Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2025: 220-230 UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN STUNTING DALAM MANUSKRIP SUNDA KUNO ABAD XVI M. Elis Suryani Nani Sumarlina1. Rangga Saptya Mohamad Permana2, dan Undang Ahmad Darsa3 Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang E-mail: 1elis. suryani@unpad. saptya@unpad. darsa@unpad. ABSTRAK. Manuskrip yang lebih dikenal dengan istilah naskah, di era Generasi Z saat ini masih eksis dan sangat Itu sebabnya, manuskrip perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Banyak teks naskah Sunda Kuno Abad XVI Masehi tersebut yang belum terungkap isinya, terutama yang terkait dengan antistunting. Hal ini dimaklumi, karena para pegiat naskah Sunda kuno terkendala dengan penguasaan aksara, bahasa, dan kandungan Padahal berdasarkan informasi dari katalog, museum, perpustakaan, pasulukan, maupun tempat penyimpanan naskah lainnya, ada puluhan manuskrip Sunda kuno yang ditengarai mengungkap seluk beluk cara pencegahan, perawatan, dan pemeliharaan janin sejak dalam kandungan Ibu hamil hingga remaja, dengan memanfaatkan tanaman obat tradisional, yang mampu mencegah gagal tumbuh kembangnya bayi. Jika isi hasil penelitian dan pengkajian antistunting tersebut tidak segera disosialisasikan dan diinformasikan, maka akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan para Gen Z ke depannya. Manuskrip Antistuting mengungkap beragam jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui metode penelitian deskriptif analisis komparatif. Adapun metode kajiannya melibatkan metode kajian filologis, baik secara kodikologis maupun tekstologis, hermeneutik, sosiologi, leksikografis, serta kajian budaya secara umum. Tulisan ini diharapkan mampu mengungkap upaya pencegahan dan penanggulangan stunting berbasis manuskrip Sunda Kuno yang terungkap dalam tanaman obat tradisional. Hasil tulisan ini diharapkan mampu menjadi referensi literasi yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin. Kata Kunci: Upaya Pencegahan dan Penanggulangan. Stunting. Manuskrip Sunda Kuno Abad XVI M. ANCIENT SUNDANESE MANUSCRIPTS OF THE 16TH CENTURY AD: STUNTING PREVENTION AND OVERCOME EFFORTS ABSTRACT. Manuscripts, better known as manuscripts, still exist and are highly needed in the current Generation Z era. That is why manuscripts need serious attention from the government. Many of the texts of the 16th Century Ancient Sundanese manuscripts have not yet been revealed, especially those related to anti-stunting. This is understandable, because activists of ancient Sundanese manuscripts are hampered by mastery of the script, language, and content. However, based on information from catalogs, museums, libraries, pasulukan, and other manuscript storage places, there are dozens of ancient Sundanese manuscripts that are suspected of revealing the ins and outs of how to prevent, care for, and maintain fetuses from the womb of pregnant women to adolescence, by utilizing traditional medicinal plants, which are able to prevent stunting. If the contents of the results of antistunting research and studies are not immediately socialized and informed, it will hinder the growth and development of Gen Z in the future. The Antistuting Manuscript reveals various types, functions, dosages, processing methods, and treatment methods. This paper uses qualitative research methods, through descriptive comparative analysis. The study method involves philological studies, both codicological and textological, hermeneutic, sociological, lexicographic, and general cultural studies. This paper is expected to reveal efforts to prevent and overcome stunting based on Ancient Sundanese manuscripts revealed in traditional medicinal plants. The results of this paper are expected to be a useful literary reference for other sciences in a multidisciplinary Keywords: Prevention and Control Efforts. Stunting. Ancient Sundanese Manuscripts of the 16th Century AD PENDAHULUAN Manuskrip sebagai tinggalan budaya nenek moyang masa silam, teksnya dianggap mampu menguak tabir dan mengungkap tonggak sejarah bagi kehidupan masyarakat. Eksistensi dan manfaat naskah serta teksnya dapat diimplementasikan di Era Generasi Z saat Manuskrip Sunda khususnya masih banyak yang belum digali, diteliti, dan bahkan dikaji secara ilmiah. Hal ini disebabkan, masih sedikitnya para filolog maupun para pegiat naskah yang mampu mengkaji, mengungkap, dan menginformasikannya. Di samping itu, banyaknya kendala, yang belum bisa tertangani. Salah satunya, terkait dengan penguasan dan kemahiran dalam membaca aksara yang digunakan dalam manuskrip tersebut, yang meliputi aksara Sunda (Kun. , aksara Cacarakan, aksara Pegon, dan Latin. Di samping itu, penguasaan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 bahasa pun menjadi salah satu alasan, belum banyaknya manuskrip yang belum diterjemahkan, karena bahasa Sunda yang digunakan dalam manuskrip tersebut meliputi beragam bahasa, sesuai zamannya, seperti bahasa Sunda bihari atau bahasa Sunda Kuno, bahasa Sunda Kamari atau bahasa Sunda Peralihan/klasik, dan bahasa Sunda Kiwari atau bahasa Sunda masa kini (Sumarlina, 2020. Sumarlina, 2023 & 2. Naskah/Manuskrip Nusantara secara umum mengandung beragam cipta, rasa, dan karsa, yang salah satunya terkait tanaman obat tradisional/keluarga, yang mampu mencegah dan menanggulangi penyakit tumbuh kembangnya bayi dan anak-anak, sejak dalam kandungan hingga remaja, yang sangat dibutuhkan