Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 4, April 2025 ISSN: 27342488 IMPLEMENTASI LITERASI DIGITAL DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN PERSPEKTIF GURU DAN SISWA Reflita1, Tsaqif Al Azka Azell2, M. Adam Septa Saputra3, Bahrul Ulum4, Eva Iryani5, Helty6 Email: refychania@gmail.com1, tsaqifazell@gmail.com2, ahamptra@gmail.com3, ulum37275@gmail.com4 Universitas Jambi ABSTRAK Literasi digital tidak hanya mencakup pengoperasian perangkat digital, tetapi juga kemampuan untuk menemukan, menilai, menerapkan, dan menyebarluaskan informasi secara bertanggung jawab. Pergeseran dalam pendidikan menuntut pemahaman yang kuat tentang literasi digital di antara para pendidik dan peserta didik, yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan memecahkan masalah. Para pendidik memainkan peran penting dalam memajukan literasi digital siswa mereka, yang mengharuskan mereka memiliki keterampilan digital yang memadai. Kerangka kerja pendidikan harus mengintegrasikan literasi digital melalui berbagai metodologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana pengetahuan digital dimasukkan ke dalam program pendidikan, dengan mempertimbangkan perspektif guru dan siswa. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan fokus pada analisis dokumen untuk tujuan evaluasi. Penerapan literasi digital memfasilitasi proses pendidikan bagi siswa dan guru, meningkatkan efektivitas dan memelihara kemampuan pribadi. Meskipun materi pembelajaran digital menawarkan keuntungan yang signifikan, buku teks tradisional masih memegang peranan penting. Mengembangkan literasi digital merupakan keterampilan penting yang harus dikembangkan sekolah untuk membekali siswa menghadapi tantangan era digital. Kata Kunci: Literasi Digital, Implementasi Literasi Digital, Perspektif Guru Dan Siswa. ABSTRACT Digital literacy encompasses not just the operation of digital devices, but also the capability to discover, assess, apply, and disseminate information responsibly. The shift in education demands a strong grasp of digital literacy among both educators and learners, enabling them to enhance their critical, innovative thinking, and problem-solving abilities. Educators play a vital role in advancing the digital literacy of their students, necessitating that they possess sufficient digital skills. The educational framework should integrate digital literacy through diverse methodologies. This research intends to evaluate how digital knowledge is incorporated into educational programs, considering both teachers' and students' perspectives. A qualitative approach is employed in this study, focusing on document analysis for evaluation purposes. The application of digital literacy facilitates the educational process for both students and teachers, boosting effectiveness and nurturing personal capabilities. While digital learning materials offer significant advantages, traditional textbooks still hold their importance. Developing digital literacy is a crucial skill that schools must cultivate to equip students for the challenges of the digital age. Keywords: Digital Literacy, Implementation Of Digital Literacy, Teacher And Student Perspectives. 20 PENDAHULUAN Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi digital telah merevolusi metode komunikasi dan interaksi kita dengan dunia di sekitar kita. Era digital menghadirkan berbagai peluang baru sekaligus tantangan dalam komunikasi sosial. Dari media sosial hingga aplikasi pesan instan, teknologi digital telah merevolusi cara kita berkomunikasi, memperluas jangkauan, serta mempercepat pertukaran informasi. Meningkatnya aksesibilitas internet dan perangkat digital telah menciptakan peluang baru sekaligus tantangan yang kompleks. aksesibilitas internet dan perangkat