SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 10 No. Maret 2022 P20-29 E-ISSN 2798-8678 Diskriminasi Gender dalam Perspektif Dokumenter Potret AuAmerta Ning SinarAy Ni Kadek Dwiyani. Nyoman Lia Susanthi. I Kadek Puriartha Program Studi Produksi Film dan Televisi. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar kadekdwiyani@isi-dps. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang diskriminasi gender yang berdampak pada keseimbangan hak dan kewajiban perempuan Bali dalam fase sebagai seorangistri, menantu dan Ibu dari anak-anak mereka dalam perspektif visual dengan format dokumenter potret. Dokumenter potret AuAmerta Ning SinarAy dengan pendekatan humanist memberikan visualisasi terkait perempuan Bali dan budaya patriarki yang memunculkan masalah dalam fase berumahtangga bagi perempuan Bali, yang justru membuat posisi merekasangat timpang dibandingkan dengan posisi suami mereka yang memiliki tingkat superior dalam budaya patriarki itu sendiri. Metode yang digunakan adalah metode penelitian qualitatif dengan pendekatan deskriptif dikolaborasikan dengan teori diskriminasi gender (CIDA: 1. dan Semiotika (Pierce dalam Piliang: 2. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa diskriminasi gender yang divisualisasikan dalam dokumenter potret AuAmerta Ning SinarAy memiliki 4 indikator yang dari diskriminasi gender melalui Marjinalisasi. Subordinasi. Kekerasan dan Beban Kerja dalam visual yang ditampilkan dalam film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy yang direpsentasikan melalui skema triadik Semiotika Pierce. Kata Kunci: Diskiriminasi Gender. Dokumenter Potret. Amerta Ning Sinar This study aims at an overview of gender discrimination which impacts the balance of rights and obligations of Balinese women in the phase of being a wife, daughter-in-law and mother of their childrenin a visual perspective with a portrait documentary format. The portrait documentary "Amerta Ning Sinar" with a humanist approach provides visualization related to Balinese women and patriarchal culture which raises problems in the marriage phase for Balinese women, which actually makes their position very unequal compared to the position of their husbands who have a superior level in the patriarchal culture itself. The method used is a qualitative research method with a descriptive approach collaborated with the theory of gender discrimination (CIDA: 1. and Semiotics (Pierce in Piliang: The research results showa that gender discrimination that appears is gender discrimination are marginalization, subordination, violence and workload in the visuals shown in the documentary film AuAmerta Ning SinarAy which is represented through Pierce's Semiotics triadic scheme. Keywords: Gender Discrimination. Portrait Documentary. AuAmerta Ning SinarAy Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 PENDAHULUAN Isu tentang diskriminasi gender merupakan hal menarik yang akan selalu mengundang pro dan kontra bagi khalayak luas. Perspektif apapun yang digunakan akan memberikan ruangbagi siapa saja untuk merasakan bahwa diskriminasi gender masih masih terjadi di belahan dunia manapun. Pilihan diksi gender dalam judul penelitian ini memperlihatkan bahwa diskriminsai yang terjadi dalam penelitian ini direpresentasikan oleh kaum perempuan dalam toloh yang diangkat dalam film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy. Gambaran konflik dalam film dokumenter AuAmerta Ning Sinar memilki makna keberpihakan yang sepertinya menempatkan kaum perempuan sebagai pihak yang AuharusAo ada di bawah kaum laki-laki dalam kultur budaya tertentu. Khususnya dalam kultur budaya di Bali yang mengikat tatanan kehidupan masyarakat dalam unit terkecilnya, yaitu keluarga menggunakan acuan budaya patriarki yang memberikan posisi kaum laki-laki sebagai superior diatas kaum Realita seperti memang terdengar klise ketika kita diskusikan di era seperti sekarang ini, namun kenyataan yang kita bisa lihat adalah, budaya patriarki ini mampu membentuk pola pikir siapapun untuk terbiasa menerima bahwa kaum laki-laki memiliki wewenang dan hal yang lebih jika dibandingkan kaum perempuan. Keberdayaan akan keterikatan budaya patriarki sayangnya masih belum bisa memberikan batasan yang jelas tentang pelaksanaan kewajiban yang harus dilakukan oleh kaum laki-laki dan kaum perempuan. Berbicara tentang kewajiban tentu tidak bisa dilepaskan dari yang namanya pemerian hak yang tetunya harus dalam kadar dan porsi yang berimbang. Namun ketika pemerian hak dan kewajiban tersebut direkatkan dengan penamaan gender, maka yang muncul dan dapat dimaknai ternyata menyebabkan banyak terjadinya diskriminasi gender. Untuk menghasilkan analisis yang dengan pemaknaan yang dalam berdasarkan teroi terkait, metode yang digunakan oleh penulisadalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menjelaskan dengan menggunakan uraian pendukung untuk memudahkan pembaca memahami tujuan dan hasil penelitian sesuai dengan keinginan penulis. Dokumenter potret dengan pendekatan humanis yang berjudul AuAmerta Ning SinarAy memberikan gambaran tentang diskriminasi gender melalui tokoh utama. Ni Ketut Sinar yang dijadikan fokus penelitian oleh penulis. Konflik yang muncul merupakan konflik sosial yang muncul dari siapa sebenarnya Ni Ketut Sinar sebagai seorang istri, menantu dan juga Ibu dari tiga orang putranya yang merupakan anak dengan kebutuhan khusus (ABK). Dalam dokumenter potret ini, hal utama yang ingin dikaji tidak hanya tentang bagaimana diskriminasigender ini muncul dan dilalui oleh tokoh utama, namun juga ingin menggambarkan bagaimanaketangguhan seorang Ni Ketut Sinar untuk mampu melalui proses tersebut dan mampu bertahan dalam keterbatasannya sebagai seorang perempuan Bali yang harus terikat dengan sistem budaya patriarki dalam keluarganya. Ketangguhan seorang perempuan Bali melalui sosok Ni Ketut Sinar merupakan contoh nyata bahwa perempuan memiliki kekuatan yang tidak dapat diremehkan untuk selalu bertahan dalam kondisi sulit seperti apapun, demi keberlangsungan hidup anak-anaknya. Indikator diskriminasi gender yang divisualiasikan dalam dokumenter ini merupakan realita yang memang telah dilalui oleh Ni Ketut Sinar dalam posisi menjalankan hak dan kewajiban yang sangat tidak berimbang, sehingga menyebabkan konflik diskriminasi gender. Visualiasi yang dimunculkan dalam dokumenter ini mereprentasikan 4 indikator diskriminasi gender oleh dikemukakan oleh CIDA . yang dialami oleh Ni Ketut Sinar yang terdiri dari marjinaliasasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda pada perempuan. Analisis lebih lanjut pada 4 indikator diskriminasi gender yang muncul akan ditelaah dengan kajian skema Triadik Pierce Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 (Pierce dalam Piliang: 2. Skema Triadik Pierce digunakan untuk memberikan ulasan lebih jelas pada setiap indikator diskriminasi gender yang dimaksud, dengan menggunakan 3 elemen dasar semiotika yaitu Interpretasi (I). Tanda (T) dan Objek (O). Penjelasan dengan menggunakan skema Triadik Pirece digunakan oleh penulis untuk memudahkan meyampaikan fakta dan realita dalam visual film dokumenter potret :Amerta Ning SinarAy sehingga pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk visual dan verbalnya dapat terwakili dengan baik. Representasi secara visual akan digambarkan melalui tanda yang dipilih dari potongan-potongan gambar yang merupakan adegan dari film dokumenter AuAmerta NingSinarAy, dan pemaknaan akan diuraikan melalui penjelasan verbal dalam objek yang kemudian akan dipertegas secara kognisi atau logika dalam interpretasi. Analisis diskriminasi gender yang dalam penelitian ini dikaji menggunakan dengan skema Triadik Pierce sehingga mampu difungsikan sebagi media propaganda untuk memberikan edukasi dan motivasi kepada perempuan-perempuan yang mengalami konflik yang sama dengan sosok Ni Ketut Sinar. Penelitian ini dapat memberikan pemahaman bagi kaum perempuan agar lebih berani untuk memperjuangkan dan menyuarakan hak-hak yang seharusnya mereka peroleh. Pada dasarnya hak dan kewajiban perempuan di Indonesia telah diatur sesuai dengan hukum adat wilayah mereka dan hukum Negara, karena kaum perempuan juga merupakan bagian dari warga Negara yang wajib untuk dilindungi oleh Negara, sehingga diskriminasi gender tidak terjadi lagi kedepannya. METODE Sesuai dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran tentang representasi diskriminasi gender berdasarkan 4 indikator yang dikemukakan oleh CIBA . dengan kajian Semiotika Skema Triadik Pierce (Pierce dalam Piliang: 2. , maka proses yang dilakukan oleh penulis terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan awal yang diakukan oleh penulis adalah dengan melakukan pemetaan pada potongan-potongan gambar yang ada pada film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy yang memiliki kriteria yang mampu merepresentasikan diskriminasi gender dari elemen-elemen visual yang disajikan. Elemen visual yang disajikan dalam potongan-potongan gambar yang dipilih berdasarkan kedalaman pesan yang ada dalam visual, sehingga analisis indikator diskriminasi gender dapat diuraikan dengan pemaknaan yang dalam. Tahapan setelah pemilihan potongan-potongan gambar dengan elemen visual yang kuat sebagai representasi indikator diskriminasi sosial adalah tahapan menganalisis potongan gambar dengan menerapkan teori terkait yang telah dipilih penulis. Hasil analisis akan ditelaah lebih lanjut dengan kajian teori Semiotika dengan skema Triadik yang dilakukan untuk menentukan jenis Interpretasi. Tanda dan Objek yang terdapat pada potongan gambar yang sudah Analisis terkait dengan interpretasi yang nantinya akan dikaitkan dengan representasi diskriminasi gender berdasarkan dengan telaah tanda dan objek yang dihasilkan melalui tahapan analisis awal. Uraian berdasarkan analisis awal akan ditampilkan dalam bentuk tabel dengan menampilkan potongan gambar yang akan dikelompokkan menjadi tanda dan objek dengan penjelasan dalam kolom Tahapan untuk menghasilkan pemaknaan interpretasi berdasarkan tanda dan objek yang terdapat dalam potongan yang telah dipetakan sebelumnya, akan diuraikan lebih lanjut dengan penjelasan berdasarkan teori CIBA . terkait dengan representasi diskriminasi gender dengan acuan 4 indikator, yang terdiri dari Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 marjinalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda pada perempuan. 4 indikator terkait dengan representasi diskriminasi gender akan dijelaskan melalui tahapan akhir dari proses analisis dengan elemen-elemen visual yang mendukung kajian ini. Tahapan akhir dalam metode penelitian ini adalah tahapan untuk mendapatkan analisis yang akan lebih mempertegas bahwa memang benar dalam karya film dokumenter ini memiliki representasi diskriminasi gender, melalui narasumber utama yaitu Ni Ketut Sinar. HASIL DAN PEMBAHASAN Diskriminasi gender yang ditemukan dalam penelitian ini menemukan bahwa diskriminasi yang terjadi adalah diskriminasi yang dialami oleh seorang perempuan, yang bernama Ni Ketut Sinar sebagai narasumber utama dalam film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy. Secara singkat, akan dijelaskan terlebih dahulu desain produksi . ihat tabel 4. dari film dokumenter AuAmerta Ning Sinar, sehingga akan lebih mudah dipahami gambaran, nilai dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Tabel 4. Desain Produksi Film Dokumenter AuAmerta Ning SinarAy Desain Produksi Tema Judul Durasi Bahasa Gendre Segmentasi Penonton Narasumber Sinopsis Pesan Keterangan Perempuan AuAmerta Ning SinarAy Pemilihan judul menggunakan Bahasa Bali sebagai identitas karakteristik yang mengacu pada lokasi dimana film ini diproduksi, yaitu Bali. Makna dari judul yang dipilih adalah Cahaya Kehidupan, dimana kata Sinar diambil dari nama toloh utama,Ni Ketut Sinar. Sehingga dapat disimpulkan disini bahwa Ni Ketut Sinar merupakan cahaya kehidupan bagi anak-anaknya yang memerlukan perhatian yang lebih sebagai anak dengan kebutuhan 25 menit Bali dan Indonesia Dokumenter Sosial 13 Tahun keatas Terdiri dari 5 orang, yaitu: Narsum Utama (Ibu Ni Ketut Sina. Kepala Lingkungan Dinas (I Gede HendraTirtana. ST) Ketua P2TP2A Kota Denpasar (Dra. Luh Anggraini. Hum. Pakar Ilmu Hukum Adat Bali (Prof. I Wayan Pendet Windi. Ibu Fatimah . Perjuangan Ibu Nengah sebagai orangtua tunggal bagi 3 orang dengan kebutuhan khusus bukanlahhal yang mudah bagi seorang perempuan. Kondisi keluarga yang secara ekonomi sangat kurang, terlebih dengan status perkawinan yang tidak jelas, semenjak ditinggalkan suaminya, tidak membuat Ibu Nengah patah arang. Menjalankan kewajiban sebagai perempuan Bali yang telah menikah dan mempunyai anak, mengharuskan Ibu Nengahmenjalaninya seorang diri tanpa kejelasan hak yang harus dia dan anakanaknya peroleh. Keinginan memperjuangkan haknya tak pernah bisa Ia suarakan karena keterbatasannya dalam pemenuhankebutuhan hidup bagi ketiga orang anaknya. Perempuan Bali harus memahami sejauh mana hak dan kewajiban yang dimiliki dalam perannya sebagai seorang istri dan Ibu, untuk menhindari terjadinya Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 diskriminasi gender, khususnya terhadap Gambaran umum tentang film dokumenter AuAmerta Ning Sinar melalui desain produksi yang dapat dilihat pada tabel 4. 1 digunakan juga sebagai batasan dalam menguraikan hasil dan pembahasan yang disampaikan penulis. Hasil dan pembahasan akan terlebih dianalisis terkait dengan representasi 4 indikator diskriminasi gender berdasarkan CIBA . dengan kajian Semiotika Triadik, dijelaskan sebagai berikut: Indikator 1 Diskriminasi Gender pada Film Dokumenter AuAmerta Ning SinarAy dalam Marjinalisasi Tanda (T) VISUAL Objek (O) Interpretasi (I) Seorang perempuan paruh baya yang tengah memilah Seorang perempuan yang tidak barang rongsokan berupa bisa menentukan pilihannya plastic ke dalam untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik memulung botol plastic bekas. sederhana dan tempat yang Keterbatasannya dalam hal ekonomi yang dilihat dari jenis Wanita paruh baya ini pekerjaan yang digeluti sebagai tampak ditemani oleh dua Keadan ekonomi orang anak laki-lakinya yang yang sangat sederhana dan hanya bisa memandang apa yang sedang Ibu mereka kemiskinan dapat dilihat dari pakaian yang digunakan dan juga tempat tinggalnya. keterbatasan yang mereka Dua tangan meremas botol kerasnya kehidupan yang harus Dua tangan perempuan perempuan untuk menghidupi botol-botol Dua tangan yang yang kemudian meremas menunjukan bahwa ke dalam perempuan ini mampu mandiri keranjang yang juga penuh tanpa memerlukan bantuan, dengan botol-botol plastik bahkan dari suaminya sendiri. Keranjang yang Keranjang rusak tempat ia digunakan sebagai tempat untuk menampung botolmerepresentasikan botol plastik juga terlihat kehidupan yang harus ia sudah rusak. jalankan sebagai tunggal dari 3 anak dengan kebutuhan khusus VERBAL KOGNISI Proses marjinalisasi atau pemiskinan yang dapat terlihat dalam kajian diatas menunjukkan terjadinya yang merupakan proses, sikap, perilaku masyarakat termasuk anggota keluarga maupun yang menyebabkan terjadinya pemiskinan terhadap seorang perempuan, tokoh utama dalam film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy yang bernama Ni Ketut Sinar. Ni Ketut Sinar digambarkan sebagai seorang wanita yang harus berjuang secara ekonomi untuk menghidupi keluarganya dengan menjadi seorang pemulung. Elemen visual yang menunjukan terjadinya pemiskinan Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 disini dapat diamati pada jenis pekerjaan yang dipilih, tempat tinggal dan pakaian yang digunakan oleh Ni Ketut Sinar. Hal tersebut terjadi karena terjadinya pembiaran dari pihak keluarga, bahkan suaminya sendiri sehingga ia memilih pekerjaan yang samasekali tidakmemerlukan latar belakang pendidikan yang tinggi. Pemilihan jenis pekerjaan sebagai pemulung juga disebabkan oleh kondisi keluarganya ketika ia bertumbuh menjadi anak-anak yang tidalk mendapatkan kesempatan di bangku Fakta-fakta seperti itulah yang akhirnya merupakan proses, sikap dan perilaku dari orang-orang disekitar Ni Ketut Sinar yang membuatnya ada dalam kondisi yang dibuat miskin, sehingga terjadilah diskriminasi gender yang disebut dengan marjinalisasi. Indikator 2 Diskriminasi Gender pada Film Dokumenter Amerta Ning SinarAy dalam Subordinasi Tanda (T) VISUAL Objek (O) Interpretasi (I) Seorang sosialnya sebagai seorang istri dan ibu dalam kesederhanaan yang ia miliki. Penggunaan merupakan kebutuhan kekinian peralatan dalam sebuah dapur. Seorang perempuan baruh namun kesederhanaan jelas kegiatan di dapur yang tembok yang kurang terawat, sangat sederhana untuk jenis peralatan dapur lainnya yang juga terlihat sederhana namun dirawat dengan baik. kompor gas dan alat masak Pandangan bahwa tugas-tugas dilakukan oleh perempuan menunjukkan bahwa Ni Ketut Sinar seorang perempuan yang tidak haknya untuk dibantu suaminya dalam melakukan tugas-tugas dalam kerumahtanggaan. VERBAL KOGNISI Dalam film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy ini jelas menunjukkan bahwa diskriminasi gender yang juga dialami oleh Ni Ketut Sinar adalah terjadinya Ni Ketut Sinar digambarkan sebagai seorang perempuan dalam posisi subordinat yang dengan ketidakberdayaannya harus melakukan semua tanggungjawab dalam keluarga. Tanggung jawab yang ia jalankan mengharuskan ia menjalankan tugas sebagai seorang ibu sekaligus bapak bagi ketiga orang putranya yang memiliki kekurangan. Keterbatasannya dalam memperjuangkan haknya untuk dinafkahi suaminya juga membuat posisinya sebagai seorang perempuan yang suaranya bahkan tidak pernah didengarkan, dan mirisnya justru dilakukan oleh orang-orang terdekat yang seharusnya ikut bertanggungjawab atas dirinya dan anakanaknya. Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 Lemahnya posisi yang dimiliki Ni Ketut Sinar sebagai seorang istri dan juga seorang ibu dalam hal ini juga sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan stereotype yang ada dalam masyarakat di lingkungan temapt tinggalnya. Pandangan gender perempuan sebagai satu pihak yang bertanggungjawab untuk mengurusi halhal terkait kerumahtanggaan telah membelenggu Ni Ketut Sinar untuk selalu melakukan hal-hal tersebut sendiri. Dalam film ini dapt kita lihat bahwa tugas dan fungsi perempuan hanya untuk pekerjaan domestik rumah tangga, yang akhirnya menyebabkan perempuan kurang dihargai karena dianggap tidak menghasilkan. Berdiam diri di rumah dengan merawat anak-anak dengan kebutuhan khusus merupakan hal yang sangat berat yang harus dilakukan oleh Ni Ketut Sinar karena ia melakukannya seorang diri dan dilakukan dengan kesabaran yang sangat tinggi. Dalam hal inihak yang harusnya diperoleh dalam hal ekonomipun terpaksa dilakoni walaupun hanya bersumber dari penghasilannya sebagai seorang pemulung yang tidak seberapa. Pandangan stereotype terhadap fungsi dan tanggungjawab perempuan terkadang dianggap sebagi sesuatu hal yang lumrah, namun sayangnya hal inilah yang justru menyebabkan diskriminasi gender terhadap perempuan tetap ada hingga saat ini. Indikator 3 Diskriminasi Gender pada Film Dokumenter Amerta Ning SinarAy dalam Kekerasan Tanda (T) Objek (O) Seorang perempuan paruh baya yang duduk di atas kursi kayu sederhana dan diapit oleh 2 orang anak laki-lakinya, dan juga 1 orang anak laki-lakinya yang berdiri di depan perempuan itududuk. VISUAL VERBAL Interpre tasi (I) Seorang perempuan paruh baya yang harus menghidupi, membesarkan dan merawat 3 orang anak laki-laki yang memiliki kebutuhan khusus. Semua hal tersebut harus dilakukannya sendiri dalam kehidupannya yang sangat sederhana dan penelantaran dari suaminya. KOGNISI Diskriminasi gender terkait dengan kekerasan yang digambarkan dalam film AuAmerta Ning SinarAy adalah kekerasan dalam hal non fisik, dengan menganggu perempuan secara emosional yang ternyata memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan Ni Ketut Sinar. Kekerasan yang terjadi dalam hal ini merupakan kekerasan individu yang dilakukan oleh pihak keluarga sendiri yang akhirnya mempengaruhi Ni Ketut Sinar dalam prosesnya ketika mengandung ketiga putranya. Kekerasan emosional yang dialami oleh Ni Ketut Sinar berawal dari tuntutan dalam rumah tangga yang mengharuskan Ni Ketut Sinar melahirkan generasi laki-laki dalam Ni Ketut Sinar yang saat itu menikah dalam usia yang sangat muda, akhirnya juga harus mengandung dalam usia yang juga relatif sangat muda. Dengan latar belakang pendidikan yang kurang dan juga dengan usia yang kurang memenuhi standar untuk mengandung saat itu, akhirnya Ni Ketut Sinar melahirkan anak pertamanya dengan kondisi sang anak terlahir dengan kelainan otak. Hal ini tidak berhenti sampai disini, tuntutan untuk mendapatkan keturunan laki-laki yang sehat, tetap dibebankan kepada Ni Ketut Sinar, dan yang makin membuatnya harus tetap tegar adalah anak kedua dan ketiganya tetap terlahir dengan kelainan otak. Kekerasan secara psikis atau emosional yang dilakukan oleh pihak suami tanpa dipahami oleh Ni Ketut Sinar ternyata telah mempengaruhi pertumbuhan kandungannya sehingga Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 anak pertama sampai anak ketiga harus tumbuh sebagai anak dengan kebutuhan Kendatipun akhirnya, tuntutan sang suami untuk mendapatkan keturunan laki-laki yang sehat pada kelahiran anak yang keempat. Ni Ketut Sinar nyatanya tetap tidak bisa menggantungkan nasibnya pada sang suami yang justru meninggalkan dengan 3 orang anak dengan kebutuhan khusus, dan anak keempatnya yang justru tidak peduli dengannya dan juga saudara-saudaranya. Kekerasan psikis yang digambarkan dalam film dokumenter ini merepresentasikan terjadinya penelantaran, dimana membuat seorang perempuan harus berjuang sendiri dalam membesarkan anak-anak dengan kebutuhan khusus. Indikator 4 Diskriminasi Gender pada Film Dokumenter Amerta Ning SinarAy dalam Beban Ganda bagi Perempuan Tanda (T) Interpreta si (I) Seorang perempuan paruh baya yang merupakan seorang Ibu kewajibannya untuk merawat Seorang perempuan paruh dan membesarkan anak-anak Namun jika pada seorang anak laki-laki suatu kondisi dimana seorang perempuan harus melakukan sendok dan makanan yang tugas dalam rumah tangga dan diletakkan dalam mangkuk dalam waktu yang bersamaan tanggungjawab untuk bekerja maka, seorang perempuan telah dibebankan hal-hal yang seharusnya dia tidak pikul Objek (O) Seorang perempuan paruh baya yang sedangmemilah botol plastik bekas dalam sebuah keranjang, yang didampingi oleh 2 orang anak laki-lakinya VISUAL VERBAL KOGNISI Perempuan dalam film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy digambarkan sebagai sosok perempuan yang tangguh dan kuat untuk melakukan semua kewajiban dan bahkan diluar kewajiban yang seharusnya tidak dipikulnya. Indikator beban ganda yang terjadi dalam melakoni peran dan tanggungjawab dapat dilihat pada konteks dimana Ni Ketut Sinar tidak hanya melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang Ibu, namun tugas dan kewajiban yang dilakukannya adalah sekaligus sebagai seorang kepala keluarga. Ni Ketut Sinar menjalankan peran dan fungsinya sebagai Ibu dalam permasalahan yang terjadi namun masih tetap bisa menyelesaikan tugas yang seharusnya dikerjakan bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya. Sampai usia senjanya. Ni Ketut Sinar masih harus mengabdikan hidupnya untuk menjaga dan membesarkan anak-anaknya yang memiliki kebutuhan khusus, padahal seharusnya justru seharusnya anak-anaknya yang merawatnya. Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 Konteks beban ganda seperti inilah yang membentuk pikiran dari Ni Ketut Sinar bahwa hal ini bukan merupakan suatu beban yang harus dipikirkan dengan berat, karen baginya semua itu merupakan kewajiban yang memang wajib dilakukan oleh seorang Ibu. Namun hal penting yang juga harus dipahami bersama adalah batasan dalam melakukan beban ganda pada peran dan tugas seorang perempuan harus sangat jelas sehingga diskriminasi gender terkait dengan beban ganda yang harus dipikul oleh seorang perempuan. SIMPULAN Penelitian terkait dengan diskriminasi gender yang ditemukan pada film dokumenter AuAmerta Ning SinarAy menunjukkan 4 indikator yang dikemukan oleh CIBA . diperoleh melalui hasil analisis dengan menggunakan teori Semiotika Skema Triadik merujuk pada kesimpulan sebagai berikut: Marjinalisasi direpesentasikan melalui tokoh utama (Ni Ketut Sina. yang mengalami diskriminasi atas haknya sebagai manusia untuk dapat bekerja selayaknya wanita normal lainnya. Pada kenyataannya ia harus terjebak pada situasi dimana ia tidak dapat menentukan keinginannya sendiri untuk bekerja dengan layak, karena keterbatasannya yang terikat dalam statusnya sebagai seorang istri yang ditinggalkan suami, namun masih harus tetap merawat ketiga anaknya yang merupakan anak dengan kebutuhan khusus. Situasi seperti ini juga menimbulkan unsur pemiskinan yang juga menjadi masalah yang harus dihadapi oleh Ni Ketut Sinar. Elemen visual yang mendukung dapat dilihat pada gambaran tempat tinggal, jenis pekerjaan dan pakaian nyang digunakan oleh Ni Ketut Sinar dan anak-anaknya. Subdordinasi direpresentasikan melalui tokoh utama (Ni Ketut Sina. sebagai pihak yang memiliki posisi lemah atas statusnya sebagai seorang istri yang tidak mendapatkan haknya untuk dinafkahi oleh suami sahnya sendiri. Elemen visual yang mendukung dapat dilihat pada penggambaran aktivitas keseharian Ni Ketut Sinar dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai Ibu rumah tangga. Kekerasan direpresentasikan oleh adanya kekerasan secara psikis, dimana telah terjadi penelantaran terhadap Ni Ketut Sinar dan juga anak-anaknya, dimana samasekali tidak ada andil sang suami dalam membesarkan dan mengurus ketiga anak dengan kebutuhan khusus tersebut, karena faktanya Ni Ketut Sinar dan anakanaknya tinggal terpisah dengan bapak dari anak-anaknya. Elemen visual yang mendukung adalah keseharian Ni Ketut Sinar yang segala sesuatunya dikerjakan sendiri baik dalam merwatanak-anaknya maupun dalam mencukupi kebutuhan hidup keluarganya tanpa orang lain. Beban Ganda Pada Perempuan direpresentasikan dengan potongan gambar dimana Ni Ketut Sinar harus mengurus kebutuhan ketiga anaknya dengan kebutuhan khusus dan dijalankan secara bersamaan dengan upayanya untuk menghasilkan uang dengan menjadi pemulung. Hal ini tentunya merepresentasikan bahwa seorang istri dan Ibu yang harus menjalankan peran sebagai bagian dari sebuah keluarga dan juga bagian dari masyarakat yang terikat dengan aktivitas adat dan bermasyarakat. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Drs. I Komang Sudirga. Si dan Dr. Drs. I Wayan Suardana sebagai reviewer penelitian dan penciptaan yang dilakukan oleh pembimbing sehingga mampu menyelesaian tulisan ini dengan segala masukan dan saran yang diberikan. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Ibu Ni Kadek Dwiyani (DiskriminasiA) Volume 10 No. Maret 2022 Anggaraini. , selaku narasumber yang membidangi permasalahan diskriminasi terhadap perempuan, dan tidak lupa juga kepada Prof. I Wayan Windia, selaku pakar hukum adat yang telah berkenan berbagi ilmu untuk penyempurnaan tulisan ini. DAFTAR PUSTAKA