di era Gen Z saat ini. Sebenarnya, tidak bisa dipungkiri, bahwa jumlah manuskrip Sunda itu melimpah. Namun, hal ini tidak sepadan dengan ahli filologi yang menguasai kendala aksara dan bahasa dimaksud . Teks atau kandungan manuskrip Sunda Kuno yang sangat beragam merupakan aset statis dan aset dinamis. Sebagai aset yang statis, manuskrip merupakan objek penelitian yang bisa dijadikan aset wisata ilmu dan wisata budaya. Aset dinamis juga tentu mampu dijadikan penelusuran beragam unsur kearifan lokal, baik sebagai local wisdom maupun local genius. Aspek kearifan lokal kemungkinan dapat diangkat kembali. Hal itu dapat dijadikan modal untuk pelestarian nilai-nilai kearifan lokal masa lampau, untuk membangun jati diri bangsa, dan generasi gen Z saat ini, agar mampu berdiri pada posisi budayanya. Kearifan lokal mampu membangun harga diri bangsa yang tangguh dalam mengarungi kemajuan zaman dalam menghadapi tatangan global. Keanekaragaman naskah Sunda Kuno yang tersimpan di Mandala Kabuyutan Ciburuy dan di tempat lainnya isinya bermacam-macam. Ada yang bernuansa sastra, keagamaan, historis, topografis, dan ensiklopedis. Dalam tulisan ini, terkait menelusi dan mengkaji manuskrip Sunda Kuno yang ada di Mandala Kabuyutan Ciburuy, dikhususkan terhadap manuskrip yang berjudul Sanghyang Titisjati Pralina. Teks naskah lontar Sanghyang Titisjati Pralina, terdapat pada Teks yang ada di dalamnya, disertai ulasan yang terkait dengan penyajian translitersi teks, rekonstruksi teks, dan edisi naskah tersebut, meskipun hanya diulas sedikit, yang termasuk dalam kategori karya bernuansa pengetahuan tentang pertumbuhan janin sejak dalam kandungan ibu hamil, dilahirkan, hingga remaja, melallui tahapan-tahapannya, yang disertai dengan tradisi, adat yang menyertainya. Dalam kajian ini pun melibatkan naskah-naskah lain yang tidak sezaman, yang berkaitan naskah Mantra Pengobatan. Tatamba, dan lainnya yang mengungkap Tanaman Obat Tradisional dan teks naskah Tatamba (Sumarlina, 2021. Sumarlina, 2024. Sumarlina, dkk. , 2. Naskah Sunda kuno abad XVI M, memiliki jarak waktu yang cukup lama. Hal ini secara langsung dan tidak langsung, membuat naskah-naskah atau manuskrip tersebut sulit Hal itu karena ditulis dengan aksara dan bahasa Sunda Sunda Kuno yang hampir tiga setengah abad berlalu terdesak oleh aksaraaksara yang datang dari luar sehingga generasi gen Z masa kini hampir sudah tidak mengenal lagi aksara yang pernah diciptakan oleh para Inilah salah satu kendala lambatnya upaya pengerjaan naskah di samping kondisi fisiknya kebanyakan sudah lapuk dan retak-retak, khususnya naskah antistunting yang melibatkan tanaman obat tradisional maupun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan Tanaman Obat Tradisional, yang dijadikan objek kajian tulisan METODE Penggunaan dan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) atau lebih akrab dengan tanaman obat tradisional, sudah dikenal oleh masyarakat Sunda sejak zaman dahulu kala. Tanaman obat tradisional di masyarakat sebagaimana sudah diketahui pula, berguna sebagai penyembuh atau penyehat dalam upaya mengatasi berbagai keluhan dan gejala penyakit secara turun temurun dan dikembangkan berdasarkan pengalaman. Demikian juga dengan permasalahan antistunting yang terkuak dalam manuskrip Sunda. Strategi pemanfaatan berbagai tanaman obat untuk mengatasi masalah kesehatan, khususnya stunting sebagai bagian dari budaya dikenal sebagai kearifan lokal. Pemanfaatan tanaman obat dalam upaya menanggulangi gagal tumbuh kembang dalam naskah dan diimplementasikan di masyarakat hingga kini masih banyak ditemukan dalam kehidupan sehari hari di masyarakat Sunda . andingkan bandingkan. Kumala, 2006. Ulfah. Susanti, 2. Tulisan ini tentang pencegahan dan penanggungan stunting, yang terkuak dalam tanaman obat tradisional berbasis manuskrip Sunda kuno. yang tidak terlepas juga dari Tanaman Obat Keluarga (TOGA), khususnya naskah pengobatan yang bermanfaat sebagai Dikaji melalui metode penelitian Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 deskriptif analisis komparatif, lewat metode kajian kritik teks, baik dari segi kodikologis maupun tekstologis. Penentuan metode kajian filologi ini, menyangkut masalah cara kerja untuk mewujudkan sebuah bentuk hasil kajian yang dilakukan, yang tentu saja disesuaikan dengan tujuan serta objek yang diteliti. Metode terbagi atas metode penelitian dan metode kajian. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif analisis, komparatif, sedangkan metode kajian-nya adalah kajian budaya yang bersifat multidisiplin, melalui hermeneutik, sosiologi sastra, dan komunikasi kesehatan, yang sangat bergantung kepada isi teks itu sendiri, baik teks lisan maupun teks Teknik pengumpulan sumber data, dalam tulisan ini, baik itu sumber data primer maupun sumber data sekunder, ditempuh dengan cara studi kepustakaan, museum, maupun pasulukan, di tempat-tempat, di mana naskah Sunda itu Selain itu, digunakan juga kerja lapangan, dengan memanfaatkan teknik survey, pendampingan & partisipasi aktif, juga seminar, yang dilakukan di masyarakat adat khususnya, dan masyarakat Sunda pada umumnya. Bagaimana mencegah dan merawat bayi sejak dalam kandungan hingga remaja, agar anak tidak gagal tumbuh kembang dalam manuskrip Mantra Pengobatan. Sanghyang Titisjati Pralina dan manuskrip Tatamba? Adakah kiat dan keterjalinan antara manuskrip Sanghyang Titisjati Pralina. Tatamba dengan manuskrip mantra pengobatan dan TOGA, dalam upaya