Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 4 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Personal Branding Dharma Acarya Melalui Media Sosial YouTube I Kadek Artana1. I Made Ariasa Giri2 Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta. Indonesia Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia kartana019@gmail. Abstract This research discusses the personal branding of Dharma Acarya through YouTube Social Media. The aim of this research is to understand the form of personal branding of Dharma Acarya through YouTube social media and how Dharma Acarya implements the teachings of Hinduism through YouTube social media. This research employs a qualitative approach with a descriptive design. Data collection techniques involve interviews, observations, and documentation. The researcher collected data by observing videos on the personal YouTube channel of Dharma Acarya. This was done to gain an in-depth understanding of personal branding and the implementation of conveying the teachings of Hinduism through YouTube social media. The research findings reveal that various forms of personal branding and methods of implementing the teachings of Hinduism are adaptations to the evolving era, which facilitate effective communication through social media. Social media serves as a platform to build personal branding and convey the teachings of Hinduism. The teachings conveyed through YouTube social media encompass the literary teachings found in the Tri Hita Karana framework of Hinduism, yet the specific content varies among different Dharma Acaryas. Keywords: Personal Branding. Dharma Acarya. Social Media. YouTube Abstrak Penelitian ini membahas personal branding Dharma Acarya melalui media sosial YouTube. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk personal branding Dharma Acarya melalui media sosial YouTube dan bagaimana implementasi Dharma Acarya dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu melalui media sosial YouTube. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara melakukan observasi video yang terdapat pada akun channel media sosial YouTube pribadi Dharma Acarya. Untuk mengetahui secara mendalam personal branding dan implementasi dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu melalui media sosial YouTube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai bentuk personal branding dan cara dalam mengimplementasikan penyampaian ajaran-ajaran agama Hindu merupakan sebagai penyesuaian diri terhadap perkembangan zaman yang dapat memudahkan seseorang dalam berkomunikasi melalui media sosial. Media sosial inilah yang sebagai sarana untuk membangun personal branding dan menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu. Ajaran-ajaran yang disampaikan melalui media sosial YouTube berisi tentang ajaran sastra yang terkandung dalam Tri Kerangka Dasar agama Hindu namun masing-masing Dharma Acarya yang menyampaikan sangat Kata Kunci: Personal Branding. Dharma Acarya. Media Sosial. YouTube Pendahuluan Dalam kehidupan ini moral dan etika sangatlah diperlukan guna lancarnya komunikasi antar sesama manusia, dengan etika dan moral yang baik maka budaya sopan https://jayapanguspress. org/index. php/metta dan santun akan terjaga sehingga menciptakan keharmonisan dalam kehidupan ini. Dalam agama Hindu Dharma Acarya adalah salah satu pemuka agama Hindu yang mempunyai kewajiban untuk mewujudkan dan menyampaikan pesan-pesan moral yang baik kepada umat, namun dengan keterbatasan ruang dan waktu sehingga tidak semua umat Hindu dapat dijangkau oleh para Dharma Acarya dalam menyampaikan ajaran-ajaran moral dan Contohnya seperti daerah-daerah pelosok atau pedalaman yang tidak ada akses trasnportasi akan menjadi sebuah hambatan bagi seorang Dharma Acarya menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu, oleh karena itu perlu sebuah terobosan atau solusi yang efektif sehingga Dharma Acarya dapat menjangkau umat-umat yang berada di daerah pedalaman dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu. Dharma Acarya adalah istilah dalam tradisi Hindu dan Budha yang mengacu pada seorang guru atau pemimpin spiritual yang memimpin orang dalam memahami dan mengikuti dharma . ukum alam atau kewajiban hidu. Dharma Acarya juga bisa merujuk pada seorang guru atau pemimpin yang memiliki pemahaman mendalam tentang ajaran dan filosofi agama. Dalam konteks Hindu. Dharma Acarya sering dikenal sebagai seorang guru yang memberikan ajaran moral dan spiritual, serta membantu murid-muridnya untuk mencapai keharmonisan dan kebahagiaan dalam hidup (Jinarakkhita, 2. Ruang lingkup Dharma Acarya meliputi berbagai aspek kehidupan, termasuk agama, moral, praktik spiritual, filsafat, dan kebijakan sosial. Para Dharma Acarya biasanya memiliki pengetahuan mendalam tentang teks agama dan filsafat, serta memiliki keterampilan dalam memimpin dan membimbing umat. Aspek-aspek Dharma Acarya meliputi. pengetahuan, memiliki pengetahuan mendalam tentang teks agama, filsafat, dan praktik . keterampilan memimpin, memiliki keterampilan memimpin dan membimbing umat, serta memimpin upacara dan acara spiritual. spiritualitas, memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi dan memimpikan memberikan pengaruh positif pada umat. kepedulian, memiliki kepedulian terhadap umat dan membantu memecahkan masalah spiritual dan moral umat. kemampuan komunikasi, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan dapat menyampaikan pesan agama dan moral dengan jelas dan efektif. Latar belakang personal branding Dharma Acarya melibatkan bagaimana seorang Dharma Acarya membangun merek pribadinya sebagai pemimpin spiritual yang memimpin dan membimbing umat dalam hal agama, moral, dan praktik Dalam Hinduisme, para Dharma Acarya memainkan peran