Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 RENCANA PENGEMBANGAN JALUR INTERPRETASI DI KAWASAN PULAUPEUCANG TAMAN NASIONAL UJUNG KULON Furqon Permana*. Ratna Sari Hasibuan. Abdul Rahman Rusli Fakultas Kehutanan. Universitas Nusa Bangsa. Jl. Sholeh Iskandar km. Tanah Sareal Ae Bogor 16166 *e-mail: furqonpermana25@gmail. ABSTRAK Jalur Interpretasi adalah suatu rute yang dibuat untuk menjarakkan pengunjung ke tempat-tempat objek interpretasi dan dijelaskan kepada pengunjung baik oleh pemandu atau dengan tanda-tanda Interpretasi. Jalur Interpretasi kawasan wisata alam Pulau Peucang sudah ada namun masih butuh pengembangan, dengan adanya pengembangan jalur Interpretasi di kawasan Pulau Peucang di harapkan dapat menjadi sarana informasi dan belajar bagi pengunjung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi rencana pengembangan jalur interpretasi di Kawasan Wisata Taman Nasional Ujung Kulon dan membuat program interpretasi di jalur interpretasi di Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang. Metode pengambilan data yang dilakukan pada penelitian ini terdiri atas observasi lapangan, wawancara, kepustakaan, dan Pengelolaan data hasil penelitian yaitu dengan menggunakan analisis Pengolahan data yang digunakan dalam membuat peta perencanaan jalur interpretasi dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian ini adalah bentuk pengembangan jalur interpretasi karang copong di wisata alam pulau peucang yang dibuat antara lain berupa pembuatan papan interpretasi, pembangunan fasilitas wisata alam dan pengembangan jalur evakuasi. Rencana program yang dibuat berupa program interpretasi dengan tema AuMengamati Kehidupan Alam LiarAy. Program ini merupakan paket perjalanan wisata yang dilakukan selama 2 hari 1 malam. Kata Kunci: Jalur Interpretasi. Pengembangan. Program Interpretasi. Pulau Peucang TNUK. PENDAHULUAN Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa bagian barat serta telah ditetapkan sebagai situs warisan alam dunia oleh United Nations Educational. Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 1992 yang merupakan habitat terakhir bagi kelangsungan hidup satwa langka Badak Jawa (Rhinoceros Keanekaragaman hayati yang ada di TNUK kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka. Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang (Annas, 2. Wisata alam di Taman Nasional Ujung Kulon sangat beragam mulai dari sungaisungai, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut sampai peninggalan Pulau peucang merupakan salah satu pulau yang berada di kawasan Taman Nasional yang mempunyai banyak potensi wisata. Pulau Peucang merupakan wilayah yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Hamparan pasir putihnya yang luas Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 membentang serta perairannya yang jernih menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kegiatan interpretasi sangat tepat dilakukan wisata Pulau Peucang karena interpretasi dapat menambah kepedulian dan pengetahuan pengunjung akan kelestarian sumber Kelestarian alam di kawasan ini diharapkan dapat terwujud dengan adanya kegiatan Interpretasi. Maka dari itu perencanaan jalur Interpretasi di kawasan Pulau Peucang sangat diperlukan agar tujuan kelestarian dapat terwujud. Jalur Interpretasi adalah suatu rute yang dibuat untuk menjarakkan pengunjung ke tempat- tempat objek interpretasi . eologis, biologis, sejarah, dan buday. dan dijelaskan kepada pengunjung baik oleh pemandu atau dengan tanda-tanda Interpretasi (Douglass, 1. Jalur interpretasi bertujuan melindungi dan melestarikan sumber daya alam, serta pengawasan terhadap pengunjung. Perencanaan Interpretasi juga akan membuat pengunjung mempunyai pengalaman, pengetahuan, pemahaman setelah mengunjungi suatu kawasan. Jalur Interpretasi kawasan wisata alam Pulau Peucang sudah ada namun masih butuh pengembangan karena jembatan antara sumber daya di kawasan konservasi dengan pengunjung yang datang dalam suatu bentuk pelayanan komunikasi yang menarik untuk mengungkap keindahan, sejarah, dan hal-hal yang khas lainnya tentang kawasan ini sehingga pengunjung dapat terpenuhi keinginannya untuk mengetahui keadaan Pulau Peucang tersebut. Dengan adanya pengembangan jalur Interpretasi di kawasan Pulau Peucang di harapkan dapat menjadi sarana informasi dan belajar bagi pengunjung dan juga sebagai sarana menambah kepedulian dan pengetahuan pengunjung akan kelestarian sumber daya yang ada. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2021 di Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Kabupaten Pandeglang. Provinsi Banten. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis, tally sheet, kamera. GPS, laptop, software mapSource, software QGIS, dan software Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data pada penelitian ini adalah : Data Primer, yaitu data yang diambil secara langsung di lapangan dengan melalui kuisioner atau wawancara serta observasi lapangan. Data yang diambil melalui observasi lapangan dilakukan untuk mengetahui keadaan sebenarnya di lapangan dan pengambilan titik koordinat menggunakan GPS untuk mengetahui dan menentukan jalur interpretasinya. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh oleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara . iperoleh dan dicatat oleh pihak Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan dalam literatur yang telah disusun dalam arsip yang diterbitkan dan tidak diterbitkan. Data sekunder yang digunakan adalah potensi wisata alam yang ada di kawasan wisata Pulau Peucang. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 Metode Pengambilan Data Metode pengambilan data dalam penelitian ini terdiri atas metode survey, kepustakaan dan dokumentasi. Metode survey meliputi observasi lapangan dan Observasi lapangan dilakukan untuk mengetahui keadaan sebenarnya di Pengambilan data meliputi penandaan jalur dan titik potensi pengembangan jalur interpretasi menggunakan GPS. Wawancara dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi dengan cara berkomunikasi langsung dengan pihak pengelola dan Wawancara dilaksanakan secara terencana dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Analisis Data Pengelolaan data hasil penelitian yaitu dengan menggunakan analisis Penelitian deksriptif adalah penelitian dimana untuk mengetahui nilai variabel mandiri baik variabel satu atau lebih tanpa membuat pembanding atau menghubungkan dengan variabel lain. Menurut Sugiyono . Analisis Deksriptif adalah stastistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Pengolahan data yang digunakan dalam membuat peta perencanaan jalur interpretasi dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG merupakan suatu sistem yang berbasis komputer yang memberikan kemampuan untuk menangani data bereferensi geografis meliputi: pemasukan, pengelolaan, manipulasi dan analisis serta output data (Susilo, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pengunjung di Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pengunjung di Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang sebagian besar adalah perempuan. Berdasarkan persentase yang diperoleh pengunjung perempuan sebesar 53,3 %, dan laki- laki sebesar 46,7%. Hal ini menunjukan bahwa dominasi dari pengunjung yang datang adalah perempuan. Untuk rentan usia pengunjung mayoritas berada pada rentan usia 20-30 tahun yaitu sebesar 66,7% yang berarti usia pengunjung adalah usia produktif yang melakukan kegiatan di alam bebas. Pendidikan terakhir pengunjung mayoritas adalah perguruan tinggi dengan persentase sebesar 56,7%. Karakteristik pengunjung yang lain diantaranya adalah pekerjaan. Pekerjaan pengunjung didominasi oleh pegawai swasta sebesar 46,7%. Pengunjung dengan profesi tersebut memanfaatkan hari liburnya untuk berwisata. Pendapatan mayoritas pengunjung berada di kisaran lebih dari Rp. 000 sebesar 60% dengan sebagian memiliki gaji tetap per bulan serta gaji harian. Pengunjung yang datang kebanyakan berasal dari Jabodetabek dengan persentase sebesar 80%. Jarak dan domisili adalah suatu faktor utama pengunjung memilih Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang. Rata-rata jumlah wisatawan yang berwisata di Pulau Peucang antara tahun 2018 - 2020 adalah sebanyak A13. 