Vol. No. 1, 2024 Doi : https://doi. org/10. 70371/jise. Analisis Penerapan Literasi Keuangan pada Pendidikan Anak Usia Dini JOURNAL OF (Studi : Paud Insan Cendikia Harapan INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Rejo Lampung Tenga. AThe Author. 2024 Hindiana Sava Husada1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Alifa Pringsewu. Indonesia Ardetia Lara Zesika 2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Alifa Pringsewu. Indonesia Novi Riani3 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Alifa Pringsewu. Indonesia Corresponding Author: Hindiana Sava Husada E-mail : hindianasavahusada@alifa. Abstract: The implementation of financial literacy from an early age is a strategic effort to instill understanding and positive habits related to money management in children. This study aims to analyze how financial literacy is implemented in early childhood education at PAUD Insan Cendikia. Harapan Rejo. Central Lampung. qualitative approach was employed, with data collected through interviews, observations, and documentation. The research subjects consisted of teachers and parents of the students. The results indicate that financial literacy is applied through a play-based learning approach using the Beyond Center and Circle Time (BCCT) Financial literacy activities include the introduction of money, managing pocket money, saving habits, socio-drama on buying and selling, visits to BRILink agents, and the instilling of values such as sharing and This implementation also involves the active participation of parents as the primary The study concludes that PAUD Insan Cendikia has implemented a structured and comprehensive financial literacy program, although challenges remain in maintaining consistent parental involvement and strengthening children's understanding of needs versus wants. Keywords: Financial Literacy. Early Childhood. Money Management. Character Education Pendahuluan Pendidikan adalah salah satu aspek penting yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak. Anak sendiri merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki beragam potensi yang perlu diasah. Ariyani . menyatakan bahwa pendidikan merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan dan menjadi bekal penting bagi kehidupan anak di masa depan. Berdasarkan Konvensi Hak Anak (KHA) atau United Nations Convention on the Rights of the Child (UN-CRC), yang merupakan perjanjian internasional di bidang hak asasi manusia, disebutkan bahwa pendidikan termasuk dalam hak anak yang wajib dipenuhi oleh negara. Pendidikan juga harus diarahkan untuk mendukung berbagai aspek perkembangan anak (K. , 2. JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Listianingrum . menjelaskan bahwa Anak Usia Dini (PAUD) adalah anak yang berusia antara 0 hingga 6 tahun, yaitu masa di mana anak sedang berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Pada usia ini, setiap anak memiliki keunikan tersendiri karena mereka berkembang dengan pola yang berbeda sesuai dengan tahapan usianya. Menurut Mursid . PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik . oordinasi motorik halus dan kasa. , kecerdasan . aya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritua. , sosialemosional . ikap dan perilaku serta beragam. , bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Menurut Wiyani . Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saat ini menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari proses pendidikan anak. PAUD berperan sebagai dasar awal sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar dan tingkat berikutnya. Tujuan utama PAUD adalah membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan memberikan manfaat bagi keluarga, bangsa, negara, serta Menurut Korps Keuangan . , literasi keuangan muncul pertama kali USA-Amerika Serikat pada tahun 1787 melalui surat yang dikirimkan oleh Adams John untuk Jefferson Thomas yang berisikan pesan bahwa perlunya literasi keuangan untuk digunakan dalam mengatasi tekanan dan kebingungan yang meluas di negara tersebut diakibatkan ketidaktahuan rakyat terhadap kredit serta sirkulasi dan sifat dari uang. Menurut Otoritas Jasa Keuangan . , literasi keuangan adalah gabungan dari pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang dimiliki seseorang, yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku dalam mengelola keuangan. Hal ini bertujuan untuk membantu individu membuat keputusan keuangan yang lebih baik demi mencapai kesejahteraan. Literasi keuangan sangat penting diterapkan sejak dini kepada setiap individu dikarenakan akan berguna dan memiliki efek jangka panjang yang berguna di masa yang akan datang (Amagir et al. Kaiser dan Menkhoff . menyatakan bahwa kemampuan literasi keuangan sebenarnya bisa ditingkatkan dengan berbagai cara, salah satunya melalui pendidikan keuangan. Sementara itu, menurut Becker dan rekan-rekannya . , pendidikan keuangan dapat diberikan di sekolah agar seluruh siswa mendapatkan pemahaman yang baik tentang cara mengelola keuangan dengan Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2022, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 49,7%, meningkat dibandingkan tahun 2019 yang hanya 38,1%. Ini menunjukkan adanya kenaikan sebesar 11,6% dalam pemahaman keuangan masyarakat Indonesia. Sementara itu, indeks inklusi keuangan pada tahun 2022 mencapai 85,1%, mengalami peningkatan 8,9% dibandingkan dengan 79,2% pada tahun 2019. Untuk daerah Lampung sendiri indeks literasi keuangan berada di angka 41,3% dan untuk indeks inklusi keuangan mencapai angka 74,8%. Hasil survei tersebut menunjukan persentase kearah yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tantangan kehidupan yang modern dan gaya hidup yang semakin tinggi membuat semua orang harus mampu bersaing secara global. Hal tersebut juga telah menuntut sistem perekonomian suatu negara mampu terkoneksi dengan dunia. Dengan meningkatnya angka inklusi keuangan, artinya negara telah meningkatnya penyediaan akses bagi masyarakat untuk memanfaatkan produk layanan jasa keuangan di lembaga keuangan. Berdasarkan asumsi bahwa dunia ini akan terus berkembang dan maju, maka pemberian pendidikan literasi keuangan sejak dini pada anak adalah JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION suatu hal yang wajib agar anak mampu mengelola dan mengambil keputusan dengan baik di masa yang akan datang. Pentingnya kerjasama dan sinergi dari beberapa pihak khususnya dari keluarga sebagai sumber utama kehidupan dan pihak sekolah sebagai tempat dimana anak menimba ilmu dan belajar hal-hal baru yang semestinya bisa memberikan pengenalan dan pembelajaran yang baik tentang literasi keuangan (Rapih, 2. Selain sebagai bekal pengelolaan keuangan, literasi keuangan juga dimaksudkan untuk melatih anak agar terhindar dari segala bentuk penyalahan bidang keuangan, seperti korupsi sebagai contohnya (Ariyani, 2. Disini akan mengkaji bagaimana penerapan pendidikan literasi keuangan pada anak usia dini di sekolah, serta dukungan keluarga dalam menanamkan nilai literasi keuangan pada anak. Kajian Pustaka Pendidikan Anak Usia Dini Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Listianingrum . PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini merujuk pada anak yang berusia antara 0 hingga 6 tahun, yang berada pada fase perkembangan dan pertumbuhan dengan karakteristik unik. Setiap anak memiliki pola perkembangan yang sesuai dengan tahap usianya. Mulyasa . menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu bentuk pendidikan untuk anak usia 0 hingga 4 tahun. Hal ini merupakan upaya strategis untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas dalam menghadapi tantangan globalisasi. Anak-anak di usia dini memiliki keunikan tersendiri, karena meskipun ada anak kembar, mereka tetap dilahirkan dengan potensi yang berbeda, memiliki kelebihan, kekurangan, serta minat masingmasing. Rudiyanto . juga mengemukakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah ilmu pendidikan yang fokus pada pemahaman, pembinaan, dan pengembangan potensi anak sejak dini. Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Suryana . , kegiatan Beyond Centres and Circles Time (BCCT) dalam pendidikan anak usia dini dirancang untuk mendukung perkembangan anak melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan tahapan pemahaman mereka. Pembelajaran tersebut bertujuan untuk memperkenalkan anak pada pengetahuan mengenai lingkungan sekitar dan topik lainnya, sehingga materi yang disampaikan mudah dimengerti oleh anak. Beberapa konsep utama dalam teori perkembangan dan pendidikan anak usia dini antara lain: Proses belajar anak akan lebih efektif ketika mereka berinteraksi dengan orang lain, baik secara individu maupun bersama teman sebayanya atau orang dewasa. Minat anak-anak menjadi dasar dalam merencanakan kurikulum. Ketertarikan dan latar belakang masing-masing anak dan kelompok harus dipertimbangkan saat pendidik merancang pengalaman belajar. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan, dan setiap orang akan terus belajar. Pendidikan akan membantu mengarahkan apa yang perlu dipelajari pada saat itu, bukan hanya untuk mempersiapkan masa depan. JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Literasi Keuangan Pengertian Literasi Keuangan Literasi keuangan adalah pemahaman, keterampilan, dan keyakinan yang mempengaruhi sikap serta perilaku seseorang dalam membuat keputusan keuangan yang lebih baik, serta mengelola keuangan untuk mencapai kesejahteraan finansial. (OJK, 2. Menurut Suryono, . Pengertian umum dari financial literacy atau literasi keuangan adalah pengetahuan dan juga keterampilan masyarakat yang mampu memberikan keyakinan terkait lembaga keuangan dan berbagai produk di dalamnya dalam parameter ukuran indeks. Namun, beberapa ahli dalam bidang ekonomi memiliki pandangannya sendiri terkait literasi keuangan. Menurut Nufzatutsaniah et al. , literasi finansial melibatkan kemampuan dalam mengelola pendapatan, seperti menabung atau menginvestasikannya, serta menggunakan uang dengan bijak dan membagikannya kepada yang membutuhkan. Keterampilan ini mendorong individu untuk bertindak dengan tanggung jawab dan kebijaksanaan, serta meningkatkan rasa kepedulian sosial. Manfaat Literasi Keuangan Literasi Keuangan memiliki banyak manfaat, antara lain (OJK, 2. Memilih dan memanfaatkan produk serta layanan jasa keuangan yang sesuai dengan . Meningkatkan kemampuan dalam merencanakan keuangan dengan lebih baik. Bertanggung jawab atas keputusan-keputusan keuangan yang diambil. Menghindari investasi pada instrumen keuangan yang tidak jelas. Literasi Keuangan juga memberikan keuntungan besar bagi sektor jasa keuangan. Lembaga keuangan dan masyarakat saling bergantung, dan semakin tinggi tingkat Literasi Keuangan masyarakat, maka semakin banyak orang yang akan memanfaatkan produk dan layanan keuangan yang tersedia. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan beberapa langkah analisis, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang kemudian Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan Subjek penelitian ini adalah dewan guru dan orang tua peserta didik di PAUD KB Insan Cendikia. Hasil dan Diskusi Gambaran Umum PAUD Insan Cendikia PAUD KB Insan Cendikia merupakan salah satu lembaga pendidikan swasta yang dinaungi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. PAUD KB Insan Cendikia berdiri pada tahun 2013 dengan SK Pendirian: 420 /001/PAUD-IC/2013 dengan SK Operational: 421. 9/150. d/05/D. 1/2013. PAUD KB Insan Cendikia beralamatkan di kampung Harapan Rejo PT 001 RW 001 Kecamatan Seputih Agung. Kabupaten Lampung Tengah,Provinsi Lampung. Pada tahun ajaran 2023-2024 ini jumlah siswa didiknya adalah 38 orang. Dengan 17 JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION jumlah siswi perempuan dan sisanya sebanyak 21 adalah siswa laki-laki. Untuk rata-rata usia peserta didiknya berada di usia 3-5 Tahun. Jumlah tenaga pengajarnya ada 6 orang guru, dengan 5 guru perempuan dan 1 guru laki-laki. Hasil Penerapan Literasi Keuangan pada Pendidikan Anak Usia Dini Pada PAUD Insan Cendikia Seputih Agung Lampung Tengah, untuk kegiatan belajar mengajar menggunakan metode Beyond Center and Cyrcle Time atau lebih dikenal dengan model BCCT. Dalam BCCT terdapat empat pijakan yaitu: pertama pijakan dalam lingkungan bermain, kedua pengamalan sebelum bermain, ketiga pengalaman pada saat bermain pada anak dan yang keempat adalah pengalam setelah anak bermain. Sedangkan untuk pendidikan literasi keuangan pada PAUD Insan Cendika dilakukan dengan cara sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Pengenalan Literasi Keuangan pada PAUD Insan Cendikia Kriteria Pelaksanaan Mulai memperkenalkan uang 1. Peserta didik telah dikenalkan tentang beberapa jenis sejak dini uang, baik uang logam dan uang kartal. Serta nominalnominalnya. Peserta didik dikenalkan sejarah tentang uang. Peserta didik dikenalkan model uang cetakan baru dan cetakan lama, dengan nominal uang sama namun model nya berbeda. Peserta didik didampingi oleh orang tua dikenalkan dengan uang digital. Mulai mengatur keuangan 1. Peserta didik diberikan jatah maksimal uang saku sekolah setiap harinya. Peserta didik didampingi orang tua diajarkan batas maksimal uang jajan setiap harinya. Mulai Sekolah memfasilitasi tentang tabungan anak setiap tentang menabung Mulai mengajarkan anak untuk 1. Peserta didik diajarkan untuk berani berbelanja atau membelanjakan uangnya. Peserta didik diajarkan bahwa belanja itu berdasarkan kebutuhan bukan keinginan. Peserta didik diajarkan untuk tidak berhutang. Sosio drama tentang jual beli Sekolah memfasilitasi untuk bermain sosiodrama dengan alat peraga. Dewan guru memberikan dongeng atau cerita tentang jual beli yang baik. Mengenalkan peserta didik 1. Sekolah bekerjasama dengan BRILink setempat untuk dengan Bank mengenalkan peserta didik dengan bank. Sekolah bekerjasama dengan BRILink setempat untuk membuat rekening pribadi. Biasakan anak untuk berbagi Melaksanakan jumat berkah dengan bersedekah setiap Mengumpulkan barang pribadi layak pakai yang dapat JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Kriteria Mulai pentingnya list belanja Pelaksanaan Peserta didik didampingi orang tua dikenalkan dengan list belanja. Membuat PR List belanja sesuai kebutuhan anak. Mulai Mengajarkan peserta didik membuat prakarya setiap kewirausahaan sejak dini Prakarya yang dibuat adalah prakarya yang memiliki nilai ekonomi. Sumber: PAUD Pedia . Berdasarkan penjelasan OJK dalam Sikapi Uangmu tahun 2020, terkait dengan kecakapan literasi keuangan hal tersebut sangat berkaitan dengan cara keputusan yang diambil oleh anak, kemampuan berfikir dan pengalaman dari kegiatan seharinya. Beberapa cara untuk meningkatkan kecakapan literasi keuangan pada peserta didik adalah dengan cara sebagai berikut: Tabel 2. Evaluasi Pelaksanaan Kecakapan Literasi Keuangan pada Peserta Didik Kriteria Pemahaman mengenai konsep uang serta kemampuan untuk mengenal berbagai jenis uang. Pemahaman mengenai penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari dan kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kemampuan dan pemahaman untuk menyisihkan uang agar bisa disimpan dan digunakan di masa depan. Kesadaran untuk memberikan bantuan kepada orang lain atau teman yang membutuhkan lebih. Pelaksanaan Sudah Sudah Sudah Sudah Sumber: OJK pada Sikapi Uangmu . Pembahasan Implementasi Penerapan Literasi Keuangan pada Pendidikan Anak Usia Dini Implementasi penerapan literasi keuangan pada Pendidikan Anak Usia Dini di PAUD Insan Cendikia Seputih Agung Lampung Tengah adalah sebagai berikut: Pemahaman mengenai konsep uang serta kemampuan untuk mengenal berbagai jenis uang. Sebagian besar peserta didik telah mengetahui fungsi uang sebagai alat pembayaran. Namun hanya beberapa jenis uang yang familiar yang diketahui oleh anak-anak. Serti pecahan RP. 2000 dan Pecahan Rp. 5000, karena bias any orang tua memberikan uang nominal tersebut untuk belanja anak. Gambar dan warna uang yang berbeda menjadi bahan sendiri dalam mengenalkan uang kepada anak. Upaya yang dilakukan oleh sekolah agar peserta didik tau tentang konsep uang, maka dewan guru melakukan pembelajaran dengan cara pengenalan dasar uang melalui media gambar. Mengenalkan perbedaan warna dan gambar pada uang disetiap nominal, serta uang logam dan uang kertas juga. Peserta didik juga diajarkan bagaimana membedakan antara uang asli dan uang mainan. Dalam konsep ini dewan guru tidak mengajarkan tentang penghitungan uang. Dalam satu tahun ajaran setidaknya satu kali dewan guru yang bekerjasama dengan BRILink setempat melakukan sosialisasi kepada wali murid untuk melakukan pengenalan uang digital. JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Tidak hanya peserta didik yang sejak dini dianjurkan melek ekonomi dan keuangan, namun orang tua juga dituntut agar tidak ketinggalan informasi yang uptodate tentang kemajuan Khususnya keuangan digital. Orang tua wali dikenalkan dengan e-commerce, bank digital, uang digital dan financial technology. Selain dikenalkan dengan literasi keuangan digital, orang tua wali murid juga dikenalkan dengan dampak baik dan buruknya dari keuangan digital tersebut, selanjutnya diberikan anjuran agar menggunakan keuangan digital dengan bijak, karena aksesnya yang mudah dan dapat dijangkau oleh siapa saja dan dimana saja. Pemahaman mengenai penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari dan kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Peserta didik diajarkan untuk bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Pembelajaran ini cukup sulit karena usia peserta didik yang masih rata-rata di umur 4 tahun yang segala keinginannya harus dituruti. Hal tersebut tentunya peran orang tua wali murid sangat dibutuhkan. Peserta didik dan orang tua bersama-sama membuat list kebutuhan, kemudian mencatat nominal berapa yang dikeluarkan, serta hal tersebut diaplikasikan di kehidupan sehari-harinya. Sekolah juga mengajarkan peserta didik untuk membuat prakarya yang memiliki nilai ekonomi artinya dapat diperjualbelikan, misalnya: membuat mainan seperti layang-layang, rumah-rumahan dari stik ice cream, membuat aksesoris dari kain panel atau perhiasan dari meronce gelang dan kalung dari mutiara plastik. Membuat makanan juga bisa dijadikan prakarya yang dapat menghasilkan, misalnya membuat puding atau salad buah. Kemudian sekolah menggunakan sistem barter untuk pembelajaran atau bahkan melakukan praktik jual beli menggunakan uang mainan. Kemampuan dan pemahaman untuk menyisihkan uang agar bisa disimpan dan digunakan di masa depan. Sejak dini peserta didik diajarkan tentang menyisihkan pendapatannya. Peserta didik harus dikenalkan alat-alat yang biasa digunakan untuk menabung, misalnya celengan atau yang Sekolah memfasilitasi kegiatan menabung harian di sekolah. Sekolah yang bekerjasama dengan BRILink setempat membuat program agar anak memiliki rekening atas nama peserta didik masing-masing, namun ini tidak bersikap wajib, karena sebagian besar wali murid merasa keberatan atau tidak mampu dalam hal tersebut, jadi kegiatan ini hanya untuk yang menginginkannya saja. Hasil tabungan peserta didik anak dibagikan pada akhir periode sekolah, biasanya hasil tabungan digunakan untuk acara study tour dan rekreasi. Study tour biasanya berisi tentang belajar mengenali tempat-tempat yang bersifat pembelajaran. Misalnya kunjungan ke museum lampung, jalan-jalan menggunakan kereta dalam rangka mengenalkan stasiun kereta, atau juga study tour ke Transmart sebagai tempat edukasi dan bermain anak, di sana juga peserta didik dikenalkan dengan Bank. Rekreasi biasanya dilakukan ditempat yang lebih santai untuk keluarga, misalnya taman bermain dan pantai. JOURNAL OF INTERDISCIPLINARY SCIENCE AND EDUCATION Kesadaran untuk memberikan bantuan kepada orang lain atau teman yang membutuhkan Berbagi ke teman atau orang lain merupakan salah satu hal yang perlu dilatih dan dibiasakan dan dimulai sejak anak-anak. Peserta didik perlu diajarkan untuk menjadi peka dengan Peka jika teman atau orang sekelilingnya butuh bantuan mereka. Pada dewan guru mengajak siswa untuk memecahkan masalah bagaimana cara membantu teman atau orang lain yang sedang kesulitan. Sekolah mengajak peserta didik untuk belajar bersedekah, bersedekah telah menjadi agenda bulanan di PAUD Insan Cendikia. Sekolah mengumpulkan sebagian kecil dari pendapatan peserta didik yang disisihkan, serta beberapa barang layak pakai yang akan disumbangakan ke yang lebih membutuhkan. Kegiatan tersebut biasanya disalurkan ke yatim piatu atau fakir miskin di sekitar PAUD. Atau jika ada berita duka atau terkena musibah. di lingkungan sekitar yayasan, maka pendapatan tersebut akan diberikan kepada keluarga yang berduka. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di PAUD KB Insan Cendikia Harapan Rejo. Lampung Tengah, dapat disimpulkan bahwa penerapan literasi keuangan pada pendidikan anak usia dini telah dilakukan secara sistematis dan terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan BCCT (Beyond Center and Circle Tim. Pengenalan literasi keuangan dimulai dari pengenalan konsep uang, baik uang logam maupun uang kertas, termasuk perbedaan bentuk, warna, dan nilai nominalnya, hingga pengenalan terhadap uang digital. Anak-anak juga dikenalkan dengan nilai-nilai pengelolaan keuangan seperti menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta berlatih dalam kegiatan jual beli melalui sosiodrama. Sekolah bekerja sama dengan BRILink setempat untuk memperkenalkan sistem perbankan dan bahkan memfasilitasi pembukaan rekening tabungan bagi peserta didik secara sukarela. Selain itu, kegiatan berbagi seperti program "Jumat Berkah" dan pengumpulan barang layak pakai turut mengajarkan nilai sosial dan tanggung jawab finansial sejak dini. Implementasi literasi keuangan ini juga didukung oleh keterlibatan aktif orang tua, baik dalam pendampingan penggunaan uang saku harian, pembuatan daftar belanja, maupun penguatan pemahaman tentang keuangan digital. Dengan demikian, pendidikan literasi keuangan yang diterapkan di PAUD KB Insan Cendikia tidak hanya memberikan pemahaman dasar tentang uang, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku anak yang bijak dalam mengelola keuangan sejak usia dini, serta membangun landasan penting untuk masa depan mereka. Daftar Pustaka