusia berkomunikasi dan berpikir, yang tercermin dalam konsepnya yang terkenal "Global Village" dan "Medium is the Message"(Sutra Disemadi, 2. Fenomena konvergensi media dan masyarakat informasi menjadi fokus utama dalam teori komunikasi kontemporer. Teori Konvergensi Media menjelaskan bagaimana berbagai platform media menyatu dalam era digital, mengubah pola konsumsi dan produksi Sementara itu. Teori Masyarakat Informasi transformasi masyarakat terjadi ketika informasi menjadi komoditas utama dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Kedua teori ini memberikan pemahaman mendalam tentang perubahan fundamental dalam cara masyarakat berkomunikasi dan berinteraksi. Aspek kritis dalam teori komunikasi kontemporer juga mendapat perhatian khusus, terutama melalui Critical Theory of Technology yang menganalisis dampak teknologi komunikasi terhadap kekuasaan dan ketimpangan sosial. Teori Uses and Gratification (Septia & Irma, 2. yang telah diadaptasi untuk era digital membantu memahami bagaimana audiens secara aktif memilih dan menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka. Teori Difusi Inovasi dalam konteks digital juga memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat mengadopsi dan beradaptasi dengan teknologi komunikasi baru. Semua teori ini terus berkembang dan beradaptasi seiring dengan perubahan teknologi dan pola komunikasi masyarakat. BRANDING Teori branding merupakan konsep yang menjelaskan bagaimana sebuah merek dapat dibangun, dikelola, dan dikembangkan untuk menciptakan nilai tambah bagi produk atau jasa(Abdul Saboor Khan. Haroon Bakari. Muhammad Hanif & A, 2. David Aaker, salah satu tokoh penting dalam teori branding, memperkenalkan konsep Brand Equity yang terdiri dari lima komponen utama: kesadaran merek . rand awarenes. , asosiasi merek . erceived qualit. , loyalitas merek . rand loyalt. , dan aset-aset merek lainnya. Teori ini menjadi fondasi penting dalam memahami bagaimana merek dapat menciptakan nilai bagi perusahaan dan konsumen(Mutmainah & Romadhon, 2. Kevin Lane Keller mengembangkan Customer-Based Brand Equity (CBBE) Model yang menjelaskan proses pembangunan merek dari perspektif konsumen. Model ini menggambarkan bagaimana merek harus membangun resonansi dengan konsumen melalui empat tahap: identitas merek . rand identit. (Fatmah Cholid Bawazir, 2. , makna merek . rand meanin. , respon merek . rand response. , dan hubungan merek . rand Teori pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara merek dan konsumen untuk menciptakan loyalitas jangka panjang(Kim. Jean-Noyl Kapferer memperkenalkan Brand Identity Prism yang terdiri dari enam . , . , budaya . , hubungan . , refleksi . , dan citra diri . elf-imag. Model ini memberikan kerangka komprehensif untuk memahami bagaimana identitas merek terbentuk dan bagaimana merek berkomunikasi dengan Sementara itu. Douglas B. Holt mengembangkan Cultural Branding Theory yang menjelaskan bagaimana merek dapat Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 menjadi ikon budaya dengan menangkap dan memanfaatkan kontradiksi sosial dan budaya yang ada di masyarakat. Perkembangan era digital membawa dimensi baru dalam teori branding, seperti yang dikemukakan oleh Henry Jenkins melalui konsep Transmedia Branding. Teori ini mengadaptasi strategi komunikasi mereka di berbagai platform media untuk menciptakan pengalaman merek yang kohesif dan Martin Lindstrom memberikan kontribusi penting melalui Sensory Branding Theory yang menekankan pentingnya melibatkan kelima indera konsumen dalam Teori-teori ini terus berkembang seiring dengan perubahan perilaku konsumen dan teknologi, memberikan panduan bagi praktisi pemasaran dalam membangun dan mengelola merek di era kontemporer. SYIAR AGAMA Syiar Islam merupakan konsep fundamental dalam penyebaran ajaran Islam yang memiliki dasar kuat dari Al-Quran dan Hadits. Secara etimologi, syiar berasal dari kata "syu'ur" yang berarti perasaan, sedangkan secara terminologi syiar berarti pemberitahuan atau penyiaran tentang