000 orang per tahun. Jumlah wisatawan meningkat dari dari tahun 2018 ke tahun 2019 dan turun pada tahun 2020. Rendahnya jumlah pengunjung pada tahun 2020 disebabkan karena adanya himbauan dari pemerintah terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada pandemi virus Covid-19. Adanya regulasi tersebut mengharuskan semua sektor termasuk pada sektor pariwisata Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 untuk membatasi seluruh aktivitas. Menanggapi himbauan tersebut wisata alam Pulau Peucang sementara di tutup untuk beberapa waktu. Jalur Interpretasi Karang Copong Pada Kawasan Wisata Alam Pulau Pucang hanya memiliki 1 jalur interpretasi yaitu jalur interpretasi menuju Karang Copong, jalur interpretasi Karang Copong merupakan jalur yang cukup sering di kunjungi para pengunjung kawasan wisata alam Pulau Peucang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jalur interpretasi dimulai dari pusat informasi sampai ke objek karang copong yang memiliki panjang jalur 3,25 km dengan waktu tempuh A 1 jam dari pusat informasi. Lebar jalur menuju Karang Copong A 2 m dengan kondisi topografi landai, kondisi tapak pada jalur berupa pasir dan serasah. Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang memiliki 1 jalur interpretasi yaitu jalur interpretasi menuju Karang Copong, jalur ini mempunyai karakteristik track yang cukup mudah di lintasi pengunjung dan juga merupakan jalur wisata yang banyak di datangi pengunjung karena daya tariknya tersendiri. Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Satyatama . dengan pemilihan jalur pada 2 kriteria, yaitu merupakan jalur yang banyak didatangi pengunjung atau dilalui pendaki dan mempunyai aksesibilitas yang mudah. Jalur interpretasi menuju Karang Copong memiliki panjang jalur 3,25 km dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan sesuai kemampuan dari pengunjung. Jalur interpretasi mempunyai lebar A2 m dengan kondisi topografi landai, mempermudah pengunjung untuk melintasi jalur karena tidak ada tanjakan tinggi dan curam yang membuat pengunjung sulit untuk mencapai setiap objek yang akan di nikmati. Selain itu kondisi tapak pada jalur berupa pasir dan serasah hal ini juga membuat jalur tersebut memenuhi kriteria jalur interpretasi yang baik. Selain jalur interpretasi terdapat juga jalur evakuasi yang kondisi nya kurang perawatan, panjang jalur evakuasi adalah 500 m dengan topografi landai sedikit menanjak, dengan lebar jalur 2 m, di sepanjang jalur banyak terdapat pohon tumbang yang bisa mengganggu saat proses evakuasi berlangsung. Selain itu, perlu pembaharuan tentang papan informasi pada jalur seperti petunjuk arah dan papan titik kumpul berada, ini dapat menghambat juga dalam proses evakuasi karena menyebabkan bingungnya pengunjung yang akan menuju ke titik kumpul evakuasi. Tipe jalur interpretasi menuju Karang Copong berupa satu pintu dengan dua alur yang berarti kegiatan wisata untuk menuju karang copong hanya mempunyai satu pintu masuk dengan dua alur perjalanan yaitu pergi dan pulang melalui jalur yang sama, dikarenakan jalur yang dilalui mempunyai potensi objek interpretasi yang cukup beragam, mulai dari potensi objek sumber daya alam maupun potensi objek sejarah atau budaya. Ilustrasi bentuk jalur satu pintu dua alur terdapat pada Gambar 1. Gambar 1. Ilustrasi satu pintu dua alur Berdasarkan tipe interpretasi menurut Muntasib . , dari hasil penelitian pada sepanjang jalur interpretasi Karang Copong tergolong