JePKM Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN : 2722-807X (Prin. ISSN: 2987-1441 (Onlin. Vol. No. 1: Juni 2026, h. 27 - 35 Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang Social Media Ethics Training Based on Islamic Values for Youth in Karang Kemiri Village Belitang Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Institut Agama Islam Insan Prima Misbahul Ulum Gumawang OKU Timur. Indonesia. Email: akhsanulhuda29@gmail. Institut Agama Islam Insan Prima Misbahul Ulum Gumawang OKU Timur. Indonesia. Email: syafrizalfuady@insanprimamu. Institut Agama Islam Insan Prima Misbahul Ulum Gumawang OKU Timur. Indonesia. Email: widodo@insanprimamu. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital dan media sosial memberikan pengaruh besar terhadap perilaku remaja. Di satu sisi memberikan kemudahan akses informasi, namun di sisi lain menimbulkan dampak negatif seperti hoaks, cyberbullying, ujaran kebencian, serta rendahnya etika komunikasi digital. Kondisi tersebut juga terjadi pada remaja di Desa Karang Kemiri Kecamatan Belitang yang aktif bermedia sosial namun kurang memahami etika siber. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran remaja mengenai etika bermedia sosial berbasis nilai-nilai Mitra pengabdian dalam kegiatan ini adalah komunitas remaja desa setempat yang terdiri atas pelajar SMP. SMA, dan organisasi kepemudaan. Metode pengabdian yang digunakan adalah pelatihan partisipatif meliputi tahapan observasi awal, sosialisasi program, penyampaian materi, simulasi kasus, serta prosedur evaluasi-refleksi. Data hasil kegiatan dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan kesadaran peserta mengenai etika digital serta komitmen penerapan nilai-nilai Islam seperti tabayyun, kejujuran, sopan santun, dan tanggung jawab di ruang siber. Kegiatan ini bermakna sebagai langkah preventif dalam membentuk karakter generasi muda desa yang cerdas digital dan berakhlak mulia. Kata Kunci: Etika Bermedia Sosial. Literasi Digital. Nilai Keislaman. Remaja Desa ABSTRACT The development of digital technology and social media exerts a major influence on adolescent On one hand, it provides easy access to information, but on the other hand, it causes negative impacts such as hoaxes, cyberbullying, hate speech, and low digital communication ethics. This condition also occurs in adolescents in Karang Kemiri Village. Belitang District, who are active on social media but lack an understanding of cyber ethics. This community service activity aims to increase adolescents' understanding and awareness of social media ethics based on Islamic values. The service partners in this activity are the local village youth community consisting of junior high, senior high JePKM (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. No. 1 : Juni 2026 Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang school students, and youth organizations. The method used is participatory training which includes the stages of initial observation, program socialization, material delivery, case simulation, and evaluationreflection procedures. The data were analyzed using qualitative descriptive techniques. The results show a significant increase in participants' understanding of digital ethics and a commitment to implementing Islamic values such as tabayyun, honesty, politeness, and responsibility in cyberspace. This activity is meaningful as a preventive step in shaping the character of village youth to be digitally smart and noble. Keywords: Digital Literacy. Islamic Values. Social Media Ethics. Village Youth PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah mengubah lanskap interaksi sosial masyarakat secara masif. Salah satu produk teknologi yang paling mendominasi kehidupan manusia modern, khususnya generasi muda, adalah media sosial. Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi alternatif, melainkan telah menjadi ruang publik baru tempat individu mengekspresikan diri, mencari informasi, dan membangun jaringan sosial (Nasrullah, 2. Indonesia sendiri, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap internet terus melonjak tajam dari tahun ke tahun, di mana platform digital dan media sosial menjadi konsumsi utama dalam dinamika harian masyarakat (APJII, 2. Bagi kalangan remaja, kehadiran media sosial menawarkan ruang kreativitas, efisiensi komunikasi, sekaligus tantangan moral yang besar. Pemanfaatan teknologi digital yang tidak diimbangi dengan kontrol nilai berpotensi memicu berbagai degradasi moral, seperti penyebaran berita bohong . , ujaran kebencian, hingga hilangnya kesantunan dalam berkomunikasi (Ahmadi. Widodo. Eni, & Muhadi, 2. Rendahnya kesadaran moral siber ini diperkuat oleh temuan dalam Jurnal Pendidikan dan Konseling . yang menegaskan bahwa tingkat literasi digital memiliki korelasi erat dan berpengaruh nyata terhadap pembentukan etika bermedia sosial di kalangan remaja. Oleh karena itu, penguatan kompetensi dan pengembangan literasi digital di tingkat akar rumput menjadi agenda mendesak demi membentengi generasi muda dari distorsi informasi di ruang siber (Fahmi, 2. Dalam menghadapi tantangan modernisasi ini, agama melalui tuntunan akhlak harus diletakkan sebagai kompas moral utama dalam berinteraksi di dunia digital. Islam secara komprehensif telah menggariskan etika komunikasi yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis (Ahmadi & Eni, 2. Etika komunikasi Islam mengajarkan prinsip-prinsip luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, kesantunan verbal, serta kewajiban melakukan verifikasi informasi atau tabayyun (Hefni, 2. Penerapan strategi pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam ini terbukti krusial dalam menjaga moralitas dan meningkatkan kualitas karakter individu di tengah derasnya arus globalisasi (Ahmadi, 2. Hal ini sejalan dengan pandangan moral dari Nata . yang menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter perspektif Islam harus diintegrasikan ke dalam ranah kontemporer agar nilai-nilai keagamaan menjadi tameng akhlak yang aplikatif bagi generasi muda. Kondisi dilematis terkait etika digital ini juga terpotret secara nyata pada mitra pengabdian masyarakat, yaitu para remaja di Desa Karang Kemiri. Kecamatan Belitang. Berdasarkan hasil observasi awal pada Februari 2026, mayoritas remaja di desa tersebut aktif menggunakan telepon pintar dengan durasi lebih dari empat jam per hari (Observasi Awal, 2. Namun, tingginya intensitas akses siber tersebut belum dibekali kecakapan etika digital . yber ethic. yang memadai, sehingga fenomena menyebarkan informasi tanpa kejelasan sumber serta penggunaan bahasa yang kurang santun di kolom komentar digital masih kerap dijumpai. Masalah moralitas siber ini menuntut adanya tindakan pendampingan partisipatif yang nyata guna membina karakter Islami sejak dini di lingkungan JEPKM (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. No. 1 : Juni 2026 Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang masyarakat desa (Ahmadi dkk. , 2. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, serta keterampilan para remaja di Desa Karang Kemiri dalam mengimplementasikan etika bermedia sosial yang bijak berbasis nilai-nilai keislaman. METODE Masalah rendahnya kesadaran digital dan kurangnya pemahaman etika siber di kalangan remaja di Desa Karang Kemiri diselesaikan melalui metode pelatihan dan pendampingan partisipatif. Bentuk kegiatan ini dirancang secara terstruktur dengan menyertakan kombinasi ceramah, simulasi, serta diskusi kelompok guna memicu pemecahan masalah secara aktif (Rosalia, 2. Pendekatan ini dipilih guna menghasilkan keterampilan taktis yang nyata bagi kelompok sasaran, khususnya dalam mengimplementasikan etika komunikasi Islami ketika mengoperasikan media sosial sehari-hari. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Karang Kemiri. Kecamatan Belitang pada bulan Februari 2026. Sasaran kegiatan adalah remaja desa yang terdiri atas pelajar tingkat SMP. SMA, dan anggota organisasi kepemudaan dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan edukatif agar peserta dapat terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Secara operasional, tahapan pelaksanaan metode pelatihan ini dijalankan melalui langkah-langkah terstruktur sebagai berikut: Tahap Observasi Awal: Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi riil penggunaan media sosial di kalangan remaja Desa Karang Kemiri. Teknik pengumpulan data awal yang digunakan berupa wawancara sederhana dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, dan remaja setempat untuk memetakan durasi akses gawai serta mendeteksi dasar pemahaman etika digital awal Tahap Sosialisasi