https://doi. org/10. 56552/jisipol. A Systematic Literature Review: Pemetaan Dan Pengelolaan Potensi Ekowisata Dalam Peningkatan Kepariwisataan Yang Mendukung Ekonomi Berkelanjutan 1,2,3 Awan Setia Dharmawan, . Mochamad Aan Sugiharto, . TutikSulistyowati Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Muhammadiyah Malan. Email: 1 Setiadharmawan@umm. id, 2 aansugiharto@umm. id, 3Tutiksulistyowati@umm. Abstract Indonesia possesses natural beauty that rivals that of many other countries, making the current trend of utilizing natural potential as a foundation for tourism highly relevant. Ecotourism represents a fusion between industrial interests and environmental conservation, with the hope of promoting economic growth based on environmental However, caution is necessaryAiwhen economic interests intersect with nature, there is a risk of fostering an anthropocentric mindset. Through the diverse natural and environmental resources found across Indonesia, it is hoped that more tourists will be attracted to visit, thereby contributing to the development of local The tourism industry is one of the most dynamic and rapidly growing sectors today. It goes beyond mere travel, offering rich social and cultural experiences gained during the journey. The urgency of this research lies in its effort to develop a formulation for managing and harnessing ecotourism potential to enhance regional tourism. The goal of this study is to establish an effective management formulation and identify the potential of ecotourism in supporting regional tourism development. This research adopts a qualitative method, covering the process from problem formulation to data processing related to the management and potential of ecotourism. A literature review serves as the initial foundation for data collection in this study. The data analysis is conducted using the analytical tool VOSviewer, aimed at transforming data into visual representations or visual analyses. The research results show that there is an influence between the maintenance and management of ecotourism through various existing methods. Keywords: Ecotourism. Tourism. Management. Enhancement. Potential Abstrak Indonesia memiliki keindahan alam yang tidak kalah jauh dengan negara-negara yang lain,maka dari itu trend saat ini adalah memanfaatkan potensi alam untuk menjadi salah satu basis dari pariwisata. Ekowisata merupakan perpaduan antara kepentingan industri dengan pencinta lingkungan, dengan harapan bertumbuhnya perekonomian dengan basis environment sustainability. Tapi kita harus hati-hati, apabila faktor ekonomi sudah bersinggungan dengan alam, maka yang akan muncul adalah sikap Melalui potensi sumber daya alam dan lingkungan yang sangat beragam di Indonesia, harapannya akan menarik banyak wisatawan untuk datang, hal ini juga berdampak pada pengembangan perekonomian di daerah setempat. Industri Pariwisata adalah salah satu sektor yang paling menarik dan berkembang pesat saat ini bukan hanya tentang perjalanan melainkan pengalaman sosial budaya yang didapatkan pada saat melakukan perjalanan wisata. Tujuan Penelitian ini untuk menemukan formulasi pengelolaan dan potensi ekowisata dalam peningkatan kepariwisataan Daerah. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan cakupan dalam penentuan rumusan masalah hingga pengolahan data tentang formulasi Pengelolaan dan Potensi Ekowisata, kajian literatur sebagai landasan awal dalam mengumpulkan data menjadi bagian awal dari riset ini, analisis data 64 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) menggunakan analysis tools berupa Vosviewer yang bertujuan untuk merubah data menjadi gambar/analisis Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh antara pemetaan dan pengelolaan dari ekowisata melalui berbagai cara yang ada. Kata Kunci: Ekowisata. Kepariwisataan. Pengelolaan. Peningkatan. Potensi PENDAHULUAN Berdasarkan laporan yang dikeluarkan World Tourism Organization (WTO), menunjukkan adanya beberapa kecenderungan dan perkembangan baru dalam dunia kepariwisataan yang mulai muncul pada tahun 1990- an. Dengan adanya kecenderungan masyarakat global, regional dan nasional untuk kembali ke alam . ack to