Volume 7. Nomor 2, 2026, hlm 435-446 Jurnal Terapan Teknik Industri ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 https://jurnal. id/index. php/jenius Implementasi metode objective matrix untuk mengevaluasi produktivitas produk selai cokelat di PT. Abadi Boga Sentosa Implementation of the Objective Matrix Method to Evaluate Chocolate Jam Product Productivity at PT. Abadi Boga Sentosa Khasbunalloh*. Aod Abdul Jawad *Universitas Pamulang. Tangerang Selatan. Banten. Indonesia *Email: dosen00921@unpam. Informasi Artikel Histori Artikel Artikel dikirim 06/02/2026 Artikel diperbaiki 01/03/2026 Artikel diterima 26/03/2026 Abstrak PT. Abadi Boga Sentosa merupakan perusahaan yang memproduksi makanan siap saji berupa selai cokelat untuk roti. Dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat, perusahaan dituntut untuk terus meningkatkan produktivitas produksi agar tetap kompetitif. Permasalahan yang terjadi di perusahaan adalah adanya penurunan produktivitas yang ditandai dengan ketidaksesuaian standar produk, yaitu selai cokelat yang mengental dan menempel pada dinding tangki produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab penurunan produktivitas serta mengukur tingkat produktivitas perusahaan berdasarkan beberapa kriteria utama agar dapat menjadi dasar evaluasi dan perbaikan kinerja Metode yang digunakan adalah Objective Matrix (OMAX), yaitu metode pengukuran produktivitas dengan menghitung rasio dari masingmasing kriteria serta menilai indikator performansi. Data yang digunakan merupakan data produksi selama tiga bulan yang diperoleh dari arsip perusahaan dan wawancara langsung dengan kepala gudang serta bagian PPIC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai produktivitas meningkatkan dua peringkat skor dengan kenaikan produktivitas sebesar 25,73%. Simpulan yang didapat PT. Abadi Boga Sentosa terjadi penurunan produktivitas terutama dipengaruhi oleh tingginya tingkat defect pada proses produksi. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi bahan baku, optimalisasi mesin, serta pengendalian kualitas produk. Kata Kunci: Objective matrix. kriteria produktivitas. Abstract PT. Abadi Boga Sentosa is a company that produces ready-to-eat food in the form of chocolate spread for bread. In facing increasingly fierce market competition, the company is required to continuously increase production productivity to remain competitive. The problem that occurs in the company is low productivity characterized by non-conformity to product standards, namely chocolate spread that thickens and sticks to the walls of the production tank. This study aims to identify the causes of the decline in productivity and measure the company's productivity level based on several main criteria to become the basis for evaluating and improving production The method used is the Objective Matrix (OMAX), which is a method of measuring productivity by calculating the ratio of each criterion and assessing performance indicators. The data used is production data for three months obtained from company archives and direct interviews with the warehouse head and PPIC department. The results of the study show that the JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. 436 Khasbunalloh. Aod Abdul Jawad Implementasi metode objective matrix untuk mengevaluasi produktivitas produk selai cokelat di PT. Abadi Boga Sentosa productivity value for raw material criteria is 0. 9%, machine capacity is 854%, and the defect rate is 41. The high defect rate is the dominant factor in the decline in productivity. The conclusion obtained by PT. Abadi Boga Sentosa is a decline in productivity mainly influenced by the high level of defects in the production process. Therefore, companies need to carry out continuous evaluation and improvement to increase raw material efficiency, machine optimization, and product quality control. Keywords: Objective matrix. productivity criteria. Pendahuluan Ketatnya persaingan dalam dunia industri semakin memacu perusahaan manufacturing untuk meningkatkan terus menerus hasil produksinya dalam bentuk kualitas, harga, jumlah produksi, pengiriman tepat waktu, dengan tujuan yang lebih nyata . , . Oleh sebab itu, setiap perusahaan harus berusaha mengefisiensikan dan mengefektifkan kinerja dari perusahaannya sehingga dapat menghadapi persaingan tersebut. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keunggulan dalam bersaing adalah faktor-faktor internal perusahaan. Faktor internal ini sebenarnya cenderung dapat dikendalikan dibandingkan faktor eksternal perusahaan . , . Secara umum faktor- faktor internal tersebut adalah faktor yang menyangkut kinerja dari input atau sumber daya yang digunakan dan kinerja dari proses serta kinerja dari output atau keluaran yang dihasilkan dari proses. Untuk melakukan pengendalian faktor-faktor internal tersebut diperlukan suatu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur atau menilai dan mengevaluasi kinerja dari faktor-faktor internal tersebut . , . Parameter yang dapat digunakan yaitu tingkat produktivitas dari suatu sistem, yang secara sistematis merupakan rasio antaroutput dari sistem terhadap input . , . Salah satu metode pengukuran produktivitas yang dapat digunakan adalah metode Objective Matrix (OMAX) . Ae. Metode OMAX merupakan analisis produktivitas parsial yang dikembangkan untuk memantau produktivitas di setiap bagian perusahaan dengan menggunakan kriteria produktivitas yang sesuai dengan karakteristik masing-masing bagian tersebut . Metode OMAX mengukur produktivitas dengan menilai kinerja tiap bagian perusahaan secara objektif, serta sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor penyebab penurunan produktivitas apabila ditemukan. Kelebihan metode OMAX adalah sifatnya yang relatif sederhana dan mudah dipahami, sehingga memudahkan perusahaan dalam mengimplementasikan dan melakukan evaluasi produktivitas secara menyeluruh . , . Perusahaan PT. Abadi Boga Sentosa ini pertama kali didirikan pada tahun 1988 di Cimanggis Km. 37 sebagai perseorangan dengan nama Astare, yang kemudian diresmikan menjadi CV . rti Belanda untuk persekutuan terbata. Abadi Boga Sentosa pada tahun 2006. PT. Abadi Boga Sentosa adalah industri pangan yang memproduksi selai roti, selai cokelat. VITA adalah merek dagang yang dimiliki PT. Abadi Boga Sentosa yang mengutamakan kualitas tinggi, keamanan produk dan lingkungan hidup. PT. Abadi Boga Sentosa dalam kegiatan produksinya terkadang mengalami hasil produktivitas yang kurang efisien atau penurunan produktivitas dikarenakan hasil selai yang diproduksi mengalami pembuihan pada awal dan akhir proses filling disebabkan oleh rotary scraper yang terlalu cepat perputarannya. Dalam periode 1 Tahun yang peneliti ambil berdasarkan permasalahan yang terjadi. Bulan Januari Februari Maret April Mei Tabel 1. Data bahan baku, produktivitas mesin dan defect. Kapasitas Output Selisih Bahan Baku Output Selisih Mesin Defect ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Bulan Bahan Baku Output Selisih Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Kapasitas Mesin Selisih Defect Output Berdasarkan Tabel 1 didapatkan informasi bahwa tingkat cacat terlalu tinggi dan melebihi batas minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya penurunan produktivitas yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian standar berupa produk selai mengental yang menempel pada dinding tangki. Metode Lokasi Penelitian di PT. Abadi Boga Sentosa. Data Penelitian ini diperoleh dari data bulan Januari 2022 sampai Desember 2022 dan Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari 2022 sampai dengan Desember 2022. Jenis penelitian ini termasuk kedalam penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan 2 jenis data yaitu: . Data Primer: Data Primer adalah data yang langsung dikumpulkan peneliti atau petugasnya dari sumber pertamanya. Adapun yang menjadi sumber data utama dalam penelitian ini adalah botol dan produk jadi yang mengalami pemborosan. Data Sekunder: Data Sekunder adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang dari sumber pertamanya. Dapat juga data yang tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen. Metode objective matrix (OMAX) Matriks objektif (OMAX) adalah sistem pengukuran produktivitas parsial yang dikembangkan untuk memantau produktivitas di setiap bagian perusahaan dengan kriteria produktivitas yang sesuai dengan keberadaan . bagian tersebut. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Dr. James L. Riggs (Departemen Teknik Industri. Oregon State Universit. Model pengukuran ini memiliki karakter yang unik dimana kriteria kinerja kelompok kerja digabungkan menjadi sebuah matriks. Setiap kriteria kinerja memiliki tujuan berupa jalur khusus menuju menu perbaikan dan bobot sesuai tingkat kepentingan tujuan produktivitas. Gagasan utama Omax adalah menggabungkan beberapa kriteria kinerja dalam sebuah matriks. Semua indikator kinerja diberi bobot menurut tingkat kepentingannya terhadap sasaran produktivitas perusahaan secara keseluruhan . , . Susunan model objective matrix terdiri dari beberapa bagian, yaitu (Rigg. : Kriteria produktivitas, kegiatan dan faktor yang mendukung produktivitas unit kerja yang sedang diukur produktivitasnya, dinyatakan dengan perbandingan . Tingkat pencapaian, dilakukan pengukuran untuk memantau besarnya pencapaian performansi untuk setiap kriteria. Keberhasilan tersebut kemudian diisikan pada baris performansi yang tersedia untuk setiap kriteria. Sel-sel skala matriks, sebelum menentukan selsel matriks, terlebih dahulu menentukan level 3 standar . ata-rat. , level 0 . erformansi terburu. , dan level 10 . erformansi terbai. Score, merupakan nilai level dimana nilai pengukuran produktivitas . Weight, setiap kriteria yang telah ditetapkan mempunyai pengaruh yang berbeda pada tingkat produktivitas yang diukur. bobot yang menyatakan derajat kepentingan yang menunjukkan pengaruh relatif kriteria tersebut terhadap produktivitas unit kerja yang diukur. Value, nilai dari pencapaian yang berhasil diperoleh untuk setiap periode tertentu diperoleh dengan mengalikan skor pada kriteria tertentu dengan bobot kriteria tersebut. Indeks, merupakan hasil penjumlahan antara value dari semua indikator. Performance indicators, pada bagian ini terdapat tiga bagian. Current, yaitu jumlah nilai dari kriteria pengukuran pada saat ini. Previous, yaitu jumlah dari pengukuran sebelumnya. Indeks Produktivitas (IP), yaitu perbandingan antara periode yang diukur dengan periode sebelumnya untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan atau penurunan produktivitas. Rancangan matrix (OMAX) 438 Khasbunalloh. Aod Abdul Jawad Implementasi metode objective matrix untuk mengevaluasi produktivitas produk selai cokelat di PT. Abadi Boga Sentosa Dalam penyusunan matriks OMAX, ada tiga langkah utama yang harus dilakukan. Defining: Langkah ini dilakukan pendefinisian dari kriteria produktivitas yang ingin diteliti. Kriteria ini sebaiknya independen dan mudah diukur. Ukuran/dimensi, yang berkaitan dengan volume dan waktu, harus ditetapkan dengan baik. Cara pengukuran dan pengambilan data juga harus ditetapkan. Kriteria Produktivitas, kriteria yang menjadi ukuran produktivitas pada bagian atau departemen yang akan diukur produktivitasnya, dan kriteria produktivitas sebaiknya lebih dari satu. Performansi, nilai tiap produktivitas yang sebenarnya berdasarkan pengukuran selama periode yang ditetapkan. Perhitungan kriteria dan rasio pengukuran produktivitas yang digunakan. )=% '(( " !