kedalam tipe interpretasi tempat alami, di karenakan interpretasi pada Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang menjelaskan tentang karakteristik Pulau Peucang. Karakteristik yang dijelaskan berupa Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 kondisi tanah atau batuan, jenis vegetasi dan satwa. Jalur evakuasi pada Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang adalah jalur evakuasi dari bencana tsunami karena berada pada kawasan pesisir yang rawan terjadinya bencana tsunami. Jalur evakuasi adalah sebuah lintasan penyelamatan yang menghubungkan kepada area yang aman yang bisa disebut dengan titik kumpul. Jalur evakuasi juga berfungsi sebagai jalur untuk memobilisasi pengunjung dari area yang terancam bahaya ke area yang lebih aman ketika terjadi bencana. Potensi Objek Interpretasi Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dan hasil wawancara dengan pengelola objek interpretasi yang terapat di Kawasan Wisata Alam Pulau Peucang berupa potensi sumber daya alam . isik & biolog. Potensi fisik antara lain pantai, tebing karang, dan semenanjung ujung kulon. Sedangkan untuk potensi biologi antara lain yaitu flora dan Selain itu terdapat juga potensi budaya antara lain situs sejarah dan sejarah Data potensi objek interpretasi disajikan pada Gambar 2. Gambar 2. Peta Potensi Jalur Interpretasi Karang Copong Hasil penelitian menunjukan bahwa potensi objek interpretasi di golongkan menjadi 2, yaitu: Potensi Sumber daya Alam Flora Jenis flora yang terdapat pada jalur intferpretasi Karang Copong cukup beragam tapi menurut penuturan petugas dan hasil observasi lapangan menunjukan bahwa pohon kiara adalah objek yang paling berpotensi karena memiliki keunikannya tersendiri mulai dari diameter dan tinggi pohon yang besar selain itu bentuk pohon yang unik dengan akar pengikat yang dapat menarik perhatian pengunjung. Fauna Jenis satwa yang terdapat di jalur interpretasi Karang Copong cukup beragam antara lain rusa timor (Cervus timorensi. , kijang (Muntiacus muntja. , babi hutan (Sus crov. , ular sanca (Phyton reticulat. , monyet ekor panjang (Macaca fasciculari. , biawak (Varanus salvato. , dan berbagai jenis burung seperti rangkong (Buceros rhinocero. , merak hijau (Pavo muticu. , dan elang ular bido (Spilornis cheel. Beberapa contoh gambar satwa yang ada di Pulau Peucang Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 disajikan pada Gambar 3. Varanus salvator . Cervus timorensis . Macaca fascicularis . Pavo muticus Gambar 3. Satwa di Pulau Peucang Tanah dan Geologi Potensi geologi yang terdapat pada jalur interpretasi yaitu Karang Copong. Karang copong merupakan sebuah karang berlubang yang berada di tengah laut. Karang copong berada di ujung barat pulau peucang, di sekitar area ini terdapat bebatuan karang yang kasar serta tidak memiliki pasir pada garis pantainya. Pemandangan Alam Pemandangan alam yang terdapat di sepanjang jalur cukup beragam mulai dari terbit hingga terbenamnya matahari dapat dilihat dari pantai dan objek karang copong, selain itu terdapat juga pemandangan alam lain seperti laut, pulau-pulau sekitar Pulau peucang yaitu Pulau Panaitan. Semenanjung Ujung Kulon dan Karang Copong. Beberapa contoh gambar pemandangan alam yang ada di Pulau Peucang disajikan pada Gambar 4. Karang Copong . Pantai Gambar 4. Pemandangan Alam Pulau Peucang Potensi Interpretasi Budaya Situs-situs sejarah Situs sejarah yang terdapat pada jalur interpretasi adalah pohon Kiara (Ficus s. , merupakan pohon pencekik yang sukses tumbuh besar setelah perdayakan Pohon ini berada di dalam hutan dataran rendah kawasan Pulau Peucang, diameter pohon ini sepanjang rentangan tangan 50-an orang dewasa berdiri mengelilingi pohon. Usia pohon ini diperkirakan lebih dari 130 tahun bermula saat letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 terjadi. Sejarah kawasan Letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menyebabkan