digital telah menciptakan peluang baru sekaligus tantangan yang kompleks. Sebagai bagian dari Generasi Pendidikan Digital, kita harus menggunakan teknologi yang tersedia saat ini untuk mempermudah berinteraksi dengan orang lain. Literatur digital tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis dalam penggunaan keterampilan peralatan digital dalam penggunaan peralatan dan aplikasi digital, tetapi juga meningkatkan keterampilan berpikir kritis dalam keterampilan berpikir kritis dari berbagai sumber dan keterampilan untuk secara aktif dan sepenuhnya dalam komunitas digital, yang diperoleh dari berbagai sumber dan keterampilan untuk berpartisipasi dalam komunitas digital. Keterampilan pengguna dalam pemberantasan buta huruf digital termasuk kemampuan untuk mencari, bekerja, mengevaluasi, menggunakan, membuat dan menggunakannya dengan cermat, cerdas, hati -hati dan akurat dalam penggunaannya. Kemajuan di bidang teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap masa depan manusia. Kemampuan untuk memanfaatkan informasi teknologi menjadi sangat penting untuk beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin maju (Terttiaavini & Saputra, 2022). Seiring dengan berjalannya waktu, penyebaran informasi menjadi semakin gampang. Demikian juga, teknologi yang menyampaikan informasi mengalami kemajuan yang pesat (Fatmawati & Sholikin, 2019). Pendidikan adalah salah satu faktor terpenting untuk menentukan kualitas sumber daya manusia dan proses suatu negara. Proses pendidikan dapat menghasilkan ide -ide kreatif dan kreatif dalam dinamika zaman. Menurut undang -undang tahun 2003, program penelitian adalah kumpulan rencana pembelajaran yang terkait dengan tujuan, konten, bahan pengajaran dan metode yang digunakan dan digunakan sebagai instruksi dalam implementasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.” Dalam sektor pendidikan, sangat penting untuk tetap terhubung dan mengimplementasikan metode yang kreatif serta sesuai dengan kemajuan zaman, di samping itu juga harus mampu menyesuaikan diri dengan digitalisasi sistem pendidikan yang sedang berlangsung dan terus bertransformasi (Rahayu, 2021). ME TODE PE NE LITIA N Metode yang diterapkan dalam kajian ini adalah analisis sastra, yaitu suatu cara yang melibatkan pengumpulan aneka referensi serta dokumen dari sumber-sumber yang relevan, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan dokumen lain yang berhubungan dengan subjek riset. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi peneliti untuk memahami berbagai teori, ide, dan temuan riset, sehingga dapat memperdalam analisis dan menyusun fondasi teoritis yang kokoh. Penyelidikan terhadap dokumen juga bermanfaat untuk menemukan kelemahan dalam penelitian dan mendukung peneliti dalam menyusun argumen yang lebih terorganisir berdasarkan berbagai perspektif yang telah dipelajari sebelumnya. i i i i i HASIL DAN PEMBAHASAN A. Konsep Literasi Digital Konsep Pengetahuan Digital merujuk pada kemampuan individu dalam memanfaatkan teknologi dan informasi dengan menggunakan perangkat digital di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Literasi digital dianggap sebagai rangkaian yang dirancang untuk meningkatkan 21 pemahaman tentang media. Memahami pengetahuan digital sangat diperlukan untuk mengikuti perkembangan zaman dan menanggapi kemajuan teknologi. Pada umumnya, pengetahuan digital diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengerti dan menggunakan semua informasi yang dapat diakses melalui komputer. Contohnya, di internet, melalui platform digital, alat komunikasi, dan sebagainya. Selain itu, literasi digital dapat diartikan sebagai “kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, menilai, memanfaatkan, menciptakan, dan menyampaikan konten