penting dalam memimpin dan membimbing umat dalam hal pengembangan spiritual dan moral. Personal branding Dharma Acarya berfokus pada membangun reputasi dan kredibilitas sebagai pemimpin spiritual yang memahami dan mempraktikkan agama, moral, dan praktik spiritual dengan baik. Para Dharma Acarya membangun merek pribadi para Dharma Acarya melalui pengalaman dan pengetahuan mendalam tentang agama, filsafat, dan praktik spiritual. Untuk membangun merek pribadi. Dharma Acarya harus memperlihatkan integritas dan komitmen terhadap agama dan moral. para Dharma Acarya juga harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan memiliki hubungan yang baik dengan umat. Para Dharma Acarya juga harus memastikan bahwa mampu memimpin dan membimbing umat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan Melalui personal branding yang kuat, para Dharma Acarya dapat memperkuat reputasinya sebagai pemimpin spiritual yang memimpin dan membimbing umat dengan baik, dan membantu meningkatkan pengaruhnya dalam hal agama, moral, dan praktik Personal branding merupakan suatu proses membentuk persepsi masyarakt terhadap aspek-aspek yang dimiliki oleh seseorang. Berbagai aspek tersebut meliputi kepribadian, kemampuan, nilai-niali, dan bagaimana stimulus-stimulus ini menimbulkan persepsi positif dari masyarakat yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai alat pemasaran (Raharjo, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Maka dari itu seseorang yang akan meniti sebuah karier ataupun usaha dan sebagainya harus mempunyai sebuah planning atau gambaran kedepan dalam pengemasan diri atau personal branding itu sendiri supaya perspektif yang meliputi kepribadian, kemampuan, nilai, pandangan seseorang terhadap suatu individu menjadi benar benar baik di mata orang lain. Personal branding adalah sebuah strategi dan ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menciptakan personal branding yang kuat yaitu . Mengenal diri sendiri sebelum membentuk personal branding, harus mengenal diri sendiri terlebih dahulu, seperti apa saja kemampuan yang dimiliki, bagaimana diri bersikap terhadap orang lain, dan lain sebagainya, . Tentukan tujuan persoanal branding setelah mengenali diri sendiri, biasa menentukan tujuan utama pembentukan personal branding. Penentuan tujuan ini juga harus disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki, . Tentukan siapa target personal branding, harus menentukan target atau pihak mana yang ingin dijangkau. Penentuan target ini akan berpengaruh pula pada hal-hal yang akan dilakukan untuk memperkuat personal branding, . Membangun dan memperluas jaringan tidak hanya terus membentuk persoanl branding, juga harus membangun dan memperluas jaringan professional yang dimiliki. Karena dengan hal ini, personal branding akan dikenal semakin luas. Menurut Peter Montoya & Vandehey . , personal branding adalah bagaimana anda mengambil kendali atas penilaian orang lain terhadap seseorang sebelum ada pertemuan langsung dengan seseorang yang membangun personal branding. Personal branding sangat mempengaruhi cara orang lain memandang diri seseorang (Farco, 2. Menurut Montoya Raharjo . , terdapat delapan konsep yang menjadi dasar hukum dalam membentuk personal branding, yaitu sebagai berikut: Spesialisasi (The law of specializatio. , ciri khas dari sebuah personal branding yang hebat adalah ketepatan pada sebuah spesialisasi, terkonsentrasi hanya pada sebuah kekuatan, keahlian atau pencapaian tertentu. Spesialisasi dapat dilakukan melalui beberapa cara yakni, ability. Behavior, lifestyle, mission, product, profession, dan Kepemimpinan (The law of leadhershi. , sebuah personal branding yang dilengkapi dengan kekuasaan dan kredibilitas sehingga mampu memposisikan seseorang sebagai pemimpin yang terbentuk dari kesempurnaan seseorang. Kepribadian (The law of personalit. , sebuah personal branding yang hebat harus didasarkan pada sosok kepribadian yang apa adanya, dan hadir apa adanya, dengan segala ketidaksempurnaanya. Konsep ini menghapuskan konsep kepemimpinan (The law of leadhershi. , seseorang harus memiliki kepribadian yang baik. Perbedaan (The law of distinctivenes. , personal branding yang baik dan efektif perlu ditampilkan dengan cara yang berbeda. Terlihat (The law of visibilit. , personal branding harus dapat dilihat secara konsisten terus menerus, sampai personal brand seseorang terlihat. Untuk menjadi visible, seseorang seseorang perlu mempromosikan dirinya, memasarkan dirinya dalam setiap Kesatuan (The law of unit. , kehidupan pribadi seseorang di balik personal branding harus sejalan dengan etika moral dan sikap yang telah ditentukan dari merek tersebut. Keteguhan (The law of persistenc. , setiap personal branding membutuhkan waktu untuk tumbuh, dan selama proses tersebut berjalan, adalah penting untuk selalu memperhatikan setiap tahapannya. Nama baik (The law of goodwil. , jika ingin personal branding memberikan hasil yang lebih baik dan bertahan lebih lama maka seseorang tersebut harus diasosiasikan dengan sebuah nilai atau ide yang diakui secara umum positif dan bermanfaat. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Kedelapan konsep yang disebutkan itu telah mencangkup dasar hukum dalam membentuk personal branding, terutama personal branding melalui media sosial Facebook. Media sosial sendiri adalah salah satu hal yang menjadi latar belakang personal branding Dharma Acarya khususnya jika seorang Dharma Acarya akan membranding dirinya melalui hal-hal ataupun teknologi komunikasi yang berkembang saat ini seperti contohnya YouTube, karena seiring berkembangnya zaman, sosial media banyak digunakan oleh masyarakat dengan kemudahan-kemudahan yang disediakan serta praktisnya menggunakan sosial media yang dapat diakses dari handphone yang dimana handphone tersebut dapat dibawa kemana saja. Masyarakat Indonesia terutama generasi milenial pasti tidak asing lagi dalam menggunakan media sosial YouTube dalam kehidupan sehari-hari. YouTube sering kali digunakan untuk mecari informasi, hiburan, juga memposting suatu video konten yang sedang marak atau sedang tranding pada saat itu supaya dapat disaksikan oleh sesama pengguna YouTube lainya. Kegiatan mengunggah konten video tentang diri sendiri atau tentang materi yang lainya adalah salah satu cara para generasi milenial untuk membranding dirinya kehadapan publik. Kelebihan membangun personal branding melalui media sosial salah satunya bisa memperluas jangkauan informasi yang diberikan kepada masyarakat, maka dari itu bukan hanya masyarakat binaan saja yang bisa mendapatkan informasi namun masyarakat pelosok pun mempunyai kesempatan untuk mengetahui perkembangan informasi yang ada. Media sosial terutama YouTube memiliki jumlah pengguna yang lumayan banyak dari berbagai kalangan dan usia, mulai dari remaja sampai orang tua. Jika para Dharma Acarya menggunakan media sosial YouTube sebagai alat untuk membangun personal branding dihadapan masyarakat Hindu dari berbagai kalangan tersebut dengan mengunggah informasi-informasi penting dan mengunggah konten video yang konteksnya menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu maka akan dengan mudah bagi Dharma Acarya untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Hindu. Para Dharma Acarya pasti mempunyai upaya dan cara masing-masing dalam proses membangun personal branding melalui unggahan konten video pada akun chanel YouTubenya, sehingga dapat memperoleh hasil yang berbeda-beda dari proses upaya membangun personal branding tersebut. Selain hal itu sebagian Dharma Acarya yang berada didaerah masih sulit untuk menggunaka media sosial YouTube sebagai alat untuk membangun personal branding dikarenakan banyak kendala dalam menggunakan media sosial, beberapa contohnya adalah jaringan internet yang terkadang kurang mendukung, kurangnya pengetahuan tentang literasi personal branding, dan kurangnya rasa percaya diri pada saat berbicara di depan kamera untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu dan sebagainya. Maka dari itu dengan dilatar belakangi dari masalah tersebut penulis tertarik dan berminat untuk meneliti tentang personal branding Dharma Acarya Melalui Media Sosial YouTube. Metode Dalam penyusunan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan pendekatan secara empiris untuk memperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan dalam mengelola hasil penelitian. Pendekakatan masalah yang digunakan yaitu metode Deskriptif Kualitatif. Dimana metode kualitatif seperti yang dikemukakan oleh Genzuk . bahwa metode deskriptif kualitatif adalah sebuah penelitian kualitatif dengan pembahasan yang bersifat deskriptif yaitu menggambarkan atau menjelaskan fenomena-fenomena yang ada di lapangan. Sumber data dalam penelitian inI dibedakan menjadi dua bagian yaitu data primer dan data sekunder. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya, misalnya dari narasumber atau informan, sehingga juga bisa mendapatkan informasi yang aktual tentang dengan penelitian tersebut. Sedangkan data sekunder, penulis mendapatkan data melalui data pustaka seperti buku-buku, dan melakukan wawancara dengan umat Hindu yang memiliki channel YouTube. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Sukandarrumidi . mengemukakan bahwa observasi merupakan pengamatan dan pencatatan sesuatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Dalam observasi ini melibatkan 2 . komponen yaitu pelaku observasi yang lebih dikenal sebagai observer dan obyek yang diobservasi yang dikenal sebagai observer. Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara terkait dengan Dharma Acarya terhadap informan yang penulis anggap bisa memberikan penjelasan yang rinci terkait dengan penelitian. Sugiyono . mengemukakan bahwa informan merupakan seorang yang bisa memberi informasi tentang situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling yakni suatu cara untuk menentukan subjek atau objek sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggunakan pertimbangan pribadi yang sesuai dengan penelitian dan memilih subjek dan objek sebagai unit analisis. Penelitian ini yang dijadikan sebagai informan adalah tokoh agama yang menjadi Dharma Acarya dan yang memiliki media sosial YouTube. Dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan Teknik pengolahan data Miles dan Huberman yang dimana terdapat beberapa proses yaitu . Pengumpulan data, data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua bagian yaitu deskriptif dan reflektif. Reduksi data, setelah data terkumpul, selanjutnya dibuat reduksi data, guna memilih data yang relevan dan bermakna, memfokuskan data yang mengarah untuk memecahkan masalah, penemuan, pemaknaan dan untuk menjawab permasalahan penelitian. Penyajian data. Hasil dan Pembahasan Dalam usaha membangun personal branding sebagai Dharma Acarya melalui media sosial YouTube, fokus pada pembentukan citra dan identitas pribadi menjadi esensi Konten berkualitas, konsistensi, interaksi aktif dengan penonton, dan pemahaman mendalam tentang target audiens menjadi pilar utama dalam menyampaikan ajaran agama Hindu. Melalui penggunaan platform YouTube. Dharma Acarya berupaya menginspirasi, memotivasi, dan memperluas komunitas penganut agama Hindu. Pengaplikasian ajaranajaran Hindu melalui media sosial adalah langkah praktis untuk mencapai audiens yang lebih luas. Interaksi dengan penonton melalui komentar dan respon langsung memungkinkan Dharma Acarya memahami kebutuhan audiens dan meningkatkan relevansi konten. Keseluruhan ini berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai agama Hindu dan menghadirkan dampak positif dalam era digital saat ini. Bentuk Personal Branding Dharma Acarya melalui Media Sosial YouTube Personal branding Dharma Acarya melalui media sosial YouTube mengacu pada proses membangun citra dan identitas pribadi Dharma Acarya sebagai seorang guru atau pemimpin spiritual dalam agama Hindu. Media sosial YouTube digunakan sebagai platform untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu dan memperluas jangkauan Melalui konten-konten yang berkualitas, konsistensi pengunggahan, interaksi dengan penonton, dan pemahaman yang baik tentang target audiens. Dharma Acarya berusaha untuk menginspirasi, memotivasi, dan memperluas komunitas penganut agama Hindu. Dengan memperhatikan kualitas produksi dan menampilkan kepribadian yang autentik. Dharma Acarya berusaha untuk memberikan manfaat positif dan memperkuat hubungan dengan para penontonnya. https://jayapanguspress. org/index. php/metta a. Spesialisasi Berbasis Tri Kerangka Dasar Agama Hindu Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Spesialisasi adalah keahlian dalam suatu cabang ilmu atau pekerjaan. Spesialisasi sendiri merupakan bidang di mana Dharma Acarya memiliki pengetahuan mendalam, keterampilan, dan pengalaman yang memungkinkan Dharma Acarya untuk memberikan nilai lebih dalam mengatasi sebuah Dengan memiliki spesialisasi yang jelas dalam personal branding, seorang Dharma Acarya membangun reputasi dan kepercayaan sebagai ahli dalam bidang Dalam konteks spesialisasi berbasis Tri Kerangka Dasar Agama Hindu. Tri Kerangka Dasar Agama Hindu meliputi Tattva . Susila . , dan Upacara . Ketiga aspek ini merupakan satu jalinan yang sangat erat kaitannya. Antara satu aspek dengan aspek lainnya saling mengisi dan saling melengkapi (Dharmaputra, 2. Dharma Acarya membangun spesialisasi yang berbasis dari hal tersebut, mulai dari Tattva. Searah dengan teori personal branding yang dicetuskan oleh Peter Montoya juga mendukung pentingnya spesialisasi dalam membangun personal branding yang tepat dan efektif. Dengan fokus pada spesialisasi yang berbasis Tri Kerangka Dasar Agama Hindu. Dharma Acarya dapat mencapai tujuan dalam menyebarkan ajaran agama Hindu dengan lebih efisien dan memberikan nilai tambah bagi penonton di media sosial YouTube. Secara keseluruhan, penekanan pada spesialisasi dalam personal branding Dharma Acarya melalui media sosial YouTube merupakan hal yang penting dan relevan dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu kepada umat Hindu, serta mencapai tujuan yang diinginkan. Membentuk Karakteristik dan Kredibilitas Kepemimpinan Dalam Membangun Personal Branding Karakteristik berasal dari kata dasar karakter, karakter yang diutarakan oleh Lickona . , sebagai a reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way. Kemudian. Lickona juga melanjutkan, character so conceived has three interrelated parts, moral knowing, moral feeling, and moral behavior. Budi pekerti luhur . ood characte. , menurut ia, mencakup mengetahui apa yang baik . oral knowledg. , kemudian mewujudkan keinginan niat untuk berbuat baik . oral feelin. , kemudian benar-benar berbuat baik . oral behavio. Selain itu, karakter juga merujuk pada seperangkat wawasan . ognitive trai. , sikap . dan motivasi . , pola tingkah laku . serta kecakapan . (Ependi & Pratiwi, 2. Kredibilitas berasal dari bahasa Inggris. Credibility. Padanan kata dalam bahasa Inggris adalah Trust. Kedua kata tersebut memiliki arti yang hampir sama. Trust lebih menekankan pada kejujuran, umumnya digunakan dalam konteks ilmu sosial, sedangkan credibility, selain dibentuk oleh kejujuran, juga oleh faktor-faktor lain, seperti, kompetensi, keterbukaan, dukungan pada yang dipimpin, sistem imbalan, tujuan. Credibility umumnya digunakan dalam konteks ilmu komunikasi dan kepemimpinan. Dalam bahasa Indonesia, kedua kata tersebut diterjemahkan kepercayaan atau dapat dipercaya (Purwanti et al. , 2. Karakteristik dan kredibilitas adalah dua hal yang saling mendukung untuk membangun sebuah personal branding terutama bagi para Dharma Acarya yang membangun personal branding melalui media sosial. Karakteristik merupakan aspek penting dalam membangun personal branding Dharma Acarya melalui media sosial YouTube. Karakteristik mencakup moral knowing, moral feeling, dan moral behavior yang berhubungan erat dengan pengetahuan, perasaan, dan perilaku moral. Dalam konteks Dharma Acarya, membangun karakteristik melibatkan mengembangkan nilai-nilai sesuai dengan ajaran Dharma dan menunjukkan sifat-sifat kepemimpinan yang menguatkan identitas dan reputasi sebagai seorang guru agama Hindu. Dharma Gita juga menjadi bagian penting dalam membangun karakteristik Dharma Acarya, di mana melibatkan penggunaan bahasa dan seni tradisional seperti https://jayapanguspress. org/index. php/metta Jula-Juli Jawa Timuran dan kidung-kidung Jawa untuk menyajikan konten yang menarik dan mudah dipahami oleh penonton di media sosial YouTube. Pentingnya karakteristik dalam personal branding Dharma Acarya juga terkait dengan kekuasaan dan kredibilitas dalam menciptakan posisi sebagai pemimpin yang dapat diandalkan oleh audiens. Dengan demikian, membangun karakteristik yang kuat dan sesuai dengan ajaran Dharma menjadi kunci dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu dengan efektif melalui media sosial YouTube. Penguatan Pada Kepribadian Yang Apa Adanya Menurut Allport . , kepribadian adalah Bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu lain atau suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Sunaryo, 2. Di era digital saat ini, yang dimana teknologi dan komunikasi berkembang dengan pesat dan dengan mudahnya mengunggah atau memposting hal yang berkaitan dengan diri sendiri maupun hal