Ni Kadek Candra Purani1,I Ketut Dedi Agung Susanto Putra2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 ANALISIS KESIAPAN GURU DALAM PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SDN 2 CEMPAGA Ni Kadek Candra Purani1. I Ketut Dedi Agung Susanto Putra2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. ITP Markandeya Bali. Bangli. Indonesia candrapurani77920@gmail. com, agungdedi04@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan guru SD dalam penerapan kurikulum Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 2 orang yang merupakan guru kelas 1 dan kelas 4 di SD N 2 Cempaga. Instrumen yang digunakan yaitu berupa pedoman wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, yaitu merangkum hasil data wawancara yang sudah dideskripsikan. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada secara keseluruhan guru masih belum siap dalam menerapkan kurikulum merdeka. Masih kurang pemahaman terkait struktur kurikulum merdeka dan masih perlu pelatihan terkait penyusunan modul ajar serta penialaian pembelajaran pada kurkulum Kata kunci : Kesiapan Guru. Kurikulum Merdeka Abstract This study aims to determine the readiness of elementary school teachers in implementing the independent curriculum. This type of research is descriptive qualitative. The subjects in this study amounted to 2 people who are grade 1 and grade 4 teachers at SD N 2 Cempaga. The instruments used are in the form of interview guidelines and documentation. The data analysis used in this study is qualitative data analysis, which summarizes the results of the interview data that have been described. The results of this study indicate that overall teachers are still not ready to implement an independent There is still a lack of understanding regarding the structure of the independent curriculum and training regarding the preparation of teaching modules and assessment of learning in the independent curriculum is still needed. Keywords : Teacher Readiness. Independent Curriculum PENDAHULUAN Pendidikan adalah salah satu factor yang mendukung kemajuan dari suatu bangsa. Warga Indonesia berhak mendapatkan Pendidikan yang akan menjadi jalan mengubah nasib pembangunan pendidikan di zaman yang terus berkembang ini dapat dilihat dari peningkatan kualitas dalam berbagai jenjang pendidikan termasuk sekolah dasar (SD) (Nisa et al. , 2. Pemerintah memberikan perhatian serius pada bidang pendidikan karena kemajuan suatu negara dimulai dari bidang pendidikan. Peningkatan anggaran pendidikan membuat suatu kebijakan peningkatan mutu pendidikan dengan mengatasi berbagai persoalan pendidikan di tingkat dasar, menengah, dan tinggi. Hal tersebut bertujuan untuk memperbaiki mutu pendidikan agar dapat bersaing dengan Negara lain. Banyak usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk peningkatan kualitas dari jenjang pendidikan. Adapun salah satunya adalah dengan adanya beberapa perubahan kurikulum. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaanpendidikan. Selain itu Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Candra Purani1,I Ketut Dedi Agung Susanto Putra2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 menurut Sanjaya . kurikulum tersebut dibentuk sebagai upaya mencapai tujuan pendidikan, yaitu mempersiapkan generasi penerus bangsa yang dapat hidup bermasyarakat. Kurikulum juga dapat dikatakan sebagai dasarproses kegiatan belajar mengajar. Kurikulum dikembangkan dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dikarenakan jantung dari suatu pendidikan adalah kurikulum (Siregar et al. , 2. Perubahan dan penyempurnaan kurikulum di Indonesia telah dimulai sejak tahun tahun 1947, tahun 1964, tahun 1968, tahun 1973, tahun 1975, tahun 1984, tahun 1994, tahun 1997 merupakan revisi kurikulum 1994, tahun 2004 merupakan Kurikulum Berbasis Kompetensi, dan kurikulum 2006 dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan, dan pada tahun 2013 pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional mengganti kembali menjadi Kurikulum Merdeka. Kebijakan yang diambil berupa penyederhaan kurikulum pembelajaran dari kurikulum 2013 menjadi