Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume. Nomor. 2 April 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. DOI: https://doi. org/10. 59841/miftahulilmi. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/MiftahulIlmi Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital Arinda Firdianti1*. Shoby Any Cahya2 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Pringsewu. Indonesia *Penulis Korespondensi: arind. f@gmail. Abstract. This study aims to analyze and formulate strategic approaches to restructuring educational management in Islamic secondary schools in response to digital disruption, with a specific focus on the local context of Pesawaran. The research employs a qualitative approach with a case study design, involving school principals, teachers, and administrative staff as participants. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis, and analyzed using an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that educational management practices remain largely administrative and conventional, with limited and non-systemic integration of digital technologies. Key challenges include inadequate infrastructure, low digital competence among educators, and organizational resistance to change. response, this study proposes a strategic framework for restructuring educational management, encompassing digital transformational leadership, human resource capacity building, integrated digital management systems, and the incorporation of Islamic values into the digital ecosystem. The main contribution of this research lies in the development of the Islamic Digital-Based Educational Management Model, which integrates leadership, human resources, technology, and Islamic values as an adaptive conceptual framework for addressing digital Keywords: Digital Disruption. Digital Transformation. Educational Leadership. Human Resources. Islamic Education Management. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan strategi penataan ulang manajemen pendidikan di sekolah-sekolah Islam tingkat menengah dalam merespons disrupsi digital, dengan fokus pada konteks lokal di Pesawaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik manajemen pendidikan masih didominasi oleh pendekatan administratif-konvensional dengan pemanfaatan teknologi yang terbatas dan belum terintegrasi secara sistemik. Tantangan utama meliputi keterbatasan infrastruktur, rendahnya kompetensi digital, serta resistensi budaya organisasi. Sebagai respons, penelitian ini menawarkan strategi penataan ulang manajemen yang mencakup transformasi kepemimpinan berbasis digital, penguatan sumber daya manusia, digitalisasi sistem manajemen, serta integrasi nilai-nilai Islam dalam ekosistem digital. Kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan model Islamic Digital-Based Educational Management Model yang mengintegrasikan kepemimpinan, sumber daya manusia, teknologi, dan nilai-nilai Islam sebagai kerangka konseptual adaptif dalam menghadapi disrupsi digital. Kata kunci: Disrupsi Digital. Kepemimpinan Pendidikan. Manajemen Pendidikan Islam. Sumber Daya Manusia. Transformasi Digital. LATAR BELAKANG Transformasi digital telah menjadi fenomena global yang tidak hanya mengubah struktur ekonomi dan sosial, tetapi juga secara fundamental mentransformasi sistem pendidikan di berbagai belahan dunia. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk kecerdasan buatan, sistem pembelajaran daring, serta integrasi platform digital dalam proses manajerial, telah mendorong lahirnya paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih adaptif, fleksibel, dan berbasis data. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan tidak lagi dapat bertahan dengan pendekatan konvensional, melainkan dituntut untuk melakukan Naskah Masuk: 20 Maret 2026. Revisi: 03 April 2026. Diterima: 19 April 2026. Terbit: 24 April 2026 Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital restrukturisasi manajemen yang responsif terhadap dinamika digital yang terus berkembang (Allouche, 2. Transformasi ini tidak hanya menyentuh aspek pembelajaran, tetapi juga mencakup dimensi manajemen kelembagaan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi berbasis teknologi. Dalam ranah pendidikan Islam, transformasi digital menghadirkan kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pendidikan umum. Hal ini disebabkan oleh adanya dualitas peran yang harus dijalankan oleh lembaga pendidikan Islam, yaitu sebagai institusi akademik sekaligus sebagai penjaga nilai-nilai spiritual dan moral. Oleh karena