Journal of Business and Economics (JBE) UPI YPTK https://jb e-upiyp tk. org/o j s Vol. No. Hal: 460-468 ISSN: 2502-6275 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Cash Holding dengan Corporate Governance sebagai Pemoderasi Kharisma Anjeli MonikaA. Elfiswandi Elfiswandi. Lusiana Lusiana Universitas Putra Indonesia AuYPTKAy Padang nikiakharisma1219@gmail. Abstract This study aims to analyze the effect of capital expenditure, liquidity ratio, growth opportunity, and leverage with corporate governance as a moderating variable on cash holding companies in the consumer goods industry sector listed on the IDX. The sample in this study was selected using purposive sampling as many as 34 companies with 175 observations. The data used is secondary data and the analytical method used is panel data regression analysis. The analytical tool used is eviews-9. The results showed that capital expenditure and growth opportunity partially affected cash holding. Liquidity ratio and leverage partially have no effect on cash holding. Corporate governance is not able to moderate capital expenditure, liquidity ratio, and growth opportunity to cash holding. While leverage can be moderated by corporate governance on cash holding companies in the consumer goods industrial sector listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2017-2021 period. Keywords: Cash Holding. Capital Expenditure. Liquidity Ratio. Growth Opportunity. Leverage and Corporate Governance. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh capital expenditure, rasio likuiditas, growth opportunity, dan leverage dengan corporate governance sebagai variabel moderasi terhadap cash holding pada perusahaan sektor industry barang konsumsi yang terdatar di BEI. Sampel pada penelitian ini dipilih dengan menggunakan purposive sampling yaitu sebanyak 34 perusahaan dengan observasi 175 kali observasi. Data yang digunakan adalah data sekunder dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel. Alat analisis yang digunakan adalah eviews-9. Hasil penelitian menunjukkan capital expenditure dan growth opportunity secara parsial berpengaruh terhadap cash holding. Rasio likuiditas dan leverage secara parsial tidak berpengaruh terhadap cash holding. Corporate governance tidak mampu memoderasi capital expenditure, rasio likuiditas, dan growth opportunity terhadap cash holding. Sedangkan leverage mampu dimoderasi corporate governance terhadap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Kata kunci: Cash Holding. Capital Expenditure. Rasio Likuiditas. Growth Opportunity. Leverage dan Corporate Governance. Journal of Business and Economics is licensed under a Creative Commons 4. 0 International License. Pendahuluan Salah satu perusahaan dengan eksistensi yang besar adalah perusahaan industri barang konsumsi yang merupakan bagian dari perusahaan manufaktur. Dalam pelaksanaannya sektor industri barang konsumsi dibagi menjadi lima macam yaitu sub sektor makanan dan minuman, sub sektor rokok, sub sektor farmasi, sub sektor kosmetik dan keperluan rumah tangga, dan sub sektor peralatan rumah tangga. Bagi investor, industri barang konsumsi menjadi pilihan utama untuk menanamkan modal mereka. Hal ini disebabkan karena harga saham dari perusahaan industri barang konsumsi yang masih menawarkan potensi kenaikan. Selain itu, investor juga akan memperhatikan likuiditas yang merupakan kemampuan perusahaan membayar hutang jangka pendeknya. Dalam membayar hutang jangka pendeknya, perusahaan akan menggunakan kas sebagai alternatif pembayaran yang paling cepat dicairkan. Ketersediaan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya tepat waktu. Sebuah perusahaan dalam menjaga jumlah kas atau uang biasanya disimpan di bank . ash in ban. dalam bentuk giro/bilyet. Sedangkan yang disimpan di perusahaan disebut cash holding. Menurut . cash holding merupakan jumlah kas yang dipegang oleh pihak perusahaan untuk menjalankan seluruh kegiatan Beberapa keuntungan dari cash holding yaitu untuk membiayai berbagai transaksi, mengantisipasi peristiwa yang tidak terduga, dan berspekulasi mengamati berbagai kesempatan bisnis baru yang dianggap menguntungkan. Namun, cash holding yang terlalu besar dapat menimbulkan masalah operasional bagi manajer, jika tidak adanya Diterima: 01-09-2022 | Revisi: 15-09-2022 | Diterbitkan: 30-09-2022 | doi: 10. 35134/ jbeupiyptk. Kharisma Anjeli MonikaA. Elfiswandi Elfiswandi. Lusiana Lusiana pencegahan maka akan berdampak pailitnya perusahaan . Beberapa fenomena cash holding diantaranya adalah : PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) pada tahun 2013 telah menjual beberapa asset anak usaha. Aksi divestasi asset anak usaha dilakukan karena kas yang ada pada perusahaan tidak cukup untuk menutupi kinerja operasional yang sekarat. Di sisi lain. UNSP harus membayar cicilan utang dalam jumlah yang Selain itu. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) pada tahun 2015 menjual dua anak usaha yaitu PT Nissin Mas dan China Minzhoang Food Corporation Limited (CMFC) akibat kekurangan kas untuk memenuhi kegiatan operasional dan melunasi Perusahaan privat legendaries Jamu Nyonya Meneer pada Agustus 2017 dinyatakan pailit setelah satu abad berdiri yang dinyatakan oleh Pengadilan Negeri Semarang karena tidak sanggup memenuhi kewajiban membayar utang sebesar Rp 257 Milyar. Kasus lain terjadi pada tahun 2018 dimana PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) kembali gagal menunaikan kewajibannya membayar bunga obligasi dan jatuh tempo. Posisi kas Juni 2018 belum juga memadai untuk membayar bunga obligasi yang akan jatuh tempo 19 Juli 2018. Fungsi kas yang ada di perusahaan adalah untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan dan Pada saat perusahaan melakukan pembelian untuk kepentingan operasional seperti asset maka timbul capital expenditure. Capital expenditure merupakan pengeluaran yang dapat memberikan manfaat atau keuntungan dimasa depan sehingga tidak diperhitungkan sebagai biaya melainkan modal. Capital expenditure dapat digunakan untuk biaya memperbaiki atau menciptakan asset untuk digunakan perusahaan sebagai jaminan . Perusahaan yang memiliki capital expenditure yang tinggi maka permintaan untuk memegang uang tunai atau kas juga akan meningkat. Sebaliknya semaikin rendah capital expenditure, maka kebutuhan akan investasi semakin sedikit dan perusahaan tidak akan menahan kas dalam jumlah yang banyak . Selain itu faktor yang dapat menyebabkan cash holding adalah rasio likuiditas. Menurut . rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi hutang jangka pendek yang segera jatuh tempo. Jika perusahaan dapat melunasi hutang jangka pendeknya maka dapat dikatakan sebagai perusahaan yang likuid dan cenderung memiliki tingkat kas yang rendah. menyatakan tingkat rasio likuiditas yang tinggi menandakan perusahaan mampu membayar hutang jangka pendeknya. Fungsi lain dari kas adalah untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja perusahaan . rowth opportunit. Menurut . growth oportunity merupakan suatu perpaduan antara kemungkinan peluang investasi dimasa depan dengan asset yang dimilki perusahaan. Peluang ini dapat meningkatkan cash holding perusahaan, karena semakin besar kesempatan untuk tumbuh maka semakin besar pula kesempatan mendapatkan return yang lebih besar. Menurut. leverage yang besar memperlihatkan kekuatan perusahaan memperoleh sumber pendanaan Leverage merupakan rasio yang menganalisa pembelanjaan yang dilakukan perusahaan berupa perbandingan antara hutang dan modal serta kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga dan lainnya. Perusahaan dengan leverage yang tinggi mengisyaratkan bahwa perusahaan memiliki kebutuhan operasional yang tinggi. Kebutuhan operasional tersebut dapat ditutupi dengan leverage sehingga kas yang dikeluarkan perusahaan lebih Cash holding dapat berkurang apabila terdapat kondisi keuangan perusahaan yang buruk sehingga cash holding digunakan untuk membayar hutang. Dalam konteks pengaruhnya, corporate governance dapat mempengaruhi keberadaan cash holding. Corporate governance merupakan suatu kumpulan hubungan antara pihak manajemen perushaan, dewan perusahaan, dan para pemegang saham, serta pihak yang memiliki kepentingan dengan perusahaan . Salah satu konteks corporate governance yaitu dewan komisaris independen. Dewan komisaris independen merupakan salah satu bagi dari dewan komisaris yang bersifat independen terhadap perusahaan. Dewan komisaris independen ialah seorang dewan yang tidak memiliki kepentingan bisnis dengan perusahaan, manajer, stakeholder maupun pihak kepentingan lainnya . Dalam sebuah perusahaan dewan komisaris independen memiliki peranan dan pengaruh tersendiri terhadap cash holding perusahaan dimana sebuah tingkatan cash holding dalam sebuah perusahaan harus dijaga dan ditentukan tingkat kestabilan agar dana perusahaan tidak digunakan bukan untuk kepentingan perusahaan . dalam Struktur kepemimpinan yang buruk mengarah kepada perusahaan yang mengeluarkan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Hasil penelitian . menunjukkan cash holding tidak dipengaruhi oleh capital expenditure. Sedangkan hasil penelitian . menunjukkan growth opportunity dan net working capital mempengaruhi Sementara . menyatakan growth opportunity dan net working capital tidak berpengaruh terhadap cash holding. Cash holding dipengaruhi oleh rasio likuiditas, dimana kesinambungan perdagangan yang tinggi. Metodologi Penelitian Objek Penelitian Objek penelitian penulis yaitu perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indoensia (BEI) tahun 2017 - Journal of Business and Economics (JBE) UPI YPTK Oe Vol. No. Kharisma Anjeli MonikaA. Elfiswandi Elfiswandi. Lusiana Lusiana 2021 dengan berfokus kepada capital expenditure sebagai variabel independen/ bebas (X. , rasio likuiditas sebagai variabel independen/ bebas (X. , growth opportunitysebagai variabel indpenden/ bebas (X. , leveragesebagai variabel indpenden/ bebas (X. , cash holding sebagai variabel dependen/ terikat (Y), dan corporate governance sebagai variabel moderating (Z). Series: Standardized Residuals Sample 2017 2021 Observations 170 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2017-2021 sebanyak 76 Dalam penelitian ini sampel yang akan digunkan dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, hasil penelitian yang dilakukan pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017 Ae 2021 mendapatkan sampel sebanyak 34 perusahaan. Metode Analisis Data Uji Asumsi Klasik Pada penelitian ini uji asumsi klasik multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Analisis Regresi Data Panel Pengujian Hipotesis Berdasarkan hasil uji Jarque-Bera pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai Jarque-Bera adalah sebesar 0,954869 dengan probabilitas 0,620373. Karena nilai probabilitas 0,620373 > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal. 3 Hasil Uji Multikolinearitas Sebelum Moderasi Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered VIF LEV Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa semua variabel dalam penelitian ini telah memiliki nilai centered VIF dibawah 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapatgejala multikolinearitas dalam penelitian ini. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Uji Asumsi Klasik 4 Hasil Uji Mulitikolinearitas Sesudah Moderasi 1 Hasil Uji Normalitas Sebelum Moderasi Series: Standardized Residuals Sample 2017 2021 Observations 170 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Berdasarkan hasil uji Jarque-Bera pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai Jarque-Bera adalah sebesar 0,589784 dengan probabilitas 0,744612. Karena nilai probabilitas 0,744612 > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal. 2 Hasil Uji Normalitas Sesudah Moderasi Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered VIF LEV CE*Z RL*Z GO*Z LEV*Z Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa semua variabel dalam penelitian ini telah memiliki nilai centered VIF dibawah 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapatgejala multikolinearitas dalam penelitian ini. Journal of Business and Economics (JBE) UPI YPTK Oe Vol. No. Kharisma Anjeli MonikaA. Elfiswandi Elfiswandi. Lusiana Lusiana 5 Hasil Uji Heteroskedastisitas Sebelum Moderasi Heteroskedastisitas Godfrey Test: Breusch-Pagan- F-statistic Prob. Obs*Rsquared Prob. ChiSquare. Scaled Prob. ChiSquare. Pada tabel diatas terlihat bahwa nilai probability ChiSquared yang dihasilkan adalah sebesar 0,2001. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa nilai probability yang dihasilkan menunjukkan 0,2001 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel penelitian yang akan dibentuk kedalam model regresi telah terbebas dari gejala heteroskedastisitas. Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. LEV CE*Z RL*Z GO*Z LEV*Z CASH = 0,069120 0,448255CE Ae 0,071263RL 0,04220GO Ae0,044486LEVAe 0,001442Z Ae 0,010112[CE*Z] Ae 0,017109[RL*Z] 0,000972[GO*Z] 0,044486[LEV*Z] e Hasil Pengujian Hipotesis 1 Pengaruh Capital Expenditure terhadap Cash Holding Heteroskedastisitas Test: Breusch-Pagan-Godfrey Hasil analisis menunjukkan capital expenditure (CE) memiliki koefisien regresi sebesar 0,379652 dan tstatistic Prob. F-statistic 1335 sebesar 2,166975 dengan probability sebesar 0,0317. Artinya 0,0317 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Obs*RProb. Chi6. 1370 variabel capital expenditure (CE) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Cash Square. Holding (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor Scaled Prob. Chi6. 0082 industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek Square. Indonesia periode 2017-2021. 2 Pengaruh Rasio Likuiditas terhadap Cash Holding Pada tabel diatas terlihat bahwa nilai probability Chi- Hasil analisis menunjukkan rasio likuiditas (RL) Squared yang dihasilkan adalah sebesar 0,1370. Hasil memiliki koefisien regresi sebesar -0,200131 dan yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa nilai t statistic sebesar -1,915730 dengan probability sebesar probability yang dihasilkan menunjukkan 0,1370 > 0,0571. Artinya 0,0571 > 0,05 maka dapat disimpulkan 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh bahwa variabel rasio likuiditas (RL) secara parsial variabel penelitian yang akan dibentuk kedalam model tidak berpengaruh signifikan terhadap Cash Holding regresi telah terbebas dari gejala heteroskedastisitas. (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2 Hasil Regresi Data Panel periode 2017-2021. 3 Pengaruh Growth Opportunity terhadap Cash 1 Hasil Regresi Data Panel Sebelum Moderasi Holding Hasil analisis menunjukkan growth opportunity (GO) memiliki koefisien regresi sebesar 0,050271 dan tstatistic Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. sebesar 6,388538 dengan probability sebesar 0,0000. Artinya 0,0000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel growth opportunity (GO) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Cash Holding (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek LEV Indonesia periode 2017-2021. 4 Pengaruh Leverage terhadap Cash Holding CASH = 0,055245 0,379652CE Ae 0,200131RL Hasil analisis menunjukkan leverage (LEV) memiliki 0,050271GO Ae0018697LEV e koefisien regresi sebesar -0,018697 dan tstatistic sebesar 1,477926 dengan probability sebesar 0,1413. Artinya 2 Hasil Regresi Data Panel Sesudah Moderasi 0,1413 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel 6 Hasil Uji Heteroskedastisitas Sesudah Moderasi Journal of Business and Economics (JBE) UPI YPTK Oe Vol. No. Kharisma Anjeli MonikaA. Elfiswandi Elfiswandi. Lusiana Lusiana leverage (LEV) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Cash Holding (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 20172021. 5 Pengaruh Capital Expenditure terhadap Cash Holding melalui Corporate Governance Hasil analisis menunjukkan capital expenditure (CE) memiliki probability pada persamaan satu sebesar 0,0317 dan probability pada persamaan dua sebesar 0,2117. Artinya 0,0317 < 0,02117 maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas dewan komisaris (ADK) tidak dapat memoderasi hubungan antara capital expenditure (CE) terhadap Cash Holding (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 20172021. 6 Pengaruh Rasio Likuiditas terhadap Cash Holding melalui Corporate Governance Hasil analisis menunjukkan rasio likuiditas (RL) ) memiliki probability pada persamaan satu sebesar 0,0571 dan probability pada persamaan dua sebesar 0,7571. Artinya 0,0571 < 0,7571 maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas dewan komisaris (ADK) tidak dapat memoderasi hubungan antara rasio likuiditas (RL) terhadap Cash Holding (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 20172021. 7 Pengaruh Growth Opportunity terhadap Cash Holding melalui Corporate Governance Hasil analisis menunjukka growth opportunity (GO) memiliki probability pada persamaan satu sebesar 0,0000 dan probability pada persamaan dua sebesar 0,0079. Artinya 0,0000 < 0,0079 maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas dewan komisaris (ADK) tidak dapat memoderasi hubungan antara growth opportunity (GO) terhadap Cash Holding (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. 8 Pengaruh Leverage terhadap Cash Holding melalui Corporate Governance Hasil analisis menunjukkan leverage (LEV) memiliki probability pada persamaan satu sebesar 0,1413 dan probability pada persamaan dua sebesar 0,0464. Artinya 0,1413 > 0,0464 maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas dewan komisaris (ADK) dapat memoderasi hubungan antara leverage (LEV) terhadap Cash Holding (CASH) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Rasio likuiditas secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Growth berpengaruh positif signifikan terhadap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Leverage secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Corporate memoderasi pengaruh capital expenditure terhdap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Corporate memoderasi pengaruh rasio likuiditas terhdap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode Corporate memoderasi pengaruh growth opportunity terhdap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Corporate governance dapat memoderasi pengaruh leverage terhdap cash holding pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021. Daftar Pustaka