STIKes Mitra Keluarga Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Jurnal Mitra Vol. Masyarakat No. , pp. 50 (JMM) Ae 59 e-ISSN 2774-7883 . Vol. No. Desember 2025. Hal. 50 Ae 59 Available online at: http://jmm. id/index. php/jmm Penyuluhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Upaya Pencegahan Karies Balita Di Posyandu Flamboyan Kiren Manubulu1. Nathalea Layadi2. Yona Jane Nanda3 . Freddy Agamonanza4* 1,2,3Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Pelita Harapan. Tangerang. Banten. Indonesia 4Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Pelita Harapan. Tangerang. Banten. Indonesia *freddy. agamonanza@uph. INFORMASI ARTIKEL Article history Submitted: 26 Ae 11 Ae 2025 Accepted: 17 Ae 12 Ae 2025 Published: 31 Ae 12 Ae 2025 DOI : https://doi. org/10. 47522/jmm. Kata kunci: Penyuluhan. Keywords: Education. ABSTRAK Karies gigi merupakan penyakit tidak menular paling umum secara global dan banyak dialami oleh anak usia dini. Berdasarkan survei awal di wilayah Puskesmas Jalan Kutai, ditemukan tingginya angka karies pada balita yang dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan orangtua, kebiasaan menyikat gigi yang kurang tepat, serta tingginya konsumsi gula. Kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orangtua mengenai kesehatan gigi dan mulut sebagai upaya pencegahan karies pada balita melalui penyuluhan terstruktur di Posyandu Flamboyan. Metode kegiatan meliputi analisis situasi, ceramah interaktif, pembagian leaflet, demonstrasi perawatan gigi anak, serta evaluasi pre-test dan posttest. Efektivitas penyuluhan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan nilai p < 0,05 sebagai batas signifikansi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan kenaikan skor rata-rata post-test dibandingkan pre-test serta persentase jawaban benar yang meningkat pada sebagian besar indikator pengetahuan. Peserta juga menunjukkan antusiasme melalui tanya jawab dan diskusi aktif, didukung oleh penggunaan media edukatif yang menarik. Dengan demikian, penyuluhan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman orangtua mengenai pencegahan karies dan berpotensi berkontribusi pada perubahan perilaku kesehatan gigi balita di masyarakat. Program ini direkomendasikan untuk dilanjutkan secara berkala melalui kolaborasi antara puskesmas, kader, dan institusi pendidikan kesehatan. ABSTRACT Dental caries is the most common non-communicable disease globally and is prevalent in young children. A preliminary survey at the Jalan Kutai Community Health Center (Puskesma. found high rates of caries in toddlers, influenced by low parental knowledge, improper tooth- brushing habits, and high sugar consumption. This Community Service counseling at the Flamboyan Integrated Health Post (Posyand. The activity methods included situational analysis, interactive lectures, leaflet distribution, demonstrations of children's Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 dental care, and pre- and post-test evaluations. The effectiveness of the counseling was analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test with a p-value <0. 05 as the significance limit. The results showed a significant increase in knowledge, indicated by an increase in the average post-test score compared to the pre-test and an increase in the percentage of correct answers for most knowledge indicators. Participants also demonstrated enthusiasm through active Q&A sessions and discussions, supported by the use of engaging educational media. Thus, this counseling has proven effective in improving parental understanding of caries prevention and has the potential to contribute to changes in toddler dental health behavior in the community. This program is recommended to be continued periodically through collaboration between community health centers, cadres, and health education institutions. PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu bagian