JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 557-570 EISSN 2622-545X PENILAIAN RISIKO KEGAGALAN BENDUNGAN KEDUNGOMBO SEBAGAI DASAR PRIORITAS PEMELIHARAAN BENDUNGAN Rais Buldan1. Suharyanto2, dan Sriyana3 Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera Vi. Kementerian PUPR. Jl. Soekarno-Hatta. No. Palembang raisbuldan@pu. Program Studi Magister Teknik Sipil. Universitas Diponegoro. Jl. Prof. Soedarto. SH. Tembalang. Semarang suharyanto@lecturer. Program Studi Magister Teknik Sipil. Universitas Diponegoro. Jl. Prof. Soedarto. SH. Tembalang. Semarang sriyana@lecturer. Masuk: 13-07-2021, revisi: 03-08-2021, diterima untuk diterbitkan: 05-08-2021 ABSTRACT A dams must always be maintained for their performance, function, and safety, so it is necessary to carry out various maintenance, repairs, and rehabilitation on dams that have been built and operating. Priority systems for the implementation of repair and rehabilitation of dams can be arranged based on the status of safety hazards or the level of risk of failure due to natural disasters or other consequences. Based on this, it is necessary to carry out an assessment of the dam to estimate the magnitude of the risk to the dam. According to the Risk Analysis Guidelines, the estimation of the probability of failure can be done using two methods, namely the traditional method and the event tree method. Based on the results of assessment analysis, the risk probability of the Kedungombo Dam with the traditional method and the event tree method is 4,010 x 10-1 and 1,548 x 10-3 where the acceptable limit conditions for the existing dam are a maximum of 1,000 x 10-5. The risk probability value of the Kedungombo Dam does not meet the requirements of an acceptable risk value. Therefore, it is necessary to recommend risk reduction for the risk assessment results. Keywords: Kedungombo Dam. Risk assessment. Traditional method. Event tree method. Risk evaluation ABSTRAK Bendungan harus selalu dijaga kinerja operasi, fungsi, dan keamanannya, sehingga perlu dilakukan berbagai kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan rehabilitasi pada bendungan yang sudah terbangun dan beroperasi. Sistem prioritas pada pelaksanaan kegiatan perbaikan dan rehabilitasi pada bendungan dapat disusun berdasarkan status bahaya bendungan dari segi keamanan atau besarnya risiko terhadap kegagalan bendungan akibat bencana alam maupun akibat lain. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penilaian risiko pada bendungan untuk memperkirakan besarnya risiko bahaya pada bendungan. Berdasarkan Pedoman Analisis Risiko, perkiraan probabilitas kegagalan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode tradisional dan metode pohon kejadian . vent tre. Berdasarkan hasil analisis penilaian risiko, probabilitas risiko Bendungan Kedungombo metode tradisional dan metode pohon kejadian sebesar 4,010 x 10-1 dan 1,548 x 10-3 dimana syarat batas yang dapat diterima untuk bendungan eksisting maksimum 1,000 x 10-5. Nilai probabilitas risiko Bendungan Kedungombo tidak memenihi syarat nilai risiko yang dapat diterima. Dengan demikian, diperlukan rekomendasi tindakan pengurangan risiko untuk risiko hasil penilaian tersebut. Kata kunci: Bendungan Kedungombo. Penilaian risiko. Metode tradisional. Metode pohon kejadian. Evaluasi Risiko PENDAHULUAN Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal 40 mengamanatkan bahwa: Ausetiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi yang menimbulkan bencana dilengkapi dengan analisis risiko bencana sebagai bagian dari usaha penanggulangan bencanaAy. Kewajiban analisis risiko bencana secara lebih rinci disebutkan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Bendungan