# % ' ( )=% ' ( Quantifying, badan dari matriks yang berisi tentang tingkat pencapaian dari kriteria produktivitas. Matriks-matriks ini memiliki beberapa skala penilaian, antara lain . , . Level 10, berisi tingkat pencapaian realistis optimal yang mungkin dicapai. Level 3, berisi tingkat performansi pada waktu awal pengukuran. Level 0, berisi tingkat pencapaian terburuk yang mungkin terjadi. Diantara level 0 sampai level 10 terdapat level 1-9, yang berisi kisaran pencapaian dari nilai terjelek sampai nilai optimal. Level 1 dan 2 diperoleh dari interpolasi nilai level 0 dan 3, dan level 4-9 diperoleh dari interpolasi nilai level 3 dan 10. Anggota dari grup kerja yang dibentuk seharusnya berpartisipasi dalam penetuan level-level Monitoring pada dasarnya matriks adalah perhitungan dari performance indicator . ndikasi unjuk kerj. , hasil dari perhitungan ini terletak dibagian paling bawah dari matriks. Pengamatan terdiri dari: Score (Sko. : Nilai level dimana nilai pengukuran produktivitas berada. Misalnya, jika output/jam sama dengan 100 terletak pada level 5, maka skor untuk pengukuran itu adalah 5. Jika terdapat pengukuran yang tidak tepat sesuai dengan angka pada matriks, maka harus dilakukan pembulatan ke bawah. Weight (Bobo. : Besarnya bobot dari setiap kriteria mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap tingkat produktivitas yang diukur, maka dari itu perlu dicatat prosentase. total produktivitas. Bobot ini yang nantinya akan diukur menggunakan metode AHP. Value (Nila. : Nilai yang dihasilkan dari perkalian skor pada kriteria tertentu dengan bobot kriteria . Performance Indicators, pada bagian ini terdapat tiga bagian, yaitu : Current = jumlah nilai semua kriteria pengukuran. Previous = Jumlah pengukuran sebelumnya Indeks Produktivitas (IP) = perbandingan antara periode yang diukur dengan periode sebelumnya . ntuk mengetahui apakah terjadi peningkatan atau penurunan produktivita. menggunakan ' , -# " ) = y 100% . , -# " IP = Indeks produktivitas (Productivity inde. Current = Nilai kriteria saat pengukuran Previous = Nilai kriteria periode sebelumnya Hasil dan Pembahasan Perhitungan tingkat produktivitas tiap kriteria . ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Tingkat produktivitas bahan baku didapat dari rasio jumlah output produk dengan jumlah pemakaian bahan baku atau input. Untuk mengetahui jumlah produktivitas bahan baku dengan cara: Pada bulan januari terdapat total pengeluaran bahan baku sebanyak 217. 648 dengan produk yang dihasilkan 741, nilai 0,926 dihasilkan dari: Data bahan baku yang digunakan selama bulan Januari sampai bulan Desember 2022, pada Tabel 2. Tabel 2. Produktivitas bahan baku. Bulan Oc Output Oc Bahan Baku Produktivitas Januari 0,926 Februari 0,917 Maret 0,906 April 0,922 Mei 0,929 Juni 0,913 Juli 0,930 Agustus 0,911 September 232. 0,909 Oktober 0,923 November 212. 0,927 Desember 0,909 Average 0,918 Max 0,930 Min 0,906 Tabel 2 menunjukkan produktivitas berdasarkan perbandingan output terhadap penggunaan bahan baku setiap bulan. Rata-rata produktivitas selama satu tahun sebesar 0,918, yang menunjukkan efisiensi penggunaan bahan baku cukup baik dan relatif stabil. Nilai produktivitas tertinggi terjadi pada Juli . , sedangkan terendah pada Maret . Fluktuasi yang terjadi tidak terlalu signifikan, berada pada rentang 0,906Ae0,930. Hal ini mengindikasikan bahwa proses produksi dalam pemanfaatan bahan baku berjalan cukup konsisten. Namun demikian, tetap diperlukan pengendalian dan evaluasi berkala untuk meminimalkan pemborosan bahan baku serta menjaga stabilitas output agar produktivitas tetap optimal sepanjang periode produksi. Untuk nilai 0,926 dijadikan nilai nilai awal skor 3 di tabel perhitungan OMAX pada tiap bulannya untuk kriteria 1, sedangkan nilai terendah merupakan nilai dengan pencapaian terburuk yang pernah dicapai dalam periode dasar sebesar 0,906. Produktivitas kapasitas mesin Tingkat produktivitas jam kerja perusahaan diperoleh dari rasio antara jumlah output produk dengan jumlah hari kerja . Untuk mengetahui bagaimana cara menghasilkan perhitungan produktivitas pada kapasitas mesin dengan cara: Data tentang kapasitas mesin digunakan selama periode 1 . ulan Januari 2022 sampai dengan bulan Desember periode 1 tahun , dapat dilihat pada Tabel 3. Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Tabel 3. Produktivitas kapasitas mesin. Oc Output Oc Kapasitas Mesin Produktivitas 0,880 0,787 0,874 0,881 0,866 0,869 0,750 0,749 0,987 0,984 0,886 0,874 Average 0,865 440 Khasbunalloh. Aod Abdul Jawad Implementasi metode objective matrix untuk mengevaluasi produktivitas produk selai cokelat di PT. Abadi Boga Sentosa Bulan Oc Output Oc Kapasitas Mesin Produktivitas Max Min 0,987 0,750 Tabel 3 menunjukkan produktivitas bulanan berdasarkan perbandingan total output dan kapasitas Nilai produktivitas berfluktuasi sepanjang tahun dengan rata-rata sebesar 0,865. Produktivitas tertinggi terjadi pada September . dan Oktober . , yang menunjukkan pemanfaatan kapasitas mesin hampir optimal. Sebaliknya, produktivitas terendah terjadi pada Juli . dan Agustus . , mengindikasikan adanya penurunan output dibanding kapasitas tersedia. Secara umum, kinerja produksi cukup stabil di kisaran 0,86Ae0,88, namun terdapat periode penurunan signifikan di pertengahan Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap faktor operasional seperti efisiensi mesin, perencanaan produksi, atau potensi gangguan proses. Untuk nilai 0,880 dijadikan nilai nilai awal skor 3 di tabel perhitungan OMAX pada tiap bulannya untuk kriteria 1,sedangkan nilai terendah merupakan nilai dengan pencapaian terburuk yang pernah dicapai dalam periode dasar sebesar 0,750. Produktivitas defect Produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi sehingga tidak mencapai standar kualitas yang ditentukan, tidak dapat dikerjakan ulang . dan memiliki nilai jual yang rendah sebagai nilai sisa . isposal valu. Jumlah defect dihasilkan dari produk cacat per hari dikalikan dengan jumlah hari kerja dalam satu bulan produksi. Menunjukkan pencapaian hasil produksi perusahaan bila dilihat dari sudut akurasi dan kualitasnya dari output produksi seperti hasil produksi, hasil produk cacat, hasil produk baik, hasil produk yang mengalami perbaikan dan sebagainya. Rasio-rasio yang digunakan dalam kriteria. 5 '( !# 5 '( !# 6 # # Data tentang defect digunakan selama periode 1 . ulan Januari 2022 sampai dengan bulan Desember periode 1 tahun , dapat dilihat pada Tabel 4. Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Tabel 4. Defect produksi. Oc Aktual Oc Defect Produktivitas Average Max Min Tabel 4 menunjukkan produktivitas berdasarkan perbandingan jumlah aktual produksi terhadap defect setiap bulan. Rata-rata indeks produktivitas sebesar 170, dengan nilai tertinggi pada Oktober . dan November . , yang menunjukkan tingkat defect relatif rendah dibanding output. Sebaliknya, produktivitas terendah terjadi pada Juli . , sejalan dengan jumlah defect yang cukup tinggi. Secara umum terlihat bahwa semakin kecil jumlah defect, maka nilai produktivitas semakin meningkat. Fluktuasi ini menunjukkan pentingnya pengendalian kualitas dalam proses produksi. Upaya perbaikan seperti peningkatan pengawasan, standar kerja, dan maintenance mesin perlu dilakukan untuk menekan defect dan menjaga konsistensi produktivitas. Untuk nilai 112 dijadikan nilai nilai awal skor 3 di tabel perhitungan OMAX pada tiap bulannya untuk kriteria 1, sedangkan nilai terendah merupakan nilai dengan pencapaian terburuk yang pernah dicapai ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. dalam periode dasar sebesar 101. Penetapan Sasaran Jangka Panjang. Skala Interval, dan Skala Tingkat Tiap Kriteria (Quantifyin. Setelah mengetahui dasar-dasar penetapan jangka panjang, maka persentase yang ditentukan oleh pihak manajemen perusahaan: . Produktivitas bahan baku, yang menjadi sasarannya yaitu kenaikan output sebesar 10. Produktivitas kapasitas mesin, sasarannya adalah kenaikan output sebesar 10. 