yang lainya dapat mempermudah seseorang menunjukan penampilan diri dihadapan para pengguna media sosial misalnya, dengan mengunggah foto atau video diri menggunakan pakaian yang sedang trending pada saat itu. Namun bagi Dharma Acarya yang konteksnya adalah membuat video konten tentang ajaran-ajaran agama, tentu harus memperhatikan etika berpenampilan yang tidak berlebihan atau dapat dikatakan juga menampilkan diri dengan apa adanya dan natural. Dengan diutarakanya hal tersebut oleh Ibu Dewi Mayang Anggraeni. Pd manfaat membangun personal branding dengan menampilkan diri yang apa adanya dan natural tidak hanya membuat orang lain percaya terhadap Dharma Acarya namun juga dapat mendekatkan diri dengan masyarakat penguna media sosial YouTube maupun masyarakat sekitar Dharma Acarya tinggal yang tertera seperti pada gambar diatas dimana seorang Dharma Acarya berbaur dan melantunkan kidung bersama Umat. Apabila secara bersama lihat menggunakan salah satu teori dari delapan dasar hukum dalam membangun personal branding yang dipaparkan oleh Peter Montoya yang menyebutkan bahwa sebuah personal branding yang hebat harus didasarkan pada sosok kepribadian yang apa adanya. Dalam membangun personal branding, seorang Dharma Acarya harus menampilkan diri secara apa adanya dan natural. Kepribadian yang apa adanya akan membuatnya lebih dekat dengan masyarakat dan menumbuhkan kepercayaan dari pengguna media sosial, serta memudahkan dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu dengan lancar dan tanpa kesan dibuat-buat. Menampilkan diri yang sederhana dan apa adanya juga akan mendekatkan Dharma Acarya dengan masyarakat umum, membuatnya merasa lebih dekat dan terhubung dengan ajaran-ajaran agama Hindu yang Kesederhanaan ini juga menjadi faktor penting dalam membangun personal branding yang hebat, sesuai dengan teori dari delapan dasar hukum membangun personal branding yang dipaparkan oleh Peter Montoya. Menonjolkan Hal Yang Berbeda Guna Menarik Perhatian Audiens Salah satu hal yang menjadi pendukung dalam membangun personal branding adalah perbedaan, seorang yang menampilkan hal yang berbeda dengan orang lain akan lebih mudah untuk dilihat oleh publik. Maka dari itu, seseorang yang akan membangun personal branding harus menentukan hal-hal yang menjadi sebuah perbedaan antara dirinya dengan orang lain. Momentum dan kesempatan serta tata cara menyampaikan suatu materi menjadi jalan yang diambil oleh Dharma Acarya untuk membentuk personal branding melalui media sosial YouTube sehingga dapat menarik perhatian audiens. Momentum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah saat yang tepat. Saat yang tepat itu adalah suatu kondisi di mana jika dilakukan sesuatu, melakukannya di waktu yang benar, sehingga sangatlah mudah untuk melakukannya lagi secara berulang-ulang https://jayapanguspress. org/index. php/metta (Prasetyo & Enterprise, 2. personal branding akan lebih mudah dibangun jika Dharma Acarya dapat memanfaatkan momen-momen penting untuk membranding diri dan mengunggah konten Video ajaran-ajaran agama Hindu. Memanfaatkan momenmomen penting adalah strategi yang kuat dalam membangun personal branding bagi seorang Dharma Acarya. Saat momen-momen penting seperti festival agama, perayaan khusus, atau acara spiritual. Dharma Acarya dapat mengambil peluang ini untuk membranding diri secara efektif. Dharma Acarya juga dapat menggunakan cara-cara yang berbeda dengan Dharma Acarya yang lainya, hal-hal yang bisa membuat penonton penasaran biasanya akan menarik perhatian untuk menyaksikan video yang diunggah karena penasaran dengan pembahasanya, pembeda itulah yang akan menjadikan seorang Dharma Acarya menonjol pada bidang yang diunggah atau sedang dibahas. Hal ini sepadan dengan salah satu dari delapan dasar hukum membangun personal branding yang dipaparkan oleh Peter Montoya yang menyebutkan bahwa personal branding yang baik dan efektif perlu ditampilkan dengan cara yang berbeda, bertujuan supaya Dharma Acarya memiliki daya tarik tersendiri dengan Dharma Acaraya lain yang juga membangun personal branding dan menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu melalui media sosial YouTube. Membangun Eksistensi Dengan Mempromosikan Diri Supaya Lebih Terlihat Oleh Publik Kata eksistensi menurut terminologi mengandung arti pertama, apa yang ada, kedua, apa yang memiliki aktualitas, dan ketiga adalah segala sesuatu . pa saj. yang di dalam menekankan bahwa sesuatu itu ada. Adapun pengertian eksistensi yang dikehendaki menurut bahasa adalah suatu keberadaan atau keadaan kegiatan usahanya masih ada dari dulu hingga sampai sekarang dan masih diterima oleh lingkungan masyarakat, dan keadaannya tersebut lebih eksis dikalangan masyarakat (Lubis, 2. Membangun eksistensi dilakukan dengan berbagai cara, salah satu cara yang digunakan oleh para Dharma Acarya adalah dengan melakukan sharing, dimana sharing adalah suatu kata dalam bahasa inggris yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia adalah berbagi. Dalam membangun personal branding dan mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu melalui media sosial YouTube supaya membuahkan hasil yang bagus dan menarik minat penonton untuk menyaksikan konten video yang diunggah, kedisiplinan adalah hal yang paling penting untuk dilakukan dengan cara membagi waktu dengan kegiatan yang lainya, disiplin mempelajari materi yang akan dijadikan bahan video konten, dan disiplin update melihat apa yang sedang terjadi dalam masyarakat dan hal apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian terdapat juga hal yang dilakukan oleh Dharma Acarya supaya eksistensinya dalam membentuk personal branding yaitu dengan cara sharing atau membagikan Link konten video ke media sosial yang lainya. Dalam proses upaya membangun