kurikulum darurat. Kurikulum darurat pun akhirnya diubah menjadi Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan di seluruh Indonesia mulai Juli 2022 sesuai dengan Siaran Pers Nomor: 413/sipers/A6/VII/2022 Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi. Pada kurikulum merdeka terdapat istilah merdeka belajar. Istilah AuMerdeka BelajarAy dapat dikatakan muncul dari pidato Kemendikbud dalam rangka memperingati hari guru nasional yang ke-74 pada 25 November 2019 di kantor kemendikbud Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa AuMerdeka belajar adalah kemerdekaan berfikir. Selain itu, menurut Wijaya dkk . menyatakan Merdeka bermaksud guru dan muridnya mempunyai kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri, dan kreatif. Merdeka belajar merupakan suatu program yang sangat sejalan dengan agenda peningkatan mutu pendidikan yang sejatinya selalu digalakkan sejak bangsa Indonesia merdeka. Menurut E. Dharma & B. Sihombing . Program Merdeka Belajar meliputi empat pokok kebijakan utama, yaitu: . Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Ujian Nasional (UN). Rencana Pelaksanaan Pembelajaan (RPP), dan . Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) zonasi. Menurut Mendikbud, program ini akan menjadi arah pembelajaran ke depan yang berfokus pada peningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kebijakan Merdeka Belajar ini diharapkan guru dapat lebih fokus pada pembelajaran siswa dan siswa pun bisa lebih banyak belajar. Kesiapan guru inilah yang nantinya menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan merdeka belajar. Kesiapan guru khususnya dalam proses pembelajaran yang efektif yakni mengajar yang jelas, menggunakan variasi strategi dan metode pembelajaran, menggunakan variasi media pembelajaran, memberdayakan peserta didik, antuasias dalam pembelajaran dan lain sebagainya (Wote & Sabarua, 2. Sesuai dengan hasil penelitian dari Rahmawati . yang menunjukkan hasil bahwa Kesiapan para guru di TK ABA V Gondangmanis Kudus berdasarkan pada 6 indikator yang diajukan menunjukkan bahwa pada secara konsep ataupun teori para guru sudah baik dalam memahami kurikulum merdeka, namun pada tataran praktiknya, belum dapat dikatakan baik atau hanya cukup saja. Namun, sekarang ini, banyak guru-guru yang dibingungkan dengan implementasi Kurikulum Merdeka pada semua jenjang pendidikan, dengan guru yang merupakan kategori profesi yang termasuk sebagai bidang memerlukan keahlian khusus. Implementasi Kurikulum ini didasari dengan berkembangnya teknologi, namun Kesiapan dari seluruh Komponen Pendidikan akan diuji dan utamanya pada Guru yang akan menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar ini pada sekolahnya masing-masing. Berdasarkan observasi dan wawancara di SD N 2 Cempaga, mengenai kebijakan baru yaitu sistem pembelajaran AuMerdeka BelajarAy kepala sekolah menyatakan bahwa implementasi pembelajaran Merdeka Belajar dimulai dari kesiapan guru-gurunya terlebih dahulu. Sistem pembelajaran AuMerdeka BelajarAy adalah sebuah kebijakan baru yang tentu saja pasti memiliki hambatan dan kendala untuk Terutama bagi guru yang sebagai bagian integral dalamPendidikan dan Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Candra Purani1,I Ketut Dedi Agung Susanto Putra2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 komponen penting dalam pembelajaran pasti memiliki sederet permasalahan yang sepatutnya harus dituntaskan. Berdasarkan paparan permasalahan tersebut yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian tentang kesiapan guru dalam pelaksanan kurikulum merdeka khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kesiapan guru dalam implementasi kurikulum merdeka di SD N 2 Cempaga. Diharapkan dari hasi penelitian ini, adalah dari lembaga dapat segera merespon aspekyang belum mampu dipersipakan dengan baik oleh guru. Sehingga pelaksanaan kurikulum merdeka di tingkat SD dapat berjalan optimal. METODE Penelitian initermasuk jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sesuai dengan pernyataan Mukhtar . , jenis penelitian tersebut menggambarkan keadaan yang sesuai dengan objek yang diamati dan selanjutnya data yang diperoleh ditulis dalam bentuk Peneliti menggunakan Guru kelas 1 dan kelas 4 SD Negeri 1Cempaga berjumlah masing-masing satu orang sebagai subjek penelitian. Peneliti memilih guru kelas 1 dan 4 sebagai subyek dikarenakan tahap awal diterapkan kurikulum merdeka adalah di kelas 1 dan Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara. Wawancara adalah sebuah alat yang digunakan untuk mencari data sesuai dengan obyek yang diteliti dengan jumlah responden yang sedikit (Sugiyono 2. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan memberikan guru pertanyaan secara langsung terkait kesiapan guru dalam penerapan kurikulum merdeka. Untuk mengidentifikasi kesiapannya, selanjutnya diungkapkan dengan angket yang terdiri dari 6 indikator yakni. Pemahaman struktur kurikulum, . Kesiapan rencana pembelajaran, . Kesiapan proses pembelajaran. Kesiapan modul bahan ajar, . Kesiapan sarana dan prasarana, . Kesiapan penilaian pembelajaran. Selanjutnya dilakukan analisis data, yaitu proses di mana data hasil yang diteliti sudah terkumpul semua (Sugiyono Dalam hal ini adalah data hasil wawancara dengan guru dikumpulkan semuanya setelah itu baru dianalisis. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, yaitu merangkum hasil data wawancara yang sudah dideskripsikan. Setelah data dianalisis, peneliti melakukan member check, yaitu peneliti menginformasikan data hasil yang sudah dianalisis kepada guru kelas 1 dan kelas 4 yang dijadikan subjek penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data, maka didapatkan hasil penelitian terkait kesiapan guru dalam penerapan kurikulum merdeka berdasarkan 6 indikator yang sudah ditentukan. Pertama indicator pemahaman karakteristik dan struktur kurikulum. Sesuai dengan hasil wawancara dari guru kelas 1 dan kelas 4 menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap karakteristik kurikulum, kekhasan dan struktur kurikulum pada Kurikulum Merdeka cukup namun belum begitu paham. Guru mengetahui struktur Kurikulum Merdeka SD terdiri dari pembelajaran intrakurikuler dan proyek penguatan profil pelajar pancasila (P. Guru mengatakan bahwa masih minimnya contoh pembelajaran kurikulum merdeka yang dilaksankan di tingkat SD menjadikan para guru belum memiliki gambaran yang jelas tentang implementasi kurikulum merdeka ini. Namun guru-guru tersebut masih dalam tahap pembelajaran dengan mengkuti workshop terkait kurikulum merdeka yang diadakan oleh dinas pendidikan. Minimnya pemahaman guru terkait struktur kurikulum merdeka hendaknya perlu diadakan pelatihan bagi guru-guru untuk meningkatkan pemahaman guru terkait kurikulum merdeka. Indikator kedua terkait Kesiapan rencana pembelajaran bedasarkan hasil wawancara dengan guru kelas 1 dan kelas 4, guru tersebut mengatakan bahwa kurang paham dalam membuat perencanaan pembelajaran pada kurikulum merdeka. Guru-guru tersebut Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Candra Purani1,I Ketut Dedi Agung Susanto Putra2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 memerlukan pelatihan terkait penyusunan rencana pembelajaran. Perencanaan menjadi jantung dan wujud nyata lembaga dalam menyikapi kurikulum baru yang membutuhkan penyesuaian dengan kondisi di lembaga pendidikan. Semua kegiata tersebut tentunya bertujuan untuk menyusun perencanaan pembelajaran yang eferktif dan efisien (Munawar. Kurikulum merdeka yang membebaskan sekolah untuk menuntukan apa saja yang akan diajarkan kepada peserta didik menjadikan sekolah perlu mempersiapkan rencana pembelajaran dengan matang. Selanjutnya indikator ketiga terkait pelaksanaan pembelajaran. Mengingat kurikulum yang akan digunakan adalah kurikulum yang baru, para guru perlu menyesuaikan proses Hasil wawancara dengan guru-guru di SDN 2 Cempaga yang menunjukkan bahwa proses pembelajaran disesuaikan dengan kurikulum yang baru. Standar proses sebagaimana diatur dalam permendikbud no 137 tahun 2014 meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan pengawasan pembelajaran (Kemendikbud, 2. Guru-guru tersebut juga mengatakan bahwa implementasi dari kurikulum merdeka adalah memberikan