selain memberikan banyak manfaat juga memiliki risiko potensi bahaya yang dapat menimbulkan bencana apabila bendungan tersebut mengalami kegagalan atau keruntuhan. Bendungan harus selalu dijaga kinerja operasi, fungsi dan keamanannya, sehingga perlu dilakukan berbagai kegiatan pemeliharaan, perbaikan dan rehabilitasi pada Penilaian Risiko Kegagalan Bendungan Kedungombo Sebagai Dasar Prioritas Pemeliharaan Bendungan Rais Buldan, et al. bendungan yang sudah terbangun dan beroperasi. Sistem prioritas pada pelaksanaan kegiatan perbaikan dan rehabilitasi pada bendungan dapat disusun berdasarkan status bahaya bendungan. Selain itu anggaran untuk kegiatan rehabilitasi bendungan memiliki anggaran sangat terbatas. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penilaian risiko pada bendungan untuk memperkirakan besarnya risiko bahaya pada bendungan. (Soentoro dkk. , 2. Anggaran untuk kegiatan pemeliharaan bendungan sangat terbatas. Dengan demikian, diperlukan urutan prioritas untuk alokasi anggaran pemeliharaan bendungan berdasarkan risiko kegagalannya (Fluixy-Sanmartyn dkk. , 2. Penerapan pada bendungan besar menunjukkan bahwa metode yang diusulkan memberikan estimasi dan perbandingan risiko yang cepat, yang dapat membantu pejabat manajemen setempat melakukan evaluasi keamanan bendungan yang lebih rinci untuk informasi manajemen risiko yang berguna (Chen dan Lin, 2. Penilaian risiko pada bendungan yang sudah terbangun dan beroperasi bertujuan untuk mengetahui apakah risiko yang ada dapat ditoleransi, dan jika risiko bahaya tersebut tidak dapat ditoleransi maka diperlukan rencana tindakan untuk mengurangi risiko. Penilaian risiko pada bendungan yang sudah terbangun atau yang beroperasi juga bertujuan untuk menentukan prioritas atau peringkat pekerjaan perbaikan atau rehabilitasi yang diperlukan guna meningkatkan keamanan berdasarkan risiko yang ada pada bendungan tersebut (Pramudawati dkk. , 2. Teknik utama penilaian dan pengelolaan risiko bendungan dirangkum termasuk identifikasi model gagalnya bendungan dan jalur gagalnya bendungan, perhitungan probabilitas dan konsekuensi gagalnya bendungan, keandalan SDM, penilaian risiko dan pengendalian waduk, kriteria risiko bendungan, dan keputusan risiko (Sheng dkk. , 2. Berdasarkan pedoman teknis penilaian risiko bendungan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum disebutkan bahwa penilaian risiko bendungan disarankan untuk dilakukan paling tidak setiap 10 tahun sekali bersamaan dengan pemerikasaan besar bagi bendungan dengan tinggi di atas 75 m dan/atau volume tampungan sekurang-kurangnya 100 juta m3 serta untuk bendungan yang termasuk kelas bendungan dengan tingkat bahaya tinggi menurut pedoman klasifikasi bahaya bendungan. Bendungan Kedungombo dibangun pada tahun 1969 dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1991. sejak diresmikan hingga saat ini . ebih dari 30 tahu. , diperlukan kegiatan penilaian risiko bendungan. Kegiatan tersebut diperlukan agar kelestarian fungsi bangunan tetap terjaga sesuai dengan yang direncanakan serta dalam rangka menentukan prioritas pekerjaan rehabilitasi yang diperlukan guna meningkatkan keamanan bendungan. Penilaian risiko adalah proses untuk mencapai suatu rekomendasi keputusan tentang apakah risiko yang ada dapat ditoleransi dan apakah tindakan pengendalian risiko yang sekarang sudah memadai, dan apabila tidak, apakah tindakan pengendalian risiko alternatif dibenarkan atau akan dilaksanakan. Cakupan penilaian risiko adalah masukan dan keluaran dari tahapan analisis risiko dan evaluasi risiko (Indrawan dkk. , 2. Analisis risiko adalah suatu metode yang sistematis untuk memperkirakan seberapa sering kejadian tertentu dapat terjadi dan besarnya konsekuensi akibat kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, diidentifikasi dan disusun secara logika dan disajikan dalam bentuk gambar (Kementerian PU, 2. Gambar 1. Proses penilaian risiko (Sumber : Kementerian PU, 2. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 557-570 EISSN 2622-545X Tahapan identifikasi bahaya adalah : Pembuatan daftar semua potensi bahaya yang akan bisa terjadi dan dapat menyebabkan keruntuhan bendungan. Kemudian dilakukan identifikasi bahaya-bahaya yang dapat dikeluarkan dari daftar untuk tidak dianalisis selanjutnya karena risiko yang ditimbulkan bahaya-bahaya tersebut dengan pasti dapat diabaikan. Pembuatan daftar sisa potensi bahaya untuk dianalisis selanjutnya. Analisis model kegagalan salah satunya dapat dilakukan dengan menggunakan metode FMECA (Failure Mode. Effects and Critically Analysi. Metode FMECA merupakan pengembangan dari metode FMEA (Failure Mode and Effects Analysi. dengan membuat peringkat kualitatif model-model kegagalan sesuai dengan kemungkinan dan keparahan dampak atau konsekuensinya terhadap suatu sistem. Untuk menentukan besarnya risiko suatu bahaya/risk (R) didasarkan pada nilai kualitatif kemungkinan/probability (I) dan nilai kualitatif konsekuensi/impact (I) dari bahaya tersebut. Nilai kualitatif keyakinan/confidence (C) diperlukan untuk menentukan besarnya kekritisan/critically (C. suatu bahaya. Tabel 1 hingga 5 merupakan beberapa tabel interpretasi penilaian kualitatif yang digunakan dalam Pedoman Analisis Risiko (Kementerian PU, 2. Tabel 1. Nilai kualitatif kemungkinan untuk analisis risiko Tingkat Deskripsi Kriteria - Dampak akan selalu terjadi - Dampak akan terjadi pada tiap kejadian - Kejadian sekali dalam 1 tahun - Dampak diharapkan akan terjadi - Dampak akan terjadi pada hampir tiap keadaan - Kejadian sekali dalam 10 tahun - Dampak kemungkinan akan terjadi - Dampak pernah terjadi sebelumnya sedang M mungkin - Dampak akan terjadi pada beberapa keadaan - Kejadian sekali dalam 100 tahun - Dampak dapat terjadi suatu saat - Dampak pernah terjadi ditempat lain - Kejadian sekali dalam 1000 tahun - Dampak dapat terjadi pada keadaan yang sangat luar biasa - Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain - Hampir tidak mungkin - Kejadian dalam 10. 000 tahun (Sumber: Kementerian PU, 2. Nilai Tabel 2. Nilai kualitatif konsekuensi untuk analisis risiko Tingkat Deskripsi Kriteria - Banyak penduduk terkena risiko - Kerusakan pada sistem sungai utama - Kerugian kerusakan diperkirakan lebih besar Rp 30 Milyar (*) - Kemungkinan sedikit penduduk terkena risiko, - Kerusakan sedang pada sistem sungai utama - Kerugian kerusakan diperkirakan Rp 3 Milyar sampai Rp 30 Milyar (*) - Diharapkan tidak ada penduduk terkena risiko - Berdampak lokal pada air permukaan dan air tanah - Kerugian kerusakan diperkirakan Rp 300 Juta sampai Rp 3 Milyar (*) - Berdampak lokal . - Kerugian kerusakan diperkirakan Rp 3 Juta sampai Rp 3 Juta (*) Bencana Dasyat (Catastropi. Besar (Majo. Sedang (Moderat. Kecil (Mino. Tidak Berarti (Insignifican. - Kemungkinan yang akan terjadi tidak tampak dengan jelas - Kemungkinan tidak memerlukan perbaikan - Kerugian kerusakan diperkirakan lebih kecil dari Rp 3 Juta (Sumber: Kementerian PU, 2. Nilai Penilaian Risiko Kegagalan Bendungan Kedungombo Sebagai Dasar Prioritas Pemeliharaan Bendungan Rais Buldan, et al. Tabel 3. Nilai kualitatif keyakinan untuk analisis risiko Tingkat Kriteria Nilai sangat tinggi Pasti (Certai. Yakin (Confiden. Meragukan (Conflicting Dat. Tidak Jelas (Not Clea. sangat rendah Sulit untuk membuat keputusan (Unable to make informed decisio. (Sumber: Kementerian