Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Efektivitas Metode Alba dalam Meningkatkan Hafalan Al QurAoan Santri di Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes Akhsan Asshidqi 1. Asmaji Muchtar 2. Toha Makhsun3 1,2,3 Magister PAI. Universitas Islam Sultan Agung Semarang Email: akhsanasshidqi@gmail. com , asmajimochtar@yahoo. id , toha_m@unnisula. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas metode Alba dalam meningkatkan hafalan Al-QurAoan santri di Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes. Fokus utama kajian ini adalah bagaimana metode talaqqi jamaAoi, tikrar, murajaah, dan tasmiAo diterapkan secara terstruktur untuk mendorong pencapaian hafalan yang optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Alba efektif dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas hafalan santri. Santri reguler mampu menyelesaikan hafalan 1 juz per tahun, sementara santri pada program takhasus dapat mencapai 10 juz per tahun. Efisiensi juga tercapai karena satu muhafidz dapat membimbing banyak santri secara bersamaan melalui metode talaqqi berjamaah. Selain meningkatkan kemampuan hafalan, metode ini juga berkontribusi terhadap pembentukan karakter Islami seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Meskipun terdapat tantangan adaptasi awal bagi santri dengan kemampuan baca Al-QurAoan yang rendah, pesantren telah menyediakan program transisi untuk mengatasi hal tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa metode Alba merupakan inovasi strategis dalam pembelajaran tahfidz yang layak dikembangkan di berbagai pesantren, terutama yang memiliki keterbatasan tenaga pengajar. Kata Kunci: Hafalan Al-QurAoan. Metode Alba. Pesantren. Tahfidz. Talaqqi JamaAoi PENDAHULUAN Al-Qur'an adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, dan merupakan mukjizat yang kekal serta petunjuk hidup bagi umat Sebagaimana dijelaskan dalam Q. Al-Hijr ayat 9, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-QurAoan dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. " (Departemen Agama RI, 2. Aktivitas menghafal Al-QurAoan tidak hanya bernilai ibadah tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter spiritual yang kuat. Menghafal Al-QurAoan menuntut kerja kognitif yang tinggi karena melibatkan daya ingat jangka panjang serta konsistensi dalam pengulangan (Masduki, 2. Dalam konteks pendidikan Islam, kegiatan tahfidz menjadi bagian penting dari pembinaan akhlak dan intelektualitas siswa (Hasanah et al. , 2. AlQurAoan juga berperan sebagai sumber ketenangan jiwa dan pedoman hidup yang memberikan arah bagi umat Islam dalam menjalani kehidupannya di dunia dan akhirat (Al-Makhtum, 2. Kebutuhan untuk mengintegrasikan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi alasan utama munculnya lembaga-lembaga pendidikan tahfidzul QurAoan. Sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan nasional bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki akhlak mulia (Siregar, 2. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia telah menunjukkan peran signifikan dalam mencetak generasi yang religius dan berpengetahuan luas. Di pesantren, metode-metode tahfidz seperti takrir, wahdah, talaqqi. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 kitabah, dan tasmiAo digunakan untuk menunjang keberhasilan hafalan (Mundiri & Zahra, 2017. Fatimah, 2. Selain penguasaan hafalan, pendidikan karakter dan spiritualitas juga menjadi prioritas penting, sehingga lulusan pesantren diharapkan mampu menjadi pribadi yang seimbang antara akal dan hati. Dalam praktiknya, keberhasilan tahfidz santri sangat dipengaruhi oleh pemilihan metode yang tepat. Salah satu metode yang berkembang adalah metode alba. Metode ini mengadopsi sistem talaqqi jamaAoi di mana satu muhaffidz membimbing hafalan sekelompok santri secara Efektivitas metode ini terlihat dari kemampuannya untuk menjangkau banyak santri dengan hasil hafalan yang signifikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Haryani dan Sholeh . bahwa metode talaqqi terbukti meningkatkan kualitas hafalan Al-QurAoan karena memberikan stimulus auditori yang kuat dan konsisten. Rizalludin . juga mencatat bahwa metode talaqqi memiliki nilai edukatif dalam membentuk keterikatan emosional antara guru dan siswa. Di sisi lain, metode ini juga menekankan pentingnya kedisiplinan, kekompakan, dan ketekunan dalam menjaga hafalan secara kolektif. Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes adalah salah satu pesantren yang mengimplementasikan metode alba secara konsisten sejak tahun 2020. Pesantren ini memiliki visi membentuk generasi QurAoani yang tidak hanya hafal lafaz tetapi juga memahami dan mengamalkan makna Al-QurAoan. Program tahfidz di pesantren ini terintegrasi dengan pendidikan formal pada jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi santri yang harus menjalankan peran ganda sebagai siswa dan santri. Oleh karena itu, metode alba dipilih karena dianggap mampu membantu santri mengelola hafalan secara efektif dalam keterbatasan waktu dan tenaga. Ditambah lagi, metode ini memungkinkan seluruh santri bergerak bersama dalam suasana belajar yang penuh motivasi dan keterlibatan aktif. Secara teoritis, proses menghafal Al-QurAoan berkaitan erat dengan teori psikologi kognitif yang menekankan pentingnya pengulangan dan asosiasi dalam memperkuat daya ingat (Djaali, 2. Dalam perspektif psikologi pendidikan, tahfidz juga mencerminkan pembelajaran berbasis spiritual yang menginternalisasi nilai-nilai agama melalui praktik Selain itu. An Nawawi . dalam karyanya "At Tibyan" menjelaskan bahwa adab dalam membaca dan menghafal Al-QurAoan menjadi aspek penting dalam keberhasilan tahfidz, termasuk ketulusan niat, disiplin, dan menjaga kebersihan hati. Oleh karena itu, metode alba juga mengandung dimensi spiritual yang mendukung pembentukan karakter santri. Seiring dengan itu, pembiasaan adab dalam proses tahfidz membantu membangun kedekatan emosional antara santri dengan Al-QurAoan, yang berdampak pada penguatan hafalan. Berbagai penelitian telah mengungkap efektivitas metode hafalan dalam meningkatkan kemampuan tahfidz. Sandi . menyoroti keberhasilan metode wahdah dalam meningkatkan hafalan siswa melalui pendekatan bertahap dan pengulangan. Sementara itu. Setiadi . menjelaskan efektivitas metode kitabah dalam membantu siswa menginternalisasi ayat-ayat Al-QurAoan melalui proses menulis. Abas . menambahkan pentingnya pendekatan tadabbur dalam proses menghafal, yaitu dengan merenungkan makna dan pesan moral dari ayat-ayat yang dihafal, sehingga santri tidak hanya hafal secara tekstual, tetapi juga memahami kandungannya secara spiritual dan kontekstual. Hal ini menegaskan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 bahwa metode hafalan yang efektif harus mampu menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan Namun demikian, belum banyak studi yang secara spesifik mengevaluasi metode alba dalam konteks pesantren modern, terutama pesantren yang mengintegrasikan pendidikan formal dan tahfidz secara bersamaan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan . ap of knowledg. yang penting untuk dijawab melalui penelitian ini. Maka dari itu, perlu dilakukan pengkajian mendalam terhadap bagaimana metode alba diterapkan, tantangan yang dihadapi dalam implementasinya, serta sejauh mana efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas hafalan santri di Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes. Penelitian ini akan menjawab rumusan masalah: AuBagaimana efektivitas metode alba dalam meningkatkan hafalan Al-QurAoan santri di Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes?Ay Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji implementasi metode alba serta dampaknya terhadap pencapaian hafalan santri. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor pendukung dan penghambat keberhasilan metode alba. Penelitian ini menjadi penting karena hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan metode tahfidz yang lebih efektif di masa depan. Dengan menggali pengalaman langsung dari para pengajar dan santri, diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan sumbangan ilmiah sekaligus praktis dalam pengembangan strategi tahfidz. State of the art dari penelitian ini terletak pada pendekatannya yang fokus pada metode alba sebagai inovasi dalam pembelajaran tahfidz. Berbeda dengan metode konvensional, metode alba menawarkan efisiensi dan intensitas pembelajaran yang tinggi melalui pendekatan Keaslian penelitian ini ditunjukkan dengan minimnya kajian akademik yang meneliti metode alba secara mendalam, khususnya dalam konteks pesantren tahfidz di Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan menggunakan data dari observasi, wawancara, serta dokumentasi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang praktik dan efektivitas metode alba dalam meningkatkan kualitas hafalan Al-QurAoan santri. Kajian ini diharapkan memperkaya literatur keilmuan di bidang pendidikan Islam dan metode pembelajaran Al-QurAoan yang aplikatif dan berkelanjutan. Sebagai tambahan, pendekatan tadabbur dalam proses menghafal juga memiliki peran penting dalam menanamkan pemahaman makna ayat secara mendalam (Abas, 2. Dengan mengintegrasikan tadabbur dalam metode hafalan, santri tidak hanya menghafal secara tekstual tetapi juga memahami konteks dan pesan moral dari ayat-ayat yang dihafal. Integrasi ini menjadikan metode alba tidak hanya sebagai alat menghafal cepat, tetapi juga sarana pembentukan kepribadian QurAoani yang berkarakter kuat dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, metode alba yang dikembangkan secara tepat dapat menjadi sarana efektif dalam mewujudkan santri yang tidak hanya hafal, tetapi juga mencintai dan mengamalkan Al-QurAoan dalam kehidupan nyata. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena pembelajaran tahfidz Al-QurAoan dengan menggunakan metode alba di Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin memperoleh pemahaman Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 yang utuh mengenai proses, tantangan, serta efektivitas penerapan metode alba dalam konteks alami . atural settin. Menurut Creswell & Poth . , pendekatan kualitatif cocok digunakan untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi dan pengalaman individu atau kelompok terhadap suatu fenomena yang kompleks. Pendekatan ini juga memungkinkan peneliti untuk menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari subjek yang Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu suatu metode penelitian yang memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi fenomena secara kontekstual dengan batasanbatasan tertentu. Fokus studi kasus ini adalah pada implementasi metode alba dalam kegiatan tahfidz Al-QurAoan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan realitas pendidikan tahfidz secara objektif dan mendalam sesuai kondisi di lapangan. Penelitian dilakukan di Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes sebagai lokasi tunggal . ingle cas. , yang menjadi subjek utama penelitian karena pesantren ini telah mengimplementasikan metode alba sejak Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran tahfidz di pesantren tersebut. Sampel penelitian dipilih secara purposive, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang dianggap paling memahami permasalahan yang diteliti (Patton, 2. Sampel penelitian meliputi: . para santri tahfidz, khususnya yang mengikuti program metode alba. ustadz atau muhaffidz sebagai pelaksana metode alba. pimpinan pesantren sebagai pengambil kebijakan Pemilihan sampel dilakukan dengan memperhatikan tingkat keterlibatan dan pengalaman mereka dalam pelaksanaan metode alba. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tiga metode utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara partisipatif untuk memperoleh data langsung terkait proses pelaksanaan metode alba, keterlibatan santri, dan lingkungan belajar. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk mencatat perilaku dan aktivitas pembelajaran secara sistematis dan objektif (Sugiyono, 2. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur terhadap ustadz, pimpinan pesantren, dan beberapa santri untuk menggali informasi mendalam tentang pengalaman, tantangan, serta keberhasilan metode alba. Wawancara dilakukan dengan panduan pertanyaan terbuka agar data yang diperoleh lebih kaya dan kontekstual. Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai dokumen terkait seperti jadwal tahfidz, catatan capaian hafalan santri, buku panduan metode alba, dan arsip kegiatan tahfidz lainnya. Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data dilakukan secara induktif dan interaktif. Analisis data dimulai sejak proses pengumpulan data berlangsung dan terus dilakukan secara Model analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman, yaitu meliputi tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2. Reduksi data dilakukan dengan cara memilah data penting dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi sesuai fokus penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk deskripsi naratif yang menggambarkan proses dan dinamika penerapan metode Penarikan kesimpulan dilakukan secara berulang melalui verifikasi dan triangulasi data untuk memastikan keabsahan temuan. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga dengan menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan yang berbeda, sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain itu, dilakukan member check dengan cara mengkonfirmasi hasil temuan kepada para informan agar interpretasi peneliti sesuai dengan makna yang dimaksud oleh subjek penelitian (Moleong, 2. Dengan langkah-langkah tersebut, validitas dan reliabilitas data dalam penelitian ini diharapkan dapat terjaga. Secara keseluruhan, metode penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan utama terkait efektivitas metode alba dalam meningkatkan hafalan Al-QurAoan santri. Dengan pendekatan kualitatif yang komprehensif, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengembangkan metode pembelajaran tahfidz yang efektif dan berkelanjutan di pesantren-pesantren Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini merupakan hasil temuan dan pembahasan lapangan berdasarkan observasi, wawancara, dan dokumentasi di Pesantren Tahfidzul QurAoan Mustofa AsyAoari Pemaron Brebes, yang disusun dalam beberapa sub bagian sesuai fokus penelitian: Efektivitas Proses Menghafal dengan Metode Alba Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses menghafal Al-Qur'an dengan metode Alba di Pesantren Tahfidzul Qur'an Mustofa Asy'ari Pemaron Brebes berjalan secara efektif dan Berdasarkan observasi langsung, santri mampu menyelesaikan hafalan satu maqra' . ekitar 2Ae3 aya. setiap hari melalui teknik talaqqi jama'i yaitu pembacaan ayat bersama secara lantang yang dipimpin oleh satu orang muhafidz. Seluruh proses dilanjutkan dengan tikrar . engulangan intensi. , murajaah . enguatan hafalan sebelumny. , serta tasmi' . ji hafalan di hadapan gur. Wawancara dengan para ustadz menunjukkan bahwa santri mengalami peningkatan kedisiplinan, karena program dijalankan secara terstruktur dengan jadwal yang Kegiatan tahfidz dilakukan dua hingga lima kali per hari, sesuai dengan jenjang program Suasana pembelajaran yang kolektif memberikan dampak positif terhadap motivasi santri, sebagaimana ditemukan dalam penelitian terbaru tentang metode serupa di pesantren tahfidz (Aziza. Musaddat, & Aini, 2. Mereka merasa lebih nyaman dan percaya diri karena tidak belajar sendiri, tetapi bersama rekan-rekan satu halaqah. Selain itu, teknik talaqqi jamaAoi memungkinkan efisiensi pembelajaran. Satu muhafidz dapat memimpin lebih dari 20 santri sekaligus dalam satu sesi tanpa mengurangi kualitas Model ini sangat membantu dalam konteks keterbatasan sumber daya manusia di Jadwal pembacaan yang konsisten juga memungkinkan tercapainya penguatan memori jangka panjang pada santri. Bukti dokumentasi mendukung efektivitas ini, yang terlihat dari keaktifan santri dalam kegiatan ziyadah . enambahan hafala. dan murajaah Rata-rata waktu yang dibutuhkan santri untuk menghafal 1 maqraAo adalah 60Ae90 menit, termasuk proses pengulangan dan koreksi oleh muhafidz. Secara keseluruhan, pendekatan ini berhasil menciptakan suasana hafalan yang progresif, sistematis, dan berkelanjutan. Untuk memperjelas struktur kegiatan harian dalam proses hafalan, berikut disajikan tabel tahapan aktivitas yang dijalankan oleh santri setiap harinya: Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 1. Tahapan Kegiatan Harian dalam Proses Hafalan Metode Alba Waktu Pelaksanaan Kegiatan Metode dan Teknis Pelaksanaan Hafalan Baru Muhafidz membaca 3x ayat baru Ie BaAoda Shubuh (Ziyada. santri menirukan Ie pembacaan bersama Ie pengulangan 40x Mengulang maqraAo sebelumnya Qobla Maghrib Tikrar secara berjamaah dengan lantang, 30Ae40 menit Hafalan 1 halaman secara bersama. RabuAeKamis Murajaah Halaman dibaca ulang 20 kali per maqraAo Bulan ke-6 Murajaah 5 Halaman Disusun per hari (SabtuAeKami. , tiap halaman dibaca 5 kali secara Setiap Semester TasmiAo Ujian hafalan 1 juz: 5 halaman per pertemuan, dibaca 10 kali per halaman di hadapan guru Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan metode Alba tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada sistem kolektif, disiplin jadwal, dan keterlibatan aktif muhafidz dalam setiap proses. Model ini efektif mengatasi keterbatasan tenaga pengajar dan mendorong percepatan capaian hafalan dalam skala besar tanpa mengorbankan kualitas. Capaian Target Hafalan Santri Hasil dokumentasi dan wawancara mendalam dengan para pengelola program tahfidz di Pesantren Tahfidzul Qur'an Mustofa Asy'ari Pemaron Brebes menunjukkan bahwa capaian hafalan santri sangat dipengaruhi oleh jenjang program yang diikuti. Program tahfidz di pesantren ini dibagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan tingkat intensitas dan target tahunan, sesuai dengan prinsip diferensiasi kurikulum dalam pendidikan tahfidz (Nuraeni & Prihatin, 2. Temuan menunjukkan bahwa capaian target yang dirancang pada awal program dapat direalisasikan secara signifikan oleh mayoritas santri, terutama pada program reguler dan takhasus. Santri reguler yang mengikuti program hafalan 1 juz per tahun mampu menyelesaikan total 6 juz selama masa pendidikan enam tahun. Jenjang ini ditujukan bagi santri umum yang mengikuti kurikulum tahfidz bersamaan dengan kegiatan belajar formal. Sementara itu, pada program takhasus, capaian lebih tinggi dapat diraih. Santri dengan tingkat komitmen dan kapasitas lebih besar mampu menyelesaikan hingga 3, 5, bahkan 10 juz per tahun, tergantung jenjang program yang diikuti. Program takhasus 10 juz per tahun dirancang khusus bagi santri dengan dedikasi tinggi dan waktu belajar intensif. Dalam program ini, santri dapat menyelesaikan hafalan 30 juz hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Dokumentasi tasmiAo menunjukkan bahwa sebagian besar santri takhasus mampu menyetor hafalan dengan kualitas yang baik, yakni dengan kesalahan minimal . i bawah 5 kesalahan per halama. , sesuai standar penilaian tasmiAo yang berlaku di Untuk memberikan gambaran komprehensif terkait capaian hafalan berdasarkan jenjang program tahfidz, berikut disajikan Tabel 2: Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 2. Capaian Target Hafalan Berdasarkan Jenjang Program Tahfidz Target Hafalan Total Hafalan . Jenjang Program Keterangan per Tahun Tahu. Reguler 1 juz 6 juz Untuk santri umum Takhasus . juz/tahu. 3 juz 18 juz Untuk santri berkomitmen tinggi 30 juz . elesai 6 Target hafal 30 juz Takhasus . juz/tahu. 5 juz selama belajar Takhasus . juz/tahu. 10 juz 30 juz . Program cepat, intensif dan terstruktur Hasil ini menunjukkan bahwa metode Alba memberikan fleksibilitas program yang memungkinkan pencapaian hafalan yang disesuaikan dengan kapasitas santri. Model ini memberi ruang bagi santri dengan beragam latar belakang dan potensi untuk berkembang sesuai jenjang yang dipilih, tanpa mengurangi kualitas hafalan. Model ini juga sejalan dengan prinsip individualized learning dalam pendidikan Islam (Uskuniyah & Ashari, 2. , namun tetap berbasis kolektif dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, capaian target hafalan yang tinggi dalam jangka waktu yang relatif singkat membuktikan bahwa metode Alba dapat diandalkan sebagai pendekatan sistematis dalam pendidikan tahfidz Al-Qur'an di era modern. Efisiensi Bimbingan oleh Muhafidz Efisiensi dalam proses pembelajaran tahfidz menjadi salah satu indikator keberhasilan implementasi metode Alba di Pesantren Tahfidzul Qur'an Mustofa Asy'ari Pemaron Brebes. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, ditemukan bahwa satu orang muhafidz mampu membimbing lebih dari 20 santri secara simultan melalui pendekatan talaqqi jama'i, yaitu metode membaca dan mengulang hafalan secara berjamaah dalam satu halaqah. Santri duduk melingkar dalam satu kelompok, membentuk interaksi yang aktif antara muhafidz dan peserta. Pembelajaran dilakukan dengan suara lantang secara kolektif, dimulai dari satu ayat yang dibaca bersama-sama, kemudian diulang secara terstruktur hingga santri mampu menghafalnya dengan baik - sebuah model yang konsisten dengan prinsip manajemen pendidikan Islam berbasis halaqah (Uskuniyah & Ashari, 2. Setiap sesi disesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan, dan seluruh santri menggunakan mushaf tikrar yang dirancang khusus dengan rasm Utsmani dan pembagian maqra' per halaman, sehingga mempermudah proses hafalan secara visual dan ritmis. Efisiensi metode ini terlihat pada rasio pembimbing dan santri yang tinggi. Dalam sistem klasik, satu muhafidz hanya mampu membimbing sekitar 5Ae10 santri per hari secara individual. Namun, dengan metode Alba, satu muhafidz dapat membimbing lebih dari 20 hingga 30 santri dalam satu sesi, tanpa mengurangi kualitas hafalan - sebuah bentuk optimalisasi sumber daya manusia yang sesuai dengan prinsip perencanaan pendidikan Islam (Yenti & Jamilus, 2. Hasil dokumentasi menunjukkan bahwa capaian hafalan dalam kelompok tetap berada pada standar kelancaran yang ditetapkan, dengan kesalahan minimal saat proses tasmi'. Efisiensi ini menjadikan metode Alba sangat relevan untuk diterapkan di lembaga tahfidz yang memiliki keterbatasan tenaga pengajar, namun tetap ingin menjaga mutu pembelajaran. Untuk Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 memperjelas perbandingan efisiensi antara metode Alba dan metode klasik, berikut disajikan Tabel 3: Tabel 3. Perbandingan Efisiensi antara Metode Alba dan Metode Klasik Aspek Metode Alba Metode Klasik Model Bimbingan Talaqqi JamaAoi . Talaqqi Individual Jumlah Santri per Muhafidz 20Ae30 orang 5Ae10 orang Interaksi Pengajaran Aktif dan Pasif. guru menunggu serempak . erentak dan berulan. Mushaf Tikrar . erstruktur dan Penggunaan Mushaf Mushaf umum Jadwal & Materi Terjadwal sistematis & seragam Bervariasi sesuai inisiatif Rendah . utuh banyak Efisiensi Tenaga Pengajar Tinggi . emat SDM, efektif dalam tenaga pengaja. Kualitas Hafalan Terjaga melalui pengulangan Tergantung motivasi Temuan ini memperkuat argumentasi bahwa metode Alba bukan hanya solusi pedagogis, tetapi juga solusi manajerial dalam pengelolaan SDM di pesantren (Uskuniyah & Ashari, 2. Dengan jumlah muhafidz yang terbatas, pesantren tetap mampu menghasilkan santri penghafal Al-Qur'an dalam jumlah besar dengan capaian yang memuaskan - sebuah bukti implementasi optimalisasi sumber daya manusia berbasis nilai-nilai pendidikan Islam (Yenti & Jamilus, 2. Efisiensi ini memberikan nilai tambah dalam konteks pengembangan pendidikan tahfidz di berbagai lembaga dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Partisipasi dan Disiplin Santri Hasil observasi dan wawancara mendalam dengan para ustadz serta dokumentasi kegiatan santri di Pesantren Tahfidzul Qur'an Mustofa Asy'ari Pemaron Brebes menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam hal partisipasi aktif dan kedisiplinan santri setelah penerapan metode Alba. Model talaqqi jama'i yang dilakukan secara kolektif mendorong santri untuk lebih terlibat dalam setiap sesi pembelajaran, sejalan dengan temuan Fauzia . tentang efektivitas sistem kelompok dalam meningkatkan tanggung jawab individu. Kebersamaan dalam satu halaqah menciptakan suasana yang kompetitif sekaligus kooperatif, sehingga santri merasa termotivasi untuk hadir dan berpartisipasi secara penuh. Metode Alba mengedepankan jadwal tetap, target hafalan yang jelas, serta adanya evaluasi rutin melalui tasmi' . etoran hafala. yang dilakukan secara berkala - sebuah mekanisme yang juga terbukti efektif dalam penelitian di Pondok Pesantren Al-Marhabaniyyah Demak (Fauzia, 2. Setiap santri memiliki kesadaran bahwa absensi atau ketidakhadiran akan berdampak pada capaian kelompok, sehingga hal ini mendorong terbentuknya budaya saling mengingatkan dan tanggung jawab bersama. Budaya belajar yang terbentuk tidak hanya mencakup hafalan, tetapi juga mencakup nilai-nilai kedisiplinan waktu, sikap hormat kepada guru, serta ketekunan dalam mengulang hafalan . ikrar dan murajaa. Penanaman nilai-nilai ini menjadi bagian integral dari proses Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pendidikan karakter berbasis Al-QurAoan yang dikembangkan oleh pesantren. Kedisiplinan ini bahkan terbawa ke dalam rutinitas lain di luar halaqah, seperti shalat berjamaah, pengajian, dan kegiatan sosial pesantren. Berikut disajikan Tabel 4 yang menggambarkan indikator partisipasi dan disiplin santri berdasarkan hasil temuan lapangan: Tabel 4. Indikator Partisipasi dan Disiplin Santri dalam Metode Alba Indikator Deskripsi Temuan Lapangan Kehadiran Harian Rata-rata kehadiran >95% per sesi Sangat Tinggi Santri aktif membaca bersama. Keterlibatan dalam Halaqah Tinggi mengulang, dan memperbaiki Santri hadir sebelum waktu dimulai. Kedisiplinan Waktu Konsisten sesuai jadwal Kepatuhan terhadap Jadwal Harian Mengikuti sesi shubuh, sore, dan Disiplin malam secara teratur Memperhatikan dan mencatat Keseriusan saat TasmiAo Sangat Baik kesalahan selama setoran Semangat Tikrar & Murajaah Aktif mengulang hafalan di luar Cukup Intensif jadwal formal Temuan ini menunjukkan bahwa partisipasi dan disiplin santri bukan hanya efek dari sistem yang terstruktur, tetapi juga hasil dari pendekatan metode pembelajaran yang adaptif dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran Al-QurAoan yang tidak hanya menekankan pada hasil hafalan, tetapi juga pada internalisasi nilai, karakter, dan kebiasaan hidup Islami. Dengan terbentuknya partisipasi aktif dan kedisiplinan tinggi, metode Alba memberikan kontribusi penting terhadap pembangunan kultur pendidikan tahfidz yang produktif, terarah, dan berbasis nilai-nilai keislaman yang kuat. Secara keseluruhan temuan menunjukkan bahwa metode Alba efektif dalam meningkatkan hafalan Al-QurAoan secara terstruktur dan masif, terutama melalui pendekatan talaqqi jamaAoi (Rosyidatul dkk. , 2. Dalam metode ini, satu orang muhafidz membimbing sekelompok santri secara serentak, membaca ayat demi ayat dengan lantang dan berulang kali. Strategi ini memungkinkan terjadinya pembiasaan bacaan secara kolektif dan harmonis, yang tidak hanya mempercepat proses hafalan, tetapi juga meningkatkan kualitas pelafalan dan konsistensi hafalan santri. Proses ini sejalan dengan teori Djaali . yang menegaskan bahwa pengulangan secara sistematis merupakan kunci dalam memperkuat daya serap memori dan mempertajam ingatan jangka panjang. Dengan demikian, metode Alba berkontribusi tidak hanya pada pencapaian hafalan secara kuantitatif, tetapi juga mendukung penguatan kognitif dan pemahaman maknawi yang mendalam terhadap ayat-ayat Al-QurAoan. Metode Alba menekankan pentingnya penyusunan jadwal kegiatan hafalan yang sistematis dan berimbang antara empat komponen utama: ziyadah . enambahan hafala. , tikrar . , murajaah . enguatan hafalan lam. , dan tasmi' . etoran atau uji hafala. sebuah sistem yang telah terbukti efektif dalam pengelolaan pembelajaran tahfidz di berbagai pesantren (Hartanti dkk. , 2. Pendekatan terstruktur ini sejalan dengan prinsip yang dikemukakan Ahmad Tafsir . bahwa efektivitas dan efisiensi merupakan kunci Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 keberhasilan dalam pembelajaran agama Islam. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan metode Alba tidak hanya diukur dari kuantitas hafalan, tetapi juga dari kualitas proses dan keterlibatan aktif antara muhafidz dan santri. Interaksi yang erat ini menciptakan iklim belajar yang terencana, konsisten, dan kolektif. Pelaksanaan hafalan yang dilakukan secara berjamaah mendorong santri untuk lebih disiplin, saling mendukung, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan motivasi bersama dalam mencapai target hafalan. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Afifah. Saehudin, & Hafifah . , yang menyoroti efektivitas metode tikrar . dalam meningkatkan kualitas hafalan AlQurAoan secara signifikan. Dalam konteks metode Alba, tikrar menjadi salah satu komponen utama yang dijalankan secara terprogram dan terukur, sehingga membantu santri menjaga konsistensi hafalan serta mengurangi kesalahan saat proses tasmiAo. Peneliti menemukan bahwa santri yang mengikuti pola tikrar secara intensif tidak hanya lebih lancar dalam menyetorkan hafalan, tetapi juga lebih percaya diri dan memiliki stabilitas ingatan jangka panjang. Hal ini membuktikan bahwa pengulangan yang dilakukan secara kolektif dalam halaqah memberikan efek sinergis terhadap perkembangan daya ingat. Maka, metode Alba dapat dianggap sebagai pengembangan dari pendekatan-pendekatan sebelumnya, dengan keunggulan pada struktur talaqqi jamaAoi yang disiplin dan berkesinambungan. Lebih lanjut, penelitian ini juga membandingkan efektivitas metode Alba dengan pendekatan yang digunakan dalam metode Yaddain sebagaimana dikaji oleh Suryana. Dian, dan Nuraeni . Dalam manajemen program tahfidz berbasis metode Yaddain, strategi yang digunakan lebih menekankan pada fleksibilitas ritme hafalan, menyesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik individu santri. Pendekatan ini tentu memberikan keleluasaan dan fokus personal dalam proses tahfidz. Namun, metode Alba justru mengedepankan model pembelajaran kolektif dengan target hafalan massal yang terstruktur dan seragam. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa metode Alba lebih efektif untuk diterapkan di lembaga pendidikan dengan jumlah santri yang besar dan keterbatasan tenaga pengajar. Efisiensi yang dihasilkan dari talaqqi berjamaah tetap mampu menjaga kualitas hafalan, sekaligus menciptakan solidaritas dan kebersamaan dalam proses pembelajaran Al-QurAoan. Selain itu, efektivitas metode Alba dalam meningkatkan kualitas hafalan santri juga terlihat dari minimnya kesalahan yang terjadi saat proses tasmiAo. Hasil ini diperkuat oleh temuan Galib. Hidayatullah Galib, dan Az-Zahrah . yang meneliti kemampuan hafalan santri di Pondok Pesantren Hasyim AsyAoari Bantaeng, di mana mereka menemukan bahwa sistem pembinaan hafalan yang berfokus pada pembiasaan bacaan dapat memperkuat daya retensi memori dan menurunkan tingkat kesalahan dalam penyetoran hafalan. Dalam hal ini, metode Alba memiliki kesamaan melalui tahapan tikrar dan murajaah yang dilakukan secara Namun, metode Alba memiliki keunggulan tambahan melalui sistem talaqqi jamaAoi, yang memungkinkan penyamaan kecepatan hafalan antar santri serta menciptakan pemerataan capaian hafalan secara lebih cepat dan efisien dalam skala besar. Meski demikian, penerapan metode Alba tidak terlepas dari tantangan, khususnya pada tahap awal implementasi. Tantangan utama terletak pada proses adaptasi santri yang belum mahir membaca Al-QurAoan, terutama bagi santri usia dini atau yang belum memiliki dasar bacaan yang kuat. Berdasarkan temuan lapangan, hal ini menjadi kendala awal dalam mengikuti Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 program talaqqi jamaAoi yang menuntut kemampuan membaca bersama secara serempak. Untuk menjembatani kendala ini, pihak pesantren menyediakan program transisi berupa pembelajaran Iqra, penggunaan media peraga, serta bimbingan membaca secara intensif. Pendekatan ini penting agar seluruh santri dapat mencapai kesiapan awal yang merata sebelum memasuki tahap hafalan. Dengan demikian, metode Alba menunjukkan fleksibilitasnya dalam mengakomodasi perbedaan tingkat kemampuan, serta layak diterapkan di berbagai jenjang pendidikan tahfidz, mulai dari TPQ hingga pesantren formal. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa metode Alba merupakan sebuah inovasi strategis dalam pengelolaan pendidikan tahfidz Al-QurAoan di pesantren Metode ini mampu mengintegrasikan prinsip-prinsip manajemen pembelajaran yang efektif, seperti perencanaan jadwal hafalan yang sistematis, penggunaan metode talaqqi jamaAoi yang efisien, serta penerapan teknik tikrar dan murajaah yang berimbang. Tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah hafalan santri, metode Alba juga turut membentuk karakter Islami yang kuat, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan. Keberhasilan metode ini membuka peluang untuk diterapkan lebih luas pada berbagai tipe Oleh karena itu, studi lanjutan sangat dianjurkan untuk menguji replikasi metode ini dalam konteks pesantren yang berbeda, baik dari sisi jumlah santri, kurikulum, maupun latar belakang sosial-budaya, guna memperkuat validitas, efektivitas, dan generalisasi temuan KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode Alba terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan hafalan Al-QurAoan santri secara terstruktur, sistematis, dan efisien. Keunggulan utama dari metode ini terletak pada penerapan talaqqi jamaAoi, yaitu pembelajaran bersama dalam satu halaqah yang dipandu oleh satu muhafidz. Model ini mempercepat proses internalisasi hafalan sekaligus membentuk budaya belajar yang disiplin, kolektif, dan konsisten. Kombinasi antara ziyadah . enambahan hafala. , tikrar . , murajaah . , dan tasmiAo . menghasilkan kemajuan signifikan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas hafalan santri. Efisiensi metode ini juga memungkinkan satu muhafidz membimbing banyak santri sekaligus tanpa mengorbankan kualitas pembinaan, sehingga sangat relevan diterapkan di pesantren dengan keterbatasan sumber daya manusia. Selain berkontribusi terhadap capaian akademik berupa peningkatan hafalan, metode Alba juga menunjukkan efektivitas dalam pembentukan karakter Islami santri, khususnya dalam hal tanggung jawab, kebersamaan, dan kedisiplinan. Lingkungan belajar yang kolektif dan terstruktur mendorong terbentuknya etos belajar yang positif. Namun, tantangan tetap ada, terutama pada fase awal penerapan metode ini bagi santri yang belum lancar membaca AlQurAoan. Oleh karena itu, dibutuhkan program transisi seperti pembelajaran Iqra sebelum tahfidz dimulai. Berdasarkan hasil temuan ini, disarankan agar penelitian lanjutan dilakukan di berbagai jenis pesantren dengan latar belakang yang berbeda, guna menguji efektivitas dan fleksibilitas metode Alba secara lebih menyeluruh, termasuk pengaruhnya terhadap aspek motivasi dan perkembangan spiritual santri. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 DAFTAR PUSTAKA