kebebasan bagi anak didik untuk memilih kegiatan belajar yang diinginkan. DI SD N 2 Cempaga melaksanakan proses pembelajaran yang berbasis pada kurikulum merdeka khususnya di kelas 1 dan kelas 4 dilaksanakan dengan melakukan perubahan secara bertahap dan dimulai dari hal yang hal ini bertujuan untuk mempermudah adaptasi kurikulum baik itu bagi guru maupun peserta didiknya. Indikator keempat terkait kesiapan modul atau bahan ajar, guru kelas 1 dan kelas 4 mengatakan bahwa dalam pembelajaran menggunakan modul ajar dari pusat yang kemudian dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan siswa di SDN 2 Cempaga. Untuk pembuatan modul ajar sendiri, guru-guru masih belum paham dan masih perlu pelatihan terkait penyusunaan modul ajar. Pemahaman guru terkait pembuatan modul ajar sangat penting dkarenakan modul tersebut sebagai upaya untuk mencapai profil pelajar pancasila. Modul ajar tersebut disusun sesuai dengan materi pembelajaran dengan menyesuaikan kebutuhan pembelajaran, evaluasi serta modul ajar dibuat semenarik mungkin sehingga siswa termotivasi dalam belajar (Magdalena et al, 2. Selanjutnya indikator kelima terkait dengan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana memegang peranan yang penting dalam menunjang proses Sesuai dengan hasil wawancara dengan guru kelas 1 dan kelas 4, sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran cukup memadai, hal tersebut dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang dimiliki memang dapat dikatakan memadai. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah ruang, fasilitas pada setiap ruangan, perpustakaan serta buku-buku yang terdapat diperpustakaan. Selain itu untuk daya tampung setiap kelas hanya menampung 15-30 anak perkelas, sehingga keadaan tersebut dapat dikataka cukup ideal. Prasarana adalah bangunan dan lingkungan yang ada di sekolah. Standar baku tentang prasarana lebih menitikkan luas bangunan, karena luas lahan alam, menjadi akses ruang bermain dan mengembangkan kreativitas anak. Agar pembelajaran menjadi relevan dan optimal, maka luas lahan dan rungan akan disesuaiakn dengan jumlah anak. Indikator terakhir adalah terkait kesiapan Penilaian pembelajaran. Penilaian pembelajaran adalah sebuah instrumen yang dipergunakan untuk melihat apakah proses pembelajaran sudah efektif atau belum dan menunjukkan hasil ketercapaian para peserta Dari hasil wawancara, guru kelas 1 dan kelas 4 mengatakan bahwa masih kurang memahami terkait pembuatan alat penilaian sertakurang paham pada aspek pelaporan Para guru belum mendapatkan informasi tentang apakah konsep penilaian akan sama atau memiliki perbedaan dengan kurikulum sebelumnya. Guru-guru tersebut memerlukan pelatihan terkait penialian dalam kurikulum merdeka. Salah satu penilaian yang bisa digunakan dalam pembelajaran di SD adalah asesmen autentik, di mana dapat memberikan informasi yang cukup rinci tentang hasil belajar siswa, meskipun banyak yang Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Candra Purani1,I Ketut Dedi Agung Susanto Putra2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2022 beranggapan bahwa instrumennya yang dibutuhkan cukup banyak(Sugiri & Priatmoko. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dari analisis data yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa kesiapan guru dalam penerapan kurikulum merdeka dilihat dari hasil wawancara sesuai dengan 6 indkator tersebut menunjukkan bahwa pada secara keseluruhan guru masih belum siap dalam menerapkan kurikulum merdeka. Masih kurang pemahaman terkait struktur kurikulum merdeka dan masih perlu pelatihan terkait penyusunan modul ajar serta penialaian pembelajaran pada kurkulum merdeka. Para guru masih belum memiliki gambaran yang jelas terkait penerapan kurikulum merdeka. Tingkat kesiapan yang ditunjukkan dapat menjadi pertimbangan bagi sekolah untuk segera merespon permasalahan. Selain itu konsep kurikulum merdeka ini perlu dipahami oleh seluruh unsur dari lembaga pendidikan, agar dalam penerapannya dapat berjalan secara optimal, efektif dan efisien serta mampu mencapai tujuan kurikum merdeka itu sendiri. UCAPAN TERIMAKASIH