Agama dan Toleransi Beragama Pascakonversi Agama (Studi Transformasi Pemaknaan Agama dan Toleransi Beragama bagi Orang Dayak Mualaf di Kalimantan Bara. Felisitas Yuswanto Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak joezzwanto@gmail. Abstrak Agama dan Toleransi Beragama merupakan salah satu perbincangan menarik pada zaman modern yang disertai kemajemukan suku dan agama. Tulisan ini merupakan salah satu dari pembahasan mengenai toleransi umat beragama yang didasarkan pada orang-orang yang telah mengalami perpindahan agama. Konversan atau orang yang telah berpindah agama memiliki pandangan baru mengenai agama yang telah dipilih. Hal ini tentunya membawa makna tersendiri bagi konversan dan memengaruhi kehidupan bersama dalam masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografis. Hasil penelitian yang ditemukan adalah sebagai berikut: Orang Dayak melakukan konversi adalah dari dorongan pribadi atau hati nurani sendiri dan ada pengaruh dari luar, dalam arti pasangan . agi mereka yang akan menikah dengan orang yang berbeda agam. , maupun dari masyarakat. Konversi agama merupakan kerinduan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik lagi. Perubahan yang terjadi pasca konversi agama dari fisik terlihat dari busana yang mereka pakai dan kegiatan peribadahan yang dilakukan bersama Toleransi yang semakin kuat dalam diri mereka karena dalam cara pandang kepada orang yang juga melakukan konversi agama lebih menerima dan memahami mengapa orang berani untuk melakukan konversi agama. Makna agama bagi orang Dayak pasca konversi agama adalah sebuah jalan hidup manusia, penuntun hidup manusia menuju pada Tuhan. Agama sangat penting dalam kehidupan manusia. Jika manusia tidak mengenal agama, maka hidup manusia tidak akan tertata dan akan jauh dari Tuhan. Agama merupakan salah satu bagian dari hidup manusia yang menata hidup manusia sesuai dengan kehendak Tuhan. Kata kunci: konversi, konflik, pascakonflik, agama Pendahuluan Konversi agama pada zaman ini bukanlah suatu hal yang dirahasiakan bahkan bisa menjadi sebuah bahan yang bisa dikonsumsi untuk khalayak ramai. Sebagai contoh artis atau atlet yang berpindah (Media, n. ) Mereka tidak akan menyangka bahwa konversi yang mereka lakukan menjadi bahan pembicaraan banyak orang bahkan bisa juga menjadi motivasi orang untuk berpendapat macam-macam. Hal ini bisa diibaratkan dengan dua sisi mata pedang. Tentunya ada pandangan yang baik dan ada pandangan yang kurang baik. Konversi yang dilakukan oleh orang yang berpindah keyakinan memiliki alasan tertentu dan tidak mudah untuk dilakukan. Orang pasti akan berpikir panjang dan siap mengambil risiko yang akan diterima pasca konversi agama. Melakukan konversi agama merupakan kebebasan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara Hukum, hal ini tidak menjadi permasalahan serius karena melakukan konversi agama merupakan hak asasi manusia, akan tetapi hal ini memiliki pengaruh tersendiri dalam kehidupan (AdaAo et al. , 2. Satu hal yang baru menurut pandangan penulis adalah konversi agama yang terjadi pada Suku Dayak di Kalimantan Barat. Orang Dayak di Kalimantan Barat cenderung beragama Katolik atau Protestan . al ini kini berkembang dengan munculnya istilah Dayak Islam tetapi masih menjadi kontroversi di kalangan Suku Daya. , sedangkan Orang Melayu identik dengan agama Islam. (Muhrotien, 2. Konversi Agama bagi Suku Dayak di Kalimantan Barat tidak hanya berdampak pada konversi Agama mereka, tetapi juga pada identitas kesukuan mereka. Sebagai contoh: pertama, orang Dayak melakukan konversi agama ke agama Islam, maka orang tersebut akan disebut AuTurun LautAy atau AuTurun MelayuAy atau AuDayak IslamAy. kedua, jika orang Melayu melakukan konversi agama ke Katolik atau Protestan, maka identitas kesukuannya ikut berubah dengan istilah AuNaik DaratAy atau menjadi Dayak. Hal ini unik terjadi di Kalimantan Barat karena di bagian lain Pulau Kalimantan selain Kalimantan Barat, konversi Agama tidak mengubah identitas suku mereka. Dalam proses perpindahan Agama juga memiliki daya tarik tersendiri, yakni ada istilah senganan yang berarti sebuah masa transisi dalam peralihan identitas suku mereka. Dewasa ini kata senganan sudah jarang sekali muncul di Kalimantan Barat. Orang Dayak yang melakukan konversi agama lebih banyak memilih untuk disebut sebagai Dayak Mualaf atau Dayak Islam, atau langsung disebut sebagai orang Melayu. (Muhrotien, 2. Tema ini menarik karena suku merupakan warisan dari nenek moyang atau pemberian dari Manusia tentunya tidak bisa memilih untuk dilahirkan di suku mana, akan tetapi bisa memilih agama sesuai dengan gerakan atau dorongan hatinya untuk menjawab kerinduan terdalam dari diri manusia akan Tuhan. Tema ini penting untuk dikaji lebih dalam karena dampak dari konversi agama yang terjadi di Kalimantan Barat dapat digolongkan pada fanatisme kesukuan yang kuat. (Atok, 2. Konversi agama yang semula menjadi dorongan manusia untuk lebih dekat dengan Tuhan membawa dampak kurang baik pada Identitas kesukuan orang yang melakukan konversi agama. Pertanyaan mendasar dalam penulisan ini adalah alasan orang Dayak melakukan konversi agama dan bagaimana perubahan yang terjadi pasca konversi agama. Selain itu penulis juga membahas bagaimana pemaknaan agama dan suku bagi orang Dayak pasca konversi agama. Ketiga pertanyaan besar di atas akan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Dayak yang telah melakukan konversi agama dan penulis berharap agar tulisan yang dibuat ini dapat membantu ilmu pengetahuan dalam pengembangan ilmu sosial, budaya, psikologi, dan agama di masa yang akan datang. Penelitian yang digunakan oleh penulis termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dieksplorasi dengan menggunakan pengamatan terlibat dan wawancara mendalam dengan orang Dayak mualaf dan ketua adat. Jenis data yang dikumpulkan adalah dari wawancara kepada narasumber dengan menanyakan alasan mereka melakukan konversi, bagaimana pengalaman iman pra maupun pasca konversi, kemudian pemaknaan mereka akan agama dan Tuhan. Data-data ini dikumpulkan dan dianalisis dengan membandingkan data wawancara dengan konsep agama dan konsep konversi agama. Tinjauan Pustaka Kalimantan Barat memiliki kekhasan dalam hal pelestarian budaya mereka. Hal ini baik karena kebudayaan Dayak merupakan kekayaan budaya Rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan Hal yang mengikuti budaya Dayak adalah identitas kesukuan yang tidak jarang menjadi konflik identitas dalam kehidupan yang sudah dijalani, atau kini terjadi, bahkan di masa yang akan datang nanti. Beberapa Peneliti dari Luar Negeri pada awalnya tertarik pada konversi agama menikmati serentetan studi, memeriksa proses konversi agama dan konsekuensi sosial dan budayanya, serta kontinuitas dan diskontinuitas yang diakibatkan oleh perubahan dalam keyakinan dan praktik agama. Mereka melihat konfigurasi agama tertentu, keyakinan dan praktik tertentu, dalam hubungan yang dibangun antara mitos, kosmologi, dan asal etnis. Hal ini adalah bahan penting dalam pembangunan dan pemeliharaan (King et al. , 2. Secara khusus. Penelitian mengenai identitas orang Dayak yang melakukan konversi agama mengatakan bahwa persoalan kultural antara identitas suku bangsa dan identitas keagamaan pun ditemui oleh orang Dayak yang memeluk Islam. Kultur Dayak yang sering kali bertentangan dengan ajaran agama Islam tentu saja tidak dapat lagi dipraktikkan oleh orang-orang Dayak yang sudah menjadi muslim. Turun Melayu, adalah salah satu upaya orang Dayak pemeluk agama Islam untuk dapat terus menjalankan ajaran agama sekaligus memiliki identitas kultural yang diakui. (Lathifah, 2. Konversi agama dapat terjadi karena beberapa hal, yakni karena kurang paham akan agama yang dijalani yang mengakibatkan sebuah kebingungan dalam diri seseorang, atau faktor luar yang memengaruhi manusia untuk melakukan konversi. Selain itu faktor sosial dalam arti proses interaksi dalam masyarakat membuat manusia memahami perbedaan tentang hal-hal yang sebelumnya belum diketahui yang membuat manusia bertanya akan kebenaran. (Heirich, 1. Berbicara mengenai agama tentunya tidak lepas dari sebuah sistem yang bersifat positif yang mengacu pada dimensi-dimensi pemahaman personal manusia yang menghadirkan dan mencari sebuah makna. Secara keseluruhan, pemahaman akan agama mengacu pada dimensi pemahaman akan tujuan, hubungan dengan orang lain, kepercayaan, hubungan transenden, penerimaan diri, hubungan intim dan keterbukaan, bahkan tujuan akan sebuah pencarian. Pengalaman yang aktual dari pemaknaan hidup adalah faktor yang menghantar antara manusia yang tidak memiliki agama dan tujuan hidup yang secara parsial menjelaskan bahwa manusia memiliki tujuan hidup yang transenden dan bahagia. (Krok, 2. Konsep Agama Istilah AureligioAy diartikan sebagai sebuah perhatian dan pengamatan seksama atas faktor-faktor dinamis tertentu, yang dipahami sebagai Audaya-dayaAy, itu-itu, iblis-iblis, dewa-dewa, gagasan-gagasan, cita-cita atau apa pun nama yang manusia berikan untuk faktor-faktor tersebut seperti yang sudah dia temukan di dalam dunianya yang cukup menggetarkan, berbahaya atau memberikan pertolongan sehingga harus dinilai secara seksama, atau dunia yang agung, yang cukup indah dan bermakna untuk dipuja dan dicintai dengan tulus. Dalam bahasa sehari-hari orang sering berkata tentang orang lain yang begitu bersemangat tertarik pada suatu pencarian tertentu, di mana dia hampir sepenuhnya mencurahkan ketaatannya kepada sesuatu yang menjadikannya seperti itu. (Jung, 2. Religi bukanlah suatu kredo. Namun dapat dianggap benar bahwa di situ sisi setiap pengakuan pada mulanya berdasar pada pengalaman akan realitas suci, dan di sisi yang lain kesetiaan, kepercayaan, dan kemantapan hati terhadap suatu akibat yang secara meyakinkan tentang realitas yang suci dan perubahan kesadaran yang terjadi kemudian. Religi adakah istilah yang menunjuk pada perilaku yang khas bagi kesadaran yang telah berubah karena pengalaman atas realitas yang agung. (Jung, 2. Agama secara etimologis dapat dikatakan bahwa kata AuagamaAy berasal dari bahasa AuSansekertaAy, yang bermakna Auhaluan, peraturan, jalan atau kebaktian kepada Tuhan. Ay Pendapat lain mengatakan bahwa agama itu tersusun dari dua kata. AuaAy yang berarti AutidakAy dan AugamaAy yang berarti Aupergi, kacau. Ay Jadi AuagamaAy berarti Autidak pergi, tidak kacau. Ay Dengan kata lain bisa juga diartikan dengan tetap di tempat, diwarisi turun temurun. (Jirhanuddin, 2. Agama menurut Taylor adalah sebagai Aukeyakinan terhadap yang spiritualAy. Walaupun ditemukan kemiripan-kemiripan dalam setiap agama, namun satu-satunya karakteristik yang dimiliki setiap agama, besar maupun kecil, agama purba atau modern, adalah keyakinan terhadap roh-roh yang berpikir, berperilaku dan berperasaan seperti manusia. Esensi setiap agama, seperti juga mitologi, adalah animisme . erasal dari Bahasa Latin, anima, yang berarti ro. , yaitu kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada di balik segala sesuatu. Panorama Dayak di Kalimantan Barat Suku Dayak atau kemudian akan disebut dengan Dayak tidak bisa dipisahkan dari Pulau Kalimantan. Pulau yang sering disebut dengan nama Borneo ini memiliki luas sekitar 750. 000 km2 sehingga merupakan pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan New Guinea. Sebagian besar wilayah Kalimantan termasuk dalam wilayah Indonesia yaitu Kalimantan Barat. Kalimantan Timur. Kalimantan Tengah. Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan. Kalimantan Utara sebagian besar masuk dalam wilayah Malaysia, yaitu Sabah dan Sarawak. (Billa & Alfais, 2. Istilah Dayak sebenarnya bukan berasal dari orang Dayak tetapi nama yang diberikan orang luar. Dayak bukan primary ethnicity melainkan secondary ethnicity, yakni identitas yang digunakan orang Dayak dalam hubungan dengan etnis lain daripada antar sesama Dayak. Istilah Dayak secara kolektif menunjuk pada orang Non-Muslim atau Non-Melayu yang merupakan penduduk asli Kalimantan pada Istilah ini muncul pada akhir abad kesembilan belas dalam konteks pendudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan. Kata AuDayakAy berarti orang yang berasal dari pedalaman atau gunung. Oleh karena itu, orang Dayak berarti orang gunung atau pedalaman. Kata AuDayakAy ini juga merupakan nama kolektif bagi banyak kelompok suku di Kalimantan. (Billa & Alfais. Sejumlah peneliti mengatakan orang Melayu dulunya adalah orang Dayak yang masuk Islam. Banyak orang yang sekarang dikenal sebagai orang Melayu, termasuk di dalamnya orang-orang Kutai, dulunya dianggap sebagai orang Dayak. Meskipun ada perubahan dalam agama, yakni masuk Islam, tetapi perubahan tersebut, ke-Dayak-an mereka dipertanyakan dan kemudian secara berangsur-angsur Jadi tampaknya batas antara Dayak dan Melayu merupakan batas yang sifatnya arbitrer dan agak Suku Dayak di Kalimantan terdiri dari suku besar dan sub suku yang mengikuti (Riwut & Riwut, 2. , yakni: Dayak Ngaju, yang terdiri dari empat suku dan dari empat suku tersebut terdiri dari atas 90 suku yang lebih kecil lagi. Dayak Apokayan, yang terdiri dari tiga suku dan dari tiga suku tersebut terdiri atas 60 suku yang lebih kecil lagi. Dayak Iban dan Heban atau Dayak Laut yang terdiri atas 11 suku. Dayak Klemantan atau Dayak Darat yang 2 suku dan dari 2 suku tersebut terdiri dari 87 suku yang lebih kecil lagi. Dayak Murut yang terdiri dari tiga suku dan dari tiga suku tersebut terdiri atas 44 suku yang lebih . Dayak Punan yang terdiri atas 52 suku kecil-kecil. Dayak Ot Danum terdiri dari 61 suku kecil-kecil. Dari beberapa suku dan sub suku di atas setiap suku besar maupun kecil memiliki kekhasan yang Perbedaan antar suku bisa dilihat dari bahasa yang berbeda, motif-motif yang tampak dalam busana maupun benda-benda yang dapat ditemui di setiap daerah. Misalnya: Dayak Iban memiliki kekhasan dalam motif bunga terong pada seni tato maupun dalam seni pahat yang dapat ditemui dalam pantak atau perisai. Motif bunga terong akan jarang ditemui pada Dayak Klemantan yang lebih mengutamakan seni sastra dalam kehidupan mereka. Tidak semua suku Dayak memiliki kesenian yang Dalam bahasa pun demikian, bahkan setiap kampung memiliki bahasa yang berbeda meskipun mereka masih dalam rumpun suku besar yang sama. Konsep Agama Orang Dayak Konsep agama orang Dayak secara langsung memiliki banyak perbedaan. Hal ini dikarenakan dari 7 . suku utama suku Dayak memiliki konsep yang berbeda-beda dalam penyebutan istilah maupun bahasa yang digunakan. Orang-orang Dayak di pantai Barat tidak memiliki tempat ibadah, imam, pesta keagamaan, salah satu upacara yang dapat diberi nama ibadat umum, dan karena itu tidak perlu mengherankan kita bahwa orang yang hanya secara dangkal bertemu dengan mereka berpendapat bahwa mereka tidak punya agama. (Veth & Yeri, 2012. Konsep Tuhan atau Tuhan bisa diartikan dengan nama AuDjewataAy atau AuDjebataAy, yang dalam nama itu diberi pengertian kepada banyak dewa-dewa dari orang-orang Dayak, nama ini menjadi nama umum. Jika dilihat lebih dalam lagi, ternyata ada Dewata dari bahasa Sansekerta, yang dalam mitologi orangorang Hindu, nama dari roh-roh yang baik yang mendiami Surga dari "IndraAy. Kata Dewata juga dipakai oleh orang-orang Melayu dan dengan perantaraan mereka mungkin dapat sampai kepada orang-orang Dayak. Orang-orang Dayak pada waktu ditanya nama dewanya, memang selalu menjawab bahwa nama dewa mereka adalah Jewata-Laut'. Dengan itu mereka rupanya mau mengatakan bahwa nama itu mereka terima dari orang pantai laut . rang lau. atau Melayu, sambil sebenarnya dalam mitologi mereka tidak ada tempat untuk dia. Sekarang nama Jewata di Bagian Barat sangat biasa dan umum. (Veth & Yeri, 2012. Beberapa waktu berikutnya nama Jewata mengarah pada dewa tertinggi, oleh siapa segala-galanya Penggunaan nama Jewata pun juga mengalami perkembangan. Zaman ini di beberapa daerah menyebut Jewata dengan istilah Jubata. Duwata. Petara. IllahitaAoalla, dan masih banyak istilah lain di berbagai daerah di pulau Kalimantan secara khusus masyarakat Dayak. Bagi orang Dayak, manusia dikelilingi dari segala segi oleh Jewata-jewata yang mengisi langit dan bumi, tetapi bahwa roh-roh dari kedua cahaya besar di langit, khusus dari matahari yang memelihara segala-galanya dan memberi segala kehidupan, menduduki tempat utama. (Veth & Yeri, 2012. Mereka menghormati dewa-dewa itu dengan doa-doa dan persembahan-persembahan, tetapi semua itu bersifat situasional atau dalam situasi khusus. Konversi agama Dalam bahasa Inggris conversion, yang mengandung pengertian berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain . hange from state of from one religion to anothe. (Hendropuspito, 1. Konversi agama . eligious conversio. secara umum dapat diartikan dengan berubah agama ataupun masuk agama, bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama, suatu perubahan kepercayaan dan ketaatan terhadap suatu agama yang dianut oleh seseorang, melepaskan kepercayaan terhadap suatu agama dan memeluk atau mempercayai agama lain. Konversi agama dapat disebut pindah agama, bisa juga perubahan ketaatan terhadap sesuatu agama. Secara terminologi, konversi agama memiliki beberapa pengertian, diantaranya menurut Thouless, konversi agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan, proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba. Menurut kata AuconvertionAy dalam bahasa Inggris berarti Aumasuk agama. Ay(Hendropuspito, 1. Konversi agama juga dapat diartikan sebagai sebuah bentuk pertobatan, untuk dilahirkan kembali, untuk menerima rahmat, untuk mengalami agama, untuk mendapatkan sebuah kepastian, bertahap atau tiba-tiba, terpecah, dan secara sadar salah inferior dan tidak bahagia, menjadi bersatu dan secara sadar benar superior dan bahagia, sebagai akibat dari pegangannya yang lebih kuat pada realitas religius. Setidaknya inilah arti konversi dalam istilah umum, apakah percaya atau tidak bahwa Karya Ilahi secara langsung diperlukan untuk membawa perubahan moral seperti itu. (James, 2. Konversi dipahami secara berbeda di berbagai tempat konteks agama dan sosial. Orang Kristen sebut konversi atau metanoia,1 dalam Agama Islam akan menyebut 'penyerahan' atau hidayah dan Budha akan berbicara tentang 'Pergi untuk Perlindungan'. (Lamb & Bryant, 1. Konversi agama tidak dapat dijelaskan hanya sebagai proses psikologis, tetapi melibatkan dimensi spiritual yang memperoleh signifikansi lebih besar dari perspektif fenomenologis. Menganalisis satu narasi konversi dalam terang studi lain, penulis berpendapat untuk integrasi, psiko-spiritual, pendekatan, dan menunjukkan sentralitas pengalaman religius dalam pertobatan. Dia mengklaim konversi memicu transformasi dalam berbagai aspek kehidupan orang yang melakukan konversi. (Iyadurai, 2. Menurut Mukti Ali, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi agama mencakup lima faktor sebagai berikut: . Faktor keluarga. keretakan keluarga, ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat lainnya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin yang menimpa dirinya, . Faktor lingkungan tempat tinggal. orang yang merasa terlempar dari lingkungan tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batinnya hilang, . Faktor perubahan status. perubahan status terutama yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama, misalnya. perceraian, keluar dari sekolah ataupun perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama dan sebagainya, . Faktor kemiskinan. kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi, dan . Faktor pendidikan. dalam hal ini literatur ilmu sosial Metanoia (Yunani: AE berarti "perubahan pikiran") dalam konteks diskusi teologis, di mana ia sering digunakan, biasanya ditafsirkan sebagai pertobatan. Namun, beberapa orang berpendapat bahwa kata tersebut harus ditafsirkan lebih harfiah yang merujuk pada perubahan pikiran, dalam arti merangkul pikiran melampaui batasan yang sekarang atau pola pikir. AoMetanoia . Ao. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, . ccessed September 2. menampilkan argumentasi bahwa pendidikan memainkan peranan lebih kuat atas terbentuknya disposisi religius yang lebih kuat bagai kaum wanita daripada kaum pria. Lebih lanjut ditemukan fakta dari pendirian sekolah-sekolah keagamaan yang dipimpin oleh Yayasan-yayasan berbagai agama. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian kecil saja dari seluruh jumlah anak didik dari sekolah tersebut masuk agama yang dipeluk pendirinya. Hanya sejauh itu dapat dibenarkan sistem pendidikan lewat persekolahan termasuk faktor pendorong masuk agama. (Ali, 1. Orang yang melakukan konversi agama dapat dilihat dari ciri-ciri yang melekat pada konsep konversi agama(Arifin, 2. , yakni: Adanya perubahan arah pandang dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan, perubahan itu pun disebabkan faktor petunjuk dari Yang Mahakuasa. Selain melihat ciri konversi di atas, proses konversi agama juga memengaruhi proses kejiwaan bagi orang yang berpindah agama. Proses yang terjadi pada saat Konversi Agama dapat dilihat dalam 5 tahap(Daradjat, 1. , yakni: Masa Tenang Pada saat ini, kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang karena masalah agama belum memengaruhi sikapnya. Terjadi semacam sikap apriori terhadap agama. Keadaan demikian dengan sendirinya tak akan mengganggu keseimbangan batinnya, hingga ia berada dalam keadaan tenang dan Masa Ketidak Tenangan Tahap ini berlangsung jika masalah agama telah memengaruhi batinnya. Mungkin dikarenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya yang menimbulkan semacam kegoncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, panik, putus asa, ragu, dan bimbang. Perasaan seperti itu menyebabkan orang menjadi lebih sensitif dan sugestibel. Pada tahap ini terjadi proses pemilihan terhadap ide atau kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya. Masa Konversi Tahap ketiga ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan batin telah terpenuhi, berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah. Keputusan ini memberikan makna dalam menyelesaikan pertentangan batin yang terjadi, sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk kesediaan menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk Ilahi. Karena ketenangan batin itu terjadi atas dasar suatu perubahan sikap kepercayaan yang bertentangan dengan sikap kepercayaan sebelumnya, terjadilah proses konversi agama. Masa Tenang dan Tenteram Masa tenang dan tentram yang kedua ini berbeda dengan tahap sebelumnya. Jika pada tahap pertama, keadaan itu dialami karena siap yang acuh tak acuh, ketenangan dan ketenteraman pada tahap ini ditimbulkan oleh kepuasan terhadap keputusan yang sudah diambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru. Masa Ekspresi Konversi Sebagai ungkapan dari sikap menerima terhadap konsep baru dari ajaran agama yang diyakininya tadi, tindak-tanduk dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilih Pencerminan ajaran dalam bentuk amal perbuatan yang serasi dan relevan sekaligus merupakan pernyataan konversi agama itu dalam kehidupan. Adat Konversi Agama Suku Dayak2 Agama Katolik adalah agama mayoritas bagi masyarakat Dayak terkhusus bagi masyarakat Dayak Mentuka. Agama Katolik dapat dikatakan sebagai agama pribumi bagi masyarakat Dayak Mentuka. Masyarakat Dayak identik dengan adat istiadat yang dimilikinya, tidak lepas juga masyarakat Dayak Mentuka. Salah Satu adat Dayak Mentuka yang cukup menarik untuk diperhatikan bersama yakni Adat Pindah Agama. Adat Pindah Agama adalah adat yang wajib dilakukan kepada mereka yang akan melakukan pindah agama di masyarakat Dayak Mentuka. Dalam masyarakat Dayak Mentuka terdapat