PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL MAKE A MATCH UNTUK PESERTA DIDIK KELAS i SDN 101/II MUARA BUNGO *Mozakiyah Dinda Sari1. Randi Eka Putra2. Nurlev Avana3 Universitas Muhammadiyah Muara Bungo *Email: *mozakiyahdindasari77@gmail. randiekaputra23@gmail. com, avananurlev10@gmail. Abstract: The primary concern of the study is the poor learning process and outcomes in mathematics classes for third-grade students at SDN 101/II Muara Bungo. This initiative aims to improve the mathematics learning process and outcomes for third-grade students at SDN 101/II Muara Bungo by utilizing the Make A Match technique. Two meetings are held during each of the two cycles of this classroom action study. Each cycle consists of the following phases: planning, execution, observation, and In the second semester of the 2025 academic year, this study was conducted in SDN 101/II Muara Bungo. The learning process, which includes observations of student activities, interactions between teachers and students, classroom management, and learning materials, is where the study's findings are evident. During cycle 1, educator observations received 85. 71% in the very good category, and during cycle 2, they received 97. 61% in the very good category. Similarly, during cycle 1, student observations received 66. 57% in the fairly good category, and during cycle 2, they received 85. 31% in the very good According to the study's findings, the percentage of students who completed the test and obtained KKTP in the initial conditions was 37%, or 11 out of 32 students. in cycle I, the percentage of students who achieved KKTP was 66. 66%, or 18 out of 27 students. and in cycle II, the percentage of students who achieved KKTP was 92. 85%, or 26 out of 28 students. Abstrak: Rendahnya proses dan hasil belajar matematika siswa kelas tiga di SDN 101/II Muara Bungo menjadi permasalahan utama dalam penelitian ini. Melalui metodologi Make A Match, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa kelas tiga di SDN 101/II Muara Bungo. Terdapat dua pertemuan per siklus dalam penelitian tindakan kelas (PTK) dua siklus ini. Perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi merupakan bagian dari setiap Penelitian ini dilaksanakan di SDN 101/II Muara Bungo pada semester kedua tahun ajaran 2025. Hasil dari penelitian ini dapat dilihat dari proses pembelajaran yang mencakup observasi yang terdiri dari aktivitas siswa, serta interaksi antara pendidik dan siswa, pengelolaan kelas dan media pembelajaran, proses observasi pendidik disiklus mendapatkan 85,71% kategori sangat baik dan disiklus 2 sebanyak 97,61% sangat baik dan observasi peserta didik disiklus 1 mendapatkan 66,57% kategori cukup baik dan disiklus 2 sebanyak 85,31% kategori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian, persentase siswa yang tuntas ujian dan memperoleh KKTP pada kondisi awal sebesar 34,37% atau 11 dari 32 siswa. pada siklus I persentase siswa AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . ARTICLE HISTORY Received: July 2025 Revised : July 2025 Accepted : July 2025 KEYWORDS Process. Mathematics Learning Outcomes. Make A Match KEYWORDS Proses. Hasil Belajar Matematika. Make A Match yang mencapai KKTP sebesar 66,66% atau 18 dari 27 siswa. dan pada siklus II persentase siswa yang mencapai KKTP sebesar 92,85% atau 26 dari 28 siswa. Kita dapat menyimpulkan bahwa metodologi make-amatch dapat membantu siswa kelas i di SDN 101/II Muara Bungo belajar lebih efektif dan mencapai hasil berhitung yang lebih baik. PENDAHULUAN Pendidikan sangat penting bagi kehidupan karena dapat membentuk generasi yang akan memimpin negara di masa depan dengan cara yang lebih konstruktif (Putra et , 2. Anggraini . menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan bangsa Indonesia. Tingkat kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh upaya pendidikan yang dijalankan oleh bangsa tersebut. Pendidikan yang diberikan