gelombang pasang surut air laut atau yang lebih dikenal dengan gelombang tsunami pernah menghancurkan daratan Pulau Peucang ini hingga karang tanpatanah. Interpretasi wisata alam dapat membantu meingkatkan seluruh objek alam yang ada menjadi daya tarik wisata yang bervariasi, maka dari itu perlu adanya pemilihan dan pengambilan keputusan yang tepat dalam menentukan objek interpretasi secara tepat agar interpretasi wisata dapat terlaksana secara tepat, karena objek interpretasi alam dapat membantu pengunjung dalam melaksanakan suatu kunjungan wisata ke Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 suatu tempat, hal ini sesuai dengan apa yang di katakan oleh Nugroho . bahwa, objek interpretasi wisata berfungsi mengkonfirmasi pengunjung untuk mendapatkan informasi cukup, guna menghasilkan kegiatan yang aman, efisien, memperoleh kunjungan yang menyenangkan dan mampu mengurangi dampak kerusakan sumber daya alam. Agar objek interpretasi dapat memberikan informasi yang cukup bagi pengunjung maka perlu dibuat program interpretasi. Program interpretasi diperlukan dalam menghubungkan antara pengunjung dan objek interpretasi yang sudah di tentukan pada jalur, penggunaan objek interpretasi yang tepat dapat dijadikan sebagai materi untuk membuat rencana program interpretasi. Apabila dalam pemilihan dan penggunaan objek interpretasi dilakukan secara tepat maka program interpretasi yang di rencanakan dapat berlangsung dengan baik. Hal ini juga di kemukakan oleh Hasibuan . bahwa Perencanaan program interpretasi lingkungan disesuaikan dengan objek - objek utama yang dijadikan sebagai objek interpretasi yang diminati atau disukai . Program interpretasi harus disusun dengan jelas agar pengunjung dapat memahami informasi yang di berikan. Selain itu tujuan dari di buatnya program interpretasi untuk mendukung upaya pelestarian dan konservasi kawasan agar meminimalkan dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh pengunjung (Junianti et , 2. Program interpretasi pada jalur interpretasi menuju Karang Copong dibuat berdasarkan dengan beberapa kriteria perencanaan program yang telah disebutkan, maka dilakukan program interpretasi AuMengamati Kehidupan Alam LiarAy. Kegiatan program interpretasi ini dibuat dengan durasi kegiatan selama 2 hari 1 malam. Urutan kegiatan interpretasi yang akan di tawarkan sebagai berikut: Tabel 1. Urutan Kegiatan Program Interpretasi Lokasi Pusat Informasi Durasi 30 menit Kegiatan C Pengenalan medan C Penjelasan tentang kegiatan dan tujuan objek Jembatan Pohon Kiara 15 menit C Pengenalan fauna Pulau Peucang 30 menit C Penjelasan morfologi dan sejarah pohon C Penjelasan Karang Copong 60 menit Pantai/ Dermaga 90 menit Cidaon 45 menit flora di Pulau Peucang C Penjelasan Karang Copong C Istirahat C Bird watching di menara pandang C Bersantai C Mengamati kehidupan satwa liar C Foto bersama Program Pengembangan Jalur Interpretasi Karang Copong Jalur Interpretasi yang baik harus memiliki beberapa fasilitas penunjang agar informasi tentang potensi yang ada pada jalur dapat tersampaikan kepada pengunjung. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 selain itu agar program interpretasi dapat berjalan sesuai rencana. Selain itu salah satu tujuan membangun jalur interpretasi adalah sebagai pengawasan dan pelayanan yang lebih baik terhadap pengunjung dan mengembangkan metode interpetasi alam, baik secara langsung maupun melalui papan-papan informasi. Maka dari itu sebuah jalur interpretasi yang baik harus memiliki beberapa kriteria seperti yang di kemukakan oleh Domroesedan Sterling . dalam Muntasib . , yaitu: Jalur tidak terlalu panjang dan memakan waktu 20 menit-1 jam dengan berjalan kaki termasuk waktu istirahat Berbentuk lingkaran untuk menghindari pengulangan pemandangan Memiliki tanda yang jelas sehingga pengunjung dapat mengikutinya dengan mudah Bersih dan tidak terdapat sampah atau jejak