sesuatu(Wanda Diah Puspitasari, 2. Dalam konteks Islam, syiar memperkenalkan, dan mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Para ulama seperti Imam Al-Ghazali menekankan bahwa syiar Islam harus dilakukan dengan hikmah . , mau'idzah hasanah . asihat yang bai. , dan mujadalah . yang baik, sesuai dengan QS. An-Nahl ayat 125. Teori syiar Islam modern dikembangkan oleh beberapa pemikir kontemporer seperti Yusuf Al-Qaradhawi yang memperkenalkan konsep "Fiqh Ad-Da'wah" atau pemahaman tentang metodologi dakwah. Beliau menekankan pentingnya memahami konteks sosial-budaya masyarakat sasaran dakwah dan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan Hassan Al-Banna juga memberikan kontribusi penting melalui konsep "Usul Al- 'Isyrin" . Prinsip Pemahama. yang menjadi panduan dalam aktivitas syiar Islam, termasuk pemahaman komprehensif tentang Islam, pentingnya gradualitas dalam dakwah, dan penekanan pada aspek praktis dalam beragama. Muhammad Al-Ghazali mengembangkan teori tentang "Al-Da'wah AlIslamiyyah" yang menekankan pentingnya integrasi antara aspek spiritual dan sosial dalam syiar Islam. Beliau berpendapat bahwa syiar Islam harus mencakup pembinaan individu . arbiyah fardiya. , pembinaan keluarga . arbiyah usriya. , dan pembinaan masyarakat . arbiyah ijtima'iya. Sementara itu. Malik Bennabi memperkenalkan konsep "Al-Zahirah Al-Quraniyyah" yang menjelaskan bagaimana Al-Quran dapat menjadi sumber inspirasi dan pedoman dalam mengembangkan metode syiar yang efektif. Dalam konteks modern, teori syiar Islam telah berkembang untuk mengakomodasi perkembangan teknologi dan media baru. Pemikir kontemporer seperti Hamid Mowlana "Islamic Communication" prinsip-prinsip komunikasi Islam dengan media Teori ini menekankan pentingnya menggunakan berbagai platform media untuk menyebarkan pesan-pesan Islam, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai etika dan moral Islam. Para ulama kontemporer juga wasathiyah . dalam syiar Islam, yang menyeimbangkan antara keteguhan prinsip dengan fleksibilitas metode, serta antara pemeliharaan tradisi dengan keterbukaan terhadap perkembangan zaman. WEBINAR Teori webinar berakar pada konsep pembelajaran jarak jauh . istance learnin. dan computer-mediated communication (CMC) yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan dan komunikasi. Michael Moore, dengan Theory of Transactional Distance, menjelaskan bagaimana interaksi dalam pembelajaran jarak jauh, termasuk webinar, dipengaruhi oleh tiga elemen utama: struktur program, dialog antara pengajar dan peserta, serta otonomi peserta. Teori ini menjadi dasar penting dalam Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 memahami bagaimana webinar dapat dirancang pembelajaran dan interaksi peserta. Dalam konteks teknologi pembelajaran. Ruth Clark Richard Mayer Multimedia Learning Theory yang sangat relevan dengan penyelenggaraan webinar. Teori ini menjelaskan bagaimana otak manusia memproses informasi melalui saluran visual dan auditori secara bersamaan, serta memberikan prinsip-prinsip desain untuk presentasi multimedia yang efektif. Mereka menekankan pentingnya menghindari cognitive overload dengan menerapkan prinsip-prinsip seperti coherence . , signaling . , dan segmenting . embagian mater. dalam penyajian konten webinar. Teori Social Presence dikembangkan oleh Short. Williams, dan Christie memberikan pemahaman tentang bagaimana menciptakan rasa kehadiran sosial dalam lingkungan virtual seperti webinar. Teori ini menekankan pentingnya membangun koneksi emosional dan psikologis antara presenter dan peserta, meskipun mereka terpisah secara fisik. Garrison. Anderson, dan Archer kemudian mengembangkan Community of Inquiry Framework yang mengidentifikasi tiga elemen penting dalam pembelajaran online: kehadiran sosial . ocial presenc. , kehadiran kognitif . ognitive presenc. , dan kehadiran pengajaran . eaching presenc. Perkembangan terbaru dalam teori webinar mencakup konsep Engagement Theory yang dikemukakan oleh Kearsley dan Shneiderman. Teori