Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan PENGARUH SELF-REGULATED LEARNING TERHADAP STUDENT ENGAGEMENT PADA MATA PELAJARAN KEARSIPAN MELALUI SELF EFFICACY SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA SISWA SMKN 1 SURABAYA Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 Universitas Negeri Surabaya1. Universitas Negeri Surabaya2 pos-el: khusnulkhotimah. 22012@mhs. id1, novitrisnawati@unesa. ABSTRAK Rendahnya tingkat student engagement siswa pada pembelajaran Pengelolaan Kearsipan di SMKN 1 Surabaya yang ditandai dengan kurangnya partisipasi aktif dan rendahnya kepercayaan diri dalam belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Selfregulated learning terhadap Student engagement melalui Self-efficacy sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan populasi seluruh siswa kelas XII Program Keahlian Manajemen Perkantoran SMKN 1 Surabaya sebanyak 138 siswa, dan sampel ditentukan dengan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui angket berskala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEMPLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Selfregulated learning berpengaruh signifikan terhadap Self-efficacy. Self-efficacy berpengaruh signifikan terhadap Student engagement, dan Self-regulated learning juga berpengaruh terhadap Student engagement baik secara langsung maupun tidak langsung melalui Self-efficacy sebagai variabel mediasi. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan siswa dalam mengatur diri dalam belajar, maka semakin kuat keyakinan diri dan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Kata kunci : Self-regulated learning. Self-efficacy. Student engagement. SMKN 1 Surabaya ABSTRACT The low level of student engagement in the Archival Management subject at SMKN 1 Surabaya is characterized by a lack of active participation and low self-confidence in learning. This study aims to analyze the effect of Self-regulated learning on Student engagement through Self-efficacy as a mediating variable. The research employed a quantitative explanatory approach with a population of 138 twelfth-grade students from the Office Management Program at SMKN 1 Surabaya, and the sample was selected using a proportional random sampling Data were collected through a Likert-scale questionnaire that had been tested for validity and reliability, then analyzed using the Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) method with SmartPLS 4. 0 software. The results revealed that Self-regulated learning significantly influences Self-efficacy. Self-efficacy significantly affects Student engagement, and Self-regulated learning also has a significant impact on Student engagement, both directly and indirectly through Self-efficacy as a mediating variable. These findings indicate that the higher the studentsAo ability to regulate their own learning, the stronger their selfconfidence and engagement in the learning process. (TNR, 11 italic, single space. Keywords: Self-regulated learning. Self-efficacy. Student engagement. SMKN 1 Surabaya PENDAHULUAN Pendidikan vokasi di tingkat SMK menyiapkan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan dunia industri. Dengan lebih 000 SMK dan sekitar 5 juta Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 siswa (Kemendikbud, 2. , pendidikan menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri melalui proses belajar yang terarah dan sadar (Rahman et al. , 2. Pada saat pembelajaran siswa diharapkan aktif Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 bertanya, berdiskusi, mengerjakan tugas, serta bekerja sama, karena keaktifan tersebut berpengaruh langsung terhadap kualitas pembelajaran dan prestasi mereka (Putrayasa, 2. Namun masih ditemukan masalah seperti kinerja yang kurang memuaskan, perasaan bosan, dan angka kelulusan yang tetap tinggi adalah beberapa isu yang dihadapi siswa di Indonesia dan menjadi perhatian yang serius (Fikrie & Ariani, 2. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul di lingkungan SMK tidak hanya akademik, tetapi juga dengan tingkat keterlibatan siswa dalam proses Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar, yang dikenal sebagai student Student engagement merujuk pada sejauh mana siswa berpartisipasi aktif pada proses pendidikan. Fredricks menjelaskan bahwa prestasi akademik yang rendah, meningkatnya kebosanan siswa, serta tingginya angka putus sekolah saling berkaitan dengan kurangnya partisipasi siswa pada proses belajar, selain itu Fredricks juga menjelaskan bahwa Student engagement adalah suatu konstruk yang terdiri dari tiga aspek, yaitu keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif (Fredricks et al. Student engagement menjadi dua aspek utama, yaitu keterlibatan