dua istilah dalam Adat Pindah Agama yakni istilah AunaikAy dan istilah AuturunAy. Istilah AunaikAy dikenakan kepada mereka akan melakukan perpindahan agama pribumi Dayak Mentuka. Sedangkan istilah AuturunAy dikenakan kepada seorang yang akan meninggalkan agama pribumi masyarakat Dayak Mentuka. Adat Pindah Agama dilakukan oleh masyarakat Dayak Mentuka terkhusus di Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat. Adat Pindah Agama dilakukan sebelum orang tersebut melakukan perpindahan agama baik AunaikAy maupun AuturunAy. Tujuan dilakukannya Adat Pindah Agama ini ialah sebagai syarat sebelum melakukan perpindahan agama dan sebagai sebuah pernyataan kepada masyarakat Dayak Mentuka setempat bahwa orang yang bersangkutan telah resmi akan melakukan pindah agama. Adat Pindah Agama diawali dengan diadakannya pertemuan para tokoh adat dan masyarakat di rumah orang yang bersangkutan termasuk dengan pihak keluarga. Dalam pertemuan tersebut, dilakukan penentuan Lassa dan Poku Adat Pindah Agama. Lassa dan Poku adalah satuan ukur dalam adat Dayak Mentuka berupa mangkok adat. Mangkok yang digunakan adalah mangkuk khusus adat Dayak Mentuka. Tidak hanya menentukan Lassa dan Poku, selanjutnya juga ditentukan kapan akan dilaksanakannya Adat Pindah Agama. Dalam hal ini yakni penentuan hari dan tanggal pelaksanaan. Setelah disepakati Lassa dan Poku serta hari pelaksanaan, barulah dapat dilakukan Adat Pindah Agama tempat orang yang akan melakukan pindah agama. Adat Pindah Agama dimaknai sebagai pelepasan status keagamaan seseorang baik AunaikAy maupun AuturunAy. Tidak hanya bertujuan sebagai syarat dan pernyataan kepada masyarakat. Adat Pindah Agama juga memiliki bentuk validasi yakni berupa surat keterangan pindah agama yang dikeluarkan oleh Pengurus Dewan Adat Dayak Mentuka setempat yang ditandatangani oleh tokoh masyarakat seperti ketua adat, pemimpin umat, kepala dusun, dan ketua RT. Dalam adat pindah agama, tidak dikatakan secara eksplisit bahwa orang Dayak yang berpindah agama itu secara otomatis kehilangan identitas AuDayakAynya, akan tetapi dari kehidupan bermasyarakat, banyak ditemui istilah AukeluarAy atau AuturunAy itu memiliki arti bahwa orang tersebut sudah bukan lagi disebut sebagai orang Dayak. Orang Dayak diartikan sebagai orang yang menghidupi kebudayaan Dayak beserta ritual adat yang mengikutinya. Jika orang tersebut tidak mengikuti ritual adat yang dilakukan, maka akan sulit bagi orang itu untuk dapat dikatakan sebagai orang Dayak. Hasil Penelitian Narasumber Pertama3 lahir di Pontianak Kalimantan Barat, ia mendapat dorongan dari dalam dirinya untuk berpindah agama. Ia berpindah agama karena mendapat dorongan dari Tuhan. Pada masa lalu Ia tergolong Auanak nakalAy dan luar biasa nakal. Kenakalannya ini membuat dia menjadi orang yang ikut dalam pergaulan bebas dan ikut masuk dalam dunia malam. Setelah Ia menjalani kehidupan yang sedemikian, ia mendapat panggilan bahwa dari dalam dirinya ingin menyapa Tuhan dan dia mengikuti dorongan itu untuk melakukan ibadah. Dari perubahan itulah dia memutuskan untuk melakukan konversi agama. Dalam proses konversi agama, tidak ada kehadiran keluarga untuk Hasil wawancara dengan Pak Bului, warga Dusun Melati Desa Lembah Beringin Kecamatan Nanga Mahap. Kabupaten Sekadau. Kalimantan Barat. seorang Ketua Adat di Suku Dayak Mentuka. Menjadi Ketua Adat Mentuka sejak tahun 2017 sampai sekarang. Anak pertama dari lima bersaudara. Bekerja sebagai petani. Adat Konversi Agama ini memiliki perbedaan istilah jika dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Barat. Narasumber pertama umur 25 Tahun, pekerjaan swasta. Dalam penyebutan berikutnya akan disingkat N1. Wawancara dilakukan tanggal 5 Juni 2020. menyaksikan proses konversi agamanya. Meskipun demikian. Ia tetap melakukan konversi itu dan semua berjalan dengan lancar. Keluarga tidak menjadi penghalang bahkan keluarga mendukungnya dalam perjalanan hidupnya. Dia tidak pernah mengalami konflik yang menyangkut perbedaan agama. Proses perjalanan imannya dengan agama baru membuat dia lebih berhati-hati dalam bertindak. Ia lebih tenang dalam menjalankan ibadahnya meski terkadang banyak godaan untuk kembali ke kehidupan malam. Dia sudah memiliki pegangan kuat dalam hidup beragama. Memang godaan kuat, tapi karena ada motivasi untuk menjadi orang yang baik. Ia lebih memilih untuk mencari amal untuk kehidupan di akhirat. Menurut N1. Tuhan itu Maha Adil dan pemaaf. Jubata menurut N1 adalah Tuhan yang ada di sekitar kita. Jubata hadir dalam alam. Sesudah ia melakukan konversi agama. Ia mengenal Tuhan, dan ia lebih takut akan Tuhan. Hal ini dikarenakan manusia adalah ciptaan dan jika kita takut kepadanya, hidup manusia akan lebih teratur. Memang semua manusia itu pendosa, akan tetapi manusia takut kepada Tuhan dan Tuhan akan memaafkan kalau manusia itu bertobat. Konsep Agama menurut N1 adalah sebuah arah hidup. Kalau manusia memiliki agama, hidup manusia lebih terarah meskipun ada kesalahan atau perbuatan dosa, manusia masih diarahkan menuju yang baik. Beda jika tidak punya agama. kalau manusia punya agama, ia memiliki arti hidup dan selamat dunia akhirat. Hal ini tidak mudah karena banyak pengalaman yang membuat N1 ini mengenal Tuhan daripada tidak mengenal Tuhan. Dengan mengenal Tuhan melalui agama, ia memiliki hidup yang AubermoralAy. Motto hidup N1 sekarang ini adalah hidup disekitarnya bahagia dan tidak pernah putus bersedekah, maka ia akan selamat. Narasumber Kedua4 adalah seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Pontianak. memutuskan untuk melakukan konversi agama karena ia menemukan dorongan dari dalam dirinya untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Dia termotivasi dengan peribadahan yang ditemui dan dia hidup dalam komunitas yang mendukung dia untuk mengenal agama yang baru. Proses yang ia alami melalui bukubuku mengenai Tuhan dalam salah satu agama dibantu dengan teman-teman yang