e_ISSN: 2986-7487 p_ISSN: 2548-8171 Volume 09. Issue 02. Desember 2025 Peran Ekstrakurikuler Diniyah dalam Membentuk Sikap Moderasi Beragama Siswa di SD Muhammadiyah 18 Palembang Aisyah Febianti1. Romli2,Alihan Satra3 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Indonesia e-mail:aisyahfebianti09@gmail. com1, romliromli@radenfatah. alihansatra_uin@radenfatah. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga berfokus pada pembentukan karakter religius, toleran, dan moderat. SD Muhammadiyah 18 Palembang menyelenggarakan ekstrakurikuler diniyah sebagai salah satu program unggulan untuk memperkuat pemahaman keagamaan siswa sekaligus menanamkan nilai moderasi beragama. Kegiatan ini meliputi pembelajaran iqraAo dan Al-QurAoan, hafalan doa, hadits, praktik shalat, hingga tahfidz, yang dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan lokasi penelitian di SD Muhammadiyah 18 Palembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrakurikuler diniyah memberikan kontribusi nyata dalam menumbuhkan sikap moderasi beragama siswa. Hal ini tercermin dalam empat aspek utama: komitmen kebangsaan melalui keterlibatan rutin dalam upacara bendera, sikap toleransi terhadap perbedaan pada bacaan kegiatan shalat, latar belakang dan kemampuan teman, penolakan terhadap kekerasan dengan penyelesaian konflik secara damai, serta sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal melalui kegiatan Jumat bersih dan gotong royong. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan menggunakan metode membaca, simaAoi . , tahsin tilawah, dan menulis terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa sekaligus membiasakan sikap disiplin, percaya diri, dan tanggung jawab. Faktor pendukung keberhasilan program ini antara lain dukungan penuh dari pihak sekolah, fasilitas yang memadai, serta antusiasme tinggi dari siswa dan orang tua. Namun demikian, hambatan tetap dijumpai, di antaranya benturan jadwal dengan kegiatan bimbingan belajar di luar sekolah dan keterbatasan waktu akibat padatnya kurikulum. Kesimpulannya, ekstrakurikuler diniyah berperan strategis sebagai sarana pembinaan keagamaan sekaligus penguatan moderasi beragama di tingkat sekolah dasar. Program ini terbukti mampu membentuk generasi muda yang religius, toleran, anti kekerasan, serta berkarakter kebangsaan, sehingga layak dikembangkan lebih luas sebagai model pendidikan moderasi beragama di Indonesia. Kata Kunci: Ekstrakurikuler Diniyah. Moderasi Beragama Abstract This study is motivated by the importance of education that is not only oriented toward academic achievement but also focused on the formation of religious, tolerant, and moderate character. Muhammadiyah 18 Palembang organizes diniyah extracurricular activities as one of its flagship programs to strengthen studentsAo religious understanding while instilling the values of religious These activities include learning iqraAo and the QurAoan, memorizing prayers and hadith, practicing prayer, and tahfidz, which are designed so that students not only understand the theory but are also able to implement it in daily life. The research employed a qualitative descriptive approach with Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2022 | 79 techniques of observation, interviews, and documentation. Data analysis was carried out through reduction, narrative presentation, and conclusion drawing, with validity tested using triangulation The results of the study indicate that diniyah extracurricular activities make a significant contribution to fostering studentsAo attitudes of religious moderation. This is reflected in four main aspects: national commitment through regular participation in flag ceremonies, tolerance towards differences in prayer recitations, backgrounds, and abilities of peers, rejection of violence by resolving conflicts peacefully, and an accommodative attitude toward local culture through Clean Friday and communal work activities. In addition, the use of reading, simaAoi . , tahsin tilawah, and writing methods proved effective in improving studentsAo abilities while cultivating discipline, self-confidence, and responsibility. Supporting factors for the success of this program include full support from the school, adequate facilities, and high enthusiasm from students and parents. Nevertheless, challenges remain, such as scheduling conflicts with private tutoring outside school and limited time due to a packed curriculum. In conclusion, diniyah extracurricular activities play a strategic role as a medium of religious development as well as the strengthening of religious moderation at the elementary school level. This program has proven effective in shaping a young generation that is religious, tolerant, non-violent, and nationally minded, making it worthy of broader development as a model of religious moderation education in Indonesia. Keywords: Diniyah Extracurricular. Religious Moderation Copyright . 2025 Aisyah Febianti. Romli. Alihan Satra nC Corresponding author : Aisyah Febianti Email Address : aisyahfebianti09@gmail. Pendahuluan Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah berperan penting sebagai sarana penguatan nilainilai keislaman dalam diri siswa. tanpa bekal pendidikan agama, iman dan kehidupan rohani, anak tidak akan terbentuk dengan baik, sehingga mereka leboh rentan terjerumus pada perilaku yang negatif. (Haryanti & Romli, 2. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya melanjutkan pembelajaran agama di luar jam pelajaran formal, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka terhadap ajaran Islam secara lebih kontekstual dan aplikatif. Dengan memahami ajaran agama dan menerapkan nilai-nilai moral yang positif, seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Tuhan dan berakhlak mulia dalam interaksi seharihari. Nilai-nilai Islam yang diajarkan melalui pendidikan juga tentunya mampu memperkuat solidaritas sosial dan rasa tanggung jawab bersama. (Satra. Adelia, et al. , 2. Menurut Ida Farida sebagai Kasi Kesiswaan PAI pada Submit SMP/SMPLB Dit PAI Ditjen Pendidikan Islam bahwasannya salah satu pesan penting yang ingin disampaikan melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan adalah menanamkan pemahaman mengenai Islam sebagai agama yang penuh rahmat bagi seluruh ciptaan, yaitu Islam yang didalamnya membawa kebaikan untuk semua makhluk. (Farida, 2. Menurut Thomas Lickona pendidikan karakter merupakan proses membentuk kepribadian seseorang melalui pengajaran nilai-nilai moral dan budi pekerti. Hasil dari pendidikan ini tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat terhadap orang lain, kerja keras, dan berbagai sikap positif lainnya. (Muhibah & Maisaroh, 2. Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, pendidikan karakter merupakan inti dari seluruh ajaran agama Islam. Ia menekankan bahwa tujuan utama pendidikan bukan hanya untuk memperkaya pengetahuan, tetapi untuk membentuk akhlak mulia dan kepribadian yang luhur. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW. , yang menyatakan bahwa beliau diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan demikian, pendidikan karakter menjadi landasan penting dalam membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak baik, berperilaku santun, memiliki tanggung jawab moral terhadap dirinya serta lingkungannya. (Saepuddin, 2. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 80 Dari dua pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwasannya pandangan Thomas Lickona menekankan pendekatan rasional dan social terhadap pendidikan karakter, sedangkan Al-Ghazali menekankan pendekatan spiritual dan moral-transdental. Keduanya saling melengkapi pendidikan karakter yang ideal seharusnya tidak hanya membentuk individu yang bermoral baik secara sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang Dalam konteks pendidikan Islam, sintesis kedua pandangan ini dapat menjadi dasar kuat untuk merancang sistem pendidikan yang holistic menggabungkan pengembangan moral, intelektual, dan spiritual guna mencetak generasi berkarakter dan berakhlak mulia. Moderasi beragama merupakan kunci yang paling penting dalam menumbuhkan moralitas yang berlandaskan toleransi dan kerukunan masyarakat. dengan memilih jalan moderasi, ini berarti menolak suatu paham ekstremisme dan liberalisme yang berlebihan dalam beragama, sehingga tercipta keseimbangan yang menjaga perdamaian. (Ballianie et al. Adapun empat indicator moderasi beragama menurut kementerian agama RI yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan (Saifuddin, 2. Moderasi beragama di setiap agama sejatinya mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti cinta kasih, kedamaian, gotong royong, kepedulian, serta saling menghormati, termasuk terhadap perbedaan keyakinan. (Romli & Parida, 2. Nilai-nilai ini bukan hanya ajaran moral semata, tetapi juga menjadi pedoman yang bisa diterapkan dalam kehidupan seharihari dalam bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. (Syarnubi et al. , 2. Penting dipahami bahwa moderasi beragama bukan berarti membatasi atau mengekang ajaran (Muhammad et al. , 2. Justru sebaliknya, moderasi mengajarkan kita bagaimana menjalankan ajaran agama secara bijak, terbuka, dan menghargai keberagaman. (Latifa & Fahri, 2. Sikap ini bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan (Arikarani et al. , 2. Moderasi dalam beragama itu sebenarnya ide yang menekankan pentingnya keseimbangan, kesederhanaan, dan keadilan di semua sisi kehidupan kita, mulai dari cara berpikir, bertindak, sampai dengan perilaku sehari-hari. (Nafa et al. , 2. Di dalam ajaran Islam, moderasi ini dipandang sebagai pendekatan berpikir yang membuat seseorang bisa bersikap bijaksana dan toleran saat menghadapi berbagai perbedaan, seperti keyakinan agama, etnis, suku bangsa, tradisi budaya, bahkan dalam urusan bernegara. Kita semua tahu bahwa Islam dating sebagai rahmatan lil Aoalamin, sebuah agama yang menyebarkan kasih saying dan kedamaian ke seluruh penjuru alam semesta. (Soraya et al. , 2. Moderasi beragama juga merupakan suatu cara memahami dan mempraktikkan ajaran agama secara seimbang dan tidak berlebihan, sehingga seseorang dapat terhindar dari sikap ysng tidak wajar dalam menjalankan keyakinannya. (Almunadi & Takrip, 2. Landasan moderasi beragama bisa ditemukan dalam Q. S Al-Baqarah ayat 143: AnA a AaOauA a Ao aaUeaue aiU OaEUa coaaueAae a aUa aa aOaaueaI aeaE aUaeaue aaeU aOaa aaUeaa eoeeAaia a eA aueA a a a a a a a e a aU aUoeaAe aOeI auaA a\cAn aaue e acU aUa ea aaO c\a aOaa auaaI A a AaUaeae aAeUaa ae AoeaO aeaE ce AeAaoA a a AA aeUA U AAeaO aeyaue aI c\a a_aa aeOA Artinya: AuDemikian pula kami telah menjadikan kamu . mat Isla. umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas . manusia dan agar Rasul (Nabi Muhamma. menjadi saksi atas . erbuatan kamu. Kami tidak mengetahui . alam kenyataa. siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya . emindahan kibla. itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyianyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusiaAy(Usman el-Qurtuby, 2. Dapat disimpulkan bahwasannya ayat diatas mengajarkan kita bahwasannya umat Islam merupakan umat yang dibimbing oleh Allah untuk menjalankan kehidupan dengan Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 81 seimbang, yang dimana diharuskan tidak gemerlap dunia, tetapi juga tidak melupakan bekal untuk di akhirat. Sebagai umat wasathan, mereka diamanahi untuk menjadi penyeimbang kehidupan, menegakkan keadilan, membela kebenaran. Sebagai umat yang dipilih Allah untuk menjadi contoh, mereka diamanahi tanggung jawab yang besar, menjadi penyeimbang dalam kehidupan masyarakat. SD Muhammadiyah 18 Palembang merupakan salah satu sekolah berbasis Islam yang terletak di jalan Kebun Bunga KM, 9 Palembang. Sebagai institusi yang mengedepankan nilainilai keislaman, sekolah ini tidak hanya mengejar pencapaian akademik semata, tetapi juga berkomitmen dalam membentuk karakter dan akhlak mulia pada setiap siswanya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, sekolah menghadirkan beberapa kegiatan yang mendukung pembinaan sikap siswa, salah satunya melalui ekstrakurikuler diniyah. Ekstrakurikuler diniyah merupakan kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di luar pembelajaran Kegiatan ini menjadi wadah untuk siswa dalam mengembangkan potensi diri mereka dalam hal yang berkaitan dengan agama. Adapun kegiatan ini meliputi belajar membaca iqraAo dan alquran, hafalan bacan-bacaan shalat, praktek shalat, menghafal hadits, menghafal doa sehari-hari, serta hafalan 30 juz. Program ekstrakurikuler diniyah ini menjadi sarana bagi peserta didik agar lebih mendalami nilai-nilai agama, tidak hanya dari segi teori, namun juga cara mereka dapat mengimplementasikannya dalam kegiatan sehari-hari. Ini adalah salah satu cara sekolah membantu siswa agar dijauhkan dari sikap ekstrem dan lebih menerima perbedaan. Dengan demikian kegiatan ini sangat relevan dalam mencetak generasi yang siap menghadapi kehidupan rukun di tengah masyarakat yang memiliki keragaman, baik dari segi agama, budaya, maupun latar belakang lainnya. (Nurfauzi et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama pelaksanaan magang 2 pada 15 Juli hingga 8 Agustus 2024, serta observasi kedua yang dilakukan pada Sabtu, 12 April 2025, ditemukan bahwa siswa yang mengikuti program ekstrakurikuler diniyah di SD Muhammadiyah 18 Palembang masih ada sebagian siswa yang belum sepenuhnya mampu menghargai perbedaan antar teman. Hal ini terlihat dari beberapa siswa masih saling mengolok-olok teman mereka, terutama terkait dengan perbedaan fisik, seperti warna kulit dan bentuk tubuh, serta perbedaan lainnya yang berhubungan dengan latar belakang. Rumusan masalah penelitian ini dirumuskan dalam dua pertanyaan utama: . Bagaimana peran ekstrakurikuler diniyah dalam membentuk sikap moderasi beragama siswa di SD Muhammadiyah 18 Palembang? . Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat terbentuknya sikap moderasi beragama siswa di sekolah tersebut? Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengkaji peran ekstrakurikuler diniyah dalam membentuk sikap moderasi beragama pada siswa, sekaligus mengungkap berbagai faktor yang mendukung maupun menghambat proses tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan knyata bagi sekolah dan guru dalam menyusun strategi pembinaan yang efektif, serta membekali siswa dengan nilai toleransi dan keterbukaan sejak usia dini. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menawarkan pemahaman konseptual mengenai moderasi beragama, tetapi juga memberikan gambaran konkret penerapannya di lingkungan sekolah dasar Islam. Melalui penguatan program ekstrakurikuler diniyah yang terarah dan inklusif, diharapkan lahir generasi muda yang cerdas secara intelektual, matang secara moral, dan siap hidup harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan studi lapangan . ield researc. untuk menemukan fakta-fakta dan mendapatkan data, sehingga menghasilkan hasil yang lebih akurat. (Ahmad & Laha, 2. Dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif ialah jenis penelitian yang berfokus pada menggambarkan secara jelas bagaimana suatu masalah yang sedang terjadi bisa dipecahkan, berdasarkan data yang sudah (Narbuko & Achmad, 2. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh gambaran nyata tentang pelaksanaan ekstrakurikuler diniyah di SD Muhammadiyah 18 Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 82 palembang, khususnya perannya dalam membentuk sikap moderasi beragama siswa. diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sehingga informasi yang terkumpul bersifat faktual dan kontekstual sesuai kondisi lapangan. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi kegiatan ekstrakurikuler diniyah, wawancara dengan jumlah sebanyak 3 informan yaitu: kepala sekolah, guru pembina, dan siswa, serta pengumpulan dokumentasi terkait pelaksanaan program. Wawancara dengan kepala sekolah bertujuan mengetahui dukungan sekolah terhadap pembentukan sikap moderasi beragama siswa, sedangkan guru pembina memberikan penjelasan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan tujuan kegiatan. Sementara itu, wawancara dengan siswa dilakukan untuk mengetahui pengalaman dan perubahan yang mereka rasakan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Data sekunder diperoleh dari literatur, buku, dan jurnal yang relevan dengan topik penelitian, seperti karya Nasruddin (Nasruddin, 2. tentang nilai-nilai moderasi beragama dalam kegiatan ekstrakurikuler dan Lukman Hakim Saifuddin (Saifuddin, 2. tentang konsep beragama di Indonesia. Teknik pengumpulan data adalah cara yang dipakai oleh peneliti dalam mengatur, memahami, mengolah, dan menafsirkan data yang telah dikumpulkan. Teknik ini bertujuan untuk mendapatkan kesimpulan umum dari data yang telah di kumpulkan (Sugiyono, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui: . Observasi untuk mengamati langsung aktivitas pembelajaran agama dan pembentukan nilai moderasi dalam kegiatan ekstrakurikuler diniyah. Wawancara tidak terstruktur untuk menggali pandangan dan pengalaman informan secara mendalam. Dokumentasi berupa foto kegiatan, data sekolah, daftar hadir, dan arsip pendukung. Pengolahan data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan memilah informasi yang relevan, penyajian data disusun dalam bentuk narasi deskriptif yang mudah dipahami, sedangkan kesimpulan dihasilkan sebagai temuan baru berdasarkan analisis terhadap pola, hubungan, dan konteks yang ditemukan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi teknik, yaitu membandingkan temuan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memastikan konsistensi dan validitas informasi. Pendekatan ini memastikan bahwa hasil penelitian memiliki kekuatan analitis yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil dan Pembahasan Peran Ekstrakurikuler Diniyah Dalam Membentuk Sikap Moderasi Beragama Siswa di SD Muhammadiyah 18 Palembang Ekstrakurikuler diniyah merupakan suatu program yang ada di SD Muhammadiyah 18 Palembang. Kegiatan ini menjadi wadah untuk siswa dalam mengembangkan potensi diri mereka dalam hal yang berkaitan dengan agama. Adapun kegiatan ini meliputi belajar membaca iqraAo dan alquran, hafalan bacanbacaan shalat, praktek shalat, menghafal hadits, menghafal doa sehari-hari, serta hafalan 30 juz. Adapun menurut Bapak Fembi Winata Mengenai kegiatan ekstrakurikuler diniyah adalah sebagai berikut: AuEkstrakurikuler Diniyah di sekolah ini berawal dari program Ismuba yang merupakan kebijakan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selain itu, saat itu kondisi juga dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang menyebabkan pembelajaran terganggu, sehingga banyak siswa mengalami ketertinggalan, terutama dalam kemampuan membaca Al-QurAoan. Kami juga menemukan bahwa cukup banyak siswa yang belum lancar membaca IqraAo dan Al-QurAoan. Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2022 kami mengadakan rapat dan menyepakati untuk membentuk kelas khusus yang dinamakan kelas Diniyah dan Tahfidz. Kelas ini dirancang sebagai wadah pembinaan bagi siswa dalam belajar IqraAo, membaca Al-QurAoan, dan Tujuan utama dari program ini adalah agar ketika siswa lulus dari sekolah ini, mereka sudah tidak ada lagi yang tertinggal di tahap IqraAo. Dengan kata lain, semua siswa diharapkan sudah mampu membaca dan menghafal Al-QurAoan dengan baik. Oleh karena itu, kami menganggap program ini sebagai salah satu program khusus dan unggulan yang menjadi Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 83 ciri khas di sekolah ini, dengan seiring berjalannya waktu beberapa kegiatannya ada yang ditambah seperti praktek sholat hafalan bacan-bacaan shalat, praktek shalat, menghafal hadits, menghafal doa sehari-hariAy Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Yuniar Idris selaku pembina ekstrakurikuler diniyah sebagai berikut: AuMemang benar bahwa pada awalnya ekstrakurikuler Diniyah ini dibentuk dengan tujuan utama untuk membina siswa dalam membaca IqraAo dan Al-QurAoan. Namun, seiring berjalannya waktu, kami melihat adanya antusiasme dan minat yang tinggi dari para siswa. Hal ini mendorong kami untuk mengembangkan kegiatan tersebut dengan menambahkan berbagai materi dan aktivitas keagamaan lainnya, sehingga program ini menjadi lebih kaya dan bervariasi dalam membina keislaman siswa. Ay Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat peneliti simpulkan bahwasannya kegiatan ekstrakurikuler diniyah di sekolah ini lahir dari kebutuhan nyata dan kondisi yang dihadapi pasca pandemi Covid-19. Prorgam ini awalnya dirancang sebagai respons terhadap rendahnya kemampuan siswa dalam membaca IqraAo dan Al-aqurAoan, serta sebagai implementasi program Ismuba yang merupakan bagian dari kebiajakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk menjawab tantangan tersebut, pada tahun 2022 pihak sekolah membentuk kelas khusus Diniyah dan Tahfidz sebagai wadah pembinaan intensif bagi siswa dalam membaca, memahami, dan menghafal Al-qurAoan. Seiring waktu, tingginya minat dan semangat siswa mendorong pengembangan program ini dengan menambahkan berbagai kegiatan keagamaan lainnya seperti praktik sholat, hafalan bacaan sholat, hadits, dan doa-doa harian. Dalam kegiatan ekstrakurikuler diniyah di SD Muhammadiyah 18 Palembang, salah satu metode pembelajaran yang digunakan adalah metode simaAoi, metode membaca, dan metode menulis. Ketiganya tidak hanya berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi satu sama lain, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menyeluruh dan efektif. Metode simaAoi adalah salah satu cara dalam pembelajaran Al-QuAoran yang dilakukan dengan mendengarkan bacaan secara berulang-ulang hingga hafal. (Nurudin et al. , 2. Metode simaAoi bukan sekadar kegiatan mendengar bunyi huruf atau lafdz, tetapi sebuah proses pembiasaan diri untuk mengenali, memahami, dan meresapi keindahan bacaan AlQurAoan. (Wardani & Rohayah, 2. Kemudian menggunakan metode tahsin tilawah, yaitu metode yang digunakan dalam pembelajaran membaca Al-QurAoan untuk memperbaiki bacaan-bacaan. (Firmansyah et al. Metode tahsin juga merupakan cara yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Dalam prosesnya, digunakan strategi pembelajaran dengan pendekatan integrative, yaitu penggabungan metode tradisional dan metode modern. (Yanny et al. , 2. Hal ini juga disampaikan oleh Bapak Ahmad Hafiz selaku guru ekstrakurikuler diniyah: AuMetode yang digunakan mencakup beberapa metode, yaitu metode membaca, metode simaAoi atau mendengarkan, metode tahsin tilawah dan juga metode menulis. Ketiganya itu digunakan dan saling melengkapi dalam membantu siswa memahami dan menghafal materi dengan lebih efektif tergantung materi yang diajarkanAy. Kemudian ditambahkan oleh Askia, siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler AuBiasanya kalau sedang belajar, kami diminta oleh guru untuk membaca IqraAo atau Al-Quran sedangkan guru menyimak bacaan kami. Setelah itu, kami juga disuruh menulis, kemudian menyetorkan hafalan kami ke depan kelas secara bergiliranAy. Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat peneliti simpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler diniyah menerapkan beberapa metode pembelajaran, yaitu metode simaAoi, . , metode tahsin tilawah, metode membaca, dan menulis. Ketiganya saling Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 84 melengkapi untuk membantu siswa memahami serta menghafal materi secara lebih Penerapan metode ini dilakukan secara terstruktur, dimulai dari membaca dan disimak oleh guru, dilanjutkan dengan menulis, lalu menyetorkan hafalan secara Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan membaca dan menghafal, tetapi juga membiasakan siswa untuk disiplin, percaya diri, dan aktif dalam proses belajar. Adapun nilai-nilai moderasi beragama yang terintegrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler diniyah tercermin dalam empat aspek utama yaitu sebagai berikut: Komitmen Kebangsaan Komitmen kebangsaan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai sejauh mana seseorang atau kelompok memandang dan mengekspresikan nilai-nilai keagamaan mereka selaras dengan ideologi bangsa. Terutama, bagaimana mereka menunjukkan kesetiaan dan penerimaan terhadap Pancasila sebagai dasar dalam kehidupan bernegara. (Daulay & Albina, 2. Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa ekstrakurikuler diniyah di SD Muhammadiyah 18 Palembang para siswa dan siswi diajarkan untuk mencintai negara Indonesia dengan diwajibkannya untuk selalu mengikuti upacara bendera setiap hari Senin. Komitmen kebangsaan yang ditunjukkan oleh sekolah tercermin dalam pelaksaan upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan juga menjadi bentuk nyata dalam menanamkan nilai-nilai cinta tanah air dan kedisiplinan kepada para siswa. Menariknya, petugas upacara setiap minggunya ditentukan secara bergilir, sehingga seluruh siswa dari berbagai kelas mendapat kesempatan dan tanggung jawab yang sama untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara. Pergiliran ini mencakup seluruh elemen, mulai dari pembawa acara, pengibar bendera, hingga paduan suara. Tak hanya itu, pembina upacara pun ditunjuk berdasarkan kelas yang menjadi petugas pada minggu tersebut. Dengan sistem ini, seluruh warga sekolah ikut berperan aktif dalam menjaga semangat nasionalisme dan memperkuat rasa kebersamaan. Toleransi Nilai toleransi beragama menjadi salah satu hal penting ysng ditekankan dalam Para siswa diajak untuk memahami makna toleransi, tidak sekadar sebagai konsep, tetapi sebagai bagian dari sikap moderat dalam menjalani kehidupan beragama sehari-hari. (Muslim, 2. Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan bahwa mayoritas siswa di SD Muhammadiyah 18 Palembang beragama Islam. Namun, meskipun latar belakang agama sebagian besar seragam, para siswa berasal dari beragam suku dan ras, keberagaman ini menjadi peluang bagi sekolah untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari siswa. melalui berbagai kegiatan, termasuk dalam ekstrakurikuler diniyah sikap toleransi tampak jelas Ketika para siswa menunjukkan saling menghormati dalam menghadapi perbedaan bacaan sholat yang telah diajarkan. Mereka tidak hanya menerima adanya keragaman tersebut, tetapi juga menjadikannya sebagai kesempatan untuk belajar menghargai pendapat perbedaan dan memperkuat rasa kebersamaan di antara sesama. Anti Kekerasan Kekerasan dan radikalisme dalam konteks moderasi beragama dapat dipahami sebagai suatu paham atau ideologi yang ingin mengubah tatanan sosial dan politik dengan cara-cara yang keras, baik secara fisik maupun pemikiran. Pada dasarnya, radikalisme muncul dari sikap dan tindakan individu atau kelompok yang memilih jalan kekerasan untuk mewujudkan perubahan sesuai dengan keyakinan (Saifuddin, 2. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, kegiatan ekstrakurikuler diniyah di sekolah tidak hanya difokuskan pada aspek keagamaan, tetapi juga secara aktif menanamkan nilai-nilai anti kekerasan kepada para siswa. ini tampak dari sikap pembina dan guru yang selalu berusaha menciptakan suasana Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 85 kegiatan yang inklusif dan adil, tanpa membeda-bedakan latar belakang atau kemampuan siswa. pendekatan ini secara tidak langsung mencegah timbulnya rasa iri atau kecemburuan di antara mereka. Selain itu, penanaman nilai anti kekerasan juga tercermin dalam respons siswa terhadap konflik yang terjadi. ketika ada teman yang bertengkar, siswa lain dengan sigap berusaha melerai dan segera melaporkannya kepada guru agar dapat diberikan nasihat dan penyelesaian yang bijak. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kedamaian, kepedulian, dan tanggung jawab sosial telah mulai tumbuh dalam diri para siswa melalui kegiatan ini. Akomodatif Terhadap Kebudayaan Lokal Sikap yang akomodatif terhadap budaya lokal menjadi pijakan penting dalam membentuk karakter seseorang agar mampu menerima berbagai praktik keberagaman yang hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia. Dalam konteks ini, keterbukaan terhadap kebiasaan dan adat istiadat lokal diharapkan dapat membentuk pola pikir dan sikap beragama yang moderat yakni ramah, inklusif, dan tidak mudah Selama nilai-nilai budaya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran pokok agama, sikap akomodatif ini justru memperkuat harmoni dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. (Hidayati et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi peneliti, nilai-nilai kebudayaan lokal juga tercermin dalam kegiatan ekstrakurikuler diniyah, salah satunya melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari Jumat, yakni senam pagi dan kegiatan Jumat bersih. kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas fisik semata, tetapi juga menjadi sarana dalam menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada para siswa. Setelah senam bersama, seluruh siswa dan guru bergotong royong membersihkan lingkungan Kebersamaan dalam menjaga kebersihan ini bukan hanya melatih tanggung jawab, tetapi juga menumbuhkan rasa persatuan, kekompakan, dan kepedulian antar warga sekolah. Melalui kegiatan sederhana ini, semangat gotong royong sebagai bagian dari budaya lokal terus dipelihara dan ditanamkan sejak dini. Sementara itu, program yang dilakukan sekolah untuk membentuk sikap moderasi beragama tidak hanya didalam pembelajaran saja, tetapi juga dalam kegiatan ekstrakurikuler diniyah. Salah satu kegiatan yang berkaitan dengan moderasi beragama adalah pada saat pelaksanaan praktik sholat. Shalat merupakan tiang agama dalam ajaran Islam yang menjadi simbol utama ketaatan dan kepasrahan seorang hamba kepada Tuhannya. Sebagai rukun Islam kedua setelah syahadat, shalat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. (Satra. Pratiwi, et al. , 2. Salah satu bentuk nyata penerapan moderasi beragama dapat terlihat dalam kegiatan praktik shalat yang rutin dilaksanakan dalam ekstrakurikuler diniyah. Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya diajarkan gerakan dan bacaan shalat secara teknis, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai makna dan pentingnya menjalankan ibadah dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Bacaan-bacaan shalat yang diajarkan merujuk pada hasil tarjih dan keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, yang bersumber dari haditshadits shahih dan ijtihad ulama Muhammadiyah. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Bapak Ahmad Hafiz selaku guru yang mengajar ekstrakurikuler AuKegiatan diniyah yang secara tidak langsung berkaitan dengan moderasi beragama adalah pelaksanaan sholat. Perlu kita pahami bahwa moderasi beragama tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarumat beragama, tetapi juga berlaku di dalam internal umat Islam Dalam praktik sholat yang kami ajarkan kepada siswa, kami merujuk pada hasil tarjih dan keputusan dari Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Kami juga memberi pemahaman bahwa perbedaan dalam pelaksanaan ibadah di kalangan umat Islam adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan. Dengan begitu, anak-anak belajar untuk tidak bersikap fanatik atau menyalahkan orang lain hanya karena berbedaAy. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 86 Hal itu sejalan dengan yang disampaikan oleh Sofie selaku siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler diniyah: AuDalam praktik shalat di sekolah, kami diajarkan sesuai tuntunan Muhammadiyah. Namun ketika di praktekkan di rumah, saya kadang mengikuti bacaan itu, kadang tidak. guru-guru di sini tidak memaksa, justru memberikan pemahaman dan kebebasan selama sesuai ajaran Islam. Itu membuat kami nyaman dan belajar menghargai perbedaanAy. Dari hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler diniyah di SD Muhammadiyah 18 Palembang berkontribusi secara tidak langsung dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada siswa. hal ini tercermin dari pengajaran praktik ibadah, khususnya sholat, yang dilakukan berdasarkan tuntunan Muhammadiyah namun disertai dengan pemahaman bahwa perbedaan dalam tata cara ibadah di kalangan umat islam adalah hal yang wajar. Guru tidak memaksakan satu pendapat, melainkan memberikan ruang dialogis dan pemahaman yang inklusif. Sikap ini membentuk karakter siswa agar tidak fanatik, terbuka terhadap perbedaan, dan mampu menghargai praktik keagamaan orang lain. pengalaman siswa, seperti yang disampaikan oleh Sofie, menunjukkan bahwa pendekatan ini menciptakan kenyamanan dalam belajar agama serta menumbuhkan sikap saling menghormati dalam keberagaman. Faktor Pendukung dan Penghambat Sikap Moderasi Beragama Siswa di SD Muhammadiyah 18 Palembang Dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, tentu tidak selalu berjalan mulus tanpa kendala. Setiap kegiatan pasti menghadapi berbagai dinamika, baik berupa dukungan yang memperlancar jalannya program maupun hambatan yang bisa menjadi tantangan tersendiri. Hal ini juga disampaikan oleh Bapak Fembi Winata, selaku kepala sekolah sebagai berikut: AuPihak sekolah memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ekstrakurikuler diniyah karena diyakini bermanfaat dalam membentuk sikap moderat dan pemahaman keagamaan dukungan juga datang dari siswa dan orang tua yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap praogram ini. Sekolah telah menyediakan fasilitas yang memadai untuk mendukung kelancaran kegiatan. Adapun kendalanya itu ada pada bentroknya jadwal dengan bimbingan belajar di luar sekolah. Dengan adanya itu, pihak sekolah teru sberupaya mencari solusi agar program tetap berjalan optimal. Ay Adapun tambahan dari guru pembina ekstrakurikuler diniyah memaparkan faktor pendukung dan penghambatnya yaitu antara lain: AuUntuk faktor pendukungnya sendiri yaitu ada di sarana prasarana untuk kegiatan keagamaan seperti Al-QurAoan. IqraAo. Musholla, kelas yang digunakan, serta infokus yang digunakan untuk pembelajaran. Adapun untuk masalah penghambatnya sendiri ada beberapa dari siswa yaitu adanya tabrakan jadwal bimbel di luar sekolah, terbatasnya waktu untuk kegiatan diniyah karena padatnya jadwal kurikulum sekolahAy. Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwasanya sekolah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendukung kegiatan diniyah sebagai bagian dari upaya membentuk karakter siswa yang religius, seimbang, dan moderat. Dukungan ini tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui penyediaan fasilitas yang memadai seperti musholla. Al-QurAoan. IqraAo ruang kelas, hingga perangkat pembelajaran seperti Selain itu antusiasme tinggi dari siswa dan orang tua turut menjadi faktor penting yang mendorong keberlangsungan kegiatan ini. Kegiatan ekstrakurikuler diniyah ini menjadi wadah pembinaan keagamaan yang inklusif dan moderat, di mana siswa tidak hanya diajarkan aspek keilmuan agama, tetapi juga nilai-nilai toleransi, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap keberagaman. Meski demikian, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tantangan, seperti jadwal Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 87 siswa yang bentrok dengan bimbingan belajar di luar sekolah dan terbatasnya waktu karena padatnya kegiatan kurikulum. Namun, pihak sekolah terus berupaya mencari solusi agar program ini tetap berjalan optimal dan memberikan manfaat maksimal dalam membentuk sikap siswa yang religius tanpa mengesampingkan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwasannya ekstrakurikuler Diniyah memiliki peran penting dalam membentuk sikap moderat siswa. Hal ini terlihat dari beberapa indikator moderasi beragama yang terintegrasi dalam kegiatan, seperti komitmen kebangsaan melalui kewajiban mengikuti upacara bendera setiap Senin untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa cinta tanah air. Toleransi diwujudkan dengan membimbing siswa agar menghargai perbedaan suku, budaya, dan kemampuan belajar, serta menghindari sikap diskriminatif atau mengejek teman. Anti kekerasan diterapkan dengan menciptakan suasana kegiatan yang inklusif dan adil, serta mendorong penyelesaian konflik secara damai. Sementara itu, akomodasi budaya lokal tercermin dalam kegiatan seperti senam setiap Jumat dan gotong royong membersihkan lingkungan, yang memperkuat nilai kebersamaan dan kearifan lokal. Faktor pendukung keberhasilan program ini antara lain dukungan penuh pihak sekolah, fasilitas yang memadai seperti musholla, kitab IqraAo, dan perangkat pembelajaran, serta antusiasme siswa dan orang tua. Namun, hambatan yang dihadapi meliputi benturan jadwal dengan bimbingan belajar di luar sekolah dan keterbatasan waktu akibat padatnya Dari sisi akademik, temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pembinaan moderasi beragama memerlukan dukungan struktural yang kuat dan kolaborasi dari berbagai pihak agar program dapat berjalan secara berkelanjutan. Sebagai rekomendasi, pengembang kurikulum sekolah dasar Islam perlu mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama secara eksplisit dalam rancangan kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler. Kurikulum perlu menekankan pembentukan karakter moderat melalui pembiasaan yang kontekstual dengan usia siswa dan budaya lokal, agar nilai toleransi, anti kekerasan, dan cinta tanah air tertanam sejak dini sebagai bagian dari identitas siswa muslim. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan masukan, arahan, dan dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penelitian berjudul AuPeran Ekstrakurikuler Diniyah dalam Membentuk Sikap Moderasi Beragama Siswa di SD Muhammadiyah 18 PalembangAy dapat terselesaikan dengan baik. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan dan pembinaan karakter moderasi beragama di lingkungan sekolah. Daftar Pustaka