personal branding melalui media sosial YouTube. Dharma Acarya tidak perlu memikirkan banyak atau tidaknya pengguna yang menanggapi konten video yang ditayangkan, akan tetapi lebih fokus kepada apa yang ingin dibagikan kepada orang lain. Dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu di media sosial YouTube yang diutamakan oleh Dharma Acarya adalah speak with love and care dan speak with the spirit to share. Niat untuk berbagi inilah yang menguatkan Dharma Acarya supaya terus membuat video konten penyampaian ajaran-ajaran agama Hindu dalam berbagai situasi dan kondisi. Dalam membangun personal branding sebagai Dharma Acarya melalui media sosial YouTube, kedisiplinan, konsistensi, dan kesabaran sangat penting. Eksistensi Dharma Acarya dalam membangun personal branding dapat diperkuat dengan menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu secara beragam dan menarik, serta memanfaatkan momen-momen penting, seperti hari-hari suci agama Hindu, untuk https://jayapanguspress. org/index. php/metta menyebarkan konten. Selain itu. Dharma Acarya harus mengikuti perkembangan informasi dan memanfaatkan media sosial lain untuk mempromosikan konten dan menjangkau lebih banyak penonton. Pentingnya Keselarasan Etika dan Citra Dalam Personal Branding Penting bagi seorang Dharma Acarya untuk menyelaraskan etika dalam kehidupan sehari-harinya dengan materi ajaran agama Hindu yang disampaikanya melalui media sosial YouTube, supaya mendapatkan kepercayaan penuh dari Masyarakat sehingga menimbulkan citra diri yang baik. Maka dari itu seorang Dharma Acarya yang membangun personal branding melalui media sosial YouTube harus bisa mensinergikan antara materi ajaran yang disampaikanya dengan kehidupan sehari-harinya. Sinergi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai Operasi. Gabungan dan realitas itu sendiri adalah keadaan nyata atau yang sebenarnya, jadi dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa untuk membangun personal branding yang baik harus bisa menggabungkan antara ajaran-ajaran agama Hindu yang dijadikan video konten dengan kehidupan nyata sehari-hari. Sehingga Dharma Acarya mendapatkan perspektif yang positif dan kepercayaan dari umat Hindu pengguna media sosial YouTube maupun lingkungan, seorang Dharma Acarya harus bisa mensinergikan video konten yang diunggah dengan realitas atau kehidupan nyata. Jika dianalisis dengan menggunakan salah satu dari delapan konsep dasar hukum membangun personal branding yang dipaparkan oleh Peter Montoya yang menyebutkan bahwa setiap personal branding yang baik, maka seseorang harus sejalan dengan etika, moral, dan sikap yang telah ditentukan dari merk tersebut. Untuk membangun personal branding yang baik sebagai Dharma Acarya melalui media sosial YouTube. Penting untuk mensinergikan ajaran-ajaran agama Hindu yang dijadikan video konten dengan kehidupan nyata sehari-hari. Dharma Acarya harus menyesuaikan konten dengan tahapan kehidupan yang dijalani, sehingga dapat dipercaya dan relevan bagi umat Hindu dan masyarakat pada umumnya. Mengembangkan Keteguhan Dalam Personal Branding Serta Proses dan Fokus Menuju Branding Yang Kuat Menjalani sebuah kehidupan yang mempunyai tujuan membuat seseorang harus memiliki jiwa yang teguh dan ulet dalam upaya mencapai sebuah tujuan tersebut. Seseorang harus fokus pada tujuanya, terutama dalam membangun personal branding yang dimana butuh kepercayaan dari orang lain sehingga citra seseorang dapat terlihat baik dimata orang lain. Dengan membentuk keteguhan dan fokus terhadap tujuan seseorang terutama Dharma Acarya harus konsisten dalam menjalani setiap prosesnya. Secara garis besar, konsisten biasanya diartikan sebagai sesuatu yang tidak berubah-ubah atau terjadi secara konstan. Hal ini dapat juga diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan secara terus-menerus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa konsisten berarti tetap, tidak berubah-ubah, ajeg, selaras, taat asas, sesuai atau selaras antara ucapan dan perbuatan. Kata konsisten adalah bentuk kata serapan dari bahasa Inggris consistent (Tan, 2. Membentuk personal branding di dalam media sosial YouTube bukanlah hal yang instan, apalagi dengan konten video yang mengandung nilai-nilai ajaran agama khususnya Hindu. Tahap yang dilakukan oleh Dharma Acarya dalam membangun personal branding tidaklah singkat, harus menyesuaikan dengan literature yang ada, berlatih berbicara, kemudian membuat naskah untuk materinya, setelah itu perlu menentukan waktu untuk pengambilan video, editing, pemeriksaan dan sebagainya supaya konten yang diunggah di media sosial YouTube sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tidak menyinggung agama atau orang lain. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Hal ini sejalan dengan salah satu dari delapan konsep dasar hukum membangun personal branding yang dipaparkan oleh Peter Montoya yang menyebutkan bahwa, setiap personal branding membutuhkan waktu untuk tumbuh, dan selama proses tersebut berjalan, adalah penting untuk memperhatikan setiap tahapannya. Membangun personal branding sebagai Dharma Acarya melalui media sosial YouTube adalah sebuah proses yang tidak instan. Diperlukan konsistensi, managemen waktu, serta latihan berbicara dan berkomunikasi untuk menghasilkan konten video yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Hindu. Proses ini membutuhkan penyesuaian dengan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu di Indonesia. Penting untuk memperhatikan etika, moral, dan konten yang disampaikan agar personal branding dapat berkembang dengan baik dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Membangun Nama Baik Yang Positif. Bermanfaat, dan Berkelanjutan Dalam Personal Branding. Penting untuk menyajikan