PU, 2. Tabel 4. Kriteria risiko Skor Risiko Kriteria Risiko Risiko Sangat Tinggi Risiko Tinggi Risiko Sedang Risiko Rendah Tidak Berarti (Sumber: Kementerian PU, 2. Penilaian Risiko Tanggapan/ Response Tidak ada Toleransi Tidak ada Toleransi Penting Dapat Ditoleransi Tidak Berarti Tidak dapat diterima Tidak dapat diterima Perlu perhatian dini Perlu perhatian reguler Perlu dimonitor Tabel 5. Deskripsi verbal Deskripsi Pasti Virtually Certain Sangat Mungkin Very Likely Mungkin Likely Sedang Neutral Tidak Mungkin Unlikely Sangat Tidak Mungkin Very Unlikely Mustahil Virtually Impossible (Sumber: Kementerian PU, 2. Probabilitas (%) Berdasarkan Pedoman Analisis Risiko, perkiraan probabilitas kegagalan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode tradisional dan metode pohon kejadian . vent tre. Metode tradisional adalah pendekatan tradisional untuk rekayasa teknik bendungan, dimana risiko dikendalikan dengan mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan untuk perencanaan keadaan dan pembebanan, kapasitas struktur, koefisien keamanan dan langkah-langkah dalam desain. Metode tradisional menentukan probabilitas kegagalan berdasarkan hasil analisis keamanan bendungan yang telah dibandingkan dengan kriteria keamanan bendungan. Gambar 2 menunjukkan salah satu contoh hasil penentuan probabilitas kegagalan dengan menggunakan bagan pada metode tradisional (Dwi dkk. , 2. Gambar 2. Contoh penentuan probabilitas kejadian pada metode tradisional (Sumber : Dwi dkk. , 2. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 557-570 EISSN 2622-545X Penentuan probabilitas kegagalan pada metode pohon kejadian dilakukan dengan menyusun tahapan mekanisme kegagalan bendungan. Setiap tahapan mekanisme memiliki probabilitasnya, yang dapat ditentukan dengan menggunakan Tabel 6. Untuk mempermudah perhitungan, setiap mekanisme digambarkan dalam sebuah pohon kejadian seperti pada Gambar 3. Probabilitas pada mekanisme di ujung pohon kejadian dihitung berdasarkan probabilitas di tahap sebelumnya dan akan diklasifikasi berdasarkan kategori ekstrim (E), tinggi (H), sedang (M), rendah (L) dan normal (N). Tabel 6. Skema pemetaan probabilitas Deskripsi Keadaan Kejadian pasti terjadi Kejadian atau peristiwa teramati dalam database Kejadian atau peristiwa tidak teramati, atau teramati pada suatau kejadian kecil dalam database yang ada. beberapa potensi skenario kegagalan dapat diindentifikasi Kejadian atau peristiwa tidak teramati dalam database yang ada. Sulit untuk diidentifikasi mengenai adanya skenario kegagalan yang masuk akal, namun satu skenario dapat diidentifikasi setelah dilakukan usaha yang cukup Kejadian atau peristiwa belum pernah teramati, dan tidak ada skenario yang masuk akal dapat diidentifikasi, meskipun setelah dilakukan usaha yang cukup (Sumber : Dwi dkk. , 2. Probabilitas Gambar 3. Diagram mekanisme kegagalan dan tindakan pencegahan (Sumber : Dwi dkk. , 2. Evaluasi risiko adalah suatu proses untuk menentukan prioritas risiko dengan membandingkan tingkat rasio dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, dengan tingkat risiko, atau dengan kriteria yang lain (Kementerian PU. Untuk metode tradisional dan metode pohon kejadian, evaluasi dapat dilakukan dengan dilakukan plot hasil probabilitas individu dan probabilitas kelompok pada plot seperti Gambar 4. Gambar 4. Kriteria risiko yang dapat diterima untuk bendungan eksisting (Sumber : Kementerian PU, 2. Penilaian Risiko Kegagalan Bendungan Kedungombo Sebagai Dasar Prioritas Pemeliharaan Bendungan Rais Buldan, et al. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko Bendungan Kedungombo berdasarkan penilaian risiko. Penilaian risiko dilakukan berdasarkan metode tradisional dan metode pohon kejadian . vent tre. Dari hasil penilaian risiko tersebut, diharapkan dapat diketahui prioritas pekerjaan perbaikan atau rehabilitasi yang diperlukan guna meningkatkan keamanan Bendungan Kedungombo. METODE PENELITIAN Penilaian risiko ini dilakukan pada Bendungan Kedungombo. Bendungan Kedungombo berlokasi pada pertemuan Sungai Uter dan Sungai Serang yang terletak di Dukuh Kedungombo Desa Rambat. Kecamatan Geyer. Kabupaten Grobogan. Provinsi Jawa Tengah. Secara geografi Bendungan Kedungombo berada pada koordinat 7o 15Ao 33Ay LS dan 110o 50Ao 18Ay BT. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5 berikut. Gambar 5. Peta lokasi Bendungan Kedungombo (Sumber : Google Earth, 2. Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Data sekunder tersebut berupa data pelaksanaan proyek pembangunan Bendungan Kedungombo. Data-data yang digunakan dalam penilaian risiko ini adalah sebagai berikut : Laporan studi kelayakan Laporan desain Laporan geologi dan geoteknik Laporan analisis dampak lingkungan Laporan pelaksanaan konstruksi termasuk foto-foto pelaksanaan Gambar As-builtd drawing Rincian lengkap mengenai adanya modifikasi pada bendungan Laporan pemantauan dan pemeriksaan keamanan bendungan Laporan OP bendungan Laporan kajian keamanan bendungan Laporan kejadian khusus. Tahapan penilaian risiko Bendungan Kedungombo secara umum digambarkan pada diagram alir Gambar 6. Dalam mengidentifikasi potensi bahaya pada suatu bendungan yang akan dianalisis, ada tiga langkah yang perlu dilakukan yaitu, pembuatan daftar semua potensi bahaya yang akan bisa terjadi dan dapat menyebabkan keruntuhan Dari daftar semua potensi bahaya tersebut di atas, kemudian diidentifikasi bahaya-bahaya yang dapat dikeluarkan dari daftar untuk tidak dianalisis. Pembuatan daftar sisa potensi bahaya untuk dianalisis selanjutnya. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 557-570 EISSN 2622-545X Dalam identifikasi bentuk/model kegagalan dimulai dengan identifikasi semua komponen bendungan yang dianalisis, kemuadian dilakukan analisis bentuk/model kegagalan untuk setiap kombinasi komponen bendungan atau bahaya Analisis bentuk/model kegagalan bendungan dilakukan dengan menggunakan metode FMECA (Failure Mode. Effects and Critically Analysi. Gambar 6. Diagram alir penilaian risiko Penentuan perkiraan probabilitas untuk elemen-elemen mekanisme kegagalan guna mendapatkan penilaian kemungkinan/probabilitas kegagalan bendungan pada keadaan operasi normal dan pada keadaan pembebanan tertentu . isalnya banjir atau gempa bum. Penilaian kemungkinan/probablilitas kegagalan bendungan dilakukan dengan metode tradisional dan metode pohon kejadian . vent tre. untuk menghitung indeks risiko. Perkiraan besarnya dampak atau konsekuensi sebagai akibat dari kegagalan . bendungan dengan mempertimbangkan karakteristik daerah genangan di hilir, keselamatan jiwa, kerugian finansial, dan lain-lain. Estimasi perkiraan besarnya probabilitas risiko kegagalan bendungan dilakukan berdasarkan penilaian perkiraan probabilitas kegagalan dan konsekuensi kegagalannya. Penetapan risiko-risiko yang akan ditoleransi, yang mengarah ke kebijakan dan kriteria risiko yang ditoleransi dan perbandingan risiko yang ada dengan kriteria risiko yang dapat ditoleransi, yang mengarah ke rekomendasi keputusan. Penilaian Risiko Kegagalan Bendungan Kedungombo Sebagai Dasar Prioritas Pemeliharaan Bendungan Rais Buldan, et al. merupakan bagian dari evaluasi risiko. Evaluasi risiko dengan metode tradisional dan metode pohon kejadian dilakukan dengan mengeplotkan hasil perkiraan probabilitas kedalam grafik pada. Hasil dari penilaian risiko adalah berupa rekomendasi mengenai apakah pengendalian risiko sudah memadai. Apabila pengendalian risiko yang ada tidak memadai, maka diperlukan langkah-langkah untuk pengurangan risiko. Apabila pengendalian risiko yang ada sudah memadai, maka diperlukan pemantauan dan kaji ulang terhadap risiko secara berkala untuk memastikan bahwa risiko yang ada tetap berada dalam batas kategori toleransi. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi bahaya Identifikasi potensi bahaya Bendungan Kedungombo didasarkan pada masalah - masalah dari inspeksi visual pada Inspeksi besar Bendungan Kedungombo yang dilaksanakan pada tanggal 6Ae11 Juni 2012. Rencana Tindak Darurat Bendungan Kedungombo pada tahun 2017. Kegiatan yang dilakukan adalah : Mempelajari dokumen-dokumen studi terdahulu. Diskusi terkait informasi teknis, kebijakan dan manajemen bendungan. Observasi atau pengamatan kondisi fisik lapangan. Hasil identifikasi bahaya Bendungan Kedungombo dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Skema pemetaan probabilitas Bagian/ Komponen Kondisi Beban Tubuh Bendungan (T. Puncak Keadaan Normal Tubuh Bendungan (T. Lereng hilir Tubuh Bendungan (T. Lereng hilir Keadaan Normal No. Potensi Bahaya Penyebab Mode Kegagalan Aspal timbunan mengalami keretakan rambut Terdapat lubang hewan . Pondasi campuran aspal kurang baik Keadaan Normal Adanya . pada daerah hilir kaki bendungan Diduga deformasi Instrumentasi tubuh bendungan Keadaan Normal Bangunan Pelimpah: Dinding Keadaan Normal Instrumen dan alat baca rusak atau tidak ada Ada . Bangunan Pelimpah: Kolam Olak Waduk Keadaan Normal Tidak tubuh bendungan Dinding sebelah kiri terdapat 2 . regangan dengan lebar A1 cm dan A4 cm. Kolam olak tertimbun Makin bertambah yang berakibat penurunan tinggi jagaan Bahaya . Deformasi semakin besar, bahaya Perilaku yang berpotensi kegagalan tidak terdeteksi Erosi lahan sekitar kolam olak Bahaya Air waduk mengandung menyebabkan korosi Limbah makanan ikan dari keramba di waduk Kerusakan struktur baja Keadaan Normal Habitat Makin besar regangan, pelimpah bertambah JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 557-570 EISSN 2622-545X Identifikasi bentuk kegagalan Berdasarkan hasil identifikasi bahaya yang sudah didapatkan, masing-masing komponen dianalisis lebih lanjut melalui analisis model kegagalan, kekritisan dan dampaknya (Failure Mode. Effects, and Critically Analysis/FMECA). Berdasarkan nilai kualitatif kemungkinan, konsekuensi, keyakinan, dilakukan perhitungan besarnya nilai kualitatif risiko dan kekritisan bahaya. Hasil analisis FMECA Bendungan Kedungombo dijelaskan pada Tabel 8. Setelah dilakukan perhitungan risiko potensi bahaya, kemudian diurutkan berdasarkan tingkat besarnya risiko. Berdasarkan tingkat besarnya risiko bahaya, terdapat 4 komponen dengan skala prioritas tingkat risiko dan kritis tertinggi pada Bendungan Kedungombo, yaitu Tubuh Bendungan (T. : Lereng Hilir akibat habitat tikus hutan. Tubuh Bendungan (T. : Lereng Hilir akibat deformasi horizontal. Bangunan Pelimpah: Dinding. dan Bangunan Pelimpah: Kolam Olak. Urutan tingkat risiko bahaya Bendungan Kedungombo dijelaskan pada Tabel 9. Tabel 8. Analisis FMECA Bendungan Kedungombo No. Bagian/ Komponen Tubuh Bendungan (T. : Puncak Tubuh Bendungan (T. : lubang hewan Tubuh Bendungan (T. : Deformasi Instrumentasi tubuh Bangunan Pelimpah : Dinding Bangunan Pelimpah : Kolam Olak Waduk Kemungkinan (P) Konsekuensi (I) Keyakinan (C) Risiko (R)=(P)x(I) Kekritisan (C. =(R)x(C) Tabel 9. Urutan tingkat risiko dan kekritisan komponen Bendungan Kedungombo No. Bagian/Komponen Tubuh Bendungan (T. : Puncak Tubuh Bendungan (T. : Lereng hilir . ubang hewa. Tubuh Bendungan (T. : Lereng hilir . Instrumentasi tubuh bendungan