ini menekankan tiga prinsip utama dalam pembelajaran online: relate . , . , . Teori ini diperkuat oleh penelitian Tony Bates tentang SECTIONS Framework (Students. Ease of use. Costs. Teaching Interaction. Organizational issues. Networking. Security and privac. yang memberikan kerangka komprehensif untuk mengevaluasi dan pembelajaran termasuk webinar. Para ahli juga engagement dan active learning dalam webinar, yang didukung oleh berbagai fitur interaktif seperti polling, breakout rooms, dan chat realtime. METODE PENELITIAN Penelitian tentang Implementasi Teori Komunikasi Kontemporer dalam Branding Busana Muslim sebagai Jalan Syiar melalui webinar ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini mengeksplorasi dan memahami secara mendalam fenomena komunikasi dan branding dalam konteks fashion Muslim, serta bagaimana webinar dapat menjadi medium efektif dalam menyampaikan pengetahuan Implementasi teori komunikasi kontemporer ini dilakukan melalui webinar yang dilaksanakan tagal 24 November 2024 sebagai pukul 09. 30 Ae 12. Penyelenggaraan Implementasi Teori Komunikasi Kontemporer dalam Branding Busana Muslim sebagai Jalan Syiar dalam format webinar dipilih karena beberapa pertimbangan strategis. Format ini memungkinkan jangkauan peserta yang lebih luas tanpa batasan geografis, sehingga dapat menghadirkan pelaku industri fashion Muslim dari berbagai daerah sekaligus menghemat biaya dan waktu dibandingkan dengan pertemuan tatap muka. Webinar juga sejalan dengan karakteristik industri fashion Muslim penggunaan tools digital dalam branding, serta memberikan kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi secara real-time melalui fitur chat dan tanya jawab. Lebih jauh, format webinar memfasilitasi dokumentasi dan rekaman yang dapat diakses kembali oleh peserta untuk mencerminkan implementasi praktis dari teori komunikasi kontemporer yang dibahas dalam program ini, khususnya dalam konteks digitalisasi dan adaptasi terhadap perubahan pola komunikasi di era modern. PEMBAHASAN Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 Kegiatan webinar dengan mengusung Branding Busana Muslim sebagai Jalan Syiar mengkomunikasikan mengenai salah satu cara untuk mengedukasi mengenai branding di mengungkap dinamika interaksi antara pembicara dan peserta webinar. Proses pengumpulan data ini memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam bagaimana peserta menyerap dan menginterpretasikan materi yang disampaikan, serta bagaimana mereka berencana mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam pengembangan brand busana Muslim mereka. Temuan ini secara langsung mendukung tujuan penelitian untuk memberdayakan pelaku industri fashion Muslim dalam mengembangkan strategi branding yang efektif. Gambar 2 : Kegiatan Webinar berlangsung Sumber : Penulis , 2024 Gambar 1 : Poster Kegiatan Webinar Sumber : Penulis 2024 Webinar Implementasi Teori Komunikasi Kontemporer dalam Branding Busana Muslim sebagai Jalan Syiar merupakan manifestasi dari upaya mengintegrasikan kajian akademis dengan kebutuhan praktis industri fashion Muslim. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini, dapat diidentifikasi bahwa format webinar memberikan platform yang ideal untuk mengeksplorasi dan memahami kompleksitas implementasi teori komunikasi kontemporer dalam konteks branding busana Muslim. Pemilihan format ini sejalan dengan tujuan penelitian untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang strategi branding yang memadukan aspek bisnis dengan nilai-nilai Islam. Metodologi penelitian yang diterapkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen berhasil Pada pemaparan nara sumber 1 Teori kontemporer mencakup berbagai pendekatan yang menekankan pada kompleksitas dan dinamika komunikasi di era digital. Dalam konteks syiar Islam, teori ini menjadi sangat relevan karena memungkinkan para da'i untuk memanfaatkan berbagai platform dan media baru untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Teori ini juga menekankan pada