dari pengunjung Dibangun dengan meminimalkan terjadinya Erosi serta mempunyai drainase yang Terpelihara dengan baik, tidak ada pohon tumbang, vandalism dan kerusakan karena pengaruh iklim Dirancang dan dikelola untuk meninimalkan dampak ekologi yaitu dengan membiarkan serasah menjadi humus Pernyataan tersebut dapat menjadi acuan untuk menentukan suatu jalur yang Namun berdasarkan hasil observasi di lapangan jalur interpretasi menuju karang copong belum memenuhi kriteria tersebut seperti minimnya papan interpretasi, papan petunjuk arah, serta fasilitas wisata alam yang memadai hal ini belum sesuai dengan kriteria jalur interpretasi yang baik yaitu memiliki tanda-tanda yang jelas sehingga pengunjung dapat mengikutinya dengan mudah. Papan interpretasi, papan petunjuk arah, serta fasilitas wisata alam adalah suatu bagian dari tanda interpretasi, karena tanda interpretasi adalah adalah suatu media komunikasi yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian informasi. Dalam kegiatan interpretasi dengan adanya tanda interpretasi pengunjung dapat lebih memahami dan memiliki pengetahuan tentang lokasi dan objek interpretasi yang akan di kunjungi. Berdasarakan hasil penelitian jalur interpretasi Karang Copong masih minim akan tanda interpretasi maka dari itu perlu adanya rencana penambahan dan juga pemasangan papan interpretasi, papan petunjuk arah dan fasilitas wisata alam karena tanda interpretasi sangat berguna bagi pengunjung sebagai informasi dala menikmati perjalanan wisata alamnya. Melihat kondisi yang ada di lapangan, perlu adanya rancangan tanda interpretasi, yaitu: Rencana Papan Interpretasi Papan interpretasi adalah suatu hal penting untuk memberikan informasi kepada Papan interpretasi berbeda dengan tanda penunjuk arah atau papan nama karena papan interpretasi memuat lebih banyak pesan, tidak boleh terlalu panjang dan dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menarik pengunjung untuk membacanya (Nugroho, 2. Papan petunjuk arah adalah suatu yang penting dalam berpergian untuk mengetahui lokasi yang akan dituju adalah suatu hal penting untuk memberikan informasi kepada pengunjung menurut Nugroho . Papan petunjuk arah merupakan papan yang berisi tulisan singkat dan menunjukkan arah tertentu ke arah mana pengunjung harus berjalan menuju objek/sarana tersebut Tanda penujuk arah juga merupakan metode dalam memberikan informasi yang cepat kepada pengunjung dengan biaya yang relatif rendah (Sharpe, 1. Pada papan interpretasi di bagi menjadi dua yaitu informasi tentang objek flora. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 fauna dan objek situs sejarah yang berada di sepanjang jalur, papan ini berisi tentang informasi objek yang akan di interpretasikan kepada pengunjung, sedangkan pada kondisi di lapangan papan pada jalur hanya ada satu buah yaitu pada pohon kiara dengan kondisi yang sudah kurang layak, dengan hanya satu papan yang ada maka informasi tentang objek lain yang berpotensi tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada pengunjung, hal ini dapat menyebabkan kegiatan interpretasi tidak efektif karena tidak adanya papan informasi tentang objek yang di rencana penempatan papan interpretasi ini akan di tempatkan dalam 5 titik sesuai dengan tempat dimana objek interpretasi berada. Dengan adanya penambahan papan interpretasi dapat mempermudah pengunjung mendapatkan informasi tentang objek yang di interpretasikan dan juga memaksimalkan potensi objek yang berada dalam jalur interpretasi. Kondisi di lapangan menunjukan bahwa bahwa masih minimnya petunjuk mengenai arah dan tujuan untuk mencapai objek interpetasi mana saja yang akan Pembuatan papan petunjuk arah disini di sarankan dibuat dengan tanda yang jelas dengan tinggi 200 cm dan papan berukuran 30 x 15 cm untuk panjang dan lebarnya, untuk papan berwarna hijau terang dan warna putih pada bagian informasi nya agar mudah terlihat dengan