memberikan informasi mengenai ajaran agama yang dipelajari saat ini. Dalam wawancara dengan penulis, ia mengatakan bahwa sudah 3 . bulan hidup dengan agama yang baru. Ia merasa tenang dan hidupnya lebih terarah, meski keluarga masih belum bisa menerima perpindahan agamanya. Keluarga masih berusaha menerima dia. Pandangan mengenai Tuhan menurut N2 adalah Tuhan yang satu dengan nabi-nabi, secara pribadi Tuhan adalah Tuhan yang satu. Jubata adalah Pencipta. Jubata hadir di alam semesta ini dalam berbagai bentuk, dan hidup ini dilindungi oleh Jubata. Pandangan N2 mengenai orang yang berpindah agama pada awalnya akan mengalami ketidak tenangan, tetapi yang pasti jika sudah menemukan sesuai hati, orang itu akan menjadi tenang, dan tidak perlu bermain-main dengan agama. Agama menurut pandangannya adalah pedoman atau pandangan hidup seperti menjalankan sesuatu itu diatur oleh agama. Narasumber ketiga5 melakukan konversi agama tahun 1996. Alasan melakukan konversi sebenarnya tidak ada alasan khusus. Ia dulu menjadi anak angkat dari salah satu keluarga. Keluarga yang mengangkat dia berbeda agama dan suasana di lingkungan sekitar keluarga baru itu membuat dia tertarik untuk berpindah agama tanpa ada paksaan. Dalam pendidikan agama yang lama tidak terlalu banyak diajari mengenai ajaran agama karena masih kecil dan tidak terlalu paham dengan ajaran agama yang lama. Proses dia melakukan konversi dibantu oleh masyarakat sekitar dan keluarga asli juga mengetahui bahkan hadir pada saat melakukan konversi meski keluarga asli berbeda agama dengan N3. Setelah melakukan konversi agama Ia merasakan ada kepuasan hati. Dulu untuk merasakan keyakinan akan Tuhan, ia belum begitu paham, akan tetapi sekarang sudah lebih mendalami pengenalan mengenai Tuhan dan pengetahuan akan Kitab Suci lebih mendalam lagi. Hal Narasumber Kedua, adalah seorang mahasiswa. Ia mengalami konversi agama selama 3 bulan. Untuk penulisan berikutnya akan disingkat N2. Wawancara dilakukan pada tanggal 5 September 2020. Narasumber ketiga adalah seorang kepala keluarga yang memiliki keluarga multi agama. melakukan konversi agama pada saat ia masuk Sekolah Menengah Pertama. Penulisan berikutnya akan disingkat N3. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 4 September 2020. ini yang membuat dia lebih memiliki keyakinan pasca konversi agama. Dia memandang orang yang berpindah agama itu adalah hak setiap orang. Kalau orang itu berpindah agama kemudian menemukan ketenangan, itu tidak menjadi masalah, akan tetapi jika berpindah itu tidak menemukan ketenangan, manusia tidak perlu berpindah agama. Agama menurut N6 adalah keyakinan manusia terhadap Sang Pencipta. Agama adalah penuntun, jadi orang yang tidak berakhlak, tidak bermoral, tidak mengerti siapa yang menciptakan kehidupan menjadi tahu siapa yang menciptakan kehidupan ini. Narasumber keempat6 melakukan konversi agama tahun 1985. Alasan melakukan konversi agama adalah karena adat menjelang pernikahan. Dalam aturan adat, sebagai perempuan, ia harus ikut suami, jadi jika agama suami berbeda dengan agamanya maka ia harus mengikuti agama suami. Hal ini biasanya ditentang orang tua yang ada di daerahnya, tetapi karena orang tua N4 adalah ketua adat, maka ia harus mengikuti adat yang sudah diterapkan di daerahnya. Proses perpindahan melalui diskusi bersama keluarga kemudian melalui pernikahan yang dilakukan secara agama. Dorongan untuk konversi secara pribadi sebenarnya sudah ada dalam diri sendiri, ia tidak dipaksa untuk berpindah agama. Menurutnya, semua agama itu sama. tidak ada perbedaan antara agama yang satu dengan agama yang lain karena semua agama itu tujuannya baik. Keluarga tidak ada masalah dalam konversi agama yang dia lakukan, bahkan ia diberi pesan oleh orang tuanya untuk saling menghargai agama lain. Hal ini diteruskan pada anak-anaknya. Ia memiliki dua anak, dan kedua anaknya ini berbeda agama. Dalam merayakan Hari Raya Agama, semua saling menghormati dan saling memberi ucapan, tidak ada perbedaan satu sama lain. Dalam hidup bermasyarakat pasca konversi agama. N4 tidak menemui masalah apa pun. Semua baik-baik saja bahkan saling menghargai. Setelah konversi agama tidak ada kegelisahan batin dalam menjalani agama yang baru, bahkan rindu diajari oleh suami sendiri untuk lebih mengenal agama yang sudah dia pilih. Perasaan pasca konversi agama, ia merasa tenang dan damai. Tidak ada kegelisahan atau kebingungan terhadap perubahan agama atau identitasnya. Bisa dikatakan tidak ada perubahan yang mencolok pasca Konversi Agama. Menurut N3, konsep Jubata diartikan sebagai Tuhan. Jubata adalah pencipta alam semesta. Jubata yang melindungi manusia terhadap hal-hal yang buruk. Konsep Jubata yang masih dipegang hanyalah pada saat ada acara adat saja. Di luar ritual adat, tidak ada lagi sebutan Jubata. Sebutan yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari adalah Tuhan. Pasca konversi semakin mengenal Tuhan melalui penghayatan dan melaksanakan kegiatan keagamaan. Arti agama: agama itu adalah suatu nama, hidup kita harus diserahkan pada Tuhan. Dalam arti sebagai pedoman hidup. Pandangan terhadap orang yang melakukan konversi: biasa-biasa saja. Narasumber kelima7 melakukan konversi agama pada tahun 2018. Alasan melakukan konversi agama adalah karena pernikahan. Proses pertama yang harus dilalui sebelum melakukan konversi agama adalah melakukan Adat Pindah Agama. Setelah Adat Pindah Agama selesai dilanjutkan dengan menuju ke tempat pengambilan sumpah syahadat sebagai tanda telah melakukan pindah agama. Dorongan untuk melakukan konversi adalah dari dalam diri sendiri dan motivasi konversinya adalah untuk mengikuti agama suami. Meskipun pada awalnya N5 mendapat penolakan dalam melakukan konversi agama terutama dari kedua orang tua namun dengan kegigihannya dalam meyakinkan kedua orang tuanya membuahkan hasil. Pada akhirnya secara keseluruhan baik sanak saudara maupun kedua orang tua akhirnya menyetujuinya untuk melakukan konversi agama. Ia merasa bahwa tidak terdapat perbedaan perilaku keluarga baik sebelum maupun sesudah melakukan konversi agama. Setelah melakukan konversi agama, ia berpindah domisili ke daerah pemukiman yang mayoritas agama baru. Ia berpendapat bahwa untuk pandangan masyarakat di tempat domisili yang baru tempati ialah sangat baik, namun ia juga menjelaskan bahwa domisili lamanya juga sudah cukup baik dan keluarga sudah sangat mendukung. Tidak terdapat perubahan perilaku dari tetangga maupun rekan kerja Narasumber keempat adalah anak ke 5 dari 6 bersaudara. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan Dalam penulisan berikutnya akan disingkat N4. Narasumber kelima adalah anak pertama dari empat bersaudara. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan wiraswasta. Dalam penulisan berikutnya akan disingkat N5. yang ia rasakan setelah melakukan konversi agama. N5 juga tidak merasakan adanya perbedaan perilaku pada saat merayakan hari raya keagamaan pasca konversi agama. Perasaan yang dialami N5 pasca konversi agama ialah ketenangan batin. N5 menjelaskan bahwa terdapat perubahan dalam sudut pandang mengenai nilai-nilai keagamaan pasca konversi agama. Tidak hanya mengenai sudut pandang, ia juga menjelaskan bahwa terdapat perkembangan hidup beragama pasca konversi agama yakni seperti perubahan tata busana, pengenalan tata cara ibadah yang baru, dan perubahan pada jenis-jenis makanan yang dapat dikonsumsi dan yang tidak. Menurutnya. Tuhan adalah pencipta langit dan bumi beserta segala isinya. Untuk pengenalan istilah Jubata masih dikenal baik oleh N5 dikarenakan ia sudah menerima pemahaman akan arti Jubata sejak kecil hingga menjelang pasca konversi agama. Dengan kata lain, ia menegaskan pengenalan Jubata yakni Tuhan dalam budaya Dayak tertanam kuat. Bagi N5, pengertian akan Tuhan baik sebelum maupun sesudah melakukan pindah agama tidak jauh berbeda, yakni Tuhan adalah sang pencipta. Tuhan adalah belas kasih. Tuhan adalah penyelamat umat manusia sedangkan yang menjadi pembedanya adalah wujud yang diyakini sebagai Tuhan itu sendiri. Selanjutnya pengertian akan Jubata baik sebelum maupun sesudah pindah agama mengalami pergeseran nilai. Sebelum melakukan pindah agama. Jubata merupakan tempat di mana wujud-wujud permohonan bagi masyarakat Dayak disampaikan sedangkan setelah melakukan pindah agama istilah Jubata mengalami pemudaran makna dan arti dalam kehidupan Menurutnya agama memiliki makna jika sungguh-sungguh didalami oleh seorang pemeluk agama. Bagi N5, agama memiliki dampak yang besar dalam kehidupan kemasyarakatan yakni adanya pengakuan dan status yang jelas. Pandangan terhadap orang yang melakukan perpindahan agama ialah agama merupakan pilihan hidup bagi setiap orang dan memilih agama bagi N5 adalah suatu kebebasan bagi siapa pun. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa suku berarti suatu identitas yang melekat pada diri seorang. Identitas yang identik dengan adat istiadat, kebiasaan, pola hidup, status sosial, dan sudut pandang dalam suatu kelompok kemasyarakatan tertentu. Analisa Konversi Agama Orang Dayak di Kalimantan Barat Ciri Konversi Agama jika dilihat dari hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa dari kelima narasumber, mereka memiliki perubahan arah pandang dan keyakinan yang kuat. Awalnya mereka memiliki kehidupan yang tidak tertata dengan jelas, atau pun awalnya hanya mengikuti pasangan, kini mereka menemukan arah pandang yang jelas dalam hidup keagamaan mereka. Alasan yang kuat ditemukan dalam wawancara dengan narasumber pertama dan kedua yang menunjukkan adanya dorongan dari dalam diri untuk menjadi lebih baik. Untuk narasumber yang lain, mereka melakukan konversi bisa dikatakan karena ada motivasi dari luar untuk melakukan konversi, yakni karena pasangan hidup. Mereka memiliki perubahan kondisi kejiwaan dan perubahan ini terjadi melalui proses hidup mereka. Pada saat mereka sudah melakukan konversi agama, dari kelima narasumber dapat dikatakan bahwa mereka tidak mengalami kegelisahan atau kebingungan. Pilihan mereka untuk melakukan konversi agama menjadikan hidup mereka lebih berarti. Konversi agama membawa para narasumber memiliki perubahan pandangan agama yang mereka anut saat ini. Agama baru yang mereka anut menjadi pegangan hidup mereka dan pengenalan akan Tuhan menjadi lebih dalam. Dari para narasumber dapat dikatakan tidak ada perubahan yang menurun akan pemahaman akan Tuhan, akan tetapi sebaliknya, mereka merasakan kedekatan dengan Tuhan yang menjadi pedoman hidup mereka. Konversi agama yang dialami narasumber menjadi refleksi tersendiri untuk mereka ketika mereka sudah menjalani kehidupan mereka pasca konversi agama. Pilihan untuk melakukan konversi bisa dikatakan lebih pada jalan hidup yang sudah digariskan oleh Tuhan sendiri. Agama merupakan jalan bagi mereka menemukan kehidupan yang lebih baik dan semakin dekat dengan Sang Pencipta. Dilihat dalam proses konversi agama, dari kelima narasumber bisa dikatakan bahwa kelima narasumber mengalami masa tenang sesuai dengan kondisi yang mereka alami. Secara keseluruhan, mereka mengalami keadaan berada dalam keadaan tenang karena masalah agama belum memengaruhi Mereka tidak mengalami gangguan keseimbangan batin sehingga mereka dalam keadaan tenang dan tenteram. Mereka mengalami masa tenang ini pada saat mereka masih memeluk agama awal mereka dan tidak ada konflik pribadi dalam kehidupan beragama. Pada proses ketidaktenangan, mereka mulai mengalami konflik batin. Ada yang merasa sangat berdosa karena tingkah lakunya yang kurang baik, ada pula yang merasa gelisah ketika melihat penganut agama lain beribadah, bahkan ada pula yang mengalami kegelisahan yang diakibatkan keluarga permasalahan pernikahan berbeda agama. Dalam masa ini mereka merasakan konflik batin yang membuat mereka berani mengambil sebuah keputusan untuk menentukan langkah berikutnya. Solusi dalam mengatasi