natur. (Drumm Alan Moore Andrew Soles Carol Patterson John Terborgh & Drumm Director, n. ), maka minat masyarakat untuk berwisata ke tempat-tempat yang masih alami semakin besar. Ekowisata merupakan sebuah konsep yang mengkombinasikan kepentingan industri kepariwisataan dengan para pecinta lingkungan, sebuah kondisi yang menyebabkan terciptanya partnership dari kedua komponen tersebut, para pecinta lingkungan berasumsi bahwa kegiatan konservasi alam akan berhasil apabila bekerja sama dengan masyarakat lokal setempat. (Kristiono dan Awan Setia D. Kristiono Dwi Susilo, & Setia Dharmawan, 2. Maka konsep mengenai kebersamaan dalam menjaga alam atau menanamkan nilai konservasi lingkungan menjadi dasar atau basis dari ekowisata (Lee & Zhang, 2. Maka dari itu konsep ekowisata datang sebagai jalan keluar yang baru apabila masyarakat mulai merasa jenuh dengan banyaknya ruang simulasi yang berkembang di dunia pariwisata itu sendiri. (KIRTIL & AKUN, 2. Konsep ekowisata pertama kali didengungkan pada konferensi tahunan ke 40 asosiasi perjalanan Asia Pasifik (PATA) oleh presiden WWF, ekowisata pada saat ini menjadi aktivitas ekonomi yang sangat penting yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendapatkan pengalaman mengenai pentingnya memahamai lingkungan sebagai suatu realitas yang tidak bisa kita pisahkan dari setiap perilaku individu, pentingnya konservasi lingkungan,konservasi mengenai keanekaragaman hayati dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana memberikan pengetahuan baru mengenai budaya-budaya lokal yang berada disetiap daerah di Indonesia (Waridin & Astawa, 2. Selain itu keuntungan ekonomi juga memberikan dampak terhadap masyarakat yang tinggal disekitar Lokasi ekowisata banyak penelitian terdahulu yang menemukan bahwa Pengelolaan wisata itu menentukan juga terkait kebaharuan penelitian ini terletak dalam metode yang digunakan yaitu systematic Literature Review, yang bertujuan untuk menemukan pemetaan dan pengelolaan ekowisata, trend riset yang berkembang saat ini dan menemukan tema terbaru tentang penelitian yang ada. Permasalahan penelitian ini terletak pada bagaimana pemetaan melalui analisis Vosviewer untuk menemukan kajian 65 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) tema terbaru dan melihat bagaimana pemetaan dan pengelolaan Ekowisata. Ekowisata dikatakan mempunyai nilai penting terhadap konservasi melalui hal berikut: Memberikan nilai ekonomi bagi daerah yang mempunyai tujuan kegiatan konservasi pada daerah yang dilindungi, 2 Memberikan nilai ekonomi yang dapat digunakan untuk program konservasi, 3. Menimbulkan pendapatan baik langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat sekitar, 4 Dapat mengembangkan konstituen yang mendukung konservasi ditingkat lokal, nasional, dan internasional, 5 Mendorong pemanfaatab Mengurangi keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan ekowisata tersebut. ((Susilo, 2022. ) Kegiatan ekowisata memang bisa memberikan dampak terhadap konservasi lingkungan dan menjaga keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh daerah tersebut, secara tidak langsung penanaman nilai mengenai menghargai alam, menjaga kelestarian alam, dan pentingnya saling menjaga dan menghormati alam akan memberikan dampak yang positif terhadap edukasi wisatawan mengenai pentingya sustainable environment. (Awan Setia Dharmawan & Sasmita, n. Biasanya kegiatan ekowisata berada didaerah tropis yang mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi dan banyak flora dan fauna yang bersifat endemik, sehingga kondisi tersebut rentan terhadap perubahan yang ada. Dari sisi nilai tambah ekowisata, ada kemungkinan dalam implementasi program tersebut apabila tidak direncanakan dengan baik maka akan sebaliknya yang asalnya mendukung terhadap kelestarian lingkungan hidup malah mendorong terjadinya kerusakan lingkungan hidup di daerah tersebut (Rizaldi. Rumanti, & Andrawina, 2. Oleh karena itu dalam pengembangan ekowisata perlu adanya rencana pengelolaan yang mengacu kepada tujuan utama awalnya yaitu mendorong dilakukannya konservasi lingkungan (Awan S Dharmawan, 2. Maka dari itu urgensi mengenai memperbanyak tempat yang bisa digunakan untuk ekowisata