IMPROVISASI DALAM BERTEOLOGI: Sebuah Refleksi bagi Masa Depan Teologi Injili di IndonesiaA Fandy Handoko Tanujaya Pendahuluan Timothy C. Tennent dalam bukunya Theology in the Context of World Christianity menyatakan bahwa Auwe are now in the midst of one of the most dramatic shifts in Christianity since the Reformation. Ay1 Secara spesifik. Tennent melihat bahwa telah terjadi pergeseran yang signifikan dalam Aupusat gravitasiAy Kekristenan di 2 Sesudah kelahirannya di Asia. Kekristenan berkembang ke A Artikel ini merupakan pemenang ketiga Lomba Karya Tulis Teologi STT Amanat Agung 2011 dengan tema AuMencari Wajah Teologi Injili di IndonesiaAy yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa STT Amanat Agung. Jakarta. Timothy C. Tennent. Theology in the Context of World Christianity: How the Global Church is Influencing the Way We Think about and Discuss Theology (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 2. Timothy C. Tennent, 8. Di halaman yang sama. Tennent menjelaskan bahwa Aupusat gravitasiAy secara statistik merujuk pada Aupoint on the globe with an equal number of Christians living north, south, east, and west of that point. Ay Saat ini, menurutnya, pusat gravitasi Kekristenan terletak di Timbuktu. Jurnal Amanat Agung arah barat dan utara. 3 Tetapi, sejak awal abad ke-20, pusat gravitasi ini bergeser secara signifikan ke arah selatan, dan kemudian ke arah 4 Kini, untuk pertama kalinya sejak zaman Reformasi. Tennenth mencatat bahwa Authe majority of Christian . pproximately 67 percen. are now located outside the Western world. Ay5 Sayangnya, perkembangan Kekristenan yang pesat secara kuantitas di belahan dunia bagian timur . an selata. ini ternyata tidak berbanding lurus secara proporsional dengan perkembangan teologi di wilayah ini. Bentuk dan konten teologi yang banyak dikembangkan di wilayah ini masih sangat dipengaruhi teologi dari barat. Dengan kata lain, teologi Barat kelihatannya masih menjadi rujukan utama bagi umat Kristen di timur dalam berteologi. Tennent Adespite the dramatic growth of the Majority World church, the center of theological education and Christian scholarship remains in the Western world. A there remains the view that Western theological writings and reflection somehow represent normative, universal Christian reflection whereas non-Western theology is more localized, ad hoc, and contextual. Penulis mengamati bahwa kaum Injili di Indonesia, sebagai bagian dari kekristenan global, tidak terhindar dari fenomena ini. Sejak awal dirintisnya gerakan Injili di Indonesia sekitar dua abad yang lalu, memang jelas terlihat adanya perkembangan yang pesat dalam aspek kuantitas. 7 Namun sangat disayangkan jika dalam Timothy C. Tennent, 8. Timothy C. Tennent, 8. Timothy C. Tennent, 8. Timothy C. Tennent, 11. Jan S. Aritonang dan Karel Steenbrink mengatakan bahwa kaum Baptis ialah denominasi yang pertama mendaratkan misi Injili-nya di Indonesia. The Baptist Missionary Society (BMS) dari Inggris telah mulai bekerja di Indonesia sekitar tahun 1811-1816/1825, lebih awal dari kelompok-kelompok misionaris dari daratan Eropa yang sebagian besar Improvisasi dalam Berteologia rentang waktu yang cukup panjang ini, kaum Injili di Indonesia belum banyak menghasilkan refleksi-refleksi teologis yang khas di dalam konteksnya, sekaligus diakui secara universal di dunia Kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah teologi Injili di Indonesia masih sangat banyak mengadopsi kurikulum pendidikan teologi Barat. Hal yang sama terjadi dengan kurikulum Pembinaan di gereja-gereja Injili dan lembaga-lembaga kemahasiswaan Injili di Indonesia. Buku-buku teks teologi yang digunakan di sekolahsekolah teologi Injili juga sebagian besar masih berbahasa Inggris . tau terjemahan dari bahasa Inggri. Literatur-literatur teologi dari kalangan Injili Indonesia masih sangat minim jumlahnya. Sebagian besar buku-buku teologi yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit Injili merupakan terjemahan dari bahasa Inggris. Di samping itu, belum banyak tokoh-tokoh Injili yang diundang untuk berbicara dalam konferensi-konferensi teologi tingkat internasional. Justru hal yang sebaliknyalah yang menjadi fenomena lazim: tokoh-tokoh Injili dari Barat . hususnya dari Amerika Serika. banyak diundang ke Indonesia oleh sekolah-sekolah teologi, gereja-gereja dan lembagalembaga kristen lainnya untuk menyampaikan berbagai kuliah, seminar, dan khotbah. Tokoh-tokoh Injili juga belum banyak mengisi wacana publik di surat kabar-surat kabar nasional, ataupun menghasilkan buku-buku teologi yang berkontribusi dalam mewarnai wacana-wacana teologi tingkat global. Dengan memaparkan berbagai fenomena ini, penulis tidak sedang mengajukan sebuah proposal bagi kaum Injili di Indonesia untuk membuang kurikulum Barat, berhenti menerbitkan dan membaca buku-buku teologi berbahasa Inggris dan/atau terjemahannya, atau tidak lagi mengundang tokoh-tokoh Injili dari Barat ke Indonesia. Yang menjadi perhatian penulis ialah jika bentuk dan berlatarbelakang Lutheran dan Reformed. Lih. Jan Sihar Aritonang & Karel Steenbrink, eds. A History of Christianity in Indonesia [Studies in Christian Mission Vol. (Leiden: Brill, 2. , 809-10. Jurnal Amanat Agung isi teologi Injili di Indonesia yang hanya menjadi sekadar pengulangan dari teologi Barat. Di dalam pergeseran-pergeseran zaman dan kekristenan yang tengah terjadi, kaum Injili di Indonesia seharusnya dapat menangkap momen ini dengan mengekspresikan imannya ke dalam refleksi-refleksi teologis yang khas Indonesia, sekaligus berkontribusi terhadap perkembangan diskursus teologi secara global. Berteologi: Sekadar Repetisi? Pertanyaannya ialah mengapa selama ini teologi Injili di Indonesia lebih banyak sekadar mengulang teologi Barat? Tentu saja banyak argumen dapat dipaparkan untuk menjawab pertanyaan ini. Salah satu dari argumen yang menurut penulis sangat signifikan berkaitan dengan pendekatan berteologi yang selama ini digunakan . aik secara sadar atau tida. oleh kaum Injili di Indonesia. Untuk memahami bagaimana pendekatan kaum Injili di Indonesia dalam berteologi, penulis akan menjelaskan pemikiran Andrew Walls tentang ketegangan Auyang universalAy dan Auyang partikular. Ay Andrew Walls, yang menulis dari perspektif sejarah misi, menjelaskan ketegangan antara Auyang universalAy dan Auyang partikularAy dengan mengemukakan dua prinsip yang berbeda, yaitu prinsip AupeziarahAy dan prinsip Aumempribumikan. Ay8 Prinsip AupeziarahAy mengingatkan bahwa Injil bersifat universal. melampaui semua partikularitas budaya, bahasa, latar belakang dan memersatukan seluruh umat Allah di segala tempat dan di sepanjang zaman. Sebaliknya, prinsip AumempribumikanAy menekankan partikularitas Injil. bahwa Injil sungguh-sungguh berakar dalam setiap konteks dan Dalam bahasa Inggris: AupilgrimAy principle dan AuindigenizingAy Penjelasan tentang pemikiran Andrew Walls ini dirangkumkan dari Timothy C. Tennent. Theology in the Context of World Christianity: How the Global Church is Influencing the Way We Think about and Discuss Theology (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 12-13. Timothy C. Tennent, 12. Improvisasi dalam Berteologia partikularitas budaya, bahasa dan latar belakang. 10 Diterapkan dalam bagaimana kaum Injili berteologi, penulis berargumen bahwa salah satu penyebab lambannya perkembangan teologi Injili di Indonesia ialah penekanan yang terlalu besar pada prinsip AupeziarahAy dan pengabaian pada prinsip Aumempribumikan. Ay Celakanya, prinsip AupeziarahAy inipun tidak diterapkan secara seimbang oleh kaum Injili di Indonesia. Maksudnya, jika prinsip ini diterapkan secara seimbang, maka seharusnya kaum Injili tidak hanya Aumengimpor produk teologiAy dari Barat yang mereka yakini bersifat AuuniversalAy dan dapat diterapkan ke dalam partikularitas konteks Indonesia, namun mereka seharusnya juga dapat Aumengekspor produk teologiAy dari