pentingnya memahami audiens yang beragam dengan latar belakang budaya, sosial, dan keyakinan yang berbeda-beda. Dengan memahami audiens, para da'i dapat menyesuaikan pesan dan metode komunikasi mereka agar lebih efektif dan Salah satu aspek penting dari teori komunikasi kontemporer adalah penekanan pada penggunaan media digital. Internet, media sosial, dan platform digital lainnya telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan Para da'i dapat memanfaatkan media digital untuk menyebarkan ajaran Islam Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 secara luas, menjangkau audiens yang lebih besar, dan membangun komunitas online. Media digital juga memungkinkan interaksi dua arah antara da'i dan audiens, sehingga memungkinkan dialog dan diskusi yang lebih mendalam tentang agama. Meskipun teori komunikasi kontemporer menawarkan banyak peluang untuk syiar Islam, ada juga tantangan yang perlu dihadapi. Salah satu tantangan utama adalah penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan tentang Islam di media Para da'i harus mampu memverifikasi informasi dan melawan disinformasi yang dapat merusak citra Islam. Selain itu, mereka juga harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial, karena platform ini dapat digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian atau propaganda yang merugikan. Teori komunikasi kontemporer juga menekankan pada pentingnya komunikasi multikultural dan inklusif. Dalam masyarakat yang semakin beragam, para da'i harus mampu berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya dan agama. Mereka harus menghindari penggunaan bahasa atau simbol yang mungkin dianggap ofensif atau diskriminatif oleh kelompok tertentu. Sebaliknya, mereka harus berusaha untuk menyampaikan pesan-pesan Islam dengan cara mempromosikan dialog antaragama. Analisis interaktif yang dilakukan terhadap data penelitian menunjukkan bahwa format webinar berhasil menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif untuk transfer pengetahuan dan pertukaran pengalaman. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis tentang komunikasi kontemporer, tetapi juga dapat langsung melihat implementasinya melalui demonstrasi digital yang disajikan selama webinar. Hal ini memperkuat pengembangan brand busana Muslim yang sesuai dengan prinsip syariah. Menurut Prof Neni Yulianti implementasi teori komunikasi kontemporer di masyarakat modern telah mengubah secara fundamental cara manusia berinteraksi dan Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat bagaimana teori Computer Mediated Communication (CMC) terwujud melalui penggunaan platform media sosial seperti WhatsApp. Instagram, dan Twitter yang telah menjadi sarana utama komunikasi. Masyarakat tidak lagi terbatas oleh jarak dan waktu dalam berkomunikasi, menciptakan apa yang disebut Marshall McLuhan sebagai "Global Village" dimana informasi dapat diakses dan dibagikan secara instan ke seluruh penjuru dunia. Teori Network Society yang Manuel Castells termanifestasi dalam bentuk komunitas virtual dan jaringan profesional online. Platform seperti LinkedIn, komunitas gaming online, dan grup diskusi profesional di berbagai media sosial menunjukkan bagaimana masyarakat modern terhubung dalam jaringan informasi yang kompleks. Fenomena ini juga mempengaruhi cara organisasi dan bisnis beroperasi, dengan banyak perusahaan yang mengadopsi model kerja remote dan hybrid, memanfaatkan teknologi komunikasi digital untuk koordinasi dan kolaborasi. Konvergensi media telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat sesuai dengan prediksi Teori Konvergensi Media. Saat ini, masyarakat dapat mengakses berita, hiburan, dan informasi melalui berbagai platform yang terintegrasi. Misalnya, seseorang dapat menonton acara TV melalui smartphone, membaca berita dari media sosial, dan berpartisipasi dalam diskusi publik melalui berbagai platform digital secara bersamaan. Hal ini juga berdampak pada industri media yang harus beradaptasi dengan menghadirkan konten