Jurnal Manajemen Bisnis dan Keuangan e-ISSN: 2716-3695 p-ISSN: 2775-1465 Vol. No. Oktober 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 51805/jmbk. Perilaku Menabung Mahasiswa Berdasarkan Literasi Keuangan. Teman Sebaya, dan Uang Saku Elisabet Yohana Kunardi1 . lisabetyohana11@gmail. Surya Setyawan2 . setyawan@eco. 1,2Program Sarjana Manajemen. Fakultas Hukum dan Bisnis Digital. Universitas Kristen Maranatha. Kota Bandung. Jawa Barat. Indonesia 40164 *Penulis Korespondensi Artikel Masuk: 3 Juni 2025 Artikel Diterima: 2 Oktober 2025 Abstract The increasing use of the internet in Indonesia is driven by the convenience that technology offers in various aspects of human life. A notable phenomenon among society, particularly university students, reveals a strong tendency toward consumptive behavior in todayAos digital era. When facing financial difficulties, saving becomes an essential strategy for achieving financial goals. This study aims to analyze the influence of financial literacy, peer influence, and allowance on the saving behavior of students in the Management and Accounting programs at Maranatha Christian University. The research employed a quantitative approach with a purposive sampling technique, involving 91 students as respondents. Data were analyzed using multiple linear regression with SPSS software. The findings indicate that peer influence, allowance, and financial literacy collectively affect studentsAo saving behavior. There is a correlation of 82. 1% between saving behavior (Y) and the three factors: financial literacy (XCA), peer influence (XCC), and allowance (XCE). These results highlight that to develop healthy saving habits, students need to possess strong financial understanding, be surrounded by a supportive peer environment, and manage their allowance wisely. Keywords: financial literacy. pocket money. saving behavior JEL Classification: D14. G53. I22 Abstrak Peningkatan penggunaan internet di Indonesia didorong oleh kemudahan yang diberikan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa, menunjukkan tingginya kecenderungan perilaku konsumtif di era digital saat Ketika menghadapi kesulitan keuangan, menabung menjadi salah satu cara penting untuk mencapai tujuan finansial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan finansial, teman sebaya, dan uang saku terhadap perilaku menabung mahasiswa Program Studi Manajemen dan A 2025. This work is licensed under a CC BY 4. 0 license Kunardi & Setyawan Akuntansi di Universitas Kristen Maranatha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling, melibatkan 91 mahasiswa sebagai responden. Analisis data dilakukan dengan regresi linier berganda menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teman sebaya, uang saku, dan literasi keuangan secara bersama-sama memengaruhi perilaku menabung mahasiswa. Terdapat korelasi sebesar 82,1% antara perilaku menabung (Y) dan ketiga faktor tersebut, yaitu literasi keuangan (XCA), teman sebaya (XCC), dan uang saku (XCE). Temuan ini menegaskan bahwa untuk mengembangkan kebiasaan menabung yang sehat, mahasiswa perlu memiliki pemahaman keuangan yang baik, lingkungan pertemanan yang positif, serta kemampuan dalam mengelola uang saku secara bijak. Kata Kunci: literasi keuangan. teman sebaya. uang saku. perilaku menabung Klasifikasi JEL: D14. G53. I22 JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan PENDAHULUAN Tabungan meningkatkan investasi, yang mendorong pembangunan ekonomi. Menurut Rikayanti & Listiadi . peningkatan perekonomian Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh pengarahan untuk perilaku menabung. Masalah dapat dipecahkan dan tujuan masa depan dapat dicapai dengan uang. Perilaku menabung