penuntasan Stunting bagi Generasi Z, sesuai dengan jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatannya? Apa manfaat dan kegunaan kajian ini bagi bidang ilmu lain secara HASIL DAN BAHASAN Manuskrip dan Eksistensinya Di era Gen Z, zaman berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai perjalanan waktu, ditengarai banyak manuskrip Sunda yang sudah tidak diketahui lagi jejak dan eksistensinya. Hal ini terjadi, dikarenakan kualitas bahan manuskrip, misalnya aneka ragam kulit, daun, dan kertas, umumnya sangat rentan menghadapi pergantian musim di Tatar Sunda yang tingkat kelembabannya cukup Di samping itu, adanya faktor lain penyebab hilangnya manuskrip Sunda diamaksud karena kurang teraturnya pemeliharaan dan pemeliha-raan yang kurang baik, serta adanya tempat/lokasi/ dan/atau kepemilik-an. Ada juga karena terkena musibah kebakaran atau banjir, rusak dimakan binatang . ikus, kecoa, rayap, ngengat, ulat, dan lainny. , hilang akibat terjadinya perang, atau bahkan ada yang sengaja menghancurkannya akibat adanya sentimen politik dan keagamaan (Sumarlina, 2022 & 2024. Sumarlina, dkk. Manuskrip Sunda teksnya sangat beragam, yakni ada keagamaan, etika, legenda, hukum, mitologi, pendidikan, adat-istiadat, ilmu pengetahuan, sejarah, seni, sastra, dan paririmbon/mujarobat. Manuskrip mujarobat ini sangat terkait dengan mantra pengobatan, yang dapat dijadikan acuan dalam kajian antistunting. Dapat dikatakan pula, bahwa teks-teks naskah Sunda dapat dikategorikan ke dalam teks-teks yang bernuansa keagamaan dan filsafat, sastra, topografis, historis, dan juga ensiklopedis. Keanekaragaman kandungan teks sebuah manuskrip, turut memengaruhi wujud penyajian teks melalui sarana pemakaian bahasa yang juga ditulis dalam aksara yang berbeda. Sementara itu, penyampaian dan penyajian teks teks, ada yang berbentuk puisi . ermetrum pupuh dan metrum oktosilabi. , bentuk prosa, atau campuran keduanya . rosa liri. , bahkan ada yang berupa silsilah dalam bentuk diagram pohon yang cukup menyita lembar halaman, saking banyaknya (Sumarlina, 2018. Sumarlina, dkk, 2019. Sumarlina, dkk, 2. Naskah atau manuskrip, jika dilihat dari konteks kebudayaan, dapat dikategorikan sebagai salah satu tangible cultural heritage Aowarisan budaya kebendaanAo yang bersifat kongkrit . aterial cultur. , dan sekaligus mengandung teks yang dapat dikategorikan sebagai salah satu intangible cultural heritage Aowarisan budaya nonkebendaanAo yang bersifat abstrak . mmaterial Manuskrip Sunda sebagai benda budaya berupa tulisan tangan yang wujud fisik dan kandungan isinya berkaitan erat dengan kehidupan budaya Sunda masa lampau, dibuat oleh orang Sunda yang pernah tinggal di Tatar Sunda. Manuskrip Sunda tertua yang masih ada hingga sekarang berasal dari zaman Kerajaan Sunda . bad ke-8 hingga berakhir abad ke-16, tepatnya tahun 1579 Maseh. Manuskrip Sunda berjudul Sywaka Darma, yang ditulis dalam sistem sengkalan . Aumerega AojalanAo (=. payung AopeneduhAo (=. beunang AohasilAo (=. numpi AobertapaAo (=. Ay, yang dapat disusun terbalik menjadi urutan angka tahun 1405 Saka . 3 Maseh. Sementara itu, naskah Sanghyang Siksakandang Karesian ditulis pada tahun nora catur saraga wulan . 0 78 = 1518 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Maseh. Contoh manuskrip lainnya, berjudul Sanghyang Hayu, ditulis pada tahun panca warna catur bumi . 5 78 = 1523 Maseh. Bahkan, ada manuskrip Sunda lainnya yang dibuat jauh sebelum kedua naskah tersebut ditemukan dan digarap (Darsa, 1994. Ekadjati, , 1983 &1989. Sumarlina, 2. Terkait manuskrip, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, teksnya sangat beragam. Eksistensi manuskrip Sunda kuno yang sudah diketahui hingga kini, sebagian besar terdapat di Perpustakaan Nasional Jakarta. Secara kuantitatif, naskah lontar Sunda Kuno yang berada dalam koleksi Perpustakaan Nasional berjumlah 87 kropak dan tersebar di dalam 9 peti (Darsa, dkk. Dari sekian banyak naskah yang tersimpan, tulisan ini hanya mengacu kepada manuskrip yang ada hubungannya dengan pengobatan, yang dapat mencegah stunting atau tanaman obat sebagai pencegah antistunting, di antaranya, manuskrip Mantra Pengobatan. Manuskrip Tatamba. Sanghyang Titisjati Pralina, yang secara khusus teksnya menggambarkan teknik dan cara merawat, memelihara, dan menanggulangi bayi sejak dalam kandungan ibu hamil, hingga remaja, agar anak tidak gagal tumbuh kembang (Sumarlina, dkk. Darsa, 2. Eksistensi manuskrip sejalan dengan himbauan dan kiprah pemerintah, yang sedang berupaya memberantas stunting melalui upaya Sementara itu, manuskrip Sunda Kuno bernuansa Aomantra pengobatanAo, digunakan untuk mencegah stunting atau sebagai antistunting, agar anak-anak tumbuh sehat dan kuat, terhindar dari penyakit stunting. Sehubungan dengan masalah tersebut, tulisan ini diharapkan manpu mengungkap antistunting yang terkuak dalam teks naskah, yang hasilnya diketahui oleh masyarakat secara luas, serta agar generasi muda Sunda khususnya, dan generasi muda Indonesia sehat dan kuat, terhindar dari stunting. Koleksi naskah lontar dalam Kabuyutan Ciburuy-Bayongbong Garut keberadaannya kurang begitu dikenal masyarakat. Padahal Kabuyutan Ciburuy-Bayongbong Garut boleh dikatakan sebagai peninggalan Ausatu-satunya skriptorium Sunda KunoAy yang masih bertahan hingga kini. Namun, kondisi naskah-naskah Sunda Kuno yang berada di kabuyutan tersebut dewasa ini sangat mengkhawatirkan dari segi perawatannya, berbeda dengan kondisi naskah