PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Kolaborasi Pola Asuh Orang Tua Dan Guru Dalam Mendidik Anak Dengan Metode Agama Vera Febriyanti Suleman1. Nurhayati Tine2. Pupung Puspa Ardini3 1,2,3 Universitas Negeri Gorontalo Email: verasuleman5@gmail. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kolaborasi pola asuh orang tua dan guru dalam mendidik anak dengan metode agama di TK Al- Khairaat. Dembe II. Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif terkait kolaborasi pola asuh orang tua dan guru dalam mendidik anak dengan metode agama. Subjek penelitian ini adalah 6 orang tua dan 3 orang guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian yang dilakukan tentang kolaborasi pola asuh orang tua dan guru dalam mendidik anak. Didapatkan kesimpulan bahwa adanya pola asuh orang tua yang mengontrol anak secara ketat, anak harus mengikuti semua perintah orang tua, anak yang tidak mematuhi orang tua akan dihukum. Serta ada pula pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan untuk anak bergaul dan beraktivitas, tetapi tetap mengontrol kegiatan anak, memperhatikan kebutuhan anak, serta dapat menjalin hubungan yang baik dengan anak. Sedangkan untuk pola asuh guru yaitu selalu memberikan reward, melakukan hubungan yang baik dengan anak, serta mengajarkan dan membiasakan tentang akhlak, moral, dan ibadah pada anak. Kata Kunci: Pola Asuh. Mendidik Anak. Metode Agama ABSTRACT The pupose of this study is to examine the collaboration between parenting styles of parents and teachers in education children using religious methods at TK Al-Khairaat kindergarten, dembe II. Gorontalo city. This study employed a decriptive qualitative method, focusing on the collaboration between parents and teachers in educating children through religious approaches. The subject involved 6 parents, and 3 teachers. The methods comprised observation, interview, and documentation. The study results showed that there is a parenting style where parents scrictly control the child, the child musr follow all parental commands, and children who do not obey their parents are subject to There is also a parenting style where parents provide freedom for children to socialize and engage in activities while mainting control over their activities, attending to the childAos needs, and fostering a good relathionship with the child. As for the teachersAos parenting style, they consistenly provide rewards, build good relationship with the children, and teach and instill, values related to ethics, morality, and worship. Keywords: Parenting Style. Educating Children. Religious Methods A 2024 Vera Febriyanti Suleman. Nurhayati Tine. Pupung Puspa Ardini Under the license CC BY-SA 4. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 28 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. PENDAHULUAN Dalam Perundang-undangan tentang Sistem Pendidikan No. 20 Tahun 2003, mengatakan bahwa Pendidikan merupakan Auusaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakatAy. Definisi dari Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) kata pendidikan berasal dari kata AodidikAo serta mendapatkan imbuhan AopeAo dan akhiran AoanAo, sehingga kata ini memiliki pengertian sebuah metode, cara maupum tindakan membimbing. Dapat didefinisi pengajaran ialah sebuah cara perubahan etika serta prilaku oleh individu atau sosial dalam upaya mewujudkan kemandirian dalam rangka mematangkan atau mendewasakan manusia melalui upaya pendidikan, pembelajaran, bimbingan serta pembinaan. Pristiwanti . 2:7. Pendidikan anak sangat berharga dalam keluarga, karena keluarga merupakan lembaga sosialisasi pertama dan utama untuk seorang Melalui keluarga itulah, anak diberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak agar kelak dapat melakukan penyesuaian diri dan pertama bagi anak-anak, dan pendidikan dari orang tua merupakan dasar perkembangan dan kehidupan dikemudian hari. Fajriyah . Anak usia dini membutuhkan bimbingan dari orang dewasa, baik guru maupun orang tua. Keberadaan anak usia dini sangat krusial, karena masing- masing individu akan mengalami masa tersebut sekali seumur hidup. Usia dini merupakan fase kehidupan dimana individu mengalami peningkatan secara signifikan dalam perkembangannya. Perkembangan usia dini meliputi berbagai aspek perkembangan, yaitu: nilai agama dan moral, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, dan seni. Khaironi&Ramdhani . Orang tua merupakan pendidik yang paling utama, guru serta teman sebaya yang merupakan lingkungan kedua bagi Hurlock . yang mengungkapkan bahwa orang yang paling penting bagi anak adalah orang tua, guru dan teman sebaya dari merekalah anak mengenal sesuatu yang baik dan tidak Pendidikan dalam keluarga yang baik dan benar, akan sangat berpengaruh pada perkembangan pribadi dan sosial anak. Kebutuhan yang diberikan melalui pola asuh, akan memberikan kesempatan pada anak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sebagian dari orang-orang yang berada disekitarnya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 29 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. kepribadian anak. Lidarnita . Meraih kesuksesan dalam Pendidikan anak usia dini tidak dapat dilepaskan dari peran guru dan orang tua. Guru memberikan Pendidikan disekolah, sedangkan orang tua bertugas untuk melanjutkan Pendidikan tersebut ketika berada dilingkungan keluarga atau dirumah bersama anak. Pendidikan disekolah dan dirumah harus berjalan beriringan dan saling mendukung satu sama lain karena anak hidup dilingkungan yang berbeda selama 24 jam, yaitu lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Saat berada dilingkungan sekolah, guru menjadi sosok yang digugu dan ditiru oleh anak, guru tidak mungkin memberikan pendidikan pada anak selama 24 jam. Kegiatan disekolah biasanya hanya berlangsung selama 4-5 jam, selanjutnya anak menghabiskan waktu bersama keluarga dan masyarakat, hal ini menunjukkan bahwa porsi pendidikan bersama orang tua jauh lebih banyak daripada guru, sedangkan dilingkungan keluarga dan masyarakat, orang tua menjadi sosok yang mengatur dan mengawasi setiap aktivitas yang dilakukan anak. Oleh sebab itu, guru dan orang tua harus membangun kolaborasi agar pendidikan anak tidak terputus selama 24 jam, baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Qadafi . Di jenjang sekolah taman kanak-kanak (TK) perlu adanya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam memaksimalkan perkembangan anak terutama dalam penanaman nilai agama Islam. Orang tua dan guru merupakan role model bagi setiap anak, maka keduanya harus bisa menjadi contoh bukan hanya memberi karena memberi contoh itu sangat mudah sementara menjadi contoh tidaklah mudah. Zarkasyi . Kolaborasi sangat penting bagi setiap individu sebagai makhluk sosial, karena kita tidak dapat menyelesaikan sesuatu tanpa melibatkan pihak lain. Dalam konteks pendidikan moral agama anak usia dini, guru dan orang tua merupakan dua kunci kesuksesan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Qadafi. Zarkasyi . 2:) Dibutuhkan kolaborasi antara guru dan orang tua dalam pengembangan nilai agama Islam peserta didik karena sering terjadi di lapangan ketika peserta didik berada di lingkungan sekolah guru berusaha untuk memberikan dan menjadi contoh yang baik namun ketika peserta didik sudah kembali ke rumah, orang tua kurang memberikan perhatian karena sangat percaya terhadap pihak lembaga. Sementara orang tua adalah madrasatulla atau sekolah pertama bagi anak- anak. Maka dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara guru dan orang tua dalam mengembangkan potensi peserta didik agar dapat menjadi generasi yang unggul dan berakhlak mulia yaitu generasi yang mampu melaksanakan amar maAoruf nahi munkar yaitu melaksanakan akan segala perintahnya Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 30 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. dan menjauhi seluruh larangannya. Melihat permasalahan yang dihadapi anak-anak zaman sekarang sangat dibutuhkan orangtua yang harus banyak belajar, mengetahui metode dalam mendidik anak. Oleh karena itu diperlukan kehatian hatian dalam menentukan metode. Sebab jika salah memilih suatu metode, tujuan pendidikan tidak akan tercapai bahkan akan membawa madharat terhadap anak. Amirullah seorang instruktur seminar pendidikan islam mengemukakan , metode yang bisa digunakan