berperan penting guna memaksimalkan perkembangan ekonomi negara (Suryanti et al. , 2. Kristiyanti . menyatakan bahwa tingkat tabungan yang tinggi akan mendorong investasi dan pembangunan ekonomi. Akibatnya, kapasitas menabung menjadi pendorong utama pesatnya ekspansi ekonomi. Semakin besar ekspansi ekonomi, semakin baik kondisi masyarakat dan semakin banyak uang yang mereka tabung. Fenomena yang terjadi pada masyarakat khususnya mahasiswa di zaman sekarang menunjukkan tingginya perilaku konsumtif. Perilaku tersebut ditunjukkan di saat mahasiswa memiliki pendapatan yang lebih, mereka cenderung untuk menghabiskannya dengan sesuatu yang tidak sangat dibutuhkan. Mereka beranggapan hal tersebut sebagai self-reward atau penghargaan diri untuk membeli sesuatu yang mereka impikan. Namun, perilaku tersebut justru menimbulkan masalah, yaitu kurangnya kesadaran dalam perilaku menabung. Studi ini berlandaskan Theory of Planned Behavior (TPB), yang mengembangkan Theory of Reasoned Action (TRA) dengan menambahkan konsep kontrol perilaku yang dirasakan. Dalam konteks penelitian ini, sikap terhadap perilaku menabung dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan mahasiswa, norma subjektif tercermin melalui pengaruh teman sebaya yang mendorong atau menghambat kebiasaan menabung, sedangkan kontrol perilaku yang dirasakan mencerminkan kemampuan mahasiswa mengatur uang saku mereka untuk Dengan demikian. TPB memberikan kerangka konseptual yang komprehensif untuk menjelaskan faktor internal dan eksternal yang membentuk niat menabung mahasiswa (Ammer & Aldhyani, 2. Salah satu aspek internal yang dapat memengaruhi perilaku menabung adalah tingkat literasi keuangan Sebagai permulaan, literasi keuangan diyakini sebagai faktor yang memengaruhi kecenderungan seseorang untuk menabung. Literasi adalah kemampuan untuk mengekspresikan pengetahuan seseorang melalui tindakan. Literasi keuangan merupakan kemampuan untuk mengevaluasi dan mengelola keuangan demi kesejahteraan (Rahajeng & Gultom, 2. Mahasiswa yang memahami keuangan akan membelanjakan uangnya dengan tepat. Hal ini dikarenakan mereka menyadari kebutuhannya dengan jelas. Setiap mahasiswa membutuhkan literasi keuangan untuk mengelola uangnya secara bijaksana dan mencegah terjadinya masalah. Lingkungan sosial mahasiswa merupakan elemen kedua yang dapat memengaruhi kecenderungan mereka untuk menabung. Teman sebaya didefinisikan sebagai sekelompok individu seusia yang terlibat dalam hubungan dan aktivitas timbal balik dalam lingkungan sosial (Widia et al. , 2. Sebagian orang percaya bahwa komunikasi semacam ini memengaruhi perilaku finansial Motivasi mahasiswa untuk berbuat baik dan kecenderungan mereka JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan untuk meniru kebiasaan positif teman-temannya dipengaruhi oleh kualitas kelompok pertemanan mereka. Di sisi lain, jika kelompok pertemanan seseorang buruk, maka perilaku menabung mereka menjadi lebih buruk karena gaya hidup yang mencolok dan status sosial yang mencolok yang dapat diakibatkan oleh pergaulan yang kurang bagus. Dalam penelitian ini, uang saku mahasiswa merupakan variabel ketiga yang memengaruhi perilaku menabung. Uang dari orang tua pada anak disebut uang saku (Putri & Wahjudi, 2. Semakin banyak uang saku berarti semakin banyak masalah bagi mahasiswa dalam mengatur anggaran. Hal ini karena kurangnya pengendalian diri terhadap pengeluaran mereka menyebabkan mereka menjadi boros dan tidak konsisten dengan tujuan menabung mereka. Sebaliknya, kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangannya sendiri meningkat ketika mereka mendapatkan uang saku dalam jumlah yang cukup dikarenakan individu dalam situasi ini diharapkan memiliki