Bangunan Pelimpah : Dinding Bangunan Pelimpah : Kolam Olak Waduk Urutan Risiko Kekritisan Tindakan Tidak Dianalisis Dianalisis Dianalisis Tidak Dianalisis Dianalisis Dianalisis Tidak Dianalisis Perkiraan probabilitas kegagalan Metode pohon kejadian Komponen dengan urutan risiko bahaya tertinggi pada analisis FMECA diperkirakan probabilitas kejadian tahunannya dengan analisis pohon kejadian atau Event Tree Analysis (ETA). Analisis ETA menggambarkan proses mekanisme atau skenario suatu kegagalan yang mungkin dapat terjadi sebagai akibat dari suatu kejadian awal. Ringkasan probabilitas bahaya Bendungan Kedungombo dijelaskan pada Tabel 10. Penilaian Risiko Kegagalan Bendungan Kedungombo Sebagai Dasar Prioritas Pemeliharaan Bendungan Rais Buldan, et al. Tabel 10. Ringkasan probabilitas bahaya Bendungan Kedungombo Komponen Penyebab Bangunan Pelimpah: Dinding Ada perbedaan Tubuh Bendungan: Lereng hilir Habitat Tubuh Bendungan: Lereng hilir Bangunan Pelimpah: Olak Diduga Erosi Kolam Mode Kegagalan Dam Ekstrim High Medium Low Normal 801E01 Dam 701E01 Dam 999E01 Dam 950E01 1,548E 1,353E 6,909E 3,293E 3,945E Total Metode tradisional Metode analisis hasil identifikasi bahaya Bendungan Kedungombo juga dilakukan dengan metode tradisional dengan menentukan mode kagagalan dan probabilitas. Hasil analisis metode tradisional Bendungan Kedungombo diplotkan pada bagan Gambar 7. Probabilitas bahaya analisis tradisional Bendungan Kedungombo dijelaskan pada Tabel 11. Komponen Tubuh Bendungan (T. : Lereng hilir Penyebab Habitat tikus hutan Komponen Penyebab Bangunan Pelimpah : Dinding Ada perbedaan . Komponen Bangunan Pelimpah : Kolam Olak Penyebab Erosi lahan sekitar kolam olak Komponen Penyebab Tubuh Bendungan (T. : Lereng hilir Diduga deformasi Kondisi Normal Kondisi Normal Kondisi Normal Kondisi Normal Metode Tradisional Bendungan 00E-01 00E-01 Bendungan tidak runtuh 00E-01 00E-01 Metode Tradisional Total Bendungan 00E-01 00E-01 Bendungan tidak runtuh 00E-01 00E-01 Metode Tradisional Total Bendungan 00E-01 00E-01 Bendungan tidak runtuh 00E-01 00E-01 Metode Tradisional Total Bendungan 00E-03 00E-03 Bendungan tidak runtuh 99E-01 99E-01 Gambar 7. Hasil analisis metode tradisional Bendungan Kedungombo Total JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 557-570 EISSN 2622-545X Tabel 11. Ringkasan probabilitas bahaya Bendungan Kedungombo Komponen Penyebab Bangunan Pelimpah : Dinding Tubuh Bendungan (T. : Lereng hilir Tubuh Bendungan (T. : Lereng hilir Bangunan Pelimpah : Kolam Olak Probabilitas Ada perbedaan penurunan . Habitat tikus hutan Diduga deformasi horizontal Erosi lahan sekitar kolam olak 00E-01 00E-01 E-03 E-01 Evaluasi risiko Berdasarkan hasil analisis probabilitas ekstrim individu dan probabilitas kelompok metode tradisional dan metode pohon kejadian, nilai probabilitas risiko Bendungan Kedungombo berada di atas nilai risiko yang dapat diterima. Perbandingan dan plot nilai grafik nilai probabilitas ekstrim individu dan probabilitas kelompok terhadap nilai batas metode tradisional dapat dilihat di Tabel 12 dan Gambar 8. Perbandingan dan plot nilai grafik nilai probabilitas ekstrim individu dan probabilitas kelompok terhadap nilai batas metode pohon kejadian dapat dilihat di Tabel 13 dan Gambar 9. Tabel 12. Status probabilitas bahaya Bendungan Kedungombo metode tradisional Kriteria Probabilitas ekstrim individu diambil dari per bagian Probabilitas ekstrim kelompok diambil dari jumlah ekstrim Kriteria risiko sosial pada grafik Hasil Analisis 000E-01 010E-01 Batas 00E-05 00E-05 Status Tidak memenuhi Tidak memenuhi Tidak Memenuhi Evaluasi Risiko Metode Tradisional Probabilitas Kegagalan 00E 00 00E-01 00E-02 00E-03 Yang Tidak