oleh pengajaran di sekolah melalui aktivitas belajar di kelas perlu dilakukan secara optimal, karena akan berdampak besar pada perkembangan potensi siswa dalam proses belajar. Guru bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga fasilitator dan pendorong pembelajaran. Sebuah studi menyoroti bahwa di era digital, guru bertugas lebih dari sekadar menyampaikan materi mutmainah aji et al . Guru harus menjadi pendorong dan fasilitator yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang konstruktivis, terutama melalui integrasi teknologi dalam kurikulum. Untuk mencapai tujuan pendidikan ini, dukungan dari kurikulum sangat penting. Hal ini dikarenakan peningkatan kualitas kurikulum yang baik dapat mendorong pendidikan menuju arah yang lebih baik. Saat ini. Indonesia menggunakan Kurikulum Merdeka yang sudah diterapkan di berbagai lembaga pendidikan di seluruh negara. Kurikulum Merdeka menawarkan lebih banyak kesempatan dan waktu untuk memahami konsep serta meningkatkan Dalam Kurikulum Merdeka, pelajaran matematika menjadi salah satu fokus yang menekankan pada pengembangan keterampilan siswa dan proses pembelajaran yang berpusat pada mereka. Ridho et al. , . menyatakan bahwa, pengembangan kurikulum ini bertujuan untuk memperbaiki mutu pendidikan. Cindyana et al. menyatakan bahwa, matematika dianggap sebagai pengetahuan fundamental yang akan diterapkan dalam bidang pengetahuan lainnya. Oleh karena itu, terdapat berbagai disiplin ilmu yang memanfaatkan dan bergantung pada Sejalan dengan pernyataan Hidayat . yang menyatakan bahwa matematika dikenal sebagai ratu di antara ilmu pengetahuan. Yang dimaksud dengan ratu di sini adalah bahwa matematika berfungsi sebagai pendorong bagi ilmu-ilmu lainnya. Berdasarkan pengamatan terhadap proses pembelajaran matematika pada 13 dan 15 November 2024, bersama wali kelas i SD Negeri 101/II Muara Bungo, terlihat bahwa metodologi pengajaran yang diterapkan kurang efisien. Penggunaan metode pengajaran tradisional menjadi penyebab hal ini yang tidak melibatkan siswa secara langsung dalam aktivitas belajar. Akibatnya, siswa kehilangan motivasi dan merasa bosan selama proses Hasil pengamatan juga menunjukkan minimnya partisipasi siswa dalam AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pembelajaran, di mana hanya sedikit dari mereka yang aktif mengajukan pertanyaan atau Sebagian besar siswa tampak tidak berinisiatif dan hanya menerima informasi tanpa banyak interaksi. Untuk mengatasi masalah ini. Salah satu solusi yang disarankan adalah menggunakan pendekatan pembelajaran Make a Match. Rusman . mengungkapkan bahwa Salah satu jenis pendekatan Metode Make a Match, yaitu Siswa berkolaborasi dalam kelompok kecil yang beragam, yang terdiri dari empat hingga enam orang selama pembelajaran kooperatif. Sementara itu. Komalasari . menyebutkan bahwa pendekatan pembelajaran kolaboratif dengan bantuan kartu pencocokan, siswa dapat belajar cara memecahkan masalah konsep menggunakan metode Buat Pencocokan. Pernyataan tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Sari . bahwa Salah satu metode pembelajaran yang memanfaatkan permainan kartu adalah pendekatan pembelajaran kooperatif Make a Match. Penelitian sebelumnya yang berkaitan telah banyak membahas membahas mengenai pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif jenis Make A Match. Analisis tambahan yang dilakukan oleh Meilani & Aiman . bahwa hasil hingga 96% dicapai dengan penelitian berjudul Implementasi Model Pembelajaran Make a Match Berbasis 4C dengan Memanfaatkan Kartu Angka untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar. Metodologi pembelajaran kooperatif Make A Match telah digunakan dalam sejumlah penelitian sebelumnya, tetapi belum ada yang menggunakannya untuk mengajarkan matematika, terutama ketika berhadapan dengan konten yang menantang. Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti mengembangkan tujuan penelitian ini untuk meningkatkan strategi dan hasil pengajaran bagi siswa kelas tiga di SDN 101/II Muara Bungo. Namun, tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk menguraikan bagaimana pendekatan pembelajaran kooperatif Make A Match diterapkan pada siswa kelas tiga di SDN 101/II Muara Bungo. METODE PENELITIAN Penelitian Tindakan Kelas adalah metodologi penelitian yang digunakan dalam topik ini. Sebagaimana dijelaskan oleh Aprizan, et al . penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah observasi terhadap aktivitas belajar yang diadakan dengan sengaja dan dilakukan secara kolaboratif dalam satu kelas. Menurut Arikunto. Suharjono. penelitian tindakan kelas bisa dianggap sebagai eksperimen yang berlangsung berulang atau berkelanjutan, walaupun tidak selalu seperti itu. Jika seorang guru merasa tidak puas dengan hasil pembelajaran yang dihasilkan, dan ingin mengubah metode pengajaran dengan yang baru, maka percobaan yang dilakukannya bisa disebut sebagai penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 101/II Muara Bungo pada semester II tahun ajaran 2024-2025. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas tiga di SDN 101/II Muara Bungo, yang terletak di Kecamatan Pasar Muara Bungo. Kabupaten Bungo. Total terdapat 32 siswa, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Fokus utama penelitian AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . ini adalah hasil belajar siswa kelas tiga dalam matematika, teknik, dan penggunaan metode "Make a Match". Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui tes, dokumentasi, dan observasi. Alat yang digunakan antara lain perangkat tes dan lembar observasi. Berikut ini adalah indikator keberhasilan penelitian ini: . Dalam mata kuliah termasuk matematika, proses pembelajaran siswa kelas tiga memenuhi Kriteria Pencapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebesar 75%. Hasil pembelajaran siswa pada mata pelajaran matematika kelas tiga memenuhi Kriteria Pencapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebesar 75%. Metode analisis informasi yang diterapkan dalam studi ini adalah pendekatan deskriptif, yang melibatkan perbandingan antara hasil pembelajaran bagi siswa sebelum dan sesudah kegiatan setiap siklus. Analisis data dilakukan dengan teknik kualitatif dan Data kualitatif mencakup hasil observasi aktivitas pendidik dan siswa selama Persentase menggunakan formula sebagai berikut: ycycycoycoycaEa ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa Nilai Presentase = y 100% ycycycoycoycaEa ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco Di samping itu, studi ini pun menerapkan metode kuantitatif dengan rumus yang tertera berikut ini: Presentase = ycycycoycoycaEa ycycnycycyca ycoyceycuycaycaycyycaycn yayaycNycE y 100% ycycycoycoycaEa ycyceycoycycycEa ycycnycycyca HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Setelah kegiatan pembelajaran di SDN 101/II Muara Bungo, yang terletak di Kecamatan Pasar Muara Bungo. Kabupaten Muara Bungo. Jambi, selesai, temuan penelitian diperoleh. Tiga puluh dua siswa kelas tiga dari SDN 101/II Muara Bungo menjadi subjek penelitian. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran, data dikumpulkan melalui pembelajaran matematika dengan pendekatan pembelajaran "mencocokkan". Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus: dua pertemuan pada siklus II dan dua sesi pada siklus I. Berat merupakan topik utama pembelajaran pada siklus I. Topik A membahas proses mengungkapkan berat, yang melibatkan sejumlah proses, meliputi persiapan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Peneliti menyiapkan modul pembelajaran untuk siklus I, membuat kartu soal dan jawaban untuk model pembelajaran make-a-match selama proses belajar mengajar, membuat formulir observasi untuk digunakan guru dalam proses belajar mengajar, membuat lembar ujian siswa, dan Sebelum proses pembelajaran dimulai, siapkan lembar observasi untuk guru. Data hasil lembar observasi guru siklus I pertemuan I dan II Tabel 1. Data Hasil Lembar Observasi Guru Siklus I pertemuan I dan II AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . No. Mea Jumlah indikator yang terlaksana Presentase Kategori 80,95% 90,47% 85,71% Baik Sangat baik Sangat baik Data hasil proses belajar siswa pada siklus I pertemuan I dan II Tabel 1. 2 Data Hasil Lembar Observasi Siswa Siklus I pertemuan I dan II No. Inisial Nama ANO ASA AFA AKH AAM AOF GPAA JAB KRA KSI KNAN MAMB MHRS MRR MRP NAF NGA NNA QNF RMA RAA RPY SNPA YDY Jumlah Perolehan Persentase Pertemuan I Nilai Kategori Cukup baik Cukup baik Baik Baik Cukup Baik Kurang baik Kurang baik Cukup baik Cukup Baik Cukup baik Kurang baik Cukup Baik Kurang baik Kurang baik Kurang baik Cukup Baik Baik Kurang baik Baik Kurang baik Kurang baik Cukup Baik Cukup baik Baik Cukup Baik Cukup baik Cukup Baik Kurang Baik Cukup baik Cukup baik 61,66% Cukup Pertemuan II Nilai Kategori Cukup baik Cukup baik Baik Baik Baik Kurang baik Kurang baik Cukup Baik Baik Baik Baik Kurang baik Kurang baik Baik Sangat Baik Kurang baik Sangat Baik Cukup baik Cukup Baik Cukup baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup baik Baik 71,48% Baik Data hasil tes belajar siswa pada siklus I Tabel 1. 3 Data Hasil Belajar Siswa Siklus I pertemuan I dan II No. Inisial Nama AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . KKTP Nilai Kategori ANO ASA AFA AKH AAM AOF GPAA JAB KRA KSI KNAN MAMB MHRS MRR MRP NAF NGA NNA QNF RMA RAA RPY SNPA YDY Nilai persentase sudah mencapai KKTP Nilai persentase belum mencapai KKTP Jumlah Siswa Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak hadir Tidak hadir Tidak tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tidak hadir Tuntas Tidak tuntas Tidak hadir Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tidak hadir Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas 33,33% Siswa 66,66% Pembelajaran topik Pecahan berlangsung pada siklus II, yang melibatkan sejumlah proses, meliputi persiapan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Peneliti menyelesaikan sejumlah tugas sebelum proses pembelajaran, termasuk membuat modul pembelajaran pecahan, membuat kartu soal dan jawaban untuk model pembelajaran "make-a-match" yang diwajibkan selama proses pembelajaran, membuat lembar observasi guru dan siswa, serta membuat lembar soal tes untuk Data lembar observasi guru siklus II pertemuan I dan pertemuan II Tabel 1. 4 Data Hasil Lembar Observasi Guru Siklus I pertemuan I dan II No. Mea Jumlah indikator yang terlaksana Presentase Kategori 95,23% Sangat baik Sangat baik 97,61% Sangat baik AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Data hasil proses belajar siswa pada siklus I pertemuan I dan II Tabel 1. 5 Data Hasil Lembar Observasi Siswa Siklus I pertemuan I dan II No. Inisial Nama ANO ASA AFA AKH AAM AOF GPAA JAB KRA KSI KNAN MAMB MHRS MRR MRP NAF NGA NNA QNF RMA RAA RPY SNPA YDY Jumlah Perolehan Persentase Pertemuan I Nilai Kategori Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Cukup baik Baik Cukup baik Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Cukup baik Sangat baik 81,71% Sangat baik Pertemuan II Nilai Kategori Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat Baik Baik Baik Baik Sangat baik Sangat baik Baik Sangat Baik Sangat baik Sangat baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat baik Sangat Baik Sangat baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat baik Sangat Baik Sangat Baik 88,92% Sangat baik Data hasil tes belajar siswa pada siklus I Tabel 1. 