penting dari kesehatan tubuh yang sering diabaikan oleh masyarakat. Masalah gigi dan mulut terutama infeksi karies menjadi salah satu penyakit kronis yang sering ditemui pada anak-anak. Secara global, penyakit ini mempengaruhi 530 juta anak-anak dan 2,3 miliar orang dewasa. Karies gigi adalah penyakit multifaktorial, tidak menular, dimediasi oleh biofilm, dipengaruhi oleh pola makan, dan bersifat dinamis yang menyebabkan kehilangan mineral pada jaringan keras gigi. Faktor lingkungan, perilaku, psikologis, dan biologis semuanya mempengaruhi penyakit ini. Lesi karies terbentuk pada jaringan keras gigi sebagai hasil dari proses ini. Ekosistem kompleks yang terdiri dari bakteri dan matriks ekstraseluler disebut biofilm. Rongga mulut mengandung sekitar 800 jenis bakteri yang Lingkungan asam yang dihasilkan oleh biofilm, kaya akan karbohidrat, menyebabkan permukaan gigi kehilangan mineral, suatu proses yang disebut Konsumsi banyak gula dan lingkungan asam mengubah keseimbangan bakteri baik di mulut, menyebabkan campuran mikroba yang tidak sehat. Hal ini memungkinkan bakteri berbahaya seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus untuk berkembang biak lebih banyak (Laudenbach & Kumar, 2. Menurut World Health Organization (WHO), karies gigi . uga dikenal sebagai kerusakan gigi atau gigi berluban. adalah penyakit tidak menular (PTM) yang paling umum di seluruh dunia, yang memengaruhi 2,5 miliar orang (WHO, 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan gigi yang dilakukan pada SKI 2023 mencapai 82,8%. Anak usia dini rentang usia 5-9 tahun mengalami karies sebanyak 84,8% dan sisanya 15,2% tidak mengalami karies. Kunci keberhasilan penanganan karies ditentukan pada tata laksana secara multidisiplin yang melibatkan pasien dan keluarga serta peran tenaga kesehatan. Selain itu, aspek kualitas pertumbuhan dan perkembangan manusia di 1000 hari pertama kehidupan menentukan kualitas jaringan keras gigi di masa anak hingga dewasa (Kemenkes, 2. Berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh mahasiswa di beberapa posyandu dan sekolah cakupan puskemas Jalan Kutai masih banyak anak dan balita yang mengalami karies gigi. Faktor penyebab diantaranya kurangnya kemampuan menggosok gigi yang benar, konsumsi gula terlalu banyak khususnya pada saat malam hari, tidak membiasakan anak menggosok gigi sajak awal gigi pertama tumbuh dan kurangnya Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 pengetahuan orangtua tentang cara menjaga kesehatan gigi dan mulut anak dengan Hal ini menjadi masalah yang lebih serius mengingat efek jangka panjang dari karies yaitu kondisi rongga gigi yang meningkat dan gigi berlubang yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas anak. Oleh sebab itu penyuluhan kesehatan gigi dan mulut sebagai upaya pencegahan karies pada balita merupakan kegiatan yang relevan, tepat sasaran, dan berkontribusi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya dalam kelompok usia dini yang menjadi dasar pembentukan perilaku hidup sehat di masa depan. METODE Sebelum penyuluhan dilakukan, tim melaksanakan analisis situasi melalui observasi lapangan, wawancara singkat dengan kader dan orangtua, serta pengumpulan data dari puskesmas untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi anak dan kebiasaan menyikat gigi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan orangtua tentang tandatanda karies masih rendah, kebiasaan menyikat gigi belum tepat, pemanfaatan layanan kesehatan gigi kurang optimal, dan media edukasi belum tersedia secara memadai. Sebagai solusi, tim PKM melaksanakan penyuluhan dengan materi sederhana, membagikan leaflet edukatif, serta melakukan pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan. Selain itu, peserta diberikan satu set sikat gigi untuk mendorong praktik kesehatan gigi yang baik di rumah. Efektivitas penyuluhan diukur melalui perbandingan skor pre-test dan post-test menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Nilai mean A SD dihitung untuk melihat distribusi pengetahuan peserta. Hasil dianggap signifikan jika p < 0,05, yang menunjukkan peningkatan pengetahuan setelah Adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai berikut: Perkenalan tim PKM dengan peserta penyuluhan. Mengerjakan soal sebelum penyuluhan dimulai untuk mengetahui pengetahuan peserta dan mengetahui tingkat keberhasilan penyuluhan pada masyarakat. Penyampaikan materi oleh mahasiswa dan pembagian leaflet edukatif berisi panduan menjaga kesehatan gigi dan mulut serta pertanda karies pada gigi anak. Sesi tanya jawab antara peserta dan mahasiswa. Mengerjakan soal setelah penyampaian materi untuk mengetahui tingkat keberhasilan edukasi penyuluhan yang dilakukan oleh mahasiswa. Memberikan set sikat gigi kepada peserta . yang sudah mengikuti kegiatan hingga selesai dan pembagian snack kepada orangtua anak atau pendamping. Teknik penyuluhan dilakukan dengan cara penyampaian ceramah interaktif disertai dengan tanya jawab untuk membantu masyarakat memahami materi yang disampaikan dengan baik selama 60 menit. Penyampaian materi penyuluhan dilakukan dengan pembagian media leaflet berisi informasi tentang cara menjaga kesehatan gigi dan mulut serta pertanda karies pada gigi anak. Materi serta media edukasi yang disampaikan berpedoman pada beberapa poin berikut: Karies gigi adalah penyakit multifaktorial, menular, dan dapat ditularkan yang disebabkan terutama oleh Streptococcus mutans. Penyakit ini berkembang melalui Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 interaksi bakteri karies dalam biofilm gigi dengan karbohidrat yang dapat difermentasi, yang menghasilkan asam dan menurunkan pH plak di bawah 5,5, sehingga memicu demineralisasi email. Karies terjadi ketika demineralisasi melebihi proses remineralisasi alami, yang merupakan proses lambat yang dapat memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Air liur membantu mencegah karies dengan membersihkan sisa makanan, menetralkan asam, dan menyediakan mineral untuk perbaikan email, setelah keseimbangan pulih setelah serangan asam, proses remineralisasi dapat membuat gigi tidak aktif terhadap karies. Konsumsi makanan - makanan manis, makanan kaya karbohidrat, dan minuman manis, memainkan peran penting dalam terjadinya karies gigi pada anak-anak (Daud & Said, 2. Pemberian susu dalam botol dot yang berkepanjangan, terutama dengan cairan manis, meningkatkan risiko karies gigi pada bayi dan anak-anak. Ketika anak-anak tertidur dengan botol yang berisi susu, formula, jus, atau minuman manis, karbohidrat yang dapat difermentasi menumpuk di sekitar gigi dan menjadi sumber energi bagi bakteri penghasil asam. Aliran air liur yang berkurang selama tidur melemahkan kemampuan alami mulut untuk menetralkan asam dan meregenerasi email, sehingga proses demineralisasi dapat berkembang menjadi lubang gigi. Pemanis seperti gula, madu, dan sirup jagung semakin mempercepat proses ini. Seiring waktu, kondisi ini dapat merusak kesehatan mulut dan kesehatan secara keseluruhan pada anak (Kusuma et al. , 2. Mengetahui frekuensi minimal sikat gigi adalah 2 kali dalam satu hari, serta menggunakan pasta gigi dengan kandungan fluoride (Kemenkes, 2. Direkomendasikan untuk menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur (Chhaliyil et al. , 2. Gusi, lidah, dan bagian dalam mulut bayi dapat dibersihkan menggunakan kain bersih, kasa, atau tisu khusus. Ketika gigi pertama muncul, anak dapat diperkenalkan pada sikat gigi. Terdapat berbagai jenis sikat gigi yang tersedia di pasaran, mulai dari bahan dan jumlah bulu sikat, ukuran, dan desain kepala sikat, hingga bentuk Untuk anak-anak, disarankan menggunakan sikat gigi dengan bulu yang lembut, kepala sikat yang lebih kecil, dan pegangan yang lebih tebal agar lebih mudah digenggam. Desain berwarna-warni atau karakter kartun juga sering digunakan untuk menarik minat anak-anak (Dwimega, 2. Cara sikat gigi yang benar pada anak, dengan cara meletakkan kepala sikat pada gigi dengan sudut 45A ke arah mulut atau gusi, lalu gerakkan secara melingkar di semua permukaan gigi. Sikat bagian depan, samping kanan dan kiri, serta bagian geraham yang digunakan untuk mengunyah agar tidak ada sisa makanan tertinggal, pada bagian dalam gigi, posisikan sikat secara vertikal dan lakukan gerakan melingkar Terakhir, jangan lupa menyikat lidah untuk membantu membersihkan bakteri dan menyegarkan napas (Futri et al. , 2. Teknik flossing telah terbukti efektif dalam mengurangi pembentukan plak di antara gigi, yang merupakan faktor utama penyebab karies (Sutrisman et al. , 2. Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan PPKM Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut sebagai upaya pencegahan karies pada balita di Posyandu Flamboyan telah dilaksanakan dengan lancar dan sukses. Kegiatan ini dimulai dengan proses koordinasi yang baik dengan pihak puskesmas, dilanjutkan dengan pembuatan proposal yang komprehensif, persiapan media penyuluhan yang menarik dan edukatif, penentuan sasaran atau peserta yang tepat, serta penentuan waktu kegiatan yang strategis. Pada hari pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilakukan dalam empat sesi yang terstruktur, yaitu: sesi pertama pre -test untuk menilai pengetahuan awal peserta tentang kesehatan gigi dan mulut, sesi kedua pemaparan materi dan tanya jawab yang interaktif dan edukatif, sesi ketiga pengisian post-test untuk menilai efektivitas penyuluhan dan peningkatan pengetahuan peserta, dan sesi keempat pembagian sikat gigi kepada anak-anak sebagai upaya praktis dan simbolis untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Gambar 1. Penyampaian materi. Media edukasi dalam bentuk leaflet. Pengisian pre-test. Pengisian post-test. Sesi foto Bersama Grafik Hasil Jawaban Benar Kuesioner Persentase Pre Test Post Test 10 11 12 13 14 15 Jumlah soal Gambar 2. Grafik Hasil Jawaban Benar Pre-test dan Post-test dari 24 peserta Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 Pelaksanaan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada balita di Posyandu Flamboyan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan setelah intervensi, dan hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung yang berperan selama kegiatan berlangsung. Salah satu faktor paling berpengaruh adalah dukungan dan kolaborasi lintas sektor, terutama koordinasi dengan puskesmas, yang membantu memperlancar perizinan, menyediakan fasilitas, serta memastikan peserta hadir dengan jumlah yang cukup. Integrasi penyuluhan ke dalam layanan kesehatan primer seperti ini juga telah dibuktikan dalam studi komunitas sebagai strategi efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai kebersihan gigi dan mulut anak (Petersen, 2. Selain dukungan kelembagaan, penggunaan media edukasi yang menarik seperti leaflet dan alat peraga turut memberikan kontribusi besar. Media visual memungkinkan peserta memahami materi dengan lebih cepat karena informasi diserap melalui pengalaman multisensorik. Penelitian menunjukkan bahwa leaflet secara signifikan meningkatkan pengetahuan ibu mengenai kesehatan anak, baik dalam konteks gizi maupun kesehatan gigi dan mulut (Oktaviani et al. , 2. Dalam penyuluhan ini, manfaat tersebut tercermin melalui antusiasme peserta yang aktif bertanya dan berdiskusi, menunjukkan bahwa keterlibatan kognitif dan emosional mereka cukup Keterlibatan seperti ini sangat penting karena literatur menyebutkan bahwa interaksi aktif meningkatkan peluang internalisasi pesan kesehatan (Nubatonis & Ayatulah, 2. Relevansi materi dengan kebutuhan nyata sehari-hari juga memperkuat keberhasilan penyuluhan. Ibu balita cenderung menerima informasi dengan lebih baik ketika materi berkaitan langsung dengan pengalaman mereka, seperti teknik menyikat gigi, jenis makanan pemicu karies, dan kebiasaan tidur dengan botol. Pendekatan