SUBALTERNITAS DAN REPRESENTASI GANDA DALAM CERITA PENDEK AuKALABAKAAy KARYA IKSAKA BANU SUBALTERNITY AND DOUBLE REPRESENTATION ON IKSAKA BANUAoS SHORT STORY AuKALABAKAAy Yuniardi Fadilah Pascasarjana Ilmu Sastra. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada Jalan Sosio Humaniora. Bulaksumur. Sleman, 55281 Pos-el:fadilahdidit@gmail. (Makalah diterima tanggal 24 April 2020AiDisetujui tanggal 30 November 2. Abstrak: Dalam cerpen AuKalabakaAy yang berkisah tentang periode kolonial, permasalahan tentang penjajah dan yang terjajah selalu melibatkan pula permasalahan dikotomi BaratTimur. Cerpen ini juga mempersoalkan tentang relasi kuasa, identitas, serta ruang. Terkait relasi kuasa antara penjajah dengan yang terjajah tersebut, kemudian, memunculkan peran antara yang dominan dan subaltern. Dalam hal ini, yang dominan tentu merupakan penjajah dan subaltern adalah pribumi yang terjajah. Persoalan seperti ini di dalam cerpen membuat penelitian ini menggunakan pandangan Gayatri Spivak tentang subalternitas dan Oleh karena itu, penelitian berusaha menjelaskan posisi subaltern yang dikonstruksikan oleh struktur cerpen serta peran representasi sebagai bentuk pelanggengan Di dalam cerpen AuKalabakaAy, subalternitas tercipta karena posisi dominan tokoh penjajah terhadap warga pribumi. Cara pandang Barat ini kemudian selalu memandang rendah Timur. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya representasirepresentasi yang mencoba mengisi posisitokoh Kalabaka serta masyarakat Banda oleh tokoh Belanda di dalam cerita. Katakunci: representasi, subaltern, pasca-kolonial, cerpen Abstract: In the short story titled "Kalabaka" which revolves around the colonial period, the problem of the colonizers and the colonized always involves the problem of the EastWest dichotomy. This short story also concerns about power relations, identity, and space. Related to the power relations between the colonizers and the colonized, then, the role of dominant and subalterns emerged. In this case, the dominant one is certainly the colonialist, and subaltern are the colonized indigenous people. These issues make this research choose to use Gayatri Spivak's view of subalternity and representation. Therefore, the research seeks to explain the subaltern position constructed by the structure of the short story and the role of representation as a form of the perpetuation of In the short story "Kalabaka", subalternity is created because of the dominant position of the colonialist leader over the indigenous people. This Western perspective then always looks down on the East. This then led to the emergence of representations that tried to fill the position of Kalabaka figures and the Banda community by Dutch figures in the story. Keywords: representation, subaltern, post-colonial, short story JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 Iksaka Banu. Mendapati bahwa cerita- PENDAHULUAN pembicaraan terkait karya sastra dengan tema kolonial di Indonesia cukup Pramoedya Ananta Toer. Dengan tetralogi Buru-nya, nama Pramoedya seolah identik dengan karya sastra Akan tetapi. Pramoedya telah tidak lagi Hal ini kemudian mengangkat satu nama, yang sebenarnya tidaklah Iksaka Banu mempertahankan hal itu pada beberapa karyanya kemudian. Salah bertemakan sejarah kolonial berjudul Teh dan Pengkhianat terbit di tahun 2019. Sebagaimana banyak cerita dengan tema sejarah kolonial, kisah-kisahnya tidak lepas dari interaksi langsung ataupun tidak langsung antara penjajah atau penguasa kolonial dengan yang Konotasi negatif kolonial timbul baru, yaitu Iksaka Banu. Nama Iksaka Banu dalam dunia penulisan cerita dapat disebut tidaklah baru karena sedari kecil, dalam periode 1970-an, beberapa karyanya dimuat dalam beberapa majalah serta rubrik untuk anak-anak. Akan tetapi, dalam dunia sastra. Iksaka Banu kembali memulai kepenulisannya pada medio 2000-an. Hal ini lantas diganjar dengan terpilihnya dua judul cerpennya sebagai bagian dari 20 cerpen terbaik Indonesia versi salah satu institusi penghargaan karya sastra. Kemudian,salah satu buku Semua Hindia mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2014. Hal ini menjadi titik mula karir kepenulisan mendapatkan tempat dan perhatian, dengan tema kolonial meski beberapa karya yang lain tidak bertema demikian. sesudah terjadi interaksi yang tidak seimbang antara penduduk pribumi yang dikuasai dengan penduduk pendatang sebagai penguasa (Ratna, 2011, hlm. Hal-hal inilah yang kemudian pascakolonial terhadap karya sastra. Foulcher dan Day . kemudian merumuskan bahwa pascakolonialisme pengkajian-pengkajian adalah suatu strategi kritik yang ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jejak-jejak kolonialisme dalam teks-teks sastra maupun kritik, serta mengevaluasi sifat dan arti penting efek-efek tekstual dari jejak-jejak itu . Hal yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. oleh Gandhi . 8, hlm. seperti yang hadir kemudian menciptakan mitos dan stereotip tentang Timur AuPascakolonialisme dapat dilihat Pascakolonialisme adalah proyek disiplin yang ditujukan sebagai tugas akademis mengingat dan menginterogasi Proses kembali pada peristiwa kolonial antagonisme yang timbal balik dan hasrat antara penjajah dan Dan hubungan yang bermasalah dan meresahkan inilah kita bisa mulai melihat bentuk pra-histori yang dikontraskan dengan Barat oleh Barat itu Konstruksi Timur dibangun oleh berbagai bentuk narasi, teks, dan dikuatkan oleh lembaga, tradisi, dan praktik (Said, 1979, hlm. 5--. Dari pemikiran Said tersebut, simpulan yang muncul adalah adanya oposisi biner Barat-Timur dengan penjajah-terjajah sebagai pusat perhatiannya dan sifat dikotomi tersebut telah terkontruksi demikian adanya. Keberadaan mitos dan stereotip ini kemudian tidak hanya melekat pada pandangan Barat tentang Timur tetapi juga, dewasa ini, pada Timur tentang Barat. Hal ini terjadi sebagai bentuk trauma koloni yang terjajah terhadap Ay mitos yang beredar terkait penjajahnya. Akan tetapi. Said . , sebelum itu, membangun konsep dasar tentang yang lalu menggugat wacana Timur tersebut sebagai suatu mempunyai landasan ideologis dan kepentingan-kepentingan Dengan adanya dukungan dari tradisi. Pembicaraan bentuk-bentuk demikian coba ditulis oleh Iksaka Banu dalam cerpen-cerpennya. Sebagai sebuah periode yang seringkali ditolak menjadi bagian dari sejarah bangsa. Iksaka Banu bahwa masa kolonial termasuk pada historiografi bangsa Indonesia saat ini. Oleh karena itu. Iksaka Banu tidak lantas modus penyebaran pengetahuan, wacana JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 menawarkan cerita sejarah yang hitam- mengidentifikasi diri. Hal ini disebutkan Meskipun oleh Bertens . bahwa dalam konteks produksi kolonial, subaltern dikotomi Barat-Timur dan penjajah- tidak memiliki sejarah dan merupakan terjajah adalah hal yang akan ada dalam kelompok yang cenderung bungkam, cerita-cerita kolonial. Dengan demikian, relasi Barat dengan Timur atau penguasa mengartikulasikan diri . Oleh representasi-representasi menganggap dirinya mewakili para suara yang bungkam tersebut. Dalam cerpen identitas, ataupun hierarki. Salah satu cerpen Iksaka Banu Kalabaka ini, representasi-representasi Kalabaka tersebut menghasilkan ambiguitas terkait posisi subaltern karena muncul asumsi- identitas, serta kuasa dalam masa asumsi terkait subaltern yang saling kolonial di suatu peristiwa. Cerpen ini kontradiktif antar representasi. Di luar dominan yang dimiliki oleh tokoh dominan, dengan stereotip yang hadir Belanda saat ini serta representasi yang ada dalam pribumi sebagai individu atau kelompok. Selanjutnya, permasalahan identitas yang sedari awal, sebagaimana bentuk cerita dianggap benar oleh kolonial atau tema kolonial, sudah terbangun tanpa kepadaapa yang memang merupakan adanya konstruksi tentang awalan atau kebenaran menurut logika cerita dalam proses hal tersebut terjadi di dalam cerita cerpen Kalabaka. membentuk