Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 9. Nomor 2. Desembe This is an open access article under the CCBYSA Naskah masuk 23-Juli-2025 Direvisi Diterima Diterbitkan 31-Agustus-2025 19-November-2025 31-Desember-2025 DOI : https://doi. org/10. 58518/alamtara. Representasi Penyimpangan Agama dalam Web Series Bidaah Irfan Universitas Al-Qolam. Malang. Indonesia E-mail: irfan21@alqolam. Nurul Azizah Universitas Al-Qolam. Malang. Indonesia E-mail: nurulazizah@alqolam. ABSTRAK: Serial web atau disebut juga dengan web series merupakan bentuk media digital yang berkembang saat ini. Salah satu serial fenomenal dalam web series yang berhasil mencuri perhatian publik adalah web series AuBidaahAy yang berasal dari Malaysia. Web series ini menjadi trending karena telah menampilkan tayangan yang berisi penyimpangan agama serta berhasil tembus 2,5 miliar tayangan dalam waktu yang relatif singkat, yaitu satu bulan antara 6 maret sampai 6 april 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan pesan tersembunyi terkait praktik penyimpangan agama yang terdapat dalam serial Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan secara interpretatif. Sumber data berupa seluruh adegan dalam serial web Bidaah dari episode 1 hingga 13 yang memuat simbol penyimpangan agama. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes yang membedakan makna denotatif, konotatif, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serial Bidaah menampilkan berbagai praktik penyimpangan yang memanipulasi simbol dan legitimasi agama sebagai alat kontrol sosial, mencerminkan dominasi otoriter dan penindasan dalam ranah keagamaan. Studi ini memberikan wawasan penting terkait kompleksitas penyalahgunaan agama di media digital dan menegaskan perlunya kesadaran kritis serta penguatan pendidikan agama sebagai usaha pencegahan penyimpangan tersebut. Kata Kunci: Semiotika, metode kualitatif interpretatif, penyimpangan agama, media digital, kontrol sosial. ABSTRACT: Web series, also known as web series, are a rapidly growing form of digital One phenomenal web series that has captured public attention is the Malaysian web Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 series "Bidaah. " This web series became a trending topic due to its depiction of religious deviations and achieved 2. 5 billion views in a relatively short period of time, from March 6 to April 6, 2025. This study aims to uncover the symbolic meanings and hidden messages related to the religious deviation practices contained in the series. This research also used qualitative methods with an interpretive approach. The data sources were all scenes in the Bidaah web series, from episodes 1 to 13, that contain symbols of religious deviation. Data analysis employed Roland Barthes' semiotic analysis, which distinguishes between denotative, connotative, and mythical meanings. The results show that the Bidaah series depicts various deviant practices that manipulate religious symbols and legitimacy as a means of social control, reflecting authoritarian domination and oppression in the religious This study provides important insights into the complexities of religious abuse in digital media and emphasizes the need for critical awareness and strengthened religious education to prevent such abuse. Keywords: Semiotics, interpretive qualitative methods, religious abuse, digital media, social control. Pendahuluan Perkembangan media digital telah mengubah lanskap konsumsi konten keagamaan, salah satunya melalui kemunculan format serial web yang mudah diakses dan berpotensi viral. Salah satu serial web yang menjadi fenomena adalah Bidaah, produksi Malaysia yang tayang di platform Viu pada Maret hingga April Serial ini berhasil mencatat lebih dari 2,5 miliar penayangan dalam waktu satu bulan, menarik perhatian luas karena menampilkan praktik-praktik keagamaan yang menyimpang (CNN Indonesia, 2025. Viu Malaysia, 2. Melalui narasi yang kuat. Bidaah menampilkan tokoh sentral Walid, pemimpin sekte Jihad Ummah, yang menyalahgunakan simbol-simbol agama untuk memperkuat kekuasaan, mengontrol pengikut, dan mengeksploitasi perempuan melalui ritual-ritual yang dipertanyakan keabsahannya secara syariat (Tempo, 2. Fenomena ini menunjukkan betapa media digital tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang negosiasi wacana keagamaan yang kompleks (Sugiono, 2020. Supiadi, 2. Penelitian sebelumnya telah banyak mengkaji representasi agama dalam film, seperti analisis semiotika Roland Barthes pada film AuSiksa KuburAy (Wahyudin et al. , 2. dan AuSiksa KuburAy karya Joko Anwar (Junika et al. , 2. Selain itu. Nashiroh . meneliti politisasi agama dalam film AuTuhan Izinkan Aku BerdosaAy Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 dengan pendekatan semiotika Barthes. Namun, masih terbatas studi yang secara khusus mengkaji representasi penyimpangan agama dalam format web series yang memiliki karakteristik episodik, durasi pendek, dan distribusi digital yang massif (Muthmainnah, 2025. Alfajri et al. , 2. Kesenjangan ini menjadi landasan penelitian ini untuk mengisi celah akademis sekaligus merespons fenomena media yang relevan secara sosial. Untuk menganalisis representasi penyimpangan agama dalam Bidaah, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Teori Barthes dipilih karena kemampuannya mengungkap lapisan makna tersembunyi di balik tanda-tanda visual dan naratif, serta mengaitkannya dengan ideologi dan kekuasaan (Barthes, 1972 dalam Kurniawan, 2. Melalui konsep denotasi . akna litera. , konotasi . akna kultura. , dan mitos . akna ideologi. , analisis semiotika Barthes memungkinkan peneliti untuk menafsirkan bagaimana makna-makna tersebut dikonstruksi dan berimplikasi pada wacana keagamaan di ruang publik (Wibisono & Sari, 2021. Mulyazir & Fadhillah, 2. Pendekatan kualitatif interpretatif digunakan untuk menggali makna-makna tersebut secara mendalam, penyimpangan agama dalam konteks sosial yang lebih luas (Salviana, 2009. Sari. Tujuan penelitian ini pertama, mengidentifikasi tanda-tanda penyimpangan agama dalam web series Bidaah. kedua, menganalisis makna denotatif, konotatif, dan mitos dalam representasi tersebut. ketiga, mengkaji implikasi ideologis dari penggunaan simbol agama sebagai alat kontrol sosial. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kajian media dan agama, khususnya dalam memahami bagaimana media digital mereproduksi dan merepresentasikan isu-isu keagamaan yang kompleks. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan refleksi kritis bagi masyarakat dalam menyikapi konten keagamaan di era digital. METODE Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk mengungkap makna, nilai, dan kualitas di balik fenomena sosial yang kompleks, yang hanya dapat dijelaskan melalui deskripsi mendalam dan analisis linguistik (Sugiono. Sementara itu, pendekatan interpretatif digunakan untuk menggambarkan, menafsirkan, dan memberikan penjelasan mendalam atas pandangan peneliti mengenai makna yang terkandung dalam setiap adegan web series Bidaah (Salviana, 2. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah seluruh adegan dalam web series Bidaah dari episode 1 hingga 13 yang mengandung simbol-simbol penyimpangan agama. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan Observasi dilakukan dengan menonton secara berulang setiap episode dan mencatat adegan-adegan kunci yang relevan dengan fokus penelitian. Sementara itu, teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber tertulis atau dokumen pendukung, seperti artikel berita, ulasan, dan komentar publik yang relevan dengan serial tersebut (CNN Indonesia, 2025. Tempo, 2. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes. Analisis ini diterapkan dengan membedakan tiga tingkat makna: denotatif . akna literal atau dasa. , konotatif . akna simbolik dan kultura. , dan mitos . akna ideologis yang tersembunyi dan telah menjadi bagian dari buday. (Kurniawan, 2001. Mulyazir & Fadhillah, 2. Proses analisis dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: . mengidentifikasi tanda-tanda visual dan verbal dalam adegan terpilih. mengurai makna denotatif dari tanda-tanda . menafsirkan makna konotatif yang terkait dengan konteks sosial, budaya, dan keagamaan. mengungkap mitos atau ideologi yang mendasari konstruksi makna tersebut (Wicaksono & Fitriyani, 2021. Sari, 2. Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas penelitian, digunakan empat bentuk triangulasi. Pertama, triangulasi sumber data dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai episode . Ae. serta melibatkan sumber pendukung seperti artikel berita dan ulasan audiens. Kedua, triangulasi metode diterapkan dengan menggabungkan teknik observasi, dokumentasi, dan analisis semiotika, serta didukung oleh kajian literatur dan studi terdahulu (Wahyudin et , 2025. Junika et al. , 2. Ketiga, triangulasi teori dilakukan dengan menggunakan kerangka semiotika Barthes sebagai analisis utama, yang diperkaya dengan perspektif teori lain dan prinsip agama Islam sebagai referensi normatif. Keempat, triangulasi peneliti dilaksanakan melalui refleksi kritis dan diskusi dengan kolega untuk meminimalisasi bias subjektivitas dalam interpretasi data. Integrasi keempat bentuk triangulasi ini diharapkan dapat menghasilkan analisis yang komprehensif, kredibel, dan mendalam dari berbagai sudut pandang. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menganalisis 12 adegan kunci dari web series Bidaah (Episode 1Ae. dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Setiap adegan diurai melalui tiga tingkat makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil analisis disajikan secara sistematis berdasarkan urutan episode. Adegan meminum dan mencium kaki Walid Gambar 1 Gambar 2 . Denotasi: Pada menit tersebut, kelompok Jihad Ummah, baik laki-laki maupun perempuan secara bergiliran mencium dan meminum bekas air kaki Walid karena dianggap membawa berkah bagi mereka. Konotasi: Air kaki Walid yang disantap oleh anggota kelompok secara bergiliran diposisikan bukan hanya sebagai bekas fisik dari tubuh pemimpin. Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 tetapi sebagai simbol sumber berkah dan kekuatan spiritual yang dianggap suci dan memiliki otoritas ilahiah oleh pengikutnya. Ini mengandung makna bahwa Walid dipandang memiliki posisi hampir AusakralAy yang patut dihormati secara ekstrem. Mitos: Pendekatan Barthes akan melihat tindakan ini juga sebagai mitos yang dibangun agar pengikut menganggap Walid sebagai makhluk istimewa dan berkah, sehingga mitos tersebut mengukuhkan struktur kekuasaan dalam Tindakan anggota kelompok Jihad Ummah yang mencium dan meminum bekas air kaki Walid memiliki makna berbeda secara denotatif, konotatif, dan mitos. Denotasi menjelaskan tindakan fisik tersebut sebagai bentuk penghormatan Secara konotatif, air kaki Walid dianggap sebagai simbol berkah dan kekuatan spiritual, menandakan status sakral dan otoritas ilahiah Walid di mata Sementara itu, tindakan ini membentuk sebuah mitos yang memperkuat citra Walid sebagai sosok istimewa dan legitimasi kekuasaan dalam Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Dalam Al-Qur'an tidak ada ayat yang secara khusus membahas tentang mencium kaki. Namun, larangan menyembah atau bersujud kepada selain Allah secara umum sangat tegas dalam Al-Qur'an, misalnya dalam Surah Al-Isra ayat 23: aA eOIaOeEa auEa O aI aI ac eIa a aN a e aO U aI eI aN eI a eN aa eE aOaa Eac eIOa aEIa eAaIa aN eI AaO aN aO a eCa a aEA a AaOE a aI acacIA AaO Ue aOa eCa OA "Dan janganlah kamu memanjangkan pandanganmu terhadap harta benda dan anakanak yang Kami berikan kepada sebagian kamu sebagai perhiasan kehidupan dunia, supaya Kami menguji mereka . engan it. dan rezeki Tuhanmulah yang lebih baik dan lebih " (QS. Al-Isra: 23, konteks larangan berlebihan dalam penghormatan dan penyembahan selain kepada Alla. Sementara untuk mencium kaki, dalil yang banyak dijadikan rujukan adalah hadis, bukan ayat Al-Qur'an, yaitu riwayat tentang dua orang Yahudi yang Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 mencium tangan dan kaki Nabi Muhammad sebagai tanda pengakuan kenabian beliau (HR. Tirmidzi. Nasai. Ibn Maja. Selain itu, hadis dalam Sunan Ibn Majah menyatakan bahwa tidak boleh ada yang bersujud kepada selain Allah, yang berarti sujud atau penghormatan berlebihan semacam sujud kepada manusia itu dilarang. Kesimpulannya. Al-Qur'an menekankan bahwa sujud dan penyembahan hanya untuk Allah, larangan menyembah atau mengagungkan manusia secara berlebihan berlaku secara tegas. Dalil khusus mencium kaki sebagai penghormatan dan batasannya lebih banyak berasal dari hadits dan ijma' ulama. Jadi dalil Al-Qur'an yang relevan berbentuk larangan umum terhadap penyembahan dan sujud kepada selain Allah, sedangkan tentang mencium kaki banyak referensi berasal dari hadis dan penafsiran ulama terkait penghormatan tanpa menyalahi itu. Scene 2 (Episode . : Menit 26 detik 50 sampai menit 27 detik 11 Adegan Walid menikahkan jamaahnya Gambar 3 Gambar 4 Denotasi: Walid menikahkan jamaahnya dengan dasar bahwa pernikahan tersebut disaksikan oleh Rasulullah dan dia menjadi wakilnya. Konotasi: Adanya penempatan Walid sebagai figur otoritas utama yang memiliki kuasa absolut atas hidup dan pilihan pribadi anggota sekte. Dengan klaim sebagai wakil Rasulullah. Walid mengkonstruksi citra dirinya sebagai figur yang tidak bisa dipertanyakan, sehingga menegaskan dominasi patriarki dan hierarki keagamaan yang menindas. Mitos: Tindakan pemaksaan dalam ranah agama bisa menjadi suci dan dibenarkan jika dikaitkan dengan figur keagamaan terkemuka. Ini mengaburkan garis antara otoritas moral dan praktik penindasan. Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Walid menikahkan jamaahnya dengan alasan bahwa pernikahan itu disaksikan oleh Rasulullah dan dirinya sebagai wakil, yang secara denotatif menunjukkan tindakannya. Namun secara konotatif, hal ini menempatkan Walid sebagai otoritas absolut yang mengontrol kehidupan dan pilihan pribadi anggota sekte, memperkuat dominasi patriarki dan hierarki keagamaan yang menindas. Mitos yang terbentuk adalah bahwa pemaksaan dalam agama bisa dianggap suci dan dibenarkan jika terkait dengan figur keagamaan, sehingga mengaburkan batas antara otoritas moral dan penindasan. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Dalil khusus dalam Al-Qur'an atau hadits mengenai pemimpin kelompok yang menikahkan jamaahnya dengan Rasulullah sebagai wakilnya tidak ditemukan secara eksplisit. Namun dalam praktik Islam yang shahih, menikahkan adalah hak dan tugas wali atau pemimpin yang sah dalam konteks nikah. Menurut hadis riwayat. Rasulullah pernah menikahkan orang atas perantaraan wali mereka, misalnya kisah Nabi menikahkan Julaibib yang wali nikahnya adalah seorang lelaki Anshar. Hal ini menunjukkan bahwa wali bisa menikahkan dengan perwakilan selama memenuhi syarat syariat nikah. Namun jika seorang pemimpin kelompok menikahkan jamaahnya dengan Rasulullah sebagai wakilnya tanpa izin resmi atau keabsahan syariat, hal ini bisa menjadi bentuk penyimpangan. Pasalnya, pernikahan dalam Islam memiliki aturan yang jelas tentang wali nikah, ijab qabul, dan kesepakatan kedua belah pihak. Pemimpin yang mengatasnamakan diri sebagai perwakilan Rasulullah tanpa legitimasi bisa dianggap menyimpang dan tidak sesuai syariat Islam karena menyalahi aturan resmi nikah. Singkatnya, menikahkan sebagai perwakilan diperbolehkan selama sesuai syariat dan memiliki legitimasi wali nikah. Jika dilakukan oleh pemimpin kelompok secara sewenang-wenang atas nama Rasulullah tanpa dasar syariat yang jelas, maka hal itu termasuk bentuk Dalil terkait pernikahan sebagai sunnah Nabi dan kisah wali menikahkan sebagai perwakilan bisa dilihat dalam hadis tentang Rasul menikahkan Julaibib serta anjuran menikah yang merupakan sunnah Nabi. Scene 3 (Episode . : Detik ke 11 sampai detik ke 19 Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Adegan istri Walid berceramah di hadapan jamaah putri Gambar 5 Gambar 6 Denotasi: Istri Walid menyatakan bahwa suaminya seorang mursyid yang A harus dipatuhi dan juga menganggap bahwa Walid sebagai titisan Imam Mahdi. Konotasi: Walid diposisikan bukan sekadar tokoh biasa, melainkan sebagai A "titisan" atau perwujudan kembali Imam Mahdi, sosok pemimpin yang menurut keyakinan Islam akan muncul di akhir zaman untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Ini menimbulkan aura sakralitas dan otoritas religius yang kuat pada Walid. Mitos: Untuk memperkuat citra Walid di mata pengikut dan masyarakat Kepercayaan terhadap Imam Mahdi dalam situasi ini berfungsi sebagai perangkat retorika keagamaan yang kaya dengan simbol-simbol, bertujuan untuk memengaruhi kepercayaan serta tindakan para anggota Istri Walid menganggap suaminya sebagai mursyid yang harus diikuti dan sebagai titisan Imam Mahdi. Mursyid adalah seseorang yang bertugas membimbing dan memberikan tunjuk-ajar, terutama dalam bidang spiritual, agar muridnya sampai kepada Allah SWT dalam perjalanan rohani. Kepercayaan terhadap Imam Mahdi dalam konteks ini berperan sebagai alat retorika keagamaan yang sarat dengan simbolisme, dengan tujuan memengaruhi keyakinan dan perilaku para pengikut sekte. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Mursyid adalah guru spiritual dalam tarekat tasawuf yang membimbing muridnya menuju Allah dengan izin silsilah keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah, mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah. Menyatakan seseorang sebagai titisan Imam Mahdi dan harus dipatuhi mutlak adalah penyimpangan karena tidak Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 ada dalil sahih yang mendukung itu. Ketaatan mutlak hanya untuk Allah dan Rasul-Nya, sikap seperti ini bisa mengarah ke syirik. Dalil penting termasuk QS. Al-Kahf:17 . anya Allah pemberi petunju. dan QS. An-Nisa:59 . etaatan hanya kepada Allah dan Rasu. Singkatnya, mursyid dibenarkan jika sesuai syariat, tapi klaim titisan Imam Mahdi dan ketaatan mutlak adalah penyimpangan syirik. Scene 4 (Episode . : Menit 06 detik ke 02 sampai menit 05 detik ke 05 Adegan percakapan Baiduri dan ibunya Gambar 7 Gambar 8 Denotasi: Adegan percakapan antara Baiduri dan ibunya bahwa Baiduri A dipaksa untuk menikah dan Baiduri menentang hal tersebut. Konotasi: Pemaksaan pernikahan menandakan struktur sosial yang A mengekang kebebasan Baiduri sebagai perempuan untuk menentukan masa depan dan kehidupannya sendiri. Penolakan Baiduri melambangkan perlawanan terhadap dominasi gender dan penindasan yang dikemas dalam dalih kewajiban agama atau budaya. Mitos: Pemaksaan tersebut mengandung kritik tersembunyi atas bagaimana A agama atau tradisi bisa disalahgunakan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya mengekang hak asasi manusia, khususnya hak perempuan, padahal seharusnya agama mendukung keadilan dan kemerdekaan Adegan percakapan antara Baiduri dan ibunya menggambarkan pemaksaan pernikahan yang ditolak oleh Baiduri. Hal ini mencerminkan struktur sosial yang membatasi kebebasan perempuan dalam menentukan hidupnya. Penolakan Baiduri menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi gender dan penindasan yang sering kali dibenarkan dengan agama atau budaya. Kritik tersembunyi dalam cerita ini menunjukkan penyalahgunaan agama atau tradisi yang mengekang hak Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 asasi manusia, terutama hak perempuan, padahal agama seharusnya mendukung keadilan dan kebebasan individu. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Dalil yang mendasari hal ini antara lain adalah hadis Rasulullah SAW : "Janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya, sedang perawan dimintai izin tentang urusan dirinya, dan izinnya itu ialah diamnya. " (HR. Bukhari dan Musli. Hadis ini menunjukkan bahwa seorang wanita harus memberikan izin atau keridhaannya dalam pernikahan, terutama bagi wanita perawan yang izinnya bisa berupa diam tidak menentang. Selain itu, ulama seperti Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menegaskan dalam bukunya bahwa memaksa wanita menikah dengan pria yang tidak dicintainya adalah bentuk kezaliman dan dilarang karena bertentangan dengan tujuan pernikahan yang harus mendatangkan kebahagiaan bagi kedua Dalam Shahih Bukhari juga terdapat riwayat bahwa Rasulullah menolak pernikahan paksa, contohnya kisah Khansa' binti Khidzam yang menikah dalam keadaan tidak bersedia, kemudian Rasulullah membatalkan pernikahannya. Dengan demikian, pernikahan paksa yang dialami Baiduri termasuk tindakan syirik dan penyimpangan dari ajaran Islam karena mengabaikan hak persetujuan dan keridhaan calon pengantin wanita. Adegan percakapan antara Baiduri dan ibunya yang menunjukkan Baiduri dipaksa menikah dan Baiduri menentang pernikahan paksa tersebut merupakan bentuk penyimpangan dalam Islam. Islam menegaskan bahwa pernikahan harus berdasarkan keridhaan dan izin kedua calon Memaksa seseorang menikah tanpa persetujuan adalah haram dan bertentangan dengan ajaran Islam. Dalilnya antara lain hadis Nabi Muhammad SAW: "Janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya, sedang perawan dimintai izin tentang urusan dirinya, dan izinnya itu ialah diamnya. " (HR. Bukhari dan Musli. Ini menunjukkan pentingnya persetujuan dalam pernikahan. Selain itu, ulama seperti Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa nikah paksa adalah kezaliman yang dilarang karena menimbulkan mudharat dan menghapus tujuan pernikahan yang membawa kebahagiaan. Kisah KhansaAo binti Khidzam juga menjadi dalil bahwa Rasulullah menolak pernikahan paksa yang dilakukan tanpa ridha calon Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 istri (Shahih Bukhar. Jadi, memaksa Baiduri menikah tanpa ridha dan menentang itu termasuk bentuk penyimpangan dari syariat Islam. Scene 5 (Episode . : Menit 10 detik 05 sampai menit 10 detik 14 Adegan Baiduri sedang berbicara sendiri tentang sekte Gambar 9 Gambar 10 Denotasi: Baiduri mulai memikirkan sendiri tentang praktik menyimpang A yang dilakukan dalam sekte Jihad Ummah. Konotasi: Proses pencerahan, pemberontakan, dan kebebasan intelektual A dalam menghadapi penyimpangan agama yang berwujud praktik sekte, otoritarianisme keagamaan. Mitos: Mengungkapkan realitas sosial patriarki dan penindasan yang sering A kali tersembunyi di balik wacana keagamaan, di mana perempuan dan anggota kelompok adalah korban yang harus mulai sadar dan melawan agar bisa memperoleh kebebasan sosial dan spiritual. Baiduri mulai menyadari dan mempertanyakan praktik menyimpang dalam sekte Jihad Ummah, yang melambangkan proses pencerahan dan pemberontakan intelektual terhadap penindasan agama. Hal ini sekaligus mengkritik ideologi patriarki dan otoritarianisme keagamaan yang menindas perempuan dan anggota kelompok, mendorong mereka untuk sadar dan melawan demi meraih kebebasan sosial dan spiritual. Praktik yang mulai dipikirkan sendiri oleh Baiduri di serial Bidaah tentang penyimpangan yang dilakukan dalam sekte Jihad Ummah adalah benar-benar bentuk penyimpangan agama. Sekte Jihad Ummah dipimpin oleh Walid Muhammad yang memanipulasi ajaran Islam demi keuntungan pribadi, seperti memaksa perempuan untuk melakukan praktik ritual aneh. Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 perkataannya tanpa kritik, dan bahkan menikahinya tanpa sesuai syariat nikah yang benar. Ini termasuk praktik menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Dalil penyimpangan ini bisa dilihat dari prinsip Islam bahwa tidak boleh adanya penyelewengan ajaran agama, pemaksaan dalam urusan agama, serta keharusan mengikuti aturan syariat dalam pernikahan dan ibadah. Dalam AlQur'an banyak ayat yang menegaskan larangan menambah-nambah atau menyimpang dari ajaran Allah, misalnya dalam Surah Al-Ma'idah ayat 77 yang melarang mengikuti hawa nafsu dalam urusan agama karena bisa menyesatkan: UA aOaIa aIO aCIA a ca aE aac a e a eN aO aNaI aOCa eE IIa a aI aIa aEA s AcaEE IaI aEaA "Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: 'Aku beriman kepada apa yang diturunkan Allah dari Kitab dan aku menjadi orang yang yakin. '" (QS. Al-Ma'idah: . Selain itu. Rasulullah SAW juga memperingatkan tentang bahayanya mengikuti pemimpin yang menyesatkan dan melakukan penyimpangan . adits tentang imam yang menyesatkan rakyatny. Kesimpulannya, pemikiran Baiduri yang mulai meragukan dan menilai adanya praktik menyimpang dalam sekte Jihad Ummah adalah tepat dan sesuai dengan prinsip Islam yang melarang segala bentuk penyimpangan, manipulasi, pemaksaan, dan ritual yang bertentangan dengan syariat agama. Scene 6 (Episode . : Menit 11 detik 34 sampai menit 13 detik 21 Adegan ayah dan ibu Baiduri bercerai Gambar 11 Gambar 12 Denotasi: Ayah dan ibu Baiduri bercerai karena ibunya lebih mementingkan sekte Jihad Ummah daripada ayahnya. Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Konotasi: Terjadinya perceraian Ayah dan Ibu Baiduri bukan karena A persoalan hubungan pribadi, melainkan efek perpecahan yang lebih luas akibat pengaruh doktrin sekte Jihad Ummah. Ibu Baiduri yang Aulebih mementingkan sekteAy mengindikasikan loyalitas kuat terhadap kelompok agama radikal, yang mengorbankan ikatan keluarga inti. Mitos: Keterlibatan ibu yang memilih sekte dapat juga dipandang sebagai A simbol dilema perempuan di dalam tekanan norma agama yang radikalAi antara peran sebagai istri dan ibu yang menjaga keluarga, versus peran mengutamakan ideologi tertentu. Perceraian ayah dan ibu Baiduri terjadi bukan semata karena masalah pribadi, melainkan dipicu oleh pengaruh doktrin radikal dari sekte Jihad Ummah yang diutamakan oleh ibu Baiduri. Hal ini menggambarkan konflik loyalitas antara keluarga inti dan kelompok agama radikal, serta menggambarkan dilema seorang perempuan yang tertekan antara peran sebagai keluarga dan pengikut ideologi Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Secara agama, sekte yang mengedepankan kelompoknya di atas keluarga, serta melakukan praktik-praktik yang menyimpang dari Al-Qur'an dan sunnah termasuk bentuk penyimpangan agama serius. Dalam Islam, umat dilarang memutus tali silaturahmi dan syariat tidak membenarkan pengorbanan hubungan keluarga demi ajaran sesat. Ini jelas bertentangan dengan perintah Al-Qur'an untuk menjaga hubungan keluarga dan berpegang pada ajaran yang benar. Dalil AlQur'an yang relevan terkait menjaga hubungan keluarga yakni: "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan . -Nya kamu saling meminta dan rahmat Allah semoga kamu mendapat keberuntungan. " (QS. An-Nisa: . "Janganlah kamu memutuskan hubungan . " (QS. Muhammad: . Selain itu, dalam Al-Qur'an menyimpang dan mengikuti jalan yang lurus. Membiarkan pengaruh sekte sesat yang memecah belah keluarga merupakan bentuk penyimpangan yang harus Jadi, memprioritaskan sekte Jihad Ummah yang menyimpang di atas Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 keluarga yang sah secara Islam dan menyebabkan perceraian adalah bentuk penyimpangan agama dan harus diwaspadai berdasarkan prinsip Al-Qur'an dan sunnah yang menegaskan pentingnya menjaga hubungan keluarga dan menjauhi ajaran sesat. Scene 7 (Episode . : Menit 21 detik 53 sampai menit 22 detik 04 Adegan Hambali sedang melakukan prosesi sumpah Gambar 13 Gambar 14 Denotasi: Prosesi sumpah yang dilakukan Hambali di depan Walid, lalu A berhenti ketika dalam teks yang dibaca ada kalimat Aumenyerahkan diri pada WalidAy. Konotasi: Prosesi sumpah ini juga membawa konotasi patriarki dan A dominasi absolut, di mana pemimpin sekte (Wali. memiliki kekuasaan tak terbantahkan atas anggota (Hambal. , sering kali dengan implikasi penindasan psikologis dan sosial. Kalimat tersebut mencerminkan bagaimana bahaya dari penyerahan total ke figur otoritas tanpa kritik dapat merusak nilai-nilai kemerdekaan dan kemanusiaan individu. Mitos: Simbol kritik sosial terhadap praktik penindasan, manipulasi, dan A penyalahgunaan kekuasaan yang berbalut legitimasi agama atau ideologi Hambali berhenti saat kalimat tersebut dibaca bisa diartikan sebagai titik konflik batinAiibarat ada keraguan, perlawanan, atau kesadaran internal akan ketidakadilan dan hilangnya kebebasan yang harus Prosesi sumpah Hambali di depan Walid, secara denotatif, menggambarkan momen penyerahan diri pada pemimpin sekte. Secara konotatif, prosesi ini merefleksikan hubungan patriarki dan dominasi absolut yang menimbulkan penindasan psikologis dan sosial. Secara mitos, prosesi ini menjadi simbol kritik Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 sosial terhadap penindasan dan manipulasi kekuasaan yang berkedok agama, sekaligus menunjukkan konflik batin dan kesadaran akan ketidakadilan serta hilangnya kebebasan individu. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Prosesi sumpah yang dilakukan Hambali di depan Walid dan berhenti saat kalimat dalam teks adalah Aumenyerahkan diri pada WalidAy dapat dikaji dari perspektif ajaran Islam tentang sumpah dan penyerahan diri. Dalam Islam, sumpah harus dilakukan dengan menyebut nama Allah dan dengan kemauan sendiri tanpa paksaan, serta harus dihindari sumpah yang melanggar syariat atau mengandung penyerahan diri yang menyimpang dari ketundukan hanya kepada Allah. Dalil dari hadits Nabi Muhammad dan Al-Qur'an menegaskan bahwa sumpah adalah ibadah yang harus dikhususkan kepada Allah saja. Surah AlMa'idah ayat 89 menegaskan kewajiban kafarat apabila sumpah dilanggar, menandakan sumpah adalah hal serius yang harus berdasarkan kehendak dan dengan hati yang ikhlas kepada Allah SWT. Kalimat Aumenyerahkan diri pada WalidAy jika dimaknai penyerahan mutlak dalam arti kepatuhan dan ketundukan absolut yang biasanya hanya ditujukan kepada Allah, maka ini termasuk bentuk penyimpangan karena Islam hanya mengajarkan penyerahan diri mutlak kepada Allah saja. Artinya, sumpah yang berisi penyerahan diri pada selain AllahAidalam hal ini pada orang, pemimpin, atau kelompokAimenyerupai sikap syirik atau hilangnya ketundukan kepada Allah yang bisa dikatakan menyimpang dari ajaran Islam. Scene 8 (Episode . : Menit 23 detik 19 sampai menit 23 detik 25 Adegan Hambali terpaksa mencium kaki Walid Gambar 15 Gambar 16 Denotasi: Hambali terpaksa mencium kaki Walid setelah selesai bersumpah Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 di hadapannya. Konotasi: Tindakan mencium kaki di sini bukan sekadar gestur fisik. A melainkan representasi konotatif dari dominasi total seorang pemimpin (Wali. atas bawahannya (Hambal. Hambali terpaksa melakukan ini sebagai simbol penyerahan diri dan tunduk tanpa syarat pada otoritas Walid. Mitos: Adegan ini menguatkan mitos bahwa ketaatan buta kepada A pemimpin sekte adalah suatu kewajiban sakral, yang dalam praktiknya menutupi berbagai penyimpangan moral dan sosial. Adegan Hambali mencium kaki Walid secara denotatif hanya menunjukkan tindakan fisik setelah bersumpah, namun secara konotatif melambangkan dominasi mutlak pemimpin atas bawahannya dan penyerahan diri total. Mitos yang tercipta dari adegan ini menegaskan bahwa ketaatan buta kepada pemimpin sekte dianggap kewajiban sakral, meskipun sering kali menyembunyikan penyimpangan moral dan sosial. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Dalil yang mendukung ini antara lain pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami yang menyatakan bahwa mencium tangan, kaki, atau kepala orang alim dan orang saleh hukumnya sunnah selama dalam konteks yang tepat dan tidak berlebihan. Namun, membungkukkan badan dengan merendahkan punggung hukumnya makruh, dan berdiri untuk menghormati orang saleh hukumnya sunnah dalam mazhab SyafiAoi. Ibnu Hajar menegaskan bahwa bentuk penghormatan tersebut harus dalam koridor syariat dan tidak menjerumuskan kepada penyembahan selain Allah. Juga. Buya Yahya memperjelas bahwa merunduk dan mencium kaki di luar shalat tidak otomatis bernilai sujud dan dosa, melainkan sangat terkait niat dan cara pelaksanaannya. jika untuk mahabbah dan penghormatan yang benar. Namun, jika mencium kaki sampai menyerupai sikap sujud atau kultus sangat tidak dianjurkan dan bisa masuk kategori penyimpangan. Dalam konteks Hambali yang "terpaksa" mencium kaki Walid setelah bersumpah, ini bisa dilihat sebagai tekanan yang berpotensi mengarah pada penyimpangan karena adanya Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 unsur paksaan dan penghormatan berlebihan yang tidak sesuai dengan batas Dengan demikian, praktik tersebut termasuk dalam bentuk penyimpangan jika dilakukan sebagai kultus atau pemujaan, dan karena unsur paksaan yang menghilangkan kebebasan serta iktikad yang benar. Scene 9 (Episode . : Menit 02 detik 35 sampai menit 03 detik 10 Adegan Walid berceramah di depan anggota sekte yang masih muda Gambar 17 Gambar 18 Denotasi: Walid menyuruh anggota sekte yang masih muda untuk A membuka cadar di hadapannya karena menurut Walid itu hal yang wajar. Konotasi: Pernyataan Walid bahwa membuka cadar itu Auhal yang wajarAy A menunjukkan bagaimana pemimpin sekte berusaha mengubah atau mendefinisikan ulang norma sosial dan agama agar sesuai dengan kepentingan dan kekuasaannya sendiri. Ini menandakan manipulasi nilai agar tindakan yang kontroversial diterima sebagai sesuatu yang biasa atau normal oleh anggota. Mitos: Secara lebih luas, tindakan ini bisa diinterpretasikan sebagai upaya A mendekonstruksi mitos bahwa pemimpin agama selalu bertindak sesuai dengan nilai suci dan moral. Dalam konteks sekte ini, tindakan Walid menyingkap ideologi tersembunyi tentang dominasi dan penindasan yang tersembunyi di balik klaim religiusitas. Walid, pemimpin sekte, memerintahkan anggota muda untuk membuka cadar dengan alasan itu hal yang wajar. Pernyataan ini mencerminkan usaha Walid untuk mengubah norma sosial dan agama demi kepentingan kekuasaannya, menunjukkan manipulasi nilai agar tindakan kontroversial diterima. Secara lebih luas, tindakan ini mengungkap bahwa pemimpin agama tidak selalu bertindak Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 sesuai nilai suci, melainkan dapat menggunakan ideologi religius untuk mendominasi dan menindas. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Dalil dari Al-Qur'an yang jelas tentang menutup aurat wanita adalah surat An-Nur ayat 31. Selain itu, mayoritas ulama dan ijmaAo menyatakan bahwa menutup wajah . adalah lebih utama, bahkan wajib dalam konteks menjaga kesopanan dan agar terhindar dari fitnah, terutama di masyarakat yang memang mewajibkan cadar atau yang menjadikan membuka wajah sebagai hal yang rawan fitnah atau perilaku tidak senonoh. Seorang ulama besar. Syaikh Muhammad bin Sholih AlUtsaimin, menegaskan bahwa membuka wajah di negara yang mewajibkan cadar adalah tidak diperbolehkan karena bisa memudharatkan orang lain dan melanggar aturan lokal syariat yang lebih ketat. Jadi, jika Walid menyuruh membuka cadar hanya dengan alasan "itu hal yang wajar" tanpa konteks yang benar atau alasan syar'i yang valid, maka ini bisa dikatakan menyimpang dari tuntunan syariat dan kebiasaan ulama mengenai kewajiban menutup aurat dan menjaga kehormatan Tindakan itu pula bisa menimbulkan pelanggaran terhadap tata krama dan adab berpakaian dalam Islam. Scene 10 (Episode . : Menit 27 detik 09 sampai menit 27 detik 13 Adegan air bekas Walid dan istrinya dimasukkan ke sumur Gambar 20 Gambar 21 Denotasi: Air bekas kaki Walid dan istrinya dimasukkan ke dalam sumur untuk diminum oleh jamaahnya. Konotasi: Tindakan meminum air bekas kaki yang seharusnya dianggap najis atau kotor justru dibalik menjadi ritual sakral. Ini mengkonotasikan bahwa tokoh Walid dan istrinya diposisikan setara atau di atas nilai kemanusiaan biasa, seolah-olah membawa berkah atau kekuatan spiritual yang harus diterima oleh pengikut melalui ritual tersebut. Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Mitos: Kritik sosial terhadap praktik-praktik penyimpangan agama dan A pemujaan buta yang mengaburkan rasionalitas dan nilai-nilai ajaran agama yang sebenarnya. Ini menunjukkan bagaimana simbol yang tampak sederhana . ir bekas kak. dibebani makna ideologis yang berbahaya, yakni menutupi penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi keagamaan yang dilakukan oleh pemimpin sekte. Adegan air bekas kaki Walid dan istrinya yang dimasukkan ke sumur untuk diminum jamaahnya menggambarkan ritual sakral dari sesuatu yang seharusnya Hal ini menandakan posisi tokoh tersebut yang dianggap memiliki kekuatan spiritual atau berkah, sehingga pengikutnya wajib menerimanya. Secara lebih luas, ini menjadi kritik sosial terhadap penyimpangan agama dan pemujaan buta yang dimanfaatkan untuk menutupi penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi keagamaan oleh pemimpin sekte. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Air bekas kaki Walid dan istrinya yang dimasukkan ke dalam sumur untuk diminum oleh jamaahnya merupakan bentuk penyimpangan dalam ajaran Islam. Tidak ada dalil syar'i yang membenarkan meminum air bekas basuhan kaki manusia, bahkan jika itu dilakukan dengan niat mencari keberkahan. Dalam Islam, hal seperti ini dianggap berlebihan dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW yang tidak pernah mencontohkan atau menganjurkan praktik tersebut. Dalil yang terkait antara lain adalah larangan melakukan hal-hal yang menyangkut najis dan kotoran secara berlebihan dan juga larangan mempercayai sesuatu selain Allah SWT bisa memberikan keberkahan secara mutlak tanpa izinNya. Ulama seperti Buya Yahya dan Ustadz Abdul Somad menegaskan bahwa mencium kaki orang tua atau orang saleh dibolehkan sebagai bentuk penghormatan, tapi meminum air bekas cucian kaki tidak dibenarkan karena air itu kotor dan bisa membawa penyakit. Selain itu, keyakinan bahwa air tersebut memiliki berkah secara inheren dapat mengarah pada kesyirikan atau kekufuran. Secara singkat, meminum air bekas kaki bukanlah bentuk ibadah yang benar dalam Islam, melainkan sebuah penyimpangan dari ajaran Nabi Muhammad SAW yang Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 perlu dihindari. Scene 11 (Episode . : Menit 04 detik 39 sampai menit 04 detik 43 Adegan hukuman rajam yang diterima oleh jamaahnya Gambar 22 Gambar 23 Denotasi: Adegan ini menunjukkan anggota sekte yang hanya bertemu A tanpa melakukan hal yang berlebihan dirajam dengan batu Konotasi: Adegan ini juga mengkonotasikan tirani yang dijalankan oleh A pemimpin sekte atau penguasa kelompok. Hukuman tidak proporsional tersebut mencerminkan penyalahgunaan kekuasaan yang membungkam kebebasan personal dan menegakkan dominasi melalui kekerasan fisik. Mitos: Penindasan terhadap anggota yang hanya bertemu tanpa hal A berlebihan menggambarkan mitos bahwa Aukepatuhan mutlak tanpa pertanyaanAy adalah kewajiban utama dalam sekte. Ini mengungkap ideologi yang membenarkan kekerasan sebagai alat mempertahankan kesucian atau kedisiplinan ideologis di dalam kelompok. Adegan anggota sekte yang dihukum dengan dirajam batu kerikil saat hanya bertemu berduaan menggambarkan tirani dan penyalahgunaan kekuasaan oleh pemimpin kelompok. Hukuman yang tidak proporsional mencerminkan dominasi melalui kekerasan fisik dan pembungkaman kebebasan personal. Mitos yang tersirat adalah kepercayaan bahwa kepatuhan mutlak tanpa pertanyaan adalah kewajiban utama dalam sekte, yang membenarkan kekerasan sebagai cara menjaga kesucian dan kedisiplinan ideologis kelompok. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Adegan yang menunjukkan anggota sekte yang hanya bertemu berduaan tanpa melakukan hal yang berlebihan dan kemudian dirajam dengan batu kerikil Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 dapat dikaji dari perspektif penyimpangan menurut Islam dengan melihat konteks tindakan dan dasar hukum . yang relevan. Dalam Islam, pertemuan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan berduaan disebut sebagai khalwat atau ikhtilath, yang umumnya dilarang karena potensi menimbulkan dosa seperti zina atau tindakan tidak senonoh. Namun, dalam adegan yang disampaikan, tidak disebutkan adanya perbuatan zina atau hal serupa, sehingga tindakan rajam oleh anggota sekte tersebut merupakan suatu bentuk hukuman atau reaksi yang berlebihan dan termasuk penyimpangan sikap. Dalil terkait penyimpangan dalam konteks seksual dan perilaku di luar batas dapat ditemukan dalam Al-Qur'an Surat Al-MuAominn ayat 5-7 yang menegaskan bahwa orang yang menjaga kemaluannya kecuali kepada istri atau budaknya adalah orang-orang yang tidak tercela, sementara pencarian kenikmatan di luar itu adalah tindakan melampaui batas yang merupakan dosa besar. Selain itu, hukum rajam bagi pelaku zina tertentu telah disebutkan dalam hadis dan fiqh, tetapi rajam sebagai hukuman untuk pertemuan berduaan tanpa zina tidak termasuk hukum yang ditetapkan secara syar'i. Dengan demikian, memukul atau merajam seseorang hanya karena mereka berduaan tanpa melakukan hal berlebih adalah tindakan penyimpangan karena tidak bersandar pada dalil yang shahih yang mengatur hukuman tersebut, dan ini berbeda dengan penyimpangan aqidah atau seksual yang jelas. Hukuman dan sikap ekstrem semacam ini tidak dibenarkan dalam Islam dan justru merupakan bentuk penyimpangan yang harus diluruskan. Scene 12 (Episode . : Menit 13 detik 14 sampai menit 13 detik 26 Adegan nikah batin Walid Gambar 23 Gambar 24 Denotasi: Pada adegan ini. Walid, pemimpin sekte Jihad Ummah, melakukan ritual pernikahan secara batin dengan seorang jamaah Ritual ini berlangsung secara tertutup di sebuah gua belakang Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 pondok, tanpa wali dan tanpa saksi manusia, hanya Walid dan perempuan itu yang mengetahui. Walid menyatakan bahwa Allah SWT menjadi wali dan Rasulullah menjadi saksi pernikahan tersebut. Ijab kabul dan ikrar nikah diucapkan secara rahasia dan sakral, menegaskan ikatan batin di antara keduanya. Konotasi: Adegan ini mengandung konotasi praktik manipulatif dan penyalahgunaan kekuasaan oleh Walid terhadap perempuan jamaah. Pernikahan batin yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa prosedur sah dan keterlibatan masyarakat menimbulkan kesan penipuan atas klaim agama. Konotasi lainnya adalah eksploitasi nafsu dan pelecehan terselubung yang disamarkan dengan ritual keagamaan. Perempuan yang diajak nikah batin digambarkan mengalami keterasingan dan kerusakan, misalnya Mia yang hamil dari nikah batin ini lalu dipaksa menggugurkan kandungan hingga meninggal dunia. Ini menunjukkan kebrutalan di balik kedok spiritualitas. Mitos: Mitos yang berkembang dari adegan nikah batin Walid adalah narasi yang dipropagandakan oleh sang pemimpin sekte untuk melegitimasi praktik ilegal dan tidak syah secara agama. Mitos ini menyatakan bahwa pernikahan tidak memerlukan wali atau saksi manusia karena Allah dan Rasulullah sebagai saksi sudah cukup, sebuah pemaknaan ulang agama yang sangat menyimpang dari hukum syariat Islam. Mitos ini juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang menutupi kekerasan seksual dan eksploitasi di balik label sakralitas. Pada tingkat budaya, mitos ini merefleksikan kritik terhadap radikalisme agama yang menggunakan kedok ritual untuk menindas perempuan dan mengaburkan hak-hak mereka. Adegan nikah batin Walid menampilkan ritual pernikahan secara tertutup dan rahasia tanpa wali dan saksi manusia, dengan dalih Allah dan Rasulullah sebagai wali dan saksi. Secara denotatif, tampak interaksi nikah secara batin antara Walid dan perempuan di dalam gua. Konotasi dari adegan ini menampilkan praktik manipulasi dan eksploitasi kekuasaan atas perempuan di balik kedok Irfan. Nurul Azizah Representasi Penyimpangan Agama Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 agama, yang berpotensi melanggar norma sosial dan agama. Mitos yang terkandung membentuk narasi ideologis bahwa nikah batin adalah sah tanpa syarat formal pernikahan, padahal hal ini menyembunyikan penyimpangan dan Mitos ini berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang menguatkan stigma dan norma konservatif di masyarakat. Dalil Yang Memperkuat Bentuk Penyimpangan Analisis Tersebut Dalam Islam, ritual pernikahan yang sah harus memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk adanya wali . erwakilan pihak perempua. dan saksi manusia saat pelaksanaan ijab kabul. Pernikahan yang dilakukan secara batin, tanpa wali dan saksi manusia, seperti yang dilakukan oleh Walid dalam adegan tersebut dengan alasan bahwa Allah SWT sebagai wali dan Rasulullah sebagai saksi, bukan merupakan bentuk pernikahan yang sah secara syariat. Nikah batin seperti ini adalah bentuk penyimpangan dari prosedur pernikahan Islam yang benar, karena: Pernikahan harus dilakukan secara terbuka dengan adanya wali bagi perempuan dan minimal dua saksi laki-laki yang adil (Syarat sah nikah dalam Islam secara Menjadikan Allah dan Rasulullah sebagai wali dan saksi secara pengganti manusia tidak sesuai dengan ketentuan syariat yang mengharuskan adanya wali dan saksi manusia sebagai bukti nyata di dunia. Nikah batin yang rahasia dan tanpa saksi manusia dapat menimbulkan potensi penyalahgunaan dan penipuan seperti yang diperagakan dalam konteks tokoh Walid yang memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadinya . enyelewengan agam. Dalil yang menguatkan keharusan wali dan saksi dalam pernikahan adalah hadits Nabi Muhammad SAW, seperti: Dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak sah suatu nikah kecuali dengan wali dan dua orang saksi Aoadil. " (HR. Abu Dawud dan An-NasaAo. Dalam QS. An-Nisa: 4 yang menyuruh seorang lelaki menikahi wanita dengan adanya wali. Sehingga, ritual "nikah batin" yang dilakukan tanpa wali dan saksi manusia adalah suatu penyimpangan dari syariat Islam dan tidak sah secara hukum Islam. Referensi dari