Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik (JIFFK) Suppl. No. Agustus 2024 Hal. ISSN: 1693-7899 e-ISSN: 2716-3814 ANALISIS KADAR DIFENHIDRAMIN. DEKSTROMETORFAN DAN FENILEFRIN DALAM SIRUP OBAT BATUK MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI Mukti Tri Utomo. Aqnes Budiarti*. Khoirul Anwar FakultasFarmasi Universitas Wahid Hasyim. Semarang. Jawa Tengah *Email: aqnesbudiarti@unwahas. Received: 05-08-2024 Accepted: 18-08-2024 Published:20-08-2024 INTISARI Difenhidramin hidroklorida, dekstrometorfan hidrobromida dan fenilefrin hidroklorida sering dikombinasi untuk mengobati batuk. Kadar ketiga senyawa dalam sirup obat batuk relatif kecil sehingga analisisnya membutuhkan metode yang bersifat simultan dan sensitif, salah satunya adalah metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan metode analisis KCKT yang valid untuk menetapkan kadar difenhidramin, dekstrometorfan dan fenilefrin, mengaplikasikan metode tervalidasi tersebut pada sirup obat batuk serta menentukan kesesuaian kadar ketiga senyawa terhadap persyaratan. Penelitian ini menggunakan KCKT tipe isokratik (Jazc. dengan detektor UV pada 265 nm, fase diam CCACO dan fase gerak campuran dapar fosfat:metanol . :70, v/. dengan laju alir 1,0 mL/menit. Penelitian menghasilkan nilai r= 0,9999 pada uji linieritas ketiga senyawa. Uji sensitivitas menghasilkan nilai LOD dan LOQ difenhidramin adalah 0,395 AAg/mL dan 1,318 AAg/mL. LOD dan LOQ dekstrometorfan adalah 0,642 AAg/mL dan 2,141 AAg/mL. LOD dan LOQ fenilefrin adalah 0,177 AAg/mL dan 0,590 AAg/mL. Uji selektivitas menghasilkan pemisahan yang baik dengan nilai R Ou1,5. Uji presisi menghasilkan nilai %RSD O 2%. Uji akurasi menghasilkan nilai perolehan kembali yang tepat. Kandungan ketiga senyawa dalam tiga sampel sirup batuk memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia. Dengan demikian, metode analisis yang dikembangkan memenuhi persyaratan semua parameter validasi dan dapat diaplikasikan. Kata kunci: Dekstrometorfan, difenhidramin, fenilefrin. KCKT, validasi metode ABSTRACT Diphenhydramine hydrochloride, dextromethorphan hydrobromide and phenylephrine hydrochloride are often combined to treat cough. The levels of the three compounds in cough syrup are relatively small, so the analysis requires simultaneous and sensitive methods, one of which is the High Performance Liquid Chromatography (HPLC) method. The purpose of this study is to develop a valid KCKT analysis method to determine the levels of diphenhydramine, dextromethorphan and phenylephrine, apply the validated method to cough syrup and determine the suitability of the levels of the three compounds to the requirements. This study used an isocratic type KCKT (Jazc. with a UV detector at 265 nm, a CCACO quiescent phase and a mixed motion phase with phosphate: methanol . :70, v/. with a flow rate of 1. 0 mL/min. The study produced a value of r= 0. 9999 in the linearity test of the three compounds. The sensitivity test produced LOD and LOQ values of diphenhydramine 395 g/mL and 1. 318 g/mL. The LOD and LOQ of dextromethorphan were 0. 642 g/mL and 141 g/mL. The LOD and LOQ of phenylephrine were 0. 177 g/mL and 0. 