5 %. Produktivitas Defect, sasarannya adalah 45%. Dari pihak manajemen perusahaan menetapkan skor 0 sebagai tingkat pencapaian terburuk yang terjadi selama periode Dari hasil penetapan sasaran diatas, maka dapat dibuat tabel perhitungan dari tiap-tiap Skala tingkat tiap kriteria Kriteria Produktivitas Adalah kegiatan dan faktor-faktor yang mendukung produktivitas unit kerja yang sedang diukur produktivitasnya, dinyatakan dengan rasio. Kriteria ini berhubungan dengan faktorfaktor seperti ketepatan waktu, produksi, kualitas, keselamatan kerja, pemborosan, pertukaran tenaga kerja dll. Perhitungan Skala tingkat produktivitas Bahan baku Untuk mengetahui nilai pencapaian awal dapat diambil dari data bahan baku hasil perhitungan produktivitasnya yaitu sebesar 0,926 dan nilai tersebut dijadikan nilai awal skor 3 dengan skala tingkat awal dapat dihitung dengan cara pencapaian awal dikurangi skala interval, jika hasil skor tersebut setelah dikurangi skala interval hasilnya 0,926 tidak berada pada skala tingkat 3 maka harus mencari selisih perhitungan tersebut. Pada tabel perhitungan skala tingkat terdapat nilai 1,017 dihasilkan dari selisih antara hasil pengurangan target pencapaian dengan jumlah skala interval, dijelaskan. 1,023-0,006 = 1,017 maka pada skala tingkat menghasilkan 0,926. Skala interval bisa dicari dengan rumus. Nilai 7 didapatkan dari jumlah skor dikurangi hasil skor yang telah dihitung. Dari penetapan ini bahwa sasaran jangka panjang yang telah ditentukan oleh manajemen, maka dapat dihitung skor atau skala tingkat seperti tampak pada Tabel 5. Skala Interval ) = # ' & <= . ,>8< . ,BB. = 0,013 Tabel 6. Perhitungan skala tingkat produktivitas kapasitas mesin. Pengisian Kolom Skor Skor Skala Tingkat Pencapaian Awal = 0,880 0,971 Akan naikan = 10,5 0,958 100% 10,5% = 110,5 0,945 110,5% x 0,880 = 0,972 0,935 0,919 0,906 0,893 0,880 0,867 0,854 0,841 Tabel 6 menunjukkan proses pengisian kolom skor pada metode OMAX berdasarkan pencapaian awal produktivitas sebesar 0,880. Target peningkatan ditetapkan sebesar 10,5%, sehingga nilai sasaran menjadi 0,972 . ,5% y 0,. Skala tingkat kemudian disusun dari skor 0 hingga 10, dengan rentang nilai produktivitas antara 0,841 sampai 0,971. Skor 3 merepresentasikan kondisi awal . , sedangkan skor 10 mendekati target maksimum . Penyusunan skala ini bertujuan untuk memudahkan evaluasi kinerja dan mengukur tingkat pencapaian produktivitas secara bertahap. Dengan sistem skor, manajemen dapat memantau peningkatan atau penurunan kinerja secara lebih terstruktur dan kuantitatif. Perhitungan skala tingkat pada defect Dalam proses pembuatan selai pada proses filling terjadi pembuihan yang menyebabkan pengentalan sehingga mengurangi produktivitas kerja sehingga terjadi defect. Untuk mengetahui data jumlah produk cacat dihitung per hari dengan cara total produk cacat per hari dikali jumlah hari kerja dalam satu bulan. pada skala tingkat satu menghasilkan nilai 162,4 didapatkan dari total pencapaian awal yang akan dinaikkan targetnya. Pada tabel defect juga untuk skala interval ditetapkan nilai 7 karena hasil dari skor 10 dikurangi dengan skor tingkat yang dihasilkan dari perhitungan. nilai skor 3 itu sudah menjadi nilai standar Berikut hasil perhitungan yang diambil dalam penelitian selama 1 Tahun dapat dilihat pada Tabel 7. Skala Interval ) = # ' & 9?<,C 99< = 0,013 Tabel 7. Perhitungan skala tingkat defect. Pengisian Kolom Skor Skor Pencapaian Awal = 112 Akan naikan = 45% 100% 45% = 145% 145% x 112 = 162,4 Skala Tingkat ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Pengisian Kolom Skor Skor Skala Tingkat Tabel 7 menunjukkan penentuan skor kinerja berdasarkan target peningkatan. Nilai awal 112 direncanakan naik 45% sehingga menjadi 145% y 112 = 162,4. Nilai 162,4 berada pada skala tingkat skor Setiap skor . Ae. memiliki batas nilai tertentu, sehingga hasil aktual dibandingkan dengan skala untuk menentukan tingkat pencapaian secara objektif dan terukur. Pembuatan tabel OMAX Suatu sistem pengukuran produktivitas parsial yang di kembangkan untuk memantau produktivitas di suatu perusahaan atau di tiap bagian saja, dengan rasio produktivitas yang sesuai dengan keberadaan bagian tersebut. Perhitungan terhadap rasio