berbasis kebutuhan ini sesuai dengan rekomendasi berbagai studi yang menekankan pentingnya kesesuaian konteks dalam promosi kesehatan (Nubatonis & Ayatulah, 2. Keberhasilan program diukur menggunakan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan sebelum dan setelah dilakukannya penyuluhan kepada sasaran program. Indikator pengetahuan yang diukur dalam kuesioner adalah: Mengetahui frekuensi minimal sikat gigi adalah 2 kali dalam satu hari. Mengetahui waktu yang tepat menyikat gigi balita, yaitu pagi setelah makan dan malam sebelum tidur. Mengetahui cara sikat gigi yang baik dan benar pada balita. Mengetahui standar sikat dan pasta gigi yang digunakan pada balita. Menghindari jenis makanan ataupun minuman yang perlu dibatasi dalam menjaga kesehatan gigi balita. Indikator keberhasilan program ini yaitu lebih dari 85% sasaran program menjawab dengan benar pada kuesioner setelah dilakukan penyuluhan. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari persentase jawaban benar kuesioner terdapat 6 total soal kuesioner . omor soal 1, 3, 4, 8, 12, dan . yang mengalami peningkatan dari yang kurang 85% menjadi lebih dari 85% dan 5 total soal kuesioner . omor soal 5, 10, 11, 13, dan . yang memiliki persentase >85% dari pre-test dan post-test. Kelima indikator Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 pengetahuan tercantum pada soal kuesioner nomor 1, 2, 3, 4, 5, 8, dan 11. Sehingga dapat dikatakan bahwa indikator pengetahuan yang diukur dalam kuesioner telah Meskipun terdapat beberapa soal kuesioner yang belum mencapai minimal persentase untuk dikatakan berhasil, terdapat 2 soal kuesioner . omor soal 2 dan . yang mengalami peningkatan jawaban benar. Tabel 1. Skor Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Penyuluhan Terkait Kesehatan Gigi dan Mulut Variabel Total (%) Mean (%) A SD p-value Pre-test Post-test 53 A 21. 47 A 13. p = 0. Ket: Jumlah sampel dalam yaitu sebanyak 24 dan uji yang dilakukan adalah uji wilxcon Peningkatan pengetahuan peserta diperkuat oleh hasil analisis pre-test dan posttest. Nilai rata-rata pre-test sebesar 77,53 A 21,93 meningkat menjadi 89,47 A 13,85 pada post-test, dengan total nilai meningkat dari 1163 menjadi 1342. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0. 001, yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah penyuluhan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa penyuluhan menggunakan ceramah interaktif dan media visual dapat meningkatkan pengetahuan secara bermakna pada kelompok ibu balita (Fatimah et al. Dengan demikian, pemilihan metode dan media edukasi dalam kegiatan ini terbukti efektif. Namun demikian, keberhasilan jangka pendek tersebut perlu dikaji dengan mempertimbangkan beberapa faktor penghambat. Perbedaan latar belakang pendidikan peserta, misalnya, membuat kemampuan memahami materi menjadi bervariasi. Leaflet kurang efektif bagi peserta dengan kemampuan membaca rendah, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian yang menekankan pentingnya literasi terhadap keberhasilan media cetak (Jannah & Timiyatun, 2. Selain itu, kebiasaan lama seperti pemberian susu botol saat tidur merupakan perilaku yang sulit diubah hanya dengan satu kali penyuluhan. Studi-studi sebelumnya juga menegaskan bahwa perubahan perilaku jangka panjang membutuhkan intervensi berulang dan pendampingan yang konsisten (Petersen, 2. Keterbatasan waktu juga menjadi hambatan yang nyata. Walaupun ceramah dan leaflet efektif untuk meningkatkan pengetahuan, metode ini kurang optimal dalam memfasilitasi penguasaan keterampilan praktis, seperti demonstrasi teknik menyikat gigi pada anak. Penelitian lain menunjukkan bahwa media audiovisual atau demonstrasi langsung lebih unggul dalam meningkatkan keterampilan dibanding media statis seperti leaflet (Hidayat et al. , 2. Gangguan lingkungan, seperti kehadiran balita yang aktif dan membuat ibu kurang fokus, juga turut memengaruhi efektivitas