Mentoring dengan Disiplin Personal Mastery dan Disiplin Team Learning untuk Memperbaiki Metode Pembelajaran Guru Abad 21 dalam Meningkatkan Keterlibatan Siswa SD X Surabaya Eny Wahyurini1. Eka Desy Purnama2. Januar Budiman3 SD X Surabaya1 FEB Universitas Kristen Krida Wacana2,3 enyriniririn@gmail. com1, ekadesy@ukrida. id2, jbn2500@gmail. ABSTRAK Latar belakang penelitian ini adalah perkembangan zaman yang begitu cepat membutuhkan keterampilan abad 21, yaitu berkreasi dan berinovasi, berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan berkarakter. Hal ini menuntut guru untuk melakukan pembaruan dalam metode pembelajarannya sehingga siswa dapat meningkatkan keterlibatannya dalam pembelajaran. Pendekatan yang dapat memotivasi dan mendampingi guru dalam memperbaiki metode pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa adalah mentoring. Mentoring dengan disiplin personal mastery yang merupakan salah satu disiplin dari lima disiplin Peter Senge dan disiplin team learning memotivasi guru dalam memperbaiki metode pembelajaran sesuai kebutuhan saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah dengan menggunakan model Kemmis and McTaggart . Tujuan penelitian untuk mengetahui peningkatan kualitas metode pembelajaran yang digunakan guru dan peningkatan jumlah keterlibatan siswa dalam Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team learning oleh kepala sekolah terhadap guru SD X Surabaya dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan tepat dan sesuai kebutuhan, dapat memperbaiki metode pembelajaran guru abad 21 dalam meningkatkan keterlibatan siswa SD X Surabaya. Kata Kunci: Mentoring, metode pembelajaran, personal mastery, team learning KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 131 Pendahuluan Perkembangan zaman begitu cepat ditandai dengan revolusi industri 4. 0 dan disusul revolusi society 5. Perubahan yang terjadi di abad 21 bukan hanya dalam hal teknologi saja tetapi juga dalam hal kebutuhan pengetahuan dan keterampilan, kebiasaan-kebiasaan baru, hilangnya jenis pekerjaan yang dapat digantikan oleh robot/ digital teknologi, sumber informasi yang mudah/cepat didapat. Hal ini menuntut sistem pembelajaran untuk berubah menyesuaikan kebutuhan Pendidikan generasi saat ini. Pada abad 21 dibutuhkan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran akan melatih siswa menguasai keterampilan yang dibutuhkan di abad Keterampilan/kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa tersebut adalah mampu berkreasi, berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan berkarakter. Untuk mewujudkan siswa memiliki keterampilan abad 21, maka guru juga harus terlebih dahulu memiliki keterampilan tersebut. Guru dituntut dapat mengubah metode pembelajaran yang lama dengan metode pembelajaran inovatif yang dapat melatih siswa memiliki keterampilan Selain itu metode pembelajaran juga disesuaikan dengan karakter siswa pada masa sekarang ini yang merupakan generasi alpha. Diperlukan growth mindset untuk mengubah pemikiran menjadi tindakan perubahan ke arah yang lebih baik serta pengembangan kompetensi guru untuk menyesuaikan kebutuhan abad 21 ini. Pendekatan untuk mengembangkan kemampuan/keterampilan guru dalam mengajar sangat dibutuhkan. Beberapa guru sangat membutuhkan bimbingan secara langsung agar mampu menggunakan metode pembelajaran dengan lebih tepat serta dapat memotivasi/menguasai diri untuk mengembangkan potensi yang a d a dalam dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan pembimbingan/mentoring. Dalam pelaksanaan mentoring, untuk menumbuhkan motivasi atau kesadaran diri untuk mau melakukan perubahan diperlukan disiplin personal mastery yang merupakan salah satu disiplin dari lima disiplin Peter Senge. Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam penggunaan metode pembelajaran, dibutuhkan mentoring dengan disiplin team learning yang menjadi tempat untuk berdiskusi, berbagi, dan bekerja sama dalam pemecahan masalah. Disiplin team learning merupakan salah satu dari lima disiplin Peter Senge. Penelitian dilakukan untuk mengetahui penerapan mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team learning dapat memperbaiki metode pembelajaran guru abad 21 dalam meningkatkan keterlibatan siswa SD X Surabaya. Tinjauan Literatur 1 Mentoring Menurut Capello dan Sprunt . , mentoring adalah sebuah proses di mana seorang mentor membagikan wawasannya kepada orang lain . dengan tujuan untuk memicu pertanyaan refleksi yang dapat memfasilitasi dan memberikan 132 | MENTORING DENGAN DISIPLIN PERSONAL. (Eny Wahyurini. Eka Desy Purnama. Januar Budima. informasi keputusan terkait perkembangan karir mentee. Selain itu mentor juga memberikan pilihan dan membantu mentee untuk mengenali rintangan dan peluang, memberikan pencerahan atau penjelasan kepada mentee dalam usaha untuk maju, mengembangkan profesi, dan pada akhirnya dapat mencapai kesuksesan/tujuan yang Hasil penelitian Wiens & Guzman . menemukan mentor formal memprediksi pelaksanaan manajemen kelas yang lebih tinggi, kejelasan pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan kognitif yang lebih aktif. Menurut Ellen . penggunaan yang tepat dari dua pendekatan dalam mentoring dan coaching dapat memperbaiki metode dan strategi mengajar guru yang pada akhirnya dapat meningkatkan keterlibatan siswa selama pengajaran berlangsung. Sedangkan Chandra . 8, p. dalam bukunya: AuMelangkah Bersama dalam Anugerah- NyaAy, menguraikan manfaat mentoring bagi mentee sebagai berikut: Kepercayaan dirinya meningkat. Belajar mengendalikan pelayanan atau kariernya sendiri. Jaringannya bertambah. Mengenali budaya organisasinya dan berbagai aturan yang biasanya tidak dibicarakan terbuka. 2 Disiplin Personal Mastery Disiplin Personal Mastery merupakan salah satu dari 5 disiplin pembelajaran dalam organisasi yang dikemukakan oleh Senge . Personal Mastery adalah penguasaan perubahan dalam hidupnya untuk menyadari gap/tegangan yang terjadi antara visi dan kenyataan/realita yang ada. Respon atas ketegangan antara visi . pa yang diinginka. dan realita . pa yang dipunya. merupakan pilihan seseorang untuk bertindak kreatif dalam upaya untuk mendekatkan realita yang ada menuju visi yang akan dicapainya. Merujuk pada pengertian ini maka disimpulkan bahwa personal mastery adalah suatu sikap dedikasi seseorang untuk memiliki komitmen, motivasi, dan kemauan yang keras supaya fokus, terus belajar dan bertumbuh demi meningkatkan kompetensi diri dalam situasi di mana ia berada untuk pencapaian visinya. Ada 7 aspek penguasaan diri yang harus dibudayakan untuk mendukung proses pengembangan mencapai personal mastery: Belajar untuk mengutarakan sesuatu Kesadaran Diri (Self-Awarenes. dengan lugas dan jelas. Mengalami proses menerima masukan dalam aspek-aspek penting dari hidupnya, seperti komunikasi, keterampilan teknis, pengelolaan perubahan, dan kepemimpinan. Ketajaman Perseptual (Perceptual Acuit. Meningkatkan skill hubungan antar Akal dan Daya(Creative Resourceful- Penguasaan Emosional (Emotional Master. Keterbukaan (Opennes. Fleksibilitas dan Adaptasi (Flexibility and Adaptabilit. Otonomi (Autonom. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 133 3 Disiplin Team Learning Team Learning merupakan salah satu disiplin yang dijabarkan oleh Senge . , yang merupakan praktik disiplin yang dirancang untuk membuat orang-orang dalam team berpikir dan bertindak bersama untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan Team Learning adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi oleh dan dalam team atau kelompok, yang diperoleh dari komitmen lembaga dan kesempatan untuk melakukan perbaikan secara kontinyu (Asmani, 2. Sebuah Team Learning diperlukan untuk menumbuhkan suasana di mana setiap orang dapat saling melengkapi, bekerja menuju tujuan bersama, setiap orang saling mendukung, bertumbuh, dan mencapai hasil kerja yang tidak biasa-biasa (Candra, 2. 4 Gaya Belajar Pada dasarnya setiap siswa memiliki keunikan masing-masing dalam cara mereka Ada 3 gaya belajar yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Sebenarnya kita memiliki semua gaya belajar tersebut, namun ada salah satu gaya belajar yang Mengenali gaya belajar siswa sangatlah penting untuk menentukan metode pembelajaran yang tepat bagi siswa sehingga semua siswa dapat belajar secara maksimal. Beberapa tip-tip yang dapat dipakai guru dalam memaksimalkan belajar siswa menurut Bobby DePorter . 0, p. adalah sebagai berikut: Gunakan grafik dan tabel untuk memperdalam pemahaman mereka. Mind Mapping sebagai alat bantu dalam pelajaran Gaya Belajar Auditorial Mendengarkan ceramah, contoh, dan cerita serta mengulang informasi adalah caracara belajar siswa auditorial. Mereka lebih suka merekam daripada mencatat, karena mereka suka mendengarkan informasi berulang-ulang. Guru dapat membuat fakta panjang dengan mengubahnya menjadi lagu, karena sebagian besar suka belajar sambal mendengarkan lagu/musik. Siswa auditorial harus diperbolehkan berbicara sendiri dengan suara pelan sambal mengerjakan Gaya Belajar Kinestetik Siswa dengan gaya belajar kinestetik menyukai proyek terapan. Bermain peran dapat membantu mereka belajar lebih baik. Mereka suka belajar dengan menggunakan Kebayakan siswa menjauhkan diri dari bangku. mereka lebih suka duduk di lantai dan menyebarkan pekerjaan di sekeliling mereka. 5 Metode Pembelajaran Metode pembelajaran dalam bab ini adalah metode pembelajaran yang merangsang/melatih keterampilan abad 21, yaitu: Berpikir Kritis Gaya Belajar Visual Berpikir kritis adalah proses yang Dorong siswa membuat banyak symbol dan berbagai keterampilan dan kualitas pribadi 134 | MENTORING DENGAN DISIPLIN PERSONAL. (Eny Wahyurini. Eka Desy Purnama. Januar Budima. (Cottrell, 2. Kegiatan ini jika dilatih secara terus menerus dalam pembelajaran akan melatih siswa memperoleh pemahaman yang tepat tentang apa yang diperlukan terutama dalam pemecahan masalah atau sejak dini dengan menggunakan kompetensi kognitif dan informasi yang dimiliki siswa melalui evaluasi, analisa, meneliti, interpretasi, menimbang, dan seleksi untuk memecahkan masalah. (Singha et al. , 2020, Berkomunikasi Keterampilan berkomunikasi menurut Singha et al. 0, p. ada 2 jenis yaitu Berkreasi Kreativitas sangat penting untuk siswa karena dengan siswa mampu berkreasi, keterampilan berkomunikasi secara lisan dan secara tulisan. Keterampilan berkomunikasi secara lisan diperlukan untuk bertukar informasi, meyakinkan atau menjelaskan/ Hal ini harus diasah dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa akan siap berkomunikasi di tengah lingkungan masyarakat pada masa depan. Keterampilan berkomunikasi secara tulisan juga harus diasah sehingga siswa mampu untuk menyampaikan ide/gagasannya melalui tulisan berupa email, laporan, karya ilmiah, atau cerita/karangan. (Singha et al. , 2020, mereka akan dapat merasakan kebanggaan Kreativitas merangsang pemikiran imajinatif siswa dan meningkatkan keterampilan memecahkan (Singha et al. , 2020, p. Berkolaborasi/bekerja Berkolaborasi dapat diartikan dengan bekerja sama dalam kelompok di dalam kelas atau di luar kelas. Kolaborasi dapat terjadi pada siswa dengan siswa atau siswa dengan guru dalam berbagi ide atau memberikan atau menerima pendapat untuk mencapai tujuan Kolaborasi sangat dibutuhkan siswa sebagai bekal keterampilan