jelas dan proporsional dengan begitu manfaatnya akan terasa bagi pengunjung. Selain pada jalur interpretasi papan petunjuk arah dan informasi juga disarankan adanya pemasangan dan penambahan pada jalur evakuasi. Jalur evakuasi menjadi kriteria penting dalam jalur interpretasi yang baik maka dari itu perlu adanya pemasangan papan petunjuk arah yang jelas dan papan informasi tentang lokasi titik kumpul dimana pada saat proses evakuasi berlangsung dapat berjalan sesuai dengan fungsi jalur evakuasi yaitu untuk mobilisasi pengunjung ancaman bahaya ke tempat yang lebih aman. Untuk saran pembuatan papan petunjuk berbeda dengan yang berada pada jalur interpretasi, pada jalur evakuasi papan berwarna orange dengan tulisan informasi berwarna putih dan dapat memantulkan cahaya pada saat kondisi minim cahaya, ini bertujuan agar pada saat proses evakuasi di malam hari dapat dengan mudah melihat papan petunjuk yang ada. Pada titik kumpul evakuasi juga di harapkan dapat di pasang papan titik kumpul evakuasi agar pengunjung bisa mengetahui dimana titi kumpul saat bencana terjadi, papan titik kumpul dibuat dengan warna hijau dengan tulisan berwarna putih dan juga dapat memantulkan cahaya agar saat kondisi minim cahaya/malam hari dapat dengan mudah dilihat. Papan himbauan disini bertujuan untuk menghimbau pengunjung untuk tidak melakukan atau menghindari segala kegiatan yang berkaitan dengan keamanan, keselamatan dan kenyamanan pengunjung seperti: Tidak melakukan vandalisme Dilarang membuang sampah Tidak memberi makan satwa Tidak menyakiti satwa Membawa pulang atau merusak tanaman dan pohon Himbauan berenang Himbauan rawan bencana Biasanya papan himbauan ini diletakkan pada lokasi yang mudah dilihat pengunjung atau pada lokasi himbauan itu diperlukan seperti papan himbauan berenang diletakan di sekitar pantai. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 186-196 Rencana Fasilitas Wisata Alam Fasilitas wisata alam merupakan pelengkap dari suatu tempat wisata yang di buat untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Kepuasan pengunjung tidak hanya didasarkan pada objek wisata yang mereka lihat namun juga dari fasilitas wisata yang dimiliki objek wisata tersebut. Fasilitas wisata dibuat untuk mendukung konsep atraksi wisata yang sudah ada (Sarim dan Wiyana, 2. Dalam interpretasi alam fasilitas wisata berperan sebagai penunjang kegiatan interpretasi untuk memfasilitasi pengunujung dalam melaksanakan interpretasi yang telah dibuat, karena kegiatan dalam program interpretasi yang telah di buat membutuhkan adanya fasilitas wisata yang menunjang kegiatan Sehingga pada akhirnya setiap komponen saling melengkapi dalam rangkaian program interpretasi mulai dari objek interpretasi, kegiatan interpretasi, sampai fasilitas wisata karena itu merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat di KESIMPULAN Bentuk Pengembangan jalur interpretasi karang copong di wisata alam pulau peucang yang dibuat antara lain berupa pembuatan papan interpretasi, pembangunan fasilitas wisata alam dan pengembangan jalur evakuasi. Pengembangan jalur evakuasi terdiri dari rencana petunjuk arah evakuasi dan papan titik kumpul evakuasi. Rencana program yang dibuat berupa program kegiatan interpretasi dengan tema AuMengamati Kehidupan Alam LiarAy. Kegiatan program interpretasi ini dibuat dengan durasi kegiatan selama 2 hari 1 malam. Kegiatan yang dilakukan pada program ini seperti pengenalan dan pengamatan jenis flora dan fauna yang berada disepanjang jalur kegiatan tracking menuju karang copong sakaligus menikmati panorama alam. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan selesainya penelitian mengenai Pengambangan Jalur Interpretasi di Pulau Peucang. Taman Nasional Ujung Kulon. Provinsi Banten ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang terlibat dan telah banyak membantu penulis dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA