Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Ekologi Perairan Pulau Tunda Serang Banten: Keadaan Umum Hutan Mangrove Water Ecology of Tunda Island Serang Banten: General Conditions of the Mangrove Forest Syahrial1*. Dandi Saleky2. Agus Putra Abdul Samad3. Ilham Antariksa Tasabaramo4 Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Pertanian. Universitas Malikussaleh. Aceh. Indonesia Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Musamus. Papua. Indonesia Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Samudra. Aceh. Indonesia Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Pertanian. Perikanan dan Peternakan. Universitas Sembilanbelas November. Sulawesi Tenggara. Indonesia *Korespondensi: syahrial. marine@unimal. ABSTRAK Hutan mangrove kini menghadapi ancaman serius, dimana tekanan antropogenik manusia telah meningkat pesat di wilayah pesisir sekitar kawasan mangrove. Kajian ekologi perairan Pulau Tunda Serang Banten khususnya keadaan umum hutan mangrovenya telah dilakukan pada bulan Januari 2014. Hal ini bertujuan sebagai data dasar dalam mengevaluasi pengelolaan mangrove di Indonesia . hususnya Pulau Tunda Serang Bante. dan kedepannya keberadaan hutan mangrove Indonesia dapat Data kondisi vegetasi mangrove Pulau Tunda Serang Banten dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan . egakan mangrove terlua. dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan. Sementara pengukuran kualitas perairan dilakukan secara in-situ. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan hutan mangrove Pulau Tunda Serang Banten pada bagian Timur (Stasiun . lebih muda dibandingkan bagian Selatan (Stasiun . Kemudian kerapatannya juga lebih tinggi di bagian Timur daripada bagian Selatan, namun kondisi hutan mangrove kedua stasiun masih tergolong baik dan sangat padat. Selain itu, kualitas lingkungan vegetasi mangrove Pulau Tunda masih tergolong tinggi, keanekaragaman maupun dominansi hutan mangrovenya tergolong rendah, keseragaman dalam keadaan agak seimbang, pola penyebarannya tergolong beraturan . dan parameter kualitas perairan tidak menjadi penghambat bagi pertumbuhan mangrovenya. Kata kunci: Ekologi perairan, keadaan umum, hutan mangrove. Pulau Tunda ABSTRACT Mangrove forests now face serious threats, where human anthropogenic pressure has increased rapidly in coastal areas around mangrove areas. The ecological study of the waters of Tunda Serang Banten Island, especially the general condition of its mangrove forests, was carried out in January 2014. This was intended as a baseline in evaluating mangrove management in Indonesia . specially Tunda Serang Banten Islan. and the presence of Indonesian mangrove forests could be maintained in the future. Data on the condition of the mangrove vegetation of Tunda Serang Banten Island was collected by making line transects and plots drawn from the reference point . utermost mangrove stand. and perpendicular to the coastline to the mainland. While the measurement of AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 water quality is done in-situ. The results showed that the growth of the mangrove forest of Tunda Serang Island in Banten on the East (Station . was younger than that in the South (Station . Then the density is also higher in the East than in the South, but the condition of the mangrove forests of both stations is still relatively good and very dense. In addition, the environmental quality of Tunda Island's mangrove vegetation is still relatively high, the diversity and dominance of mangrove forests is low, uniformity in a somewhat balanced condition, regular distribution patterns and water quality parameters are not a barrier to the growth of mangroves. Keywords: Aquatic ecology, general condition, mangrove forest. Tunda Island PENDAHULUAN Hutan mangrove terdistribusi di sepanjang pantai tropis dan subtropis yang terlindungi (Woodroffe dan Grindrod, 1991. Maiti dan Chowdhury, 2. , beradaptasi dengan akar napas, akar tunjang, akar papan, daun pengekskresi garam serta buahnya . bersifat vivipar (Parvaresh et , 2. Hal ini menjadikan mangrove sebagai tumbuhan yang unik bila dibandingkan dengan tumbuhan lainnya (Chakraborty, 2. Di dunia, hutan mangrove menghuni lebih dari 152. km2, tetapi menempati < 1% dari zona pesisir dunia (Alongi, 2002. Alongi, 2. , dimana empat puluh tujuh persen . %) luas hutan mangrove dunia ditemukan di Indonesia. Brazil. Nigeria. Australia maupun Meksiko (FAO, 2. dan Indonesia merupakan pemilik kawasan mangrove terluas di Asia Tenggara . 890 km. (ITTO, 2. mangrove memiliki banyak fungsi ataupun manfaat, salah satunya adalah sebagai penjaga keseimbangan ekologi (Jingchun et al. , 2010. Du et al. , 2. dimana himpunan vegetasi mangrove dapat menyediakan habitat bagi spesies terestrial, muara maupun laut untuk dimanfaatkan sebagai daerah pembiakan, pertumbuhan, perlindungan dan zona makan (Holguin et al. Selain itu, hutan mangrove juga melindungi pesisir pantai dari bencana abrasi, badai dan tsunami, mendukung bidang perikanan, menyimpan karbon, menyediakan kayu, memberikan kesempatan bagi manusia untuk berekreasi (Ewel et al. , 1998. Barbier et al. , 2011. Lee et al. , 2. kemudian hutan mangrove juga dapat melindungi wilayah pesisir dari kenaikan permukaan laut (Koch et al. , 2. menjaga dari peristiwa perubahan iklim (Alongi, 2. , memerangkap sedimen (Satheeshkumar dan Khan, 2012. Gillis et al. , 2. , mencegah dispersi polutan antropogenik ke ekosistem perairan (Yang et al. , 2. , sebagai pertahanan dan daya hidup berbagai sistem sosialekologi pantai (UNEP, 2. , menyerap CO2 (Donato et al. , 2011. Pendleton et , 2. hingga kaya akan bahan organik (Camilleri, 1. Nilai mangrove diperkirakan mencapai US$ 000 Ae 16. 000/ha/tahun (Barbier et al. , sedangkan nilai ekonomi secara globalnya mencapai US$ 1. 6 miliar/tahun (Polidoro et al. , 2. Namun saat ini mengalami penurunan dari waktu ke Hal ini karena intervensi manusia (Kammerbauer dan Ardon, 1999. Millington et al. , 2003. Van Laake dan Sanchez-Azofeifa, 2004. Abdullah dan Nakagoshi, 2. yang menjadikan ekosistem mangrove sebagai sasaran dalam berbagai kegiatannya (Hartati dan Harudu, 2. yaitu seperempat . mangrove dunia hilang melalui konversi budidaya, pertanian dan penggunaan lahan perkotaan (Barbier dan Cox, 2003. Duke et al. , 2007. Friess dan Webb 2. , sehingga hutan mangrove dunia mengalami kerusakan atau hilang 1 Ae 2% per tahunnya (Valiela et al. , 2001. Alongi, 2002. Primavera, 2006. Duke et , 2. dan berdampak terhadap pengurangan keanekaragaman hayati ekosistem mangrove serta penyimpanan AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020,w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 biomassa karbon (Giri et al. , 2008. Siikamaki et al. , 2. , kepunahan 16% spesies mangrove (Polidoro et al. , 2. penurunan sektor perikanan maupun barang dan jasa lainnya (Aboudha dan Kairo, 2. , menyumbang 10% emisi global (Donato et al. , 2. , mengurangi penghidupan masyarakat pesisir (FAO. UNEP, 2. hingga berdampak terhadap pengurangan kekayaan negaranegara berkembang (Alongi, 2008. Cochard et al. , 2008. Barbier, 2014. Spalding et al. , 2. Untuk mencegah mangrove, salah satu langkahnya adalah dengan melakukan pemantauan secara berkala (Purnobasuki, 2011(Syahrial, 2. Oleh karena itu, kajian ekologi perairan Pulau Tunda Serang Banten khususnya keadaan umum hutan mangrovenya sangat perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk data dasar dalam mengevaluasi pengelolaan mangrove di Indonesia . hususnya Pulau Tunda Serang Bante. keberadaan hutan mangrove Indonesia dapat dipertahankan. Data kondisi vegetasi mangrove Pulau Tunda Serang Banten dikumpulkan menurut Bengen . , dimana vegetasi mangrove dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan . egakan mangrove terlua. dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan, kemudian transek garis tersebut dibuat petak-petak contoh . dengan ukuran 10 x 10 m . ategori poho. , 5 x 5 m . ategori anaka. dan 1 x 1 m . ategori sema. Setelah dibuat transek garis dan plot, tumbuhan mangrove dideterminasi dan dihitung jumlah individu setiap jenisnya. Selanjutnya diukur lingkar batang pada setinggi dada atau sekitar 1. 3 m dari atas tanah menurut MNLH . METODE PENELITIAN Analisis Pertumbuhan Mangrove Pulau Tunda Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2014 di kawasan ekosistem mangrove Pulau Tunda Kabupaten Serang Provinsi Banten. Stasiun 1 berada di bagian Timur pulau, sedangkan Stasiun 2 berada di bagian Selatan pulau (Gambar . Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rol meter, buku identifikasi mangrove Noor et al. data sheet, kamera. GPS Garmin 62 series, alat tulis, thermometer dan hand refractometer, sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades untuk mengkalibrasi alat kualitas air. Pengumpulan Data Kondisi Vegetasi Mangrove Pulau Tunda Pengumpulan Data Kualitas Perairan Pengukuran kualitas perairan dilakukan dengan cara in-situ, dimana pengukuran dilakukan dengan cara mengambil contoh air pada masingmasing stasiun pengamatan. Adapun parameter kualitas perairan yang diukur di sekitar kawasan ekosistem mangrove Pulau Tunda adalah suhu dan salinitas. Analisis pertumbuhan mangrove Pulau Tunda menggunakan data diameter batang yang diperoleh dari pengukuran lingkar batang di lapangan. Adapun pertumbuhan mangrove Pulau Tunda adalah: . menghitung jumlah tegakan mangrove Pulau Tunda di setiap . data diameter batang dikelompokkan ke dalam selang kelas. menggunakan rumus 1 3. , dimana n adalah jumlah mangrove Pulau Tunda tiap stasiunnya. menentukan nilai tertinggi dan terendah dari data diameter batang tersebut. data tertinggi diameter batang dikurangi dengan nilai terendah untuk mendapatkan nilai rentang kelasnya. nilai rentang kelas tersebut kemudian dibagi dengan banyaknya kelas untuk memperoleh nilai AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 lebar kelas. menjumlahkan data terendah diameter batang . ebagai selang kelas bawa. dengan nilai lebar kelas untuk memperoleh selang kelas atas. menentukan nilai frekuensinya dan . Pulau Tunda dengan metode Bhattacharya . menggunakan software FISAT II Analisis Kerapatan dan Kriteria Kerusakan Mangrove Pulau Tunda Kerapatan mangrove Pulau Tunda penghitungan yang mengacu pada English et al. dan Bengen . , sedangkan kriteria baku penilaian kerusakan mangrovenya mengacu pada MNLH . Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Pulau Tunda Serang Banten Analisis Indikator Kualitas Mangrove Pulau Tunda Lahan Indikator kualitas lahan mangrove dianalisis menurut Lower Mississipi Valley . dalam Azkia et al. dan Syahrial . yakni berdasarkan asosiasi spesies, penutupan pohon, penutupan semai, jumlah jenis semai, jumlah hari tergenang dan luasan daerah yang terkena pengaruh pasang surut air Sementara pada penelitian ini, indikator kualitas lahan mangrove yang digunakan hanya berdasarkan penutupan pohon, penutupan semai dan jumlah jenis semai yang ditemukan. Tabel 1. Indikator mangrove Lower Mississipi Valley . dalam Azkia et . dan Syahrial . Indikator Kualitas Lahan Mangrove Penutupan pohon (%) Penutupan semai (%) Jumlah jenis semai Bobot Indikator-indikator ditabulasi di dalam grafik Lower Mississipi Valley, dimana indikator penutupan pohon dan semai dihitung berdasarkan banyaknya pohon dan semai yang ditemukan pada suatu komunitas terhadap jumlah keseluruhan kategori mangrove . abungan tegakan pohon. AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020,w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 anakan dan sema. Sementara, indikator jumlah jenis semai dihitung berdasarkan banyaknya jenis mangrove kategori semai yang ditemukan. Adapun penutupan pohon dan penutupan semai dihitung menggunakan rumus: 30% O Qe O 60% : Kualitas lingkungan vegetasi mangrove sedang 60% O Qe O 100% : Kualitas lingkungan vegetasi mangrove tinggi Indikator penutupan pohon ycEyco = Ocyco x 100% OcycIyco Dimana: : Penutupan pohon (%) Ock : Jumlah pohon dalam suatu OcSk : Jumlah seluruh jenis kategori mangrove di suatu komunitas Indikator penutupan semai ycEyc = Ocyc x 100% OcycIyco Dimana: : Penutupan semai (%) Ocs : Jumlah semai dalam suatu OcSk : Jumlah seluruh jenis kategori mangrove di suatu komunitas Untuk menentukan tinggi, sedang atau rendahnya kualitas lingkungan vegetasi mangrove di Pulau Tunda Serang Banten, menggunakan rumus modifikasi dari Lower Mississipi Valley . dalam Azkia et al. dan Syahrial . ycEyce = Oc. cEycnycuycO) OcycO Dimana: Qe : Kualitas lingkungan vegetasi : Indeks kualitas lahan mangrove : Bobot dari setiap indikator Analisis Indikator Ekologi Komunitas Mangrove Pulau Tunda Indikator ShannonWeaver, indeks dominansi Simpson dan keseragaman/kemerataan Shannon-Weaver. Untuk Shannon-Weaver HAo eanekaragaman renda. , 2. 0 < HAo O 3. eanekaragaman sedan. dan HAo Ou 3. eanekaragaman tingg. (Setyobudiandy et al. , 2. , kemudian untuk indeks dominansi Simpson kriterianya adalah 0 < C O 0. ominansi renda. , 0. 5 < C O ominansi sedan. 75 < C O ominansi tingg. (Setyobudiandy et , 2. Selanjutnya untuk indeks keseragaman/kemerataan ShannonWeaver kriterianya adalah 0 < E O 0. omunitas dalam keadaan terteka. , 0. < E O 0. omunitas dalam keadaan agak seimban. 75 < E O 1 omunitas dalam keadaan seimban. (Setyobudiandy et al. , 2. Analisis Pola Penyebaran Mangrove Pulau Tunda Pola penyebaran mangrove Pulau Tunda Serang Banten menggunakan Indeks Morisita (Iy. (Morisita, 1959. Krebs, 1972. Poole. Kusmana dan Istomo, 1995. Sakai et al. , 1999. Jongjitvimol et al. , 2. dimana kriteria indeksnya adalah Iyu = 1 . ola penyebarannya aca. Iyu < 1 . ola penyebarannya beraturan/regula. dan Iyu . ola mengelompok/clumpe. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Mangrove Pulau Tunda Kisaran nilai Qe adalah: Qe < 30% : Kualitas lingkungan vegetasi mangrove rendah Gambar 2 memperlihatkan bahwa mangrove Pulau Tunda Serang Banten AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 pada kedua stasiun pengamatan hanya terdiri dari satu kelompok, dimana tegakan mangrove Stasiun 1 lebih muda . 22 c. dibandingkan Stasiun 2 . (Tabel . Selanjutnya Tabel memperlihatkan bahwa jumlah populasi mangrove pada Stasiun 1 lebih tinggi . dibandingkan dengan Stasiun 2 . Hal ini mengindikasikan bahwa tegakan mangrove Pulau Tunda di Stasiun 1 lebih rapat daripada Stasiun 2. Sementara secara keseluruhan, distribusi Pulau Tunda didominasi oleh tegakan kategori pohon . ata-rata diameter batangnya besar dari 4 Gambar 2. Pemisahan kelompok diameter batang mangrove Pulau Tunda Tabel 2. Estimasi pertumbuhan mangrove Pulau Tunda Stasiun Jumlah Kelompok Populasi . Diameter Batang Rata-Rata . Standar Deviasi (S. Index Separasi (I) Kerapatan dan Kriteria Kerusakan Mangrove Pulau Tunda Tabel 3. Kerapatan hutan mangrove di Pulau Tunda Serang Banten Stasiun Kerapatan . nd/h. Total RA = Rhizophora apiculata. RS = Rhizophora stylosa. BG = Bruguiera gymnorrhiza. SC = Sonneratia caseolaris. RM = Rhizophora mucronata. LR = Lumnitzera racemosa AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020,w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Tabel 3 memperlihatkan bahwa kerapatan hutan mangrove di Pulau Tunda Serang Banten, tertingginya di Stasiun I . agian Timu. dan terendahnya di Stasiun 2 . agian Selata. Dibandingkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 201 tahun 2004, hutan mangrove Pulau Tunda Serang Banten masih tergolong baik dan sangat padat (Ou 1500 ind/h. Polidoro et al. menyatakan bahwa ancaman utama hutan mangrove adalah degradasi habitat dan konversi lahan pengembangan perkotaan/pesisir serta eksploitasi yang berlebihan. Selanjutnya Basyuni et al. menyatakan bahwa akuakultur dan perkebunan kelapa sawit merupakan penyebab utama hilangnya hutan mangrove di Indonesia, dimana selama 20 tahun terakhir kerusakan hutan mangrove telah mendekati 50 Ae 80% di Jawa. Sulawesi maupun Sumatera (Wolanski et al. , 2. 95 dengan jumlah semai yang ditemukan sebanyak enam . spesies (Gambar . Menurut Sillanpaa et . keberhasilan regenerasi mangrove merupakan komponen kunci keanekaragaman hayati maupun layanan ekosistem untuk pengelolaan di masa yang akan dating. Mukhlisi dan Gunawan . menyatakan bahwa regenerasi semai pada hutan mangrove merupakan salah satu bagian penting dalam proses suksesi sekunder, kemudian tumbuhnya jenis-jenis semai alami mangrove ketersediaan pohon induknya. Indikator Kualitas Lahan Mangrove Pulau Tunda Indikator penutupan pohon di Pulau Tunda sebesar 83. 96% dengan nilai indeks kualitas lahan mangrove Bila dibandingkan mangrove menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Tahun 2004, tutupan mangrove di lokasi penelitian masih tergolong baik dan sangat padat (Ou 75%). Soraya et al. menyatakan bahwa penurunan tutupan mangrove dalam skala besar akan mengurangi fungsinya secara fisik, baik itu sebagai penjaga kestabilan garis pantai, pencegah abrasi, pengendali intrusi, penangkap lumpur/sedimen, pengendali banjir maupun pemelihara kualitas air. Selain itu, hasil pengukuran di lapangan juga memperlihatkan bahwa indikator penutupan semai di Pulau Tunda Serang Banten sebesar 08. dengan nilai indeks kualitas lahan mangrovenya mencapai 0. 