Sunda kuno yang berada di Perpustakaan Nasional Jakarta. Keberadaan kropak-kropak naskah Sunda Kuno yang terdapat dalam koleksi Kabuyutan Ciburuy Garut, berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian yang dilakukan baru-baru ini tersimpan di dalam tiga buah peti berjajar arah timur-barat pada pago dalam salah satu bangunan tradisional di lokasi padaleman. Tidak ada penomoran peti secara eksplisit di situ, namun peti yang terletak paling timur kami sebut sebagai peti ke-1, peti ke-2 yang terletak di tengah, dan peti yang ke-3 yang terletak paling barat (Ekadjati, 2020. Darsa, dkk. Antistunting. Naskah Mantra Pengobatan, dan Tatamba Salah satu tujuan perawatan dan penanggulangan antistunting dalam naskah tersebut, agar kondisi di mana tinggi badan seorang AoanakAo tidak pendek dibanding tinggi badan orang lain seusianya, dalam arti Hal ini pun Contohnya bisa melalui berbagai macam cara yang dilakukan, seperti pemijatan terhadap ibu dan bayi sejak dilahirkan, memanfaatkan beragam TOGA ketika bayi atau anak sakit, yang diharapkan agar bayi/janin yang dikandung serta ibu hamil sehat dan kuat, tidak kekurangan suatu apapun selama kehamilan dan saat sang ibu Naskah lontar dalam Koleksi Kabuyutan Ciburuy-Bayongbong Garut keberadaannya kurang begitu dikenal masyarakat. Padahal Kabuyutan Ciburuy-Bayongbong Garut boleh dikatakan sebagai peninggalan Ausatu-satunya skriptorium Sunda KunoAy yang masih bertahan hingga kini. Namun, kondisi naskah-naskah Sunda Kuno yang berada di kabuyutan tersebut dewasa ini sangat mengkhawatirkan dari segi perawatannya, berbeda dengan kondisi naskah Sunda kuno yang berada di Perpustakaan Nasional Jakarta. Adanya kropak-kropak naskah Sunda Kuno yang terdapat dalam koleksi Kabuyutan Ciburuy Garut, berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian yang dilakukan baru-baru ini tersimpan di dalam tiga buah peti berjajar arah timur-barat pada pago dalam salah satu bangunan tradisional di lokasi padaleman. Tidak ada penomoran peti secara eksplisit di situ, namun peti yang terletak paling timur kami sebut sebagai peti ke-1, peti ke-2 yang terletak di tengah, dan peti yang ke-3 yang terletak paling barat (Darsa. Darsa, dkk. , 2. Khusus mengenai keberadaan naskahnaskah lontar dan nipah Sunda Kuno yang sudah diketahui hingga saat ini, sebagian besar terdapat dalam koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta. Secara kuantitatif, naskah lontar Sunda Kuno yang berada dalam koleksi Perpustakaan Nasional berjumlah 87 kropak dan tersebar di dalam 9 peti. Dari sekian banyak naskah yang Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 tersimpan, penelitian ini hanya mengacu kepada satu buah naskah yang berjudul Sanghyang Titisjati Pralina (Sumarlina, 2. , yang secara khusus isinya mengungkap cara perawatan, pemeliharaan, dan penanggulangan anak sejak dalam kandungan hingga remaja, agar tidak gagal tumbuh kembang, yang harus diberantas agar anak-anak masyarakat Sunda dan masyarakat Indonesia umumnya tumbuh sehat dan kuat, terhindar dari penyakit stunting, berbasis naskah Sunda kuno. Di samping itu, terkait antistunting, dalam manuskrip Tatamba banyak ditemukan tanaman obat keluarga beserta cara pengobatannya, yang berguna sebagai antistunting, yang dapat dijadikan sumber data kajian antistunting Hubungan Tanaman Obat Tradisional. Manuskrip Mantra, dan Antistunting. Penggunaan tanaman obat sebagai upaya untuk mengatasi berbagai keluhan dan gejala penyakit telah dilakukan sejak dahulu secara turun temurun dan dikembangkan berdasarkan pengalaman, yang di antaranya adalah tanaman obat Tradisional yang berfungsi sebagai Beragam strategi pemanfaatan beragam tanaman obat untuk mengatasi masalah berbagai macam kesehatan, khususnya stunting sebagai bagian dari budaya dikenal sebagai kearifan lokal. Kumala, 2006. Ulfah, 2006. Susanti, 2017. Sumarlina, 2. Pemanfaatan beragam tanaman obat keluarga, dalam upaya menanggulangi dan mencegah gagal tumbuh kembang anak dan remaja, yang diimplementasikan di masyarakat hingga di era generasi Z saat ini, masih banyak ditemukan dalam kehidupan sehari hari, agar generasi muda tumbuh sehat dan kuat, terhindar dari stunting. Tulisan ini membahas antistunting dalam Naskah Sunda, namun tidak bisa dipisahkan dari hakikat Mantra yang teks naskahnya digubah dalam bentuk puisi mantra. Teks Mantra berupa jampi-jampi bermakna magis yang oleh para pengamalnya dianggap mengandung kekuatan gaib, misal dapat menyembuhkan, memikat, memengaruhi, juga dapat mencelakakan. Isi Mantra juga bisa mengandung bujukan, tantangan, dan kutukan, yang ditujukan kepada lawannya atau orang yang dapat dipengaruhinya, demi mencapai tujuan tertentu, yang tentunya melalui kekuatan, diucapkan oleh pawang atau dukun maupun dirinya sendiri, dalam upaya menandingi kekuatan gaib dari yang lain (Sumarlina, 2012. Sumarlina, 2. Inventarisasi tentang Mantra yang telah dilakukan, diketahui sebanyak kurang lebih 76 buah naskah yang secara khusus berupa mantra dan kumpulan doa atau uraian yang pada kenyataannya lebih bersipat mantra (Sumarlina, 2012 & 2. Keberadaan mantra, selama ini dikenal sebagai sastra lisan, meskipun sebenarnya istilah mantra sudah tercantum dalam teks naskah Sunda abad XVI Masehi berbahan lontar/nipah/gebang, beraksara dan berbahasa Sunda kuno, berjudul Sanghyang Siksakandang Karesian. Mantra terdiri atas tujuh jenis, yaitu: ajian, asihan, jampy, jangjawokan, pylyt, rajah, dan singlar (Rusyana, 1970. Sumarlina, 