p-ISSN: 2776-3919 | e-ISSN: 2776-2513 Terakreditasi Sinta 5 Vol. No. Oktober 2025, page 56Ai64 http://jurnal. fib-unmul. id/index. php/mebang/article/view/169 Saluang Mengalun: Estetika Berbicara dalam Perspektif Pendidikan Seni Saluang Mengalun: Aesthetics Speaking in the Perspective of Art Education Wasis Wijayanto1. Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia. Email: wasis. wijayanto@umk. id Orchid: https://orcid. org/0009-0006-5292-2973 Inesya Kalyana Tantri2. Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia. Email: 202333277@std. Aurelia Cahya Fadhilatul Khalila3. Universitas Muria Kudus. Kudus. Indonesia. Email: Orchid: 202333210@std. Received: 24 January 2025 Accepted: 16 October 2025 Published: 31 October 2025 Keywords: saluang, aesthetic value, traditional music. Kata kunci: saluang, nilai estetika, musik Citation: Wijayanto. Tantri. , & Khalila. Saluang Mengalun: Estetika Berbicara dalam Perspektif Pendidikan Seni. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik, 5. , 56-64. https://doi. org/10. 30872/mebang. Abstract: This study examines the aesthetic values in the traditional wind instrument Saluang from Sumatra, which is an integral part of the cultural identity of the Minangkabau people. The background of this study focuses on the decline in appreciation of traditional music among the younger generation, as well as the importance of preserving Saluang as a cultural heritage. The method used is descriptive qualitative with ethnographic research type, analyzing various sources such as scientific journals, books, and online articles. The results of the study show that Saluang has rich aesthetic values, reflected in its simple physical form, made of bamboo, and playing techniques that produce soft and melodious sounds. Saluang performances are often accompanied by poems that are full of philosophical meaning, adding a deep aesthetic dimension. The discussion highlights the interaction between visual form, playing techniques, and socio-cultural contexts that create a unique aesthetic experience. In conclusion. Saluang is not just a musical instrument, but also a representation of the aesthetic and philosophical values of the Sumatran people, which need to be preserved to maintain cultural identity and increase the younger generation's appreciation of this heritage. Abstrak: Penelitian ini mengkaji nilai-nilai estetika dalam instrumen musik tiup tradisional Saluang yang khas dari Sumatera, yang merupakan bagian integral dari identitas budaya masyarakat Minangkabau. Latar belakang penelitian ini berfokus pada penurunan apresiasi terhadap musik tradisional di kalangan generasi muda, serta pentingnya pelestarian Saluang sebagai warisan Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian etnografi, menganalisis berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, buku, dan artikel daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Saluang memiliki nilai estetika yang kaya, tercermin dari bentuk fisiknya yang sederhana, terbuat dari bambu, dan teknik permainan yang menghasilkan suara lembut dan Pertunjukan Saluang sering diiringi syair-syair yang sarat makna filosofis, menambah dimensi estetika yang mendalam. Pembahasan menyoroti interaksi antara bentuk visual, teknik permainan, dan konteks sosial budaya yang menciptakan pengalaman estetik yang unik. Kesimpulannya. Saluang bukan hanya sekadar alat musik, tetapi juga representasi nilai-nilai estetika dan filosofi masyarakat Sumatera, yang perlu dilestarikan untuk menjaga identitas budaya dan meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap warisan ini. Copyright A 2025 the Author. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik by Universitas Mulawarman Creative Commons License Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Wasis Wijayanto. Inesya Kalyana Tantri. Aurelia Cahya Fadhilatul Khalila Pendahuluan Saluang, instrumen musik tiup tradisional khas Sumatera. Saluang telah lama menjadi bagian dari integral dari identitas budaya masyarakat setempat. Dengan bentuknya yang sederhana, terbuat dari bambu, dan suara yang merdu. Saluang telah berhasil memikat hati banyak orang selama berabad-abad (Milla, 2. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai pengiring lagu-lagu daerah, tetapi juga menjadi simbol dari kekayaan budaya dan warisan leluhur. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya pengaruh budaya populer, apresiasi terhadap musik tradisional seperti Saluang cenderung mengalami penurunan (Samudro & Ardipal, 2. Generasi muda semakin tertarik pada musik modern yang dianggap lebih relevan dengan gaya hidup mereka (Fajrie et al. , 2. Fenomena ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan adanya pergeseran minat musik pada generasi muda, terutama di daerah perkotaan. Saluang, sebagai instrumen musik tradisional Sumatera, telah menjadi objek kajian dalam berbagai penelitian. Namun, kajian mengenai nilai estetika yang terkandung di dalamnya, khususnya dari perspektif teori estetika musik dan etnomusikologi, masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menggali lebih dalam nilai-nilai estetika yang terkandung dalam Saluang, baik dari segi bentuk fisik, teknik permainan, maupun konteks sosial budayanya (Wayan, 2. Dalam kajian ini, konsep estetika musik seperti keindahan suara, ritme, dan harmoni akan digunakan sebagai kerangka analisis. Selain itu, pendekatan etnomusikologi akan digunakan untuk memahami fungsi sosial dan budaya Saluang dalam masyarakat Minangkabau. Pada pelestarian budaya, penelitian ini hadir sebagai upaya untuk menggali lebih dalam nilainilai estetika yang terkandung dalam Saluang. Dengan memahami nilai-nilai estetika yang unik dari Saluang, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, akan pentingnya melestarikan warisan budaya ini. Harapan ini sejalan dengan pandangan Harpriyanti dan Wulandari . yang menekankan pentingnya pelestarian musik tradisional sebagai upaya untuk menjaga identitas warisan budaya seni tradisional di Indonesia. Konteks tersebut menjelaskan tentang pelestarian warisan budaya tak benda, instrumen musik tradisional seperti Saluang memiliki peran yang sangat penting. Saluang tidak hanya sekadar alat musik, tetapi juga merupakan representasi dari identitas budaya suatu masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dimensi estetika yang terkandung dalam Saluang, sebagai salah satu upaya untuk memahami lebih dalam tentang kekayaan budaya Indonesia. Melalui pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai estetika Saluang, diharapkan dapat mendukung upaya-upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisional yang lebih berkelanjutan. Estetika musik merupakan bagian yang sangat luas dan menarik untuk dipelajari secara Dengan memahami konsep estetika, apresiator dapat lebih menghargai kekayaan dan keragaman musik serta mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (Wisnawa, 2. Mengidentifikasi nilai-nilai filosofis yang terdapat pada musik tradisional. Musik tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cerminan dari jiwa dan semangat Dengan memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, kita dapat lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya bangsa. Teknik permainan Saluang merupakan faktor yang sangat penting dalam menghasilkan suara yang khas dan memukau (Hendriyanto dan Sutopo, 2. Dengan menguasai teknik yang tepat, pemain Saluang dapat mengekspresikan diri dan menjaga kelestarian musik tradisional ini. Mengetahui persepsi masyarakat terhadap musik tradisional. Persepsi masyarakat terhadap musik tradisional adalah fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor (Hidayatullah, 2. Dengan memahami faktor-faktor tersebut, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk melestarikan dan mengembangkan musik tradisional. Penelitian tentang Saluang memiliki potensi yang sangat besar untuk berkontribusi pada berbagai aspek kehidupan. Selain memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang musik tradisional Indonesia, penelitian ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan Hasil penelitian dapat memberikan masukan berharga untuk pengembangan kurikulum pendidikan seni musik, sehingga generasi muda dapat lebih menghargai kekayaan budaya bangsa. Lebih jauh lagi, penelitian ini dapat menginspirasi lahirnya inovasi produk-produk kreatif berbasis Saluang, serta memperkaya potensi wisata budaya di daerah asal instrumen ini. Dengan demikian, penelitian tentang Saluang tidak hanya bermanfaat bagi kalangan akademis, tetapi juga memiliki implikasi yang Saluang Mengalun: Estetika Berbicara dalam Perspektif Pendidikan Seni luas bagi masyarakat secara keseluruhan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pelestarian dan pengembangan musik Saluang. Melalui penelitian ini, diharapkan apresiasi masyarakat, terutama generasi muda, terhadap musik Saluang sebagai bagian dari warisan budaya bangsa dapat meningkat. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat mendorong upaya-upaya pelestarian musik Saluang melalui berbagai kegiatan seperti konser, workshop, dan festival. Lebih jauh lagi, penelitian ini diharapkan dapat menginspirasi para seniman dan pelaku budaya untuk menciptakan karya-karya baru yang berakar pada tradisi Saluang, sehingga musik Saluang tetap relevan dan menarik bagi generasi mendatang. Pada akhirnya, diharapkan penelitian ini dapat memperkuat identitas budaya bangsa melalui pelestarian dan pengembangan musik tradisional. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan pendidikan berintegrasi, khususnya dalam konteks pelestarian dan pengembangan budaya lokal. Temuan-temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi penting dalam merancang kurikulum musik yang lebih inklusif, dengan memasukkan materi tentang musik tradisional seperti Saluang (Ovela et al. , 2. Selain itu, penelitian ini juga menyajikan materi pembelajaran yang menarik dan relevan untuk siswa dari berbagai jenjang pendidikan, serta memberikan inspirasi bagi pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis musik tradisional. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pendidikan, tetapi juga berkontribusi pada upaya pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia yang semakin beragam dan dinamis. Proses pelestarian melibatkan beberapa tahap utama yaitu, identifikasi, dokumentasi, dan perumusan proposal penanganan konservasi. Tahapan-tahapan ini juga mencakup penarikan kesimpulan tentang signifikansi dan nilai-nilai khusus properti budaya, yang berfungsi sebagai dasar untuk mengusulkan langkah-langkah konservasi yang tepat untuk diikuti dengan perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi. Diharapkan bahwa ketika fase persiapan dilakukan dengan benar melalui prosedur akurat yang selaras dengan prinsip-prinsip konservasi yang ditetapkan akan memberikan dasar yang kuat untuk tahap implementasi selanjutnya. Hal tersebut memastikan bahwa semua tindakan tetap konsisten dengan nilai-nilai dan signifikansi warisan budaya yang disepakati, sebagaimana ditentukan secara kolaboratif dengan tim ahli konservasi lokal dan nasional (Kusumowardani et al. , 2. Melalui kajian pustaka yang mendalam terhadap berbagai jurnal dan buku, termasuk buku-buku pelajaran seni musik di tingkat sekolah, penelitian ini akan membandingkan temuan-temuan sebelumnya dengan hasil analisis yang diperoleh. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang lebih fokus pada aspek sejarah atau teknik permainan Saluang, penelitian ini akan memberikan penekanan pada dimensi estetika yang lebih luas. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru pada bidang kajian estetika musik dan etnomusikologi, serta memperkaya pemahaman kita tentang kekayaan budaya Indonesia (Surya, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang sejarah dari alat musik Saluang, nilainilai estetika yang terkandung dalam Saluang, baik dari perspektif visual maupun auditif, memahami bagaimana instrumen harmoni antara proporsi, ornamen, dan bahan Saluang menciptakan pengalaman artistik yang holistik dalam pertunjukan. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana elemen-elemen visual ini berinteraksi dengan aspek musikal dan performatif serta dampaknya terhadap audiens, analisis ini akan mencakup bagaimana bahan-bahan tersebut berkontribusi pada pengalaman artistik dalam Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan kurikulum pendidikan seni di Indonesia. Menurut Nurdiyana dan Indriyani . dalam penelitiannya menyoroti perlunya integrasi musik tradisional dalam kurikulum pendidikan seni untuk menumbuhkan apresiasi terhadap keberagaman budaya Indonesia pada generasi muda. Melalui kajian pustaka yang mendalam, penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan: Bagaimana Saluang sebagai representasi dari sebuah budaya mampu menciptakan pengalaman estetik yang begitu mendalam? Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kurikulum pendidikan seni di Indonesia, sehingga generasi muda dapat lebih menghargai kekayaan budaya bangsa. Wasis Wijayanto. Inesya Kalyana Tantri. Aurelia Cahya Fadhilatul Khalila Gambar 1. Bentuk Visual Instrumen Saluang Peneliti dapat menawarkan pengalaman wisata yang autentik dan mendalam bagi wisatawan, sekaligus memberikan kontribusi pada pelestarian budaya Minangkabau. Dengan mendalami nilai estetika dan filosofi yang terdapat pada instrument musik Saluang, penelitian ini berkontribusi secara signifikan terhadap upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisional Indonesia (Wayan et al, 2. Dengan demikian, penelitian ini bukan sekedar menjadi sebuah karya akademik, tetapi juga menjadi sebuah gerakan untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya bangsa. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi, yang bertujuan untuk menggali nilai estetika dalam instrumen musik tradisional Saluang sebagai bagian dari budaya Minangkabau. Prosedur penelitian mengikuti alur yang sistematis, yang dapat dilihat pada bagan berikut: Penentuan fokus penelitian Pengumpulan Interpretasi Penyajian Analisis data Gambar 2. Alur Penelitian Etnografi Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pemain Saluang, pengrajin, ahli etnomusikologi, dan anggota komunitas pelestari, serta observasi partisipatif dan dokumentasi dari sumber tertulis dan audiovisual yang relevan (Singgalen, 2. Menurut Miles & Huberman analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/ verifikasi (Wijayanto et al. , 2. Saluang Mengalun: Estetika Berbicara dalam Perspektif Pendidikan Seni Gambar 3. Analisis Data Miles & Huberman Penelitian melalui metode ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang nilai estetika Saluang dalam konteks sosial dan budaya ini. Adapun alur tahapan dan luaran hasil penelitian dapat dilihat pada bagan sebagai berikut: A Proporsi A Ornamen A Bahan A Komposisis warna Seni Pertunjukan Tradisional Nusantara A Musik pengiring A Revitalisasi A Dimensi estetika A Ekspresi budaya A Keindahan pada pengalaman sensorik yang dihasilkan oleh Menggali nilai estetika dan fungsi sosial budaya Bentuk Visual Instrumen Saluang Gambar 4. Hasil yang diharapkan Pembahasan Nilai estetika Saluang, seruling bambu tradisional dari Sumatera Barat, dapat berkorelasi secara bermakna dengan prinsip-prinsip pendidikan dan desain kurikulum melalui dimensi budaya, artistik, dan Dalam konteks pendidikan. Saluang tidak hanya mewujudkan ekspresi musik tetapi juga hasil pembelajaran moral, kognitif, dan afektif yang selaras dengan tujuan kurikulum holistik. Nada merdu dan pola improvisasinya menumbuhkan kreativitas, kepekaan pendengaran, dan kecerdasan emosional keterampilan yang ditekankan dalam kerangka pendidikan seni dan budaya (Samudro & Ardipal, 2. Mengintegrasikan estetika Saluang ke dalam kurikulum memungkinkan siswa dalam mengalami warisan budaya sebagai bentuk pembelajaran yang hidup, mempromosikan pemahaman antarbudaya, identitas lokal, dan apresiasi estetika. Selain itu, integrasi tersebut mendukung pendidikan berbasis kompetensi dengan mendukung pemikiran kritis, empati, dan pembelajaran kolaboratif melalui pertunjukan dan refleksi artistik. Dengan demikian. Saluang menjadi artefak budaya dan media pendidikan yang menjembatani estetika tradisional dengan praktik pedagogis kontemporer. 