produktivitas, skala interval, dan skala tingkat tiap-tiap kriteria telah dilakukan, maka pengisian Tabel 8 OMAX. Kriteria 1 0,926 1,017 1,004 0,991 0,978 0,965 0,952 0,939 0,926 0,913 9,585 28,755 Tabel 8. OMAX tiap kriteria. Kriteria 3 Productivity Criteria Performance Score Weight Value Kriteria 2 0,88 0,971 0,958 0,945 0,935 0,919 0,906 0,893 0,88 0,867 0,854 9,128 27,384 Tabel 8 menampilkan tiga kriteria produktivitas dengan skala performa 0Ae10. Setiap nilai aktual dicocokkan dengan level performa untuk memperoleh skor. Baris yang disorot menunjukkan Kriteria 1 = 0,926. Kriteria 2 = 0,88. Kriteria 3 = 112, masing-masing berada pada level 3. Skor kemudian dikalikan bobot . menghasilkan nilai . , lalu dijumlahkan untuk memperoleh indeks produktivitas Perbaikan untuk kriteria produktivitas Bahan Baku. Analisis data dengan asumsi: Perhitungan asumsi comeback produksi = D,EFG D,HGI JKDD% = KH. GD % D,EFG Perbaikan asumsi penambahan produktivitas berkala 0,926 Oe 0,763 x100% = 2,71 % Perhitungan Asumsi Nilai Akhir produksi = 17,60% 2,71% = 20,31% = 20,31% x 0,763 = 0,154 Oc = 0,154 0,763 = 0,917 Dikarenakan nilai akhir yang didapat dari perhitungan dengan asumsi comeback dan asumsi pertumbuhan produktivitas berkala belum mencukupi maka dilakukan Penambahan nilai berkala. = 20,31% 2,71% 2,71% = 25,73% 444 Khasbunalloh. Aod Abdul Jawad Implementasi metode objective matrix untuk mengevaluasi produktivitas produk selai cokelat di PT. Abadi Boga Sentosa = 25,73% x 0,763 = 0,196 Oc = 0,196 0,763 = 0,959 Setelah analisis dilakukan dengan pertambahan nilai yang didapat yaitu 25,73% hanya mampu menaikan 2 peringkat skor pada tabel omax, sehingga produktivitas selama 6 periode bulan terakhir dinilai buruk dan perlu penambahan nilai produktivitas sebesar 25,73%. Bila ingin menaikan Kriteria 1 0,926 1,017 1,004 0,991 0,978 0,965 0,952 0,939 0,926 0,913 0,887 10,472 31,416 Kriteria 2 0,88 0,971 0,958 0,945 0,935 0,919 0,906 0,893 0,88 0,867 0,854 0,841 9,969 29,907 0,854 Tabel 9. OMAX tiap kriteria. Kriteria 3 Productivity Criteria Performance Score Weight Value Index % Tabel 9 menjelaskan tiga kriteria produktivitas dengan skala performa 0Ae10. Nilai aktual 0,926. 0,88. dan 112 berada pada level 3 . aris kunin. Skor tiap kriteria dikalikan bobot . menghasilkan value, kemudian dijumlahkan menjadi total indeks produktivitas. Bagian AuIndex %Ay menunjukkan capaian akhir dibanding standar, sehingga kinerja dapat dievaluasi secara terukur dan komprehensif. Simpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa hasil analisis produktivitas di PT. Abadi Boga Sentosa menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) menunjukkan adanya variasi kinerja pada setiap kriteria. Identifikasi dilakukan dengan membandingkan nilai produktivitas tiap kriteria sehingga dapat diketahui faktor yang paling berpengaruh terhadap penurunan kinerja. Hasil analisis menunjukkan bahwa kriteria defect merupakan faktor paling dominan yang menurunkan produktivitas karena memiliki nilai terendah pada matriks OMAX. Upaya perbaikan melalui penambahan nilai pada kriteria terkait hanya mampu meningkatkan dua peringkat skor pada tabel OMAX dengan kenaikan produktivitas sebesar 25,73%, sehingga perbaikan yang dilakukan belum optimal. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan gambaran kuantitatif mengenai pemetaan produktivitas berbasis OMAX, sehingga manajemen dapat menentukan prioritas perbaikan secara objektif dan terukur. Selain itu, penelitian ini membantu perusahaan dalam memahami hubungan antar kriteria produktivitas serta dampaknya terhadap indeks kinerja secara keseluruhan. Untuk penelitian lanjutan, disarankan dilakukan integrasi metode OMAX dengan pendekatan lain. Penelitian berikutnya juga dapat menambahkan variabel lain seperti faktor manusia, mesin, dan lingkungan kerja, serta melakukan evaluasi jangka panjang untuk melihat konsistensi peningkatan produktivitas setelah implementasi perbaikan. Referensi