pesan yang bermanfaat. Dalam konteks personal branding di media sosial, ini berarti memberikan konten yang memiliki nilai tambah bagi Konten-konten ini bisa berupa informasi yang mendidik, solusi atas masalah, atau bahkan inspirasi. Konten yang dihasilkan juga harus berkualitas tinggi, baik dari segi visual maupun isi. Konten yang baik akan menciptakan kesan profesional dan dapat diandalkan dalam jangka panjang. Interaksi positif dengan audiens juga sangat penting. Terlibat dengan komentar, pertanyaan, dan umpan balik dari para Dharma Acarya dengan sikap yang ramah dan informatif. Ini akan membantu membangun hubungan positif dan memperkuat citra Anda sebagai sosok yang peduli dan terhubung dengan penonton. Jika video-video bagus dan konten-konten bisa membuat para penonton senang maka masyarakat akan terus menonton video atau bahkan menjadi subscriber baru di channel YouTube (Permana, 2. Ini bisa berarti masyarakat akan berlangganan saluran YouTube untuk mendapatkan pembaruan tentang konten terbaru. Subscribers baru, ini merupakan bukti bahwa konten memang memiliki dampak positif dan penonton ingin tetap terhubung dengan konten tersebut. Jadi, secara keseluruhan, kualitas video dan konten yang mampu menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan bagi penonton sangat penting dalam membangun audiens yang setia dan berkelanjutan di saluran YouTube. Dengan kemajuan teknologi komunikasi, setiap pengguna media sosial dapat berkomunikasi secara dua arah melalui kolom komentar yang sudah disediakan. Dari sanalah Dharma Acarya sebagai pencipta video konten dapat melihat respon penonton dan juga membalas respon tersebut. Dari sana juga Dharma Acarya dapat melihat seperti apa masyarakat menilai dirinya. Hal ini sejalan dengan salah satu dari delapan konsep dasar hukum membangun personal branding yang dipaparkan oleh Peter Montoya, yang menyebutkan bahwa jika ingin personal branding memberikan hasil yang lebih baik dan bertahan lebih lama, maka seseorang harus diasosiasikan dengan sebuah nilai atau ide yang diakui secara umum positif dan bermanfaat. Konsistensi dalam menghasilkan video konten yang bagus dapat membuat penonton terus menonton dan menjadi subscriber baru di channel YouTube. Penerapan Materi Yang Disampaikan Oleh Dharma Acarya Dalam Membangun Personal Branding Melalui Media Sosial YouTube Pengertian Penerapan menurut menurut Lukman Ali. Penerapan adalah mempraktikkan, memasangkan (Firdianti, 2. Penerapan materi oleh Dharma Acarya dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu melalui media sosial YouTube adalah langkah praktis untuk mencapai audiens yang lebih luas. Dharma Acarya menggunakan platform YouTube sebagai sarana untuk mengunggah video konten yang berisi pesanpesan kebajikan, nilai-nilai agama, dan pengetahuan spiritual Hindu. Dengan ini, para https://jayapanguspress. org/index. php/metta Dharma Acarya dapat mencapai orang-orang dari berbagai kalangan dan latar belakang, termasuk orang-orang yang tidak beragama Hindu, sehingga pesan-pesan tersebut dapat lebih diterima dan dipahami secara lebih inklusif dan relevan dengan kehidupan seharihari masyarakat. Melalui interaksi dengan penonton melalui kolom komentar dan respon langsung. Dharma Acarya juga dapat memahami kebutuhan dan tanggapan dari audiensnya, sehingga dapat memperbaiki dan mengoptimalkan kontennya agar lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat secara luas. Perencanaan Dalam Menyampaikan Ajaran-Ajaran Agama Hindu di Media Sosial YouTube Perencanaan merupakan kegiatan atau proses membuat rencana yang kelak dipakai perusahaan atau seseorang dalam rangka melaksanakan pencapaian yang dituju (Umar, 2. Dalam merencaanakan sebuah penyampaian ajaran-ajaran agama Hindu di media sosial YouTube yang pertama harus dilakukan adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai melalui saluran konten YouTube, apakah seorang Dharma Acarya ingin mendidik orang tentang ajaran-ajaran agama Hindu, memperluas kesadaran tentang budaya Hindu, atau membangun komunitas online bagi para praktisi Hindu. Memiliki tujuan yang jelas akan membantu Dharma Acarya merancang strategi dan konten yang Membangun literasi adalah salah satu hal yang penting utama bagi para Dharma Acarya, seperti yang disampaikan oleh Yudha Triguna, supaya dalam penyampaianya tidak ada hal-hal yang melenceng dan kurang pas serta tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, dalam proses perencanaan, membaca buku ataupun sumbersumber yang berkaitan dengan ajaran agama Hindu sangatlah penting. Kemudian, proses perekaman sampai dengan editing juga harus diperhatikan dengan sebaik mungkin, supaya video yang diunggah memiliki kualitas yang bagus dan dapat menarik perhatian Dari hal tersebut, tentunya Dharma Acarya harus konsisten dalam menentukan frekuensi pengunggahan video. Konsistensi, disiplin, dan kemampuan berbagi secara luas akan membantu mencapai tujuan Dharma Acarya dalam menyampaikan pesan agama Hindu secara lebih luas dan efektif. Riset mendalam tentang ajaran Hindu diperlukan, serta konsistensi dalam mengunggah konten sesuai jadwal. Promosi melalui media sosial lain juga penting untuk membangun eksistensi dan menarik lebih banyak penonton. Konsistensi, disiplin, dan kemampuan berbagi dengan luas akan membantu Dharma Acarya mencapai tujuan menyampaikan pesan agama Hindu secara efektif kepada audiens yang lebih luas. Kesetiaan pada konsistensi, kedisiplinan, dan kemampuan untuk berbagi dengan luas adalah kunci untuk mencapai tujuan Dharma Acarya dalam menyampaikan pesan agama Hindu dengan lebih luas dan efektif. Ini melibatkan penelitian yang mendalam tentang ajaran Hindu, serta menjaga kualitas dan konsistensi konten yang diunggah. Dengan memanfaatkan promosi melalui berbagai