Dapat Ditoleransi 00E-04 Yang Dapat Ditoleransi 00E-05 00E-06 Jumlah Penduduk Terdampak Batas Toleransi Probabilitas individu Probabilitas kelompok Gambar 8. Hasil analisis risiko metode tradisional Tabel 13. Status probabilitas bahaya Bendungan Kedungombo metode pohon kejadian Kriteria Probabilitas ekstrim individu diambil dari per bagian Probabilitas ekstrim kelompok diambil dari jumlah ekstrim Kriteria risiko sosial pada grafik Hasil Analisis 381E-03 1,548E-03 Batas 00E-05 00E-05 Status Tidak memenuhi Tidak memenuhi Tidak memenuhi Penilaian Risiko Kegagalan Bendungan Kedungombo Sebagai Dasar Prioritas Pemeliharaan Bendungan Rais Buldan, et al. Evaluasi Risiko Metode Pohon Kejadian 00E-01 Probabilitas Kegagalan 00E-02 00E-03 Yang Tidak Dapat Ditoleransi 00E-04 00E-05 Yang Dapat Ditoleransi 00E-06 00E-07 00E-08 Jumlah Penduduk Terdampak Batas Toleransi Probabilitas individu Probabilitas kelompok Gambar 9. Hasil analisis risiko metode pohon kejadian Rencana tindakan pengurangan risiko Rekomendasi tindakan pengurangan risiko untuk masalah/risiko individu yang diidentifikasi dan dianalisa, usulan TPR dan prioritas pelaksanaan dapat dilihat pada Tabel 14. Untuk masalah yang tidak diidentifikasi perlu ditangani sebagai kewajiban rutin pemeliharaan dan penyelenggaraan keamanan bendungan. Tabel 14. Tindakan pengurangan risiko dan prioritas No. Lokasi Masalah/Kasus Probabilitas Prioritas Usulan Tindakan Tubuh Bendungan: Puncak Aspal perkerasan penutup puncak timbunan mengalami keretakan rambut Tidak Sedang Perbaikan perkerasan aspal dan Tubuh Bendungan: Lereng hilir Terdapat . hewan 1,1170E-04 Tinggi Pemantauan hewan di lereng hilir secara rutin dan penutupan lubang yang sudah terbentuk Tubuh Bendungan: Lereng hilir Adanya tonojolan . pada daerah hilir kaki 1,381E-03 Tinggi Pembuatan titik tetap sebagai pemantauan tonjolan secara rutin . ebulan sekal. Instrumen Tidak dilakukan monitoring perilaku tubuh bendungan Tidak Tinggi Pemeliharaan peralatan, peningkatan kualitas pembacaan data dan pelaporan Bangunan Pelimpah: Dinding Dinding pelimpah sebelah kiri ada 2 . egangan dengan lebar A1 dan A4 cm. 108E-07 Sangat Tinggi Penutupan regangan dengan sand Bangunan Pelimpah: Kolam Olak Kolam 000E-05 Tinggi Perbaikan sungai di hilir pelimpah dan penertiban pemanfaatan lahan di sekitar kolam olak Waduk Air waduk mengandung zat kimiawi yang mungkin dapat menyebabkan korosi Tidak Sangat Rendah Pembatasan maksimum 1% dari muka air pada elevasi minimum JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Vol. No. Agustus 2021: hlm 557-570 EISSN 2622-545X KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari hasil penilaian risiko Bendungan Kedungombo adalah penilaian risiko dengan menggunakan metode tradisional dan metode pohon kejadian menunjukkan risiko Bendungan Kedungombo tidak dapat diterima. Meskipun demikian, hasil penilaian risiko yang tidak dapat diterima tidak serta merta menunjukkan bendungan dalam kondisi Namun diperlukan upaya-upaya perbaikan guna meminimalisir dampak terjadinya kegagalan. Beberapa saran rekomendasi tindakan untuk pengurangan risiko yaitu : Perbaikan perkerasan aspal dan perkerasan di puncak bendungan. Pemantauan hewan di sekitar lereng hilir secara rutin dan penutupan lubang yang sudah terbentuk. Pembuatan titik tetap sebagai acuan pemantauan. pemantauan tonjolan secara rutin . ebulan sekal. Pemeliharaan dan pergantian peralatan, termasuk peningkatan kualitas pembacaan data dan pelaporan. Penutupan regangan dengan sand sheet. Perbaikan alur sungai di hilir pelimpah dan penertiban pemanfaatan lahan di sekitar kolam olak. Pembatasan izin keramba maksimum 1% dari muka air pada elevasi minimum. DAFTAR PUSTAKA