keterampilan pengelolaan keuangan yang Akibatnya, mereka cenderung hidup hemat dan menabung agar dapat mengatasi pengeluaran yang tidak terduga. Hendratmoko & Wardana . memperlihatkan literasi keuangan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap saving behavior sedangkan teman sebaya berpengaruh positif signifikan terhadap saving behavior pada siswa SMK Kabupaten Sukoharjo. Kinayung & Sutrisno . menemukan bahwa pengetahuan keuangan, inklusi keuangan, teman sebaya, dan uang saku di Universitas Negeri Yogyakarta memengaruhi perilaku menabung mahasiswa. Razi et al. tidak menemukan korelasi antara minat menabung dengan uang saku mahasiswa FKIP Untan. Menurut Putri & Wahjudi . , mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya tidak dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan dan teman sebayanya dalam hal menabung. Oleh karena itu, berikut ini adalah hipotesis yang telah dibentuk: H1: Literasi keuangan berpengaruh terhadap perilaku menabung. H2: Teman sebaya berpengaruh terhadap perilaku menabung. H3: Uang saku berpengaruh terhadap perilaku menabung. H4: Literasi keuangan, teman sebaya, dan uang saku secara bersamaan berpengaruh terhadap perilaku menabung. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami faktor-faktor yang memotivasi mahasiswa untuk menabung. Mahasiswa berada pada fase transisi menuju kemandirian keuangan, di mana mereka mulai belajar mengelola keuangan sendiri namun sering kali belum memiliki literasi keuangan yang memadai. Selain itu, pengaruh teman sebaya juga kerap menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan finansial. Uang saku yang diterima mahasiswa berperan besar dalam menentukan kemampuan mereka untuk menyisihkan sebagian pendapatan sebagai tabungan. Fenomena perilaku konsumtif yang tinggi di kalangan mahasiswa menjadi alasan utama penelitian ini dilakukan. Mahasiswa zaman sekarang kerap menghadapi kesulitan dalam mengatur keuangan karena berbagai alasan, antara lain kurangnya sumber pendapatan tetap, keterlambatan orang tua dalam JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan memberikan uang saku bulanan, minimnya tabungan, dan adanya pengeluaran tak terduga yang membuat mereka enggan untuk menabung. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh literasi keuangan, teman sebaya, dan uang saku terhadap perilaku menabung mahasiswa program studi Manajemen dan Akuntansi di Universitas Kristen Maranatha. METODE PENELITIAN Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian (Sumber: Pribad. Tabel 1 di atas adalah kerangka pemikiran dalam penelitian ini. Penelitian memakai penelitian kuantitatif. Peneliti akan menguji teori menggunakan data statistik dengan jumlah populasi sebanyak 969 orang mahasiswa tingkat sarjana dari program Sarjana Manajemen dan Sarjana Akuntansi di Universitas Kristen Maranatha jurusan Hukum dan Bisnis Digital pada semester ganjil tahun 2024. Rumus pengambilan sampel Slovin menghasilkan 91 siswa. Pengambilan sampel secara sengaja digunakan untuk memilih responden penelitian ini, termasuk mereka yang telah menyelesaikan mata kuliah manajemen keuangan. Survei Google Forms responden menyediakan data utama untuk penelitian ini. Respon terhadap item tentang literasi keuangan, teman maupun uang saku yang memengaruhi perilaku menabung berkisar antara 1 . angat tidak setuj. sampai 6 . angat setuj. , hal ini dilakukan untuk menghindari jawaban netral. Data dianalisis memakai SPSS. Berikut merupakan tabel dari butir-butir kuisioner: JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan Tabel 1. Kuesioner Variabel LK1 LK2 Literasi Keuangan (X. LK3 LK4 LK5 TS1 TS2 Teman Sebaya (X. TS3 US1 US2 Uang Saku (X. US3 US4 US5 PM1 PM2 Perilaku Menabung (Y) PM3 PM4 PM5 Pertanyaan Kuesioner Saya berpemahaman baik tentang cara mengelola keuangan pribadi Saya memahami cara yang tepat dalam mengelola kredit secara bertanggung jawab Saya mampu mencatat pemasukan dan pengeluaran sebagai pengelolaan keuangan pribadi saya Saya memiliki keterampilan yang baik dalam mengelola keuangan pribadi Saya mampu menyusun anggaran keuangan Saya selalu mengisi waktu luang dengan berinteraksi bersama teman-teman Saya selalu berpartisipasi dalam aktivitas teman-teman pengeluaran uang Berdasarkan pengamatan saya, beberapa teman saya memiliki kebiasaan menabung secara rutin di rekening tabungan Saya selalu berdiskusi dengan teman-teman tentang pengelolaan keuangan, terutama mengenai kebiasaan menabung Saya selalu membandingkan seberapa banyak tabungan dan jumlah pengeluaran saya dengan teman teman saya Saya biasa menyisihkan uang saku untuk Saya menyusun rencana keuangan untuk masa depan dan berkomitmen untuk menjalankannya Uang saku yang saya terima selalu cukup untuk kebutuhan saya Saya biasa menyisihkan uang saku untuk keperluan darurat Saya selalu berusaha mengelola uang saku saya secara efisien Saya selalu menabung sesuai dengan anggaran yang telah direncanakan Saya biasanya menabung untuk kebutuhan di masa depan Saya berusaha mengurangi pengeluaran untuk menghemat uang Saya menabung untuk memenuhi keperluan finansial saya Setiap kali menerima pemasukan, saya selalu menyisihkan sebagian uang yang saya terima untuk ditabung Sumber (Hartono & Isbanah, 2. (Mpaata et al. , 2. (Hartono & Isbanah, 2. (Mpaata et al. , 2. (Hartono & Isbanah, 2. (Mpaata et al. , 2. (Hartono & Isbanah, 2. (Mpaata et al. , 2. (Mpaata et al. , 2. (Alshebami & Aldhyani, 2. (Ling, 2. (Alshebami & Aldhyani, 2. (Ling, 2. (Alshebami & Aldhyani, 2. (Ling, 2. (Alshebami & Aldhyani, 2. (Ling, 2. (Alshebami & Aldhyani, 2. (Ling, 2. (Assah & Nurlailah, 2. (Alfilail & Vhalery, 2. (Assah & Nurlailah, 2. (Assah & Nurlailah, 2. (Assah & Nurlailah, 2. (Alfilail & Vhalery, 2. (Alfilail & Vhalery, 2. (Mpaata et al. , 2. (Ammer & Aldhyani, 2. (Mpaata et al. , 2. (Ammer & Aldhyani, 2. (Mpaata et al. , 2. (Ammer & Aldhyani, 2. (Ammer & Aldhyani, 2. (Mpaata et al. , 2. (Ammer & Aldhyani, 2. Tabel 1 di atas berisi informasi tentang butir-butir kuesioner yang digunakan dan sumber dari kuesioner tersebut. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti terlebih dahulu melakukan serangkaian uji kualitas data untuk memastikan bahwa data yang digunakan akurat dan andal sebelum beralih ke tahap analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil statistik deskriptif yang diperoleh dari 105 responden dalam penelitian ini, diperoleh data sebagai berikut: Hasil Statistik Deskriptif Variabel Jenis Kelamin Usia Tahun Angkatan Program Studi Sumber Pendapatan Pendapatan per Bulan Tabel 2. Hasil Statistik Deskriptif Kategori Frekuensi . Perempuan Laki-laki < 18 tahun 19Ae21 tahun 22Ae24 tahun > 25 tahun 2020 dan sebelumnya Manajemen Akuntansi Uang saku dari orang tua/wali Pekerjaan part-time Wirausaha Pekerjaan penuh waktu Freelance Magang Fee kegiatan tari Trading futures market Asisten laboratorium akuntansi < Rp500. Rp500. 000-Rp1. Rp1. 000-Rp3. Rp3. 000-Rp5. > Rp5. Persentase (%) Berdasarkan hasil statistik deskriptif pada tabel 2 di atas, dari 105 partisipan, mayoritas responden ialah perempuan, berada rentang usia 19-21 tahun, dan berasal dari angkatan 2022. Sebagian besar responden menempuh pendidikan pada program studi Manajemen serta mengandalkan uang saku dari orang tua atau wali sebagai sumber pendapatan utama. Adapun pendapatan bulanan yang paling umum berada pada kisaran Rp500. 000 hingga Rp1. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan Hasil Uji Validitas Variabel Financial Literacy (X. Teman Sebaya (X. Uang Saku (X. Perilaku Menabung (Y) Tabel 3. Hasil Uji Validitas Pearson Item r-tabel Pertanyaan Correlation 0,802 0,1918 0,625 0,1918 0,823 0,1918 0,775 0,1918 0,853 0,1918 0,635 0,1918 0,749 0,1918 0,761 0,1918 0,778 0,1918 0,687 0,1918 0,803 0,1918 0,814 0,1918 0,797 0,1918 0,791 0,1918 0,767 0,1918 0,842 0,1918 0,781 0,1918 0,707 0,1918 0,772 0,1918 0,834 0,1918 Nilai Sig. Keterangan 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Dalam uji Pearson Product Moment pada Tabel 3 di atas, item survei dinyatakan valid jika tingkat signifikansinya lebih dari 0,1918. Tabel ini menampilkan hasil uji validitas untuk setiap variabel. Berdasarkan tabel hasil uji validitas, semua kategori, yaitu literasi keuangan, teman sebaya, uang saku, dan perilaku menabung, dinyatakan valid. Untuk dapat melanjutkan ke tahap analisis, setiap item kuesioner harus memiliki nilai r-hitung > r-tabel dan tingkat signifikansi < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa seluruh item kuesioner dinyatakan valid. Hasil Uji Reliabilitas Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas CronbachAos Alpha Variabel Financial Literacy (X. 0,830 Teman Sebaya (X. 0,761 Uang Saku (X. 0,852 Perilaku Menabung (Y) 0,848 Kesimpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Tabel 4 di atas menunjukkan hasil uji reliabilitas. Dapat dipastikan bahwa butir kuesioner untuk literasi keuangan, teman sebaya, uang saku, dan perilaku menabung bersifat reliabel. Setiap variabel memiliki nilai CronbachAos alpha yang lebih besar daripada 0,6. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh item pertanyaan dinyatakan reliabel. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan Hasil Uji Asumsi Klasik Hasil pengujian asumsi klasik menunjukkan bahwa data penelitian layak untuk dianalisis menggunakan regresi. Uji normalitas dengan metode KolmogorovAeSmirnov menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,20 yang lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data residual terdistribusi normal. Selanjutnya, hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa variabel literasi keuangan memiliki nilai tolerance 0,546 dan VIF 1,831. variabel teman sebaya memiliki nilai tolerance 0,905 dan VIF 1,105. sedangkan variabel uang saku memiliki nilai tolerance 0,561 dan VIF 1,783. Seluruh nilai tolerance lebih besar dari 0,10 dan VIF lebih kecil dari 10, yang menandakan tidak terdapat masalah multikolinearitas dalam model. Selain itu, hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa variabel literasi keuangan memiliki nilai signifikansi 0,165, teman sebaya 0,732, dan uang saku 0,827. Semuanya lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat gejala heteroskedastisitas. Dengan demikian, seluruh asumsi klasik terpenuhi dan model regresi yang digunakan dianggap sesuai. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Variabel Dependen Perilaku Menabung (Y) Tabel 5. Analisis Regresi Linier Berganda Koefisien Regresi Variabel Independen t-hitung (Unstandardize. Konstanta -0,750 -0,616 Financial Literacy (X. 0,259 4,344 Teman Sebaya (X. 0,093 2,072 Uang Saku (X. 0,676 12,333 Signifikansi 0,540 0,001 0,041 0,001 Tabel 5 di atas adalah hasil analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil tersebut, maka rumus model regresi linear berganda adalah sebagai berikut: ycU = Oe0,750 0,259ycU1 0,093ycU2 0,676ycU3 . Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa seluruh variabel independen berpengaruh positif terhadap perilaku menabung. Variabel literasi keuangan (X. memiliki koefisien sebesar 0,259, yang berarti peningkatan literasi keuangan sebesar 1% akan meningkatkan perilaku menabung sebesar 0,259 poin, dengan asumsi variabel lain tetap konstan. Sebaliknya, penurunan literasi keuangan sebesar 1% akan menurunkan perilaku menabung sebesar 0,259 poin. Variabel teman sebaya (X. memiliki koefisien sebesar 0,093, yang menunjukkan bahwa meningkatnya pengaruh teman sebaya sebesar 1% akan meningkatkan perilaku menabung sebesar 0,093 poin, sedangkan penurunan pengaruh teman sebaya sebesar 1% akan mengurangi perilaku menabung sebesar 0,093 poin. Sementara itu, variabel uang saku (X. memiliki koefisien terbesar yaitu 0,676, yang mengindikasikan bahwa peningkatan uang saku sebesar 1% akan mendorong peningkatan perilaku menabung sebesar 0,676 poin, dan penurunan uang saku sebesar 1% akan menurunkan perilaku menabung sebesar 0,676 poin. Temuan ini JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan menunjukkan bahwa di antara ketiga variabel tersebut, uang saku memiliki pengaruh paling dominan terhadap perilaku menabung. Tabel 6. Hasil Koefisien Determinasi Variabel Dependen Variabel Independen Financial Literacy (X. Perilaku Menabung (Y) Teman Sebaya (X. Uang Saku (X. R-Squared 0,821 Tabel 6 di atas merupakan hasil uji koefisien determinasi. Nilai koefisien determinasi (R-square. adalah 0,821. Hal ini menunjukkan bahwa variabel X1 . iterasi keuanga. X2 . eman sebay. , dan X3 . ang sak. secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 82,1% terhadap variabel dependen Y . erilaku Sementara itu, sisanya sebesar 17,9% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan finansial berpengaruh terhadap perilaku menabung. Menurut theory of planned behavior (TPB), elemen informasi seperti pendidikan, riwayat pekerjaan, dan asupan media dapat memengaruhi perilaku seseorang. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh terbesar terhadap tabungan adalah pengetahuan finansial. Akibatnya, individu dengan tingkat literasi keuangan yang tinggi cenderung memiliki perilaku menabung yang lebih baik. Agsania & Wahjudi . mengidentifikasi indikator literasi keuangan mencakup pengetahuan keuangan pribadi, pengetahuan tentang tabungan dan deposito, pengetahuan asuransi, serta pengetahuan investasi. Rikayanti & Listiadi . menemukan bahwa literasi keuangan berpengaruh terhadap kebiasaan menabung. Temuan serupa disampaikan oleh Alfius & Ivada . yang menunjukkan bahwa mahasiswa akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya lebih cenderung menabung apabila memahami keuangan pribadi. Hasil ini bertolak belakang dengan temuan Widia et al. yang menyatakan bahwa literasi keuangan tidak berpengaruh terhadap kebiasaan menabung Generasi Non-Tunai di Kota Semarang. Penelitian ini menunjukkan hubungan signifikan antara perilaku menabung dengan pengaruh teman sebaya. Hal ini mendukung gagasan yang menyatakan bahwa lingkungan individu dapat secara langsung memengaruhi perilaku. Pertemanan dapat memengaruhi perilaku pembelian, rasio pendapatan terhadap pengeluaran, pola waktu luang, dan kebiasaan menabung (Kristiyanti, 2. Teman sebaya didefinisikan sebagai hubungan dan interaksi antara kelompok individu yang seusia (Rikayanti & Listiadi, 2. Kecenderungan seseorang untuk menabung diyakini dipengaruhi oleh cara mereka berinteraksi dengan teman Karena mahasiswa masih berada pada fase remaja, mereka banyak menghabiskan waktu bersama teman sebayanya. akibatnya, percakapan dan aktivitas bersama teman sebaya menjadi lebih intens dan dapat memengaruhi cara mereka mengelola uang (Putri & Wahjudi, 2. Temuan ini konsisten dengan penelitian Rikayanti & Listiadi . yang menunjukkan bahwa perilaku menabung dipengaruhi oleh teman sebaya. Hasil serupa ditunjukkan oleh penelitian Suryanti et al. di Universitas Pelita Bangsa yang menyatakan JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan bahwa pengaruh teman sebaya berdampak positif terhadap perilaku menabung. Dengan demikian, berada di lingkungan pertemanan yang baik mendorong perilaku menabung yang positif, dan sebaliknya. Hasil ini berbeda dengan temuan Kristiyanti . yang menyatakan bahwa mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Surabaya tidak termotivasi oleh teman sebaya untuk menabung. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa uang saku memengaruhi kebiasaan menabung. Hasil ini sejalan dengan TPB yang menyatakan bahwa individu memerlukan perencanaan yang matang untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya agar dapat memenuhi kebutuhan dasar. Bagi mahasiswa, uang saku biasanya berasal dari kombinasi pemberian orang tua, pendapatan kerja paruh waktu, atau beasiswa (Putri & Wahjudi, 2. Dalam penelitian ini, sebagian besar pendapatan mahasiswa diperoleh dari penghasilan orang tua, beasiswa, atau pekerjaan sambilan. Semakin besar jumlah uang saku yang diterima, semakin besar pula kecenderungan mahasiswa untuk menabung (Kinayung & Sutrisno, 2. Hal ini menunjukkan adanya hubungan positif antara jumlah uang saku dengan perilaku menabung. Diharapkan mahasiswa dengan uang saku yang memadai dapat lebih terampil mengelola keuangan, membuat anggaran realistis, dan menyisihkan sebagian untuk tabungan. Hasil penelitian ini menguatkan temuan Zulaika & Listiadi . yang menyatakan bahwa mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Sebelas Maret dipengaruhi secara signifikan dan positif oleh variabel uang saku terhadap perilaku menabung mereka. Kinayung & Sutrisno . juga menemukan bahwa uang saku secara signifikan memperbaiki perilaku menabung mahasiswa. Sebaliknya, penelitian Hendratmoko & Wardana . menunjukkan bahwa minat menabung siswa SMA Bala Keselamatan Kalawara tidak dipengaruhi secara signifikan oleh uang saku, kemungkinan karena jumlah uang saku mereka masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sebagian besar masih bergantung pada pemberian orang tua. Kemampuan mahasiswa dalam mengelola uang secara efektif sangat dipengaruhi oleh jumlah uang saku yang mereka miliki. Dengan pengelolaan yang baik, uang saku dapat disisihkan untuk tujuan menabung. Sebagian besar mahasiswa menganggap menabung sebagai sesuatu yang dapat dilakukan apabila memiliki uang saku lebih, sehingga besaran uang saku menjadi faktor penting. Oleh karena itu, keterampilan mengatur uang saku penting dalam meningkatkan kemampuan menabung untuk tujuan yang lebih bermanfaat di masa depan. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku menabung mahasiswa dipengaruhi secara signifikan oleh literasi keuangan, pengaruh teman sebaya, serta kecukupan dan pengelolaan uang saku. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi pendidikan keuangan di perguruan tinggi untuk meningkatkan literasi keuangan mahasiswa sejak dini. Selain itu, diperlukan upaya untuk membentuk lingkungan pertemanan yang mendukung kebiasaan menabung, serta pelatihan pengelolaan uang saku secara disiplin. JMBK. Vol. No. Oktober 2025 Kunardi & Setyawan Perguruan tinggi disarankan untuk mengembangkan program edukasi keuangan dan membentuk komunitas mahasiswa yang berfokus pada peningkatan literasi finansial dan praktik menabung yang sehat. Untuk mendorong kebiasaan menabung yang baik di kalangan mahasiswa, diperlukan literasi keuangan yang memadai, lingkungan pertemanan yang positif, serta kemampuan pengelolaan uang saku yang bijaksana. Lembaga pendidikan diharapkan dapat berkontribusi melalui penyediaan pendidikan keuangan yang efektif dan penguatan komunitas mahasiswa yang memiliki kesadaran akan pentingnya menabung. DAFTAR PUSTAKA