untuk mendidik anak hebat antara lain: metode keteladanan, perhatian dan kasih sayang, nasihat, pembiasaan, cerita/kisah, penghargaan dan hukuman, curhat, dan bermain. Siregar . Berdasarkan hasil observasi melalui wawancara dan pengamatan awal yang telah dilakukan disekolah TK Al-Khairaat. Dembe II. Kota Gorontalo Terkait dengan kolaborasi pola asuh antara orang tua dan guru, guru menjelaskan bahwasanya masih kurang pembiasaan yang dilakukan oleh orang tua ketika dirumah sehingga guru selalu menjalin hubungan komunikasi, serta mengadakan rapat dengan menginformasikan kepada orang tua untuk lebih melakukan pembiasaan terkait apa yang sudah di ajarkan disekolah serta menginformasikan mengenai perkembangan anak. Sedangkan Pola asuh orang tua tentu berbeda-beda ada yang selalu menuntut anaknya untuk melakukan apa yang di inginkan oleh orang tua, memberi hukuman kepada anak jika anak berbuat tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang tua yang mengakibatkan si anak tersebut mudah marah dan tersinggung ketika ditegur, tidak dapat mengendalikan emosinya. Serta ada pula yang memberikan kebebasan bagi anak untuk melakukan apa yang di sukai tetapi tetap mengontrol apa yang anak lakukan. Terkait dengan pola asuh guru bahwa guru selalu mengajarkan tentang penanaman nilai agama islam seperti sholat, menghafalkan surah-surah pendek, hadits serta doa. Dan mengajarkan tentang akhlak dan moral kepada anak. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di TK Al-Khairaat Kota Gorontalo subyek dalam penelitian ini 9 orang yakni 6 orang tua, dan 3 guru. Dengan tujuan untuk mengetahui Kolaborasi Pola Asuh Orang Tua Dan Guru Dalam Mendidik Anak Dengan Metode Agama. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 31 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Tabel 1 Kisi-Kisi Instrumen Aspek Indikator Sub indikator Jumlah Item Pola Asuh Pola Asuh Memaksakan kehendak anak 1,2,3 Otoriter Mengontrol tingkah laku anak secara ketat Memberi hukuman fisik Jika anak bertindak tidak sesuai keinginan orang tua Pola Asuh Sangat memperhatikan Demokratis kebutuhan anak 1,2,3 Melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak Memberikan kebebasan Disertai tanggung jawab Pola Asuh Bersikap longgar Permisif Tidak terlalu memberi bimbingan dan control Perhatian kurang Metode Agama Mendidik Akhlak Melalui Ibadah Keteladanan Mendidik Meluangkan waktu yang Melalui Perhatian Memenuhi kebutuhan anak Mendidik Memberikan pemahaman Dengan Menasehati tentang akhlak Memberikan pemahaman tentang adab Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 32 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Mendidik Menjaga kebersihan Melalui Semangat belajar Pembiasaan Mendidik Melalui Memberikan suatu materi Penghargaan Dan Hukuman Ungkapan kata pujian atau hadiah Memberikan senyuman dan tepukan Pemberian hukuman harus tetap dalam jalinan cinta, dan kasih sayang Harus didasarkan pada alasan yang jelas Harus menimbulkan kesan di hati anak HASIL Berdasarkan hasil penelitian di TK Al-Khairaat. Dembe II. Kota Gorontalo bahwa pada pola asuh orang orang tua dan guru dalam mendidik anak dengan metode agama. Pola asuh setiap orang tua tentu berbeda-beda dalam mendidik anak. Perilaku yang baik atau tidak baik tergantung bagaimana cara orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap anaknya. Penelitian yang peneliti lakukan ini adalah tentang kolaborasi pola asuh orang tua dan guru dalam mendidik anak dengan metode agama di TK Al-Khairaat. Dembe II. Kota Gorontalo terkait dengan penelitian ini peneliti melakukan Tindakan penelitian berupa observasi dan wawancara. Dari hasil pengamatan tentang kolaborasi pola asuh orang tua dan guru dalam mendidik anak dengan metode rasul yang dilakukan oleh peneliti kepada 9 informan yaitu 3 orang tua murid kelas B1, dan 3 orang tua di kelas B2 serta guru kelas B1 dan B2 dan kepala sekolah. Kolaborasi Guru dan Orang dalam Pola Asuh terhadap Anak Hasil wawancara dengan GR. YU sebagai guru beliau menyatakan bahwa: AuKalau kami di TK Al-Khairaat kami kan menggunakan WA grup, jadi apa yang kita pesankan kepada orang tua kita melalui WA grup dan seandainya umpamanya ada kegiatan untuk besoknya, ada yang di pesankan ke orang tua kita melalui WA grup supaya Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 33 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. besoknya tidak kelabakan . h ibu saya tidak bawa in. karena kami sudah pesankan sama orang tua dan kami minta bantuan sama orang tua mohon ditindaklanjuti seandainya ada permintan guru lewat WAAy Selanjutnya dengan GR. IR pun berpendapat demikian bahwa: AuBekerja sama dengan orang tua itu yang pertama melalui WA, meminta kontak orangtua agar bisa memberikan informasi-informasi perkembangan- perkembangan anak yang ada disekolah seperti apa biar pembelajaran disekolah itu bisa ada kesinambungan dirumah, biar ada kerjasama biar kita bisa membangun kerjasama biar apa yang kita harapkan itu bisa tercapaiAy Selanjutnya dengan GR. HN juga menyatakan bahwa: AuIya harus adanya keterlibatan dengan orang tua, karena apa yang kita ajarkan disekolah itu harus ada pengulangan dirumah. jadi setiap hari guru akan mengirimkan melalui WA grup kegiatan apa saja yang anak laksanakan dan kerjakan pada hari itu dan meminta agar orang tua menindaklanjuti apa yang sudah diajarkan disekolah, jadi bukan hanya disekolah saja tetapi harus ada pengulangan dirumahAy Hasil wawancara dengan GR. YU juga berpendapat demikian bahwa: AuIya biasanya didalam pembelajaran itu kan anak-anak melakukan kegiatan, baru supaya kita lebih menyenangkan mereka kita memberikan reward atau kita sering berkata( ih mantap, pekerjaan bagus, anak-anak heba. seperti itu. Depe kegiatan itu supaya anak lebih semangat biasanya kalau supaya mereka tidak ribut, tapi guru tidak pernah memarahi anak cuma memberikan satu penghargaan kecil sama mereka cuma dengan kalimat Auih hebatAy. Jadi kata-kata pujian, jadi anak yang tidak semangat menjadi semangat ketika anak yang hebat ini diberikan pujian biasanya di kasih stiker kecil-kecil. Contohnya, anak: Ih sibu saya juga mau, guru: buat dulu itu yang dibuat, anak: iya ibu saya somo beken. Nah begitu jadi timbul semangat mereka ituAy Selanjutnya dengan GR. HN, beliau berkata bahwa: AuDemokratis, tapi tetap dua. Kalau saya otoriter itu dilaksanakan disaat anak sudah melewati batas jadi kita tekankan, jadi disaat dia melaksanakan kesalahan disaat itu juga kita harus kasih hukuman tapi hukuman yang masih sesuai dengan usia anak. Artinya disaat anak yang sudah membuat temannya celaka kita harus kasih hukuman supaya dia tau disaat apa yang dilaksanakan, yang dia kerjakan itu tidak boleh dan harus meminta maaf dan pasti akan mendapat hukuman karena sudah membahayakan orang lain. Tapi kalau untuk pembelajaran kita tetap pakai demokratis, kita lebih mengutamakan pembelajaran yang menyenangkan untuk anak. kalau untuk anak TK itu yang paling utama kita lebih menekankan tentang moral, jadi kita harus biasakan itu dulu, itu yang paling pentingAy Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa guru dapat disimpulkan bahwa bentuk kolaborasi yang dilakukan yaitu salah satunya dengan menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua murid melalui WA grup dengan menginformasikan tentang perkembangan anak disekolah seperti dalam proses pembelajaran. Menginformasikan kepada orang tua untuk dapat menindaklanjuti pembelajaran ketika dirumah sehingga apa yang Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 34 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. sudah dipelajari oleh anak ketika disekolah bisa dapat dipelajari juga ketika dirumah. Sehingga dapat memaksimalkan untuk dapat mengetahui sejauh mana perkembangan anak ketika disekolah dan dirumah. Pendapat guru didukung hasil wawancara dengan orang tua siswa yaitu OT. menyatakan bahwa: AuJadi kerja sama orang tua dan guru itu sangat dibutuhkan, paling tepatnya itu kita saling koordinasi komunikasi, jadi ada ikatan emosional antara orang tua dan guru sehingga terjalin kerjasama yang baik untuk bisa mendukung program dari sekolah tersebutAy Selanjutnya dengan OT. FT juga menyatakan bahwa: AuUntuk mendukung atau bekerja sama dengan guru tentunya harus ada hubungan komunikasi yang baik antara orang tua ke guru dan guru ke orang tua agar kita bisa mengetahui tentang perkembangan anak dirumah dan disekolah itu perbedanya seperti apa, saya ikut berpartisipasi dalam pertemuan dengan guru untuk membahas informasi terkait perkembangan anak disekolah, menyampaikan torang pe saranAy Didukung dengan pendapat OT. RH menyatakan bahwa: AuJadi saya sebagai orang tua selalu membangun kerja sama dengan guru- guru anak saya disekolah itu melalui wa grup, saya selalu buka-buka grup saya selalu stand by lihat kabar-kabar dari sekolah harus mempersiapkan apa-apa sebelum masuk ke Jadi mo tanya jam berapa anak pulang sekolah pokonya selalu update kabar dari sekolahAy Selanjutnya dengan OT. MN menyatakan bahwa: AuKerjasama dalam pengawasan anak itu saya percaya ke pihak sekolah untuk membimbing anak saya disekolah. intinya saya apa yang di ajarkan dari sekolah saya setuju dan ketika itu tidak sepaham dengan saya, maka saya akan memberikan masukan dengan berkomunikasi dengan guru, jika ada yang tidak dimengerti saya tanyakan seperti saat disampaikan melalui WA grup atau saat pertemuan dengan guru mengenai KBM proses belajar anak. kalau misalnya terjadi masalah, kolaborasilah kami saling komunikasi sampai mencapai solusi untuk anak-anak kita. entah itu masalahnya dari lingkungan sekolah atau luar, intinya kami disitu komunikasi yang baikAy Didukung oleh OT. LL menyatakan bahwa: AuKerjasama itu harus, kita sebagai orang tua harus terlibat disekolah supaya torang bisa mengetahui bagaimana dorang pe perkembangan atau informasi anak baru mengikuti peraturan disekolah, baru kalo ada pelajaran apa yang diberikan untuk anakanak disekolah kita ulang lagi dirumah. kalo ada pemberitahuan rapat dihadiri, kemudian ada acara-acara yang dilakukan disekolah ataupun kegiatan yang lainAy Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 35 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Diperkuat oleh OT. FR menyatakan bahwa: AuPastinya torang itu harus mendekatkan anak torang pa guru jadi selain mereka dapat bimbingan disekolah, mereka juga dapat bimbingan dari orang tua. Jadi komunikasi juga harus ada agar kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan anak Torang juga perlu mendukung dan memberikan partisipasi terhadap sekolah misalnya ada program atau acara disekolah kita hadir, ketika ada rapat atau pertemuan dengan guru yang membahas tentang torang pe anak ato apapun ituAy Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut dapat disimpulkan bahwa kolaborasi orang tua dan guru penting dan harus. Sebagai orang tua harus terlibat disekolah dengan demikian orang tua dapat memastikan serta mengetahui perkembangan atau informasi disekolah. Selain itu apa yang di ajarkan ketika disekolah orang tua dapat menindaklanjuti berikan bimbingan ketika dirumah. dan ketika ada yang tidak sejalan atau permasalahan maka orang tua akan memberikan masukan mengenai KBM yang disampaikan saat pertemuan dengan guru atau melalui WA sehinggan orang tua dapat mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Pentingnya kolaborasi yang dilakukan oleh orang tua dan guru dengan berpartispasi dalam pertemuan dengan guru atau kegiatan didalam atau diluar sekolah. Pola Asuh Anak dengan Metode Agama Mendidik Melalui Keteladanan Hasil wawancara dengan GR. YU menyatakan bahwa: AuKita di al-khairaat sering bicara pendiri al-khairat sebelumnya, jadi menanamkan sifat disiplin, sifat ke al-khairatan kepada anak-anak sampe tertanam kepada mereka sifatsifat seperti nabi-nabi, habib-habib yang mendirikan al-khairat iniAy Selanjutnya GR. IR pun berpendapat demikian bahwa: AuIya dari diri sendiri harus datang pagi kesekolah, begitu anak-anak datang kita sambut dengan hati yang ceria, senyum kalau mereka lupa memberi salam kita yang beri salam seperti Auassalamualaikum apa kabar hari iniAy jadi memberikan contoh-contoh yang baik kepada anak-anak biar mereka bisa mengikuti contoh apa yang kita berikan kepada mereka setiap hari disekolahAy Selanjutnya GR. HN pun berpendapat bahwa: AuKalau disini kita biasakan mengucap salam, kemudian di saat dia memberikan sesuatu kepada kita mulai dengan terima kasih. atau tolong seperti itu. Kemudian kalau dari kami guru kami membiasakan memberi contoh kepada anak makan duduk, minum duduk. Jadi dari keterbiasaan itu anak-anak akan mulai tertanam dalam diri mereka sendiri bahwa ohiya kalau di agama ini beda dengan agama lain. Kemudian harus bisa mengucapkan alhamdulillah setiap menerima sesuatu, setiap mendapatkan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 36 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. sesuatu dan harus bisa mengucapkan subhanallah, astagfirullahaladzim, jadi seperti itu. Jadi mulai dari diri kita sendiri sebagai guru, jadi anak-anak mulai dari keterbiasaan itu insyaallah dan alhamdulillah anak-anak bisaAy Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yang diajarkan yaitu keteladanan seperti dari sikap disiplin, mengajarkan salam, mengucapkan terimakasih dan tolong. Membiasakan makan dan minum dengan duduk. Mengajarkan anak mengucapkan kalimat thoyyibah seperti tahmid, tasbih, dan istighar. Pendapat atas diperkuat dengan hasil wawancara dengan orang tua siswa OT. menyatakan bahwa: AuJadi orang tua merupakan cermin dari anak, kelakuan baik buruknya orang tua itu pasti anak ikut. Misalnya saya itu kan sholatnya kadang dimasjid kadang dirumah, tiap kali saya sholat dia sering ikut. Jadi tinggal kita sebagai orang tua yang harus memberikan contoh kepada anak dan bagaimana kita sendiri memperbaiki diriAy. Selanjutnya OT. FT menyatakan bahwa: Au Kalau misalnya torang bikin kebaikan torang ajak dia misalnya mau kasih sedekah begitu, saya minta dia yang isi di kotak amal biar dia tau kan berbagi, bersedekah. anakanak itu identik mengikuti orang tua jadi apa yang orang tua bikin kita ajak mereka kaya sholat, mengaji, walaupun dia belum bisa melakukan yang sempurna yang penting dia sudah lihat orang tuanyaAy. Selanjutnya OT. RH menyatakan bahwa: AuYa tidak lepas dari pembiasaan seperti pembiasaan melalui lingkungan keluargaAy. Selanjutnya OT. MN menyatakan bahwa: AuPeran otomatis saya sendiri, jadi kalau misalkan anak-anak dimulai dari hal-hal yang kecil kalau misalkan tidak boleh ini tidak boleh itu. Mengajarkan salam, pokonya semua dari hal-hal kecil itu diajarkanAy. Selanjutnya OT. LL menyatakan bahwa: AuDengan cara kalau kita sholat kita mengajak mereka, dari orang tua sebagai contoh karena keseharian dirumah itu apa yang mereka lihat itu yang mereka lakukanAy. Selanjutnya OT. FR menyatakan bahwa: AuPeran orang tua pastinya torang lebih mengenalkan rukun islam, rukun iman pada anak-anak biar dorang itu tahu oh begini tentang agama. Jadi torang juga harus mengajarkan dorang itu mengaji, bahasa-bahasa arab begitu, dan sholat. kalau anak saya Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 37 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. biasa sering sholat dengan papanya, biasa dengan baku-baku iko kalau torang sholat di belakang, jadi dia melakukan apa yang torang jaga bikinAy. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu keteladanan. Orang tua otoriter maupun yang demokratis mengatakan bahwa peran otomatis dari dirinya sendiri. Dari orang tua sebagai contoh karena keseharian dirumah, anak akan lihat dan itu yang mereka lakukan sehingga orang tua harus menjadi contoh yang baik serta mengajarkan anak mana sesuatu yang baik dan tidak. Contoh yang baik seperti kita dapat mengenalkan rukun islam, dan rukum iman kepada anak sehingga anak tahu bahwa dalam agamanya seperti ini. Mengajarkan mereka sholat dan mengaji. Dari orang tua yang melakukan sholat, kemudian anak melihat dan pastinya anak tersbut akan mengikuti gerakan sholat Mendidik Melalui Perhatian Hasil wawancara dengan GR. YU beliau menyatakan bahwa: AuKita sebagai guru selalu memberikan perhatian sama anak karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita juga sebagai orangtua kedua anak disekolah. Ajarkan tentang pentingnya kasih sayang sama anak agar dia juga bisa mendapatkan apa yang dia dapatkan juga ketika dirumahAy Hasil wawancara dengan GR. IR pun berpendapat demikian bahwa: AuYa jadi penting sekali kita untuk memberikan perhatian terhadap anak misalnya seperti selalu menanamkan rasa cinta dan kasih sayang sama anak, ba kase pujian ketika anak itu kaya dia berhasil untuk mengerjakan sesuatu seperti mengucapkan kata Auanak hebat, pintar, jagoAy. Jadi usahakan torang sebagai guru selalu memberikan perkataan yang positif kepada anakAy Hasil wawancara dengan GR. HN beliau menyatakan bahwa: AuJadi setiap anak datang kesekolah itu disambut, dan berikan senyuman. Kemudian pada saat baris-berbaris mengajak anak bacirita sadikit menanyakan kabar mereka, dan selalu kasih semangat sama anak- anak supaya timbul semangat belajarnya dorangAy Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu perhatian. Guru pun selalu memberikan perhatian kepada anak ketika disekolah seperti menunjukan rasa kasih sayang, saat anak datang disambut dengan senyum dan dipeluk kemudian dapat Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 38 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. berkomunikasi yang baik dengan anak, selalu memberikan kata-kata positif, serta dapat mendampingi anak ketika bermain. Pendapat diatas didukung orang tua siswa sesuai hasil wawancara dengan OT. WN menyatakan bahwa: AuSaya selalu memberikan perhatian penuh kepada anak-anak saya, jadi dengan memberikan bimbingan atau nasehat, selalu berkomunikasi dengan anak menanyakan apa yang mereka lakukan ketika disekolah, membantu atau mendampingi mereka sat belajar biasanya saya ataupun istri saya, dan bahkan kami berdua, kemudian bisa memenuhi kebutuhan gizi yang baik untuk anakAy. Hasil wawancara dengan OT. FT menyatakan bahwa: AuKalo perhatian saya yaitu selalu memberikan dukungan apa yang anak lakukan, ketika anak bermain kita dampingi sambil kasih belajar dia sesuatu jugaAy. Hasil wawancara dengan OT. RH menyatakan bahwa: AuPastinya torang sebagai orang tua selalu memberikan perhatian dan kasih sayang sama anak, mengontrol apa yang anak lakukan, serta mana yang boleh dan tidak boleh dilakukanAy. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu perhatian. Orang tua laki-laki selalu memberikan perhatian kepada anak-anaknya, jadi dengn memberikan bimbingan atau nasehat, serta selalu berkomunikasi dengan anak menanyakan apa yang mereka lakukan saat belajar, mendampingi mereka saat Kemudian orang tua perempuan yang selalu mendukung apa yang anak lakukan serta mendampingi anaknya. Serta selalu mengontrol apa yang anak lakukan, serta menjelaskan kepada anak mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mendidik Melalui Nasehat Hasil wawancara dengan GR. YU, beliau menyatakan bahwa: AuAda ceramah-ceramah kecil yang menanamkan sifat disiplin sifat rasulullah sebelum-sebelum itu jadi mereka bisa menanamkan itu sifat nabi, sifat- sifat malaikat. Kita kaya macam ada sedikit sentil-sentil supaya mereka itu mo ba dengar ada kalimatkalimat yang membuat hati mereka itu terenyuh, kita bicara masalah-masalah nabiAy Hasil wawancara dengan GR. IR pun berpendapat demikian bahwa: AuMisalnya mengajarkan tentang akhlak karena penting sekali diajarkan sejak Bagaimana nanti kalau akhlak itu kita ajarkan nanti sudah besar memang sulit Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 39 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. sekali, akhlak itu perlu diajarkan sejak dini seperti adanya program-program sholat dhuha disekolah abis sholat dhuha kita murojaah, abis murojaah kita dongeng sedikit tentang cerita-cerita tentang nabi, atau hadist-hadits harianAy Selanjutnya GR. HN juga menyatakan bahwa: AuMenasehati dengan kita mengenalkan dulu tentang harus mensyukuri di diri kita sendiri dulu, kita ajak anak utuk bercakap-cakap tentang siapa tuhan kita, siapa nabi Kemudian kita harus bersyukur coba tutup mata bisa lihat tidak, paling dekat dulu paling gampang dulu, kalau kita tutup mata kita bisa jalan, kita bisa lihat yang bagusbagus tidak? Kemudian tutup mulut bisa tida mo bicara, bilang mo makan, minta ini minta itu, tidak? tutup hidup bisa bernapas tidak? kalau lama-lama kita tidak bernapas berarti kita sudah mo mati. Jadi mensyukuri apa yang ada didalam diri, dan hal yang paling sederhana seperti itu. Kemudian kita perlu perkenalkan bahwa tuhan itu Allah,dia satu. Bagaimana cara mensyukurinya, ya mensyukuri yang sudah ada dalam diri kita, kemudian mensyukuri ih kitorang tinggal ada makanan, mama papa ada kerja. Jadi minimal kita anak- anak minta beli apa ada. Jadi cara mensyukurinya itu harus dengan rajin beribadahAy Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu nasehat. Dengan guru selalu memberikan nasehat-nasehat kepada anak seperti tentang sifat-sifat nabi, akhlak yang serta selalu menasehati tentang bagaimana mensyukuri yang ada di diri kita. Jadi salah satu cara kita bersyukur yaitu dengan rajin beribadah. kemudian mengenalkan tentang siapa tuhan dan nabi kita. Pendapat diatas didukung orang tua siswa sesuai hasil wawancara dengan OT. yang menyatakan bahwa: AuAlhamdulillah sampai dengan saat ini ajaran-ajaran yang selalu saya bikin sama anak, saya pribadi saya selalu memberikan edukasi, memberikan pengertian kepada anak ketika misalnya dia kesekolah pas tiba langsung salam sama guru ketika pulang juga seperti itu. Ya intinya selalu saya memberikan edukasi ditambah dengan chanel youtube yang kids itu yang selaluAy. Selanjutnya OT. FT menyatakan bahwa: AuJadi kasih tahu nasehat tentang akhlak yang baik bagaimana menghormati orang tua dan guru, sopan santun, bisa saling baku bantu. Intinya juga dari orang tua bagaimana bisa menjadi contoh yang baik sama anakAy. Selanjutnya OT. RH menyatakan bahwa: AuMemberikan nasehat misalnya harus ba bantu orang tua, tidak membentak, harus bersikap sopan dengan orang yang lebih tua menyayangi orang yang lebih muda, menyayangi adik dan karakter- karakter yang baik yang harus kita tanamkan ke anak kita sebagai orang tua untuk dibawa masyarakat luas seperti disekolahAy. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 40 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu nasehat. Jadi ada orang tua lakilaki selalu memberikan edukasi atau pengertian kepada anak seperti ketika dia tiba ataupun pulang sekolah langsung salaman sama guru, kemudian ditambah dengan edukasi dengan chanel youtube kids. Kemudian ada orang tua lainnya yang selalu menasehati tentang akhlak seperti menghormati orang tua dan guru, sopan santun, bisa saling tolong menolong, serta bisa saling menyayangi. Dan intinya orang tua juga yang bisa menjadi contoh yang baik kepada anak. Mendidik Melalui Pembiasaan Hasil wawancara dengan GR. YU menyatakan bahwa: AuKetika mereka datang setelah senam itu kan kita mengadakan kegiatan rutin sholat Di sholat dhuha itu kita biasakan anak-anak memimpin sholat baru kita tanamkan nilai-nilai agama setelah mereka murojaah, membaca iqraAy Selanjutnya GR. IR berpendapat demikian dengan menyatakan: AuMelalui dengan pembiasaan-pembiasaan setiap hari sebelum datang kesekolah beri salam . dan bersalaman, lalu kita peluk mereka agar nilai kasih sayang itu dari rumah mereka di antar kesekolah ada juga sosok orang tua yang mereka dapati disekolah. Jangan lupa mereka di peluk erat kalau perlu dicium dahi mereka, biar mereka itu merasa ada orang tua pengganti mereka disekolahAy Selanjutnya GR. HN juga menyatakan demikian bahwa: AuJadi sesuai dengan ajaran islam itu kita tanamkan mau mengucap salam dulu itu yang harus dan wajib, membiasakan anak mau mengucapkan salam disaat datang dan disaat kembali kemudian mau salaman dengan orang yang lebih tua. Jadi anak-anak kalau disekolah itu, mereka datang kita sambut kalau mereka belum bisa mengucapkan salam itu diawali dari guru . ssalamualaikum, hallo apa kaba. kemudian langsung salaman setelah itu kita antar kedalam kelas, nanti setelah bel masuk itu kita mulai ajarkan tentang mengenal tuhannya jadi melalui dengan sholat dhuha setiap hari. Kemudian melalui bacaan-bacaan iqro, surah-surah pendek, hadits-hadits yang paling sederhana contohnya hadits tentang larangan makan dan minum sambil berdiri. Jadi kan kebanyakan orang-orang yang sudah tua minum dan makan kesana kemari. Jadi itu yang lebih awal kita tanamkan kalau minum harus duduk, makan harus duduk. Jadi mulai dari hal-hal kecil seperti itu duluAy. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu pembiasaan. Jadi guru selalu membiasakan dan menanamkan nilai-nilai agama seperti melakukan ibadah salah satunya program sholat dhuha. Dari sholat dhuha kita biasakan anak untuk memimpin Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 41 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. sholat, kemudian murojaah, menghafal doa sehari -hari serta hadits-hadits. Kemudian membiasakan anak untuk mengucapkan salam dan bersalaman kepada orang yang lebih tua, serta makan minum dengan duduk. Pendapat diatas didukung orang tuas siswa sesuai hasil wawancara dengan OT. menyatakan bahwa: AuDirumah itu kan kita juga beli buku iqro, buku gambar sama buku- buku kisah 25 nabi dan rasul, ada juga sejarah- sejarah kebudayaan islam alhamdulillah mengaji juga, cuma kan mereka juga masih diusia dini jadi sebatas masih iqro. dari sekolah mengajarkan terkait dengan agama kita dirumah tinggal mempoles. dia surat pendek sudah bisa, doa makan ,doa tidur, doa keluar dia bisaAy. Selanjutnya OT. FT berpendapat juga dengan menyatakan bahwa: AuDari pembiasaan tentu orang tua harus menjadi contoh juga bagi anak. ba atur waktu dengan anak kapan dorang harus belajar, bermain, tidur supaya keseharian itu teratur dan sudah ada pembiasaan yang dilakukan setiap harinyaAy. Selanjutnya OT. RH menyatakan bahwa: AuIya seperti melalui lingkungan keluarga juga, pembiasaan melalui lingkungan keluarga misalnya ketika mendengar azan jadi kita harus memberi contoh kepada mereka anak-anak kita, ketika mendengar azan apa yang harus kita lakukan. Kalau belum mandi segera mandi siap-siap berwudhu dengan keluarga melakukan sholat setelah itu anak-anak diberi aturan harus ada murojaah sesudah sholat. Mereka harus ada setoran hafalan biar disekolah mereka tidak kaget dengan apa yang diberikan sama guruAy. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu pembiasaan. Pembiasaan yang dilakukan oleh orang tua seperti halnya yang dilakukan oleh orang tua laki-laki dengan mengajarkan apa yang sudah diajarkan ketika disekolah terkait dengan agama seperti dapat menyediakan fasilitasnya dengan membeli buku iqro, buku gambar, buku kisah nabi dan rasul dan Sejarah-sejarah kebudayaan islam. Kemudian adapula orang tua yang mengatur waktu kapan anak harus belajar, bermain hingga tidur , agar kesehariaan anak itu teratur dan dilakukan pembiasaan setiap harinya. Semua yang dilakukan harus dilakukan dibiasakan melalui ingkungan keluarganya. Mendidik Melalui Penghargaan Dan Hukuman Hasil wawancara dengan GR. YU menyatakan bahwa: AuJadi saya ketika anak itu belajar atau bermain kasih pujian dorang dengan mengatakan anak pintar agar dorang terus termotivasi untuk belajar atau melakukan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 42 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. sesuatu yang lain. kalau saya hukuman lebih ke penjelasan atau ditegur kalo itu tidak boleh dilakukanAy. Selanjutnya dengan GR. IR pun berpendapat demikian menyatakan bahwa: AuSaya reward itu dalam bentuk kata pujian seperti yang sudah saya sampaikan tadi bahwa seperti ketika anak melakukan sesuatu yang baik atau dia bisa mengerjakan pekerjaan dikelas itu kita kasih pujian seperti wah anak hebat, pintar seperti itu supaya anak juga semangat dalam mengerjakan sesuatu. Dan kalau memberikan hukuman itu saya kasih teguran atau dikasih nasehat bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak baikAy Selanjutnya GR. HN menyatakan bahwa: AuMenurut saya anak-anak itu perlu diberikan reward semacam kata-kata pujian supaya mereka senang, termotivasi, dan semangat dalam belajar. dan kalau hukuman itu harus ada ya ketika anak tersebut melakukan kesalahan itu kasih hukuman tetapi saya kasih hukuman anak misalnya ketika dia mengeluarkan kata- kata yang tidak baikbaik kasih penjelasan misalnya tidak boleh begituAy. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu penghargaan dan hukuman. Jadi guru memberikan penghargaan dalam bentuk kata-kata pujian seperti anak hebat, anak pintar agar dapat menumbuhkan rasa semangat dalam diri anak. kemudian bentuk hukuman yang diberikan oleh guru ketika anak melakukan kesalahan yaitu dengan mengajak anak bercerita dan memberikan nasehat ataupun alasan kepada anak bahwa yang mereka lakukan tidaklah baik. Hasil wawancara dengan OT. WN menyatakan bahwa: AuSaya penghargaan kepada anak yaitu memberikan hadiah dan kalau saya ketika anak itu melakukan suatu kesalahan lebih cenderung menasehati mereka, kemudian memberikan alasan kenapa hal itu tidak boleh dilakukanAy. Selanjutnya dengan OT. FT menyatakan bahwa: AuKalau saya ketika anak itu melakukan suatu kebaikan atau dia bisa belajar dengan baik itu saya kasih dalam bentuk hadiah. dan kalau hukuman, saya bahkan anak itu melakukan kesalahan tidak dihukum tapi lebih di kasih tahu, nasihat tapi dengan cara yang sesuai dia mengertiAy. Selanjutnya dengan OT. RH menyatakan bahwa: AuIya jadi saya memberikan penghargaan biasanya saya selalu memberikan kata-kata pujian atau dengan memeluk anak tersebut kalau hukuman itu tidak ada hanya dengan nasehat dengan membimbing diaAy. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 43 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut bahwa metode mendidik dalam agama yaitu penghargaan dan hukuman. Orang tua laki-laki mengatakan bahwa dia penghargaan yang diberikan oleh anak yaitu berupa hadiah sedangkan untuk hukuman itu lebih cenderung menasehati anak. sedangkan untuk orang tua Perempuan memberikan hadiah kepada anak ketika anak itu melakukan suatu kebaikan atau dia bisa belajar dengan baik jadi dengan mengapresiasi untuk anak dapat lebih semangat dalam belajar, dan untuk hukuman itu lebih di kasih tahu atau diberikan nasihat yang dia bisa mengerti. Serta ada pula orang tua yang memberikan penghargaan melalui kata-kata pujian. PEMBAHASAN Kolaborasi Guru dan Orang dalam Pola Asuh terhadap Anak Kolaborasi adalah proses dimana dua pihak untuk mencapai tujuan bersama. Ini melibatkan ide dan pengetahuan untuk menghasilkan hasil yang lebih baik. termasuk dalam pendidikan anak usia dini. Kolaborasi antara orang tua dan guru sangat penting untuk mendukung perkembangan dan keberhasilan pendidikan anak. Kolaborasi yang baik harus terjalin melalui adanya komunikasi yang baik dan lancar untuk dapat mengetahui segala informasi baik dari orang tua maupun guru. orang tua dan guru harus mengetahui cara mendidik, membimbing serta mengasuh anak. oleh karena itu, pentingnya kolaborasi pola asuh antara orang tua dan guru dalam mendidik anak dengan menggunakan metode yang sesuai dengan ajaran agama. Hal ini ditunjukan dalam penelitian di TK Al-Khairaat. Dembe II. Kota Gorontalo serta peneliti melakukan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi dengan orang tua dan guru. Peneliti mengamati bahwa dalam kolaborasi antara orang tua dan guru terjalin melalui hubungan komunikasi. Di TK Al-Khairaat, orang tua dan guru selalu menjalin komunikasi secara langsung ataupun tidak langsung. Berdasarkan wawancara dengan orang tua dan guru, bahwa kolaborasi antara orang tua dan guru sangat penting agar apa yang diajarkan oleh guru disekolah bisa ada pengulangan ketika dirumah oleh karena itu hubungan komunikasi harus terjalin dengan baik dan lancar agar orang tua dan guru dapat mengetahui sejauh mana perkembangan serta dapat mencari solusi atas setiap masalah yang dihadapi anak. pun dilakukan dua arah antara orang tua ke guru dan guru ke orang tua karena perlu adanya timbal Selain menjalin komunikasi kolaborasi orang tua juga dapat dilakukan melalui rapat orang tua dan guru parenting, serta kunjungan rumah . ome visi. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 44 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Hal ini didukung oleh teori yang disampaikan oleh Qadafi . bahwa bentuk kolaborasi antara orang tua dan guru yaitu : mengadakan kegiatan parenting setiap bulan, membuat grup whatsapp, melibatkan orang tua dalam beberapa kegiatan sekolah, mengikutsertakan orang tua dalam pelatihan pendidikan karakter, serta berkomunikasi dengan orang tua saat mengantar dan menjemput anak. Di TK Al-Khairaat bahwa orang tua dan guru memiliki pola asuh yang berbeda-beda dalam mendidik anak, dalam pola asuh yang diberikan oleh orang tua dan guru seperti pola asuh otoriter dan demokratis. Peneliti mengamati bahwa Orang tua otoriter selalu terlibat dalam kegiatan anaknya disekolah melalui adanya komunikasi yang terjalin. Orang tua otoriter selalu mengontrol aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh anak. orang tua selalu ingin anaknya mendapat perhatian yang maksimal dari guru. orang tua otoriter selalu berkomunikasi dengan guru apa saja yang tidak dimengerti mengenai proses belajar anak dan ketika ada yang tidak sesuai dengan pendapatnya maka orang tua akan memberikan saran. Berdasarkan wawancara dengan Orang tua otoriter yaitu selalu ingin anaknya mematuhi apapun yang diperintahkan olehnya. ketika dalam masalah misalnya anak mau meminta sesuatu, orang tua otoriter akan membiarkan anak menangis karena beranggapan bahwa lamakelamaan anak pasti akan berhenti menangis. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang tua ketika anak akan ke sekolah yaitu membuat perjanjian kalau disekolah harus mematuhi segala aturan serta harus patuh terhadap guru, serta dalam hal apapun itu harus dikomunikasikan. Sesuai dengan aturan disekolah, dirumah juga orang tua mendampingi anak ketika belajar seperti belajar mengaji, menghafal surah-surah. Membiasakan anak melakukan sesuatu dimulai dari hal-hal kecil seperti mengajarkan salam, serta menghormati guru dan orang tua. Orang tua otoriter selalu melakukan komunikasi yang lancar dengan guru untuk mengetahui sejauh mana perkembangan anak disekolah, serta dapat mengetahui aktivitas anak. komunikasi yang dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Jadi orang tua otoriter memiliki kontrol yang sangat ketat terhadap anaknya termasuk dalam memilih pendidikan bersekolah dan salah satunya bersekolah di TK yang berbasis agama, selalu ingin anaknya mendapatkan perhatian yang maksimal dari guru. Hal ini juga didukung dari teori Hurlock . ari dkk, 2022:159- . bahwa ciri-ciri orang tua otoriter memaksakan kehendak pada anak, mengontrol tingkah laku anak secara ketat, kehendak anak banyak diatur orang tua. ciri khas pola asuh ini diantaranya adalah kekuasaan orang tua dominan jika tidak boleh Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 45 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. dikatakan mutlak, anak yang tidak mematuhi orang tua akan mendapatkan hukuman keras, pendapat anak tidak akan didengarkan sehingga anak tidak memiliki eksistensi dirumah, tingkah laku anak dikontrol dengan angat ketat. Pengasuhan di TK Al-Khairat menunjukan bahwa anak-anak yang mendapatkan pola asuh otoriter yaitu mudah marah seperti saat ditegur, tidak dapat mengendalikan emosinya, dia suka menganggu temannya, suka lari kesana-kemari, suka ambil yang bukan hak milik. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Baumrind (Harahap, 2018:. pengaruh pola asuh otoriter terhadap perkembangan anak adalah : . anak menjadi tidak percaya diri, minder, serta penakut. anak cenderung menjadi pemberontak bahkan dapat menjadi pribadi yang kacau. idak terkendal. , . anak cenderung membenci figure Au penguasaAy. menghambat perkembangan kreativitas anak. Maka Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa meskipun pola asuh otoriter bisa menghasilkan anak-anak yang disiplin dan patuh, dampak negatifnya sering kali lebih dominan, terutama dalam hal perkembangan emosional dan sosial anak. Pola asuh ini dapat menghambat kemampuan anak untuk berkembang secara sehat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal hubungan interpersonal dan kesejahteraan emosional. Maka penting bagi orang tua untuk dapat memberikan batasan serta aturan dan pentingnya bisa menghargai pendapat anak. Kerjasama antara orang tua dan guru yaitu saling berkomunikasi satu sama lain untuk dapat mengetahui perkembangan anak, mempersiapkan apa yang menjadi kebutuhan anak disekolah, mendekatkan anak kepada guru. Jadi selain anak mendapatkan bimbingan disekolah anak juga mendapat bimbingan dirumah. Serta mendukung apa yang menjadi program di sekolah seperti ikut berpartisipasi dalam pertemuan dengan guru untuk membahas apa yang menjadi masalah agar bisa mencari solusi bersama. Peneliti mengamati bahwa Orang tua demokratis selalu berupaya untuk dapat berkomunikasi dengan anak. Seperti mendengarkan pendapat, perasaan dan kebutuhan anak tanpa dihakimi, menanyakan bagaimana perasaan dia setelah selesai belajar, memberikan dorongan untuk anak menjadi mandiri seperti makan sendiri, menata sepatu di rak sepatu, merapikan alat-alat mainan setelah bermain. Memberikan kata pujian kepada anak ketika dia melakukan sesuatu yang baik, memberikan kebutuhan gizi yang baik pada anak, memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan sesuatu yang dia sukai, tetapi tetap ada batasan yang jelas dan dimengerti oleh anak misalnya tidak melarang anak bermain, tetapi lebih mengarahkan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 46 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. dan mendampingi. Berdasarkan wawancara Orang tua, memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka sendiri misalnya anak sukanya melukis jadi orang tua hanya mengarahkan dengan memberikan dukungan dalam mencapai tujuan mereka namun orang tua tetap mengontrol apa yang anak lakukan. Mereka memastikan bahwa kebebasan ini diimbangi dengan tanggung jawab yang sesuai dengan usia anak. Di TK Al-Khairaat guru pun memberikan pola pengasuhan demokratis kepada anak. Membimbing dan mendidik anak juga merupakan tugas seorang guru ketika disekolah. Di TK Al-Khairaat guru mengatakan bahwa mereka menerapkan pola pengasuhan demokratis kepada anak karena dianggap efektif dalam mendidik serta membimbing anak. Dapat mengajarkan tentang bagaimana perilaku yang baik dan tidak baik. berdasarkan hasil wawancara bahwa guru memfasilitasi tergantung pada pembelajaran sehari-sehari. Memberikan kesempatan untuk anak bisa berpendapat, menyediakan media yang menyenangkan bagi anak, memberi kebebasan untuk memilih pekerjaan yang anak inginkan. Serta memberikan kata- kata pujian kepada anak agar anak bisa lebih semangat dalam belajar. Berdasarkan wawancara dengan guru mengatakan bahwa pentingnya menanamkan moral kepada anak usia dini dengan memberikan contoh-contoh yang baik kepada anak agar mereka bisa mengikuti contoh yang diberikan setiap hari disekolah seperti selalu datang tepat waktu kesekolah, mengajarkan salam, membiasakan mengucapkan terimakasih, mengucapkan boleh pinjam ketika memakai barang teman, tidak sembarangan mengambil barang yang bukan hak milik serta berani mengatakan kata tolong. Bagaimana cara menghormati, bersosialisasi dengan teman dan orang lain, berbagi dengan teman, serta membiasakan makan dan minum harus Pengasuhan di TK Al-Khairaat menunjukan bahwa anak yang mendapatkan pola asuh demokratis yaitu lebih percaya diri, selalu tersenyum, bahagia, ramah dan mudah bergaul dengan teman sebayanya, dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain. Sesuai dengan yang dikatakan oleh Baumrind (Harahap, 2018:. bahwa pengaruh pola asuh demokratis terhadap perkembangan anak adalah: . anak lebih percaya diri, . anak mengerti apa yang menjadi keinginan orangtua, . ada kemungkinan besar, anak tumbuh menjadi anak yang ramah dan mudah bergaul dengn sesama teman sebayanya. dapat mendukung perkembangan kreativitas anak. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 47 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. Pola asuh demokratis ini menerapkan perlakuan kepada anak dalam rangka membentuk kepribadian anak dengan cara memperioritaskan kepentingan anak yang bersikap rasional. Pola asuh demokratis umumnya dianggap sebagai pendekatan yang efektif dalam membimbing dan mendidik anak. Seperti semua gaya pengasuhan, pola asuh demokratis juga memiliki tantangan. Orang tua perlu menemukan keseimbangan antara memberikan kebebasan dan menetapkan batasan, serta memastikan bahwa anak-anak tidak menjadi terlalu manja atau mengabaikan Mendidik Anak Melalui Metode Agama Dalam mendidik anak tentunya guru dan orang tua harus memilih metode pengasuhan yang baik dan berlandaskan sesuai ajaran agama. Mendidik anak menggunakan metode agama memiliki banyak manfaat yang dapat memengaruhi perkembangan mereka. Metode mendidik anak dalam agama yaitu: metode keteladanan, metode perhatian, metode nasehat, metode Keteladanan memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik anak. keteladanan dalam mendidik anak adalah cara mendidik di mana orang tua, pengasuh, atau pendidik memberikan contoh perialku, sikap, dan nilai-nilai yang ingin mereka tanamkan dalam diri anak-anak. Peneliti mengamati bahwa dalam konteks mendidik melalui keteladanan di TK Al-Khairaat guru maupun orang tua selalu berupaya untuk menanamkan bagaimana perilaku dan perkataan yang baik kepada orang lain, mengahrgai dan menghormati orang lain, mengajarkan tentang pentingnya ibadah sejak dini. Dengan menerapkan program sholat dhuha rutin yang diadakan setiap hari disekolah sebelum memulai pembelajaran. Di TK Al-khairaat setiap harinya diadakan sholat dhuha, jadi setelah anak-anak berbaris dan senam pagi itu akan dilakukan sholat dhuha kemudian setelah sholat ada penghafalan surah-surah seperti surah al-fatihah, surah al-ikhlas, surah an-naas, surah al-falaq. Dan doa sehari-hari seperti doa kedua orang tua, doa makan, doa tidur, dll. Kemudian setelah menghafal surah dan doa guru akan memberikan nasehat-nasehat seperti menghargai orang tua dan guru, mengucapkan kata tolong, terimakasih dan permisi ketika meminjam barang orang lain. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bahwa keteladanan itu harus dari diri sendiri seperti disiplin, kita biasakan mengucap salam, disaat anak memberikan sesuatu mengucapkan terimakasih, kemudian memberi contoh makan dan minum harus duduk. Hal ini juga didukung dari teori yang disampaikan oleh H. Amirullah . alam Siregar, 2. konsep keteladanan dalam Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 48 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. sebuah pendidikan sangatlah penting dan bisa berpengaruh terhadap proses pendidikan, dalam membentuk aspek moralitas, spiritual, dan etos sosial anak. Pentingnya keteladanan dalam mendidik anak menjadi pesan kuat dari Alquran. Sebab keteladan adalah sarana penting dalam pembentukkan karakter seseorang. Satu kali perbuatan yang dicontohkan lebih baik dari seribu kata yang diucapkan. Ditambah lagi anak anak akan mudah meniru apa pun yang dilihatnya. Sebagaimana Allah juga memberikan contoh- contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya. Sebagaimana firman Nya: AuSesungguhnya pada nereka itu ( Ibrahim dan umatny. ada teladan yang baik bagimu:( yaitu bagi orang-orang yang mengharap pahala Allah dan keselamatan pada hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah dialah yang maha kaya lagi maha terpujiAy. Pengasuhan dan pengajaran di TK Al-Khairaat menunjukan bahwa 4 anak- dapat menerapkan akhlak yang baik seperti bertutur kata yang baik dan sopan, dapat mengucapkan terimakasih dan minta tolong kepada guru maupun orang lain. menyayangi sesama teman dengan saling berbagi. Kemudian dapat mengikuti sholat dhuha walaupun masih dalam arahan guru, menghormati guru dengan mengucapkan salam dan bersalaman, menghargai guru, orang tua dan orang lain ketika guru sedang bercerita atau menyampaikan nasehat-nasehat. Namun masih ada 2 orang anak yang masih kurang dalam menghargai orang lain seperti berbicara keras atau berteriak di depan orang lain. Perhatian dalam mendidik anak adalah upaya orang tua atau pendidik untuk aktif dan penuh kasih memperhatikan kebutuhan, perasaan, dan perkembangan anak. Ini berarti orang tua atau pendidik hadir secara fisik dan emosional dalam kehidupan anak, serta terlibat dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Peneliti mengamati bahwa dalam konteks mendidik melalui perhatian di TK Al-Khairaat guru maupun orang tua selalu memberikan perhatian kepada anak dengan memberikan bimbingan dan nasehat, mendampingi mereka ketika bermain, memberikan dukungan ketika anak melakukan sesuatu misalnya dapat menyusun bermain balok dengan baik dengan memberikan kata-kata pujian, serta dapat berkomunikasi baik dengan anak sekedar menanyakan tentang kegiatan belajar anak. Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua bahwa sebagai orang tua pasti selalu memberikan perhatian kepada anak, dengan memberikan bimbingan dan nasehat, selalu berkomunikasi dengan anak, menanyakan apa yang mereka lakukan, membantu Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 49 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. atau mendampingi mereka saat bermain. Serta memilih pendidikan bersekolah di TK AlKhairat atau sekolah berbasis agama seperti ini. Disekolah ini programnya bagus, sudah diajarkan pertama itu misalnya ada sholat dhuha yang dia tidak bisa dapatkan di sekolahsekolah lain, dan disekolah ini kan pendidikannya lebih ke keagamaan. Itu makanya dirumah, anak kan masih lagi jadi anak meniru yang lama-lama akan terbawa. Saya akan tetap bersikeras untuk anak anak-anak saya sekolahkan di TK islami. Hal ini juga didukung teori yang disampaikan oleh H. Amirullah . alam siregar, 2. betapa pentingnya perhatian orangtua. Walaupun orangtua sangat sibuk mencari nafkah, namun mereka harus dapat meluangkan waktu yang berkualitas. Orangtua juga berkewajiban untuk mencari sekolah yang mengasung pendidikan positif, pendidikan positif mengupayakan agar anak kita cerdas, sehat dan bahagia. Disaat seorang anak mendapatkan perhatian yang cukup dari ayah dan ibunya mereka akan lebih percaya diri untuk menghadapi lingkungan, mereka akan menjadikan orangtua sebagai sumber utama untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan yang terpenting kita tidak membebani mereka dengan pengharapan kita agar mereka nyaman dan terhindar dari stress. Pengasuhan dan pengajaran di TK Al-Khairaat menunjukan bahwa anak- anak yang mendapatkan perhatian Dari orang tua dan guru menunjukan bahwa anak tersebut meningkatkan rasa percaya diri dan kestabilan emosi dari Anak bahagia karena merasa diberikan perhatian kasih sayang dan merasa dicintai. Kemudian anak dapat menjalin hubungan sosial yang lebih baik dengan orang lain serta semangat dalam belajar. Pentingnya dalam mendidik anak orang tua, pengasuh, atau pendidik dapat memberikan Nasehat dalam mendidik anak adalah suatu bentuk bimbingan verbal yang diberikan oleh orang tua, pengasuh atau pendidik untuk membantu anak memahami nilai-nilai, prinsip, dan cara berperilaku yang baik. Nasehat biasanya diberikan dalam bentuk saran, petunjuk, atau peringatan yang bertujuan untuk membantu anak membuat keputusan yang tepat, mengembangkan karakter, dan menghadapi tantangan dalam kehidupan. Peneliti mengamati bahwa dalam konteks mendidik melalui nasehat di TK Al-Khairaat guru maupun orang tua selalu mengajarkan atau menasehati anak untuk dapat bertutur kata yang baik, ketika datang kesekolah mengucapkan salam dan mencium tangan guru maupun orang tua yang hanya mengantar, dapat mengucapkan kata terimakasih setelah menerima sesuatu dan mengucapkan kata tolong ketika memerlukan bantuan, serta menghormati guru dan orang tua. Berdasarkan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 50 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. hasil wawancara dengan guru dan orang tua yaitu dapat memberikan nasehat contohnya dari perilaku yang baik misalnya mengajarkan tentang berperilaku baik terhadap orang, tidak boleh sombong, harus menghargai satu sama lain, memberikan pengertian kepada anak ketika tiba dan setelah pulang sekolah salaman sama guru. Hal ini juga didukung oleh teori yang disampaikan oleh H. Amirullah . alam Siregar, 2. Pada kondisi ini orangtua dapat menasehati dengan memberikan pemahaman keimanan dan akhlaq karimah dengan jelas, terang, dan lengkap sesuai dengan kemampuan anak. nasihat dapat dijadikan salah satu konsep untuk membangun karakter anak dengan memberikan nasihat dengan waktu yang tepat dan tidak dalam keadaan marah. Dan yang paling penting lagi nasihat yang diberikan orangtua kepada anaknya harus dibarengi dengan Pengasuhan dan pengajaran di TK Al-Khairaat menunjukan bahwa anak- anak bisa menerapkan nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang tua seperti dapat menghargai orang yang lebih tua, ketika guru ataupun orang lain bercerita di dengarkan, dapat menunjukan kasih sayang terhadap orang lain, dapat mengucapkan salam dan mencium tangan guru ketika sampai disekolah dan setelah pulang sekolah, dapat mengucapkan kata terimakasih dan minta tolong. Namun masih terdapat 1 orang anak yang masih belum bisa menerima nasehat dari guru seperti ketika disampaikan hal yang tidak boleh dilakukan anak cenderung marah dan emosi. Menurut Ulwan . alam Sutrisno, 2017:. metode pendidikan dengan pemberian nasehat, anak akan terpengaruh oleh kata- kata yang memberi petunjuk, nasehat yang memberi bimbingan, kisah yang efektif, dialog yang menarik hati, metode yang bijaksana dan pengarahan yang membekas. Tanpa ini, tak akan tergerak perasaan anak, tidak akan bergerak hati dan emosinya, sehingga pendidikan akan menjadi kering, tipis harapan untuk Pembiasaan dalam mendidik anak adalah proses mendidik anak melalui tindakan, perilaku, atau kebiasaan tertentu hingga menjadi bagian dari rutinitas atau karakter anak. jadi melalui pembiasaan, orang tua atau pengasuh, dan pendidik dapat menanamkan pola perilaku yang diharapkan menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari anak. Peneliti mengamati bahwa dalam konteks mendidik melalui pembiasaan di TK Al-Khairaat guru maupun orang tua selalu membiasakan anak untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan seperti selalu membiasakan mencuci tangan sebelum makan, membuang sampah di tempat sampah, membiasakan dalam pendidikan agama seperti membiasakan untuk belajar sholat melalui Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 51 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. program sholat dhuha setiap hari disekolah, menghafal surah-surah, doa sehari-hari, serta hadits-hadits seperti hadits orang tua dan hadits kasih sayang. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yaitu melalui dengan pembiasaan-pembiasaan setiap hari sebelum datang kesekolah memberi salam lalu bersalaman lalu kita peluk mereka agar nilai kasih sayang itu dari rumah mereka di antar kesekolah ada juga sosok orang tua yang mereka dapati disekolah. Dan menurut hasil wawancara dengan orang tua dari pembiasaan tentu orang tua harus menjadi contoh juga bagi anak. mengatur waktu dengan anak kapan dia harus belajar, bermain, tidur supaya keseharian itu teratur dan sudah ada pembiasaan yang dilakukan setiap harinya. Hal ini juga didukung oleh teori yang disampaikan oleh H. Amirulah menyatakan Orangtua wajib memberikan keteladanan yang baik, namun juga harus disertai dengan adanya pembiasaan yang harus dilakukan sebagai cara mengaplikasikan suatu pengajaran yang sudah Pembiasaan-pembiasaan yang dapat diaplikasikan orangtua dalam rumah tangga Dalam segi pembinaan karakter anak: sholat berjamaah, sholat sunah, membaca alquran, puasa, sedekah, menjaga silahturahmi, sopan bertetangga, hormat pada usia lebih tua dan lain-lain. Dalam segi pembinaan kebersihan : membuang sampah pada tempatnya, kerapian berpakaian, membersihkan rumah dan menjaga kebesihan lingkungan. Bidang pendidikan: budaya membaca dirumah dan semangat tinggi untuk belajar. Pengasuhan dan pengajaran di TK Al-Khairaat menunjukan bahwa 4 orang anak dapat melakukan kebiasaan seperti menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan sebelum makan, membaca doa, membuang sampah ditempat sampah, dapat membaca al-qurAoan walau masih dibantu oleh guru, sopan dan menghargai orang lain namun ada 2 orang anak masih kurang dalam menerapkan pembiasaan seperti membuang sampah ditempat sampah serta bicara yang masih kurang sopan saat bertemu orang lain. Menurut Ulwan . alam Sutrisno, 2017:5-. Metode pendidikan dengan kebiasaan. Salah satu metode yang digunakan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat adalah dengan metode latihan . Inti pembiasaan adalah Karena pembiasaan berintikan pengulangan, maka metode pembiasaan ini juga berguna untuk menguatkan hafalan. Kebiasaan anak tergantung kepada seorang yang mendidiknya, karena anak adalah amanah dari Allah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan seperti dibiarkannya binatang, ia akan celaka dan binasa. Bagi para pendidik, hendaklah membedakan dalam upaya memperbaiki anak dan meluruskan bengkokannya. Demikian pula Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 52 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. dalam membiasakan dan membekalinya dengan akhlak. Disamping orang tua atau pendidik lingkungan pun sangat mempengaruhi kebiasaan anak. Mendidik melalui penghargaan dan Mendidik melalui penghargaan dan hukuman adalah metode pengelolaan perilaku anak yang memberikan imbalan untuk perilaku yang diinginkan dan menerapkan konsekuensi negatif untuk perilaku yang tidak diinginkan. Peneliti mengamati bahwa dalam konteks mendidik melalui penghargaan dan hukuman di TK Al-Khairaat bahwa guru dan orang tua selalu memberikan reward dalam bentuk kata-kata pujian atau dalam bentuk hadiah kepada sedangkan dalam memberikan hukuman orang tua dan guru itu lebih ke menasehati dengan memberikn penjelasan atas sesuatu yang tidak boleh dilakukan namun ada orang tua yang melakukan hukuman fisik kepada anak seperti mencubit anak tersebut. Dan berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan orang tua mereka memberikan reward dalam bentuk kata-kata pujian agar memberikan motivasi dan semangat untuk anak dapat melakukan sesuatu yang lebih baik lagi serta memberikan hadiah. Sedangkan dalam memberikan hukuman orang tua dan guru cenderung lebih ke menasehati anak untuk tidak melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Hal ini juga didukung oleh teori yang disampaikan oleh Amirullah . alam Siregar, 2. Islam sebagai agama yang mengajarkan kebaikan dan kemashalatan pada umat manusia, menyarankan penggunaan kedua metode tersebut sebagai alternatif dalam mendidik anak berbagai teknik penggunaan reward yang dianjurkan dalam islam seperti dengan ungkapan kata pujian, dengan memberi suatu materi, memberikan senyuman atau pelukan, menganggap diri kita bagian dari mereka. Pengasuhan dan pengajaran di TK Al-Khairaat menunjukan bahwa anak yang mendapatkan reward dapat membentuk kebiasaan yang baik serta mendorong perilaku yang positif ketika anak belajar atau bermain diberikan reward dalam bentuk kata-kata pujian atau hadiah anak merasa lebih percaya diri, meningkatkan semangat daalam diri anak, serta meningkatkan hubungan anak dengan orang yang memberi reward. Sedangkan pemberian hukuman kepada anak dapat membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensinya serta mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan pentingnya berpikir sebelum bertindak. Menurut Amirullah . alam Siregar, 2. Rasululah saw. juga memberikan beberapa tahapan dalam menjalankan hukuman kepada anak, termasuk anak usia remaja: a. Melalui teguran langsung b. Melalui pukulan, terdapat beberapa aturan yang mampu melindungi efek negatif yang mungkin Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 53 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor 2 ) 2024 HaL. ditimbulkan, yaitu: . Jangan terlalu cepat memukul anak jika kesalahan itu baru pertama kali dilakukan, tetapi anak harus diberi kesempatan untuk bertaubat dari perbuatannya. Pukulan tidak boleh dilakukan pada tempat-tempat yang berbahaya, seperti kepala, dada, perut atau Menurut Guddah . alam Lubis, 2. hukuman diberikan apabila metode-metode yang lain sudah tidak dapat merubah tingka laku anak, atau dengan kata lain metode hukuman merupakan jalan terkahir yang ditempuh oleh orang tua, apabila perilaku anak tidak seusai dengan ajaran islam. Sebab hukuman merupakan tindakan tegas untuk mengembalikan persoalan di tempat yang benar. SIMPULAN Disimpulkan bahwa kolaborasi pola asuh orang tua dan guru yaitu dengan menjalin komunikasi yang baik dan lancar untuk dapat mengetahui informasi perkembangan anak serta adanya keterlibatan orang tua disekolah. Ketika ada permasalahan terkait proses belajar anak, atau perkembangan anak maka akan dikomunikasikan melalui rapat sehingga orang tua dan guru dapat mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Setiap orang tua dan guru pasti memiliki pola asuh yang berbeda-beda terhadap anak. Terkait dengan pola asuh orang tua, ada yang mengontrol anak secara ketat, anak harus mengikuti semua perintah orang tua, anak yang tidak mematuhi orang tua akan dihukum. Serta ada pula pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan untuk anak bergaul dengan teman dan beraktivitas, tetapi tetap mengontrol kegiatan anak, memperhatikan kebutuhan anak, serta dapat menjalin hubungan yang baik dengan anak. Sedangkan untuk pola asuh guru yaitu selalu memberikan reward, melakukan hubungan yang baik dengan anak, serta mengajarkan dan membiasakan tentang akhlak, moral, dan ibadah pada Dengan demikian penting bagi orang tua dan guru untuk dapat berkolaborasi memberikan pola asuh yang tepat terhadap anak dalam mendukung perkembangan dan keberhasilan anak Oleh karena itu demi tercapainya tujuan pendidikan yang baik hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan dan peningkatan pengetahuan tentang pengasuhan anak, mengambil bagian dalam program dukungan orang tua, mencari sumber daya dan informasi yang relevan, serta berinteraksi dengan komunitas orang tua. REFERENSI