masa konflik batin diselesaikan dengan masa konversi sebagai jawaban batin atas pergumulan para narasumber. Mereka berani memutuskan dengan segala proses konversi yang disertai dengan konsekuensi yang akan mereka dapatkan bila melakukan konversi agama. Gerakan batin mereka menuntun mereka untuk berani mengambil keputusan dan mengambil langkah dalam perubahan hidup mereka. Pelaksanaan konversi agama adalah puncak dari jawaban kegelisahan batin mereka dan segala kendala yang mengikuti dapat mereka lalui dan dinyatakan di depan para saksi yang hadir dalam proses konversi agama. Konversi agama jika dilihat dari pandangan Mukti Ali, narasumber yang telah diwawancarai penulis tergolong berpengaruh pada faktor lingkungan yang membuat mereka berpindah agama. Hal yang menarik adalah ketika ada narasumber yang mengatakan bahwa ia mau berpindah agama karena melihat pola peribadatan dan cara mereka beribadat. Faktor masyarakat kurang begitu mendorong mereka untuk melakukan konversi agama. Secara menyeluruh, konversi agama yang mereka lakukan lebih tertuju pada ketenangan batin yang mereka rasakan ketika peribadatan itu dilangsungkan. Ada kerinduan terdalam akan kedekatan Tuhan melalui ritual agama. Pasca Konversi Agama, mereka mengalami masa tenang dan tenteram. Setelah mereka melakukan konversi, mereka menyatakan bahwa mereka merasa tenang seperti ada kebebasan dalam batin mereka. Mereka mengalami ketenangan dan ketenteraman karena mereka puas dengan keputusan yang sudah mereka ambil. Kepuasan mereka ini timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru dalam kehidupan beragama mereka. Masa terakhir konversi agama adalah masa Ekspresi Konversi. Sebagai ungkapan dari sikap menerima terhadap konsep baru dari ajaran agama yang diyakininya, perubahan fisik terjadi dalam diri para narasumber. Dalam perubahan busana maupun tingkah laku, mereka menunjukkan keseriusan mereka akan agama yang baru dan mereka mengamalkan apa yang diajarkan oleh agama baru yang telah mereka anut. Perubahan ini serasi dan relevan sebagai pernyataan buah konversi agama dalam kehidupan mereka dalam masyarakat. Sebagai orang Dayak, meskipun mereka telah berpindah agama, mereka menghormati orang yang berbeda agama. Dalam hal ini terlihat adanya keterbukaan dengan agama lain dan tidak memiliki masalah yang kompleks jika berhubungan dengan agama. Bisa dikatakan bahwa mereka lebih toleran kepada agama lain, bahkan orang yang berpindah agama. Para narasumber merasa bahwa untuk melakukan konversi agama itu tidak mudah dan melalui beberapa pengalaman yang bisa dikatakan memiliki proses yang tidak mudah. Melalui pengalaman ini, mereka menghargai orang lain yang berbeda agama maupun mereka yang melakukan pindah agama. Dari beberapa ungkapan yang mereka katakan terlihat bahwa perpindahan agama itu terasa biasa saja dan semua itu urusan pribadi. Setiap orang berhak untuk memeluk agama sesuai dengan apa yang dia yakini, jadi tidak ada permasalahan yang krusial bagi mereka dalam konversi agama. Berkaitan dengan identitas suku Dayak, mereka tetap merasa sebagai bagian dari suku Dayak. Mereka tidak mau dikatakan keluar dari suku Dayak karena kesukuan itu tidak bisa diganti. Hal ini berlawanan dengan teori-teori yang ada, yakni Dayak identik beragama Katolik, dan Melayu identik beragama Islam. Para narasumber menolak untuk dikatakan keluar dari suku Dayak, akan tetapi jika dikaji lebih dalam, yang disebut orang Dayak adalah mereka yang melakukan kebiasaan atau menghidupi budaya Dayak. Hal yang berlawanan dengan hal ini adalah dari makanan dan minuman adat. Jika mereka tetap mempertahankan identitas suku Dayak, maka mereka tentunya harus menghidupi ritual adat yang ada dalam budaya Dayak. Akan tetapi hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan orang Dayak di Kalimantan Barat. Makna agama bagi para narasumber dapat disimpulkan sebagai jalan hidup manusia, penuntun hidup manusia menuju pada Tuhan. Agama sangat penting dalam kehidupan manusia. Jika manusia tidak mengenal agama, maka hidup manusia tidak akan tertata dan akan jauh dari Tuhan. Hal ini senada dengan pandangan Taylor yang mengartikan bahwa agama merupakan keyakinan terhadap yang spiritual. Dalam hal ini, orang Dayak mengartikan agama sebagai jalan hidup yang menata hidup mereka beserta pemahaman mereka akan pengenalan Sang Pencipta yang dulu maupun sekarang diartikan sebagai Jubata atau Tuhan. Pemaknaan akan Tuhan yang merupakan Pencipta tidak serta merta langsung identik dengan Jubata yang mereka kenal, tetapi Jubata menjadi sebutan lain untuk Tuhan jika digunakan dalam adat atau ritual kebudayaan. Di luar itu, sebutan Jubata sudah tidak lagi dipakai karena mereka lebih menggunakan Tuhan sesuai dengan agama baru yang kini mereka dalami. Kesimpulan Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa alasan orang Dayak melakukan konversi adalah dari dorongan pribadi atau hati nurani sendiri dan ada pengaruh dari luar, dalam arti pasangan . agi mereka yang akan menikah dengan orang yang berbeda agam. , maupun dari masyarakat. Alasan lain mengenai konversi agama adalah kerinduan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik lagi. Perubahan yang terjadi pasca konversi agama dari fisik terlihat dari busana yang mereka pakai dan kegiatan peribadahan yang dilakukan bersama masyarakat. Toleransi yang semakin kuat dalam diri mereka karena dalam cara pandang kepada orang yang juga melakukan konversi agama lebih menerima dan memahami mengapa orang berani untuk melakukan konversi agama. Makna agama bagi orang Dayak pasca konversi agama adalah sebuah jalan hidup manusia, penuntun hidup manusia menuju pada Tuhan. Agama sangat penting dalam kehidupan manusia. Jika manusia tidak mengenal agama, maka hidup manusia tidak akan tertata dan akan jauh dari Tuhan. Agama merupakan salah satu bagian dari hidup manusia yang menata hidup manusia sesuai dengan kehendak Tuhan. Daftar Pustaka