Sophia Dharma: Jurnal Filsafat. Agama Hindu, dan Masyarakat e-ISSN: 2829-6958 * https://e-journal. iahn-g depudja. i d/ Volume 7 Nomor 2. November 2024 Prinsip Dasar dan Penerapan Pendidikan Unggah-Ungguh dalam Kearifan Budaya Jawa Aritiyas Panca Retnaningsih 1 . John Abraham Ziswan Suryosumunar2 Dinas Pendidikan Kota Surakarta1 . IAHN Gde Pudja Mataram 2 , aritiyaspanca1@gmail. Keywords: unggah-ungguh, education. Javanese Kata kunci: unggah-ungguh, pendidikan budi pekerti, bahasa Jawa Abstract The life of Javanese society is inseparable from the orientation of maintaining harmony in every social bond. One of the most important social bonds is the family. The family becomes the primary vessel for shaping the character and identity of each individual. Javanese cultural wisdom, this is closely tied to character education or unggah-ungguh within the family. The researcher seeks to examine the education of unggah-ungguh using the philosophical hermeneutic method to understand its principles and application. The data used comes from various literature sources, including journals, books, and other texts obtained through a literature review. The researcherAos study led to the following conclusions: . In unggah-ungguh teachings, the principles of unity and independence are emphasized to maintain harmony and social rootedness while upholding independence and the nobility of character. The Javanese language serves as the primary medium for unggah-ungguh education, training individuals in refinement of character and sensitivity to the social context they face. Proficiency in using the Javanese language correctly . ener and pene. influences the refinement of behavior of those who use it. This becomes a key factor in fostering harmony in social life, both within the family and in broader social contexts. Abstrak Kehidupan masyarakat Jawa tidak dapat terlepas dari orientasi menjaga keharmonisan pada setiap ikatan sosial. Salah satu ikatan sosial yang dianggap terpenting adalah Keluarga menjadi wadah utama dari terbentuknya karakter dan identitas diri dari setiap individu. Pada kearifan budaya Jawa, hal tersebut tidak dapat terlepas dari pendidikan budi pekerti atau unggah-ungguh di dalam Peneliti berupaya untuk mengkaji pendidikan unggah-ungguh tersebut menggunakan metode hermeneutika filsofis untuk memahamai prinsip dan penerapannya. Data yang digunakan berasal dari berbagai sumber pustaka, baik jurnal, buku, maupun naskah lainnya yang diperoleh dari studi kepustakaan. Kajian yang dilakukan oleh peneliti menghasilkan kesimpulan: . Dalam pendidikan unggah- ungguh , terdapat prinsip kemanunggalan dan kemandirian yang ditekankan untuk menjaga keharmonisan serta tetap mempertahankan kemandirian dan menjaga keluhuran budi pekerti. Bahasa Jawa menjadi sarana pendidikan unggah-ungguh yang bersifat utama dalam melatih kehalusan budi dan kepekaan setiap individu terhadap konteks sosial yang dihadapinya. Kemampuan berbahasa Jawa yang tepat ( bener dan pene. akan mempengaruhi kehalusan perilaku setiap orang yang Hal ini menjadi faktor utama terbentuknya keharmonisan hidup dalam ranah sosial, baik dalam keluarga maupun aspek sosial yang lebih luas. Pendahuluan Kodrat dari diri manusia sebagai makhluk sosial memiliki konsekuensi pada realitas eksistensinya yang selalu terdorong untuk membangun beragam hubungan dan ikatan. Manusia memiliki dorongan untuk terus menjalin berbagai ikatan sosial dengan manusia yang lainnya, di mana setiap individu dapat membangun koneksi atau saling terhubung. Ikatan tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi lebih kepada pemenuhan kebutuhan eksistensial, yaitu terhubung dengan orang lain. Bahkan Erich Fromm . menyatakan keterikatan atau keberakaran diri manusia dengan sesama menjadi salah satu kebutuhan eksistensial yang paling Meskipun manusia menginginkan kebebasan pribadi, mereka tetap tidak bisa mengabaikan ketakutan akan kesendirian dan kesepian. Kecemasan ini yang mendorong manusia untuk terus menjalin hubungan sosial guna merasa terhubung dengan sesama. Ikatan sosial dalam hidup manusia yang diposisikan sebagai ikatan utama dan bersifat vital adalah keluarga. Keluarga ibarat seperti rumah, tempat asal setiap individu, dan tempat mereka akan kembali. Tidak hanya itu, keluarga juga menjadi dasar identitas dari setiap orang. Identitas ini mencerminkan diri seseorang sebagai bagian dari keluarganya. Dengan kata lain, identitas pribadi seseorang tidak bisa dipisahkan dari keluarganya. Keluarga adalah tempat pertama di mana identitas dan ciri khas individu terbentuk, yang membedakannya dari orang lain yang berasal dari keluarga berbeda. Kondisi suatu keluarga juga memperoleh pengaruh dari konteks budaya yang dialami. Latar belakang budaya membuat setiap keluarga memegang nilai-nilai yang berlaku di lingkungan sosial tempat mereka berada. Nilai-nilai ini tercermin dalam pendidikan dari orangtua kepada anak-anaknya di setiap keluarga. Cara berperilaku, cara pandang terhadap hidup, hingga pandangan keagamaan menjadi bagian dari pendidikan dalam keluarga. Dalam konteks ini, keluarga menjadi ikatan sekaligus wadah terpenting dalam membentuk kepribadian anak, dengan menanamkan nilai-nilai budaya. Berdasarkan kenyataan ini, tidak dapat disangkal bahwa standar etika yang digunakan individu saat dewasa sangat dipengaruhi oleh akar budaya dari keluarga tempat mereka tumbuh. Salah satu etnis yang memberi perhatian utama terhadap keluarga adalah etnis Jawa. Dalam budaya Jawa, keluarga dianggap lebih berharga dibandingkan harta atau kekayaan. Hal ini tercermin dalam ungkapan "mangan ora mangan sing penting kumpul," yang menegaskan pentingnya kebersamaan dalam keluarga, terlepas dari kondisi materi. Menurut Ralph Linton . , kebersamaan ini mendukung proses pembelajaran antara anak dan orang tua. Semakin kuat hubungan antara anak dan orang tua dalam budaya tersebut, semakin kuat pula perilaku yang dipelajari dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengaruh budaya Jawa terhadap individu yang lahir dalam keluarga Jawa sangat kuat, bahkan pada komunitas Jawa yang tinggal di luar Pulau Jawa, baik di berbagai wilayah Indonesia maupun di luar negeri seperti Suriname. Malaysia. Arab Saudi, dan Belanda (Rahman, 2. Meskipun tinggal jauh dari tanah Jawa, mereka tetap mempertahankan adat istiadat Jawa, yang berlandaskan ajaran tata krama dan tata susila. Realitas budaya ini tidak dapat dipisahkan dari peran pendidikan keluarga dalam menjaga identitas sebagai wong Jawa atau disebut sebagai tiyang Jawi, seperti dinyatakan dalam pepatah "wong Jawa ojo ilang jawane" (Aszahra, dkk, 2. Dengan kata lain, pendidikan keluarga Jawa berperan penting dalam melestarikan kebudayaan Jawa dari generasi ke generasi. Hal tersebut terutama terkait dengan keberadaan konsep unggah ungguh. Unggahungguh ayang bisa diartikan sebagai tata berperilaku yang diajarkan dan dibiasakan dalam keluarga Jawa sebagai pendidikan budi pekerti menjadi pertahanan utama untuk menjaga kelestarian budaya Jawa (Biantara dan Thohir, 2. Berdasar pemahaman tersebut, penulis tertarik untuk lebih memahami bagaimana peran unggah-ungguh dalam keluarga Jawa menjadi media dalam menyebarkan nilai-nilai ideal dalam ajaran budaya Jawa dan secara lebih lanjut menjaga eksistensi dari budaya Jawa. Dalam penelitian ini, peneliti mengeksplorasi berbagai ajaran dalam kearifan lokal Jawa, khususnya yang berkaitan dengan posisi unggah-ungguh sebagai landasan dari pendidikan budi pekerti pada keluarga Jawa. Salah satu unsur penting dalam pendidikan keluarga Jawa adalah media komunikasi, yaitu bahasa. Peneliti juga membahas bagaimana bahasa yang diajarkan dan digunakan dalam keluarga Jawa mengajarkan nilai-nilai budi pekerti atau unggah-ungguh. Selain itu, peneliti akan menginterpretasi berbagai ajaran dalam karya sastra dan pepatah leluhur Jawa yang memiliki korelasi dengan ajaran tentang unggah-ungguh dalam kebudayaan Jawa. Segala upaya yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan temuan tentang aspek-aspek dalam pendidikan budi pekerti atau unggahungguh pada keluarga Jawa yang menjadi dasar pertahanan eksistensi dari kearifan budaya Jawa. Metode Penelitian ini adalah penelitian bidang filsafat kebudayaan dengan menggunakan metode hermeneutika filosofis untuk memahami pendidikan budi pekerti atau unggah-ungguh dan perannya dalam menjaga eksistensi kearifan budaya Jawa. Peneliti berupaya menginterpretasikan berbagai aspek dalam pendidikan unggah-ungguh melalui realitas penerapannya dalam keluarga Jawa dan dari beragam karya sastra yang berkaitan dengan pendidikan unggah-ungguh tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari proses studi pustaka . ibrary researc. dengan mengumpulkan berbagai referensi yang relevan, baik berupa buku maupun jurnal ilmiah. Hasil dan Pembahasan Prinsip Dasar Pendidikan Unggah-Ungguh dalam Keluarga Jawa Salah satu prinsip yang memiliki kedudukan penting untuk mencerminkan kebudayaan Jawa adalah prinsip kesatuan atau kemanunggalan. Pada realitanya, prinsip tersebut nampak baik dalam dimensi spiritual maupun sosial. Dalam dimensi sosial, prinsip kemanunggalan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan yang menekankan kebersamaan. Banyak ungkapan yang menggambarkan idealitas kebersamaan dalam masyarakat Jawa. Misalnya, dalam dunia perdagangan, terdapat ungkapan "tuna satak bathi sanak ", yang memiliki makna rugi sedikit tidak masalah, yang penting menambah saudara atau menjaga hubungan persaudaraan (Pitoyo. Ungkapan ini mencerminkan orientasi kebersamaan dalam perdagangan menurut kearifan budaya Jawa. Pengutamaan prinsip kemanunggalan pada kebudayaan Jawa juga tercermin dalam ikatan sosial terkecil, yaitu dalam keluarga. Ungkapan "mangan ora mangan sing penting kumpul " menggambarkan betapa pentingnya kemanunggalan keluarga dalam kearifan budaya Jawa (Tandywijaya, 2. Dalam ungkapan tersebut, kata "mangan" merujuk pada kecukupan materi atau harta benda, yang dianggap tidak lebih penting daripada "kumpul", yakni kemanunggalan dalam keluarga. Prinsip kemanunggalan selain menjadi salah satu dasar dalam pendidikan unggah-ungguh, juga menjadi orientasi hidup yang dianggap membawa kepada kebahagiaan untuk setiap individu. Keluarga yang rukun dapat mempengaruhi kinerja seseorang dalam pekerjaannya, ketenangan dalam keluarga juga mendukung kekhusyukan beribadah, dan memperkuat stabilitas spiritual serta religiusitas individu. Dengan demikian, kemanunggalan keluarga menjadi pusat yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan individu. Kemanunggalan yang menjadi prinsip ideal dalam kebudayaan Jawa ini bukan lah suatu ikatan yang membawa pada ketergantungan individu dengan individu yang lainnya. Seperti halnya dalam membina hubungan keluarga, meskipun kemanunggalan keluarga tetap dijaga, setiap anak dalam keluarga Jawa diajarkan untuk mandiri dalam menjalani kehidupan. Prinsip kemandirian ini tercermin dalam berbagai ajaran yang terdapat pada karya sastra Jawa seperti halnya serat, yang berisi piweling . dan piwulang . dari leluhur kepada generasi penerus (Rahmad, 2. seperti yang dijelaskan dalam penggalan Serat Wedhatama sebagai Kikisane mung sapala, palayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur, lah iya ingkang rama, balik sira sarawungan bae durung, mring atining tata krama, nggon-anggon agama suci. Rendahnya mental manusia, yang hanya bergantung pada orangtuanya, yang memiliki kekuasaan atau bangsawan. Itu kan orang tuanya, padahal dirinya belu m mengetahui, inti dari tata berperilaku, yang diajarkan dalam agama. Penggalan dari Serat Wedhatama yang merupakan karya dari Mangkunegara IV ini mengajarkan agar setiap individu memegang teguh kemandirian dirinya dalam menghadapi berbagai problem kehidupan. Mental yang kuat adalah mental seseorang yang mandiri, berbudi pekerti luhur, dan menjalani hidup dengan menerapkan tata krama atau unggah-ungguh dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa prinsip kemandirian adalah nilai ideal dalam membina keluarga menurut kearifan lokal Jawa. Tidak seharusnya seseorang bergantung pada orang tua, meskipun mereka berasal dari kalangan bangsawan atau memiliki kekuasaan. Pandangan serupa juga disampaikan dalam Serat Wicara Keras, karya Yasadhipura II . , seorang pujangga dari Karaton Kasunanan Surakarta, yaitu sebagai berikut: Aywa dumyh wong awirya, anak putune wong mukti. Sanadyan myngku nagara, aywa sumakeyan ydir. Tan nganggo dugi-dugi, sapa sira sapa ingsun. Puniku bybakalan , atytombok kaki nini. Kang wus bycik panggonane mylu nyambat. Janganlah berperilaku sombong karena keturunan dari petinggi Meskipun memiliki kuasa terhadap negara jangan menyombongkan diri Tanpa kira-kira harus mengerti siapa yang dihadapi Kesombongan adalah penyebab rusaknya nama baik leluhur Yang sudah bercitra baik ikut terdampak. Penggalan Serat Wicara Keras ini menegaskan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh kebesaran nama leluhurnya, melainkan oleh keluhuran budi pekerti dari individu itu Setiap orang harus introspektif, memahami kemampuan dirinya, dan tidak berlindung di balik nama baik orangtua atau leluhurnya. Setiap individu bertanggung jawab untuk menjaga, bahkan meningkatkan, kehormatan dan martabat keluarganya. Dalam hal ini lah letak pentingnya unggah-ungguh, dengan menjaga perilaku dan tutur kata yang baik menjadi upaya dalam memelihara nama baik pribadi serta keluarga. Ajaran dalam Serat Wedhatama dan Serat Wicara Keras menekankan bahwa meskipun budaya Jawa menjunjung tinggi kemanunggalan dalam keluarga, hal tersebut tidak berarti individu harus bergantung sepenuhnya pada keluarga. Anak-anak yang lahir dalam keluarga Jawa memikul tanggung jawab atas nama baik keluarganya masing-masing. Ini mencerminkan prinsip kemandirian dalam ajaran kearifan lokal Jawa, di mana setiap anak dididik untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka, karena apa yang mereka lakukan tidak hanya memengaruhi diri sendiri, tetapi juga nama baik keluarga dan leluhur. Penjelasan ini memberikan pemahaman tentang prinsip kemanunggalan dan kemandirian menjadi nilai ideal dalam pendidikan unggah-ungguh pada keluarga Jawa. Ajaran ini menempatkan setiap individu sebagai bagian dari keluarga, yang berakar kuat dalam keluarganya, namun tetap harus memiliki kemandirian dan tanggung jawab atas setiap tindakannya. Dapat dikatakan pemahaman ini mencerminkan dualitas dalam diri manusia, makhluk sosial yang berperan menjaga keutuhan keluarga, sekaligus sebagai individu yang mandiri. Dengan menjaga keluhuran diri melalui perilaku dan tutur kata yang baik, individu tidak hanya menjaga citra dirinya di hadapan masyarakat, tetapi juga menjaga citra keluarganya. Dengan demikian, pendidikan unggahungguh dalam keluarga Jawa menekankan bahwa setiap individu harus bertanggung jawab tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap keluarga. Karena setiap tindakan atau perilaku yang dilakukan seseorang akan berdampak pada nama baik keluarganya. Bahasa sebagai Media Penerapan Pendidikan Unggah-Unggah Penggalan naskah Serat Wedhatama dan Serat Wicara Keras yang telah dijelaskan mengarahkan pada pemahaman tentang pentingnya budi pekerti luhur sebagai landasan keluhuran seseorang dalam berkehidupan. Pendidikan budi pekerti tersebut pada keluarga Jawa dapat dilihat dalam penggunaan bahasa Jawa, yang memiliki aturan berbahasa yang disebut undha usuk basa. Aturan ini mengacu pada tingkatan bahasa yang digunakan sesuai dengan konteks dan situasi sosial. Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan yang mencerminkan tata krama serta tingkatan sosial, yang menunjukkan kehalusan budaya Jawa dalam berkomunikasi. Purwadi . menjelaskan bahwa variasi dalam tingkatan bahasa Jawa ditujukan untuk menekankan pentingnya penyesuaian dengan konteks. Tingakatan bahasa tersebut secara gramatikal dapat dijelaskan sebagai berikut: Basa Krama Basa Madya Basa Ngoko - Kramantara . ahasa formal yang digunakan dalam menjalin komunikasi dengan yang lebih mud. - Mudhakrama . ahasa formal yang ditujukan untuk berkomunikasi dengan yang lebih tu. - Wredhakrama . onteks penggunaannya seperti halnya kramantara, namun lebih cenderung santa. - Krama Inggil . igunakan saat berbicara dengan seseorang yang diagungkan, atau saat memanjatkan doa kepada Tuhan YME) - Krama Desa . ahasa penghormatan pada masyarakat pedesaan, ada percampuran bahasa yang tidak bak. - Madyantara . igunakan kepada seseorang dengan kedudukan/status yang lebih rendah tidak jauh dari penutur, dari suami kepada istri, atau dari kakak kepada - Madya Ngoko . igunakan kepada seseorang yang memiliki posisi dalam satu tingkatan yang sam. - Madyakrama . igunakan kepada seseorang dengan kedudukan/status yang lebih tinggi tidak jauh dari penutur, dari istri kepada suami, atau dari adik kepada kaka. - Ngoko Lugu . igunakan untuk berbicara dengan individu seumuran atau satu tingkat sosial yang sama tanpa ada - Ngoko Andhap . ama halnya dengan ngoko lugu, namun ada wujud penghormatan dengan menggunakan imbuhan kosa kata kram. Diagram 1. Jenis Bahasa dalam Tingkatan Bahasa Jawa Beberapa jenis bahasa dalam tingkatan bahasa Jawa tersebut adapabila disederhanakan dapat terbagi menjadi tiga tingkatan utama, yaitu bahasa krama, bahasa madya dan bahasa ngoko. Menurut Geertz . ketiga tingkatan bahasa tersebut lebih umum diketahui dan diterapkan oleh masyarakat Jawa kebanyakan. Ketiganya digunakan bergantung pada konteks sosial yang terjadi, baik kedudukan lawan bicara, objek yang dibicarakan, dan status penutur. Bahasa Jawa menjadi media untuk melatih kepekaan setiap individu penggunanya terhadap situasi yang dialami. Pandangan ini berdasar pada posisi bahasa Jawa yang menjadi aspek terpenting dalam penerapan pendidikan unggah-ungguh pada keluarga Jawa. Penggunaan bahasa yang tepat sangat penting dalam menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, suami dan istri, serta antara saudara. Dikatakan tepat karena dalam bahasa Jawa, tidak hanya kebenaran . informasi yang ditekankan, tetapi juga kepatutan . yang mengacu pada kesesuaian antara kosa kata dan tingkatan bahasa yang dipakai dengan situasi percakapan, yang ditentukan oleh status atau posisi penutur dan lawan bicara (Wikandaru, dkk. Dalam hal ini lah bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kepekaan dalam merespons situasi serta memperhalus perilaku penuturnya. Contoh penerapan unggah-ungguh dalam berbahasa