multi-platform untuk memenuhi kebutuhan Implementasi Critical Theory of Technology terlihat dalam meningkatnya kesadaran masyarakat akan isu privasi data dan surveillance digital. Masyarakat mulai lebih keamanan data pribadi, dan menuntut transparansi dari platform digital yang mereka Teori Uses and Gratification juga terbukti relevan ketika melihat bagaimana masyarakat secara selektif memilih platform Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 dan konten yang sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti penggunaan TikTok untuk LinkedIn profesional, atau Zoom untuk pembelajaran jarak jauh. Semua ini menunjukkan bagaimana teori komunikasi kontemporer tidak hanya menjadi konsep akademis, tetapi benar-benar mewujud dalam praktik komunikasi sehari-hari masyarakat modern. Proses triangulasi data yang dilakukan dalam penelitian ini mengonfirmasi bahwa pembentukan komunitas pembelajaran yang peduli terhadap perkembangan fashion Muslim sebagai medium syiar. Interaksi yang terjadi selama webinar, baik antara pembicara dengan peserta maupun antar peserta, mencerminkan membangun jejaring komunikasi yang efektif di antara pelaku industri fashion Muslim. Temuan ini diperkuat melalui proses member checking yang melibatkan konfirmasi langsung dengan para informan kunci. Lebih jauh, hasil analisis metodologi penelitian kualitatif deskriptif dengan format webinar telah menciptakan model pembelajaran yang efektif untuk memperkuat peran fashion sebagai medium dakwah di era digital. Pendekatan ini tidak hanya memungkinkan pencapaian tujuan penelitian dalam konteks akademis, tetapi juga pengembangan industri fashion Muslim. Pada kegiatan ini dapat dilihat implementasi teori komunikasi kontemporer dalam branding busana Muslim memiliki tiga dimensi utama: dimensi spiritual yang menekankan nilai-nilai Islam, dimensi sosial yang mempertimbangkan konteks budaya, dan dimensi komersial yang memperhatikan aspek bisnis. Para peserta webinar mendapatkan pemahaman yang lebih kontemporer dalam strategi branding mereka, sekaligus mempertahankan esensi syiar Islam dalam setiap aspek pengembangan brand KESIMPULAN Berdasarkan disimpulkan bahwa webinar Implementasi Teori Komunikasi Kontemporer dalam Branding Busana Muslim sebagai Jalan Syiar telah berhasil mencapai tujuan dari Keberhasilan ini terlihat dari terciptanya pemahaman komprehensif di kalangan peserta tentang integrasi teori komunikasi kontemporer dalam pengembangan brand busana Muslim, yang dibuktikan melalui hasil observasi dan feedback peserta selama Format webinar terbukti efektif dalam memfasilitasi transfer pengetahuan dan pembentukan jejaring komunikasi antar pelaku industri fashion Muslim, sekaligus memberikan memadukan aspek bisnis dengan nilai-nilai Islam. Temuan ini dikonfirmasi melalui proses triangulasi dan member checking, yang menunjukkan bahwa peserta tidak hanya memperoleh wawasan teoretis, tetapi juga mengembangkan brand busana Muslim yang dapat berfungsi sebagai medium syiar yang efektif di era digital. SARAN Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat diusulkan untuk pengembangan program ke depan meliputi: . Perlunya penyelenggaraan webinar lanjutan dengan fokus pada aspek teknis implementasi branding digital, . Pembentukan komunitas online untuk memfasilitasi diskusi berkelanjutan antar peserta, . Pengembangan modul praktik yang lebih terstruktur untuk pendampingan peserta pasca webinar, . Kolaborasi dengan platform e-commerce untuk memberikan pengalaman praktis dalam implementasi strategi branding, dan . Penerapan sistem monitoring dan evaluasi berkala untuk mengukur efektivitas implementasi materi webinar oleh peserta dalam pengembangan brand mereka. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan pihak Islamic Page 1-11 Vol. 3 No. 2 Maret 2025 Hanni Haerani 1Neni Yulianita2 Fashion Institute yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini. Kepada nara sumber yang telah berbaik hati meluangkan waktunya untuk dapat mengisi webinar ini. DAFTAR PUSTAKA