dalam karir dan kesuksesan belajar sepanjang (Singha et al. , 2020, p. Memecahkan Keterampilan memecahkan masalah sangat dibutuhkan dalam kehidupan Keterampilan ini dapat dilatih Berkarakter Memiliki merupakan hal sangat penting dalam Pendidikan. Oleh karena itu pemerintah undang-undang mengatur nilai-nilai penguatan pendidikan karakter yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017. AuPenguatan Pendidikan karakter dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilainilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab,Ay (Pasal . Macam-macam metode pembelajaran adalah sebagai berikut: Metode Karya wisata (Out Doo. Karakteristik dari pembelajaran out door yaitu menemukan sumber bahan pela- KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 135 jaran sesuai dengan perkembangan masyarakat, dilaksanakan di luar kelas/sekolahan, memiliki perencanaan, aktivitas siswa lebih muncul dari pada guru, aspek pembelajaran merupakan salah satu implementasi dari pembelajaran berbasis kontekstual. Melalui metode karya wisata ini dapat memfasilitasi kebutuhan gaya belajar siswa . udio, visual, kinesteti. serta mengasah keterampilan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan (Afandi, et al. , 2. Metode Talking Stick Teknis pelaksanaan metode Talking Stick sebagai mana tercantum dalam buku panduan materi sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional 2006 dapat digambarkan sebagai berikut: . Guru menyiapkan sebuah tongkat, . Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi, . Setelah selesai membaca materi pelajaran, siswa diperintahkan untuk menutup buku, . Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya hingga seluruh siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru, . Guru memberikan kesimpulan, . Melakukan evaluasi, dan . Menutup pelajaran. (Afandi, et al. , 2. Metode Simulasi Simulasi adalah suatu teknik yang digunakan dalam semua sistem pengajaran, terutama dalam desain instruksional yang berorientasi pada tujuan-tujuan tingkah Latihan-latihan ketrampilan menuntut praktik yang dilaksanakan di dalam situasi kehidupan nyata . alam pekerjaan tertent. , atau dalam situasi simulasi yang mengandung ciri-ciri situasi kehidupan senyatanya. Latihan-latihan dalam bentuk simulasi pada dasarnya berlatih melaksanakan tugas-tugas yang akan dihadapi dalam kehidupan seharihari. Menurut Mulyono dan Wekke . , ada beberapa jenis simulasi, yaitu: Sosiodrama Psikodrama Role Playing Peer Teaching Simulasi Game Metode Discovery Learning Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran yang tidak berbentuk final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan Peran guru lebih banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar. demikian, siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah dengan bimbingan guru. Pemecahan masalah adalah metode yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabanya . tanpa 136 | MENTORING DENGAN DISIPLIN PERSONAL. (Eny Wahyurini. Eka Desy Purnama. Januar Budima. bantuan khusus. Dengan pemecahan masalah pelajar menemuakan aturan baru yang lebuh tinggi tarafnya sekalipun ia mungkin tidak dapat merumuskan secara verbal. (Afandi, et , 2. Metode Brainstorming Metode brainstorming ialah aktivitas dari sekelompok kecil yang telah berkumpul untuk memproduksi atau menciptakan gagasan yang baru, original, praktis sebanyak-banyaknya. Metode Brainstorming merupakan suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, dan pengalaman dari semua peserta. Tujuan Brainstorming untuk membuat kumpulan pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda, dan hasilnya kemudian dijadikan peta informasi atau peta gagasan untuk menjadi pembelajaran bersama. (Afandi, et al. , 2. Metode