atau informasi, dengan keterampilan baik kognitif maupun teknis." Menurut UNESCO, pengetahuan digital mencakup kemampuan untuk mengakses berita, menganalisis secara kritis, dan menghasilkan informasi menggunakan teknologi digital. Literasi digital tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan komputerisasi untuk membaca dan menulis, sebagaimana umumnya dipahami dalam konteks literasi. Dengan literasi digital, seseorang tidak hanya harus mampu mengoperasikan perangkat teknologi, namun juga perlu memiliki keterampilan lain, seperti mengakses, mengelola, mengevaluasi, mengintegrasikan, menciptakan, dan mengkomunikasikan informasi. Gilster mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk yang berasal dari banyak sumber, yang dapat diakses melalui perangkat komputer secara luas (Gilster, 1999). Gilster juga menyoroti sumber-sumber yang diperoleh melalui pemanfaatan komputer. Pandangan ini sejalan dengan ide Bawden yang menekankan pemahaman terbaru mengenai literasi digital yang berakar dari literasi komputer dan literasi informasi. Sementara itu, Kominfo juga mendefinisikan ini sebagai keterampilan digital, yang berarti kemampuan individu untuk mengenali dan memahami informasi, dan memanfaatkan perangkat keras, perangkat lunak, serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digital memiliki prinsip dasar pemahaman, saling tergantung, faktor sosial dan kompeten. Keterampilan pengguna ini mencakup kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, menggunakan, dan memproduksi dengan hati-hati, cerdas dan hati -hati sesuai dengan fungsinya. Literasi digital dapat meningkatkan kekuatan dan konsentrasi individu. B. Digitalisasi Pendidikan Proses digitalisasi dalam bidang pendidikan menuntut penguasaan literasi digital yang mendalam. Literasi digital adalah keterampilan dalam memanfaatkan media digital secara etis dan bertanggung jawab untuk mencari informasi dan berinteraksi. Keterampilan literasi digital sangat vital untuk dikuasai karena memungkinkan kita untuk berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif, menyelesaikan masalah, berkomunikasi dengan lebih efektif, serta bekerja sama dengan berbagai individu. Keberadaan kemampuan literasi digital yang kokoh menjadi elemen penting bagi siswa untuk menghadapi era yang semakin terintegrasi dan membutuhkan teknologi (Agustina et al., 2023). Kurangnya pemahaman terhadap kemungkinan yang ditawarkan oleh teknologi pendidikan dapat dipengaruhi oleh berbagai alasan, seperti terbatasnya akses, minimnya pelatihan untuk pengajar, dan kurangnya pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran (Leuwol et al., 2017). Dalam upaya untuk mencapai hasil pendidikan yang menyeluruh, sangat krusial untuk berinvestasi dalam infrastruktur teknologi yang memadai, pembelajaran berkelanjutan bagi pengajar, serta penyusunan kurikulum yang relevan dengan tuntutan masa depan. Dengan menerapkan pendekatan menyeluruh ini, transformasi digital dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan efisiensi dalam pembelajaran, tetapi juga menciptakan atmosfer pendidikan yang mendukung yang siap membantu siswa dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin digital dan berubah-ubah (Faiza, 2023). Dalam ranah literasi digital, siswa harus dipersiapkan dengan kemampuan yang lebih dari sekadar mengoperasikan perangkat teknologi. Mereka juga perlu menyadari cara untuk melindungi diri mereka di lingkungan maya, mengorganisir informasi dengan cara yang kritis, serta berperan secara etis dalam interaksi di dunia digital (Putro et al., 2023). 