Program: Tahapan ini dilakukan dengan memperkenalkan tujuan dan manfaat kegiatan kepada peserta serta masyarakat desa. Sosialisasi ini difokuskan untuk membangun kesadaran awal . peserta mengenai pentingnya penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab. Tahap Pelatihan dan Penyampaian Materi: Materi pelatihan disampaikan secara mendalam melalui metode ceramah interaktif, demonstrasi contoh kasus, dan tanya jawab. Materi pokok yang diberikan kepada sasaran meliputi: . Pengertian media sosial, literasi digital, serta dampak positif dan negatifnya. Etika komunikasi digital berdasarkan nilai-nilai Islam dalam bermedia sosial. Prinsip tabayyun dalam menyebarkan informasi. Pencegahan cyberbullying dan ujaran kebencian. Pemanfaatan media sosial untuk dakwah dan Tahap Simulasi dan Diskusi Kasus: Pada tahapan inti kegiatan pelatihan, peserta diberikan lembar kerja berisi beberapa contoh kasus nyata yang marak terjadi di dunia siber, seperti sebaran berita hoaks, tindakan cyberbullying, ujaran kebencian, hingga pemberian komentar Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan simulasi analisis kritis mengenai penyebab masalah, dampak negatif, dan langkah penyelesaian solusi siber dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman seperti tabayyun . dan menjaga lisan . esantunan berkomenta. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mempresentasikan hasil analisisnya di depan forum. Prosedur Evaluasi dan Refleksi: Evaluasi dirancang sebagai bagian akhir dari metode pelatihan untuk mengukur ketercapaian program serta mengukur sejauh mana peningkatan pengetahuan JEPKM (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. No. 1 : Juni 2026 Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang dan kesadaran peserta setelah menerima intervensi materi (Madi dkk. , 2. Pelaksanaan prosedur evaluasi ini dilakukan melalui dua instrumen utama: . Penyebaran angket sederhana kepada seluruh peserta guna mengukur aspek pemahaman kognitif. Pelaksanaan sesi diskusi akhir dan refleksi terbuka antara pemateri dan peserta untuk menampung pendapat serta kendala harian peserta (Ritonga dkk. , 2. Seluruh data dan informasi yang diperoleh dari tahapan observasi, proses diskusi kelompok, hingga hasil pengisian angket evaluasi kemudian dikumpulkan secara sistematis. Proses pengumpulan data ini dioptimalkan dengan menggunakan teknik pengumpulan data kualitatif yang relevan untuk menggali informasi secara mendalam (Thalib, 2. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif untuk menggambarkan pemetaan masalah awal, dinamika respons peserta selama intervensi, serta persentase capaian peningkatan pemahaman etika siber mitra. Hasil analisis inilah yang menjadi pijakan utama dalam menyusun konstruksi bahasan pada bab hasil dan HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan pelatihan etika bermedia sosial berbasis nilai-nilai keislaman dilaksanakan secara terstruktur dan interaktif dengan melibatkan remaja Desa Karang Kemiri sebagai peserta utama. Kegiatan berlangsung dengan lancar sesuai jadwal yang telah direncanakan oleh tim Sejak awal kegiatan hingga penutupan, peserta menunjukkan respon yang sangat positif terhadap seluruh rangkaian pelatihan. Hal tersebut terlihat dari tingkat kehadiran peserta yang tinggi, partisipasi aktif dalam diskusi, serta antusiasme mereka dalam mengikuti setiap sesi materi dan simulasi Pada tahap pembukaan, tim pelaksana memberikan pengantar mengenai pentingnya etika dalam penggunaan media sosial di era digital saat ini. Peserta diberikan gambaran bahwa media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Berdasarkan hasil dialog awal, sebagian besar peserta mengaku menggunakan media sosial hampir setiap hari dengan durasi yang cukup lama. Adapun platform yang paling sering digunakan antara lain WhatsApp. Instagram. TikTok. Facebook, dan YouTube. Media sosial tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti hiburan, komunikasi dengan teman dan keluarga, mengikuti tren, mencari informasi, hingga mengakses konten pembelajaran dan keagamaan. Dalam sesi awal pelatihan, narasumber menyampaikan materi mengenai pengaruh media sosial terhadap kehidupan sosial remaja. Materi disampaikan melalui metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan tayangan video singkat dan contoh kasus nyata yang dekat dengan kehidupan peserta. Pendekatan ini membuat peserta lebih mudah memahami materi yang diberikan serta mampu menghubungkannya dengan pengalaman pribadi mereka dalam menggunakan media sosial. Peserta kemudian diberikan pemahaman mengenai dampak positif media sosial. Narasumber menjelaskan bahwa media sosial dapat menjadi sarana yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Media sosial dapat digunakan sebagai media pembelajaran, sarana memperluas wawasan, tempat berbagi informasi positif, media dakwah Islam, serta wadah pengembangan kreativitas dan keterampilan remaja. Beberapa peserta menyampaikan bahwa mereka sering menggunakan media sosial untuk mencari materi pelajaran, menonton ceramah agama, dan memperoleh informasi terkini mengenai pendidikan maupun perkembangan dunia luar. JEPKM (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. No. 1 : Juni 2026 Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang Selain menjelaskan dampak positif, narasumber juga membahas berbagai dampak negatif media sosial yang saat ini banyak terjadi di kalangan remaja. Peserta diberikan contoh tentang penyebaran berita bohong . , ujaran kebencian, cyberbullying, penipuan digital, serta penggunaan kata-kata kasar di kolom komentar media sosial. Narasumber menekankan bahwa penggunaan media sosial tanpa etika dapat menimbulkan konflik sosial, kesalahpahaman, bahkan merusak hubungan antarindividu di lingkungan masyarakat. Melalui diskusi yang dilakukan, peserta mulai menyadari bahwa kebebasan dalam menggunakan media sosial harus disertai dengan tanggung jawab moral dan sosial. Sebagian peserta mengaku pernah melihat maupun mengalami langsung konflik akibat kesalahpahaman di media sosial. Ada pula peserta yang menyampaikan bahwa mereka sering menemukan komentar negatif dan ujaran yang tidak pantas di berbagai platform digital. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian dijadikan bahan refleksi bersama mengenai pentingnya menjaga etika komunikasi di ruang digital. Untuk meningkatkan pemahaman peserta, tim pengabdian juga melaksanakan sesi simulasi Dalam kegiatan ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan diminta menganalisis contoh kasus pelanggaran etika bermedia sosial. Peserta kemudian mendiskusikan solusi yang tepat berdasarkan nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, sopan santun, saling menghormati, tabayyun, serta menjaga persaudaraan sesama muslim. Kegiatan simulasi ini membuat suasana pelatihan menjadi lebih aktif dan komunikatif karena peserta dapat secara langsung mempraktikkan cara bersikap bijak dalam menghadapi permasalahan di media sosial. Peningkatan Pemahaman Etika Bermedia Sosial Hasil dari pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan pemahaman mengenai pentingnya etika bermedia sosial. Sebelum pelatihan, sebagian peserta masih menganggap media sosial hanya sebagai sarana hiburan tanpa menyadari dampak sosial yang dapat Namun setelah mengikuti pelatihan, peserta mulai memahami bahwa penggunaan media sosial harus dilakukan secara cerdas, selektif, dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perkembangan pemahaman peserta mengenai etika bermedia sosial secara spesifik. Guna memenuhi instruksi visualisasi data pada template jurnal, dinamika perubahan pemahaman dan kompetensi etika digital peserta sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan dirangkum dalam Tabel 1 berikut: Tabel 1. Indikator Capaian Pemahaman Etika Bermedia Sosial Remaja Indikator Kompetensi Kondisi Etika Digital Pelatihan Verifikasi (Tabayyu. Kesantunan Berbahasa Sebelum Kondisi Setelah Pelatihan Informasi Belum memahami Mulai pentingnya klarifikasi memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya Sering mengabaikan Mulai adab komentar siber menggunakan bahasa yang sopan di media sosial JEPKM (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. No. 1 : Juni 2026 Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang Kontrol Narasi Negatif Terbiasa menghadapi Berkomitmen menghindari komentar konten provokatif negatif dan ujaran kebencian Penghormatan Hak Digital Kurang peka terhadap Mulai privasi publik menghargai privasi orang lain Orientasi Platform Pemanfaatan Dominan untuk Mulai sadar untuk menggunakan hiburan semata media sosial untuk kegiatan positif (Sumber: Data Primer Hasil Evaluasi Diolah, 2. Peningkatan pemahaman tersebut menunjukkan bahwa pelatihan etika digital memiliki pengaruh positif terhadap orientasi perilaku remaja dalam menggunakan media sosial sehari-hari. Implementasi Nilai-Nilai Keislaman Kegiatan pelatihan menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai Islam dalam aktivitas digital. Nilai-nilai tersebut meliputi: Oe Tabayyun: Peserta diajarkan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Prinsip ini penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan fitnah di media Oe Kejujuran: Islam mengajarkan pentingnya berkata jujur dan menghindari penyebaran informasi Dalam media sosial, kejujuran menjadi dasar komunikasi yang sehat. Oe Sopan Santun: Peserta diberikan pemahaman bahwa komunikasi digital tetap harus memperhatikan adab dan kesopanan sebagaimana komunikasi secara langsung. Oe Tanggung Jawab: Setiap pengguna media sosial harus bertanggung jawab terhadap konten yang diunggah maupun dibagikan kepada orang lain. Penerapan nilai-nilai tersebut menjadi langkah penting dalam membentuk karakter remaja yang religius dan berakhlak mulia di era digital. Dampak Positif Kegiatan dan Pembahasan Analisis Kritis Kegiatan pengabdian ini memberikan beberapa dampak positif, antara lain meningkatnya kesadaran remaja mengenai bahaya penyalahgunaan media sosial, bertambahnya pemahaman tentang etika komunikasi digital, tumbuhnya sikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, meningkatnya pemahaman nilai-nilai Islam dalam kehidupan digital, serta terbangunnya kesadaran untuk menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui program edukasi berbasis kebutuhan sosial masyarakat desa. Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan pelatihan berjalan efektif dan memberikan dampak positif terhadap kesadaran remaja mengenai penggunaan media sosial yang sehat dan bertanggung Keterkaitan erat antara kecakapan literasi digital peserta dengan perbaikan perilaku siber mereka memperkuat temuan ilmiah dari Jurnal Pendidikan dan Konseling . yang menegaskan bahwa tingkat literasi digital memiliki pengaruh yang signifikan dan berbanding lurus terhadap penegakan JEPKM (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. No. 1 : Juni 2026 Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang etika bermedia sosial di kalangan remaja. Melalui penguasaan kompetensi digital ini, potensi penyimpangan perilaku di dunia siber dapat diminimalisir secara preventif. Lebih lanjut, keberhasilan penanaman karakter Islami dalam ruang interaksi digital ini sejalan dengan pandangan moral Nata . , yang menyatakan bahwa desain pendidikan karakter perspektif Islam harus mampu bertransformasi dan diimplementasikan ke dalam ranah kontemporerAitermasuk dunia siberAiagar nilai-nilai kegamaan dapat menjadi tameng akhlak yang kokoh bagi generasi muda. Integrasi nilai keislaman ini didukung pula oleh landasan konseptual dari Ahmadi . yang menggarisbawahi bahwa strategi manajemen pendidikan berbasis nilai-nilai Islam sangat krusial dalam menguatkan kualitas karakter kepemudaan demi menjawab tantangan modernisasi dan arus globalisasi. Pendekatan pelatihan partisipatif yang turun langsung ke masyarakat pedesaan ini juga memperkuat hasil pengabdian dari Ahmadi dkk. yang menyimpulkan bahwa tindakan pendampingan aktif secara kolektif di tingkat akar rumput memberikan kontribusi jangka panjang yang efektif dalam membina moralitas islami generasi muda siber. Faktor Pendukung dan Hambatan Pelaksanaan kegiatan pelatihan etika bermedia sosial berbasis nilai-nilai keislaman ini didukung oleh beberapa faktor yang sangat membantu kelancaran kegiatan. Salah satu faktor pendukung utama adalah adanya dukungan dari pemerintah desa yang memberikan izin, fasilitas, serta motivasi kepada masyarakat khususnya para remaja untuk mengikuti kegiatan pelatihan. Dukungan tersebut menunjukkan adanya perhatian pemerintah desa terhadap pembinaan karakter generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan media sosial di era digital. Selain itu, antusiasme peserta juga menjadi faktor pendukung penting dalam keberhasilan Para remaja menunjukkan minat dan partisipasi aktif selama pelatihan berlangsung, mulai dari mengikuti penyampaian materi, berdiskusi, hingga terlibat dalam simulasi kasus. Tingginya rasa ingin tahu peserta terhadap cara penggunaan media sosial yang baik dan benar membuat suasana pelatihan menjadi lebih hidup dan interaktif. Peserta juga terlihat terbuka dalam menyampaikan pengalaman dan permasalahan yang mereka hadapi ketika menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Faktor pendukung lainnya adalah tersedianya fasilitas yang cukup memadai untuk menunjang pelaksanaan kegiatan. Fasilitas seperti ruang kegiatan, alat presentasi, pengeras suara, serta media pendukung lainnya membantu proses penyampaian materi menjadi lebih efektif, tertib, nyaman, dan Di sisi lain, terdapat beberapa hambatan yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan waktu pelaksanaan sehingga penyampaian materi dan diskusi belum dapat dilakukan secara lebih mendalam. Waktu yang terbatas menyebabkan beberapa peserta masih membutuhkan pendampingan lanjutan agar pemahaman mereka mengenai etika digital dapat lebih optimal. Hambatan lainnya adalah masih adanya peserta yang mengalami kesulitan dalam mengurangi intensitas penggunaan media sosial. Sebagian peserta telah terbiasa menggunakan media sosial dalam waktu yang cukup lama setiap harinya sehingga perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara instan. Kebiasaan mengakses media sosial secara berlebihan menjadi tantangan tersendiri dalam menanamkan sikap bijak dan bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi digital. Meskipun demikian, hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi melalui pendekatan komunikatif dan metode pembelajaran yang interaktif. Tim pelaksana berusaha menciptakan suasana yang santai namun edukatif agar peserta merasa nyaman dan tidak bosan selama kegiatan berlangsung. Diskusi kelompok, simulasi kasus, dan tanya jawab digunakan untuk meningkatkan keterlibatan peserta JEPKM (Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka. Vol. No. 1 : Juni 2026 Akhsanul Huda. Syafrizal Fuady. Widodo. Pelatihan Etika Bermedia Sosial Berbasis Nilai-Nilai Keislaman Bagi Remaja Desa Karang Kemiri Belitang sehingga mereka tetap aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Model penyajian materi yang dikemas secara atraktif ini sejalan dengan prinsip metodologi dari Ahmadi. Arianto, dan Huda . yang membuktikan bahwa pemanfaatan media presentasi yang atraktif sanggup mendongkrak minat, fokus, serta efektivitas penyerapan informasi peserta secara maksimal dalam sebuah pelatihan. Dengan pendekatan tersebut, peserta lebih mudah memahami materi serta termotivasi untuk menerapkan etika bermedia sosial dalam kehidupan sehari-hari. SIMPULAN Kegiatan pelatihan etika bermedia sosial berbasis nilai-nilai keislaman bagi remaja Desa Karang Kemiri. Kecamatan Belitang terbukti berjalan secara efektif dan kondusif. Melalui pendekatan pelatihan yang interaktif dan berbasis simulasi kasus nyata, kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam mendongkrak kecakapan literasi digital serta kesadaran moral para peserta di ruang siber. Para remaja mitra tidak hanya berhasil menyerap pemahaman kognitif mengenai batasan regulasi siber serta risiko rekam jejak digital, melainkan juga mampu menginternalisasi prinsip-prinsip akhlak komunikasi Islam secara aplikatif dalam aktivitas digital harian mereka. Internalisasi pilar keagamaan kontemporer yang mencakup nilai tabayyun . erifikasi informas. , kejujuran, sopan santun berbahasa, dan tanggung jawab moral terbukti mampu mentransformasi pola pikir remaja agar menjadi lebih selektif, bijak, dan santun dalam berinteraksi di berbagai platform media sosial. Keberhasilan penanaman karakter Islami kontemporer ini menjadi langkah preventif yang strategis dalam membentengi generasi muda pedesaan dari dampak negatif siber seperti hoaks, ujaran kebencian, dan tindakan cyberbullying. Meskipun program ini didukung penuh oleh fasilitasi pemerintah desa serta tingginya antusiasme peserta, keterbatasan durasi waktu pelaksanaan pelatihan serta tingginya ketergantungan gawai harian pada remaja menjadi hambatan sekunder yang belum terselesaikan secara instan. Oleh karena itu, direkomendasikan adanya program pendampingan lanjutan secara berkala serta pembentukan komunitas pelopor literasi digital siber di tingkat desa. Langkah ini krusial demi memastikan keberlanjutan habituasi etika siber yang kokoh, sistematis, dan berakhlak mulia di era DAFTAR PUSTAKA