Ni Kadek Wina Artini E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 JELAJAHI HAMBATAN PENDIDIKAN: PENELUSURAN FAKTOR-FAKTOR KESULITAN BELAJAR IPA PADA KELAS VI SD NOMOR 1 PANGSAN Ni Kadek Wina Artini1 1Jurusan Ilmu Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. ITP Markandeya Bali Bangli. Indonesia 1Sekolah Dasar Negeri Nomor 1 Pangsan Bali. Indonesia winaartininikadek@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas VI SD Nomor 1 Pangsan. Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu faktor internal . inat, motivasi, rasa percaya diri, kebiasaan belajar, dan cita-cit. dan faktor eksternal . uatan materi dalam kurikulum IPA, peran guru, ketersediaan saran dan prasarana, kebijakan penilaian, lingkungan sosial di sekolah, dan lingkungan sosial di ruma. Melalui wawancara mendalam dengan siswa dan analisis data, penelitian ini mengidentifikasi bahwa muatan materi dalam kurikulum IPA memiliki dampak besar terhadap kesulitan belajar siswa, sementara faktor-faktor lain, seperti peran guru dan lingkungan belajar, dinilai sudah cukup Penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam mengenai tantangan dalam pembelajaran IPA di SD Nomor 1 Pangsan dan menawarkan arah untuk pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif guna meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran ini. Kata kunci : IPA. Kesulitan Belajar. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Abstract This research aims to explore the factors that cause learning difficulties in Natural Sciences (Scienc. subjects in class VI of SD Number 1 Pangsan. These factors are divided into two main categories, namely internal factors . nterest, motivation, self-confidence, study habits and ideal. and external factors . ontent of material in the science curriculum, role of teachers, availability of advice and infrastructure, assessment policies , social environment at school, and social environment at hom. Through in-depth interviews with students and data analysis, this research identified that the material content in the science curriculum has a major impact on students' learning difficulties, while other factors, such as the role of the teacher and the learning environment, are considered to be quite This research provides in-depth insight into the challenges in science learning at Pangsan Number 1 Elementary School and offers direction for the development of more effective learning strategies to improve students' understanding of this subject. Key words : IPA, learning difficulties, influencing factors PENDAHULUAN Pendidikan Dasar merupakan landasan utama bagi pembentukan karakter dan potensi peserta didik, di mana salah satu mata pelajaran yang memiliki peran sentral adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) (Ahmadi et al. , 2. IPA memberikan kontribusi besar dalam membentuk pemahaman konsep-konsep dasar tentang alam semesta, lingkungan, dan fenomena alam lainnya. Pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Ala. adalah salah satu ilmu Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Wina Artini E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 dasar yang dipelajari di sekolah dasar. Kegiatan dalam pembelajaran IPA akan mendapatkan pengalaman langsung melalui pengamatan, diskusi, dan penyelidikan sederhana (Dwi Puspitasari, 2. Meskipun demikian, masih banyak ditemukan kesulitan belajar IPA di kalangan siswa, terutama pada tingkat kelas VI SD Nomor 1 Pangsan. Perkembangan sains dan teknologi yang pesat menuntut adanya pemahaman yang mendalam terhadap IPA sebagai dasar bagi perkembangan keilmuan peserta didik. Pernyataan ini senada dengan pendapat (Imanuel, 2. Pembelajaran IPA di SD Nomor 1 Pangsan hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu peserta didik secara ilmiah. Capaian prestasi belajar, yang umumnya tercermin dalam bentuk nilai, menjadi indikator utama tingkat penguasaan belajar IPA. Ketika peserta didik mengalami kesulitan dalam merespons pembelajaran yang disampaikan oleh guru, penguasaan konsep IPA menjadi terhambat, tercermin dari rendahnya nilai yang diperolehnya. Namun, masih banyak siswa di tingkat kelas VI SD Nomor 1 Pangsan yang mengalami kesulitan belajar IPA, yang dapat tercermin dari rendahnya pencapaian hasil belajar serta kurangnya ketertarikan terhadap mata pelajaran tersebut. Sesuai dengan hasil penelitian dari (Kusuma, 2. , ada beberapa faktor dapat menjadi penyebab kesulitan belajar IPA di kelas VI SD Nomor 1 Pangsan, seperti metode pengajaran yang kurang sesuai, keterbatasan sarana dan prasarana, serta faktor internal siswa seperti motivasi dan minat belajar (Kusuma, 2. Selain itu penelitian yang telah dilakukan menggambarkan sejumlah faktor yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar IPA pada peserta didik Sekolah Dasar, sebagaimana dikemukakan oleh (Hs, 2. Beberapa kendala mencakup penggunaan terlalu banyak istilah asing, penyajian materi yang terlalu padat, tuntutan penghafalan yang memberikan kesan seolah siswa terpaksa, keterbatasan dalam penggunaan media pembelajaran, kesulitan pemahaman materi ketika tidak ada dukungan media, dominasi guru dalam pembelajaran, keterbatasan penguasaan guru terhadap materi, serta kecenderungan kegiatan pembelajaran yang monoton. Analisis mendalam terhadap temuan ini dapat memberikan pandangan yang lebih jelas mengenai upaya-upaya yang dapat diambil untuk meningkatkan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Oleh karena itu, diperlukan sebuah penelitian yang mendalam untuk menganalisis secara sistematis faktor-faktor yang memengaruhi kesulitan belajar IPA di kelas VI SD Nomor 1 Pangsan. Kesulitan belajar khususnya IPA juga terjadi di SD. Ada beberapa siswa yang tidak memahami konsep, motivasi belajar kurang dan hasil belajar khusus IPA belum optimal. Sesuai hal tersebut, penting untuk merinci faktor yang turut berperan dalam kesulitan belajar peserta didik. Identifikasi ini menjadi langkah krusial untuk mengimplementasikan intervensi sejak dini terhadap peserta didik yang mengalami masalah belajar. Oleh karena itu, perlunya dilaksanakan penelitian lebih mendalam terkait kesulitan belajar mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar Nomor 1 Pangsan, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan memberikan landasan yang kuat untuk strategi peningkatan pembelajaran. Adapun judul penelitian yang akan dilaksanakan adalah Jelajahi Hambatan Pendidikan: Penelusuran Faktor-Faktor Kesulitan Belajar IPA pada Kelas VI SD Nomor 1 Pangsan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan strategi pembelajaran yang lebih efektif, serta memberikan rekomendasi kepada para pendidik dan pengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran IPA di tingkat SD. Dengan demikian, peningkatan pemahaman siswa terhadap IPA diharapkan dapat menciptakan generasi yang memiliki daya saing tinggi dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan. METODE Penelitian ini memfokuskan pada pendekatan kualitatif sebagai metode utama. Penelitian kualitatif, yang dijelaskan sebagai pendekatan yang menggambarkan data alamiah melalui Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Wina Artini E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 proses keilmuan, memiliki beberapa model desain, yakni format deskriptif, format verifikatif, dan format grounded research, sesuai dengan pandangan Bungin . Dalam konteks ini, penelitian akan mengadopsi model deskriptif kualitatif. Untuk mengumpulkan data, digunakan teknik wawancara dengan pedoman wawancara yang dilakukan secara mendalam kepada 10 peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPA, serta kepada guru kelas VI. Bungin mendefinisikan wawancara sebagai proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian melalui tanya jawab bertatap muka antara pewawancara dan informan, dengan atau tanpa pedoman. Dalam penelitian ini, pewawancara terlibat secara intensif dengan sumber data. Model analisis data yang diterapkan adalah strategi analisis kualitatif deskriptif. Oleh karena itu, proses analisis dimulai dari pengumpulan data, dilanjutkan dengan klasifikasi atau kategorisasi, dan diakhiri dengan pengambilan kesimpulan yang sesuai dengan kerangka teori yang ada HASIL DAN PEMBAHASAN Kesulitan belajar mata pelajaran IPA di SD Nomor 1 Pangsan dapat dilihat melalui dua faktor utama, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa, dapat dianalisis dari berbagai sudut pandang. Aspek-aspek tersebut melibatkan minat, motivasi, rasa percaya diri, kebiasaan belajar, dan cita-cita (Awang, 2. Hasil wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa aspek minat untuk belajar IPA menjadi titik kritis. Semua siswa tampaknya tidak memiliki minat yang kuat terhadap mata pelajaran IPA. Ketidakminatan siswa terhadap Ilmu Pengetahuan Alam ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk metode pengajaran yang cenderung monoton, dengan guru yang hanya menggunakan metode ceramah tanpa melibatkan alat bantu atau pendekatan yang lebih Dalam konteks ini, penting bagi sekolah dan guru untuk mempertimbangkan pendekatan pembelajaran yang lebih beragam dan menarik, serta memanfaatkan alat bantu yang dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran IPA. Penting untuk dicatat bahwa minat siswa terhadap mata pelajaran IPA di SD ini tampaknya sangat Hasil wawancara dengan siswa mengungkapkan bahwa partisipasi mereka dalam tugas IPA lebih bersifat formalitas semata, dilakukan hanya agar terhindar dari teguran guru atau untuk mendapatkan nilai tanpa benar-benar memahami materi. Padahal, esensi dari pembelajaran IPA adalah untuk memungkinkan siswa memahami aspek sederhana terkait alam atau lingkungan sekitar mereka. Analisis temuan menunjukkan bahwa, dari sudut pandang minat siswa terhadap mata pelajaran IPA, siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran tidak menunjukkan minat yang signifikan terhadap IPA. Menanggapi hal ini, mungkin perlu dilakukan upaya lebih lanjut untuk memotivasi siswa dan membuat pembelajaran IPA lebih menarik dan relevan bagi kehidupan sehari-hari mereka. Sama seperti minat, motivasi siswa terhadap mata pelajaran IPA di tingkat SD terlihat Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPA mengaku hanya mengikuti alur belajar tanpa adanya motivasi Mereka belajar IPA karena sekadar mengikuti arus, dengan alasan utama untuk mendapatkan nilai yang dapat memengaruhi pertimbangan guru terkait kenaikan kelas. Tingkat percaya diri siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru juga terbilang rendah. Secara umum, sebagian besar siswa yang diwawancarai jarang mengerjakan tugas tanpa bergantung pada bantuan orang tua, kakak, bahkan terkadang hanya mengandalkan pekerjaan teman sekelas. Fenomena ini menyoroti pentingnya untuk meningkatkan motivasi intrinsik siswa terhadap pembelajaran IPA agar mereka dapat merasa lebih terlibat dan berkomitmen terhadap pemahaman materi tersebut. Selain itu, perlu diterapkan strategi yang dapat membangun rasa percaya diri siswa dalam mengatasi tugas-tugas IPA secara mandiri. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Wina Artini E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 Kondisinya semakin rumit ketika siswa diminta untuk berpartisipasi dalam diskusi atau menyelesaikan tugas bersama teman kelompoknya. Rendahnya tingkat percaya diri membuat mereka enggan untuk terlibat dalam aktivitas tersebut. Sikap ini berimbas pada kurangnya apresiasi terhadap mata pelajaran IPA dan, pada akhirnya, berdampak pada rendahnya pencapaian hasil belajar. Dari sisi kebiasaan belajar di rumah, siswa yang mengalami kesulitan belajar juga tidak membiasakan diri untuk belajar mandiri. Motivasi untuk meluangkan waktu belajar di rumah lebih disebabkan oleh rasa takut akan teguran orang tua daripada kesadaran sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Fenomena ini memerlukan pendekatan yang lebih holistik untuk membangun kepercayaan diri siswa, mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan kelompok, dan merangsang motivasi intrinsik mereka terhadap pembelajaran IPA. Saat ditanya mengenai cita-cita atau keinginan untuk masa mendatang, seluruh siswa juga menunjukkan ketidakminatan untuk mengambil profesi yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan IPA. Alasan yang mereka berikan adalah karena pelajaran IPA dianggap sulit untuk dipahami. Dengan demikian, mereka tidak memiliki niatan untuk menjadi seseorang yang memiliki keahlian dalam IPA di masa depan. Fenomena ini menunjukkan bahwa persepsi negatif terhadap mata pelajaran IPA bukan hanya mempengaruhi hasil belajar saat ini, tetapi juga mempengaruhi pandangan mereka terhadap pilihan karir di masa depan. Peningkatan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan relevan dapat membantu mengubah persepsi siswa terhadap IPA dan memotivasi mereka untuk mempertimbangkan profesi yang berhubungan dengan bidang ini di kemudian hari. Dari analisis ulasan tersebut, tampaknya seluruh aspek yang menjadi fokus penelitian terkait faktor internal penyebab kesulitan belajar dialami oleh sebagian besar siswa. Baik kurangnya minat, motivasi, rasa percaya diri, kebiasaan belajar, maupun cita-cita berkontribusi pada kesulitan siswa dalam meraih nilai maksimal dalam pembelajaran IPA. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang memicu kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran IPA sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek seperti minat, motivasi, rasa percaya diri, kebiasaan belajar, dan cita-cita. Upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam IPA perlu difokuskan pada pembangunan aspek-aspek tersebut agar mereka dapat lebih terlibat dan berkomitmen terhadap pembelajaran IPA. Faktor eksternal penyebab kesulitan belajar IPA di SD melibatkan berbagai aspek yang perlu diperhatikan. Aspek-aspek tersebut mencakup peran guru, ketersediaan saran dan prasarana, kebijakan penilaian, lingkungan sosial di sekolah, lingkungan sosial di rumah, dan muatan materi pada kurikulum IPA di SD (Awang, 2. Dalam konteks ini, penting untuk mengevaluasi pengaruh setiap aspek tersebut terhadap kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai mata pelajaran IPA. Dengan memahami faktor-faktor eksternal ini, dapat dirancang strategi pembelajaran dan perbaikan kebijakan yang lebih tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SD dan membantu mengatasi kesulitan belajar yang mungkin Temuan dari wawancara menunjukkan bahwa dari keenam aspek yang ingin diketahui perannya terhadap kesulitan belajar siswa IPA di SD, hanya satu aspek yang memberikan pengaruh besar terhadap hasil belajar siswa, yaitu muatan materi pada kurikulum. Meskipun aspek lainnya seperti peran guru, ketersediaan saran dan prasarana, kebijakan penilaian, serta lingkungan sosial di sekolah dan di rumah tidak memberikan pengaruh besar terhadap kesulitan belajar siswa. Temuan ini menyoroti pentingnya peninjauan kembali kurikulum IPA di SD, dengan memastikan bahwa muatan materi yang disajikan sesuai dengan kebutuhan dan pemahaman siswa. Meskipun faktor-faktor eksternal lainnya tidak memberikan dampak besar, tetapi tetap perlu menjadi perhatian untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan memberikan dukungan optimal bagi kemajuan siswa dalam memahami IPA. Penting untuk dicatat bahwa sebagian guru menyampaikan materi hanya dengan metode Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Kadek Wina Artini E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 ceramah tanpa alat peraga, dan siswa jarang diajak melakukan praktikum dalam pembelajaran IPA. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pengajaran yang dominan menggunakan metode ceramah dapat mempengaruhi tingkat keterlibatan siswa dan pemahaman mereka terhadap materi IPA. Dengan minimnya pengalaman praktikum, siswa mungkin menghadapi kesulitan dalam mengaplikasikan konsep-konsep teoritis yang mereka pelajari. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hs, 2. Beberapa kendala mencakup penggunaan terlalu banyak istilah asing, penyajian materi yang terlalu padat, tuntutan penghafalan yang memberikan kesan seolah siswa terpaksa, keterbatasan dalam penggunaan media pembelajaran, kesulitan pemahaman materi ketika tidak ada dukungan media, dominasi guru dalam pembelajaran, keterbatasan penguasaan guru terhadap materi, serta kecenderungan kegiatan pembelajaran yang monoton. Muatan materi dalam kurikulum IPA, apalagi jika disampaikan tanpa metode pembelajaran yang memadai, dapat menjadi faktor besar penyebab kesulitan belajar siswa di SD. Oleh karena itu, perlu adanya peninjauan terhadap metode pengajaran yang digunakan oleh guru dan penekanan pada pengalaman praktikum yang lebih aktif untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa terhadap materi IPA. Pendekatan yang lebih interaktif dan praktis dapat membantu mengatasi kesulitan belajar siswa dan menjadikan pembelajaran IPA lebih menarik bagi mereka. SIMPULAN Dari hasil pembahasan, kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran IPA di SD dipengaruhi oleh faktor internal . inat, motivasi, rasa percaya diri, kebiasaan belajar, dan citacit. dan faktor eksternal . uatan materi dalam kurikulum IPA). Metode pengajaran yang kurang beragam, terutama metode ceramah tanpa dukungan alat peraga, serta minimnya pengalaman praktikum, menjadi penyebab kesulitan belajar siswa. Penelitian berikutnya sebaiknya fokus pada analisis lebih mendalam terhadap aspek-aspek tertentu yang memengaruhi kesiapan dan kesulitan belajar siswa. Wawancara mendalam dan pemilihan responden yang lebih merata dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif. Dengan demikian, diharapkan dapat ditemukan strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran IPA di tingkat SD. UCAPAN TERIMAKASIH