22 Kesuksesan dalam pengimplementasian dunia digital di sektor pendidikan tidak hanya sebatas pada penggunaan alat dan perangkat, namun juga melibatkan perubahan cara pandang terhadap proses belajar mengajar (Wibowo et al., 2023). Dengan membangun pengalaman pendidikan yang menarik dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari para siswa, kemampuan literasi digital telah beralih dari hanya sekadar kemampuan tambahan menjadi aspek krusial dalam pendidikan yang menawarkan keuntungan yang signifikan. C. Literasi Digital dalam perspektif Guru Guru adalah faktor penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Guru adalah guru dalam proses pendidikan. Dengan perkembangan saat ini, peran guru dalam kemajuan pendidikan sebenarnya dibantu oleh teknologi digital, akses internet yang tersedia membuatnya lebih mudah dan lebih dekat dengan sumber pengetahuan, yang memungkinkan akses terhadap informasi dan cara untuk belajar melakukan berbagai hal dengan lebih baik. Ini menjadi tantangan bagi pengajar di waktu sekarang, di mana mereka perlu memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi informasi. Pengajar dapat memanfaatkan alat digital yang memerlukan keterampilan untuk mengatasi buta huruf di dunia digital. Dikenal dalam ranah digital sebagai pengetahuan dan kemampuan dalam menggunakan cara-cara digital serta alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, menilai, memanfaatkan, dan menerapkan informasi dengan cara yang bertanggung jawab, bijaksana, cerdas, teliti, dan sesuai untuk mendukung komunikasi serta interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ujung tombak pendidikan, guru harus mampu menjalankan proses pembelajaran yang berkualitas. Dengan perkembangan saat ini, peran pengajar dalam kemajuan pendidikan sesungguhnya dipermudah oleh teknologi digital, di mana akses internet yang ada memudahkan mereka untuk mendekatkan diri kepada sumber-sumber informasi, sehingga memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dan belajar untuk melakukan berbagai hal dengan lebih efektif. Seorang pendidik yang memenuhi standar profesional diharapkan tidak hanya menguasai konten akademik, metode pengajaran, cara untuk memicu semangat siswa, serta memiliki tingkat keterampilan yang tinggi dan pandangan yang luas dalam bidang pendidikan, tetapi juga harus memiliki wawasan yang mendalam mengenai aspek manusia dan sosial. Standar profesionalisme seorang guru adalah hal yang fundamental untuk membangun institusi pendidikan yang berbasis pengetahuan, yang mencakup pemahaman tentang proses belajar, kurikulum, dan pengembangan pribadi termasuk strategi belajar. Prospek guru untuk pengetahuan digital termasuk pengetahuan digital dibagi menjadi empat titik termasuk keterampilan digital, budaya digital, etika digital, keamanan digital. Keterampilan digital bertanggung jawab atas konsep dasar konsep buta huruf digital termasuk Mayas-Digital, Media Sosial, Aplikasi, Keragaman Digital dan Transaksi. Dalam komposisi budaya digital yang bertanggung jawab atas konsep sosial dan negara, batas kebebasan bicara, DPI dan bagaimana menghindari hak cipta. Moralitas digital bertanggung jawab atas bidang konsep moral yang diterapkan dalam netiquette, berinteraksi dan terpisah di internet. Digital Security bertanggung jawab atas konsep aplikasi fungsi aplikasi pelindung dan catatan pelacakan digital di media dan cara merawatnya. D. Implementasi Literasi Digital dalam Kurikulum Pendidikan: Perspektif Guru dan Siswa Kurikulum adalah tokoh penting yang memiliki fungsi krusial dalam sistem pendidikan, karena di dalam kurikulum tidak hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Kurikulum dirancang untuk meningkatkan mutu pembelajaran siswa agar sesuai dengan sasaran pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan kurikulum merupakan suatu proses transformasi untuk mencapai hasil yang mendekati tujuan pendidikan yang ditetapkan. Kapasitas pengetahuan 23 digital dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan siswa karena pengembangan penggunaan dan utilitas internet. Metode pembelajaran memprioritaskan kebutuhan siswa yang memiliki perbedaan kepribadian generasi mereka yang tentu saja mengharuskan guru untuk belajar dalam mempersiapkan peralatan dan menggunakan metode. Di era digital, kemampuan mencari informasi relevan, mengevaluasi, memahami, menggunakan perangkat digital untuk menghasilkan suatu karya kreatif sangat dibutuhkan. Literasi digital hadir untuk memberi ruang kepada siswa memahami etika berinternet, menjaga keamanan data pribadi dan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan potensi diri. Dalam implementasi pengetahuan digital di sekolah, mengembangkan program diperlukan untuk diintegrasikan ke dalam program. Siswa harus dilatih dalam keterampilan buang digital mereka, guru harus dilatih untuk meningkatkan kreativitas dan dukungan pemimpin sekolah dan memfasilitasi gerakan untuk memberantas buta huruf digital di sekolah. Dalam program pendidikan, pengetahuan digital sangat penting untuk mengembangkan potensi teknologi siswa bukan sekedar memahami akan tetapi mempraktikan dalam kehidupan sehari hari. Selain mencari informasi literasi digital juga mengajak penggunanya berpikir kritis terhadap informasi yang beredar. Guru di zaman digital menghadapi transformasi yang cepat, pengembangan digital, mempersiapkan lulusan unggul yang memiliki berbagai keterampilan dan kemampuan yang sangat dibutuhkan di era digital masa sekarang dan di masa depan, maupun dari sisi karakter, kemampuan membaca dan menulis, hingga literasi digital. Tentu saja, generasi saat ini adalah generasi Z yang memiliki perbedaan dibandingkan generasi siswa sebelum era digital (Sitompul, 2022). Keterampilan literasi bagi pengajar ditekankan bahwa kemampuan ini harus ditanamkan untuk berperan sebagai pendukung proses belajar mengajar di sekolah (Silalahi & Faizal, 2022). Pendekatan kemampuan individu dalam hal literasi digital mencakup tingkat pemahaman yang tinggi, yaitu kemampuan, pemahaman, dan pandangan yang memungkinkan mereka untuk berpikir dengan bijaksana, inovatif, dan cerdik serta berinteraksi dengan teknologi digital secara aman dalam kehidupan sehari-hari (Sujanto et al., 2023). Kompetensi dalam literasi digital sangat dibutuhkan oleh pendidik dan siswa di lingkungan sekolah, sehingga komunitas sekolah dapat memiliki perspektif kritis terhadap informasi. Seseorang dapat mengembangkan kemampuan literasi digital secara bertahap karena setiap level memiliki kompleksitas yang lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Kemampuan digital mensyaratkan pengetahuan tentang komputer dan teknologi. Namun, agar dianggap menguasai literasi digital, seseorang perlu memiliki pemahaman tentang literasi yang berkaitan dengan informasi, gambar, media, dan komunikasi.. Implementasi literasi digital meliputi berbagai langkah dan strategi untuk menyatukan penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengintegrasikan literasi digital ke dalam sektor pendidikan.: 1) Penyusunan kebijakan sekolah, di mana pengajar mulai dengan merancang kebijakan sekolah yang mendukung penerapan literasi digital. Kebijakan ini perlu mencakup panduan mengenai penggunaan teknologi dalam pengajaran, pelatihan untuk pendidik, serta sistem evaluasi, 2) Pembelajaran untuk guru, menyediakan pelatihan literasi digital secara berkala bagi guru. Pelatihan ini bisa meliputi pemahaman tentang alat dan aplikasi digital, metode pengajaran yang menggunakan teknologi, serta kemampuan tentang keamanan digital, 3) Akses sumber daya digital, menyediakan sumber daya digital yang cukup, seperti komponen fisik, program komputer, dan jaringan internet. Ini mencakup memastikan bahwa semua pelajar dapat mengakses peralatan yang diperlukan untuk terlibat dalam pembelajaran digital, 4) Integrasi teknologi ke dalam kurikulum, merancang kurikulum yang mencakup penggunaan teknologi sebagai alat pembelajaran. Identifikasi segmen-segmen dalam kurikulum yang bisa diperkaya atau ditingkatkan dengan teknologi untuk mendukung literasi digital, 5) Pembelajaran kolaboratif, menitikberatkan pada pembelajaran kolaboratif dengan memanfaatkan alat dan 24 platform digital. Ajak siswa untuk berkolaborasi secara daring, bertukar gagasan, dan memecahkan masalah secara kolektif dengan memanfaatkan teknologi., 6) Penilaian digital, mengaplikasikan alat digital untuk evaluasi pembelajaran. Ini bisa meliputi penggunaan platform pembelajaran online, penilaian daring, dan alat lain yang mendukung pengukuran serta umpan balik, 7) Proyek kolaboratif dan portofolio digital, mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam proyek kolaboratif yang menggunakan teknologi. Kembangkan portofolio digital untuk setiap siswa yang mencerminkan kemajuan mereka dan karya yang telah dihasilkan, 8) Aktivitas ekstrakurikuler digital, menyelenggarakan kegiatan di luar jam sekolah atau klub yang berorientasi pada pengembangan literasi digital. Ini bisa meliputi klub pemrograman, media digital, atau aktivitas lain yang berkaitan dengan keterampilan teknologi, 9) Pendekatan proaktif terhadap keamanan digital, membimbing siswa mengenai pentingnya keamanan digital, etika online, dan perilaku yang bertanggung jawab. Pastikan guru dan siswa paham tentang risiko serta langkah-langkah perlindungan yang diperlukan di dunia digital, 10) Keterlibatan orang tua, melibatkan orang tua dalam usaha literasi digital. Menyediakan informasi dan pelatihan agar mereka dapat mendukung perkembangan literasi digital anak-anak di rumah, 11) Pemantauan dan evaluasi, melaksanakan pemantauan serta evaluasi secara berkala terhadap penerapan literasi digital. Temukan area-area yang memerlukan peningkatan dan terus kembangkan program literasi digital berdasarkan umpan balik serta hasil evaluasi. Penggunaan media pembelajaran dalam kurikulum merdeka sangat membantu dalam pemahaman konsep dengan lebih baik serta dapat meningkatkan kreativitas peserta didik. Penggunaan media dapat melalui platform e-learning, multimedia maupun vlog pendidikan. Perspektif guru mengenai literasi digital yaitu pemahaman terhadap media digital yang membutuhkan kemampuan yang mumpuni agar dapat menyesuaikan diri terhadap dunia digital, dalam implementasi terhadap kurikulum pendidikan seorang guru dibutuhkan kompetensi literasi digital sehingga dapat memudahkan proses pembelajaran serta menguatkan peran guru terhadap dunia pendidikan. Dengan memanfaatkan perangkat digital secara efektif dalam pembelajaran, memperkenalkan keterampilan teknis dan kritis, serta mengaitkan teknologi dengan aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari, guru tidak hanya meningkatkan pengalaman pendidikan siswa, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk tantangan di dunia yang semakin terhubung. Agar pemanfaatan pembelajaran digital berjalan dengan optimal, seseorang perlu memiliki kemampuan literasi digital yang tepat. (Kasperski et al., 2022). Pengetahuan digital di dalam konteks pendidikan harus ditingkatkan secara maksimal. Penerapan kemampuan digital bisa dilakukan melalui metode pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum atau dengan memanfaatkan sistem pengajaran yang terhubung dengan Internet. Kemampuan peserta didik dalam memanfaatkan pengetahuan digital di sekolah dan di luar sekolah harus ditingkatkan. Siswa juga harus memiliki tinjauan moralitas pengetahuan digital dan konsekuensi dalam menyalahgunakan media sosial. Saat mempersiapkan program buta huruf digital di sekolah-sekolah, ada platform yang menginstruksikan Direktur untuk menyiapkan program buta huruf digital, yaitu: 1) Pemahaman, masyarakat mampu memahami informasi yang disediakan oleh media, baik di bawah tanah atau jelas. 2) saling ketergantungan, antara dukungan dan ketergantungan yang berbeda dan terkait. Dukungan yang ada ada di samping dan diselesaikan. 3) Faktor sosial, pesan berbagi media atau informasi publik. Karena pencapaian media dalam jangka panjang dipengaruhi oleh bagianbagian dan audiensnya. Murai, Perusahaan memiliki keahlian untuk memperoleh, memahami, dan menyimpan data yang dapat diakses di masa mendatang. Pengorganisasian termasuk juga keterampilan berkolaborasi dalam mencari, mengumpulkan, serta menyusun informasi yang dianggap bermanfaat (Pradana, 2018). 25 Penggunaan sumber belajar digital di sekolah dianggap sangat berpengaruh dalam menunjang proses belajar mengajar. Siswa merasa bahwa akses internet mempercepat proses belajar dan membantu mereka mengerjakan tugas dengan lebih efisien. Pengaruh sumber belajar digital di sekolah sangat signifikan. Siswa mengakui bahwa internet mempermudah pencarian informasi dan mempercepat penyelesaian tugas. Efisiensi dalam belajar meningkat dengan penggunaan sumber belajar digital, karena siswa dapat dengan cepat menemukan jawaban atau referensi yang mereka butuhkan. Siswa memiliki preferensi yang beragam antara sumber belajar digital dan buku konvensional. Sebagian besar siswa lebih memilih sumber belajar digital karena efisiensinya, namun mereka juga menyadari pentingnya buku konvensional. Preferensi siswa terhadap sumber belajar digital dibandingkan buku konvensional menunjukkan pergeseran ke arah penggunaan teknologi dalam pendidikan. Siswa merasa bahwa sumber digital lebih efisien dan efektif dalam mencari informasi. Namun, mereka juga menyadari bahwa buku konvensional tetap penting, terutama untuk mengurangi ketergantungan pada perangkat digital dan mencegah masalah kesehatan seperti radiasi layar. Kombinasi penggunaan sumber belajar digital dan buku konvensional tampaknya menjadi pendekatan yang paling efektif bagi siswa dalam mengelola informasi dan belajar. Manfaat yang diperoleh dari sumber belajar digital sangat tinggi, dengan manfaat seperti akses cepat dan mudah, serta konektivitas yang luas. Siswa juga menyatakan bahwa kemampuan literasi digital dalam pendidikan sangat krusial karena dapat mempermudah akses ke konten yang lengkap dan tersedia, meningkatkan minat siswa, pendidikan yang baik adalah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta proses pembelajaran perlu disesuaikan dengan tuntutan dan mampu mengembangkan pola pikir peserta didik. Di sisi lain, literasi digital bagi guru dapat meningkatkan mutu pembelajaran, sebagai sarana bagi pelajar untuk meningkatkan kemampuan yang diperlukan, penggunaan teknologi digital memungkinkan pengajar untuk lebih efektif dalam memanfaatkan platform pendidikan berbasis digital seperti pendidikan online, menjalin kolaborasi dan komunikasi yang lebih efisien, dan literasi digital juga meliputi pemahaman mengenai keamanan digital serta etika dalam penggunaan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa para pengajar memahami pentingnya dan kebutuhan akan literasi digital yang harus diterapkan kepada siswa selama proses pembelajaran. Pandangan serupa juga mengungkapkan bahwa literasi digital bagi guru memfasilitasi desain dan penciptaan kreativitas, sehingga menghasilkan pembelajaran yang bermanfaat (Sumiati & Wijonarko, 2020). KESIMPULAN Literasi digital memiliki peranan yang sangat krusial dalam sektor pendidikan dewasa ini. Ini bukan sekadar kemampuan untuk mengoperasikan komputer, melainkan mencakup keterampilan dalam menemukan, menilai, memanfaatkan, menciptakan, serta mendistribusikan informasi dengan cara yang efektif, etis, dan bertanggung jawab menggunakan teknologi digital. Kemajuan dalam teknologi digital merevolusi cara kita berinteraksi, menciptakan peluang serta hambatan baru. Generasi yang tumbuh di era digital harus terampil dalam memanfaatkan teknologi, menganalisis secara kritis, dan berpartisipasi dalam komunitas digital. Keterampilan ini sangat krusial untuk menyesuaikan diri dengan zaman digital, terutama di bidang pendidikan yang senantiasa berubah. Pendidikan harus menerapkan pendekatan inovatif yang sesuai dengan perkembangan zaman. DAFTAR PUSTAKA Agustina, I., Khuan, H., Aditi, B., Sitorus, S. A., & Nugrahanti, T. P. (2023). Renewable Energy Mix Enhancement: The Power of Foreign Investment and Green Policies. International Journal of Energy Economics and Policy, 13(6), 370–380. https://doi.org/10.32479/ijeep.14796 Faiza, N. (2023). Konsep Kepemimpinan Pendidikan Islam. INTELEKTUALITA: Journal of 26 Education Sciences and Teacher Training, 12(1), 172–174. Fatmawati, N. I., & Sholikin, A. (2019). Literasi Digital, Mendidik Anak Di Era Digital Bagi Orang Tua Milenial. Jurnal Politik Dan Sosial Kemasyarakatan, 11(2), 119–138. Gilster, P. (1999). Digital_Literacy gilster. Meridian: A Middle School Computer Technologies Journal, 141. https://www.academia.edu/1354072/Digital_Literacy?bulkDownload=thisPapertopRelated-sameAuthor-citingThis-citedByThis-secondOrderCitations&from=cover_page Kasperski, R., Blau, I., & Ben-Yehudah, G. (2022). Teaching digital literacy: are teachers’ perspectives consistent with actual pedagogy? Technology, Pedagogy and Education, 31(5), 615–635. https://doi.org/10.1080/1475939X.2022.2091015 Leuwol, F. S., Asraf, Nugroho, B. S., Sumardi, & Wahyudi, I. (2017). the Effect of Organizational Culture , Leadership , and Work Environment. Jurnal Manajemen Dan …, 5(3), 4025–4034. https://journal.stieindragiri.ac.id/index.php/jmbi/article/view/251 Pradana, Y. (2018). 68 - 182. Untirta Civic Education Journal, 3(2), 168–182. Putro, A. N. S., Mokodenseho, S., & Aziz, A. M. (2023). Analysis of Information System Development in the Context of the Latest Technological Era: Challenges and Potential for Success. West Science Information System and Technology, 1(01), 19–26. https://doi.org/10.58812/wsist.v1i01.168 Rahayu, K. N. S. (2021). Sinergi pendidikan menyongsong masa depan indonesia di era society 5.0. Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 87–100. Silalahi, M. P., & Faizal. (2022). Jurnal Tonggak Pendidikan Dasar : Jurnal Tonggak Pendidikan Dasar : Jurnal Tonggak Pendidikan Dasar, 1(2), 59–71. Sitompul, B. (2022). Kompetensi Guru dalam Pembelajaran di Era Digital. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(3), 13953–13960. https://doi.org/10.31004/jptam.v6i3.4823 Sujanto, L. F., Kurniawan, Z., & Holik, A. (2023). Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Kecakapan Abad 21 melalui Literasi Digital. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(9), 6534–6540. https://doi.org/10.54371/jiip.v6i9.2791 Sumiati, E., & Wijonarko. (2020). Manfaat Literasi Digital Bagi Masyarakat dan Sektor Pendidikan pada Saat Pandemi Covid-19. Buletin Perpustakaan Universitas Islam Indonesia, 3(2), 65–80. Terttiaavini, T., & Saputra, T. S. (2022). Literasi Digital Untuk Meningkatkan Etika Berdigital Bagi Pelajar Di Kota Palembang. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 6(3), 2155. https://doi.org/10.31764/jmm.v6i3.8203 Wibowo, D. P., Arifianto, T., & ... (2023). Workshop peningkatan kemampuan penulisan artikel internasional terindeks scopus melalui pemanfaatan teknologi artificial intelligence. Community …, 4(5), 10667–10674. http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/cdj/article/view/21712. 27