2012 & 2. Teks dan konteks mantra yang dibacakan para Pengamal Mantra disesuaikan dengan konteksnya, yang meliputi: isi, tujuan, nu dipuhit Aoyang diseruAo, serta pameuli Aosyarat yang harus dilaksanakanAo. Sebagai Aodokumen budayaAo Mantra dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Pengamal Mantra hingga kini, meski implementasinya disesuaikan dengan kecanggihan ilmu dan teknologi di setiap masa. Transformasi teks lisan hadir tatkala teks mantra dibacakan oleh Pengamal Mantra, apakah itu dukun, pawang, paraji, atau dirinya sendiri, sebagaimana yang diimplementasikan untuk ngajampe AomengobatiAo, memelihara, dan merawat ibu dan bayi yang dikandung sampai dilahirkan, malah sampai balita, yang melibatkan penggunaan TOGA, agar anak sehat dan kuat, bebas dari penyakit, salah satunya stunting. Tanaman Obat Pencegah Stunting dalam Manuskrip Sunda Masalah pencegah dan penanggulangan, stunting dalam naskah Sunda, baik naskah Sunda kuno . Naskah Peralihan/ Klasik (Kamar. , maupun Naskah masa kini (Kiwar. sudah ada yang mengungkap upaya-upaya karuhun Aonenek moyangAo untuk menghindari gejala AostuntingAo, khususnya yang berkaitan dengan Aoteks naskah mantra pengobatanAo. Hal ini dikarenakan bahwa adanya keterkaitan antara penyakit yang diderita dengan obat (TOGA), antara teks yang dibacakan dengan jenis tanaman obat, fungsi, dosis, cara pengo-lahan, dan tindak pengobatan untuk mengobati ibu & bayi, yang dilakukan, baik oleh paraji Aodukun beranakAo maupun dukun Aoorang pintarAo . asih berlaku di Badu. (Sumarlina, 2. Adat dan tradisi yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Baduy berkaitan dengan cara pengobatan, pemeliharaan, dan penanggulangan anti stunting secara tradisional ini, tentu masih dilakukan oleh masyarakat lain di luar Baduy. Hal ini menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap tradisi dan adat istiadat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Baduy, yang Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 belum tentu dipercayai oleh masyarakat lain di luar Baduy. Meskipun demikian, masalah kepercayaan dan adat istiadat serta tradisi tidak bertentangan dengan kepercayaan yang mereka Tradisi yang mereka implementasikan dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dipisahkan dengan kepercayaan mereka yang di dalamnya terkait dengan mantra. Mantra selama ini dikenal sebagai sastra lisan, meskipun sebenarnya istilah mantra sudah tercantum dalam teks naskah Sunda abad XVI Masehi berbahan lontar, beraksara dan berbahasa Sunda buhun AokunoAo, yang berjudul Sanghyang Siksakandang Karesian. Berdasar inventarisasi, diketahui sebanyak kurang lebih 76 buah naskah yang secara khusus berupa mantra dan kumpulan doa atau uraian yang pada kenyataannya lebih bersipat mantra (Sumarlina, 2012 & 2. Keberadaan mantra, terkait dengan Kropak 421, yang berisi beberapa teks naskah campuran . , meliputi empat buah teks naskah, yang terdiri atas Silsilah Prabu Siliwangi. Mantera Aji Cakra. Mantera Darmapamulih, dan Ajaran Islam, yang khusus untuk teks terakhir tersebut berisi ajaran Islam. (Ekadjati, dkk. Sumarlina, 2. Bahasa yang digunakannya pun adalah bahasa Sunda buhun, namun ada sebagian teks yang berbahasa Jawa dan Arab. Mantra adalah karya sastra berjenis dan berunsur puisi, yang memiliki unsur rima, irama, diksi, citraan, dan majas, berisi semacam katakata berupa jampi-jampi bermakna magis dan mengandung kekuatan gaib, misal dapat menyembuhkan, memikat, memengaruhi, juga mendatangkan celaka, dan lainnya, yang isinya dapat mengandung bujukan, kutukan, atau tantangan yang ditujukan kepada lawannya atau orang yang dapat dipengaruhinya, untuk mencapai suatu maksud/tujuan tertentu, melalui kekuatan-kekuatan yang ada di dalam maupun di belakangnya, diucapkan oleh dukun atau pawang, atau diri sendiri, untuk menandingi kekuatan gaib yang lain (Sumarlina, 2012 & Salah satu tujuan perawatan dan penanggulangan antistunting dalam naskah, adalah agar kondisi di mana tinggi badan seorang AoanakAo tidak pendek dibanding tinggi badan orang lain seusianya, dalam arti Hal ini pun Contohnya bisa melalui berbagai macam cara yang dilakukan, seperti pemijatan terhadap ibu dan bayi sejak dilahirkan, memanfaatkan beragam TOGA ketika bayi atau anak sakit, yang diharapkan agar bayi/janin yang dikandung serta ibu hamil sehat dan kuat, tidak kekurangan suatu apapun selama kehamilan dan saat sang ibu melahirkan. Antistunting terungkap dalam manuskrip mantra pengobatan, di antaranya berjudul: . Mantra. Asihan, jeung Jampe. 2 Mantra. Mantra Jeung Jampe, . Kumpulan Jampe jeung Mantra Sejenna, dan . Rajah jeung Mantra (Sumarlina, 2. Sementara itu, manuskrip yang juga secara khusus berkaitan erat dengan mantra tentang cara menangani, merawat, dan mengobati penyakit, terdapat dalam manuskrip Mantra Pengobatan. Sanghyang Titisjati Pralina dan manuskrip Tatamba. Berikut ini beberapa judul mantra pengobatan yang dijadikan data untuk mengkaji antistunting, yang disajikan melalui tabel 1 pada Usaha dan upaya pencegahan, pemeliharaan, dan penanggulangan stunting yang terungkap dalam manuskrip, khususnya isi naskahnya, baru dalam tahap identifikasi, mendata, mengkaji, dan mendeskripsikan tanaman obat sesuai dengan jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak Ada upaya yang sudah dilakukan oleh Dispusipda Jabar pada tahun 2020. Penelitian yang dilakukan selama tiga bulan, hanya tahap digitalisasi naskah secara kodikologi melalui perekaman dan pengalihan media ke dalam bentuk CD, dan disebarkan secara terbatas. Meskipun yang juga dijadikan sumber data dalam tulisan ini. Bagaimana mencegah dan merawat bayi sejak dalam kandungan hingga remaja, agar anak tidak gagal tumbuh kembang dalam manuskrip Mantra Pengobatan. Sanghyang Titisjati Pralina dan manuskrip Tatamba? Adakah kiat dan keterjalinan antara manuskrip Sanghyang Titisjati Pralina. Tatamba dengan manuskrip mantra pengobatan dan TOGA, dalam upaya penuntasan Stunting bagi Generasi Z, sesuai dengan jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatannya? Apa manfaat dan kegunaan kajian ini bagi bidang ilmu lain secara Keterjalinan Mantra. TOGA, dan antistunting tampak dalam contoh mantra Asihan, yang berjudul Pangasihan. Pada teks mantra berikut ini dapat disimak, bahwa bulan pertama atau ketika seorang perempuan sudah terlambat haid, itu merupakan salah satu tanda bahwa Dia Saat itu. Paraji AoDukun BeranakAo, mulai memeriksa keadaan Aoibu hamilAo sambil membaca, berupa Asihan. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Tabel 1 Teks-teks Judul Mantra Pengobatan MANTRA FUNGSI PENGOBATAN Ngajampy Nu Ibu Hamil dan bayi yang dikandung sehat, kuat, dan selamat. Kakandungan hingga dilahirkan. Jampy Tujuh Janin dalam kandungan sehat dan selamat, hingga dilahirkan. Bulanan Sesuai dengan harapan orang tuanya Jampy Orok Medal Janin yang dikandung, segera keluar, dan Ibu Hamil serta bayinanya selamat, sehat, dan sempurna, tidak kekurangan Jampy ngalahirkeun Janin yang dikandung, diharapkan segera keluar sesuai waktunya, dan Ibu Hamil serta bayinanya selamat, sehat, dan sempurna, tidak kekurangan apapun. Jampe Motong Tali Agar tali ari-ari yang dipotongnya sempurna Ari-Ari Jampy Ngaranan Anak yang dilahirkan dan diberi nama agar selamat, sentaisa, dan Orok selalu dilindungi Ajian Ngawatek Agar anak yang dijampi kelak menjadi anak yang sehat, baik, pintar, kuat, dan berbakti kepada orang tuanya. Jampy Orok Ceurik Agar anak yang menangis menjadi diam, biasanya diobati dengan TOGA, sesuai dengan gejala yang tampak Jampy Ratu Asihan Anak yang dijempinya sehat, kuat, disukai orang banyak Ngajampy Ibu hamil yang telah melahirkan, dijampi agar segera melahirkan Kandungan nu Elat bayinya, dengan selamat, tanpa gangguan apapun. Lahir Ajian Geni Agar anak yang dilahirkan kuat, sehat, tidak mudah diganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan Jampy Meuseul Agar tulang-tulang bayi yang baru lahir kuat, tidak bengkok. Orok menghindari stunting. Anak menjadi sehat dan kuat Jampy Lamun Orok Agar anak yang sakit panas, cepat sembuh, biasanya Haryyng menggunakan TOGA agar cepat sembuh Jampy Marasan Agar bayi sehat, kuat, banyak rejeki, disukai orang banyak, panjang umur Jampy Teu Agar bayi/anak tidak diganggu mahluk halus, dan tidurnya Diganggu Lelembut nyenyak Jampy Cacingeun Agar anak balita terhindar dari penyakit cacingan, dan untuk menyembuhkan anak yang terkena cacingan agar sehat Jampy Nyybor Untuk mengurangi sakit anak penderita cacar, dan agar Cacar penyakitnya cepat sembuh Jampy Nyunatan Agar anak yang disunat tidak merasakan sakit, dan cepat sembuh Jampy Tampek Jampy Ticengklak Jampy Nyeri Beuteung Jampy Nyapih Nyusu Jampy Hurip Waras NO. Jampy Ludeungan. Ruatan. Nincak Bumi. Untuk mengurangi anak yang terkena tampek, dan penyakitnya cepat sembuh Agar tulang dan organ tubuh bayi atau balita kembali ke asalnya/sembuh. Meluruskan tulang dan otot yang terkilir Untuk menyembuhkan sakit perut, agar anak penderita sakit cepat sembuh Agar bayi atau anak berhenti menyusu, memindahkan perhatian anak terhadap susu, dan beralih ke minuman /makanan lainnya Agar bayi/anak tetap sehat, kuat, dan tumbuh sesuai dengan Agar tidak menjadi anak yang penakut, berani menghadapi tantangan di segala bidang Agar anak tunggal atau anak laki-laki/perempuan yang hanya semata wayang panjang usia, tidak sakit-sakitan, murah rejeki, dan menjadi anak yang sukses Agar anak cepat bisa berjalan, dan memulai kehidupan yang lebih luas. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Pangasihan Bismilah, aing nyaho asal sia, cai jadi getih, tys tumytys nyaian sia banjir tytys, sabulan ngalangkang hyrang, dua bulan ngagenclang hyrang, tilu bulan keur gumulung opat bulan sarykamaya, lima bulan sang idung manah, genep bulan sang indung ileung, tujuh bulan sirah medal, dalapan bulan sang hagrang hampang, salapan bulan sri rumega kancana, sing tumetep. dina asuhan ambu, nya aing ratu asihan, sa dzat he hulailahaileloh. Muhammadarosululoh. (Sumarlina, dkk. Teks Asihan AopengasihAo tersebut, menyebutkan tahapan usia dan posisi/keadaan bayi dalam kandungan, dari mulai AodibuahiAo sampai sembilan bulan. Asihan dimaksud, untuk mengingatkan bahwa wanita itu sedang mengandung, sehingga harus lebih berhati-hati serta harus menjaganya janinnya dengan baik. Ada tradisi jika ibu hamil hendak bepergian, maka Ia harus membawa peralatan, seperti koneng AokunyitAo, panglay, jaringao, bawang putih dan bawang merah, pisau kecil, dan gunting kecil, yang ditusuk dengan penitih besar . imasukkan ke dalam kanjut kundang Aotempat dari kain yang ujungnya menggunakan tali. Hal itu dipercayai bahwa barang-barang yang disebutkan tadi, untuk menjaga agar kandungannya tidak diganggu makhluk halus. Pemakaian peralatan dimaksud, berlangsung hingga melahirkan. Andai diteliti secara saksama, bahanbahan yang ada dalam kain tersebut untuk berjaga-jaga jika bayi masuk angin, maka ibu