1 Sejarah dan Perkembangan Saluang Minangkabau Saluang, instrumen musik tiup tradisional khas Minangkabau, memiliki sejarah yang panjang dan Seni pertunjukan Saluang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Minangkabau sejak zaman dahulu. Dalam sejarah berkembangnya terdapat empat jenis Saluang yang tersebar pada beberapa daerah di Minangkabau di antaranya Saluang Darek. Saluang Sirompak. Saluang Pauh, dan Saluang Panjang (Saputra et al. , 2. Musik tradisional Minangkabau sebenarnya sangat luas untuk dikaji, karena berbedanya dengan musik tradisional dari etnis lain di Indonesia, musik tradisional Minangkabau sangat luas untuk dipelajari. Jenis ritme, irama dendang, dan sistem nada yang berbeda adalah ciri khas musik Minangkabau (Sari et al. , 2. Wasis Wijayanto. Inesya Kalyana Tantri. Aurelia Cahya Fadhilatul Khalila Bahwa usaha menghidupkan seni pertunjukan tradisional patut menjadi perhatian, termasuk kajian pembuatan alat musik (Wisnawa, 2. Pada kenyataannya, adanya pengaruh dari luar tradisi membuat semakin menghilangnya keberadaan seni tradisi di tengah masyarakat. Saluang tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya. Banyak yang menekankan pentingnnya Saluang dalam ritual dan tradisi masyarakat Minangkabau. Kesenian merupakan ekspresi kebudayaan manusia yang muncul dari proses sosiokultural yang terjadi di masyarakat (Setyawan et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Saluang memiliki akar sejarah yang dalam dan kaya di Minangkabau. Instrumen musik tradisional ini diperkirakan telah ada sejak zaman dahulu dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Minangkabau. Saluang tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga memiliki makna simbolis dan sosial yang mendalam dalam budaya Minangkabau. Seiring berjalannya waktu, peran dan fungsi Saluang mengalami Dahulu. Saluang sering digunakan dalam konteks ritual dan upacara adat. Namun, seiring dengan dinamika sosial dan budaya. Saluang juga telah berhasil beradaptasi dengan perkembangan zaman. Saat ini. Saluang tidak hanya ditemukan dalam pertunjukan tradisional, tetapi juga dalam berbagai bentuk pertunjukan seni modern, seperti konser musik kontemporer atau kolaborasi dengan genre musik lainnya. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dan daya adaptasi Saluang dalam menghadapi perubahan zaman (Nazrita & Andriana, 2. 2 Bentuk dan Karakteristik Instrumen Tiup Saluang Minangkabau Saluang memiliki ciri khas fisik yang membedakannya dari alat musik tiup lainnya. Instrumen ini terbuat dari bambu dengan ukuran yang bervariasi, dan memiliki lubang yang ditempatkan secara strategis untuk menghasilkan nada yang berbeda. Hasil observasi menunjukkan bahwa bentuk dan proporsi Saluang berkontribusi terhadap karakter suara yang dihasilkan. Selain itu, ornamen yang terdapat pada Saluang juga mencerminkan estetika budaya lokal, yang menambah daya tarik visualnya. Saluang, sebagai alat musik tiup tradisional Minangkabau, memiliki bentuk yang sederhana namun khas, warna dari Saluang sendiri memiliki warna dasar pada umumnya. Secara umum. Saluang terbuat dari bambu tipis atau talang (Schizostachyum brachycladum Kur. , bentuknya yang silindris memanjang dengan beberapa lubang nada yang membuatnya mudah untuk dikenali. Bentuk Saluang yang lurus dan silindris memudahkan aliran udara saat ditiup. Biasanya terdapat 4 hingga 6 lubang nada pada Saluang. Lubang-lubang ini berfungsi untuk menghasilkan nada yang berbeda-beda. Saluang biasanya dibuat dari satu ruas bambu utuh untuk menghasilkan suara yang lebih merdu (Kurniawan & Syeilendra, 2. Teknik permainan Saluang yang beragam menghasilkan berbagai variasi suara dan ekspresi musikal (Eka Putra et al. , 2. Penelitian ini menemukan bahwa teknik seperti embouchure, pernapasan, dan fingering memainkan peran penting dalam menciptakan nuansa yang berbeda dalam setiap pertunjukan. Para pemain Saluang sering kali menggabungkan teknik tradisional dengan improvisasi, yang memberikan warna baru pada musik yang dihasilkan. Teknik permainan Saluang juga menjadi fokus penting dalam penelitian ini yaitu dengan cara ditiup. Observasi menunjukkan bahwa penggunaan teknik napas yang tepat sangat mempengaruhi kualitas suara. Informan menjelaskan bahwa: AuTeknik napas yang baik adalah kunci untuk menghasilkan melodi yang indah. Ay Saluang Mengalun: Estetika Berbicara dalam Perspektif Pendidikan Seni Gambar 5. Contoh Permainan Saluang (Sumber: Arasynews. com, 2. Penelitian sebelumnya oleh Smith, . juga menemukan bahwa instrumen musik tradisional sering kali memiliki nilai estetika yang tinggi, yang berkontribusi pada pengalaman emosional pendengar (Baruara et al. , 2. Dengan demikian. Saluang dapat dianggap sebagai ekspresi dari keindahan yang terintegrasi dengan budaya lokal. Saluang mengalun merupakan bentuk interaksi sosial dan tradisi pertunjukan sebagai bentuk keterlibatan dalam kontak sosial dan interaksi sosial. Tradisi pertunjukan ini bertujuan pada integrasi individu dan kelompok melalui proses adaptasi budaya. Berdasarkan aspek organologi. Saluang terbuat dari sepotong bambu/talang yang dikeringkan dan di bagian bawah ruas disebut katopoang (Purnomo & Aulia, 2. Di bagian atas terdapat enam buah lubang melodi dan satu buah lubang udara yang disebut rakuak parian. Hood menyebutkan bahwa istilah organologi telah diterima secara luas di tengah-tengah para musikolog melalui tradisi oral. Pengkajian terhadap masalah organologi pada dasarnya adalah mendeskripsikan keadaan peralatan music yang berhubungan dengan keadaan fisiknya, akustiknya, dan kesejarahan alat-alat musik tesebut. Gambar 6. Bentuk Saluang (Sumber: Ethnic-ina. com, 2. 3 Nilai Estetika dalam Suara Saluang Minangkabau Hasil observasi menunjukkan bahwa Saluang memiliki nilai estetika tinggi baik secara visual maupun akustik. Secara visual, bentuk Saluang yang silindris dan proporsional serta ornamen yang menghiasi permukaannya memberikan daya tarik yang unik. Ornamen yang digunakan sering kali mencerminkan motif lokal yang bermakna, menambah kedalaman keindahan alat musik tersebut. Dari sudut pandang akustik. Saluang menghasilkan suara lembut dan harmonis yang menarik emosi Melodi yang dihasilkan oleh Saluang sering digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari upacara adat hingga pertunjukan seni, menunjukan fleksibilitas dan pentingnya instrumen ini dalam kehidupan sosial (Komarudin et al. , 2. Pada nilai estetika suara dari Saluang sendiri menjadi salah satu temuan utama adalah keindahan suara yang dihasilkan oleh Saluang. Nilai estetika yang terkandung dalam Saluang meliputi keindahan bentuk, suara, dan teknik permainan. Bahwa teknik permainan yang khas dapat memperkaya pengalaman estetik dan memberikan makna yang lebih dalam bagi pendengar. Oleh karena itu, pemahaman tentang teknik permainan Saluang dapat membantu dalam upaya Wasis Wijayanto. Inesya Kalyana Tantri. Aurelia Cahya Fadhilatul Khalila pelestarian dan revitalisasi seni tradisional ini. Melalui wawancara dengan para pemain Saluang, banyak yang menyatakan bahwa suara lembut dan merdu dari Saluang menciptakan suasana yang Sebagai contoh, salah satu informan menyatakan: AySuara Saluang membawa kedamaian, setiap nada yang keluar seolah berbicara kepada jiwa. Ay Karakteristik dari suara Saluang yang lembut dan menenangkan, harmoni dan ritmis dari keselarasan antara nada yang dihasilkan pola ritme yang teratur dan menarik (Royani & Agustina, 2. Nilai-nilai seperti kebersamaan, cinta, dan penghormatan terhadap alam sering kali menjadi tema utama, yang tercermin dalam pandangan hidup masyarakat setempat. Tidak diragukan lagi, nada yang berbeda dari alat musik tiup Minangkabau memengaruhi irama dendang yang dimainkan. Hal ini sejalan dengan teori estetika musik yang menyatakan bahwa keindahan suara dapat menciptakan pengalaman estetik yang mendalam bagi pendengar. Pandangan tentang persepsi masyarakat, terutama generasi muda, terhadap musik Saluang cenderung beragam. Meskipun beberapa generasi muda menunjukkan minat yang tinggi terhadap Saluang, banyak yang lebih terpengaruh oleh musik modern. Mengidentifikasi potensi pengembangan musik Saluang terletak pada bidang pendidikan, pariwisata, dan industri kreatif. Di mana Saluang dapat dimasukkan dalam Saluang kurikulum pendidikan seni, yang dapat membantu generasi muda memahami dan menghargai warisan budaya mereka. Selain itu. Saluang juga dapat dipromosikan melalui festival atau pertunjukan yang dikolaborasikan dengan musik kontemporer untuk menarik audiens yang lebih luas. Pengembangan produk, pertunjukan, atau aplikasi yang kreatif dan inovatif, dapat memastikan bahwa warisan budaya berupa musik Saluang tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi (Rikarno & Saaduddin, 2. Penutup Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Saluang merupakan elemen vital dalam identitas budaya masyarakat Minangkabau. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi juga memiliki nilai estetika yang signifikan. Dengan sejarah yang panjang dan fleksibilitas dalam penggunaannya. Saluang dapat beradaptasi dalam berbagai konteks, termasuk pendidikan dan pariwisata. Nilai estetika Saluang dapat memberikan informasi kebijakan pendidikan dengan mempromosikan kesadaran budaya, kreativitas, dan pengembangan karakter. Sebagai simbol warisan Minangkabau, harmoni dan disiplinnya mencerminkan prinsip-prinsip yang mendukung pendidikan yang responsif budaya dan berbasis nilai. Mengintegrasikan estetika Saluang ke dalam kerangka kebijakan dapat mendukung pelestarian kearifan lokal sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran yang inovatif dan holistik dalam kurikulum nasional. Oleh karena itu, pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan yang melibatkan Saluang sangat penting untuk menjaga dan memperkaya warisan budaya Indonesia. Upaya ini akan memastikan bahwa tradisi Saluang tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Minangkabau di era modern. Daftar Pustaka Baruara. Ismiati. Patroni. Marsofely. , & others. Efektivitas Kolaborasi Musik Tradisional Dengan Intrumental Terhadap Stres Pada Pasien Puskesmas Anggut Atas Kota Bengkulu. Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Dari. Anak. Nagari. Taratak. , & Selatan. Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Nusantara. Musik Etnik Nusantara, 3. , 179Ae193. Eka Putra. Rafiloza. , & Sriyanto. Komposisi Musik AoBalapohAo Terinspirasi Dari Karakter Kuaian Dendang Lambok Malam Pada Kesenian Saluang Pauah Kota Padang. Jurnal Musik Etnik Nusantara. https://doi. org/10. 26887/jmen. Fajrie. Zahro. , & Wijayanto. Dinamika Eksistensial Kethoprak Bhakti Kuncoro Kabupaten Pati Dalam Arus Modernitas Pasca Pandemi. GETER: Jurnal Seni Drama. Tari Dan Musik, 7. , 18Ae29. Saluang Mengalun: Estetika Berbicara dalam Perspektif Pendidikan Seni Harpriyanti. , & Wulandari. Mamanda sebagai Wahana Pendidikan Budaya (Kajian Etnopedagog. Jurnal Onoma: Pendidikan. Bahasa. Dan Sastra, 10. , 43Ae58. Hendriyanto. , & SUTOPO. Rontek Seni Ikonik Masyarakat Pacitan. CV. Nata Karya dan PT. Prabangkaranews Media Group. Hidayatullah. Kreativitas Dalam Musik Tradisional (Sebuah Tinjauan Artike. Journal of Music Education and Performing Arts (JMEPA), 2. , 1Ae10. Komarudin. Ramlan. Laras. Wiresta. , & Saepudin. Musik Bambu Wiragawi: Representasi Komodifikasi Bambu dari Hasil Strukturasi di Tiga Locus. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 22. , 158Ae179. https://doi. org/10. 24821/resital. Kurniawan. , & Syeilendra. Bentuk Musik Saluang Sirompak Versi Abah Emi Pada Acara Alek Pemuda Di Parik Dalam Nagari Taeh Baruah Kabupaten Lima Puluh Kota Payakumbuh. Jurnal Sendratasik. https://doi. org/10. 24036/jsu. Kusumowardani. Wahyuni. , & others. Peran Penting Tahap Persiapan Dalam Proses Penyelenggaraan Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Dan Bangunan Gedung Cagar Budaya. Journal Innovation Research Knowledge, 4. , 349Ae362. https://mail. com/index. php/JIRK/article/view/7900 Milla. Ragam Budaya Jambi. CV Brimedia Global. Nazrita. , & Andriana. Gondang : Jurnal Seni dan Budaya Siginyang Saluang Pauh dalam Menembus Siginyang Saluang Pauh in Penetrating Art Village in Padang City. , 148Ae161. Nurdiyana. , & Indriyani. Etnokoreologi: Kajian Melalui Antropologi dan Seni Tari-Jejak Pustaka.