penyampaian Selain faktor penghambat tersebut, terdapat pula keterbatasan dalam desain kegiatan yang perlu dicatat. Tidak adanya pengukuran jangka panjang membuat keberlanjutan perubahan perilaku belum dapat dipastikan. Banyak penelitian Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 menyatakan bahwa follow-up sangat penting untuk memastikan bahwa pengetahuan benar-benar berubah menjadi perilaku nyata, seperti menyikat gigi rutin dua kali sehari atau mengurangi makanan manis (Petersen, 2. Evaluasi yang berfokus pada pengetahuan, tanpa verifikasi praktik langsung, dapat Selain itu, jumlah peserta yang terbatas yaitu 24 ibu balita dan berasal dari satu lokasi membuat hasil yang diperoleh terbatas untuk digenarilisasi. Hali ini, karena setiap posyandu memiliki karakteristik sosial dan budaya berbeda, sehingga diperlukan studi lanjutan dengan sampel lebih besar dan beragam untuk memperkuat kesimpulan. Secara keseluruhan, meskipun penyuluhan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan peserta dalam jangka pendek, perubahan perilaku jangka panjang masih membutuhkan strategi tambahan seperti penyuluhan berkala, demonstrasi langsung, penggunaan media audiovisual, serta pendampingan rumah. Dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, diharapkan peningkatan pengetahuan dapat benar-benar terwujud menjadi perilaku kesehatan gigi dan mulut yang lebih baik pada KESIMPULAN Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa penyuluhan berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran orang tua, khususnya ibu balita, tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai upaya pencegahan karies sejak usia dini. Keberhasilan ini terlihat dari peningkatan skor pengetahuan berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Nilai rata-rata pre-test sebesar 77,53 A 21,93 meningkat menjadi 89,47 A 13,85 pada post-test. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p = 0. 001, yang menandakan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah penyuluhan diberikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa metode ceramah interaktif dan penggunaan media visual mampu meningkatkan pengetahuan ibu balita secara bermakna. SARAN kegiatan penyuluhan dapat ditingkatkan dengan menambahkan metode demonstrasi langsung, seperti demonstrasi cara menyikat gigi yang benar menggunakan model gigi edukasi, agar peserta lebih mudah memahami teknik secara tepat. Selain itu, pemanfaatan media audiovisual berupa video edukasi singkat juga sangat dianjurkan karena dapat membantu peserta mempelajari keterampilan praktis dengan lebih efektif dibandingkan ceramah atau leaflet. Berdasarkan temuan di lapangan, kegiatan lanjutan seperti kampanye AuBebas Dot di Malam HariAy juga penting dilakukan mengingat masih banyak anak yang terbiasa minum susu menggunakan dot sebelum tidur, yang dapat meningkatkan risiko karies gigi. Guna memastikan perubahan perilaku berlangsung secara berkelanjutan, diperlukan tindak lanjut berupa pendampingan dan monitoring jangka panjang, termasuk evaluasi praktik menyikat gigi secara langsung. Selain itu, penyuluhan mendatang dapat diperluas ke posyandu lain dengan jumlah peserta yang lebih besar agar hasilnya lebih representatif. Pengaturan lingkungan yang lebih kondusif, seperti menyediakan area bermain kecil untuk balita, juga dapat membantu Jurnal Mitra Kesehatan (JMM) Vol. No. , pp. 50 Ae 59 meningkatkan fokus ibu selama mengikuti kegiatan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan penyuluhan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menghasilkan perubahan perilaku yang lebih nyata dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Tim PKM mengucapkan terima kasih kepada orangtua dan adik Ae adik partisipan Posyandu Flamboyan, serta pihak Puskesmas Jalan Kutai. Kecamatan Kelapa Dua. Kabupaten Tangerang, atas bantuan dan dukungan selama proses berlangsungnya kegiatan penyuluhan ini. DAFTAR PUSTAKA