hamil segera memotong panglay dan jaringao, kemudian dioleskan ke dahi atau badan bayi agar terasa hangat. Hal ini juga berdampak demi kesehatan janin yang sedang dikandungnya, agar tetap sehat, dan dilahirkan dengan selamat. Adapun peralatan yang digunakan hanya sebagai simbol saja, yang dapat digunakan jika keadaan Berikut ini disajikan Jampy Tujuh Bulan. Jampy tersebut dibacakan ketika ibu hamil sedang dipijat oleh Paraji Aodukun beranak, yang sebelumnya Ibu hamil dimaksud dimandikan oleh orang tua dan sanak saudaranya, melalui adat dan tradisi nujuh bulan. Disediakan kendi berisa air dan AobelutAo untuk dikeluarkan oleh AocalonAo ayahnya, serta tujuh macam air dan bunga-bungaan, ditambah jambe mayang, minyak kasturi, juga dawegan untuk dibelah. Tradisi itu dilaksanakan agar bayi yang dikandung sehat dan kuat. Pemijatan ibu hamil, menggunakan Aominyak keletikAo. Sehabis dipijat, ibu hamil tersebut meminum ramuan yang dibuat oleh paraji, terdiri dari koneng AokunyitAo, asem Jawa, ciseureuh Aoair sirihAo, dan TOGA lainnya ditambah minyak keletik, agar lancar ketika melahirkan, bayi juga ibunya sehat. Doa Nujuh bulan pun ditujukan agar bayi yang dikandung, mau laki-laki ataupun perempuan, diharapkan tampan atau cantik, serta sempurna. Tidak diganggu makhlus halus, sehat, cantik, tampan, dan sempurna. Ketika nujuh bulanan, biasanya ibu hamil membagikan rujak kepada orang yang hadir pada acara tersebut. Jampy Tujuh Bulan Bismillah. Nyi Gandru Nyi Bungsu. Nyi Bangbang tyga sang kuntil, di mana koro kuro ulah sirik pidik jail kaniaya, opygawy cecekelan aing, kabupatyn aing tempat sia di Pakuan Pajajaran, jung indit ka sabrang ka Palymbang ulah ganggu kula jeung anak kula, jagjag indung jagjag utun inji, hurip waras anaking. kasyp geulis utun inji. SampurnaAsampurnaning isun sahadatA (Sumarlina, dkk. Ketika janin sudah menginjak sembilan bulan, dan sudah saatnya dilahirkan. Paraji Aodukun beranakAo membacakan jampe, dengan tujuan agar bayi yang dilahirkan mudah dan cepat keluar, layaknya belut putih, apabila dipegang melesat keluar dengan selamat dan sempurna, baik lahir maupun batin. Sebagaimana terungkap dalam Jampy Orok Medal. Teks mantra (Jamp. untuk melahirkan sebenarnya ada beberapa dan teksnya bermacammacam. Namun hanya satu yang dijadikan Selain itu, ada juga Jampy jika bayi sulit dilahirkan/telat dilahirkan. Paraji membacakan jampe sambil mengusap perut ibu hamil agar bayi yang dikandungnya cepat keluar, dan memberi minum air kelapa hijau dan minyak keletik. Saat dilahirkan. Paraji memotong tali ari-ari Aotali pusarAo, dan membacakan jampy, agar ibu dan anak selamat dan panjang umur. Menurut adat dan tradisi, bali bayi dikubur di dekat rumah. Sementara tali pusar biasanya disimpan di dalam Aokanjut kundangAo dasatukan bersama barang lainnya, seperti: koneng, panglay, jaringao, serta gunting, pisan berukuran kecil. Benda-benda tersebut berguna saat bayi sakit atau diaganggu Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 oleh makhluk halus dan ketika hareeng Aosakit panasAo. Biasanya orang tuanya yang membacakan jampenya agar bayinya tidak diganggu dan panasnya turun, karena diobati, berupa bawang merah dicampur asem, dan minyak keletik yang diusapkan ke badan si bayi. Ada tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sunda jaman dahulu, ketika bayi sudah dilahirkan, lalu diberi nama. Bisasanya sambil membuat bubur merah dan bubur putih. Kupat. Lontong, tangtang angin. Nasi, ikan, dan telur. Pemberian nama dibarengi dengan dijampy. Setelah dijampe, lalu membakar menyan. Seorang bayi atau anak terkadang mengalami ticengklak Aokesalahan gerakAo, khususnya berkaitan dengan bagian kepala atau leher, atau lebih parahnya ada yang sampai terkilir karena jatuh sampai potong. Saat itu bayi biasanya menangis terus menerus. Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya bayi dipijat oleh Paraji untuk meluruskan urat-urat leher sang bayi, pijatan dan usapan tangan menggunakan minyak keletik dicampur tumbukan daun kayu putih sambil membacakan jampe. Untuk mengobati luka akibat jatuh, biasa ditambah dengan menggunakan jukut AorumputAo palias. Masalah ini mungkin ada hubungannya dengan antistunting, karena masalah tulang memiliki peran penting. Dalam teks naskah mantra Sunda, kepedulian terhadap pertumbuhan anak sangat diperhatikan, salah satunya seperti yang diulas di Ada jampe yang digunakan apabila anak laki-laki yang disunat, agar anak yang disunat tidak merasakan sakit yang berlebihan, maka paraji sunat biasanya membacakan Jangjawokan Sunat. Di samping itu, perawatan yang dilakukan juga berkaitan dengan Tanaman Obat Keluarga, termasuk persyaratan sunatnya. Masalah antistunting yang terkuak dalam naskah Sunda, melalui Mantra khususnya asihan, ajian, jampy, jangjawokan, pylyt, rajah, dan singlar . eskipun tidak semua Mantra dibahas dalam tulisan in. , ada andil besar tanaman obat tradisional atau tanaman obat keluarga (TOGA) yang berperan membantu mengobati dan setidaknya dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak, agar sehat dan tidak terkena sunting (Sumarlina, 2023. Sumarlina, 2. Hubungan Pencegah dan Penanggulangan stunting dengan Tanaman Obat Tradisional Kiprah orang tua untuk memberikan asupan gizi yang baik kepada putra-putrinya agar tetap sehat, peran nutrisi juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Makanan sehat yang diberikan kepada anak, tidak melihat mahalnya sebuah penganan, tapi dari makanan yang