pada keluarga Jawa seperti halnya dalam menyebut kegiatan makan, ketika seorang anak berbicara tentang aktivitas makan yang dilakukan orang tuanya, istilah yang digunakan adalah "dhahar" yang berasal dari tingkatan basa krama, seperti dalam kalimat "ibu nembe dhahar" . bu sedang maka. Namun, ketika anak tersebut berbicara kepada orang tuanya tentang dirinya sendiri yang sedang makan, ia akan menggunakan kata "nedha" dari tingkatan basa madya, misalnya "kulo nembe nedha". Berbeda lagi jika anak itu berbicara dengan teman sebaya atau saudara seumuran, ia akan memakai basa ngoko dan mengatakan "mangan", seperti dalam kalimat "aku lagi mangan" . aya sedang Contoh kosa kata lain dari tiap tingkatan bahasa Jawa . ndo usuk bas. dapat dilihat pada tabel berikut: Bahasa Indonesia Bahasa Jawa Ngoko Madya Krama Makan Mangan Nedha Dhahar Memberi Wenehi Nyaosi Maringi Menyuruh Ngongkon Ngaturi Ndhawuhi Membeli Tuku Tumbas Mundhut Pulang Mulih Wangsul Kundhur Tabel 1. Contoh Kosa Kata Berdasar Tingkatan Bahasa Jawa Perbedaan kosa kata yang didasarkan pada tingkatan bahasa dalam komunikasi keluarga Jawa berperan sebagai sarana pendidikan budi pekerti atau unggah-ungguh bagi anak-anak. Pada dasarnya pendidikan budi pekerti tidak saja diterapkan dalam tata cara berkomunikasi atau berbicara yang disebut sebagai tata krama, tetapi juga dalam bertindak yang disebut sebagai tata susila. Tata susila berhubungan dengan perilaku dan sikap yang baik serta benar, sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dalam budaya Jawa. Misalnya, sebagai bentuk penghormatan, seorang anak dalam keluarga Jawa seharusnya berjalan menunduk saat melewati orang tua atau orang yang lebih tua. Tindakan ini adalah contoh tata susila karena tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kedua unsur ini, baik tata krama maupun tata susila, tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa dan menjadi fondasi utama dalam menjalin hubungan sosial. Hal ini juga dijelaskan oleh Sinuhun Pakubuwana IV . dalam Serat Wulang Reh, yang menegaskan pentingnya kedua aspek tersebut. Wataking manungsa. Pan ketemu ing laku lawan linggih. Solah muna muninipun. Pan dadi panerangan Kang pinter kang bodho miwah kang luhur. Kang asor lan kang mlarat. Tanapi ingkang asugih. Watak dari manusia dapat dilihat tidak hanya dari tingkah lakunya namun juga caranya berbicaranya/ berbahasa yang memperjelas yang berpangkat tinggi, yang pintar, maupun yang bodoh Yang berkedudukan rendah serta miskin maupun yang kaya raya. Penggalan bait dari Serat Wulang Reh karya Pakubuwono IV ini menekankan bahwa dalam budaya Jawa, karakter atau watak seseorang dinilai bukan hanya dari perilakunya, tetapi juga dari kemampuannya dalam berbicara dan menggunakan bahasa. Ini didasarkan pada penerapan unggah-ungguh yang tepat, baik dalam tata krama berbahasa maupun tata susila berperilaku. Bait tersebut menunjukkan bahwa keluhuran budi seseorang tidak dinilai dari kecerdasannya, pangkat, atau kekayaannya, melainkan dari bagaimana ia menerapkan unggah-ungguh dalam bersikap dan dalam berbicara . una mun. dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memahami unggah-ungguh tentu dapat menempatkan diri sesuai dengan posisinya, tanpa bertindak berlebihan atau kurang, serta menyadari kapasitas dirinya. Hal ini dianggap sebagai bekal penting bagi setiap individu dalam berkehidupan, terutama dalam kehidupan sosial. Menurut Widyasastra Digdaya . , pemahaman terhadap unggah-ungguh dapat menjadi landasan dalam menjaga keharmonisan sosial. Jika tingkatan bahasa yang digunakan tidak sesuai dapat mengakibatkan ketidakharmonisan dalam pergaulan. Hal ini sejalan dengan pandangan Inderasari dan Achsan . , yang menyatakan bahwa bahasa juga dapat mempengaruhi perilaku orang lain. Dengan kemampuan menggunakan bahasa Jawa yang benar dan sesuai, seseorang akan lebih mudah menempatkan dirinya dalam berbagai situasi dan saat berhadapan dengan siapa pun. Kemampuan menerapkan tata krama yang baik juga akan berdampak pada penerapan tata susila yang benar, yang pada akhirnya dapat menjaga keharmonisan dengan orang lain. Contohnya, dalam sebuah keluarga Jawa, jika seorang anak mampu berbicara kepada orang tuanya dengan menggunakan kosa kata basa krama, ia akan berbicara dengan suara lembut dan sikap yang santun. Sikap dan penggunaan bahasa yang baik ini kemudian akan memunculkan respon positif dari orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa pemahaman dan penerapan tingkatan bahasa Jawa yang baik tidak hanya mempengaruhi perilaku setiap anggota keluarga, tetapi juga berperan dalam menciptakan keharmonisan dalam Pendidikan budi pekerti dalam keluarga Jawa melalui bahasa melatih setiap anak untuk selalu mawas diri, yaitu memahami diri sendiri atau ngilo githoke dewe (Sumarsono, 2. , yang berarti menyadari posisi dan status dirinya. Anak yang sudah mampu memahami dirinya sendiri tentu juga akan memahami posisinya dalam berhubungan dengan orang lain di lingkungan sosial. Ia akan lebih peka terhadap konteks orang lain yang ada di hadapannya. Ajaran ini bertujuan agar setiap anak dalam keluarga Jawa dapat menghindari sikap degsura . urang aja. atau nracak . erperilaku di luar bata. , baik terhadap orang tua, orang yang lebih tua, maupun siapa saja yang layak dihormati. Pandangan ini menjadi landasan dalam proses pendewasaan seorang anak dalam keluarga Jawa. Anak yang sudah memahami dan menerapkan unggah-ungguh dengan baik dianggap sebagai individu yang sudah dewasa, atau disebut sebagai wong kang wis jawa. Istilah "jawa" di sini bukan hanya merujuk pada suku, tetapi menandakan seseorang yang telah matang secara mental dan mampu menghadapi segala situasi dan kondisi. Dengan kata lain, orang tersebut telah mencapai kondisi jiwa jawining jawi, yaitu jiwa dan raganya yang telah sepenuhnya "JawaAy. Kesimpulan Pembahasan yang telah dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa pendidikan dalam keluarga Jawa selalu menekankan pentingnya budi pekerti. Unggah-ungguh, yang terdiri dari tata susila . esopanan dalam berperilak. dan tata krama . esantunan dalam berbahas. , memegang peran penting dalam hal ini. Dengan memahami tata krama atau berbicara sesuai dengan tingkatan bahasa . ndo usuk bas. yang tepat, seorang anak akan dapat mawas diri dan menyadari kapasitas dirinya. Ini berarti bahwa anak tersebut mampu menempatkan diri sesuai dengan konteks yang dihadapinya. Kesantunan dalam berbahasa . ata kram. akan sejalan dengan kesopanan dalam perilaku . ata susil. , dan keduanya menjadi bekal penting untuk menjaga keharmonisan dalam hubungan dengan orang lain, terutama dalam keluarga. Kedewasaan seorang anak dinilai dari kemampuannya memahami dan menerapkan unggah-ungguh. Meskipun keluarga Jawa sangat menjunjung kebersamaan . , kebersamaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menciptakan ketergantungan satu sama lain. Setiap anak didorong untuk menjadi mandiri, serta menjaga unggah-ungguh dalam perilaku dan tutur katanya, sehingga tidak bersikap seenaknya . atau hidup di bawah bayang-bayang orang tua. Perilaku dan tutur kata yang baik tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada citra keluarga. Oleh karena itu, pendidikan dalam keluarga Jawa mengarahkan setiap anak untuk bertanggung jawab dalam menjaga budi pekerti, sebagai upaya menjaga keluhuran diri dan nama baik keluarga. Daftar Pustaka