itu, digitalisasi dalam pendidikan Islam tidak dapat dipahami semata sebagai adopsi teknologi, melainkan sebagai proses transformasi epistemologis yang mengintegrasikan antara nilai-nilai keislaman dengan inovasi teknologi modern (Shobri & Jaosantia, 2. Dalam perspektif ini, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan institusi dalam membangun keseimbangan antara dimensi teknologi dan nilai-nilai keagamaan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital dalam manajemen pendidikan Islam masih berada pada tahap awal dan cenderung bersifat parsial. Studi literatur yang dilakukan oleh Adiyono . menemukan bahwa sebagian besar lembaga pendidikan Islam masih berfokus pada penggunaan teknologi secara instrumental, seperti pemanfaatan platform pembelajaran daring, tanpa diiringi dengan perubahan struktural dalam sistem manajemen (Adiyono, 2. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan dan strategi kelembagaan, melainkan masih bergantung pada inisiatif individu guru atau tenaga pendidik. Kondisi ini berimplikasi pada rendahnya efektivitas transformasi digital serta ketidakberlanjutan inovasi yang dilakukan. Lebih lanjut, tantangan utama dalam transformasi digital pendidikan Islam terletak pada aspek sumber daya manusia, infrastruktur, dan budaya organisasi. Penelitian yang dilakukan oleh Istibana dan Aimah . mengidentifikasi bahwa keterbatasan kompetensi digital tenaga pendidik, kesenjangan akses teknologi, serta lemahnya dukungan kebijakan menjadi hambatan utama dalam implementasi manajemen berbasis digital . Selain itu, aspek keamanan data dan etika penggunaan teknologi juga menjadi isu penting yang perlu diperhatikan dalam konteks pendidikan Islam, mengingat pentingnya menjaga integritas nilai dan moral dalam proses pendidikan. Dalam konteks kepemimpinan, transformasi digital menuntut perubahan paradigma dari kepemimpinan administratif menuju kepemimpinan transformasional berbasis digital. Kepemimpinan dalam era digital tidak lagi hanya berfungsi sebagai pengelola organisasi, tetapi MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. juga sebagai agen perubahan yang mampu mengarahkan institusi menuju adaptasi yang Penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan adaptif dan visioner memiliki peran kunci dalam menentukan keberhasilan transformasi digital dalam pendidikan Islam (Munir & SuAoadah, 2. Dengan demikian, penataan ulang manajemen pendidikan tidak dapat dilepaskan dari reformasi kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai keislaman secara holistik. Di sisi lain, transformasi digital juga membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas pendidikan Islam. Integrasi teknologi memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas, peningkatan efisiensi manajemen, serta pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan pendidikan serta memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan (Baitussalam & Basofitrah, 2. Selain itu, digitalisasi juga memungkinkan pengembangan sistem manajemen berbasis data yang dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat dan strategis. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan Islam bukanlah proses yang bebas nilai. Justru sebaliknya, transformasi ini harus diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dalam konteks modern. Dalam perspektif ini, teknologi tidak boleh menjadi tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas, yaitu pembentukan insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan manajemen yang mampu mengintegrasikan antara inovasi teknologi dengan nilai-nilai spiritual secara seimbang. Dalam konteks Indonesia, khususnya pada tingkat sekolah menengah, tantangan transformasi digital dalam pendidikan Islam menjadi semakin kompleks. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan antara kebijakan nasional dengan kondisi riil di lapangan, terutama di daerah. Sekolah-sekolah Islam di daerah seringkali menghadapi keterbatasan sumber daya, baik dari segi infrastruktur maupun kompetensi tenaga pendidik. Kondisi ini menyebabkan implementasi transformasi digital berjalan tidak optimal dan cenderung bersifat sporadis. Fenomena tersebut juga dapat ditemukan pada sekolah-sekolah Islam tingkat menengah di Pesawaran. Berdasarkan observasi awal, sebagian besar sekolah masih mengandalkan sistem manajemen konvensional dengan tingkat adopsi teknologi yang terbatas. Digitalisasi belum terintegrasi secara sistemik dalam manajemen sekolah, melainkan hanya digunakan sebagai alat bantu administratif atau