Indonesia yang juga sama-sama bersifat AuuniversalAy dan dapat diaplikasikan ke dalam konteks Barat. Penekanan yang terlalu besar pada prinsip AupeziarahAy . ang juga diterapkan secara tidak utu. inilah yang kemudian menjadikan kaum Injili di Indonesia lebih banyak hanya mengadopsi dan merepetisi teologi yang dihasilkan oleh negara-negara Barat. Di saat yang sama, pengabaian terhadap prinsip AumempribumikanAy akhirnya juga membuat kaum Injili di Indonesia kurang memerhatikan bagaimana teologi Injili dapat menjawab berbagai isu dan pergumulan masyarakat Indonesia yang khas. Tidak mengherankan jika pada akhirnya kehadiran kaum Injili belum dirasakan relevansinya secara optimal oleh masyarakat Indonesia. Jyrgen Moltmann di dalam bukunya The Crucified God menyatakan secara profetis bahwa orang Kristen hidup dalam krisis ganda, yaitu krisis relevansi dan krisis identitas. 11 Sebagai orang Kristen yang hidup di tengah-tengah dunia, kita memang senantiasa hidup di dalam ketegangan . antara relevansi dan identitas. Di satu sisi kita berusaha untuk menjadi relevan bagi dunia dengan Timothy C. Tennent, 12. Jyrgen Moltmann. The Crucified God: The Cross of Christ as the Foundation and Criticism of Christian Theology, penerj. Wilson John Bowden (New York: Harper & Row, 1. , 7. Jurnal Amanat Agung segala permasalahan dan perubahannya, tetapi di sisi lain kita juga berjuang untuk mempertahankan keunikan identitas kita. Kegagalan dalam menghidupi ketegangan inilah yang membuat kita jatuh ke dalam krisis ganda ini. Yang menarik, menurut analisis Moltmann, kedua krisis ini bersifat komplementer. 12 Artinya, kita tidak mungkin jatuh ke dalam krisis relevansi tanpa kemudian jatuh ke dalam krisis identitas, demikian pula sebaliknya. Pada saat kaum Injili di Indonesia terlalu menekankan prinsip AupeziarahAy untuk menegaskan identitasnya sebagai bagian dari umat Kristen secara universal, mereka justru kehilangan relevansinya bagi pergumulan masyarakat Indonesia yang partikular. Dengan adanya krisis relevansi ini. Kaum Injili mau tidak mau kemudian AudipaksaAy untuk mempertanyakan kembali jati diri/identitasnya di tengah dunia. Nampaknya, kaum Injili di Indonesia membutuhkan sebuah pendekatan yang dapat mempertahankan dan mengembangkan dialektika antara identitas dan relevansi, bukan sebuah pendekatan yang memilih yang satu dan mengesampingkan yang lain. Antara Tradisionalisme dan Revisionisme Bagaimana mempertahankan dan mengembangkan ketegangan antara Auyang universalAy dan Auyang partikular,Ay antara identitas dan relevansi, di tengah-tengah pergeseran zaman yang terusmenerus terjadi? AuSekadar pengulanganAy jelas bukanlah pilihan yang tepat bagi masa depan teologi Injili di Indonesia, karena teologi tidak hidup di dalam konteks yang statis dan mati, namun dinamis dan senantiasa di dalam perubahan. AuSekadar pengulanganAy akan membuat kaum Injili di Indonesia tidak relevan dan jatuh ke dalam tradisionalisme. Dengan dalih mempertahankan identitas, pendekatan tradisionalisme berusaha untuk mereproduksi atau merepetisi teologi masa lalu di masa kini dan pada saat yang sama menolak perubahan. Padahal, kesetiaan pada tradisi terkadang Jyrgen Moltmann, 7. Improvisasi dalam Berteologia justru dibuktikan bukan dengan mereproduksi Auyang sama,Ay namun sebaliknya dengan memproduksi Auyang lain. Ay Kevin J. Vanhoozer di dalam bukunya The Drama of Doctrine dengan jelas membedakan antara tradisi dengan tradisionalisme. 13 Baginya, justru tradisi sebenarnya adalah Authe churchAos attempt to negotiate *this tension between AosamenessAo and Aodifference,Ao an attempt that aims at a kind of nonidentical repetition: AoThe Christian movement is always the recognizing of a particular situation and the necessity of a new step AoAy14 Vanhoozer menegaskan tiga tesis penting berkaitan dengan keniscayaan dialektika antara Auyang samaAy dan Auyang lainAy dalam berteologi: First, some kind of difference is inevitable because the church moves through space and time. Second, certain differences threaten sameness and undermine faithfulness. doctrine orients us to another gospel and invites us to participate in another drama. Third, and most important, some differences are expressions of faithfulness and may be productive of greater Di ekstrem yang sebaliknya, revisionisme juga bukan pilihan yang tepat. Jika tradisionalisme meninggalkan relevansi demi identitas, maka revisionisme meninggalkan identitas demi menjadi Revisionisme menomorsatukan konteks dan menomorduakan Teks, dengan demikian menjadikan kebudayaan, situasi dan lokasi menjadi norma utama dalam berteologi. Vanhoozer mengatakan. AuRevisionist theologies so privilege contemporary values and Kevin J. Vanhoozer. The Drama of Doctrine: A Canonical Linguistic Approach to Christian Theology (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 125-128. Vanhoozer. The Drama of Doctrine, 125. Kevin J. Vanhoozer. The Drama of Doctrine, 126. Poin pertama dan poin kedua secara khusus mendukung argumentasi penulis untuk melawan tradisionalisme. Poin kedua melawan revisionisme, yang adalah lawan dari tradisionalisme. Jurnal Amanat Agung beliefs that traditional, and often even biblical, claims are altogether Ay16 Improvisasi: Berteologi dalam Ketegangan Sebagai jalan tengah yang dapat mempertahankan dan mengembangkan dialektika dalam berteologi dan menghindarkannya dari ekstrem tradisionalisme dan ekstrem revisionisme, kaum Injili di Indonesia perlu mengembangkan improvisasi dalam berteologi. Di dalam benak sebagian orang, mungkin improvisasi dalam berteologi tidak ada bedanya dengan pendekatan revisionis-me. Pada kenyataannya, keduanya memiliki perbedaan yang signify-kan. Vanhoozer mengatakan bahwa Au*i mprovisation should not be equated with sheer novelty or with simply being original. on the contrary, improvisation depends on training, narrative skills, and a sense for what is appropriate to say and do in a given situation. Ay17 Dari definisi kamus, biasanya improvisasi dikaitkan dengan melakukan sesuatu Auextempore, without preparation, or Aooff the cuff. AoAy 18 Jauh dari pengertian ini, improvisasi yang baik justru membutuhkan Auboth training . and discernment . Ay19 Improvisasi jelas bukanlah berteologi ex nihilo, berteologi sekadar untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Improvisasi dalam berteologi mengasumsikan adanya pemahaman yang mendalam tentang Kitab Suci sebagai kanon di satu sisi. dan budaya, situasi serta lokasi setempat sebagai konteks dalam berteologi di sisi lain. Dalam metafora drama, seseorang dapat melakukan improvisasi dengan baik jika ia memahami dengan tepat naskah drama yang ada di tangannya. Vanhoozer menjadikan Athanasius sebagai contoh dalam berimprovisasi. 20 Konsep AuhomoousiosAy dari Athanasius Kevin J. Vanhoozer. The Drama of Doctrine, 129. Vanhoozer, 128. Vanhoozer, 336. Vanhoozer, 337. Vanhoozer, 128. Improvisasi dalam Berteologia bukanlah istilah yang ada di dalam Alkitab, namun berdasarkan pemahamannya terhadap Yohanes 10:30 AuAku dan Bapa adalah satuAy . adalah AuAthanasiusAos AoimprovisedAo response to the new question concerning the nature of the Son of God. The answer was improvised, not out of the blue but out of the canonical script, out of passages that spoke of SonAos being Aoonly begottenAo and the like. Ay21 Di sinilah doktrin berfungsi untuk memediasi Kitab Suci sebagai Aunaskah dramaAy dengan konteks, situasi, dan kondisi kontemporer. Vanhoozer mengatakan. Audoctrines help us to improvise judgments about what new things to say and do that are nevertheless consistent with our canonical script. Ay22 Wright memberikan ilustrasi yang lebih jelas untuk menggarisbawahi penting dan mendesaknya tugas improvisasi dalam berteologi, terkait dengan pentingnya otoritas Kitab Suci sebagai kanon. 23 Bayangkan jika ditemukan sebuah naskah drama Shakespeare, namun sebagian besar dari babak kelimanya telah Empat babak yang pertama telah memberikan penggambaran yang sangat kaya dan cukup tentang karakter dan alur cerita dari drama itu. Diputuskan untuk tidak menulis ulang bagian dari babak kelima yang telah hilang itu, karena penulisan ulang hanya akan membuat drama itu dapat diperankan dalam satu bentuk dan membuat Shakespeare bertanggungjawab atas sebuah penulisan naskah drama yang sebetulnya bukan hasil karyanya sendiri. Sebaliknya, para pemeran drama Shakespeare yang sangat handal dan berpengalaman diminta untuk memerankan babak kelima yang hilang itu berdasarkan pemahamannya yang mendalam akan empat babak yang pertama dan pengenalannya akan bahasa dan budaya pada saat Shakespeare hidup. Vanhoozer, 128. Vanhoozer, 335. Cetak miring pada tulisan aslinya. Wright. The New Testament and the People of God (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 140. Ilustrasi ini bukan terjemahan langsung dari buku Wright, melainkan merupakan hasil saduran penulis. Jurnal Amanat Agung Keempat babak pertama yang ada di tangan sang aktor ini adalah AuotoritasAy yang tidak diragukan baginya untuk memerankan babak kelima yang hilang itu. Namun. Wright mengatakan bahwa Au*t his authority of the first four acts would not consist Ae could not consist! Ae in an implicit command that the actors should repeat the earlier parts of the play over and over again. It would consist in the fact of an as yet unfinished drama, containing its own impetus and forward movement, which demanded to be concluded in an appropriate manner. It would require of the actors a free and responsible entering in to the story as it stood, in order first to understand how the threads could be appropriately drawn together and then to put that understanding into effect by speaking and acting with both innovation and consistency. Ay Salah satu tugas utama dari para pemeran drama ini untuk dapat melakukan improvisasi dengan baik adalah membenamkan dirinya secara penuh pada naskah empat babak pertama yang ada di tangan mereka, tetapi Aunot so as merely to parrot what has already been said. They cannot go and look up the right answers. Nor can they simply imitate the kinds of things that their particular character did in the early acts. A good fifth act will show a proper final development, not merely a repetition, of what went before. Nevertheless, there will be a rightness, a fittingness, about certain actions and speeches, about certain final moves in the drama, which will in one sense be self-authenticating, and in another gain authentication from their coherence with, their making sense of, the AoauthoritativeAo previous text. Ay Dengan ilustrasi ini. Wright mengajak pembacanya untuk melihat kisah Alkitab ke dalam lima babak: 1. Penciptaan. Kejatuhan. Israel. Yesus. 26 Wright mengatakan bahwa Wright. The New Testament and the People of God, 140. Wright, 141. Wright, 141. Improvisasi dalam Berteologia Aupenulisan Perjanjian Baru, termasuk penulisan Injil, adalah bagian awal dari babak ke-5, yang pada saat yang sama memberikan petunjuk (Roma 8, 1 Korintus 15, dan bagian-bagian Apokalipti. tentang bagaimana drama ini semestinya diakhiri. Ay27 Brian Walsh dan Sylvia C. Keesmaat mengadaptasi ilustrasi Wright tentang Auunfinished dramaAy ini dalam buku mereka yang berjudul Colossians Remixed: Subverting the Empire. 28 Bedanya, mereka membagi kisah Alkitab bukan ke dalam lima babak, melainkan enam babak. Babak ke-5 adalah kisah gereja yang dimulai sejak hari Pentakosta, sedangkan babak ke-6 . abak terakhi. adalah titik eskatologi/ 29 Kita hanya memiliki naskah babak ke-5, adegan pertama . isah Pentakosta dan gereja mula-mul. , dan kisah final dan klimaks dari drama ini di babak ke-6. Walsh dan Keesmaat mengatakan. AuWhile there are many indications of the shape that Act VI will take . he restoration of all of creation and the establishment of the kingdom of God on eart. , there is no canonically established script that gets us from the beginning of Act V to the final Act VI. Ay Senada dengan Vanhoozer dan Wright. Walsh dan Keesmaat menegaskan kembali bahwa tugas Aumelanjutkan naskah drama yang belum selesaiAy ini bukanlah tugas mengulang-ulang atau merepetisi naskah yang sudah ada. Dalam bukunya ini. Walsh dan Keesmaat menekankan pentingnya imajinasi dalam melakukan 31 Mereka mengatakan. Wright, 142-43. Brian J. Walsh & Sylvia C. Keesmaat. Colossians Remixed: Subverting the Empire (Downers Grove: InterVarsity Press, 2. , 133. dalam catatan kaki buku ini, mereka menjelaskan bahwa mereka mengikuti pendekatan yang dijabarkan dalam J. Richard Middleton dan Brian J. Walsh. Truth is Stranger than It Used to Be: Biblical Faith in a Postmodern Age (Downers Grove: InterVarsity Press, 1. Bab 8. Walsh & Keesmaat. Colossians Remixed, 133. Walsh & Keesmaat, 133. Walsh & Keesmaat, 133. Jurnal Amanat Agung AuAit would be the height of infidelity and interpretive cowardice to simply repeat verbatim, over and over again, the earlier passages of the play. The task is not so much a matter of being able to quote the earlier script as it is to be able to continue it, to imaginatively discern what shape this story now must take in our changing cultural context. Ay Imajinasi yang tepat dalam melakukan improvisasi akan mempertahankan dialektika antara inovasi dan konsistensi, antara fleksibilitas dan stabilitas, dan antara kreativitas dan kesetiaan. Tugas improvisasi ini membutuhkan Audouble immersion. Ay34 Walsh dan Keesmaat mengatakan. AuWe must be immersed in the biblical storyAand we must be immersed in the world. Only through such a double immersion will we have the ability to discern faithful improvisations from missteps and dead ends. Ay35 Samuel Wells menjelaskan beberapa miskonsepsi tentang pemahaman improvisasi, di antaranya ialah Aumau menjadi orisinal,Ay seperti yang telah diungkapkan oleh Vanhoozer tadi. 36 Menurut Wells, seorang aktor dalam sebuah drama justru harus menghindarkan diri dari keinginan untuk menjadi orisinal. Jika dikaitkan dengan penjelasan Wright. Walsh dan Keesmaat di atas, maka keinginan seorang aktor untuk menjadi orisinal berarti menganggap bahwa dirinya berada pada babak pertama atau babak terakhir. Wells AuTo be original is to sin by supposing oneself to be in either first or the last act. Either one assumes one is at creation, and one is in Walsh & Keesmaat, 133. Walsh & Keesmaat, 133-34. Walsh & Keesmaat, 136. Walsh & Keesmaat, 136. Samuel Wells. Improvisation: The Drama of Christian Ethics (Grand Rapids: Brazos Press, 2. , 67. Di dalam buku ini. Wells secara komprehensif mengaplikasikan konsep AuimprovisasiAy dari dunia drama ke dalam bidang etika. Improvisasi dalam Berteologia the position of originating all things. or one is at the end, ensuring that all things come out right. In short, one is living in a one-act play, and one is oneself the center of the drama- a heroAAy Selain itu. Wells mengatakan bahwa konsepsi yang salah tentang improvisasi ialah dengan menganggap bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kaum elite yang bertalenta khusus, bukan untuk Auorang biasa. Ay38 Berlawanan dengan pemahaman ini. Wells justru menyatakan bahwa improvisasi Auis about nurturing a group of people to have such trust in one another that they have a high level of common understanding and take the same things for granted. Ay39 Seorang Kristen tidak harus mempunyai talenta atau bakat yang luar biasa untuk dapat melakukan improvisasi: Au*a ll it requires is that one employ all the resources of the churchAos tradition Ae the first three acts Ae rather than create them for oneself, and that one long for all the glory of the churchAos destiny Ae the fifth act Ae rather than assuming one must achieve it In the present, fourth act, one must seek in all ways to cooperate with the other members of the company, the communion of saints, rather than try to stand out from them as an isolated hero. Ay Improvisasi dalam Konteks Pergeseran Zaman Walter Brueggemann dalam bukunya Text under Negotiation mengungkapkan fakta bahwa kita hidup di dalam masa transisi antara masa modern ke masa pascamodern. 41 Modernitas ditandai Wells. Improvisation, 67. Wells, 67. Wells, 68. Wells, 68. Perhatikan bahwa pembagian Wells terhadap kisah Alkitab berbeda dengan pembagian Wright dan pembagian Walsh & Keesmaat. Wells memodifikasi pembagian Wright dengan membagi kisah Alkitab ke dalam lima babak: 1. Penciptaan. Israel. Yesus. Gereja. Eskaton. Lihat Wells di halaman 51-57. Walter Brueggemann. Texts Under Negotiation: The Bible and Postmodern Imagination (Minneapolis: Fortress Pres. , bab 1. Jurnal Amanat Agung dengan hegemoni, objektivitas, konfidensi terhadap rasio murni, dan dominasi kekuasaan maskulin. 42 Pengetahuan baru disebut sebagai pengetahuan dalam dunia modern jika pengetahuan itu bersifat tertulis . ukan ora. , universal . ukan partikula. , umum . ukan loka. , dan timeless . ukan timel. 43 Brueggemann memaparkan penjelasan Stephen Toulmin yang mengatakan bahwa transisi ke pascamodern sebetulnya ialah pembalikan dari proses modernitas, yaitu kembalinya tulisan kepada oral, kembalinya universal kepada partikular, kembalinya umum kepada lokal, dan kembalinya yang timeless kepada yang timely. Krisis objektivitas mulai diperlihatkan dalam berbagai karya tulis, seperti pada buku The Structure of Scientific Revolutions dari Thomas Kuhn. 45 Kuhn berargumentasi bahwa ilmu pengetahuan ternyata tidak lahir sekadar melalui pengumpulan data-data yang kemudian menghasilkan insight baru. Data-data ilmu pengetahuan itu terjadi disusun berdasarkan model/paradigma yang ada di Sebuah teori dapat bertahan jika paradigmanya masih dapat dipertahankan oleh komunitas ilmuwan yang masih memegang kekuasaan. Interes politis dari para ilmuwan itu akan mempengaruhi paradigma ilmu mana yang berlaku pada suatu masa Ae dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak sepenuhnya objektif seperti yang kita kira. Michael Polanyi dalam bukunya Personal Knowledge juga mengatakan bahwa Auknowledge, even scientific knowledge, has a decisive fiduciary element. Ay Pengetahuan mengasumsikan bahwa kita harus percaya kepada pengetahuan yang sudah diketahui oleh orang-orang sebelum kita. dengan kata lain, pengetahuan dalam pengertian tertentu adalah hasil konstruksi manusia, bukan semata-mata objektivitas murni. Richard Rorty lebih Brueggemann, 4. Brueggemann, 5. Brueggemann, 6. Penjelasan tentang Kuhn. Polanyi, dan Rorty dalam paragraf ini diambil dari Walter Brueggemann. Text Under Negotiation, 7-8. Improvisasi dalam Berteologia ekstrim lagi mengatakan bahwa Auobjectivity is an agreement of everyone in the room. Ay Menyadari semua ini. Brueggemann mengatakan bahwa kita tidak bisa melepaskan diri dari semua pergeseran ini, walaupun ia tidak mengajak kita untuk ramai-ramai menjadi pascamodern. mengatakan bahwa kita tidak bisa lagi memakai mentalitas modern yang sarat dengan usaha untuk AumenguasaiAy/Aumengontrol. Ay Sebaliknya, ia mengajak kita untuk menyadari bahwa pengetahuan kita senantiasa: 1. Contextual. Local. Pluralistic. 46 Banyak orang menuduh Brueggemann sebagai penganut relativisme/ nihilisme Ae seolah-olah Auanything goesAy Ae padahal bukan ini yang ia maksud. Menariknya. Brueggemann justru melihat bahwa objek-tivisme sebenarnya ialah ancaman yang lebih besar daripada relavitisme. Objektivisme justru bisa menipu kita secara terselu-bung!47 Brueggemann mengajak kita untuk beralih dari hegemoni modern yang mengklaim objektivitas kepada perspektif lokal yang 48 Pergeseran ini membuat kita memahami bahwa Auknowing consists not in settled certitudes but in the actual work of Ay49 Imajinasi menurutnya ialah Authe human capacity to picture, portray, receive, and practice the world in ways other than it appears to be at first glance when seen through a dominant, habitual, unexamined lens. Ay50 Ia juga mengatakan bahwa Auimagination is a valid way of knowing. Ay51 Dalam konteks inilah penulis melihat bahwa pendekatan improvisasi dalam berteologi dapat menjadi Aujalan keluarAy bagi kebuntuan teologi Injili di Indonesia. Pendekatan improvisasi memberikan ruang bagi kaum Injili di Indonesia untuk mempraktikkan Brueggemann, 9. Brueggemann, 10. Brueggemann, 10. Brueggemann, 12-13. Brueggemann, 13. Brueggemann, 13. Jurnal Amanat Agung imajinasinya demi menghasilkan refleksi-refleksi teologis yang kontekstual. Prinsip AupeziarahAy jika diekstremkan akan menghasilkan teologi Injili yang mandul, karena hanya menjadi sebuah pengulangan dari teologi Barat yang sesungguhnya juga tidak dapat mengklaim hegemoni dirinya sebagai teologi yang universal, objektif, dan berlaku timeless. Pendekatan improvisasi dalam berteologi akan membawa pendulum teologi ke arah tengah, dengan menjaga dialektika antara prinsip AupeziarahAy dan prinsip Aumempribumikan. Ay Dalam konteks Indonesia, pendekatan improvisasi akan membawa kaum Injili lebih giat dalam usaha mempertanggungjawabkan iman Kristen di tengah-tengah pergumulan masyarakat Indonesia yang Dengan kata lain, pendekatan improvisasi akan menghasilkan teologi yang lebih menghargai hal-hal yang bersifat partikular, lokal, dan timely. Kesimpulan Ada beberapa implikasi dari pemahaman tentang improvesasi dalam berteologi bagi kaum Injili di Indonesia: Pertama, improvisasi dalam berteologi menuntut kaum Injili di Indonesia untuk lebih memahami dan mendalami Kanon Kitab Suci, karena Kanon adalah metanarasi yang menjadi otoritas bagi kaum Injili dalam berteologi, untuk melanjutkan Authe unfinished dramaAy menuju kepada babak yang terakhir, final, dan klimaks . itik Pada saat yang sama, improvisasi juga menuntut kaum Injili untuk lebih memahami konteks dimana mereka hidup. Karena itu, studi Alkitab dan teologi tidak lagi dapat dilakukan secara terisolasi, namun harus dilakukan secara interdisipliner dengan memerhatikan pergeseran-pergeseran filsafat dan budaya dalam Improvisasi mengingatkan kaum Injili bahwa teologi tidak boleh hanya berhenti dalam level pemahaman saja, namun harus sampai pada level penerapan. Refleksi teologi yang dihasilkan oleh kaum Injili di Indonesia terhadap Kanon Kitab Suci harus dapat diaplikasikan/diterapkan di dalam konteksnya. Improvisasi dalam Berteologia Kedua, improvisasi dalam berteologi menuntut kaum Injili untuk belajar dari sejarah gereja. Sejarah gereja ialah sejarah bagaimana orang-orang Kristen melakukan improvisasi teologi dalam konteks mereka masing-masing. Dengan mempelajari sejarah gereja dan sejarah teologi, kaum Injili di Indonesia dapat belajar dari keberhasilan dan kegagalan pendahulu-pendahulu mereka dalam melakukan improvisasi. Ketiga, improvisasi dalam berteologi merupakan sebuah proyek komunitas. Improvisasi, seperti diuraikan sebelumnya, bukanlah usaha untuk menjadi orisinil dan bukanlah usaha segelintir orang saja. Dibutuhkan sebuah komunitas yang saling membangun dan saling mengoreksi agar improvisasi teologi Injili dalam konteks Indonesia dapat berhasil. Kaum Injili perlu dengan rendah hati saling belajar satu dengan yang lain, bahkan dengan saudara-saudara mereka dari tradisi teologi yang berbeda. Improvisasi menuntut kaum Injili di Indonesia untuk menjadi pelaku-pelaku teologi, bukan sekadar penikmat-penikmat teologi. Gereja-gereja, lembaga-lembaga Kristen, sekolah-sekolah teologi, penerbit-penerbit Kristen perlu bekerja sama perlu membentuk jejaring yang solid, agar proyek komunitas ini dapat menghasilkan refleksi-refleksi teologis yang nyata kontribusinya bagi permasalahan bangsa. Keempat, improvisasi dalam berteologi merupakan proyek jangka panjang. Dibutuhkan disiplin, ketekunan, dan proses belajar terus-menerus agar kaum Injili di Indonesia semakin skillful dalam melakukan improvisasi, demi mempertahankan identitas dan menyatakan relevansinya dalam konteks pergumulan dan perubahan masyarakat Indonesia.