590 g/mL. The selectivity test produced a good separation with an R-value of Ou1. Precision tests yield %RSD values O 2%. Accuracy tests produce precise retrieval values. The content of the three compounds Journal homepage:http:/w. id/publikasiilmiah/index. php/ilmufarmasidanfarmasiklinik ISSN: 1693-7899 in the three cough syrup samples met the requirements of the Indonesia Pharmacopoeia. Thus, the developed analysis method meets the requirements of all validation parameters and can be applied. Keywords: Dextromethorphan, diphenhydramine. HPLC, method validation, phenylephrine Corresponding author: Nama : Aqnes Budiarti Institusi : Universitas Wahid Hasyim Alamat institusi : Jl. Raya Manyaran-Gunungpati. Semarang E-mail : aqnesbudiarti@unwahas. PENDAHULUAN Difenhidramin hidroklorida (DF), dekstrometorfan hidrobromida (DM) dan fenilefrin hidroklorida (FE) sering dikombinasi untuk mengobati batuk pilek. DF merupakan antihistamin yang memiliki sifat sedatif dan anti alergi. DM berkhasiat sebagai penekan batuk akibat iritasi saluran bronkial dan FE berkhasiat untuk meredakan hidung tersumbat (Tjay & Rahardja 2. Kadar ketiga senyawa dalam sediaan sirup batuk relatif kecil sehingga analisis kadarnya membutuhkan metode analisis yang bersifat simultan dan sensitif. Analisis kadar ini diperlukan untuk memastikan kadar tiap senyawa aktif sesuai dengan persyaratan agar berkhasiat sesuai dengan tujuan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) merupakan metode analisis yang mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya adalah simultan, sensitif, cepat dan praktis. Metode analisis KCKT seperti halnya metode analisis yang lain haruslah bersifat valid agar kinerjanya sesuai dengan tujuan Validasi metode analisis dilakukan untuk menjamin metode analisis akurat, spesifik, reprodusibel dan tahan pada kisaran kadar senyawa yang akan di analisis (Gandjar & Rohman 2. Beberapa penelitian telah mengembangkan metode analisis DF. DM dan FE, baik sebagai senyawa tunggal ataupun kombinasi dua senyawa. Namun demikian, belum banyak penelitian yang mengembangkan metode analisis DF. DM dan FE secara simultan dan cepat. Gomez et al. mengembangkan metode analisis DF. DM dan FE menggunakan elektoforesis kapiler. Pengembangan metode KCKT tipe gradien dengan deteksi pada panjang gelombang 264 nm untuk analisis DF. DM dan FE juga telah dilakukan (Sawant & Borkar 2. Penelitian ini menggunakan fase diam C18 dan fase gerak berupa campuran asam sulfonat dan asetonitril. Metode analisis tervalidasi dan dapat diaplikasikan dalam sediaan sirup, namun metode ini membutuhkan waktu analisis yang relatif lama yaitu waktu retensi FE adalah 10 menit. DM adalah 39 menit dan DF adalah 42 menit. Disamping secara teknis harus menggunakan KCKT tipe gradien. Baghel et al. mengembangkan metode KCKT dengan detektor UV pada panjang gelombang 270 nm untuk analisis DM dan FE serta triprolidin. Fase diam yang digunakan adalah C18 dan fase gerak berupa campuran metanol: air . :80, v/. Metode tervalidasi dan dapat diaplikasikan dalam sediaan sirup, namun membutuhkan waktu analisis yang relatif lama yaitu waktu retensi FE adalah 7 menit dan DM pada 29 menit. (Pandey. Alam & Mishra 2. juga mengembangkan metode KCKT isokratik pada panjang gelombang 271 nm untuk analisis DM dan FE serta triprolidin. Fase diam yang digunakan adalah C18 dan fase gerak berupa campuran metanol: tetrahidrofuran: air . :10:20, v/. Metode dapat diaplikasikan dalam sediaan sirup, namun metode tervalidasi sebatas pada parameter presisi, akurasi dan spesifitas. (Heydari 2. mengembangkan metode KCKT pada panjang gelombang 227 nm untuk analisis DM dan FE serta parasetamol dan klorfeniramin. Penelitian menggunakan fase diam C18 dan fase gerak berupa campuran metanol: air . :5, v/. Metode tervalidasi dan dapat diaplikasikan dalam sediaan sirup, namun demikian nilai presisi analisis DM mendekati batas ketelitian 2%. Javed et al. telah mengembangkan dan melakukan validasi metode KCKT untuk analisis DF dalam sediaan sirup pada panjang gelombang 220 nm. Fase diam menggunakan kolom C18 dan fase gerak berupa campuran metanol, air dan trietilamin . :10:50, v/v/. Metode tervalidasi pada semua parameter untuk analisis hanya satu senyawa yaitu DF. (Jaiswal 2. mengembangkan Analisis Kadar DifenhidraminA(Utomo dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 metode KCKT dengan detektor UV pada panjang gelolmbang 220 nm untuk menganalisis kadar DM dan FE serta klorfeniramin dalam sediaan sirup. Fase diam berupa kolom C18 dan fase gerak berupa campuran dapar fosfat dan metanol . :60 v/. Meskipun metode analisis dinyatakan tepat dan selektif namun memiliki rentang linieritas yang relatif sempit untuk analisis DM dan FE yaitu masing-masing pada kisaran 5-15 AAg/mL dan 2,5-7,5 AAg/mL. Berdasarkan latar belakang masalah maka perlu dilakukan pengembangan metode analisis difenhidramin, dekstrometorfan dan fenilefrin yang valid, cepat dan praktis. Validasi meliputi parameter linieritas, spesifitas, sensitivitas, presisi dan akurasi. Fase diam yang digunakan adalah C18 dan fase gerak dioptimasi komposisinya berdasarkan hasil penelitian (Jaiswal 2. yang menggunakan dua pelarut yang banyak tersedia yaitu dapar fosfat dan metanol. Metode analisis yang telah divalidasi ini kemudian diaplikasikan pada sediaan sirup batuk untuk memastikan mutu kadarnya sesuai dengan persyaratan Farmakope Indonesia. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah seperangkat KCKT tipe isokratik (Jazc. dilengkapi detektor UVVis. Pompa (PU 2080 plu. Kolom CCACO (LiChroCART) . x 4AA. Spektrofotometer UV/Vis . 0 Shimadz. Syringe (Hamilto. , pengolah data pada komputer (Ezchrom elit. , membrane filter 0,45 AAm (Nylo. , digital ultrasonic cleaner (Jeke. , mikropipet (Socore. , timbangan analitik (Ohau. , batang pengaduk dan alat-alat gelas (Pyre. Bahan yang digunakan adalah zat standar difenhidramin HCl (Recordati Itali. , dekstrometorfan HBr (DiviAos Laboratories Indi. dan fenilefrin HCl (Spera Nexus Jepan. , aquabidest, metanol serta sampel tiga merek dagang sirup obat batuk yang kemasannya mencantumkan tiap 5 mL mengandung difenhidramin HCl 7,5 mg, dekstrometorfan HBr 10 mg dan fenilefrin HCl 5 mg. Jalannya Penelitian Pembuatan larutan induk Zat standar DF. DMdan FE masing-masing ditimbang 10,0 mg dengan seksama, dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL yang berbeda lalu ditambahkan aquabidest sampai tanda batas hingga diperoleh konsentrasi masing-masing 200 AAg/mL. Penentuan panjang gelombang operasional Larutan induk DE. DM dan FE masing-masing diambil dan diencerkan dengan fase gerak hingga diperoleh konsentrasi masing-masing 6 AAg/mL. Masing-masing larutan discanning panjang gelombangnya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada rentang 200-400 nm. Titik potong ketiga kurva panjang gelombang digunakan sebagai panjang gelombang operasional (Snyder. Kirkland & Glajch 1. Optimasi fase gerak Fase gerak berupa campuran dapar fosfat dan metanol dioptimasi pada tiga perbandingan yaitu: 40:60. 30:70. dan 20:80, v/v. Laju alir yang digunakan adalah 1,0 mL/menit. Fase gerak yang optimum dipilih berdasarkan luas area puncak kromatogram dan nilai resolusi antar puncak (Husnia & Budiarti 2. Pembuatan kurva baku Larutan campuran DF. DMdan FE seri konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 AAg/mL disuntikkan 20 AAL ke dalam sistem KCKT. Data luas area kromatogram dibuat persamaan regresi linier y= bx a, dimana y= luas area kromatogram dan x= konsentrasi. Replikasi sebanyak 3 kali. Persamaan regresi linier yang memiliki nilai r terbesar dipilih sebagai kurva baku. Validasi metode analisis Validasi meliputi parameter linieritas, spesifitas, sensitivitas, ketelitiandan ketepatan. Uji linieritas dilakukan dengan menghitung nilai korelasi . dari persamaan regresi linier kurva baku ketiga senyawa dibandingkan dengan persyaratan uji. Uji sensitivitas atau kepekaan menggunakan persamaan regresi linier dari kurva baku terpilih. Nilai Y dan slope dihitung lalu nilai batas deteksi atau LOD ditentukan berdasarkan persamaan Y= YB 3SB dan nilai batas kuantitasi atau LOQ ditentukan berdasarkan persamaan Y= YB 10SB. Uji selektivitas dilakukan dengan menghitung JIFFK Suppl. No. Agustus 2024 Hal. ISSN: 1693-7899 nilai resolusi (R). antar puncak kromatogram ketiga senyawa lalu dibandingkan dengan persyaratan > 1,5 (Harmita 2. Uji presisi dilakukan dengan cara larutan campuran DF. DM dan FE pada konsentrasi masingmasing 2, 4 dan 6 AAg/mL disuntikkan 20 AAL ke dalam sistem KCKT. Replikasi dilakukan sebanyak 6 kali untuk masing-masing kadar lalu dihitung nilai %RSD. Uji akurasi dilakukan secara metode penambahan baku. Larutan yang mengandung DF. DM dan FE pada kadar tertentu ditambah zat standar DF. DM dan FE pada konsentrasi 80%, 100% dan 120%. Replikasi sebanyak 3 kali selanjutnya dihitung persen perolehan kembalinya (Snyder et al. Penetapan kadar difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr dan fenilefrin HCl Sampel sediaan sirup diambil 1,0 mL dengan mikropipet lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml kemudian dilarutkan dengan fase gerak sampai tanda batas. Larutan sampel dihilangkan gasnya dengan ultrasonikator selama 15 menit kemudian disaring dengan membran filter 0,45 AAm. Larutan 20 AAL dinjeksikan ke dalam sistem KCKT pada panjang gelombang terpilih dengan laju alir 1,0 mL/menit. Replikasi 6 kali (Snyder et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Panjang Gelombang Operasional Panjang gelombang yang digunakan untuk menganalisis difenhidramin hidroklorida (DF), dekstrometorfan hidrobromida (DM) dan fenilefrin hidroklorida (FE) ditentukan berdasarkan titik Titik ini merupakan titik potong ketiga kurva hasil scanning panjang gelombang masing-masing senyawa menggunakan spektrofotometer UV-Vis yang tampak pada Gambar 1. Gambar 1. Kurva scanning panjang gelombang difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr dan fenilefrin HCl Hasil scanning menunjukkan panjang gelombang maksimal DF. DM dan FE masing-masing pada 305, 342 dan 284nm. Titik potong ketiganya atau isobastik diperoleh pada 265 nm sehingga titik ini dijadikan panjang gelombang operasional. Panjang gelombang ini sama dengan panjang gelombang yang digunakan oleh (Jaiswal 2. yang menganalisis DM dan FE. Optimasi Fase Gerak Optimasi fase gerak dilakukan dengan cara merubah komposisi fase gerak pada tiga Cara ini dipilih karena komposisi fase gerak yang optimal dapat memperbesar daya pemisahan antar puncak kromatogram sehingga meningkatkan selektivitas metode dan meningkatkan sensitivitas metode (Snyder et al. Penetapan komposisi fase gerak yang optimum didasarkan pada besarnya nilai resolusi (R) dan luas puncak kromatogram DF. DM dan FE. Nilai resolusi yang memenuhi syarat adalah R Ou1,5 yang menandakan pemisahan baik (Susanti & Dachriyanus 2. Hasil optimasi fase gerak terdapat pada Tabel I. Analisis Kadar DifenhidraminA(Utomo dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Tabel I. Optimasi komposisi fase gerak Fase Gerak (Dapar Fosfat: Metano. 40:60 30:70 20:80 Waktu Retensi . Luas Puncak Kromatogram . 1,667 1,973 2,000 2,083 2,567 2,707 2,803 3,850 3,943 Nilai Resolusi FEDFDF 1,517 1,958 1,425 3,01 3,76 2,87 Ket. Optimum Fase gerak dengan komposisi dapar fosfat dan metanol . :70, v/. menghasilkan nilai pemisahan dan luas area puncak kromatogram paling besar sehingga ditetapkan sebagai fase gerak terpilih untuk analisis. Komposisi fase gerak ini bergeser dari komposisi fase gerak yang digunakan oleh (Jaiswal 2. dengan perbandingan dapar fosfat dan metanol . :60, v/. Kromatogram pada fase gerak terpilih dapat dilihat pada Gambar 2 berikut. Gambar 2. Kromatogram dengan fase gerak dapar fosfat: metanol . :70, v/. Kurva Baku Kurva baku dipilih dari persamaan regresi linier yang diperoleh dari seri konsentrasi larutan campuran DF. DM dan FE pada konsentrasi 2, 4, 6, 8 dan 10 g/mL yang terdapat pada Tabel II. Berdasarkan Tabel II maka dapat diketahui bahwa persamaan regresi linier terbaik diperoleh pada replikasi pertama karena memiliki nilai koefisien korelasi . paling besar untuk ketiga senyawa sehingga terpilih sebagai persamaan kurva baku. Dengan demikian, persamaan kurva baku DF adalah Y= 51608x-52481. DM adalah Y= 87278x-163991. dan FE adalah Y= 61627x-86169. Tabel II. Persamaan kurva baku difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr, dan fenilefrin HCl Replikasi Y= 51608x-52481 r= 0,9988 Y= 919795x-2808 r= 0,9960 Y= 47667x-67289 r= 0,9936 Persamaan Kurva Baku Y= 87278x-163991 Y= 61627x-86169 r= 0,9985 r= 0,9996 Y= 179533x-552415 Y= 121503x-222147 r= 0,9944 r= 0,9979 Y= 100396x-138626 Y= 59183x 0,77331 r= 0,9952 r= 0,9960 Validasi Metode Analisis Validasi metode analisis yang dilakukan ini termasuk dalam kategori 1 yakni validasi metode untuk analisis komponen utama dalam sediaan. Dengan demikian, parameter yang diuji adalah linieritas, sensitivitas, sepesifitas/selektivitas, presisi dan akurasi (Lister 2. Uji linieritas dilakukan dengan mengamati nilai koefisien korelasi . persamaan regresi linier kurva baku yang JIFFK Suppl. No. Agustus 2024 Hal. ISSN: 1693-7899 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga persamaan regresi linier untuk DF. DM dan FE menghasilkan nilai r masing-masing adalah 0,9988, 0,9985 dan 0,9996. Ketiga nilai r memenuhi persyaratan nilai koefisien korelasi . untuk seri 5 titik yakni lebih besar dari 0,99 (Miller & Miller Hal ini menunjukkan kinerja metode mampu memberikan perubahan respon linier dengan perubahan kadar zat yang dianalisis (Harmita 2. Metode untuk analisis DM dan FE yang dihasilkan ini lebih linier dibandingkan metode yang telah dikembangkan oleh (Baghel et al. y ang memperoleh nilai r untuk analisis DM dan DF masing-masing adalah 0,9980 dan 0,9960. Uji sensitivitas metode dilakukan dengan menghitung niIai LOD dan LOQ menggunakan persamaan regresi linier kurva baku. Nilai LOD dan LOQ ini menandakan batas terkecil konsentrasi analit yang masih diizinkan untuk dilakukannya analisis. Semakin kecil nilai LOD dan LOQ maka semakin sensitif suatu metode analisis tersebut (Gandjar & Rohman 2. Nilai LOD dan LOQ yang diperoleh untuk DF adalah 0,395 AAg/mL dan 1,318 AAg/mL. LOD dan LOQ untuk DM adalah 0,642 AAg/mL dan 2,141 AAg/mL, nilai ini lebih sensitif dibandingkan hasil yang diperoleh Pandey et al. dengan LOD dan LOQ adalah 57,50 AAg/mL dan 174,26 AAg/mL. LOD dan LOQ untuk FE adalah 0,177 AAg/mL dan 0,590 AAg/mL, nilai ini juga lebih sensitif dibandingkan nilai yang diperoleh (Pandey et al. dengan LOD dan LOQ untuk FE adalah 37,87 AAg/mL dan 114,77 AAg/mL. Hasil uji selektivitas ditetapkan berdasarkan nilai resolusi (R) antara puncak kromatogram DF. DM dan FE. Uji selektivitas menghasilkan pemisahan yang baik dengan nilai R Ou 1,5 yang dapat dilihat pada Tabel I dan Gambar 3 berikut. Gambar 3. Kromatogram difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr dan fenilefrin HCl Hasil uji presisi metode ditentukan berdasarkan nilai %RSD (Relative Standard Devias. pada data waktu retensi, luas puncak dan tinggi puncak kromatogram. Tabel i menunjukkan hasil uji presisi DF. DM dan FE pada konsentrasi 2, 4 dan 6 g/mL memenuhi persyaratan <2% (Harmita Hasil uji presisi metode ini lebih teliti dibandingkan metode analisis yang dikembangkan oleh yang telah dikembangkan oleh (Heydari 2. yang memperoleh nilai %RSD untuk analisis DF dan FE masing-masing adalah 1,74% dan 1,80%. Tabel i. Presisi metode analisis difenhidramin HCl, dekstrometrofan HBr dan fenilefrin HCl Kadar . /mL) 0,073 0,041 0,012 % RSD 0,032 0,006 0,002 0,053 0,039 0,034 Uji akurasi dilakukan secara metode penambahan zat standar. Hasil uji pada Tabel IV menunjukkan semua nilai perolehan kembali memenuhi persyaratan yakni 98-102% (Lister 2. yang bermakna bahwa metode mampu mengukur kadar ketiga senyawa secara tepat sesuai dengan kadar sebenarnya. Analisis Kadar DifenhidraminA(Utomo dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Tabel IV. Akurasi metode analisis difenhiramin HCl, dekstrometorfan HBr dan fenilefrin HCl Penambahan Baku (%) 100,56 Ae 100,93 100,34 Ae 100,81 100,34 Ae 100,52 Perolehan kembali (%) 100,35 Ae 100,88 100,13 - 100,67 100,12 Ae 100,35 100,43 Ae 100,55 100,17 Ae 100,52 100,17 Ae 100,64 Penetapan Kadar Difenhidramin HCl. Dekstrometorfan HBr dan Fenilefrin HCl Kadar DF. DM dan FE dalam tiga merek dagang sirup batuk ditetapkan berdasarkan luas area puncak kromatogram masing-masing yang diekstrapolasikan ke dalam persamaan regresi masingmasing senyawa. Hasil penetapan kadar dan kandungan DF. DM dan FE dalam ketiga sampel terdapat pada Tabel V. Kadar ketiga senyawa dalam ketiga sampel mendekati kadar yang tercantum pada etiketnya yaitu tiap 5 mL mengandung difenhidramin HCl 7,5 mg, dekstrometorfan HBr 10 mg dan fenilefrin HCl 5 mg. Berdasarkan Tabel V juga diketahui bahwa kandungan ketiga senyawa dalam ketiga sampel masih berada pada rentang kandungan yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia edisi VI (Depkes RI, 2. yaitu 90,0% dan tidak lebih dari 100,0% dari jumlah yang tertera pada etiketnya. Tabel V. Kadar difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr dan fenilefrin HCl dalam sirup obat batuk Sampel Kadar . g/ 5 mL) 7,49 10,05 4,96 7,54 10,01 5,04 7,51 10,08 5,05 Kandungan (%) 99,87 100,50 99,20 100,53 100,10 100,80 100,13 100,80 101,00 KESIMPULAN Metode KCKT yang dikembangkan untuk analisis difenhidramin, dekstrometorfan dan fenilefrin dapat divalidasi pada parameter linieritas, sensitivitas, spesifitas, presisi dan akurasi. Metode tervalidasi ini dapat diaplikasikan untuk menetapkan kadar ketiga senyawa dalam tiga merek sirup obat batuk. Selanjutnya metode analisis ini perlu dikembangkan untuk mendapatkan daya pemisahan yang lebih baik dan menghasilkan kromatogram fenilefrin yang tidak berekor agar penetapan kadarnya lebih tepat. DAFTAR PUSTAKA