kognitif dan keterlibatan psikologis (Appleton et , 2. Oleh karena itu, tingkat Student engagement yang tinggi diperkirakan dapat memberikan dampak positif bagi pencapaian hasil belajar Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan ketidakterlibatan dan angka putus sekolah (Pratama & Guspa, 2. Aspek yang akan diuji dalam variabel ini Indikator yang digunakan menyelesaikan tugas, fokus pada tujuan, dapat beradaptasi dengan lingkungan, (Rahmawati, 2. SMKN 1 Surabaya merupakan salah satu sekolah menengah kejuruan negeri yang berlokasi di Kota Surabaya. Jawa Timur. Sekolah ini telah berdiri sejak lama dan dikenal sebagai institusi pendidikan vokasi yang berprestasi dalam menghasilkan lulusan yang siap kerja dan kompeten di berbagai bidang. Selain itu. SMKN 1 Surabaya memiliki visi dan misi untuk memberikan pendidikan kejuruan berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan dunia industri dan pasar kerja, dengan menggabungkan teori dan praktik secara Sekolah ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap serta tenaga pengajar yang profesional, sehingga mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Sebagai bagian dari SMKN 1 Surabaya, jurusan Manajemen Perkantoran menjadi salah satu program keahlian yang berfokus pada pengembangan keterampilan administratif dan manajerial yang dibutuhkan di dunia perkantoran dan Student engagement pada jurusan Manajemen Perkantoran di SMKN 1 Surabaya menunjukkan pola yang berbeda antara pembelajaran teori dan Siswa cenderung lebih aktif saat Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 melakukan praktik kearsipan seperti menemukan kembali arsip dibandingkan saat pembelajaran teori, di mana sebagian siswa tampak pasif dan kurang Pemilihan elemen pengelolaan kearsipan sebagai fokus penelitian didasarkan pada perannya sebagai pusat informasi yang sangat penting dalam efektivitas kerja perkantoran. Pada mata pelajaran ini, siswa dituntut tidak hanya memahami konsep kearsipan, tetapi juga penyimpanan, membedakan jenis arsip, dan memilih sistem kearsipan yang Oleh karena itu, keterlibatan aktif siswa menjadi sangat penting karena melalui partisipasi dan interaksi, siswa administratif yang dibutuhkan secara Penelitian ini menggunakan subjek populasi Kelas XII karena pada tingkat ini siswa telah menempuh mata pelajaran pengelolaan kearsipan secara mampu menunjukkan engagement yang lebih matang baik dari aspek perilaku, kognitif, maupun emosional dalam proses pembelajaran. Keterlibatan siswa dibutuhkan sebagai predictor yang memperlihatkan tingkat perhatian, usaha, persistensi, emosi positif, dan komitmen seorang pelajar dalam proses belajarnya (Mukaromah et al. , 2. Student pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari keyakinan diri siswa terhadap kemampuannya atau yang dikenal dengan self-efficacy. Self efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap potensi diri mereka dalam menyelesaikan tugas atau mencapai suatu tujuan (Bandura, 1. Oleh karena itu, siswa dengan tingkat Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Self efficacy tinggi biasanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih kuat dan lebih berkomitmen pada penerapan strategi belajar mandiri, yang pada akhirnya meningkatkan keterlibatan dalam proses belajar (Anggraini & Chusairi, 2. Menurut Zimmerman, belajar secara mandiri dapat dianggap terjadi ketika siswa secara terencana mengarahkan perilaku dan pemikiran mereka, serta mengikuti petunjuk tugas, menjalani proses pembelajaran dengan mengulang informasi agar dapat diingat, mempertahankan keyakinan positif mengenai kemampuan mereka dalam belajar (Self efficac. , yang juga dapat membantu memprediksi hasil belajar yang akan dicapai (Subekti & Kurniawan, 2. Self efficacy juga merupakan elemen penting yang memengaruhi peningkatan Student engagement. Hal ini ditegaskan oleh Boekoorts bahwa terdapat berbagai faktor dari diri sendiri serta lingkungan yang dapat berkontribusi pada Student engagement, dan salah satu faktor individu adalah keberadaan Self efficacy (Ansyar et al. , 2. Menurut Bandura, self efficacy merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas tertentu atau bagian dari suatu tujuan. Bandura menjelaskan bahwa Self efficacy memiliki tiga dimensi utama, yaitu level, generalitas, dan kekuatan (Sadriani & GH, 2. Maka dari itu. Self efficacy tidak bersifat tetap. Tingkat self efficacy dapat berubah naik atau turun, tergantung pada penilaian seseorang terhadap setiap fase dalam Self efficacy bisa ditingkatkan melalui pengalaman, baik yang dialami sendiri maupun yang disaksikan dari Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 orang lain (Akmal et al. , 2. Aspek yang akan diuji dalam variabel ini adalah level, strenght, generality. Indikator yang diujikan adalah tingkat kecerdasan, ketepatan, usaha yang dilakukan, memiliki keyakinan pada kemampuannya, ketekunan dalam usaha, kesamaan, modalitas (Pratiwi & Imami, 2. Self efficacy bukan mempengaruhi Student engagement, faktor lain yang juga mempengaruhi adalah Self-regulated learning. Self-regulated learning merupakan aspek penting dari pembelajaran bagi siswa yang mempengaruhi keberhasilan akademis (Mukaromah et al. , 2. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Supardi yakni Selfregulated learning adalah aspek penting dalam kegiatan belajar siswa yang berpengaruh terhadap keberhasilan akademis mereka. Siswa yang dapat mengelola pembelajaran mereka sendiri menunjukkan kesediaan untuk berusaha, dan menyelesaikan tugas sesuai dengan Kemampuan ini mencakup tanggung keputusan, karakter yang dimiliki individu selama proses belajar, integrasi pemahaman dalam konteks tertentu, pelaksanaan kegiatan konstruktif, serta pengembangan keterampilan belajar mandiri (Supardi & Agus Triansyah. Aspek yang diteliti yaitu kognitif, motivasi, dan perilaku. Indikator yang diujikan yaitu perencanaan, kemampuan menyelesaikan tugas, fokus pada tujuan, dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dapat mengendalikan perilaku (Apriantini, 2. SRL memiliki peranan penting dalam mendorong Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan siswa untuk menjadi lebih aktif, mandiri, dan reflektif dalam mengatur strategi belajar mereka. Namun, tidak semua siswa dapat menerapkan SRL secara maksimal, disebabkan oleh perbedaan dalam keyakinan diri atau Self efficacy mereka. Self efficacy sangat penting dalam proses belajar karena keyakinan siswa mengenai kemampuan mereka dapat memperkuat pelaksanaan Pembelajaran Mandiri (SRL). Ketika siswa merasa mampu menyelesaikan tugas (Self efficac. , mereka cenderung lebih teratur dalam menetapkan tujuan, memantau kemajuan, dan mengevaluasi (Robaiyani et al. , 2. Kombinasi antara kepercayaan diri dan pengaturan belajar yang efektif inilah yang pada Student engagement dalam aspek kognitif, emosional, dan perilaku dalam proses Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Self efficacy berfungsi sebagai pemoderasi yang memperkuat hubungan antara Pembelajaran Mandiri dan Student (Rahmawati. Contohnya, siswa dengan Self efficacy yang tinggi tidak hanya dapat merencanakan pembelajaran dengan baik, tetapi juga lebih gigih pada saat keterlibatan mereka dalam proses belajar menjadi lebih optimal. Selain faktor internal seperti Self efficacy, keterlibatan pelajar dalam proses pembelajaran juga dipengaruhi oleh aspek eksternal yang sangat Sebuah meta-analisis Student engagement dipengaruhi oleh berbagai elemen, termasuk dukungan sosial dari guru, teman, dan orang tua, keterlibatan Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 orang tua, serta kesehatan psikologis siswa (Ansong et al. , 2. Meskipun demikian, di antara semua elemen tersebut. Self efficacy dan Self-regulated learning adalah dua prediktor yang paling kuat, dengan Self efficacy memberikan pengaruh yang lebih besar. Oleh karena itu, usaha untuk meningkatkan Student engagement tidak keterampilan Self-regulated learning, tetapi juga perlu untuk membangun kepercayaan diri siswa melalui pengalaman sukses, umpan balik yang positif, dan contoh dari model peran. Ketika Self efficacy dan SRL bekerja sama, siswa tidak hanya lebih aktif dalam belajar, tetapi juga dapat mengeluarkan potensi akademik yang selama ini terpendam. Berdasarkan wawancara dengan guru Manajemen Perkantoran, diketahui bahwa student engagement pada mata pelajaran Pengelolaan Kearsipan di SMKN 1 Surabaya masih belum Meskipun ada siswa yang aktif, banyak yang pasif, enggan bertanya, dan menghindari diskusi. Guru menjelaskan bahwa sikap pasif ini banyak dipengaruhi rendahnya self-efficacy, seperti rasa malu, takut salah, atau khawatir diejek teman. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan siswa tidak hanya dipengaruhi metode mengajar, tetapi juga faktor internal seperti self-regulated learning dan kepercayaan diri. Siswa cenderung lebih aktif ketika pembelajaran menggunakan metode interaktif seperti diskusi, simulasi, atau praktik, tetapi sebagian tetap pasif dan hanya merespons ketika Hambatan ini diperburuk oleh pola mengajar yang masih konvensional dan minim variasi media, sehingga suasana kelas menjadi monoton dan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan motivasi siswa menurun. Kemampuan mengatur belajar secara mandiri dan keyakinan diri keterlibatan siswa. Mereka yang memiliki self-efficacy tinggi lebih percaya diri, proaktif, dan bertanggung cenderung menghindari partisipasi. Untuk mengatasi masalah ini, guru menggunakan pendekatan interaktif seperti pengarahan langsung dalam diskusi dan pemberian poin tambahan bagi siswa aktif. Meskipun strategi ini cukup membantu, sekolah belum menyediakan pelatihan khusus untuk meningkatkan self-regulated learning. Pemantauan engagement dilakukan melalui absensi, jurnal belajar, serta layanan bimbingan konseling yang membantu siswa mengenali potensi diri dan mengatasi hambatan emosional. Meskipun pengaruh self-regulated learning (SRL) terhadap student engagement telah banyak diteliti, hanya sedikit studi yang menempatkan selfefficacy sebagai variabel mediasi, khususnya di lingkungan pendidikan vokasi seperti SMK. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada SMA atau perguruan tinggi, sehingga dinamika pembelajaran di SMK yang memiliki karakteristik berbeda belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan mengisi kekosongan tersebut dengan SRL memengaruhi keterlibatan belajar siswa dan bagaimana self-efficacy memediasi hubungan tersebut pada siswa SMKN 1 Surabaya. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model keterlibatan belajar yang menggabungkan SRL dan self-efficacy sebagai dua faktor utama dalam pembelajaran vokasional. Model Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi strategi pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan kemandirian siswa, tetapi juga memperkuat aspek psikologis yang berperan dalam keterlibatan belajar Penelitian ini sejalan dengan Mukaromah Student ditinjau dari self efficacy dan selfregulated learning dengan Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara self efficacy terhadap Student engagement, serta selfregulated learning juga berperan penting dalam Student engagement. Selain itu, terdapat pengaruh yang signifikan antara kedua faktor tersebut secara bersamaan terhadap Student (Mukaromah et al. , 2. Penelitian Amirah tentang Hubungan antara Self efficacy dengan Student engagement pada Siswa MAN Pinrang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Self efficacy dengan Student engagement (Ansyar et al. Penelitian Zakiah membahas hubungan antara Selfregulated learning dengan Student engagement pada mahasiswa karyawan di fakultas psikologi universitas proklamasi 45 yogyakarta menemukan adanya hubungan positif antara Selfregulated learning dengan Student (Zakiah et al. , 2. Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu, maka dirumuskan variabel dalam penelitian ini. Selfregulated learning (SRL) diduga memiliki pengaruh signifikan terhadap self-efficacy, karena siswa yang mampu Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan mengatur strategi belajar, menetapkan tujuan, dan mengevaluasi kemajuannya sendiri cenderung memiliki keyakinan diri yang lebih tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Dengan demikian, semakin baik kemampuan regulasi diri siswa, maka semakin kuat pula self-efficacy yang dimilikinya (H. Selanjutnya, selfefficacy diperkirakan berpengaruh signifikan terhadap student engagement, karena keyakinan individu terhadap kemampuan diri terbukti meningkatkan motivasi, semangat, dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (H. Selain itu, self-regulated learning juga diduga berpengaruh terhadap student engagement secara langsung, karena kemampuan mengelola proses belajar secara mandiri dapat mendorong siswa untuk lebih aktif, bertanggung jawab, dan konsisten dalam mengikuti kegiatan pembelajaran (H. Namun, hubungan tersebut dapat pula bersifat tidak langsung melalui peran selfefficacy sebagai variabel mediasi. Artinya, self-regulated learning terhadap student engagement terjadi karena siswa yang mampu mengatur diri dalam belajar akan mengembangkan keyakinan diri yang kuat, dan pada akhirnya meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran (H. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kuantitatif eksplanatori . xplanatory quantitative researc. dengan tujuan untuk menjelaskan hubungan kausal antara Self-regulated learning (SRL). Self-efficacy (SEFF), dan Student engagement (SENG) (Hardani et al. , 2. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 Program Keahlian Manajemen Perkantoran SMKN 1 Surabaya dengan populasi sebanyak 138 siswa. Sampel ditentukan dengan teknik proportional random sampling dengan hasil 102 siswa. Adapun komposisi siswa pada masing-masing kelas adalah sebagai berikut: kelas XII MP 4 terdiri dari 34 siswa dengan 3 siswa laki-laki dan 31 siswa perempuan. kelas XII MP 3 berjumlah 35 siswa dengan 9 siswa laki-laki dan 26 siswa kelas XII MP 2 berjumlah 35 siswa dengan 3 siswa laki-laki dan 32 siswa perempuan. serta kelas XII MP 1 terdiri dari 34 siswa dengan 1 siswa laki-laki dan 33 siswa Komposisi menjadi dasar dalam penarikan sampel secara proporsional agar representasi setiap kelas terjaga dalam penelitian Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert lima poin yang mencakup indikator dari ketiga Sebelum reliabilitasnya dengan bantuan SPSS Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation ModelingAePartial Least Squares (SEM-PLS) melalui perangkat lunak SmartPLS 4. Tahapan analisis mencakup uji model pengukuran . uter mode. untuk menilai validitas dan reliabilitas konstruk serta uji model struktural . nner mode. untuk menguji hubungan antarvariabel. Keabsahan hasil penelitian dijaga melalui uji reliabilitas konstruk (CronbachAos Alpha dan composite reliabilit. , validitas konvergen dan diskriminan (AVE, loading factor, dan HTMT), serta pemeriksaan konsistensi dengan teori dan temuan empiris Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan sebelumnya (Hamid et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Karakteristik responden penelitian ini merupakan siswa kelas XII Program Keahlian Manajemen Perkantoran SMKN 1 Surabaya yang telah menempuh mata pelajaran Elemen Kearsipan. Jumlah keseluruhan responden sebanyak 138 siswa, terdiri atas kelas XII MP 1 dan XII MP 3 masing-masing 34 siswa, serta XII MP 2 dan XII MP 4 masing-masing 35 Pemilihan kelas XII didasarkan pada pertimbangan bahwa siswa pada tingkat ini telah memiliki pemahaman dan pengalaman belajar yang memadai, sehingga mampu memberikan data yang relevan untuk mengukur hubungan antara Self-regulated learning. Self-efficacy, dan Student engagement. Langkah awal yang dilakukan peneliti untuk mencapai tujuan penelitian adalah dengan melakukan uji outer model dan uji inner model. PENGUKURAN OUTER MODEL Outer model menggunakan First order confirmatory factor analysis, karena peneliti dapat secara langsung mengukur indikator-indikator dari variabel laten. Sedangkan model indikator yang digunakan adalah indikator reflektif, penggambaran akan mengarah dari konstruk laten ke indikator (Hair et al. Berikut ini perhitungan outer model yakni Uji Validitas Konstruk (Validitas konvergen dan validitas Diskrimina. Uji Reliabilitas Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Tabel 1 Hasil Uji Validitas Konvergen Cronba Compo Compo Avera (AVE) Hasil uji validitas konvergen pada tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh konstruk memiliki nilai Average Variance Extracted (AVE) di atas 0,50, yaitu sebesar 0,672 untuk variabel m, 0,675 untuk variabel x, dan 0,716 untuk variabel Nilai tersebut memenuhi kriteria AVE Ou 0,50, sehingga dapat disimpulkan bahwa merepresentasikan konstruk laten secara baik dan memenuhi syarat validitas Tabel 2 Hasil Uji Validitas Diskriminan SEFF SENG SRL SEFF SENG SRL SEFF SRL Uji validitas diskriminan pada tabel 2 menggunakan rasio Heterotrait-Monotrait (HTMT) menunjukkan bahwa seluruh nilai antarvariabel berada di bawah 0,90, dengan nilai tertinggi sebesar 0,802 pada hubungan antara SENG dan SRL. Hal ini menandakan bahwa setiap konstruk dalam model memiliki perbedaan yang jelas satu sama lain, sehingga memenuhi kriteria validitas diskriminan yang baik. Hasil uji reliabilitas menunjukkan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 bahwa seluruh konstruk memiliki nilai CronbachAos Alpha dan Composite Reliability di atas 0,70. Nilai CronbachAos Alpha berkisar antara 0,919 hingga 0,962, sedangkan nilai Composite Reliability (AA dan AC) berada antara 0,922 hingga 0,966. Berdasarkan hasil tersebut, seluruh variabel penelitian dapat dinyatakan reliabel karena memiliki konsistensi internal yang sangat baik. Dengan demikian, instrumen penelitian ini telah memenuhi seluruh kriteria uji kualitas data, baik dari aspek validitas maupun reliabilitas, sehingga layak digunakan PENGUKURAN INNER MODEL UJI R-SQUARE Tabel 3 Hasil Uji R-Square R-square R-square Berdasarkan hasil analisis Rsquare, diperoleh nilai sebesar 0,562 untuk variabel m dan 0,785 untuk variabel y. Menurut kriteria interpretasi R-square yang dikemukakan oleh Hair, nilai sebesar 0,25 menunjukkan pengaruh lemah, 0,50 menunjukkan pengaruh sedang, dan 0,75 menunjukkan pengaruh kuat terhadap variabel endogen (Hair et al. , 2. Dengan demikian, variabel m memiliki nilai R-square sebesar 0,562 yang termasuk dalam kategori sedang, artinya variabel-variabel menjelaskan sekitar 56,2% variasi pada variabel m. Sementara itu, variabel y memiliki nilai R-square sebesar 0,785 yang termasuk dalam kategori kuat, menunjukkan bahwa variabel-variabel Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 penjelasan yang tinggi, yaitu sebesar 78,5% terhadap variabel y. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa model penelitian memiliki daya jelaskan yang baik terhadap variabel endogennya. Goodness of FIT Tabel 4 Hasil uji Goodness of FIT SRMR d_ULS Chisquare NFI Saturated O Estimated O Berdasarkan hasil uji Model Fit, diperoleh nilai Standardized Root Mean Square Residual (SRMR) sebesar 0,065 baik pada saturated model maupun estimated model. Menurut kriteria yang dikemukakan oleh Hair et al. , model dikatakan memiliki tingkat kesesuaian . oodness of fi. yang baik apabila nilai SRMR berada di bawah 0,10. Dengan demikian, hasil ini menunjukkan bahwa model yang digunakan dalam penelitian telah memenuhi kriteria kelayakan model, artinya terdapat kesesuaian yang baik antara data empiris dengan model yang Nilai SRMR sebesar 0,065 menandakan bahwa perbedaan rata-rata antara kovarians yang diobservasi dan yang diprediksi oleh model relatif kecil, sehingga model dapat dinyatakan fit dan layak digunakan untuk analisis lebih F-Square Tabel 5 Hasil Uji F-Square Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Berdasarkan hasil uji f-square . A) pada tabel di atas, diketahui bahwa pengaruh variabel x terhadap m memiliki nilai sebesar 1,282, pengaruh m terhadap y sebesar 1,003, dan pengaruh x terhadap y sebesar 0,107. Menurut kriteria penilaian efek fA, nilai sebesar 0,005 dikategorikan rendah, 0,01 termasuk sedang, dan 0,025 termasuk tinggi. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa pengaruh x terhadap m . dan m terhadap y . termasuk dalam kategori sangat tinggi, menunjukkan memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan variabel endogen yang Sementara itu, pengaruh x terhadap y memiliki nilai fA sebesar 0,107, yang juga berada di atas ambang batas tinggi, sehingga dapat dikatakan memiliki pengaruh kuat. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa semua hubungan antar variabel dalam model memiliki pengaruh substansial dan mendukung kekuatan model struktural penelitian. Uji Hipotesis Dirrect Effect Tabel 6 Hasil Uji Dirrect Effect m -> y x -> m x -> y Origin (O) Samp (M) Standar (STDE (|O/S TDEV P values Berdasarkan hasil uji path coefficients, diperoleh tiga hubungan antar variabel, yaitu m Ie y, x Ie m, dan x Ie y. Hasil menunjukkan bahwa hubungan m Ie y memiliki nilai p-value sebesar 0,000 dan x Ie m juga memiliki nilai pvalue sebesar 0,000, yang keduanya lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan berpengaruh signifikan. Artinya, variabel m berpengaruh signifikan terhadap y, dan variabel x berpengaruh signifikan terhadap m. Sementara itu, hubungan x Ie y memiliki p-value sebesar 0,234, yang lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh x terhadap y tidak signifikan. Dengan demikian, hasil ini mengindikasikan bahwa variabel x tidak secara langsung memengaruhi y, melainkan pengaruhnya terhadap y terjadi secara tidak langsung melalui mediasi variabel m. Secara keseluruhan, model menunjukkan adanya pengaruh langsung yang signifikan antara x Ie m dan m Ie y, serta efek tidak langsung yang lebih kuat melalui jalur mediasi tersebut. Indirect effect Tabel 7 Hasil Uji Indirect Effect x -> m -> y Origi e (O) Sampl e mean (M) Stand (STD EV) (|O /ST V|) Berdasarkan hasil uji specific indirect effects, diperoleh nilai p-value sebesar 0,000, yang berarti lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan kriteria penilaian, apabila p-value < 0,05 maka variabel mediasi dinyatakan memediasi secara signifikan, sedangkan jika p-value > 0,05 Dengan demikian, hasil ini menunjukkan bahwa variabel m memediasi secara signifikan hubungan antara x dan y. Nilai original sample sebesar 0,526 dan nilai t-statistics sebesar 4,607 yang juga melebihi batas minimal 1,96 menegaskan bahwa efek mediasi ini kuat dan signifikan. Artinya, pengaruh variabel x terhadap y tidak Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 terjadi secara langsung, melainkan melalui variabel m sebagai mediator yang berperan penting dalam menjelaskan hubungan antar variabel tersebut. PEMBAHASAN Self-regulated learning berpengaruh signifikan terhadap Self efficacy Hasil uji path coefficients menunjukkan bahwa hubungan antara self-regulated learning (X) dan selfefficacy (M) memiliki nilai p-value sebesar 0,000 (< 0,. Hal ini self-regulated learning berpengaruh signifikan terhadap self-efficacy. Artinya, semakin tinggi kemampuan siswa dalam mengatur diri dalam belajar melalui perencanaan, pemantauan, dan evaluasi terhadap proses belajarnya semakin kuat pula keyakinan diri . elf-efficac. yang mereka miliki. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Anindita et al. , 2. yang menjelaskan bahwa kemampuan regulasi diri dalam belajar berkontribusi besar terhadap peningkatan efikasi diri akademik siswa karena mereka belajar dari pengalaman keberhasilan dan refleksi diri yang positif. Hasil serupa juga didukung oleh (Zimmerman & Schunk, 2. yang self-regulated learning memberikan dasar penting bagi pembentukan keyakinan diri dalam konteks pendidikan. Temuan ini sesuai dengan situasi sekarang, di mana pendidikan modern, terutama melalui Kurikulum Merdeka dan mengedepankan kemampuan belajar Banyak siswa menghadapi tantangan seperti gangguan dari media digital, tuntutan belajar sendiri, dan perubahan cara belajar setelah masa Dalam kondisi seperti ini, kemampuan belajar yang dirancang Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 sendiri sangat penting karena siswa yang memiliki kemampuan ini biasanya lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas, lebih bisa menyesuaikan metode belajar, dan lebih siap menghadapi dinamika pembelajaran di masa kini. Self efficacy berpengaruh terhadap Student engagement Uji path coefficients menunjukkan bahwa hubungan antara self-efficacy (M) dan student engagement (Y) memiliki pvalue sebesar 0,000 (< 0,. , yang berarti terdapat pengaruh signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy siswa, semakin tinggi pembelajaran, baik secara kognitif, afektif, maupun perilaku. Siswa yang percaya pada kemampuannya lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif, gigih menghadapi tantangan, dan memiliki fokus belajar yang lebih kuat. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Alrashidi et al. , 2. yang menyatakan bahwa self-efficacy merupakan prediktor utama dari student engagement, karena keyakinan diri memengaruhi tingkat energi, usaha, dan keterlibatan emosional siswa dalam kegiatan belajar. Relevansi temuan ini semakin jelas jika dilihat dari situasi pendidikan saat ini, di mana siswa diminta belajar lebih mandiri dengan Kurikulum Merdeka, pembelajaran berbasis proyek, dan teknologi digital. Dalam kondisi ini, siswa sering menghadapi berbagai tantangan, seperti gangguan dari media sosial, tugas yang semakin banyak, dan perubahan cara belajar setelah pandemi. Situasi ini membutuhkan tingkat kepercayaan diri yang lebih baik agar siswa bisa mengatur tuntutan belajar dan tetap aktif Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Self-regulated learning berpengaruh terhadap Student engagement Hubungan antara self-regulated learning (X) dan student engagement (Y) menunjukkan nilai p-value sebesar 0,234 (> 0,. , yang berarti pengaruhnya tidak signifikan secara langsung. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan regulasi diri dalam belajar belum tentu meningkatkan keterlibatan siswa secara langsung tanpa adanya dukungan faktor internal lainnya seperti self-efficacy. Hasil ini mendukung temuan (Wolters & Hussain, 2. yang menyatakan bahwa meskipun self-regulated learning penting pengaruhnya terhadap keterlibatan belajar siswa seringkali dimediasi oleh variabel motivasional seperti efikasi diri dan orientasi tujuan. Relevansi temuan ini terlihat jelas ketika dilihat dalam situasi pendidikan saat ini. Dalam dunia pembelajaran modern, khususnya di bawah Kurikulum Merdeka yang mendorong kemandirian belajar, siswa tidak hanya perlu mampu mengatur proses belajarnya sendiri, tetapi juga harus memiliki kepercayaan diri dan motivasi yang kuat agar tetap aktif dalam kegiatan pembelajaran. Namun, siswa saat ini menghadapi berbagai tantangan, seperti gangguan dari penggunaan gadget, kebosanan terhadap tugas sekolah, perubahan cara belajar setelah masa pandemi, serta tekanan akademik yang semakin berat. Kondisi ini membuat banyak siswa mampu mengatur diri secara teknis, seperti membuat jadwal atau menetapkan target, tetapi tidak secara konsisten terlibat dalam pembelajaran jika kepercayaan dirinya rendah. Rendahnya kepercayaan diri membuat siswa cenderung menyerah ketika menghadapi kesulitan, kurang aktif berdiskusi, serta tidak terlibat penuh dalam pembelajaran Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 berbasis proyek yang menjadi bagian dari pendidikan masa kini. Maka, tidak adanya pengaruh langsung strategi regulasi diri terhadap keterlibatan siswa dalam penelitian ini mencerminkan kenyataan bahwa keterlibatan siswa bukan hanya bergantung pada cara belajar yang digunakan, tetapi juga pada keyakinan dan motivasi internal yang memengaruhi perilaku mereka dalam belajar. Self efficacy memediasi hubungan antara Self-regulated learning dan Student engagement Hasil uji specific indirect effects menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,000 (< 0,. , dengan original sample sebesar 0,526 dan t-statistics sebesar 4,607 (> 1,. Hal ini membuktikan bahwa selfefficacy secara signifikan memediasi hubungan antara self-regulated learning dan student engagement. Artinya, pengaruh self-regulated learning terhadap student engagement tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui peningkatan