platform media sosial. Dharma Acarya dapat membangun eksistensi yang lebih kuat dan menjangkau audiens yang lebih luas. Kesepakatan Tri Keranga Dasar Agama Hindu Sebagai Basis Dalam Penyampaian Ajara-Ajaran Agama Hindu Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesepakatan berarti perihal sepakat. Kesepakatan di dalamnya mengandung kata sepakat yang artinya setuju, mufakat, sependapat, dan sekata. Kesepakatan merupakan suatu hal yang terbentuk dari rangkaian proses-proses, yang bisa saja termasuk ke dalam suatu perundingan mengenai hal-hal yang berkaitan (Santika, 2. Dharma Acarya sepakat dan bersependapat bahwa dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama Hindu di media sosial YouTube akan berdasarkan pada Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, yang berarti dalam penyampaianya Dharma Acarya akan menyampaikan filsafat atau sejarah, etika dan moral serta tingkah laku yang baik untuk diterapkan, dan bagaimana cara melakukan ajaran-ajaran yang https://jayapanguspress. org/index. php/metta disampaikan. Tri Hita Karana menjadi dasar yang penting untuk memberikan informasi yang terstruktur dan menyakinkan audiens dalam mempraktikkan ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan dan Kesesuaian Konten Dengan Kehidupan Sehari-hari Penerapan adalah perbuatan mengaplikasikan suatu cara atau teori supaya tujuan dan kepentingan kelompok yang telah tersusun dapat dicapai (Lestari, 2. Seperti halnya Dharma Acarya yang mengimplementasikan penyampaian ajaran-ajaran agama Hindu di media sosial YouTube dengan menerapkan ajaran yang sudah disampaikan melalui media sosial YouTube dengan kehidupan sehari-harinya. Dari hal tersebut audience juga akan yakin dan ikut menerapkan ajaran yang telah disampaikan karena apa yang disampaikan oleh Dharma Acarya tidak sebatas omongan belaka namun juga sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan mendapatkan manfaatnya dengan memberikan contoh-contoh nyata yang dibutuhkan oleh audiens. Jelas manfaatnya, seperti yang diutarakan oleh salah satu Dharma Acarya yang aktif menggunakan media sosial YouTube, yakni Dewa Ketut Suratnaya. Jadi konten itu tidak boleh membuat orang tersinggung, tetapi justru merasa sangat dibutuhkan dan melengkapi apa yang sudah di pahami dan jelas manfaatnya, yang lebih penting adalah bisa diaplikasikan dan dirasakan serta dibuktikan bahwa itu sangat menopang kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan media sosial YouTube dengan baik. Dharma Acarya dapat meningkatkan keyakinan audiens terutama umat Hindu yang tadinya masih ragu menjadi semakin yakin dan tahu bagaimana cara melaksanakan ajaran-ajaran agama Hindu dengan benar. Melalui penggunaan efektif media sosial YouTube. Dharma Acarya memiliki peluang untuk memperkuat keyakinan umat Hindu. Para Dharma Acarya dapat membantu mengatasi keragu-raguan dengan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pelaksanaan ajaran agama Hindu. Dengan konten yang tepat. Dharma Acarya dapat membantu umat Hindu menjadi lebih yakin dan paham tentang cara melaksanakan ajaran agama Hindu dengan benar. Maka dari itu, seorang Dharma Acarya harus benarbenar menerapkan ajaran yang disampaikan melalui media sosial YouTube supaya audiens dapat merasakan manfaatnya dan menuntun cara berfikir audiens, dengan demikian bukan hanya audiens yang beragama Hindu saja yang merasakan manfaatnya, namun juga audiens yang di luar Hindu. Dengan pendekatan yang hati-hati, penuh kesabaran, dan menghargai keputusan orang lain. Dharma Acarya berusaha untuk memastikan bahwa setiap orang yang bergabung dengan agama Hindu melalui pengajarannya melakukan keputusan dengan kesadaran dan keyakinan yang kuat. Pendekatan ini mencerminkan sikap menghargai kebebasan beragama dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk menjalani perjalanannya dalam memilih dan memahami agama Hindu. Penerapan ajaran ini juga membantu audiens menginternalisasi ajaran agama Hindu dalam kehidupannya sehingga tujuan dan kepentingan kelompok yang telah tersusun dapat dicapai. Penggunaan media sosial YouTube juga memberikan kemudahan bagi Dharma Acarya untuk mencapai audiens yang lebih luas dan beragam, termasuk orang-orang di luar agama Hindu yang tertarik untuk mempelajari dan bahkan masuk menjadi Hindu setelah menyaksikan konten yang Penerapan ajaran ini membantu audiens meresapi ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari, mendorong tercapainya tujuan kelompok. Kesimpulan Penelitian ini membahas tentang membentuk personal branding melalui media sosial YouTube serta menyampaikan ajaran agama Hindu melalui media sosial YouTube, personal branding Dharma Acarya menjadi esensi utama. Fokus pada spesialisasi berbasis Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, membangun karakteristik yang sesuai https://jayapanguspress. org/index. php/metta dengan ajaran Dharma, dan konsistensi dalam konten menjadi pilar utama. Melalui momen-momen penting. Dharma Acarya dapat menyebarkan pesan agama dengan tepat. Disiplin, konsistensi, etika yang teguh, dan interaksi yang baik membentuk branding yang dipercaya dan berdampak positif. Dengan ini. Dharma Acarya dapat memperoleh pengakuan dan menginspirasi masyarakat secara efektif. Penerapan ajaran agama Hindu melalui media sosial YouTube oleh Dharma Acarya mengandalkan perencanaan matang, riset mendalam, dan konsistensi dalam konten. Para Dharma Acarya mengikuti Tri Kerangka Dasar Agama Hindu dan menerapkan ajaran dalam kehidupan sehari-hari. Melalui YouTube, para Dharma Acarya dapat mencapai audiens beragam, termasuk nonHindu yang tertarik mempelajari dan mengadopsi ajaran tersebut. Dengan pendekatan ini, para Dharma Acarya menciptakan dampak yang luas dan positif melalui platform media Daftar Pustaka