6 Data Hasil Belajar Siswa Siklus II pertemuan I dan II No. Inisial Nama AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . KKTP Nilai Kategori ANO ASA AFA AKH AAM AOF GPAA JAB KRA KSI KNAN MAMB MHRS MRR MRP NAF NGA NNA QNF RMA RAA RPY SNPA YDY Nilai persentase sudah mencapai KKTP Nilai persentase belum mencapai KKTP Jumlah Siswa Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak hadir Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak hadir Tidak tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak hadir Tuntas Tuntas Tuntas Tidak hadir 92,85% Siswa 7,14% Pembahasan Selama tahun ajaran 2024Ae2025, 32 siswa kelas i di SDN 101/II Muara Bungo 18 laki-laki dan 14 perempuan berpartisipasi dalam penelitian ini. Data penelitian dikumpulkan dari proses belajar mengajar, sementara pembelajaran matematika dilaksanakan dengan menggunakan paradigma pembelajaran "mencocokkan". Terdapat dua sesi pada siklus I dan dua pertemuan pada siklus II penelitian ini. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data hasil observasi dan data hasil belajar Matematika peserta didik kelas i SDN 101/II Muara Bungo setelah diterapkannya model pembelajaran make a match. Data tersebut dapat dilihat dibawah ini: AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Data Observasi Guru Dalam Proses Pembelajaran Berdasarkan temuan dari penelitian yang telah dilaksanakan, didapatkan informasi dari lembar observasi pendidik dalam setiap siklus. Tabel berikut ini merupakan penjelasan hasil lembar observasi pendidik pertemuan I dan II siklus I serta pelaksanaan pertemuan I dan II siklus II: Tabel 1. 7 Persentase Kenaikan Lembar Observasi Guru Setiap Siklus Per Siklus Siklus I Siklus II Rata-Rata Presentase Pertemuan I Pertemuan Rata-Rata 80, 95% 90,47% 85,71% 95,23% 97,61% Kemajuan dicatat di setiap siklus berdasarkan data peningkatan lembar observasi guru. Berdasarkan data tersebut, nilai lembar observasi guru pada pertemuan pertama siklus I adalah 80,95%. Persentase tersebut meningkat menjadi 95,23% pada pertemuan kedua siklus I. Hasil ini cukup memuaskan, terbukti dengan peningkatan yang mencapai 90,47% pada pertemuan kedua siklus I dan mencapai 100% pada pertemuan kedua siklus II. Temuan ini sejalan dengan hasil kajian terbaru, yang menyatakan bahwa observasi dengan umpan balik reflektif, yang dirancang kolaboratif dan komunikatif, mampu memberikan inspirasi kepada para pendidik agar lebih kreatif dan bertanggung jawab dalam memberikan pengajaran (Rahmadani et al. , 2. Data Observasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran Informasi yang dikumpulkan dari penelitian ini diperoleh dari data lembar observasi siswa untuk setiap siklus. Informasi lembar observasi pelaksanaan siklus I, pertemuan I, pertemuan II, dan siklus II, serta lembar observasi untuk pertemuan I dan II, ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 1. 8 Persentase Peningkatan Lembar Observasi Peserta Didik Per Siklus Per Siklus Siklus I Siklus II Rata-Rata Presentase Pertemuan I Pertemuan Rata-Rata 61,66% 71,48% 66,57% 81,71% 88,92% 85,31% Berdasarkan data, pengamatan terhadap lembar observasi siswa menunjukkan adanya peningkatan setiap siklus. Dari data yang disajikan, ada siklus pertama pertemuan pertama, hasil observasi terhadap siswa diperoleh angka 61,66%, dan pada pertemuan kedua siklus pertama, terjadi peningkatan menjadi 71,48%. Di siklus kedua, pertemuan pertama, pengamatan menunjukkan peningkatan hingga 81,71%, sedangkan pada pertemuan kedua siklus kedua menaik menjadi 88,92%. Hasil tersebut serupa dengan pernyataan (Kusnaedi et , 2. bahwa penerapan make a match pada materi matematika terbukti meningkatkan pemahaman konsep siswa secara signifikan. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Peningkatan hasil belajar yang terlihat dalam penelitian ini tidak terlepas dari implementasi model pembelajaran Make a Match. Melalui penerapan model ini, siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berdiskusi dalam kelompok, yang membuat mereka lebih aktif, lebih penasaran, serta lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapat. Sejalan dengan hasil penelitian oleh Aliah Suryani et al. bahwa peningkatan pemahaman konseptual dan keterampilan pemecahan masalah setelah guru menerapkan model Make a Match, karena model ini memadukan elemen permainan dengan diskusi Di samping itu, model ini juga memberikan efek positif pada pencapaian akademis siswa. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil pengamatan yang memperlihatkan adanya peningkatan pada Siklus I dan Siklus II, baik dalam proses maupun hasil belajar siswa. Dengan kata lain, penerapan model Make a Match terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas i SDN 101/II Muara Bungo. Data Hasil Tes Siswa Siklus I dan Siklus II Berdasarkan temuan penelitian, informasi dapat diperoleh dari hasil tes yang diikuti siswa pada siklus I dan II pada pertemuan ketiga. Tabel berikut menampilkan fakta terkait skor tes siswa: Tabel 1. 9 Hasil Tes Siswa Siklus I dan Siklus II Per Siklus Siklus I Siklus II Rata-Rata Presentase Sudah Mencapai Belum Mencapai KKTP KKTP ,66%) ,33%) ,85%) ,14%) Berdasarkan data peningkatan hasil tes siswa diatas dapat dilihat bahwa setiap siklusnya mengalami kemajuan. Dari presentasi data yang ada, dapat dilihat bahwa pada siklus pertama, hasil belajar siswa yang sudah memenuhi KKTP mencapai 66,66% . , sedangkan yang belum mencapai KKTP sebanyak 33,33% . Hasil belajar siswa dianggap belum memenuhi KKTP karena masih di bawah target klasikal yaitu 75%. Siswa dinyatakan selesai belajar apabila nilai yang didapatkan memenuhi KKTP, yaitu Ou 60. Sementara itu, pada siklus kedua, hasil belajar siswa menunjukkan kemajuan, di mana yang sudah berhasil mencapai KKTP meningkat menjadi 92,85% . , dan yang belum mencapai KKTP berjumlah 7,14% . Mengingat tingkat penyelesaian siswa siklus kedua memenuhi kriteria keberhasilan peneliti, penelitian dapat dianggap berhasil tanpa perlu merencanakan langkah selanjutnya. Peningkatan hasil belajar ini terjadi karena adanya metode pembelajaran make a match, keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar, serta suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan mengenai metode dan tujuan pembelajaran matematika kelas i SDN 101/II Muara Bungo yang menggunakan model pembelajaran build a match sebagai berikut: Kelas matematika dapat memperoleh manfaat dari peningkatan kualitas pendekatan pembelajaran "Make a Match". Hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat siswa dari siklus I hingga II menunjukkan hal ini. Persentase yang dicapai pada siklus I adalah 66,57%, termasuk dalam kategori cukup baik. Pada siklus II, persentase meningkat sebesar 18,74% menjadi 85,31%, termasuk dalam kategori sangat baik. Berdasarkan observasi pendidik dari siklus I dan II, persentase meningkat menjadi 85,71% pada siklus I dengan kategori sangat baik dan menjadi 97,61% pada siklus II, yang juga termasuk dalam kategori sangat baik, meningkat sebesar 11,9%. Berdasarkan hasil ujian akhir sesi kedua, pendekatan "Make a Match" juga membantu siswa belajar matematika lebih efektif. Hanya 18 siswa pada siklus I yang memperoleh nilai kelulusan, atau 66,66%. Sebanyak 26 siswa mengikuti ujian pada siklus II, sehingga persentasenya meningkat menjadi 92,85%. Berdasarkan pencapaian indikator keberhasilan, dapat dikatakan bahwa pendekatan "Make a Match" berhasil diterapkan dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas tiga di SDN 101/II Muara Bungo. Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, peneliti memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut: Diharapkan hasil penelitian ini dapat mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam proses pengajaran dan pembelajaran, sehingga mereka dapat memaksimalkan baik proses maupun hasil belajar secara efektif. Kepala sekolah SDN 101/II Muara Bungo diharapkan terus memperhatikan kinerja para pendidik dan kondisi siswa dengan memberikan arahan serta bimbingan guna menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Untuk mencapai kualitas pembelajaran yang baik dan optimal, diharapkan pendidik meningkatkan profesionalisme mereka dan melaksanakan proses pembelajaran dengan lebih efektif, kreatif, serta terampil. DAFTAR PUSTAKA