25 (Gambar . , sedangkan indikator jumlah jenis semai Gambar 3. Hubungan penutupan pohon terhadap indeks kualitas Pulau Tunda Serang Banten Gambar 4. Hubungan penutupan semai terhadap indeks kualitas Pulau Tunda Serang Banten AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Tabel 4. Perhitungan kualitas lingkungan vegetasi mangrove Pulau Tunda Serang Banten Indikator Nilai Indikator Penutupan pohon Penutupan semai Jumlah jenis semai Total Kualitas lingkungan vegetasi mangrove (Q. Qi x W Tabel 5. Keanekaragaman, dominansi dan keseragaman mangrove Pulau Tunda Serang Banten Stasiun Jumlah Spesies HAo Rata-Rata Gambar 5. Hubungan jumlah jenis semai terhadap indeks kualitas lahan Pulau Tunda Serang Banten Tabel 4 menunjukkan bahwa kualitas lingkungan vegetasi mangrove di Pulau Tunda Serang Banten sekitar 74% dan telah mengalami perubahan 26% dari kondisi idealnya. Valiela et al. menyatakan bahwa hutan mangrove memiliki relevansi ekologi yang tinggi dan banyak kota-kota berdekatan dengannya. Menurut Green et . tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggal di daerah pesisir diperkirakan mencapai 60%. Selanjutnya UNEP . menambahkan bahwa lebih dari 100 juta orang tinggal dalam jarak 10 km dari kawasan mangrove dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat sekitar 120 juta orang pada tahun 2015. Friess dan Webb . menyatakan bahwa tekanan yang paling umum dialami oleh ekosistem mangrove adalah konversi penggunaan lahan budidaya, pertanian dan pembangunan perkotaan, sehingga sekitar 35% hutan mangrove hilang di akhir abad ke-20 (Valiela et al. dan mangrove yang tersisa bisa menjadi fungsional paling berharga pada abad ke-21 (Duke et al. , 2007. Polidoro et al. , 2. Tabel 5 juga memperlihatkan rata-rata mangrove di Pulau Tunda Serang Banten 52, sehingga komunitasnya dikategorikan rendah. Syahrial . menyatakan bahwa rendahnya nilai komunitas mangrovenya berkompetisi bersama-sama memanfaatkan ruang, cahaya matahari, tidak terjadinya pemusatan oleh suatu jenis, daya adaptasinya luas dan komunitasnya tersebar merata. Menurut Munthe et al. indeks dominansi digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu spesies mendominansi spesies lainnya. Selain itu. Tabel 5 juga memperlihatkan bahwa ratarata nilai keseragaman mangrovenya 60 yang mengambarkan komunitasnya dalam keadaan agak Menurut Supriadi et al. AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020,w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. rendahnya indeks keseragaman suatu kondisi lingkungannya semakin tidak stabil . idak seimban. dan menunjukkan komunitasnya dalam keadaan tertekan. Indikator Ekologi Komunitas Mangrove Pulau Tunda Tabel 5 memperlihatkan bahwa rata-rata nilai keanekaragaman mangrove di Pulau Tunda Serang Banten adalah Hal ini mengindikasikan bahwa keanekaragaman hutan mangrovenya tergolong rendah dan kondisi vegetasinya juga kurang baik, dimana sebagian besar jenis mangrovenya tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya dan diduga mengalami Penelitian yang dilakukan oleh Syahrial . di hutan mangrove Utara Indonesia (Pulau Mianga. juga menunjukkan indeks keanekaragaman yang hampir sama yakni 1. 35 dan tergolong rendah. Menurut Latuconsina et al. indeks keanekaragaman keanekaragaman dalam suatu pembagian Selanjutnya Insafitri . menyatakan bahwa keanekaragaman biota dalam suatu perairan sangat tergantung pada banyaknya spesies di suatu komunitas tersebut, sedangkan Brower et al. menyatakan bahwa keanekaragaman jenis merupakan suatu ekspresi dari struktur komunitas, dimana suatu keanekaragaman jenis yang tinggi, apabila proporsi antar jenis secara keseluruhannya sama banyak. Sementara Odum . menyatakan bahwa nilai indeks keanekaragaman dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh gangguan kestabilan dari komunitas tumbuhan pada suatu lokasi. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Pola Penyebaran Mangrove Pulau Tunda Tabel 6 memperlihatkan bahwa secara keseluruhan pola penyebaran mangrove di Pulau Tunda Serang Banten tergolong beraturan . Hal ini mengindikasikan bahwa adanya interaksi negatif antara individu, baik itu persaingan dalam memperebutkan ruang, unsur hara maupun cahaya matahari. Pemberton dan Frey . serta Husein et al. menyatakan bahwa pola penyebaran yang seragam juga dapat disebabkan oleh interaksi negatif antara individu-individu, misalnya kompetisi Selanjutnya Smith et al. menyatakan bahwa stabilitas mangrove sangat dipengaruhi oleh salinitas, jenis dan kimia tanah, kandungan gizi maupun dinamikanya, toleransi fisiologis, predasi, kompetisi serta campur tangan manusia. Selain itu, ekosistem mangrove juga sangat dipengaruhi oleh pengendapan / rata-rata permukaan laut dan pencemaran perairan (Purnobasuki, 2. Karakteristik Parameter Kualitas Air Hasil pengukuran paramater suhu perairan di kedua stasiun berkisar antara 67 Ae 28. 30AC, sedangkan salinitasnya berkisar antara 30. 67 Ae 31. 67A (Tabel Bervariasinya suhu dan salinitas perairan di lokasi penelitian tidak menyebabkan sebagai faktor pembatas bagi kelangsungan hidup mangrove Pulau Tunda Serang Banten. Menurut Ghosh merupakan ekosistem yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, salah satunya adalah perubahan suhu (Alongi. AJurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik. Vol. 4 No. 1 Mei 2020, w. Syahrial et. al: Ekologi Perairan Pulau Tunda Doi: 10. 46252/jsai-fpik-unipa. Vol. No. p-ISSN 2550-1232 e-ISSN 2550-0929 Tabel 6. Pola penyebaran hutan mangrove Pulau Tunda Serang Banten Stasiun Jenis Mangrove Pulau Tunda Rhizophora apiculata Bruguiera gymorrhiza Rhizophora stylosa Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Bruguiera gymorrhiza Lumnitzera racemosa Indeks Morisita (Iy. Pola Penyebaran Beraturan (Regula. Beraturan (Regula. Beraturan (Regula. Beraturan (Regula. Beraturan (Regula. Beraturan (Regula. Beraturan (Regula. Tabel 7. Karakteristik parameter kualitas air di Pulau Tunda Serang Banten Stasiun Baku mutu MNLH . Kualitas Air Suhu (AC) 67A0. 30A0. 28 Ae 32 Suhu rata-rata penjelasan secara korelatif terhadap persyaratan pengukuran suhu minimum memberikan pendekatan mekanistik yang lebih baik untuk mengukur ambang batasnya (Osland et al. , 2. Selain itu. Nguyen et al. menyatakan bahwa salinitas merupakan salah satu ciri lingkungan yang dapat mendefinisikan habitat mangrove apakah berkisar antara Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut, secara keseluruhan kisaran parameter kualitas perairan di Pulau Tunda Serang Banten masih dalam batas toleransi bagi kehidupan mangrove. Salinitas (A) 67A0. 67A0. s/d 34 maupun dominansi hutan mangrovenya tergolong rendah, keseragaman dalam . dan parameter suhu maupun salinitas perairan tidak menyebabkan penghambat bagi kelangsungan hidup UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada mas Nana Oyod dan teman-teman yang telah membantu saat pengambilan sampel di lapangan dan ucapkan terimakasih juga disampaikan kepada Bapak Kepala Desa yang telah memberikan izin sehingga terlaksananya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA