Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 Menyelisik Implementasi Slogan Sepintu Sedulang dalam Kultur Sekolah: Studi Etnografi Pajrul Iman1. Herwin2 Universitas Negeri Yogyakarta. Indonesia 2024@student. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya integrasi kearifan lokal dalam kultur sekolah sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter yang kontekstual. Slogan AuSepintu SedulangAy merepresentasikan nilai gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan dalam masyarakat Bangka yang relevan untuk diinternalisasikan dalam lingkungan pendidikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai-nilai slogan AuSepintu SedulangAy dalam kultur sekolah di SD Muhammadiyah Sungailiat. Bangka Belitung. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kepala sekolah, guru, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai AuSepintu SedulangAy belum terintegrasi secara formal dalam kurikulum, namun telah terinternalisasi melalui tiga temuan utama, yaitu: . pembiasaan makan bersama sebagai simbol kesetaraan dan kohesi sosial, . integrasi budaya lokal dalam kegiatan tematik sebagai media transmisi nilai, dan . praktik kerja sama antarwarga sekolah sebagai manifestasi gotong royong. Selain itu, kepemimpinan kepala sekolah berperan strategis dalam membangun iklim sekolah yang inklusif, sementara dukungan orang tua dan masyarakat berkontribusi terhadap keberlanjutan nilai budaya tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa slogan AuSepintu SedulangAy berfungsi sebagai instrumen kultural dalam pembentukan karakter siswa meskipun masih bersifat praksis dan belum terstruktur dalam dokumen kurikuler, sehingga diperlukan integrasi sistematis nilai budaya lokal ke dalam kurikulum untuk memperkuat relevansi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Kata kunci: Etnografi. Kultur Sekolah. Kearifan Lokal. Pendidikan Karakter. Sepintu Sedulang. Pendahuluan Sekolah memiliki peran strategis tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter dan internalisasi nilai budaya (Suyatno et al. , 2. Dalam perspektif pendidikan berbasis budaya, sekolah berfungsi sebagai ruang reproduksi nilai sosial yang membentuk cara pandang, sikap, dan perilaku peserta didik (Efendi et al. , 2. Oleh karena itu integrasi nilai budaya lokal dalam kultur sekolah menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun pendidikan yang kontekstual dan relevan dengan realitas sosial peserta didik (Wulandari, 2. Slogan AuSepintu SedulangAy merepresentasikan falsafah hidup masyarakat yang menekankan kebersamaan, gotong royong, dan keharmonisan sosial (Hidayat et al. , 2. Nilainilai tersebut relevan dengan tujuan pendidikan karakter yang mengedepankan solidaritas, toleransi, dan kerja sama sosial di lingkungan sekolah (Lestari & Nugroho, 2. Dengan menjadikan AuSepintu SedulangAy sebagai landasan kultur sekolah, pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan kognitif, tetapi juga kesadaran sosial dan identitas budaya peserta didik. Namun secara empiris, implementasi nilai AuSepintu SedulangAy dalam kultur sekolah belum sepenuhnya berjalan optimal. Sejumlah sekolah masih menunjukkan lemahnya praktik https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 kebersamaan, rendahnya kepedulian sosial, serta kecenderungan relasi yang individualistik di kalangan siswa (Setiawan & Raharjo, 2. Studi terdahulu juga mencatat rendahnya internalisasi nilai budaya lokal dalam praktik pembelajaran sehari-hari, yang berujung pada minimnya kesadaran peserta didik terhadap makna kebersamaan dan tanggung jawab sosial (Handayani et al. , 2018. Yulianti & Suryadi, 2. Permasalahan lain terletak pada lemahnya integrasi slogan AuSepintu SedulangAy dalam kebijakan sekolah dan dokumen kurikuler. Meskipun terdapat program pendidikan karakter, implementasinya kerap bersifat seremonial dan belum menyentuh aspek praksis yang berkelanjutan (Astuti, 2020. Sari & Wijaya, 2. Selain itu, belum tersedia model implementasi yang secara khusus mengarahkan internalisasi nilai AuSepintu SedulangAy dalam kultur sekolah, sehingga nilai tersebut lebih tampil sebagai simbol daripada praktik pedagogis (Fauzan & Nurdin. Herman, 2. Secara akademik, penelitian tentang AuSepintu SedulangAy masih didominasi kajian sosialbudaya masyarakat, sementara kajian implementatif dalam konteks pendidikan formal relatif terbatas (Wijaya & Pratama, 2. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pendekatan etnografi untuk mengkaji bagaimana slogan budaya lokal diinternalisasikan dalam kultur sekolah dasar, mencakup praktik simbolik, relasi sosial, serta peran kepemimpinan sekolah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memperkaya literatur pendidikan berbasis kearifan lokal sekaligus merekomendasikan strategi integrasi nilai budaya dalam kebijakan dan praktik sekolah yang lebih kontekstual (Kusuma & Adi, 2019. Santoso & Yulianti, 2. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi untuk memahami secara mendalam implementasi nilai slogan AuSepintu SedulangAy dalam kultur sekolah. Metode etnografi dipilih karena memungkinkan eksplorasi makna, praktik sosial, serta simbol budaya yang hidup dalam keseharian warga sekolah. Etnografi dalam penelitian pendidikan berakar dari tradisi sosiologi dan antropologi yang menekankan pemahaman kontekstual terhadap perilaku dan interaksi sosial dalam lingkungan alami (Salam & Munir, 2. Pemilihan informan dilakukan secara purposif, dengan pertimbangan keterlibatan langsung informan dalam pembentukan dan pelaksanaan kultur sekolah. Informan utama terdiri atas satu kepala sekolah, lima guru, dan enam siswa yang dipilih berdasarkan kriteria: . keterlibatan aktif dalam kegiatan sekolah, . pemahaman terhadap budaya sekolah, dan . kesediaan memberikan informasi secara terbuka. Jumlah informan bersifat fleksibel dan berkembang sesuai kebutuhan data hingga mencapai titik jenuh informasi . ata saturatio. Observasi dilakukan secara partisipatif moderat selama kurang lebih tiga bulan di lingkungan SD Muhammadiyah Sungailiat. Observasi difokuskan pada kegiatan rutin dan insidental yang merepresentasikan nilai AuSepintu SedulangAy, seperti kegiatan makan bersama, kerja bakti sekolah, kegiatan budaya, serta interaksi sosial antarwarga sekolah di dalam dan luar Lokasi observasi mencakup ruang kelas, halaman sekolah, ruang guru, dan area kegiatan Data observasi dicatat dalam catatan lapangan . ield note. yang memuat deskripsi peristiwa, aktor, serta konteks sosial budaya. Teknik pengumpulan data lainnya meliputi wawancara tidak terstruktur yang dilakukan secara fleksibel dan mendalam, serta studi dokumentasi terhadap arsip sekolah, program kegiatan, dan dokumen kebijakan internal sekolah. Wawancara dilakukan dalam suasana informal untuk mendorong keterbukaan informan dan menggali makna subjektif terhadap praktik budaya sekolah (Hamid & Prasetyowati, 2. Keabsahan data dijamin melalui beberapa teknik, yaitu triangulasi sumber . epala sekolah, guru, sisw. , triangulasi teknik . bservasi, wawancara, dokumentas. , member check kepada https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 informan untuk memastikan akurasi interpretasi peneliti, serta audit trail berupa dokumentasi proses penelitian secara sistematis. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas temuan penelitian. Hasil Dalam cangkupan bahasan slogan daerah sepintu sedulang, peneliti memilih SD Muhammadiyah Sungailiat yang bertempat pada Jl. Batin Tikal No. Sungailiat. Sungai Liat. Kabupaten Bangka. Kepulauan Bangka Belitung 33215, pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada kultur budaya daearah serta pada praktik implementasi pemaknaan slogan daerah sepintu sedulang disekolah dengan hasil sebagai berikut: Pemaknaan Slogan Sepintu Sedulang Tabel 1. Pemaknaan Slogan Sub Respond Indikator Jadi Sepintu Sedulang ini memang slogan dari Peran kabupaten Bangka, jadi kita sebagai masyarakat Sekolah Ya untuk slogan sepintu sedulang ini, setiap warga Memahami sekolah itu harus tau, anak anak juga sudah kami arti harfiah sampaikan terkait budaya maupun slogan sepintu sedulang ini yang ada dikabupaten Bangka, seperti yang sudah saya sampaikan di awal tadi. Seperti yang kami sampaikan tadi, kalau sesuai Nilai fungsinya maka sangat positif, karena makna dari Filosopis sepintu sedulang ada budaya gotong royongnya, kemudian kerjasamanya, silaturahimnya, dan selagi manfaatnya itu baik, maka akan sangat bagus. Sepintu sedulang iu artinya satu rumah satu dulang Secara umum yang kami tau dan yang kami tau dari Asal Usul sejarahnya dari leluhur kita mengatakan sepintu Slogan sedulang ini bagian dari gotong royong masyarakat bangka untuk membantu dari pada masyarakat Bangka dan dan di luar kabupaten Bangka. Dalam teknisnya satu rumah itu menghidangkan makanan dalam wadah yang disebut dulang. Tentunya kami masyarakat Bangka yaa terkhusus di Identitas SD Muhammadiyah ya kita bangga, karena slogan Budaya sepintu sedulang ini sudah sampai ke nasional. Sebab yang namanya budaya ya harus kita angkat, perkenalkan, dan kita teruskan ke generasi kita sesuai dengan fungsi dan manfaat yang https://jurnaldidaktika. Hasil Verifikasi Sekolah utama penyampaian makna slogan kepada siswa dan warga Slogan sebagai Ausatu rumah satu dulangAy. Mengandung gotong royong, kerja sama, dan silaturahmi. Dipahami Bangka. Muncul rasa bangga Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 (Penegasan Responde. Menurut saya ee kegiatan ini tuh bagus kan karena melambangkan goyong royong, kesatuan, silaturahmi dan solidaritas di masyrakat Tanggung Jawab Kultural Warga merasa bertanggung Dari Tabel 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah memegang peran strategis sebagai mediator budaya dalam menyampaikan makna slogan Sepintu Sedulang kepada seluruh warga sekolah. Berdasarkan wawancara dengan informan, slogan ini dipahami sebagai identitas resmi Kabupaten Bangka yang wajib diketahui oleh siswa dan seluruh civitas sekolah. Sekolah secara sadar menempatkan dirinya sebagai penghubung antara nilai budaya daerah dengan dunia pendidikan dengan cara mensosialisasikan slogan tersebut dalam interaksi sehari-hari, baik melalui penyampaian langsung di kelas maupun dalam kegiatan sosial sekolah. Temuan ini mengindikasikan bahwa sekolah tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga bertindak sebagai institusi kultural dalam pelestarian nilai lokal. Pada aspek pemahaman makna, warga sekolah memahami arti harfiah slogan Sepintu Sedulang sebagai Ausatu rumah satu dulangAy. Pemaknaan ini tidak berhenti pada dimensi linguistik, tetapi berkembang menjadi pemahaman simbolik yang merepresentasikan kebersamaan dalam kehidupan sosial. Slogan dipandang sebagai simbol solidaritas yang mencerminkan kebiasaan berbagi dan makan bersama dalam satu wadah sebagai wujud dari nilai persatuan. Hal ini menunjukkan bahwa slogan telah mengalami proses internalisasi makna dalam kesadaran warga sekolah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa slogan Sepintu Sedulang dipahami sebagai warisan budaya leluhur masyarakat Bangka. Warga sekolah menyadari bahwa slogan ini lahir dari praktik sosial masyarakat masa lalu yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi menyajikan makanan dalam satu dulang dipahami sebagai ekspresi historis dari solidaritas sosial yang masih relevan hingga saat Pemahaman terhadap aspek historis ini memperkuat dimensi kultural slogan sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat Bangka. Secara nilai filosofis, slogan Sepintu Sedulang mengandung prinsip gotong royong, kerja sama, dan silaturahmi yang menjadi fondasi moral warga sekolah dalam berinteraksi. Informan menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut bukan hanya dipahami secara teoritis, tetapi diyakini sebagai panduan perilaku dalam kehidupan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa slogan telah membentuk kerangka nilai . alue framewor. yang mengarahkan sikap sosial warga sekolah. Hasil penelitian memperlihatkan munculnya rasa bangga yang kuat terhadap slogan Sepintu Sedulang sebagai simbol identitas lokal. Kebanggaan ini semakin menguat karena slogan tersebut telah dikenal secara nasional, sehingga memotivasi warga sekolah untuk turut Rasa bangga ini berimplikasi pada munculnya kesadaran kultural, di mana warga sekolah merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Tanggung jawab ini terwujud dalam upaya mengenalkan budaya daerah kepada siswa serta menanamkan pentingnya menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi. Implementasi Nilai dalam Rutinitas Sekolah Tabel 2. Pengintegralisasian Respond Sub Indikator Hasil Verifikasi Mungkin banyak ya, dengan sepintu Penerapan Nilai Nilai gotong royong dan sedulang ini, contoh ada teman kita yang dalam Praktik silaturahmi pura bakti, salah satunya ada kepala Sehari - Hari melalui kegiatan nganggung https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 dinas, ada kepala sekolah, itu yang sudah purna bakti, maka kita akan mengadakan nganggung, itu salah satu cara menjalin silahturahmi yang baik Untuk kearifan local, kita disekolah ini belum sampai kesana, untuk P5 kita belum mengambil kearifan local, tapi saya disampaikan dikelas tetap kita sampaikan budaya budaya dikabupaten Bangka khususnya kepada anak anak kami tentang permainan tradisional, seperti caklingking, itu yang kami perkenalkan kepada anak anak kami. Kalau dikelas V memang ada meterinya atau pelajarannya sejarah warisan budaya di BAB VII nah itu ada sejarah benda dan sejarah tak benda di kabupaten Bangka yang kita pelajari dan dikaitkan tentang sepintu sedulang, terus makna sepintu sedulang ini kan gotong royong atau kerjasama, siswa juga di pelajaran PPKN itu pernah juga praktik gotong royong seluruh warga sekolah. nah kemudian kerjasama kami juga biasanya disekolah pun makan sehat setiap hari jumat, makan dikelas sebulan sekali dan bisa juga sebulan dua kali dilapangan biasanya. Terus dengan sepintu sedulang ini kita ketahui kan bisa menjalin persatuan dan silaturahmi ya, kalau anak anak ini diajarkan untuk saling toleransi di sekolah maupun dirumahnya. Pernah lah, seperti pembelajaran materi warisan budaya. untuk warga sekolah purna Pembiasaan Karakter Sosial Kearifan lokal belum menjadi tema formal P5, namun Bangka pembelajaran kelas. Integrasi dalam Materi Pembelajaran Bangka dan makna slogan dikaitkan dalam pelajaran IPS dan PPKn. Kontekstualisasi Nilai Nilai persatuan diterapkan melalui makan bersama dan kegiatan gotong royong sekolah. Penguatan Nilai Lokal Slogan pembelajaran tentang warisan budaya benda dan tak benda. Ya tentunya benar, slogan ini kita tetap Keterkaitan Sekolah mensosialisasikan kepada masyarakat dengan Budaya slogan Sepintu Sedulang agar supaya tidak terjadi kesalahpahaman Lokal tidak terjadi kesalahpahaman terutama di budaya nganggung terhadap budaya nganggung. Kalau misalkan ada tamu, kita ngadain Pelestarian Siswa menyambut tamu kegiatan lomba disekolah, nah kan ada Budaya dengan lagu daerah dan tamu tuuh, ada yang nyanyi gitukan untuk lomba budaya sebagai bentuk nyambutnya dengan lagu daerah. aktualisasi nilai lokal. Dalam Table 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam slogan Sepintu Sedulang telah diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, khususnya melalui kegiatan sosial yang mencerminkan semangat gotong royong dan https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 Salah satu bentuk implementasi yang menonjol adalah kegiatan nganggung yang dilaksanakan untuk menghormati warga sekolah yang telah purna bakti. Kegiatan ini berfungsi sebagai media penguatan solidaritas sosial, sekaligus menanamkan nilai penghargaan dan kebersamaan kepada warga sekolah dan peserta didik. Meskipun kearifan lokal belum dijadikan sebagai tema utama dalam program P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasil. , nilai-nilai budaya daerah tetap terintegrasi dalam pembelajaran kelas. Siswa diperkenalkan pada budaya lokal Bangka, termasuk permainan tradisional seperti caklingking, yang berfungsi sebagai sarana pengenalan identitas budaya sejak dini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun belum diformalkan dalam kebijakan kurikulum sekolah, internalisasi nilai budaya tetap berlangsung secara Integrasi nilai Sepintu Sedulang juga terlihat dalam proses pembelajaran formal, khususnya pada mata pelajaran IPS dan PPKn. Materi tentang sejarah warisan budaya benda dan tak benda Bangka dikaitkan dengan nilai gotong royong dan kerja sama yang terkandung dalam slogan tersebut. Selain itu, siswa juga dilibatkan dalam praktik gotong royong lintas warga sekolah, yang memperkuat pemahaman mereka bahwa nilai budaya tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai pedoman perilaku sosial. Nilai persatuan dan kerja sama diwujudkan melalui kegiatan makan bersama, baik di kelas maupun di lingkungan sekolah secara Kegiatan ini menjadi media pembelajaran sosial yang efektif untuk menumbuhkan sikap toleransi, berbagi, serta rasa kebersamaan di antara siswa. Pembiasaan ini menjadi cerminan konkret dari makna Sepintu Sedulang yang menekankan kesederhanaan, kesetaraan, dan keharmonisan relasi sosial. Selain di internal sekolah implementasi slogan juga meluas ke ranah sosialisasi eksternal. Sekolah secara aktif mensosialisasikan makna Sepintu Sedulang kepada masyarakat untuk mencegah kesalahpahaman terhadap budaya nganggung. Aktivitas pelestarian budaya juga ditunjukkan melalui penyambutan tamu dengan lagu daerah serta penyelenggaraan lomba budaya. Praktik ini mempertegas bahwa sekolah tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai agen transmisi budaya lokal yang aktif. Dukungan Komunitas Sekolah Tabel 3. Dukungan Respond Ya kalau dari daerah, kalau itu yang biasa datang kesekolah datang dari pengawasnya yang menyampaikan ke sekolah, biasanya dalam bentuk kegiatan langsung, conthnya seperti beberapa yang lalu yang telah kami laksanakan ada pengawas yang purna bakti, kemudian ada dari kepala bidang Ae kepala bidang, kemudian temen temen dari kepala sekolah yang sudah purna bakti, itu biasanya kami ada kegiatan nganggungnya, serta saling bantu membantu dalam kegiata tersebut. Iya, terutama ini sangat bermanfaat untuk umkm ketika ada acara nganggung kita bisa bantu mereka dengan memesan catring dan ini bisa terjadi perputaran ekonomi, terutama pelaku umkm yang Kalau acara nganggung disini gak pernah ya saya rasa, kata kepala sekolah tadi belum juga ya, tapi kalau anak anak bawa makanan keskolah didukung Sub Indikator Hasil Verifikasi Kerjasama Sekolah menjalin interaksi Sekolah dengan pengawas, pejabat daerah, dan kepala sekolah Instansi Daerah kegiatan sosial seperti Kolaborasi Sekolah Masarakat Kolaborasi Sekolah Kegiatan ekonomi UMKM melalui Orang tua mendukung praktik berbagi makanan https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 oleh orang tua nya kalau disiapkan, kalau sama dan Orang sama, kalau satu yang gak bawa kan di bagi agar Tua mersakan satu sama lain, misal dia mau mencoba ini ya dibagi, disitu kita mengajarkan anak anak untuk bisa saling berbagi. Dukungan Untuk slogan sepintu sedulang ini ya. Mendukung. Budaya karena merupakan tradisi dari Bangka Belitung, tradisi budaya. Selagi positif ya orang tua pasti mendukung. sebagai pembiasaan nilai Masyarakat terbuka dan mendukung program budaya sekolah secara moral dan sosial. Partisipasi Orang tua mendukung Masyarakat kegiatan budaya yang dianggap membawa nilai Kemudian pada Tabel 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi slogan Sepintu Sedulang di sekolah diperkuat oleh adanya kerja sama antara sekolah dan instansi daerah. Interaksi dengan pengawas sekolah, pejabat struktural daerah, serta kepala sekolah purna bakti terwujud melalui kegiatan sosial seperti nganggung. Kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga menjadi medium aktualisasi nilai gotong royong dan kebersamaan lintas institusi. Selain dukungan kelembagaan, penelitian ini juga menemukan adanya kolaborasi yang erat antara sekolah dan masyarakat, khususnya dalam kegiatan berbasis Praktik pemesanan konsumsi dari pelaku UMKM lokal dalam pelaksanaan kegiatan nganggung menunjukkan bahwa sekolah berperan dalam mendorong perputaran ekonomi Dengan demikian, implementasi slogan tidak hanya berdampak pada pembentukan kultur sekolah, tetapi juga memiliki implikasi sosial-ekonomi di lingkungan sekitar. Orang tua berperan aktif dalam mendukung internalisasi nilai Sepintu Sedulang melalui pembiasaan di rumah dan di sekolah. Meskipun kegiatan nganggung belum menjadi agenda formal sekolah, praktik berbagi makanan di antara siswa yang difasilitasi oleh orang tua menunjukkan adanya kesinambungan pendidikan nilai antara sekolah dan keluarga. Tindakan ini menjadi sarana konkret penanaman nilai kebersamaan, empati, dan solidaritas sosial sejak dini. Masyarakat menunjukkan sikap terbuka dan suportif terhadap program budaya yang dijalankan Dukungan ini lebih banyak berbentuk kontribusi moral dan sosial, seperti keterlibatan dalam kegiatan, izin partisipasi anak, serta penguatan nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kegiatan sekolah dipersepsi membawa nilai positif, partisipasi masyarakat cenderung meningkat, yang memperkuat keberlanjutan implementasi slogan dalam ekosistem pendidikan. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi Sepintu Sedulang sebagai bagian dari kultur sekolah tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpu pada sinergi antara sekolah, instansi daerah, orang tua, dan masyarakat. Dukungan kolektif tersebut berfungsi sebagai modal sosial yang memperkuat legitimasi budaya sekolah sekaligus menjaga keberlangsungan nilainilai lokal dalam praktik pendidikan. Pembahasan Berdasarkan hasil yang raih peneliti, dapat dijelaskan bahwa memang slogan daerah harus tetap dilestarikan walaupu belum sepenuhnak diterapkan secara khusus dalam kultur ini menyebabkan banyak dampak baik bagi kultur sekola dan melatih siswa dalam memahami makna sesunguhnya dari slogan sepintu sedunag yang memiliki makna semangat gotong royong. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Prasetyo . yang https://jurnaldidaktika. Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 ISSN 2302-1330 | E-ISSN 2745-4312 menyampaikan fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai yang maktum dalam slogan "Sepintu Sedulang" dalam kultur sekolah masih jauh dari yang diinginkan. Namun walau demikian hal ini dapat mitigasi dengan kepedulian sekolah dengan terhadap implemenasi serta pembiasaan di lingkungan sekolah (Schein, 2. Implementasi slogan Sepintu Sedulang dalam kultur sekolah merupakan suatu pendekatan pedagogis dan sosiokultural yang sarat dengan muatan nilai lokal dan makna kolektif. Slogan ini tidak sekadar menjadi simbol identitas daerah, melainkan juga dapat dijadikan fondasi nilai untuk membentuk karakter komunitas sekolah yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis kekeluargaan. Dalam konteks pendidikan, slogan ini mencerminkan pentingnya kearifan lokal . ocal wisdo. sebagai landasan dalam membangun kultur sekolah yang holistik dan kontekstual Temuan penelitian menunjukkan bahwa slogan AuSepintu SedulangAy telah membentuk identitas kultural warga sekolah meskipun belum dilembagakan secara formal ke dalam kebijakan sekolah. Warga sekolah memaknai slogan ini tidak sekadar sebagai simbol daerah, tetapi sebagai representasi nilai kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan yang hidup dalam relasi sosial di sekolah. Dalam perspektif school culture, identitas sekolah terbentuk melalui nilai-nilai kolektif yang dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata melalui regulasi formal (Deal & Peterson, 2. Hasil ini mengonfirmasi temuan Prasetyo . yang menunjukkan bahwa slogan daerah di Bangka Belitung lebih dominan hadir dalam dimensi simbolik ketimbang sebagai pedoman operasional pendidikan. Namun demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menunjukkan bahwa lemahnya integrasi struktural tidak serta-merta menghambat internalisasi nilai jika sekolah mampu memfungsikan slogan sebagai identitas kultural yang hidup dalam praktik sosial. Dengan demikian, slogan AuSepintu SedulangAy berfungsi sebagai perekat identitas sosial sekaligus alat simbolik untuk membangun kohesi sekolah. Penelitian ini menemukan bahwa implementasi nilai Sepintu Sedulang berlangsung melalui praktik keseharian seperti kegiatan nganggung, makan bersama, pembelajaran permainan tradisional, serta integrasi materi budaya dalam pembelajaran tematik. Meskipun belum dijadikan sebagai tema resmi P5, sekolah telah menghadirkan nilai kearifan lokal secara fungsional. Hal ini sejalan dengan pandangan Schein . yang menekankan bahwa kultur organisasi lebih banyak dibentuk melalui pembiasaan sosial dibandingkan peraturan tertulis. Temuan ini menguatkan hasil penelitian Nasution & Mustofa . yang menyatakan bahwa pendekatan etnografi dalam pendidikan memungkinkan siswa mengalami nilai budaya secara kontekstual dan bermakna. Kontribusi penelitian ini terletak pada pembuktian bahwa pembiasaan sosial di sekolah mampu menjadi jalur efektif transmisi nilai lokal, bahkan ketika tidak ditopang kebijakan kurikuler yang eksplisit. Dengan demikian, sekolah berfungsi tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga agen transmisi budaya. Penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Sepintu Sedulang berdampak langsung pada pembentukan karakter sosial peserta didik, khususnya dalam aspek kepedulian, toleransi, empati, dan kebiasaan berbagi. Praktik sederhana seperti saling berbagi makanan menumbuhkan solidaritas sosial dan kesadaran kolektif siswa. Temuan ini selaras dengan Smith et al. , . yang menegaskan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal memperkuat sense of belonging siswa terhadap sekolah dan meningkatkan keterlibatan emosional dalam proses belajar. Penelitian ini memperluas temuan tersebut dengan menunjukkan bahwa praktik sosial keseharian justru berperan lebih signifikan dibandingkan pendekatan kognitif dalam pendidikan Nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dialami, sehingga membentuk karakter melalui pengalaman sosial konkret. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis lokal lebih efektif bila dilakukan secara praksis daripada normatif. https://jurnaldidaktika. Copyright A 2025 The Author. Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember 2025 Meskipun relevan secara kultural, penelitian ini menemukan bahwa implementasi slogan Sepintu Sedulang belum terintegrasi secara sistematis dalam kebijakan sekolah, khususnya dalam visi-misi, kurikulum lokal, dan program strategis sekolah. Keterbatasan pemahaman guru tentang pedagogi berbasis budaya dan minimnya pelatihan turut menjadi kendala. Kondisi ini sesuai dengan Leithwood . yang menekankan bahwa transformasi kultur sekolah sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang mampu menerjemahkan nilai ke dalam kebijakan praksis. Berbeda dengan penelitian yang menempatkan pendidikan karakter sebagai produk kurikulum semata, penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kepemimpinan memiliki determinasi lebih kuat dalam menggerakkan perubahan kultur. Penelitian ini berkontribusi dengan menegaskan bahwa kepala sekolah harus berperan sebagai aktor kultural, bukan sekadar manajer administratif. Tanpa kepemimpinan yang visioner, nilai lokal berpotensi stagnan sebagai simbol tanpa transformasi struktural. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa slogan Sepintu Sedulang di SD Muhammadiyah Sungailiat belum terintegrasi secara formal dalam kurikulum dan kebijakan sekolah, namun telah terinternalisasi melalui praktik keseharian warga sekolah seperti kegiatan makan bersama, pembiasaan berbagi, pengenalan budaya lokal, serta aktivitas sosial berbasis kebersamaan. Temuan menunjukkan bahwa sekolah berperan sebagai mediator budaya yang mentransmisikan nilai kearifan lokal kepada peserta didik, meskipun dalam bentuk nonstruktural. Secara substansial, slogan ini tidak berfungsi sebatas simbol identitas daerah, melainkan membentuk kesadaran kolektif warga sekolah terhadap nilai gotong royong, solidaritas, dan kekeluargaan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat berfungsi sebagai sumber nilai strategis dalam pembangunan kultur sekolah apabila dihidupkan melalui praktik sosial berulang. Kepemimpinan sekolah terbukti menjadi faktor kunci dalam memastikan nilai budaya tidak berhenti pada tataran simbolik, tetapi diterjemahkan ke dalam kebijakan, pembelajaran, dan relasi sosial. Selain itu, keterlibatan orang tua dan masyarakat memperkuat keberlanjutan nilai budaya sebagai bagian dari ekosistem pendidikan sekolah. Dengan demikian, implementasi budaya lokal memiliki potensi besar dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis konteks. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji model integrasi slogan daerah dalam kurikulum sekolah secara sistematis, termasuk desain program P5 berbasis budaya lokal. Kajian komparatif antar sekolah dan wilayah juga diperlukan untuk mengidentifikasi pola implementasi yang efektif dan berkelanjutan. Selain itu, penelitian masa depan dapat mengembangkan instrumen evaluasi untuk mengukur dampak konkret kearifan lokal terhadap perkembangan karakter dan iklim sekolah. References