sesuai dengan kesehatan si anak, yang bergizi serta memiliki berbagai vitamin. Orang tua, khususnya Ibu, sebagai garda terdepan, yang harus merawat, mengurus, dan mendidik anak harus mampu memenuhi kebutuhan gizi anak melalui tanaman tradisional, yang tersedia di sekeliling rumah, termasuk menyediakan dapur hidup dan apotik hidup, untuk memudahkan jika diperlukan secara darurat. Hal ini penting karena anak harus tetap sehat dan kuat, khususnya yang berkaitan dengan kekebalan dan imunitas anak. Untuk meningkatkan keadaan seperti itu, dibutuhkan TOGA yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh, terutama saat terjadi Pandemi Covid-19, yang tentu saja berkaitan dengan kesehatan bayi, anak, dan remaja. Hasil penelitian (Sumarlina,dkk, 2. diperoleh data bahwa terdapat lebih dari 250 jenis tanaman yang digunakan sebagai obat. Dalam naskah Mantra, diketahui bahwa tanaman obat tersebut digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan dan masalah kesehatan, dengan penggunaan topikal . bat lua. maupun oral . seperti: Nyeri, demam dan pilek/ infeksi saluran pernafasan. Gangguan pencernaan. Gangguan kejiwaan. Gangguan anatomis dan trauma/kecelakaan. Gangguan THT. Gangguan saluran kemih/kencing batu. Gangguan nafsu makan (Sumarlina, 2017 & 2018 & 2. Naskah Sunda Kuno mengungkap bahwa tanaman obat memiliki peran dalam mengatasi berbagai keluhan dan masalah kesehatan, namun perlu diketahui bahwa efek tersebut tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Tanaman yang sama bisa jadi memberikan efek yang berbeda karena kandungan zat aktif dalam tanaman bisa berbeda tergantung tempat tumbuh dan iklim, umur tanaman, dan cara pemanenan. Selain itu faktor manusia yang menggunakannya juga bisa menyebabkan efek yang berbeda seperti, faktor genetik/ras, kebiasaan atau kultur setempat yang bisa membedakan cara penggunaan di satu daerah dengan daerah yg lain, seperti makanan pokok/ makanan lain yang biasa dikonsumsi, bumbu atau rempah tertentu. Fakta ini menjadi dasar diperlukannya penelitian dan standarisasi bahan alam sebelum menjadikannya sebagai herbal terstandar dan fitofarmaka. Selain itu, suatu tanaman dikategorikan sebagai tanaman obat bila terbukti memiliki efek dalam mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau dapat memodifikasi fungsi tubuh, mempengaruhi sistem imun atau metabolisme serta digunakan sebagai sarana diagnosis. Dalam hal ini diperlukan uji efek dan uji toksisitas atau keamanan dari tanaman obat tersebut. Efektivitas Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting dalam Manuskrip Sunda Kuno (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 dan efesiensi TOGA dan Tanaman Obat Tradisional, akan berhasil kalau penggunaan jenis tanaman, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatannya benar dan tepat Namun, jika kelima faktor tersebut diabaikan, kemungkinannya jadi tidak efektif, malah menjadi kontradiktif. Kita juga harus memperhatikan peraturan pemeruntah tentang TOGA, sesuai dengan FROTI (Dorly, 2005. Sumarlina, dkk. Pedoman pada FROTI ini sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan dan terhindar dari efek sampingnya. Secara umum keterangan tanaman obat, kegunaan dan cara penggunaan tanaman obat yang beredar di masyarakat berdasarkan cerita turun temurun dan testimoni, namun testimoni tidak dapat dipakai sebagai dasar karena ada pengaruh subjektivitas, ada pengaruh faktorfaktor respon individu yang diakibatkan perbedaan anatomi, fisiologi, biokimia maupun secara genetiknya, sehingga respon tiap orang bisa berbeda, misal bermanfaat untuk seseorang namun bukan mustahil malah berefek sebaliknya untuk orang lain (WHO, 2003. Sumarlina, dkk, 2. Hasil kajian terhadap obat-obatan tradisional dalam naskah, terungkap bahwa Jenis tanaman obat yang ditemukan dalam naskah mantra sesuai dengan yang tertera pada pedoman FROTI, damun belum ada keterangan yang memadai pada naskah Mantra tentang kesesuaian cara mengidentifikasi jenis tanaman obat, cara penggunaan dan efek sampingnya seperti yang dijelaskan pada FROTI. SIMPULAN Manuskrip adalah dokumen budaya yang menjadi wahana ilmu pengetahuan dan referensi literasi bagi ilmu lain secara multidisiplin. Khususnya, teks manuskrip antistunting yang terkuak dalam teks Mantra Pengobatan, melalui Tanaman Obat Keluarga, yang secara khusus terungkap dalam mantra asihan, ajian, jampe, rajah, dan Singlar. Pemanfaatan teks mantra pengobatan, digunakan melalui cara merawat, memelihara, dan menanggulangi anak sejak dalam kandungan hingga remaja, juga kaitannya dengan fungsi TOGA yang terungkap dalam teks mantra dimaksud. Tujuannya agar bayi dalam kandungan, saat dilahirkan, hingga anak-anak, selamat dan sehat, terhindar dari stunting. Tulisan ini setidaknya dapat menjadi referensi literasi dan pegangan untuk generasi Z. Stunting sangat berkaitan dengan peran seorang AoIbuAo, karena Ibu merupakan garda terdepan dalam pendidikan informal, dalam upaya mengurus, mengasuh, membimbing, dan mendidik anak, agar sehat dan kuat, terbebas dari Keterjalinan Mantra, khususnya mantra asihan dan jampy, juga TOGA yang terungkap dalam Manuskrip Pengobatan, memiliki peran dan fungsi yang sangat penting bagi masyarakat adat, sebagai solusi penyehat tradisional, dalam upaya pencegahan dan meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan dan daya tahan tubuh terhadap berbagai virus, bakteri, dan kuman, yang erat kaitannya dengan pengentasan stunting. DAFTAR PUSTAKA