Diskusi Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa . elompok-kelompok mengadakan perbincangan ilmiah guna kesimpulan atau penyusunan berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah. (Afandi, et al. , 2. Metode Pembelajaran Luar Kelas Metode outdoor study atau metode di luar kelas adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung dilapangan dengan tujuan mengakrabkan siswa dengan Melalui outdoor study lingkungan luar kelas dapat digunakan sebagai sumber belajar. Peran guru disini adalah sebagai motivator artinya guru sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif, kreatif dan akrab dengan lingkungan. (Afandi, et al. , 2. Metode Mind Mapping Menurut Ahmad . dalam artikelnya menyebutkan bahwa Mind Mapping adalah salah satu metode belajar yang dirancang dengan cara memetakan informasi dalam bentuk grafis. Mind mapping dapat dipetakan menggunakan garis percabangan, gambar, maupun kata kunci yang saling berkaitan dengan konsep atau ide utamanya. Metode ini dapat membantu siswa memiliki keterampilan merencanakan, berkomunikasi, mengingat, kreatif dalam perhatian, menyusun dan menjelaskan pikiran, serta mempelajari segala sesuatu dengan lebih cepat dan efisien. Metode Problem Solving Metode problem solving . etode pemecahan masala. bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. Metode problem solving merupakan implementasi dari salah satu dan atau gabungan dari beberapa strategi pembelajaran antara lain: (Contextual Teaching and Learnin. , bermain peran (Role Playin. , pembelajaran partisipatif (Participative Teaching and Learnin. , maupun strategi pembelajaran inkuiri. (Mulyono & Wekke, 2018, p. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 137 Metode Penelitian 1 Rancangan Penelitian 1 Tempat Penelitian Tempat penelitian dilaksanakan di SD X Surabaya. 2 Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2021 sampai dengan Desember 2021. 3 Model Penelitian Model penelitian yang digunakan dikembangkan oleh Kemmis and McTaggart . Penelitian dilakukan dalam siklussiklus dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan . , pelaksanaan tindakan . , pengamatan . , dan refleksi . Setelah satu Perencanaan - Pelaksanaan - Pengamatan - Refleksi 1 Perencanaan Tahapan perencanaan meliputi: - Perencanaan program mentoring kelompok termasuk langkah-langkah kegiatan meliputi jadwal, rencana kegiatan, dan Perencanaan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk tindakan mentoring berupa ruangan, media/alat pembelajaran . LCD, layar, sound system, perangkat dokumentasi, dsb. Perencanaan instrumen penelitian dan alat ukur hasil penelitian Perencanaan instrumen untuk refleksi siklus berakhir, dilanjutkan siklus berikutnya dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. 2 Pelaksanaan 2 Subyek dan Obyek Penelitian 1 Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah guru kelas besar . elas 4 s/d . berjumlah 4 orang dan memiliki usia di atas 50 tahun dengan masa kerja lebih dari 30 tahun. dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan 2 Obyek Penelitian Adapun obyek penelitian dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah membahas soal: . kualitas metode pembelajaran kelas 4-6 dan . keterlibatan siswa dalam pembelajaran akibat dari metode pembelajaran yang digunakan. 3 Prosedur dan Instrumen Penelitian 1 Prosedur Penelitian Prosedur Penelitian meliputi: Sebelum peneliti melakukan observasi guru dan murid hasil observasi awal, peneliti dan subyek penelitian mengadakan mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team learning berdasarkan evaluasi/analisa hasil observasi awal. Pelaksanaan mentoring dilakukan setelah jam pembelajaran anatara Ae 15. 00 sehingga tidak mengganggu tugas Dalam pelaksanaan mentoring ini peneliti memberikan pembekalan dan motivasi kepada anggota team dalam penggunaan metode pembelajaran yang dapat digunakan secara tepat. Selain itu dilakukan diskusi dalam team untuk 138 | MENTORING DENGAN DISIPLIN PERSONAL. (Eny Wahyurini. Eka Desy Purnama. Januar Budima. saling melengkapi kebutuhan guru dalam perbaikan metode pembelajaran berdasarkan karakteristik belajar siswa. 3 Pengamatan Setelah tindakan mentoring, subyek penelitian melakukan dengan persiapan dan rencana yang sudah dipersiapkan dalam mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team Peneliti melakukan pengamatan dengan menggunakan instrumen observasi baik kepada siswa maupun subyek Instrumen yang digunakan sama dengan instrumen awal. Dalam pelaksanaan observasi ini juga dilakukan perekaman menggunakan kamera dan rekaman kegiatan melalui zoom meeting untuk mendapatkan data yang lengkap. Dokumentasi kegiatan dibantu oleh salah satu guru di SD X Surabaya. 4 Refleksi Dalam tahap refleksi ini peneliti mengevaluasi hasil observasi dan temuantemuan lain yang perlu diperbaiki atau Alat refleksi berupa checklist tentang hasil yang diharapkan, dan uraian evaluasi dari hasil observasi. Tujuan refleksi untuk menyusun rencana dan strategi yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Peneliti melihat dan mereview semua aspek dan proses penelitian selama siklus I sebagai landasan untuk perbaikan pada siklus II dan merekap data hasil siklus I. Jika tujuan penelitian masih belum tercapai maka dilakukan perbaikan perencanaan dan strategi dalam siklus selanjutnya hingga tujuan penelitian 2 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Lembar observasi dengan rubrik metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran untuk mengumpulkan data mengenai kesesuaian metode dengan materi, kesesuaian metode dengan gaya belajar/minat siswa, dan kreativitas menggunakan metode pembelajaran. Tabel 1 Ae Instrumen Observasi Kualitas Metode Pembelajaran Guru Level Aspek Perlu Cukup Baik Sangat Baik Kesesuaian metode dengan materi Kesesuaian metode dengan gaya belajar Kreativitas menggunakan metode KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 139 Tabel 2 - Rubrik Kualitas Metode Pembelajaran yang digunakan Guru Level Perlu peningkatan Cukup Baik Sangat Baik metode dengan Metode yang dipakai guru tidak sesuai sama sekali dengan materi Metode yang dipakai sesuai dengan Metode yang dipakai sesuai dengan sebagian besar Metode yang dipakai sesuai dengan seluruh materi yang metode dengan gaya belajar dan minat Metode yang dipakai hanya sesuai dengan salah satu gaya belajar siswa Metode yang dipakai gaya belajar Metode yang dipakai gaya belajar Metode yang dipakai sesuai dengan 3 gaya belajar siswa dan minat siswa Menggunakan salah satu dari - berpikir kritis - Kolaborasi - Komunikasi - Pemecahan - Berkreasi - Berkarakter Menggunakan pembelajaran yang dua dari - berpikir kritis - Kolaborasi - Komunikasi - Pemecahan - Berkreasi - Berkarakter Menggunakan pembelajaran yang lebih dari dua - berpikir kritis - Kolaborasi - Komunikasi - Pemecahan - Berkreasi - Berkarakter Aspek auditori atau visual atau kinestetik saja Kreativitas Menggunakan pembelajaran selain ceramah dan tanya jawab tetapi belum - berpikir kritis - Kolaborasi - Komunikasi - Pemecahan - Berkreasi - Berkarakter Lembar observasi dengan aspek keterlibatan siswa dalam pembelajaran untuk mengumpulkan data . mengenai keaktifan siswa selama pelajaran berlangsung. Aspek aspek yang akan dinilai adalah frekuensi/kekerapan siswa memandang langsung ke guru saat guru berbicara, menjawab pertanyaan yang diberikan, menyimak/mendengarkan penjelasan guru, bertanya/merespon guru, dan kegiatan aktif menjelaskan di depan kelas. Tabel 3 Ae Instrumen Observasi Kuantitas Keterlibatan Siswa Sumber: Ellen . Aktivitas Tally Sebagian kecil ( /- 25%) Perhatian siswa . elihat dan mendengarkan gur. Partisipasi siswa . enjawab pertanyaan, memberi komentar/pendapa. S epar u h Kelas Sebagian ( /- 50%) ( /- 75%) Semua ( /100%) 140 | MENTORING DENGAN DISIPLIN PERSONAL. (Eny Wahyurini. Eka Desy Purnama. Januar Budima. Siswa berdiskusi dengan Siswa menjawab dengan tepat Siswa bertanya/ merespon guru Siswa aktif menjelaskan . aju ke depan, dsb. Jumlah tally 4 Teknik dan Analisis Data 1 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data berupa observasi/pengamatan dengan dua macam instrumen: Lembar observasi terstruktur dengan rubrik untuk mengamati metode pembelajaran yang digunakan guru yang dilakukan sebelum tindakan mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team learning dan setelah tindakan mentoring. Observasi ini dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Lembar observasi untuk mengamati jumlah/kuantitas keterlibatan siswa dalam pembelajaran dilakukan sebelum tindakan mentoring dilakukan dan setelah tindakan mentoring dilakukan. Peneliti mengisi lembar observasi kelas dengan sistem tally untuk menghitung keterlibatan siswa pada saat observasi kelas berlangsung. persentase, dan kemudian membuat hasil perhitungan masuk akal. Data dianalisis secara deskriptif melalui beberapa langkah: reduksi data, menggunakan tabel untuk menyajikan data, menghitung persentase, dan kemudian membuat hasil perhitungan masuk akal. Analisis data hasil observasi kelas digunakan untuk menghitung nilai kualitas metode pembelajaran yang digunakan guru . ubyek penelitia. dalam pembelajaran berdasarkan pengamatan peneliti sesuai dengan rubrik yang dibuat. Formulasi yang dibuat adalah sebagai berikut: 2 Teknik Analisis Data Data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif melalui beberapa langkah: reduksi data, menggunakan tabel untuk menyajikan data, menghitung rata-rata dan Nilai kualitas metode = jumlah nilai rubrik guru x 100 4 x jumlah aspek Adapun secara kolaboratif data kualitas metode pembelajaran yang digunakan guru adalah : 81-100 : sangat baik : baik : cukup : kurang : sangat kurang KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 141 Analisis data hasil observasi kelas di- gunakan untuk menghitung frekuensi keterlibatan siswa dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: Jumlah tally = jumlah keterlibatan siswa 3 Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan yang ingin dicapai untuk memperbaiki metode pembelajaran melalui mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team learning adalah sebagai berikut: Nilai kualitas metode pembelajaran yang digunakan guru meningkat minimal 25% dari nilai kualitas metode pembelajaran pada pra siklus. Jumlah siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran meningkat 40% dari jumlah keterlibatan siswa pada pra siklus. Analisa dan Pembahasan Hasil analisis data kompetensi guru dalam penggunaan metode pembelajaran pada siklus I mengalami peningkatan dibandingkan hasil pada pra siklus. Demikian juga peningkatan hasil data pada siklus II. Terdapat peningkatan nilai kualitas metode pembelajaran pada siklus I sebesar masing-masing subyek 66%, 50%, 37,5%, dan 83,4% dari hasil nilai kualitas metode pembelajaran pada pra siklus. Seluruh subyek penelitihan telah memenuhi kriteria indikator keberhasilan dari penelitian ini. Terdapat peningkatan nilai kualitas metode pembelajaran pada siklus II pada masing-masing subyek sebesar 100%. 83,4%. 