penggolongan antara yang Permasalahan muncul adalah sikap atau pandangan dominan dan subaltern. Sejalan dengan munculnya oposisi mendua pengarang sebagai bagian dari antara dominan dan subaltern, hal ini negeri yang pernah terjajah terhadap pihak penjajah, yang dalam hal ini adalah subaltern karena posisi subaltern yang Belanda. Akan tetapi, permasalahan ini coba untuk tidak ikut dibahas dalam Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. tertentu dalam lingkup militer. Kata ini digunakan Gramsci dengan segala fenomena di dalamnya. karena adanya penyensoran: dia Dengan demikian, penelitian ini berusaha menyebutnya bentuk AumonismeAy untuk menjelaskan bagaimana posisi Marxisme, subaltern dikonstruksikan oleh struktur menyebut proletarian sebagai dalam cerpen. Selain itu, penelitian ini AusubalternAy. juga mencoba menjabarkan representasi digunakan di dalam paksaan, subaltern yang hadir di dalam cerita telah bertransformasi menjadi sebuah deskripsi tentang segala Kata sesuatu yang tidak termasuk dalam analisis kelas yang ketat. Saya menyukainya, karena kata LANDASAN TEORI tersebut tidak memiliki kekakuan Istilah subaltern yang digunakan Ay oleh Spivak banyak dipengaruhi oleh Sebelumnya, pandangan, pemikir Marxis asal Italia, berjudul Prison Notebook. Antonio Subaltern. Dalam pendahuluannya. Guha Gramsci memakai istilah AosubalternAo . menyebut bahwa istilah subaltern secara bergantian dengan AosubordinatAo yang digunakan berdasar pada pengertian Kelompok Antonio Gramsci. Dalam bukunya yang AoinstrumentalAo Concise Kajian Oxford mendeskripsikan Aokelompok atau kelas Dictionary, yaitu. Aodari tingkat yang lebih non-hegemonikAo (Morton, 2008, hlm. inferiorAo Pemakaian istilah ini sedikit menambahkan bahwa istilah tersebut digunakan sebagai nama bagi atribut untuk satu umum subordinasi dalam masyarakat alasan, yaitu bahwa kata tersebut bersifat Asia Selatan yang terekspresikan dalam Penjabaran terkait hal ini istilah kelas, kasta, umur, gender dan Spivak . 0, hlm. menuliskannya kantor atau dengan cara yang lain. Lebih sebagai berikut. lanjut,istilah subordinasi tidak dapat Spivak AuAoSubalternAo sebuah deskripsi tentang pangkat . Guha. dipahami kecuali sebagai suatu istilah konstitutif dalam hubungan biner di JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 Sebagaimana diketahui, konteks dominan, baginya Aokelompok subaltern selalu tunduk kepada aktivitas kelompok yang berkuasa bahkan ketika mereka eksploitatif di dalam kehidupan sosial memberontak dan bangkitAo(Guha, 1982. Dunia Ketiga dengan jejak-jejak kolonial Dalam hal ini, kelompok bangsa penjajahnya. Selain itu, fokus dominan yang dimaksud adalah para elit yang terbentuk oleh tradisi, baik itu elit- pertanyaan seputar pembagian kerja elit kolonial, elit nasional atau borjuis. Dengan formulasinya tentang subaltern. Tidak kolonial, subaltern dapat dipandang hanya itu. Spivak mengkaji subalternitas bukan hanya sebagai objek penelitian semata tetapi dengan tujuan agar posisi Spivak kelompok pribumi pada umumnya di luar statusnya sebagai elit sebagai hasil pemikiran kolonial dan orientalisme kesadaran dari mereka dan tentunya dari tentang Barat dan Timur. elit penguasa. Hal ini seperti dituliskan Pada penjelasannya yang lain, oleh Landry dan Maclean (Spivak, 1996. Guha. menyebut bahwa istilah 5--. sebagai bagian pengantar buku The Spivak Reader. sebuah sinonim . Pada kajiannya. AuSeperti yang Spivak jelaskan Kelompok Kajian Subaltern ini ingin menekankan bahwa konsep subaltern Talk", ketika dia mengklaim menandai perbedaan demografis antara bahwa subaltern "tidak dapat kaum elit dengan yang lainnya di Asia berbicara", maksudnya bahwa Selatan. Walaupun Guha mengatakan subaltern seperti itu tidak dapat demikian, rakyat dan subaltern dapat menjadi sinonim. Spivak pikir bahwa hal dengan hak istimewa baik dari tersebut bukan poin substantif yang ingin Dunia Pertama maupun Dunia Menurut Spivak, secara Ketiga. Jika subaltern dapat krusial AosubalternitasAo merupakan posisi membuat dirinya didengar Ai tanpa identitas (Morton, 2008, hlm. "Subaltern orang-orang Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. subaltern tertentu muncul, dalam tersebut dengan AubersuaraAy. Spivak istilah Antonio Gramsci, sebagai menilai bahwa sebenarnya AubersuaraAy intelektual organik dan juru yang dimaksudkan tidaklah selalu dalam bicara komunitas mereka Ai artian literer tetapi subaltern memanglah statusnya sebagai subaltern akan diubah sepenuhnya. dia tidak lagi Spivak . mengatakan bahwa adalah tujuan dari hubungan etis Bhubaneswari Bhaduri telah mencoba yang dicari dan diinginkan oleh untuk AubersuaraAy dengan mengubah Spivak tubuhnya sebagai sebuah teks tentang konstituensi yang paling tertindas perempuan/tulisan . Seperti Ai Dan Bhubaneswari Bhaduri dimungkinkan untuk tidak ada melakukan bunuh diri dengan membakar Ay Hal inilah yang ditegaskan Dengan penjabaran di atas, poin subalternitas, selain dikotomi penjajah dan yang terjajah, adalah posisi subaltern sebagai yang terbungkam dan pihak dominan yang berkuasa sebagai hasil konstruksi identitas yang melibatkan hubungan sosial antara yang dominan dengan yang terdominasi. Dalam sebuah diskusi mengenai kasus bunuh diri Bhubaneswari Bhaduri, perempuan yang pada akhirnya diketahui tergabung dalam golongan nasionalis bersenjata di daerah jajahan Bengali, contohnya. Spivak berpendapat bahwa kelompok subaltern (Morton. Dalam oleh Spivak bahwa upaya bunuh diri tersebut tidak dianggap sebagai bentuk performatif oleh banyak pihak sehingga suara-suara subaltern yang menyuarakan dirinya dianggap tidak ada. Dengan suara-suara subaltern, yang dianggap tidak ada tersebut, tidak dapat didengar atau Subaltern terbungkam dianggap tidak memiliki Dalam konteks produksi kolonial, subaltern tidak memiliki sejarah dan tidak mampu bersuara (Spivak, 1. Oleh karenanya, mengambil istilah Foucault, subjeksubjek subaltern ini adalah mereka yang mengalami normalisasi. Terkait hal ini, lantas Spivak menjelaskannya di dalam JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 esainya yang berjudul Can The Subaltern AuPertama, tentang vertretung. Speak?. Vertretung. Untuk lebih menjelaskan tentang melangkah/menginjak . Spivak menghubungkannya pada sepatu seseorang, mewakili Spivak . mengatakan bahwa bagi Representasi kelompok subaltern yang AoasliAo, yang identitasnya beragam, tidak ada subjek DarstellungAiDar, yang-tidak-terwakili Aodi sanaAo. Stellen, dapat mengetahui dan bersuara untuk Aountuk menempatkan/menaruhAo, solusi intelektualnya adalah sehingga menjadi Aomenempatkan untuk tidak bersikap abstain terhadap representasi . Terdapat dua AowakilAo atau AopotretAo. Sekarang, hal yang perlu diingat adalah sanaAo. Merepresentasikan: /perwakilan, seperti dalam politik, dan merepresentasikan secara politis, representasi sebagai re-presentasi atau anda sebenarnya mewakili diri pengejawantahan, seperti dalam seni atau filsafat (Spivak, 1995, hlm. dalam artian portret juga. Ay Spivak Akan kemudian seolah menjadi perwakilan penjabaran Marx tentang Vertretung dan yang sangat mengerti dan memahami Darstellung. Kedua istilah ini digunakan Spivak representasi, yang banyak hadir melalui Oleh menjelaskan maksud posisi represestasi yang dia maksud dengan kaitannya memanfaatkan posisinya tersebut untuk terkait negara dan individu. Dalam kepentingan-kepentingan politis. Dalam sebuah interview. Spivak (Spivak, 1990, konteks kolonial, representasi dapat hadir 108--. menjelaskan kedua istilah melalui penjajah kolonial itu sendiri yang tersebut sebagai berikut, mencoba memetakan kaum subaltern melalui cara pandangnya. Hal ini dapat Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. terjadi karena kuasa kolonial atas posisi melalui sumber-sumber berupa buku, jurnal, artikel, dan beberapa sumber tulisan lain yang mampu menguatkan METODE PENELITIAN Penelitian metode kualitatif. Selanjutnya, metode penelitian terbagi menjadi dua tahap: metode pengumpulan data dan metode analisis(Faruk, 2014, hlm. Pada tahap pengumpulan data, penelitian ini mencari data dengan menyimak satuansatuan linguistik yang dapat berupa frasa, kata, kalimat, dan paragraf signifikan di dalam objek material. Tentunya, satuansatuan linguistik tersebut dipilih apabila formal penelitian. Sebelum itu, objek material penelitian ini adalah cerita pendek karya Iksaka Banu yang berjudul AuKalabakaAy. Di samping itu, objek formal dalam penelitian ini adalah perihal subaltern dan representasi dalam Sebelumnya, data penelitian dibagi menjadi dua: data primer dan data Data primer ini didapat di berbentuk frasa, kata, kalimat, atau Selain itu, bentuk dialog antar tokoh juga menjadi data primer jika dirasa memiliki dalam penelitian. Selanjutnya, teknik analisis data menggunakan metode deskriptif analisis. Menurut Ratna . metode deskriptif analisis adalah metode yang digunakan menggambarkan keadaan objek yang diteliti yang menjadi pusat penelitian . Dengan demikian, data yang didapatkan dari objek penelitian akan diuraikan berdasarkan penafsiran peneliti terhadap sumber data yang telah ada. Berikut adalah langkah-langkah proses . Pembacaan objek material, cerpen AuKalabakaAy, secara utuh. Pengumpulan data-data yang sesuai pandangan Gayatri Spivak. serta menambah kualitas analisis di Adapun subaltern dan representasi. Melakukan analisis, terhadap datadata yang terkumpul, berdasarkan dengan pandangan Gayatri Spivak terhadap subaltern dan representasi dalam ranah pascakolonial. Menarik kesimpulan hasil analisis. JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 sebagai elit yang hak dan kedudukannya HASIL DAN PEMBAHASAN Kisah di dalam cerpen Kalabaka memperlihatkan bentuk interaksi antara Belanda penduduk pribumi Banda. Di dalam cerpen, cerita berintikan tentang dendam kaum kolonial atas sebuah peristiwa di masa lalu yang ingin coba dibalaskan dengan menggunakan strategi-strategi kolonial yang licik. Berdasarkan cerpen, para kolonialis Belanda serta penduduk Banda Disebutkan dalam cerpen, tokoh pribumi yang terlibat merupakan kelompok orang kaya Banda masyarakat Banda. Apabila mengikuti pengelompokkan yang disebut oleh Guha sebagai Aothe politics of peopleAo maka kelompok orang kaya Banda ini termasuk sebagai elit karena merupakan tingkatan lokal. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku di kelompok orang kaya Banda ini sebagai kelompok yang tingkatnya cenderung di bawah pejabat Belanda, yang mana tingkatan tersebut merupakan subaltern. Hal ini dipicu oleh adanya peristiwa masa lalu yang sebelumnya mengawali penceritaan cerpen. Pada penjelasannya terhadap tokoh berseteru dan terlibat dalam cerita adalah sama dengan mereka. Tokoh kolonialis utama dalam cerpen, yang merupakan Belanda Hendriek Cornelis Adam. Letnan Nicolas van Waert menjelaskan bahwa perjalanan ke Banda kemungkinan akan dekat dengan banyak Hal pimpinan misi ini adalah Gubernur Jenderal Batavia. Jan Pieterszoon Coen, yang sebelumnya pernah pergi ke Banda untuk misi yang lain namun gagal. Ini disebutkan dalam cerpen sebagai berikut. AuAku Driek,Ay katanya. AuKemungkinan dalam cerpen karena adanya dikotomi Barat dan Timur. Para tokoh kolonialis pertempuran brutal di Banda. Belanda ini, yang merupakan elit karena Ada dendam Tuan Coen terkait status Barat yang melekat pada diri kegagalan misi VOC terdahulu mereka, tidak sepenuhnya menganggap yang ingin ia lampiaskan. Ay kriteria kelompok orang kaya Banda ini AuDendam?Ay tanyaku. Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. AuBanda adalah kisah kelam bagi kedudukan orang Banda tersebut sebagai awak kapal VOC pimpinan kelompok dominan di wilayahnya. Laksamana Willemsz Verhoeff mata Belanda, penduduk Banda adalah Ay. (Banu, 2019, hlm. ditentukan oleh kolonialis yang datang untuk sebuah misi penguasaan terhadap Tujuan misi sebelumnya adalah untuk membuka perdagangan antara VOC dengan penduduk Banda terkait komoditas pala. Namun, percobaan membuka perdagangan ini gagal karena Banda ramalan bahwa akan ada orang asing berkulit putih yang akan menaklukkan pulau itu. Oleh karena itu, penduduk Banda penawaran Belanda. Hal ini kemudian berujung dengan banyak pertempuran terjadi dan terjebaknyapasukan Belanda. Kegagalan misi ini seolah menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh Belanda untuk misi selanjutnya. Sebagai Barat yang membentuk Timur. Belanda seperti ini untuk lestari. Oleh karenanya. Belanda penguasaan lahan pala yang sebelumnya kemudian membentuk citra subaltern Tindakan dilakukan menunjukkan bahwa Belanda adalah yang dominan. Setelah penyerbuan terjadi dan Banda dilakukan oleh Belanda, peristiwa kemudian beralih kepada negosiasi antara orang kaya Banda Belanda membicarakan tentang perdamaian. sini, peristiwa yang terjadi selanjutnya menunjukkan bahwa suara subaltern tidak didengar oleh elit yang-dominan. Dalam dimaksud adalah bentuk pembelaan diri berupa argumen penduduk Banda yang diwakili oleh tokoh bernama Kalabaka. Adapun dialog antara Kalabaka dengan pihak Belanda sebagai berikut. AuKami hanya membela diri. Sejak dulu orang Belanda yang mengawali pertumpahan darah!Ay gagal untuk dikuasai. membersihkan namanya dan tentunya Permasalahan Banda sekaligus upaya pembersihan Banda Belanda tidak mempersoalkan bahwa ujarnya, saat Tuan De Houtman melawan kami. AuOrang Belanda membeli pala kelewat murah. JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 tapi melarang kami berdagang ditegaskan oleh sikap penjajah kolonial dengan yang lain. Kini mereka merebut tanah kami. Ay diposisikan sebagai penting dan patut AuTapi dua belas tahun lalu, orang ingin berunding,Ay kata Tuan De Pada percakapan itu pula, posisi Tuan menjebak dan membantai Padahal Belanda sudah Kalabaka tampak kabur karena di satu sisi penggunaan simbol kata sapaan AuTuanAy menunjukkan bentuk hormat dan Houtman. kesetaraan yang dilakukan oleh tokoh AuPerundingan macam apa yang akan kami peroleh bila di lengkap?Ay jawab Kalabaka. Belanda terhadap Kalabaka. Akan tetapi, argumentasi Kalabaka oleh Belanda menunjukkan bahwa dirinya adalah Pergeseran status Kalabaka (Banu, 2019, hlm. 9--. Posisi dominan Belanda, yang sebagai, seharusnya, elit pribumi menjadi mencoba untuk tidak terlihat bersalah menunjukkan bahwa kuasa Barat sebagai atas adu argumen yang terjadi, terlihat yang dominan mampu mengkonstruksi saat alasan untuk membantah tuduhan Timur. Kalabaka Tindakan Belanda tidak berhenti peristiwa masa lalu yang relevansinya tidak ada. Alasan ini bersifat politis menyudutkan dan menegaskan posisi subaltern penduduk Banda. Peristiwa selanjutnya berkaitan dengan upaya Banda. Dengan kata lain, tanggapan membujuk masyarakat Banda untuk Belanda bukanlah untuk menjelaskan alasan konkrit kepada Kalabaka terkait Dengan tujuan ini, salah seorang orang penyerangan melainkan sebagai upaya kaya Banda ditugaskan untuk membujuk Selain itu, sikap melempar masyarakat, yang ada di desa, ditemani tuduhan oleh Belanda menunjukkan oleh lima kompi pasukan Belanda. Untuk menjamin hal ini berjalan lancar. Belanda menunjuk Kalabaka sebagai Kalabaka. Belanda. Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. Selanjutnya, seluruh pasukan tak putus berkeliling. Bagaimana yang ikut memutuskan untuk menginap. penyelundup bisa masuk masjid? Salah satu pimpinan pasukan, yaitu Tuan Tepat pada saat itu, di muka balai Sonck, berkeras untuk tinggal di masjid desa terjadi kegaduhan lain. Dalam kegelapan malam, kami melihat banyak bayangan hitam Peristiwa bergerak ke segala arah. sebagai berikut. Bersama enam orang prajurit. AuItu mereka! Tembak!Ay aku ikut berjaga di sebuah rumah Tuan Sonck memuntahkan isi besar di depan masjid, sementara senapannya, diikuti prajurit lain. Letnan Van Waert dan beberapa Beberapa perwira tidur di dalam. Kuperiksa para Tengah malam, tiba-tiba Sepuluh dan anak-anak. jilatan api besar dari dalam (Banu, 2019, hlm. 11--. Aku menghambur ke AuKita diserang!Ay Dari Kebanyakan wanita senjata, teriakan-teriakan, diiringi tentara lain. Tapi tak ada hulubalang terdengar beberapa kali letusan tempat itu bersama puluhan Pembunuhan Belanda dengan dalih adanya perangkap yang dilakukan oleh penduduk Banda dalam masjid, orang-orang kami berteriak panik. penduduk Banda bukanlah nilai penting. AuTapi di luar tak ada siapa pun,Ay kataku. AuDari mana api itu?Ay Alasan penduduk Banda agar mau menjadi pekerja perkebunan menjadi alasan yang lemah dengan demikian. Sikap Belanda AuLampu gantung! Ada penyelundup menjatuhkan benda itu sebagai isyarat menyerang!Ay jawab seorang prajurit. Aku dan para petugas yang tidak segan menembak penduduk Banda Pembenaran dilakukan Belanda dengan mengatakan bahwa ada tanda-tanda penyerangan oleh saling pandang. Sejak tadi kami JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 Permasalahan penduduk Banda. Memori masa lalu mempengaruhi Belanda dan menjadikan Kalabaka yang akan menjalani hukuman. membuat mereka bersikap reaktif. Akan Selain itu, representasi ini juga kemudian tetapi, kebenaran tentang penduduk Banda yang mulai menyerang dan membuat jebakan tidak dapat dipastikan. memperjelas konteks representasi dan Namun, hal ini juga dapat diasumsikan subalternitas Kalabaka, peristiwa yang menjelaskannya sebagai berikut. Belanda Untuk manipulasi untuk menyudutkan posisi AuBagaimana dengan orang-orang penduduk Banda. Bentuk pembunuhan kaya itu. Gubernur?Ay tanyaku. yang terjadi secara cepat oleh Belanda adalah sikap pandang penjajah terhadap Tuan Sonck tidak menjawab. subaltern karena tidak menunjukkan AuMereka pertimbangan bahwa sebenarnya mereka sekarang, menghadap Tuan Coen akan menjadi Sumber Daya Manusia di Naira. Ada pengadilan buat milik Belanda. mereka,Ay Hal ini kemudian menjadi alasan Belanda untuk mengeksklusi Kalabaka penguasa Banda menjadi tertuduh dan Akan peristiwa ini kemudian memunculkan Representasi Letnan Van Waert. Pukul delapan, para prajurit memaksa para orang kaya masuk ke dalam pagar itu, termasuk Kalabaka. memandang penduduk Banda dari dua AuTuan,Ay kataku kepada Letnan sudut pandang yang berbeda. Salah satu Van representasi merasa bahwa penduduk Mereka tak bersalah. Banda tidak mungkin untuk menyerang Kalau kemarin tidak kita kejar ke pihak Belanda sedangkan yang lain atas bukit, tak mungkin mereka mencurigai penduduk Banda sebagai berani melawan. Ay Waert. AuIni Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. AuTapi keponakan Kalabaka dan adalah orang kaya kini berganti menjadi Kuasa Belanda mengambil hak bersuara dan mengganti status sebuah komplotan yang ingin subaltern menjadi bentuk dominasi membunuh kita semua. Jatuhnya Selama adegan ini, penduduk lampu di masjid itu memang Banda yang akan menjalani hukuman sandi untuk menyerang,Ay sahut hanya diam tidak menunjukkan gelagat Letnan. untuk melawan atau bahkan untuk AuLihatlah tubuh mereka. Letnan. Mereka disiksa habis-habisan. Dengan siksaan macam itu, siapa tuduhan!Ay kataku sambil terus mengamati kandang bambu. menyanggah tuduhan. Tindakan diam Kalabaka perlu dipandang sebagai sebuah tindakan Memandang tindakan diam tersebut sebagai sebuah teks bahwa kebenaran yang tunggal menjadi misteri. Kekuasaan yang hadir dalam peristiwa (Banu, 2019, hlm. 13--. tersebut memiliki pengaruh besar untuk Dengan melihat dialog di atas, mencegah kebenaran itu terungkap. Hal kebenaran tentang upaya penduduk ini merujuk pada tindakan diam yang Banda menyerang Belanda menjadi diambil oleh Kalabaka. Namun, tindakan terlihat bahwa hal tersebut memanglah diam ini, dapat dipandang sebagai pilihan rekayasa Belanda untuk menyerang yang memang diambil Kalabaka, atau Kebenaran Belanda didapatkan ketika suara subaltern tidak Belanda. Meskipun demikian, suara yang terbungkam ini menunjukkan bahwa Kebenaran itu didapatkan kebenaran tidak diketahui. melalui pemaksaan kepada penduduk Namun, hal yang menjadi sorotan Banda untuk mengakui hal-hal yang adalah representasi ganda yang berusaha tidak diketahui realitanya. Hak bersuara mengambil posisi suara para subaltern orang Banda diambil. Posisi mereka Representasi ini hadir tentunya tidak diwakilkan oleh pendapat-pendapat para dengan persetujuan dari subaltern. Posisi Belanda yang tentunya tidak netral. mereka hanya mencoba mewakili suara Status penduduk Banda yang awalnya Akan tetapi, representasi JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 173Ai190 subaltern ini kemudian mendua. Sosok dituliskan di dalam cerpen. Namun. Letnan Van Waert, sebagai vertretung, melemparkan hal ini kepada pembacanya kecenderungan politis Belanda. Hal ini sebagai berikut. selanjutnya cukup jelas karena sang Kalabaka Letnan dan pihak Belanda mempunyai Saat rencana politis untuk menguasai wilayah dengan Gubernur Sonck, sorot Banda. Oleh karenanya, representasi ini matanya menjadi liar. AuApakah Tuan tidak merasa berdosa?Ay mendadak ia berteriak Di pihak lain, tokoh utama aku Hendriek menyudutkan subaltern. Cornelis nyaring dalam bahasa Belanda. Adam. Sayang sekali, sekejap kemudian darstellung, yang menempatkan dirinya Tubuhnya ambruk ke tanah. sebagai wakil suara subaltern yang (Banu, 2019, hlm. mendasarinya berbuat demikian adalah Setelah perdebatan tentang misteri kebenaran yang dipercayainya. Sebagai mana yang merupakan kebenaran dan sosok yang objektif dan netral meskipun tentu tentang konflik representasi ganda, merupakan seorang Belanda, tokoh permasalahan kemudian bergeser terkait utama ini mempertanyakan sikap tokoh status subaltern Kalabaka. Tindakan Belanda lain yang juga menawarkan Kalabaka yang menebar pandangan kebenaran mereka dengan asumsinya. Mewakili suara subaltern, representasi seorang yang terbungkam. Akan tetapi, ini mempercayai bahwa pembungkaman tindakan berikutnya adalah bentuk suara subaltern itu. Suara yang disuarakan menyalahi kebenaran yang diinginkan. tanpa melalui simbol-simbol seperti Tindakan penolakan oleh representasi ini Tetapi, ungkapan yang menunjukkan adanya sikap politis yang bertujuan melanggengkan penguasaan menunjukkan sebuah hal yang utuh Banda semata. Akan tetapi, kebenaran melainkan pertanyaan yang tentunya yang tunggal tidak secara eksplisit merujuk kepada kebenaran yang dicari. Satu Kalabaka Subalternitas Dan Representasi Ganda. (Yuniardi Fadila. selalu berada dalam label subaltern yang representasi para subaltern menjadi suaranya dan kehadirannya tidak dapat dan tidak perlu untuk didengarkan. Kebenaran Suara Kalabaka Lebih penting karena dengan ini posisinya Belanda ditunjukkan dengan perampasan sebagai subaltern lantas tumpang tindih. hak bersuara terhadap tokoh yang Ketika kemudian menghasilkan posisi subaltern yang dikonstruksikan. Hal ini kemudian menghilang karena dia menyuarakan memicu pergulatan tentang kebenaran suaranya sendiri tanpa terwakilkan. Akan tetapi, subalternitas ini ditentukan oleh Tokoh Belanda merasa kuasa dominan. Oleh karenanya, status mengetahui suara subaltern dan saling itu, dalam pandangan Belanda, tidaklah beradu untuk menunjukkan kebenaran berubah sehingga tindakan yang diambil yang dipegang. Peristiwa ini kemudian berlanjut, tentang penentuan kebenaran. Kalabaka Belanda membunuh sosok subaltern tersebut. statussubaltern terbungkam Kalabaka karena sempat menyuarakan suaranya PENUTUP Subalternitas permasalahan dalam jalannya cerpen Kalabaka. Di samping itu, subalternitas Pergeseran identitas ini menjadi penegasan bahwa subaltern tidak mampu dan representasi ini muncul karena adanya pertentangan terkait kebenaran dan apa yang dianggap benar oleh pihak dominan dan yang terdominasi. Dalam hal ini, permasalahan ini kemudian bersifat politis antara Barat dan Timur atau penjajah dengan yang terjajah. Mengikuti Barat. Timur, dalam hal ini warga Banda, akan DAFTAR PUSTAKA Banu. Teh dan Pengkhianat. Jakarta: KPG. Bertens. Literary Theory. New York: Routledge. Faruk. Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Yogyakarta: Pustaka