pembelajaran. Selain itu, masih terdapat kesenjangan kompetensi digital di kalangan guru serta keterbatasan akses terhadap infrastruktur teknologi yang Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk melakukan penataan ulang manajemen pendidikan agar lebih adaptif terhadap tuntutan era digital. Lebih jauh lagi, persoalan yang dihadapi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga struktural dan kultural. Budaya organisasi yang cenderung resistif terhadap perubahan menjadi salah satu faktor penghambat dalam implementasi transformasi digital. Selain itu, kurangnya visi strategis dalam pengelolaan pendidikan menyebabkan digitalisasi tidak berjalan secara terarah dan berkelanjutan. Dalam banyak kasus, inovasi yang dilakukan bersifat reaktif dan tidak didasarkan pada perencanaan jangka panjang. Kesenjangan antara tuntutan global dan kondisi lokal ini menunjukkan adanya research gap yang signifikan dalam kajian manajemen pendidikan Islam. Sebagian besar penelitian yang ada masih berfokus pada deskripsi implementasi teknologi atau studi kasus terbatas, tanpa mengembangkan model konseptual yang komprehensif dan aplikatif. Padahal, dalam konteks disrupsi digital, dibutuhkan pendekatan manajemen yang tidak hanya adaptif, tetapi juga strategis dan berorientasi masa depan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menata ulang konsep manajemen pendidikan di sekolah-sekolah Islam dengan mengintegrasikan perspektif digital dan nilai-nilai keislaman secara sistematis. Penelitian ini tidak hanya berupaya mendeskripsikan kondisi yang ada, tetapi juga merumuskan model strategis yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengelola pendidikan Islam di era digital. Dengan mengambil fokus pada sekolah menengah di Pesawaran, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris sekaligus konseptual dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam yang adaptif terhadap disrupsi Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai manajemen pendidikan Islam dengan menghadirkan perspektif baru yang mengintegrasikan teknologi, kepemimpinan, dan nilai-nilai keislaman. Sementara itu, secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengelola sekolah, pembuat kebijakan, serta pemangku kepentingan lainnya dalam merancang strategi transformasi digital yang efektif dan Dengan demikian, artikel ini berangkat dari asumsi bahwa transformasi digital bukanlah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan yang harus direspons secara strategis oleh lembaga pendidikan Islam. Tanpa adanya penataan ulang manajemen yang komprehensif, lembaga pendidikan Islam berisiko tertinggal dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks dan kompetitif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya adaptif MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. terhadap teknologi, tetapi juga mampu menjaga dan memperkuat identitas keislaman dalam proses pendidikan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami secara mendalam dinamika penataan ulang manajemen pendidikan di sekolahsekolah Islam tingkat menengah di Pesawaran dalam merespons disrupsi digital. Pendekatan ini dipilih karena mampu menangkap realitas sosial dan proses manajerial secara kontekstual, terutama dalam lingkungan pendidikan yang memiliki karakteristik nilai dan budaya organisasi yang khas. Fokus penelitian diarahkan pada eksplorasi praktik manajemen yang berjalan, tantangan yang dihadapi, serta strategi adaptasi yang dikembangkan oleh aktor-aktor pendidikan di tingkat sekolah. Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan mereka dalam pengelolaan dan implementasi sistem pendidikan. Selain itu, beberapa siswa juga dilibatkan secara terbatas untuk memperoleh perspektif pengguna terhadap implementasi digital dalam proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta studi dokumentasi terhadap kebijakan sekolah, program kerja, dan perangkat administrasi berbasis Wawancara difokuskan pada pengalaman, persepsi, dan strategi yang digunakan dalam menghadapi perubahan akibat digitalisasi, sementara observasi digunakan untuk memvalidasi praktik nyata di lapangan. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang berlangsung secara simultan. Peneliti melakukan proses pengodean tematik untuk mengidentifikasi pola-pola utama yang berkaitan dengan transformasi manajemen pendidikan, termasuk aspek kepemimpinan, sumber daya manusia, serta integrasi teknologi. Untuk meningkatkan validitas temuan, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber dan metode, serta melakukan member checking kepada informan kunci guna memastikan akurasi interpretasi data. Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya menghasilkan deskripsi empiris, tetapi juga memungkinkan perumusan model konseptual manajemen pendidikan Islam yang adaptif terhadap disrupsi digital. Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Eksisting Manajemen Pendidikan Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik manajemen pendidikan di sekolahsekolah Islam tingkat menengah di Pesawaran masih berada dalam fase transisional antara pendekatan konvensional dan tuntutan digitalisasi. Secara formal, fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi telah berjalan sesuai dengan standar administratif pendidikan nasional. Namun, jika ditelaah secara lebih mendalam, fungsi-fungsi tersebut belum mengalami transformasi substantif menuju manajemen berbasis data dan teknologi. Dalam aspek perencanaan, sekolah masih mengandalkan dokumen statis seperti Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), yang disusun secara periodik tanpa dukungan sistem analitik digital. Hal ini berimplikasi pada lemahnya kemampuan institusi dalam melakukan prediksi, adaptasi, dan respons terhadap perubahan yang cepat. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hallinger dan Wang . yang menegaskan bahwa banyak institusi pendidikan di negara berkembang masih mengadopsi model perencanaan linear yang kurang responsif terhadap dinamika Pada aspek pengorganisasian, struktur organisasi sekolah cenderung bersifat birokratis dan hierarkis. Distribusi tugas dan kewenangan belum didesain untuk mendorong kolaborasi lintas fungsi, terutama dalam konteks integrasi teknologi. Padahal, menurut Spillane . , kepemimpinan distribusional merupakan prasyarat penting dalam mengelola kompleksitas organisasi pendidikan di era digital. Ketidakhadiran pendekatan ini menyebabkan inovasi seringkali terhambat oleh struktur yang kaku. Dalam pelaksanaan, penggunaan teknologi digital masih terbatas pada fungsi instrumental, seperti penggunaan aplikasi presentasi atau komunikasi berbasis media sosial. Integrasi teknologi dalam sistem manajemen sekolah, seperti penggunaan learning management system (LMS), sistem informasi akademik, atau dashboard kinerja, masih sangat terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa digitalisasi belum menjadi bagian dari strategi organisasi, melainkan hanya sebagai pelengkap operasional. Temuan ini konsisten dengan studi oleh Selwyn . yang menyatakan bahwa adopsi teknologi dalam pendidikan seringkali bersifat superfisial dan tidak mengubah praktik inti organisasi. Sementara itu, dalam aspek evaluasi, sebagian besar sekolah masih menggunakan metode manual dalam mengukur kinerja guru, siswa, dan institusi. Tidak adanya sistem MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. evaluasi berbasis data menyebabkan pengambilan keputusan bersifat subjektif dan kurang Hal ini bertentangan dengan prinsip data-driven decision making yang menjadi karakteristik utama organisasi pendidikan modern (Mandinach & Gummer, 2. Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan bahwa manajemen pendidikan di sekolah Islam masih berorientasi pada kepatuhan administratif, bukan pada efektivitas strategis. Jika dibandingkan dengan praktik di negara maju, terdapat kesenjangan yang signifikan dalam hal integrasi teknologi dan penggunaan data dalam manajemen pendidikan. Tantangan Disrupsi Digital Transformasi digital tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan yang kompleks dan multidimensional. Berdasarkan temuan penelitian, tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah Islam di Pesawaran dapat diklasifikasikan ke dalam tiga dimensi utama: struktural, kultural, dan kompetensial. Pada dimensi struktural, keterbatasan infrastruktur teknologi menjadi hambatan utama. Akses terhadap perangkat digital, jaringan internet, serta sistem pendukung lainnya masih belum merata. Kondisi ini menciptakan kesenjangan digital yang signifikan antara sekolah yang memiliki sumber daya memadai dengan yang Fenomena ini sejalan dengan laporan UNESCO . yang menunjukkan bahwa kesenjangan digital merupakan tantangan utama dalam implementasi pendidikan berbasis teknologi di negara berkembang. Pada dimensi kultural, resistensi terhadap perubahan menjadi faktor penghambat yang signifikan. Banyak tenaga pendidik yang masih merasa nyaman dengan metode konvensional dan menunjukkan sikap skeptis terhadap teknologi. Hal ini dapat dijelaskan melalui teori technology acceptance model (TAM) yang dikemukakan oleh Davis . , di mana persepsi terhadap kemudahan dan manfaat teknologi mempengaruhi tingkat Dalam konteks ini, rendahnya persepsi manfaat teknologi menyebabkan lambatnya adopsi digital di kalangan guru. Selain itu, dalam konteks pendidikan Islam, resistensi ini juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap dampak negatif teknologi terhadap nilai-nilai moral dan spiritual. Teknologi seringkali dipandang sebagai ancaman terhadap integritas nilai keislaman, sehingga adopsinya dilakukan secara hati-hati bahkan cenderung defensif. Temuan ini memperkuat argumen dari Campbell . yang menyatakan bahwa interaksi antara agama dan teknologi seringkali diwarnai oleh negosiasi nilai yang kompleks. Pada dimensi kompetensial, keterbatasan literasi digital menjadi tantangan yang sangat dominan. Banyak guru yang belum memiliki keterampilan yang memadai dalam menggunakan teknologi secara efektif dalam pembelajaran maupun manajemen. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga dengan kemampuan Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital pedagogik digital, seperti desain pembelajaran berbasis teknologi dan evaluasi digital. Penelitian oleh Tondeur et al. menunjukkan bahwa kompetensi digital guru merupakan faktor kunci dalam keberhasilan integrasi teknologi dalam pendidikan. Lebih jauh lagi, tantangan eksternal seperti tekanan kebijakan dan ekspektasi masyarakat juga turut memperumit situasi. Kebijakan pemerintah yang mendorong digitalisasi seringkali tidak diiringi dengan dukungan implementatif yang memadai. Di sisi lain, masyarakat semakin menuntut kualitas pendidikan yang berbasis teknologi, sehingga sekolah berada dalam posisi tertekan untuk beradaptasi dengan cepat. Jika dibandingkan dengan penelitian di konteks global, tantangan yang dihadapi sekolah Islam di Pesawaran menunjukkan pola yang serupa dengan negara-negara berkembang lainnya. Namun, yang membedakan adalah adanya dimensi nilai keislaman yang harus dijaga dalam proses transformasi digital. Hal ini menambah kompleksitas dalam merancang strategi adaptasi yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai keagamaan. Strategi Penataan Ulang Manajemen Menghadapi kompleksitas tantangan tersebut, penataan ulang manajemen pendidikan harus dilakukan secara sistemik dan berbasis pada pendekatan strategis. Berdasarkan temuan penelitian dan analisis literatur, terdapat empat strategi utama yang dapat diimplementasikan. Pertama, transformasi kepemimpinan menuju kepemimpinan transformasional digital. Kepala sekolah harus mampu berperan sebagai change agent yang tidak hanya mengelola organisasi, tetapi juga mengarahkan perubahan secara visioner. Menurut Fullan . , kepemimpinan pendidikan yang efektif dalam era perubahan adalah kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan inovasi dengan nilai-nilai organisasi. Dalam konteks ini, kepala sekolah harus mampu membangun visi digital yang jelas, menginspirasi guru, serta menciptakan budaya inovasi. Kedua, penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pengembangan kompetensi digital yang berkelanjutan. Pelatihan tidak boleh bersifat insidental, tetapi harus menjadi bagian dari strategi pengembangan profesional guru. Selain itu, pendekatan peer learning dan komunitas praktik dapat digunakan untuk mempercepat transfer pengetahuan dan keterampilan. Penelitian oleh Darling-Hammond et al. menunjukkan bahwa pengembangan profesional yang berkelanjutan memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Ketiga, digitalisasi sistem manajemen sekolah secara terintegrasi. Hal ini mencakup pengembangan sistem informasi manajemen, penggunaan LMS, serta penerapan teknologi MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. dalam administrasi sekolah. Digitalisasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data. Dalam konteks ini, pendekatan smart school management dapat menjadi referensi dalam mengembangkan sistem manajemen yang adaptif dan berbasis teknologi. Keempat, integrasi nilai-nilai Islam dalam ekosistem digital. Ini merupakan aspek yang sangat penting dan sering diabaikan dalam diskursus digitalisasi pendidikan. Teknologi harus digunakan sebagai alat untuk memperkuat nilai-nilai keislaman, bukan Oleh karena itu, diperlukan kerangka etika digital yang berbasis pada prinsipprinsip Islam, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan moderasi. Pembahasan Pembahasan dalam penelitian ini tidak berhenti pada interpretasi temuan empiris, melainkan diarahkan untuk menegaskan posisi ilmiah, kebaruan . , serta kontribusi teoretis dan praktis dalam kajian manajemen pendidikan Islam di era disrupsi digital. Dalam konteks akademik kontemporer, sebuah artikel tidak lagi dinilai hanya dari kelengkapan data, tetapi dari sejauh mana ia mampu menawarkan perspektif baru, memperluas horizon teori, serta memberikan implikasi strategis yang dapat diadopsi lintas konteks. Secara umum, hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa transformasi digital dalam manajemen pendidikan bukanlah proses linear yang sederhana, melainkan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor struktural, kultural, dan nilai. Temuan ini sejalan dengan pandangan Fullan . yang menegaskan bahwa perubahan pendidikan merupakan proses multidimensional yang membutuhkan integrasi antara kebijakan, kepemimpinan, dan budaya organisasi. Namun demikian, penelitian ini melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bahwa dalam konteks pendidikan Islam, terdapat dimensi tambahan yang tidak banyak disentuh dalam penelitian sebelumnya, yaitu integrasi nilai-nilai keislaman dalam proses Salah satu kebaruan utama penelitian ini terletak pada upaya konseptualisasi ulang manajemen pendidikan Islam dalam kerangka digital. Sebagian besar penelitian terdahulu cenderung memposisikan teknologi sebagai alat bantu dalam pembelajaran atau administrasi, tanpa mengubah paradigma dasar manajemen pendidikan itu sendiri. Penelitian oleh Selwyn . , misalnya, mengkritik kecenderungan institusi pendidikan yang mengadopsi teknologi secara superfisial tanpa melakukan transformasi struktural. Dalam konteks yang sama, penelitian ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah Islam di Pesawaran masih berada dalam pola adopsi teknologi yang bersifat instrumental, bukan transformasional. Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital Namun, yang membedakan penelitian ini adalah upaya untuk merumuskan pendekatan manajemen yang tidak hanya mengintegrasikan teknologi, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi normatif. Dengan kata lain, penelitian ini tidak sekadar menjawab pertanyaan Aubagaimana teknologi digunakanAy, tetapi juga Aubagaimana teknologi dimaknai dan diarahkan dalam kerangka nilai keislamanAy. Pendekatan ini menjadi penting karena banyak penelitian digitalisasi pendidikan cenderung bersifat sekuler dan mengabaikan dimensi nilai, padahal dalam pendidikan Islam, nilai merupakan inti dari seluruh proses Kebaruan kedua terletak pada pengembangan model konseptual yang integratif, yaitu Islamic Digital-Based Educational Management Model. Model menggabungkan variabel-variabel yang umum dalam kajian manajemen pendidikan, seperti kepemimpinan, sumber daya manusia, dan teknologi, tetapi juga menambahkan dimensi nilai Islam sebagai elemen yang setara dan saling berinteraksi. Dalam literatur manajemen pendidikan, integrasi antara nilai dan teknologi masih jarang dibahas secara sistematis. Sebagian besar model manajemen berbasis teknologi, seperti smart school management atau digital leadership, lebih menekankan pada efisiensi dan inovasi, tanpa mempertimbangkan aspek etika dan spiritual. Dalam konteks ini, penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dengan menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital dalam pendidikan Islam tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi dan kompetensi sumber daya manusia, tetapi juga oleh kemampuan institusi dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai. Jika teknologi diadopsi tanpa kerangka nilai yang jelas, maka terdapat risiko terjadinya disorientasi pendidikan, di mana tujuan pendidikan bergeser dari pembentukan karakter menjadi sekadar pencapaian akademik. Kebaruan ketiga terletak pada pendekatan kontekstual yang digunakan dalam penelitian Dengan mengambil fokus pada sekolah-sekolah Islam tingkat menengah di Pesawaran, penelitian ini memberikan kontribusi empiris dari konteks lokal yang selama ini kurang terwakili dalam literatur internasional. Sebagian besar penelitian tentang transformasi digital dalam pendidikan dilakukan di negara maju dengan infrastruktur dan sumber daya yang relatif Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut seringkali tidak sepenuhnya relevan untuk diterapkan di negara berkembang. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks daerah, transformasi digital menghadapi tantangan yang lebih kompleks, seperti keterbatasan infrastruktur, kesenjangan kompetensi, serta resistensi budaya. Namun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. keterbatasan tersebut bukanlah penghalang absolut, melainkan dapat diatasi melalui strategi manajemen yang tepat. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya literatur dengan perspektif dari konteks berkembang, yang memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Dari sisi teoretis, penelitian ini memberikan beberapa kontribusi penting. Pertama, penelitian ini memperluas konsep manajemen pendidikan dengan memasukkan dimensi digital sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari fungsi manajemen. Jika sebelumnya manajemen pendidikan dipahami dalam kerangka klasik yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, maka penelitian ini menunjukkan bahwa setiap fungsi tersebut harus direkonstruksi dalam konteks digital. Misalnya, perencanaan tidak lagi hanya berbasis dokumen, tetapi harus berbasis data. pengorganisasian tidak lagi hierarkis, tetapi kolaboratif. pelaksanaan tidak lagi manual, tetapi terintegrasi dengan teknologi. dan evaluasi tidak lagi subjektif, tetapi berbasis analitik. Kedua, penelitian ini mengintegrasikan teori kepemimpinan transformasional dengan konsep kepemimpinan digital dalam konteks pendidikan Islam. Dalam literatur, kedua konsep ini seringkali dibahas secara terpisah. Penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional yang efektif di era digital adalah kepemimpinan yang mampu menggabungkan visi perubahan dengan pemanfaatan teknologi secara strategis, sekaligus menjaga nilai-nilai organisasi. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengembangkan konsep kepemimpinan yang lebih kontekstual dan relevan. Ketiga, penelitian ini memperkaya kajian tentang hubungan antara teknologi dan nilai dalam pendidikan. Selama ini, diskursus tentang teknologi dalam pendidikan seringkali bersifat teknosentris, yaitu menempatkan teknologi sebagai solusi utama tanpa mempertimbangkan implikasi nilai. Penelitian ini menegaskan bahwa dalam pendidikan Islam, teknologi harus diposisikan sebagai alat yang tunduk pada nilai, bukan sebaliknya. Pendekatan ini membuka ruang bagi pengembangan teori yang lebih holistik dan berimbang. Dari sisi praktis, penelitian ini memberikan kontribusi yang tidak kalah penting. Model yang diusulkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan bagi pengelola sekolah dalam merancang strategi transformasi digital yang efektif. Misalnya, kepala sekolah dapat menggunakan model ini untuk mengidentifikasi aspek mana yang perlu diperkuat, apakah itu kepemimpinan, sumber daya manusia, teknologi, atau nilai. Selain itu, model ini juga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun kebijakan sekolah yang lebih adaptif terhadap perubahan. Lebih lanjut, penelitian ini juga memberikan implikasi bagi pembuat kebijakan di tingkat daerah dan nasional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kebijakan digitalisasi Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital pendidikan harus disertai dengan dukungan implementatif yang memadai, termasuk pelatihan guru, penyediaan infrastruktur, serta pengembangan sistem evaluasi berbasis data. Tanpa dukungan tersebut, kebijakan digitalisasi hanya akan menjadi retorika tanpa dampak nyata di Namun demikian, penelitian ini juga memiliki keterbatasan yang perlu diakui. Fokus penelitian yang terbatas pada satu wilayah membuat generalisasi temuan menjadi terbatas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya perlu dilakukan di berbagai konteks untuk menguji validitas model yang diusulkan. Selain itu, pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini perlu dilengkapi dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur hubungan antar variabel secara lebih objektif. Terlepas dari keterbatasan tersebut, penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengisi kesenjangan literatur tentang manajemen pendidikan Islam di era Dengan menawarkan model konseptual yang integratif dan berbasis nilai, penelitian ini tidak hanya relevan untuk konteks lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan dalam konteks global. Pada akhirnya, perlu ditegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan Islam bukanlah sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan strategis yang tidak dapat Namun, transformasi tersebut harus dilakukan dengan pendekatan yang kritis dan reflektif, agar tidak mengorbankan nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan itu sendiri. Dalam hal ini, penelitian ini memberikan arah yang jelas tentang bagaimana manajemen pendidikan Islam dapat ditata ulang secara strategis untuk menghadapi disrupsi digital, tanpa kehilangan identitas dan tujuan utamanya. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menegaskan bahwa manajemen pendidikan di sekolah-sekolah Islam tingkat menengah di Pesawaran masih berada dalam tahap transisi dan belum sepenuhnya adaptif terhadap disrupsi digital. Praktik manajemen yang berjalan cenderung bersifat administratif-konvensional, dengan pemanfaatan teknologi yang masih parsial dan belum terintegrasi secara sistemik dalam seluruh fungsi manajemen pendidikan. Kondisi ini diperkuat oleh berbagai tantangan, baik yang bersifat struktural seperti keterbatasan infrastruktur, maupun kultural dan kompetensial seperti rendahnya literasi digital dan resistensi terhadap Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, penelitian ini menekankan pentingnya penataan ulang manajemen pendidikan yang bersifat strategis dan menyeluruh. Transformasi tidak cukup dilakukan pada aspek teknis, tetapi harus mencakup perubahan paradigma kepemimpinan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, digitalisasi sistem manajemen, serta integrasi nilai-nilai Islam dalam ekosistem digital. Dalam konteks ini, kepemimpinan MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. transformasional berbasis digital menjadi faktor kunci dalam mendorong perubahan organisasi yang berkelanjutan. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengembangan model Islamic DigitalBased Educational Management Model yang mengintegrasikan empat komponen utama, yaitu kepemimpinan, sumber daya manusia, teknologi, dan nilai-nilai Islam. Model ini menawarkan kerangka konseptual yang tidak hanya responsif terhadap tuntutan digitalisasi, tetapi juga menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai, sehingga relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan Islam. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan Islam merupakan keniscayaan yang harus direspons secara strategis. Tanpa adanya penataan ulang manajemen yang komprehensif, lembaga pendidikan Islam berisiko tertinggal dalam dinamika global. Sebaliknya, dengan pendekatan yang terarah dan berbasis nilai, transformasi digital justru dapat menjadi peluang untuk memperkuat kualitas dan identitas pendidikan Islam di masa depan. DAFTAR REFERENSI Adiyono. Transformasi digital dalam manajemen pendidikan Islam: Tantangan dan Kalimantan International Journal of Multidisciplinary Studies, 3. , 45Ae58. Allouche. Digital transformation and educational governance in developing International Journal of Educational Development, 98, 102734. https://doi. org/10. 1016/j. Baitussalam. , & Basofitrah. Implementasi manajemen pendidikan berbasis digital dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4. , 112Ae126. Campbell. Digital religion: Understanding religious practice in new media Routledge. https://doi. org/10. 4324/9780203076845 Darling-Hammond. Hyler. , & Gardner. Effective teacher professional Learning Policy Institute. https://doi. org/10. 54300/122. Davis. Perceived usefulness, perceived ease of use, and user acceptance of MIS Quarterly, 13. , 319Ae340. https://doi. org/10. 2307/249008 Fullan. The principal: Three keys to maximizing impact. Jossey-Bass. Hallinger. , & Wang. Assessing instructional leadership with the principal instructional management rating scale. Springer. https://doi. org/10. 1007/978-3-31915533-3 Istibana. , & Aimah. Tantangan implementasi digitalisasi pendidikan di sekolah Islam. Jurnal Edukasi dan Manajemen Pendidikan, 6. , 77Ae91. Mandinach. , & Gummer. What does it mean for teachers to be data literate? Teachers College Record, 118. , 1Ae25. Menata Ulang Manajemen Pendidikan di Sekolah-Sekolah Islam: Respons Strategis terhadap Disrupsi Digital Munir. , & SuAoadah. Kepemimpinan transformasional dalam menghadapi era digital di pendidikan Islam. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 5. , 89Ae104. Selwyn. Education and technology: Key issues and debates . nd ed. Bloomsbury Academic. Shobri. , & Jaosantia. Integrasi nilai Islam dalam transformasi digital pendidikan. Jurnal Filsafat Pendidikan Islam, 7. , 21Ae35. Spillane. Distributed leadership. Jossey-Bass. Tondeur. , van Braak. Ertmer. , & Ottenbreit-Leftwich. Understanding the relationship between teachersAo pedagogical beliefs and technology use. Educational Technology Research Development, 65. , 555Ae575. https://doi. org/10. 1007/s11423-016-9481-2 UNESCO. Reimagining our futures together: A new social contract for education. UNESCO Publishing. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026