49,9%. dan 100% dari hasil nilai kualitas metode pembelajaran dibandingkan pada saat pra siklus. Kemampuan guru dalam menentukan metode pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi indikator keberhasilan dalam peningkatan kualitas metode pembelajaran minimal 25% dari hasil pra siklus. Subyek penelitian dapat meningkatkan kompetensinya dalam memperbaiki metode pembelajaran sesuai dengan gaya belajar dan minat siswa serta mengembangkan keterampilan abad 21: berpikir kritis, masalah, berkreasi, berkarakter. Tabel 4 - Perbandingan Hasil observasi kelas untuk mengetahui kompetensi guru dalam penggunaan metode pembelajaran 142 | MENTORING DENGAN DISIPLIN PERSONAL. (Eny Wahyurini. Eka Desy Purnama. Januar Budima. Gambar 1- Perbandingan Hasil Observasi Kualitas Metode Pembelajaran Penggunaan metode yang tepat dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran. Selama observasi pembelajaran pada pra siklus, siklus I, dan siklus II diperoleh data jumlah tally untuk mengukur jumlah keterlibatan siswa Peningkatan dari hasil pra siklus ke hasil pada siklus I pada masing-masing subyek adalah 41,3%. 102,9%. 30,5%. dan 480,6%. Hal ini menunjukkan bahwa 3 dari 4 subyek penelitian telah memenuhi indikator kriteria keberhasilan peningkatan kuantitas keterlibatan siswa yaitu minimal sebesar Peningkatan keterlibatan siswa dari hasil pra siklus dibandingkan hasil pada siklus II pada masing-masing subyek adalah 46,15%. 298,5%. 64,4%. dan 780,6%. Hal ini menunjukkan bahwa semua subyek penelitian telah memenuhi indikator kriteria keberhasilan peningkatan kuantitas keterlibatan siswa yaitu minimal sebesar 40%. Tabel 5 - Perbandingan Hasil Observasi Kuantitas Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 143 Gambar 2 - Perbandingan Hasil Observasi Kuantitas Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran Penutup 1 Kesimpulan Berdasarkan tindakan mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team learning pada keempat guru SD X Surabaya dan hasil observasi yang telah dilakukan dari observasi awal hingga siklus I dan II, diperoleh hasil peningkatan kompetensi guru dalam penggunaan metode pembelajaran abad 21 dan peningkatan keterlibatan siswa. Peningkatan kompetensi pembelajaran sehingga sesuai gaya belajar dan kebutuhan abad 21 dapat terlihat dari peningkatan nilai kualitas metode pembelajaran sebesar lebih dari 25% dibandingkan hasil observasi pada pra siklus. Begitu juga peningkatan jumlah keterlibatan siswa dalam pembelajaran telah mencapai lebih dari 40% dibandingkan jumlah keterlibatan siswa pada observasi pra Dari hasil pencapaian tersebut, maka penerapan mentoring dengan disiplin personal mastery dan disiplin team learning oleh kepala sekolah terhadap guru kelas besar SD X Surabaya dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan tepat dan sesuai kebutuhan, dapat memperbaiki metode pembelajaran guru abad 21 dalam meningkatkan keterlibatan siswa SD X Surabaya. 2 Saran 1 Saran Praktis . Pengembangan kompetensi dan kreativitas guru harus senantiasa diperbarui seiring perkembangan dan perubahan Oleh sebab itu guru harus terus belajar dan mau berubah serta mau mencoba hal-hal baru sehingga kebutuhan siswa dapat terlayani dengan baik. Pendampingan oleh kepala sekolah atau- pun guru senior agar selalu dilakukan secara berkelanjutan untuk peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan. Kemampuan siswa agar terus digali dan dilatih dengan memberikan kesempatan kepada siswa belajar sesuai dengan gaya belajar dan minat belajar mereka sehing- 144 | MENTORING DENGAN DISIPLIN PERSONAL. (Eny Wahyurini. Eka Desy Purnama. Januar Budima. ga kreativitas mereka dapat berkembang secara optimal. 2 Saran untuk Penelitian Selanjutnya Berdasarkan temuan kendala dalam penelitian ini yaitu kegiatan diskusi yang kurang optimal dengan sistem pembelajaran secara online sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut agar siswa dapat memiliki keterampilam komunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain secara maksimal. Daftar Pustaka