sekaligus menjadi edukasi dan perlindungan terhadap flora dan fauna yang ada didalamnya menjadi penting, karena kedepan dengan berkembangnya teknologi dan perubahan yang masih belum bisa di prediksi, keberadaan dan eksistensi lingkungan menjadi rentan akan eksploitasi. (Awan S Dharmawan, 2. Ekspolitasi, pencemaran, pemburuaan hewan liar masih akan sering terdengar hingga kesadaran lingkungan yang salah satunya melalui proses edukasi menjadi poin penting. (Susilo, 2022. terdapat cara agar sustainable tourism development model terdapat beberapa komponen agar kegiatan ekowisata berjalan dengan baik dan berkelanjutan , yaitu keterkaitan antara stakeholders,tourism industry,tourist,local community,pemerintah, non pemerintah dan peneliti. (Kovycs. Vida. Elekes, & Kovalcsik, 2. 66 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) Tujuan kajian artikel ini untuk menemukan tren tema penelitian mengenai ekowisata pada publikasi internasional yang bertujuan untuk memberikan update tema penelitian berbasis literature dan menggunakan analysis tools berupa Vosviewer, selain itu kontribusi penelitian ini untuk pengembangan ilmu terletak pada kebaharuan alat analisis untuk memudahkan peneliti menemukan tema penelitian berupa tren terbaru dalam bidang ekowisata. KAJIAN PUSTAKA Pada umumnya istilah Ekowsita dalam studi sosiologi pariwisata digunakan untuk menggambarkan kondisi alam yang memang menjadi daya Tarik wisatawan baik dalam dan luar negeri (Arida, 2. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari hutan hujan tropis di Kalimantan hingga terumbu karang di Raja Ampat, potensi untuk pengembangan ekowisata sangat besar. Untuk mengoptimalkan potensi ini, diperlukan pemetaan yang akurat dan komprehensif terhadap kawasan-kawasan yang memiliki nilai ekowisata tinggi (Arida, 2. Pemetaan ini mencakup inventarisasi sumber daya alam, identifikasi keunikan biodiversitas, serta penilaian tingkat keberlanjutan lingkungan di setiap lokasi. Pemetaan ekowisata tidak hanya bertujuan untuk mengetahui lokasi-lokasi potensial, tetapi juga untuk merancang strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Dengan data yang tepat, pemerintah daerah, swasta, dan komunitas lokal dapat menentukan zona konservasi, jalur wisata ramah lingkungan, dan fasilitas pendukung yang diperlukan tanpa merusak ekosistem. Teknologi seperti GIS (Geographic Information Syste. dan citra satelit kini banyak digunakan untuk meningkatkan akurasi pemetaan serta membantu pengambilan keputusan berbasis data ilmiah. (I Nyoman Sukma Arida, n. Potensi ekowisata di Indonesia tersebar di berbagai daerah, mulai dari taman nasional seperti Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Lorentz, hingga desadesa adat yang mempertahankan tradisi ramah lingkungan. Setiap daerah menawarkan pengalaman unik, mulai dari observasi satwa liar, snorkeling di ekosistem laut yang kaya, hingga pendakian gunung berapi aktif Ardyantol et al. , n. )Ekowisata juga berperan penting dalam mendukung ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja, promosi budaya lokal, dan pemberdayaan komunitas setempat. Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut secara maksimal, tantangan besar harus diatasi, seperti kurangnya infrastruktur, rendahnya kesadaran lingkungan, dan tekanan terhadap kawasan konservasi. Oleh karena itu, penting adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta dalam merancang dan 67 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) menerapkan strategi pengelolaan ekowisata yang berbasis pada hasil pemetaan yang akurat (Fafurida. Oktavilia. Prajanti, & Maretta, 2. Dengan pendekatan yang terintegrasi, ekowisata di Indonesia dapat berkembang menjadi motor penggerak konservasi sekaligus pilar pembangunan berkelanjutan(Awan S Dharmawan, 2. Pengelolaan Ekowisata memiliki tujuan untuk menemukan konteks berkelanjutan lingkungan/sustainable environment. Melalui indikator partisipasi aktif Masyarakat, komitmen, dampak positif dan negative (Aydin & ynztyrk, 2. bagaimana mengukur partisipasi aktif Masyarakat dalam mendukung program pariwisata di suatu daerah, indikator penunjang kepariwisataan, hal ini sesuai dengan riset. (Cavalcante. Coelho, & Bairrada, 2. bahwa peran pemerintah. Masyarakat local dan pengelolaan wisata itu menjadi 1 bagian yang tidak terpisahkan, sebagai satu kesatuan dalam lingkaran stakeholders perlu ada kolaborasi yang nyata dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan (Harahab. Riniwati. Utami. Abidin, & Wati, 2. menyampaikan bahwa terdapat 3 komponen untuk melakukan design strategi seperti solution oriented strategy, knowledge based, dan priority-setting. Ke 3 komponen tersebut menjadi analisis kunci dalam memberikan saran terhadap pengelolaan industri pariwisata dalam lingkup Makro. Mezo, dan Mikro. Beberapa penelitian terdahulu hanya fokus terhadap pengelolaan saja, misalnya penelitian tentang pengelolaan berbasis komunitas (Saputra. Pegi. Suripto. Syolendra, & Fajri, 2. , dan penelitian dari (Alfiandri & Mayarni, 2. pengelolaan Ekowisata yang memiliki dampak terhadap pemberdayaan masyarakat Kedua penelitian tersebut menggunakan paradigma Community Based Tourism (CBT) dan melihat bagaimana efek komunitas/Masyarakat lokal dalam mempersepsi, bekerja, dan mengembangkan pengelolaan wisata di daerahnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analisis konten dengan pendekatan systematic literature review (SLR) yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan spesifik, yaitu bagaimana praktik ekowisata terhadap pembangunan berkelanjutan yang terpublikasikan pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus pada 3 tahun terakhir, yaitu 2022-2025. Pertanyaan spesifik tersebut dijelaskan melalui sub-sub pertanyaan yang lebih spesifik, yakni: Bagaimana trend publikasi ilmiah dalam topik pemetaan dan pengelolaan potensi ekowisata berdasarkan tahun, author, dan wilayah? Bagaimana sebaran author dan tema kajian berdasarkan sebaran klaster topik publikasi ilmiah pada 3 tahun terakhir, yaitu 2022-2025? Bagaimana trend topik publikasi ilmiah dalam topik ekowisata pada 3 tahun terakhir, yaitu 2022- 2025? Tahapan penelitian di atas dilakukan sesuai protokol PRISMA (Preferred Reporting 68 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) Items of Systematic reviews and Meta-Analyse. , yaitu identifikasi, screening, dan included artikel dari database scopus (Page et al. , 2. Tahap identifikasi adalah berkaitan dengan tahap awal pengambilan data/artikel, yang dilakukan dengan cara, yaitu registrasi akun pada database scopus premium/berbayar. login dengan akun resmi, memasukan kata kunci AuPemetaanAy. AuPengelolaan Au dan Au EkowisataAy pada kolom pencarian artikel pada Pada tahap ini muncul 186 artikel yang kemudian diverifikasi secara ketat, hingga ditemukan duplikasi 58 artikel. Tahap screening, yaitu tahap untuk menentukan jumlah artikel yang terrecord dari database scopus serta sesuai dengan topik kajian yang dipilih, sementara terdapat artikel yang tidak terecord secara baik berkaitan dengan kriteria ilmiah dan kemudahan akses full paper. menentapkan artikel yang mempunyai tingkat relevansi yang kuat serta dapat diakses dalam bentuk file RIS. membuat laporan yang valid dan tepat terkait jumlah artikel yang akan dipilih untuk ditetapkan sebagai referensi review artikel. Tahapan penentuan, yaitu menetapkan 58 artikel yang terferivikasi dan tervalidasi secara ketat. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1. Author Scopus Gambar tersebut menampilkan diagram batang horizontal dari Scopus yang berjudul Documents by author, yang membandingkan jumlah dokumen yang diterbitkan oleh hingga 15 penulis. Grafik ini menunjukkan bahwa semua penulis yang tercantum memiliki jumlah dokumen yang hampir sama, yaitu sekitar 1 dokumen, ditandai dengan panjang batang yang seragam. Beberapa nama penulis yang ditampilkan antara lain Abdelrahman. Abdul Rasam. Abtahee. Acharya. Akbari. serta Akhtar. Hal ini menunjukkan bahwa mereka masing-masing berkontribusi secara setara 69 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) dalam jumlah publikasi yang dimuat dalam basis data Scopus. Skala horizontal grafik menunjukkan jumlah dokumen yang berkisar dari 0 hingga sedikit di atas 1, mempertegas bahwa semua penulis memiliki kontribusi yang sangat serupa, kemungkinan dalam konteks analisis awal atau eksplorasi data publikasi. Grafik ini juga mencantumkan catatan hak cipta dari Elsevier B. , yang menyatakan bahwa Scopus adalah merek dagang terdaftar dari perusahaan tersebut. Gambar ini cocok digunakan sebagai visualisasi awal dalam laporan bibliometrik atau analisis publikasi ilmiah. Gambar 2. Documents per Year Gambar ini berjudul "Documents per year by source" dan menampilkan tren jumlah dokumen dari berbagai sumber publikasi ilmiah antara tahun 2021 hingga 2025. Grafik ini membantu membandingkan produktivitas publikasi per tahun dari hingga 10 sumber berbeda yang tercatat dalam basis data Scopus. Setiap sumber direpresentasikan oleh garis berwarna berbeda, dengan skala vertikal menunjukkan jumlah dokumen dan skala horizontal menunjukkan tahun. Salah satu sumber paling menonjol adalah Sustainability Switzerland . itandai dengan garis biru mud. , yang menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun 2021 hingga 2022, mencapai puncak 4 dokumen, kemudian menurun pada 2023, naik sedikit pada 2024, dan kembali turun di 2025. Sementara itu. Environment Development And Sustainability . aris mera. menunjukkan penurunan tajam dari 5 dokumen di 2021 menjadi hanya 1 dokumen sejak 2023 hingga 2025. Sumber lain seperti Land dan Forest Policy And Economics menunjukkan kontribusi yang lebih stabil namun rendah, masing-masing dengan hanya 1 hingga 2 dokumen selama periode 5 tahun. Sumber Iop Conference Series Earth And Environmental Science tampaknya 70 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) hanya aktif dalam satu atau dua tahun dan tidak memiliki tren yang berkelanjutan. Grafik ini menunjukkan bahwa kontribusi publikasi ilmiah dari berbagai sumber mengalami fluktuasi yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Hal ini bisa mencerminkan dinamika fokus riset, perubahan kebijakan penerbitan, atau prioritas topik dalam bidang keberlanjutan dan lingkungan. Data seperti ini penting untuk mengevaluasi sumber mana yang paling aktif dan relevan dalam mendukung publikasi ilmiah di bidang terkait. Gambar 3. Subject Area Gambar ini menampilkan diagram lingkaran dengan judul "Documents by subject area" yang mengilustrasikan distribusi dokumen berdasarkan bidang subjek di database Scopus. Setiap sektor lingkaran mewakili proporsi dokumen yang berasal dari satu bidang ilmu tertentu, dan persentasenya ditampilkan di samping nama bidang tersebut. Bidang Environmental Science mendominasi dengan persentase tertinggi yaitu 5%, menunjukkan bahwa sebagian besar dokumen dalam analisis ini berasal dari studi yang berfokus pada ilmu lingkungan. Diikuti oleh Social Sciences dengan 22. 1%, serta Earth and Planetary Sciences yang menyumbang 11. 4% dari total dokumen. Ketiga bidang ini secara kolektif menyumbang lebih dari separuh total publikasi. Bidang lain yang juga memiliki kontribusi signifikan meliputi Energy . 4%), Agricultural and Biological Sciences . 7%). Computer Science . 7%), dan Business. Management and Accounting . 7%). Sisanya terdiri dari Economics. Econometrics and Finance . 4%). Engineering . 3%), serta Multidisciplinary . 7%), yang memiliki kontribusi paling kecil. Dari visualisasi ini, dapat disimpulkan bahwa fokus utama dari publikasi yang dianalisis berada pada isu-isu lingkungan dan sosial, menunjukkan kecenderungan riset 71 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) yang mendalam terhadap topik-topik keberlanjutan, perubahan iklim, serta dampaknya terhadap masyarakat. Informasi ini berguna untuk memahami arah prioritas penelitian dalam rentang waktu tertentu. Gambar 4 Documents By Year Gambar ini menunjukkan grafik garis dengan judul "Documents by year", yang memvisualisasikan jumlah dokumen yang diterbitkan setiap tahun dari 2021 hingga 2025. Sumbu horizontal . menunjukkan tahun, sedangkan sumbu vertikal . menunjukkan jumlah dokumen yang diterbitkan pada tahun tersebut. Pada tahun 2021, jumlah dokumen yang diterbitkan mencapai angka tertinggi yaitu 16 dokumen. Namun, pada tahun berikutnya . , terjadi penurunan tajam menjadi hanya 7 dokumen, yang merupakan titik terendah selama periode lima tahun yang dianalisis. Penurunan ini mungkin mencerminkan gangguan dalam produktivitas riset atau perubahan fokus penelitian. Tahun 2023 menunjukkan pemulihan signifikan dengan jumlah dokumen naik menjadi 14, yang kemudian meningkat sedikit pada tahun 2024 menjadi 15 dokumen. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa produktivitas publikasi kembali stabil setelah penurunan sebelumnya. Namun, pada tahun 2025 terlihat penurunan tajam lagi menjadi hanya 6 dokumen. Fluktuasi ini mengindikasikan bahwa produktivitas publikasi tidak konsisten setiap tahunnya dan mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti pendanaan, kolaborasi riset, atau kebijakan penerbitan. Grafik ini bermanfaat untuk mengevaluasi tren produktivitas ilmiah secara tahunan. 72 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) Gambar 5. Density Vosviewer Gambar ini merupakan visualisasi peta kepadatan kata kunci . eyword density ma. yang dihasilkan oleh perangkat lunak VOSviewer. Peta ini menggambarkan frekuensi dan hubungan antara kata kunci yang sering muncul dalam kumpulan dokumen akademik yang dianalisis, kemungkinan besar dalam konteks pariwisata, lingkungan, dan kebijakan publik. Warna yang lebih terang . menunjukkan kata-kata yang lebih sering digunakan, sedangkan warna yang lebih gelap . menunjukkan frekuensi yang lebih rendah. Beberapa kata kunci yang paling menonjol, terlihat dari intensitas warnanya, adalah "tourist", "site", "model", "map", "indicator", "community", dan "literature". Ini menunjukkan bahwa topik utama dalam dokumen yang dianalisis berkaitan erat dengan studi wisatawan, lokasi, pemetaan, serta analisis literatur. Selain itu, kata-kata seperti "ecosystem service", "protected area", dan "local community" menunjukkan fokus pada aspek ekologi dan keterlibatan masyarakat dalam konteks penelitian tersebut. Kata-kata "interview", "survey", "evaluation", "respondent" menunjukkan bahwa pendekatan metodologis yang umum digunakan dalam literatur ini bersifat kualitatif dan kuantitatif, dengan penekanan pada pengumpulan data primer melalui interaksi langsung dengan masyarakat atau pengguna. Hal ini memperkuat dugaan bahwa banyak dari dokumen ini berfokus pada evaluasi kebijakan atau proyek berbasis masyarakat. Secara keseluruhan, peta ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai struktur konseptual dari dokumen yang dianalisis, menyoroti istilah-istilah kunci yang 73 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) paling relevan dan area penelitian yang saling terkait. Visualisasi ini sangat bermanfaat untuk memahami tren riset dan mengidentifikasi celah atau peluang untuk penelitian lebih lanjut di bidang terkait. Apakah Anda ingin saya bantu menyusun ringkasan gabungan dari semua gambar yang telah Anda unggah? Gambar 6. Network Vosviewer Gambar network visualization ini menampilkan pemetaan kata kunci dari publikasi ilmiah terkait, yang dikelompokkan dalam empat klaster warna: biru, hijau, kuning, dan merah. Masing-masing klaster merepresentasikan fokus tematik yang berbeda, dengan node . ata kunc. yang saling terhubung menunjukkan keterkaitan antar konsep dalam literatur. Klaster biru mendominasi dengan topik-topik yang berpusat pada interaksi manusia, seperti *visitor*, *tourist*, *interview*, dan *local community*, yang menunjukkan banyak penelitian dilakukan dengan pendekatan partisipatif, observasional, atau survei langsung terhadap Masyarakat. Klaster hijau terlihat berorientasi pada aspek teknis dan spasial, dengan kata kunci seperti *GIS*, *model*, *map*, dan *indicator*. Ini menandakan bahwa banyak studi menggunakan metode kuantitatif dan pemetaan untuk menganalisis data di lokasi tertentu atau untuk mengembangkan alat bantu pengambilan keputusan. Pendekatan ini sangat penting dalam studi konservasi, pengelolaan kawasan lindung, atau perencanaan ekowisata berbasis data. Sementara itu, klaster kuning menunjukkan perhatian terhadap jasa ekosistem, kebijakan, dan dinamika manusia-lingkungan. Kata kunci seperti *ecosystem service*, *recreation*, *region*, dan *policymaker* menandakan bahwa studi di klaster ini berupaya menjembatani antara penelitian ilmiah dan implementasi kebijakan yang berdampak 74 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) pada pengelolaan sumber daya alam serta pengembangan kawasan konservasi dan wisata berbasis ekosistem. Klaster merah secara unik merepresentasikan pendekatan meta-analisis dan bibliometrik, dengan kata kunci seperti *literature*, *bibliometric analysis*, *researcher*, dan *publication*. Klaster ini mengindikasikan adanya perhatian untuk mengevaluasi perkembangan dan tren literatur itu sendiri, baik dari sisi jumlah publikasi, penyebaran geografis, maupun fokus tematik. Ini penting untuk memahami arah perkembangan keilmuan dan memetakan potensi kolaborasi lintas negara dan disiplin. Gambar 7. Overlay Vosviewer Gambar overlay visualization dari VOSviewer ini menyajikan dimensi temporal dari kata kunci yang digunakan dalam publikasi, dengan gradasi warna dari ungu . ebih awal, sekitar tahun 2. hingga kuning . ebih baru, sekitar tahun 2. Warna pada node menunjukkan rata- rata tahun kemunculan istilah tersebut, sehingga memungkinkan kita mengidentifikasi topik- topik yang baru berkembang dibandingkan dengan yang sudah Terlihat bahwa istilah seperti "government," "evaluation," dan "protected area" didominasi warna ungu kebiruan, menandakan bahwa istilah-istilah ini lebih banyak digunakan dalam publikasi awal. Hal ini mencerminkan bahwa pada fase awal, penelitian lebih fokus pada aspek kebijakan dan evaluatif, serta wilayah konservasi sebagai objek studi utama. 75 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) Sementara itu, kata kunci seperti "bibliometric analysis," "literature," "publication," dan "scope" ditandai dengan warna hijau cerah menuju kuning, menunjukkan bahwa pendekatan bibliometrik dan analisis literatur menjadi tren yang muncul atau meningkat dalam dua tahun terakhir . 4Ae2. Ini mengindikasikan adanya peningkatan perhatian terhadap evaluasi struktur ilmiah itu sendiri dan bagaimana literatur berkembang secara sistematik. Selain itu, kata kunci seperti "accessibility," "demand," dan "ecosystem service" juga tampil dengan warna lebih terang, yang menunjukkan pergeseran fokus terbaru ke arah studi yang lebih aplikatif dan kontekstual, terutama terkait dengan layanan ekosistem dan keterjangkauan wilayah. Pergeseran ini mencerminkan evolusi penelitian dari pendekatan konseptual menuju implementatif dan berbasis kebutuhan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan. PENUTUP Sebagai penutup, pemetaan dan pengelolaan potensi ekowisata memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan sektor pariwisata yang berorientasi pada keberlanjutan ekonomi. Dengan memanfaatkan pendekatan berbasis data seperti analisis spasial dan bibliometrik, pemangku kebijakan dan pelaku wisata dapat mengidentifikasi area yang memiliki nilai konservasi tinggi sekaligus potensi ekonomi dari aktivitas wisata berbasis alam. Hal ini memungkinkan penyusunan strategi pengembangan yang seimbang antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Lebih jauh, pengelolaan ekowisata yang terencana dan partisipatif membuka ruang bagi komunitas lokal untuk menjadi pelaku utama dalam pembangunan Melalui keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan, evaluasi, dan pemanfaatan kawasan wisata, tercipta rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi terhadap sumber daya alam dan budaya setempat. Selain itu, diversifikasi aktivitas wisata yang berkelanjutan dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan lokal, serta memperkuat ketahanan ekonomi wilayah. Dengan demikian, integrasi antara pemetaan potensi, pelibatan pemangku kepentingan, dan pengelolaan berkelanjutan menjadi fondasi penting membangun ekowisata sebagai penggerak ekonomi hijau. Pendekatan ini tidak hanya menjamin keberlangsungan sumber daya alam, tetapi juga menciptakan model pembangunan pariwisata yang adaptif, inklusif, dan mampu menjawab tantangan global 76 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |Volume 7 | Nomor . Agustus 2025 | (Hal. Lisensi: Lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 Internasional (CC BY) seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Ekowisata yang dikelola secara bijak akan menjadi pilar penting bagi masa depan pariwisata yang berkelanjutan dan DAFTAR PUSTAKA