self-efficacy. Ketika siswa mampu mengatur proses belajar secara mandiri dan terstruktur, mereka mengembangkan kepercayaan diri yang lebih kuat, yang pada gilirannya mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Ernesto et al. yang menegaskan bahwa selfefficacy merupakan mediator penting dalam menjelaskan bagaimana regulasi diri dalam belajar memengaruhi motivasi dan keterlibatan siswa. Keterkaitan ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan sekarang. Dalam proses belajar modern, terutama dalam penerapan Kurikulum Merdeka yang fokus pada belajar mandiri, belajar berbasis proyek, serta pengembangan profil pelajar Pancasila, siswa harus memiliki kemampuan mengatur diri yang Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Namun, di tengah tantangan di era digital seperti mudahnya terdistraksi oleh gadget, kurangnya fokus saat belajar, dan meningkatnya rasa jenuh akibat pandemi, kemampuan mengatur diri saja tidak cukup untuk memastikan siswa terlibat aktif dalam belajar. Banyak siswa bisa membuat rencana belajar, tetapi sulit mempertahankan keterlibatan jika mereka tidak yakin bisa menyelesaikan tugas atau menghadapi kesulitan akademik. Oleh karena itu, self-efficacy berperan sebagai faktor internal yang memperkuat hasil dari strategi mengatur diri sehingga benarbenar mendorong keterlibatan aktif siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan keterlibatan siswa saat ini, diperlukan strategi belajar yang efektif serta pengembangan keyakinan diri yang kuat agar siswa bisa bertahan, fokus, dan berpartisipasi secara optimal dalam berbagai situasi belajar. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya sesuai dengan teori tetapi juga mencerminkan dinamika pembelajaran modern yang semakin menjadikan self-efficacy sebagai faktor utama keterlibatan siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, bisa disimpulkan bahwa belajar mandiri atau self-regulated learning memengaruhi secara signifikan self-efficacy dan student engagement di kalangan siswa SMKN 1 Surabaya. Siswa yang mampu mengatur cara belajarnya dengan baik, seperti menentukan tujuan, memantau kemajuan, dan mengevaluasi hasil belajar, cenderung memiliki keyakinan diri yang lebih tinggi serta lebih aktif dalam berpartisipasi pada kegiatan belajar. Selain itu, self-efficacy meningkatkan student engagement. Siswa akademiknya akan lebih termotivasi, lebih Khusnul Khotimah1. Novi Trisnawati2 berani mengambil inisiatif, serta lebih aktif dalam proses belajar. Hasil penelitian self-efficacy menghubungkan antara self-regulated learning dan student engagement. Artinya, kemampuan siswa dalam mengatur diri sendiri secara tidak langsung dapat meningkatkan keterlibatan belajar melalui peningkatan keyakinan Temuan ini menegaskan bahwa tergantung pada kemampuan intelektual, tetapi juga pada faktor psikologis yang mendukung motivasi dan partisipasi Penelitian ini difokuskan pada siswa kelas XII jurusan Manajemen Perkantoran di SMKN 1 Surabaya karena mereka sudah mempelajari mata pelajaran Pengelolaan Kearsipan yang menjadi konteks utama penelitian. Variabel yang diteliti hanya terbatas pada self-regulated learning (SRL), self-efficacy, dan student Di sini, student engagement mencakup tiga dimensi, yaitu perilaku, kognitif, dan emosional. Analisis selfefficacy mengacu pada tiga dimensi sebagaimana dikemukakan oleh Bandura, yaitu level, generalitas, dan kekuatan. Pembahasan penelitian hanya menyoroti hubungan antara SRL, self-efficacy, dan student engagement dalam konteks pelajaran Pengelolaan Kearsipan, bukan pada mata pelajaran lainnya. Instrumen yang digunakan juga terbatas pada angket skala Likert serta wawancara sebagai pelengkap data. Meskipun memberikan temuan yang penting, penelitian ini memiliki beberapa Lingkup penelitian hanya dilakukan di satu sekolah, sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi ke konteks pendidikan vokasi yang lain. Karena keterbatasan yang ada, penelitian berikutnya dianjurkan untuk menambah jumlah sekolah dan populasi sampel agar hasil penelitian lebih mewakili kondisi yang sebenarnya. Penelitian selanjutnya juga bisa menggunakan metode campuran, seperti observasi atau wawancara Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan mendalam, untuk memperkaya informasi yang diperoleh serta mengurangi kemungkinan bias. Terlebih lagi, penggunaan desain longitudinal akan memberikan gambaran yang lebih tajam mengenai perkembangan SRL, selfefficacy, dan student engagement seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, penelitian di masa depan diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih lengkap dan mendukung pembuatan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam pendidikan vokasi. DAFTAR PUSTAKA