Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. Laya et al. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Analisis Struktural untuk Identifikasi Faktor Kunci Pembangunan Wilayah Pertanian Padi Berkelanjutan Structural Analysis for Identification of Key Factors of Sustainable Regional Development Rice Farming Willie Samodra Laya1. Akhmad Fauzi2. Lala M. Kolopaking3. Sri Mulatsih2 Pusat Pendidikan Pertanian. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. Kementerian Pertanian. Jl. Harsono RM. No. Gd. D Lt. Ragunan-Jakarta Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Jalan Raya Darmaga. Kampus IPB Darmaga. Bogor 16680. Jawa Barat. Indonesia Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia IPB. Jl. Kamper. Kampus IPB Darmaga Bogor. Indonesia ABSTRAK Keberlanjutan pertanian padi sebagai komoditas strategis ditentukan oleh banyak faktor yang memiliki peran yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan analisis struktural sebagai instrumen identifikasi dan klasifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan dalam perspektif di masa sekarang dan akan datang dengan metode Matrix of Cross Impact Analysis (MICMAC). Dari hasil analisis diketahui bahwa faktor-faktor dari dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi paling mempengaruhi dalam mencapai hasil pada masa sekarang maupun masa depan. Adapun faktor tersebut adalah . regulasi kebijakan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota. transformasi digital/pertanian 5. pengembangan inovasi sosial dan teknologi. transformasi dan kolaborasi kelembagaan. ketersediaan prasarana dan sarana pertanian pada lahan baku sawah. tingkat adopsi inovasi dan teknologi oleh petani. petani yang tergabung dalam kelompok tani. Sedangkan faktor yang memiliki ketergantungan sangat tinggi adalah faktor-faktor dari dimensi sosial dan dimensi Faktor produktifitas lahan baku sawah per tahun memiliki ketergantungan sangat tinggi pada masa sekarang, sedangkan pada masa depan faktor meningkatkan kesejahteraan petani. Hasil dari analisis struktural ini dapat dijadikan masukan dalam pengembangan peta jalan ketersediaan dan stabilitas harga beras, serta peningkatan kesejahteraan petani padi yang berkelanjutan. Kata kunci: Analisis struktural, faktor kunci, pertanian padi, pembangunan wilayah ABSTRACT The sustainability of rice farming as a strategic commodity is determined by many factors that have different This study aims to present a structural analysis as an instrument for identifying and classification factors that affect the Sustainable Regional Development Rice Farming in the present and future perspectives using the Matrix of Cross Impact Analysis (MICMAC) method. From the analysis, it is known that the factors from the institutional dimension and the technological dimension have the most influence @ 2025 Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Halaman Jurnal, https://ejournal. polbangtan-gowa. id/index. php/J-Agr-Sosekpenyuluhan Received 3 November 2025 Accepted 28 Januari 2026 Published Online 2 Februari 2026 * Email Korespondensi: williesamodralaya@gmail. Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. in achieving results in the present and the future. These factors are . policy regulations at the national, provincial, and district/city levels. digital transformation/agriculture 5. development of social and technological innovation. transformation and institutional collaboration. availability of agricultural infrastructure and facilities in rice fields. the rate of adoption of innovation and technology by farmers. farmers who are members of farmer groups. Meanwhile, the factors with a very high dependence are factors from the social dimension and the economic dimension. The factor of productivity of paddy fields per year has a very high dependence on the present, while it will increase the welfare of farmers in the future. The results of this structural analysis can be used as input in the development of a road map for the availability and price stability of rice and improve the sustainable welfare of rice farmers. Keywords: Structural analysis, key factors, rice farming, regional development PENDAHULUAN Pembangunan wilayah berbasis pertanian padi berkelanjutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemenuhan ketersediaan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan kesempatan kerja perdesaan (FAO 2017. Kementan 2. Beras sebagai pangan pokok, berkontribusi 38,42% terhadap pangan nasional (BPS 2. Menurut Arifin et al. , produksi padi nasional dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan besaran konsumsi beras BPS memproyeksikan . penduduk Indonesia akan meningkat sebesar 1,2% pertahun, sedangkan rata-rata konsumsi rumah tangga beras per kapita mengalami penurunan sebesar 1,7% pertahun (BPS 2. Sehingga dalam RPJMN 2020-2024 pemerintah merencanakan target ketersediaan beras sebesar 39,2 juta ton pada tahun 2020, meningkat sebesar 46,8 juta ton pada tahun 2024 (Bappenas 2. Kementerian Pertanian . mencatat, produksi beras nasional pada tahun 2019 adalah sebesar 31,31 juta ton GKG. Mengalami penurunan sebesar 7,75% atau 2,63 juta ton dibandingkan dengan tahun Penurunan produksi terjadi di 28 provinsi, sementara surplus beras hanya berada di 12 Provinsi. Faktor yang menjadi kendala dalam mempertahankan produksi padi adalah meningkatnya alih fungsi lahan sawah produktif untuk kegiatan non-pertanian . omersial, industri, sarana publi. yang diperkirakan dari periode 2003 sampai dengan 2019 mencapai 290. 000 ha, serangan organisme pengganggu tanaman, rendahnya akses petani terhadap inovasi teknologi dan pembiayaan, dampak perubahan iklim, kurangnya pendampingan oleh petugas pertanian lapangan, serta pendapatan petani yang semakin menurun (BPS 2017. BPN 2. Upaya pemenuhan ketersediaan beras bagi seluruh penduduk Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan volatilitas harga beras, akibat dari ketidak-akuratan data produksi, distribusi dan stok ketersediaan beras di seluruh wilayah Indonesia. Permasalahan ini berpotensi meningkatkan inflasi bahan makanan dan menghambat akses penduduk miskin terhadap beras. Menurut Ekon . kenaikan harga beras sebesar 10% berpotensi meningkatkan inflasi sebesar 0. 9% dan angka kemiskinan sebesar 1,3%. Untuk mencapai target ketersediaan dan stabilitas harga beras di seluruh wilayah Indonesia diperlukan strategi pembangunan wilayah pertanian padi yang berkelanjutan. Pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia diatur dalam UU No 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan (SBPB). Pada hakikatnya SBPB merupakan pengelolaan sumber daya alam hayati dalam memproduksi komoditas Pertanian guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik dan berkesinambungan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup (Kementan 2. Menurut FAO . terdapat lima prinsip pertanian berkelanjutan yaitu . meningkatkan efisiensi dalam penggunaan sumber daya yang sangat penting. melestarikan, melindungi dan meningkatkan sumber daya alam. melindungi mata pencaharian, dan kesejahteraan perdesaan. meningkatkan ketahanan manusia, komunitas, dan ekosistem, dan . tata kelola yang bertanggung jawab dan efektif. Dalam pembangunan berkelanjutan, aspek awal yang sangat penting adalah proses identifikasi dan analisis faktor-faktor yang menentukan perkembangan pembangunan wilayah pertanian padi di masa sekarang dan masa depan. Faktor-faktor ini sangat beragam, dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan dan teknologi. Keragaman faktor-faktor ini, seringkali membutuhkan analisis mendalam, untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memainkan peran penting. Oleh karena itu, dalam penelitian ini Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. secara spesifik bertujuan untuk mengidentifikasi faktor kunci dalam pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan menggunakan analisis struktural. MATERI DAN METODE Kerangka Pemikiran Pertanian padi memiliki peran strategis sebagai pangan pokok penduduk Indonesia, serta kesejahteraan dan daya beli petani perdesaan (FAO 2017. Kementan 2. Namun keberlanjutannya masih dihadapkan pada tantangan yang komplek dan multidimensi. Dari sisi permintaan tantangan utama yang dihadapi adalah jaminan kecukupan dan stabilitas harga beras di seluruh wilayah Indonesia. Pada sisi ketersediaan tantangan utama yang dihadapi adalah keberlanjutan produksi pada provinsi sentra padi dan efisiensi distribusi beras secara adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Diperlukan strategi untuk meningkatkan keberlanjutan pembangunan wilayah pertanian padi. Penelitian ini akan dilakukan identifikasi dan klasifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan di masa sekarang dan masa depan. Menggunakan metode analisis struktural dengan melibatkan stakeholder yang memiliki keterkaitan langsung di dalam Lingkup Bahasan Penelitian ini menyajikan analisis struktural sebagai instrument identifikasi dan klasifikasi faktor kunci yang mempengaruhi pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan dalam perspektif di masa sekarang dan yang akan datang menggunakan metode Matrix of Cross Impact Analysis (MICMAC), dengan melibatkan stakeholder yang memiliki keterkaitan langsung dengan pembangunan wilayah pertanian padi di Indonesia, yaitu lembaga pemerintah, swasta, akademisi, dan petani. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Jakarta dengan menggunakan data hasil kuisioner dan wawancara mendalam pada stakeholder yang terlibat langsung pada sektor pertanian padi di Indonesia, serta data hasil publikasi instansi pemerintah dan penelitian terdahulu. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2020 sampai dengan Oktober 2020. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil kuisioner pada 84 ahli dan praktisi, terdiri dari pejabat eselon 2, eselon 3, eselon 4 dan fungsional khusus pada 25 stakeholder yang terlibat secara langsung dalam kebijakan dan usaha tani pertanian padi, serta dilakukan wawancara individual pada sebagian stakeholder untuk menggali data dan informasi secara mendalam tentang potensi kendala yang terjadi dalam pertanian padi. Data sekunder menggunakan hasil publikasi instansi pemerintah dan penelitian terdahulu. Pemilihan responden dilakukan secara sengaja pada stakeholder yang terlibat langsung dan memahami pembangunan wilayah pertanian padi. Tabel 1. Jenis Responden Pejabat Eselon II Jumlah . Pejabat Eselon i Pejabat Eselon IV Fungsional Khusus . eneliti/penyuluh/ ahli Total Jenis Responden Jumlah . A Keterangan Pengambil kebijakan strategis di kementerian/ lembaga/daerah Penanggung jawab program teknis bidang pertanian padi Pelaksana teknis lapangan dan manajerial program padi Praktisi dan tenaga ahli dalam pengembangan budidaya padi Dari 25 stakeholder Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. Lima dimensi utama, yaitu ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan teknologi, ditetapkan sejak tahap desain penelitian berdasarkan studi literatur dan kerangka konseptual keberlanjutan pertanian. Faktorfaktor spesifik dalam setiap dimensi selanjutnya diperoleh dari kombinasi hasil kuisioner, wawancara mendalam, dan telaah literatur. Faktor-faktor tersebut kemudian dipetakan ke dalam dimensi yang relevan sehingga menghasilkan seperangkat faktor internal dan eksternal yang komprehensif untuk dianalisis lebih Tabel 2. Lembaga dan jumlah responden Lembaga Responden Jumlah (Oran. Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam. Kementerian PPN/ Bappenas Direktorat Jenderal Anggaran. Kemenkeu Deputi Bidang Pangan dan Pertanian. Kemenko Ekon Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN Kementerian Desa. Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Kementerian Perdagangan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Kementerian PUPR Badan Pusat Statistik Sekretariat Jenderal. Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Kementerian Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. Kementerian Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian Badan Ketahanan Pangan. Kementerian Pertanian Dinas Pertanian Pangan Provinsi Dinas Pertanian Pangan Kabupaten Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Dinas Sumber Daya Air Tingkat Provinsi Dinas Sumber Daya Air Tingkat Kabupaten Perguruan Tinggi Balai Penyuluhan Pertanian Penyuluh Pertanian Lapangan Kelompok Tani Perum Bulog Analisis Data Identifikasi faktor kunci dalam pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan didasarkan pada faktor-faktor penting yang dianalisis dengan analisis prospektif struktural menggunakan metode MICMAC. Analisis MICMAC berperan melakukan tiga hal (Fauzi 2. yaitu: . menentukan faktor kunci, yaitu faktor pengaruh . dan faktor tergantung . melakukan pemetaan hubungan antarfaktor dalam koordinat pengaruh (Y) dan ketergantungan (X) serta relevansi faktor-faktor tersebut di dalam sistem. menjelaskan rantai sebab akibat dari sistem. Untuk dapat memetakan faktor dalam sistem menggunakan metode MICMAC, ada empat tahapan yang harus dilakukan yaitu: . mendefinisikan Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. mengidentifikasi faktor internal dan eksternal. mengidentifikasi hubungan antarfaktor. memetakan faktor dan ranking. Perumusan masalah dalam penelitian ini dilakukan melalui expert survey dengan melibatkan 84 ahli dan praktisi dari 25 stakeholder yang terkait langsung dengan kebijakan dan usaha tani padi. Data dikumpulkan melalui kuisioner untuk mengidentifikasi faktor kunci, kemudian diperdalam melalui wawancara individual pada sebagian responden. Faktor kunci yang diperoleh dipadukan dengan hasil studi literatur dan selanjutnya dikelompokkan ke dalam lima dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan teknologi. Faktor-faktor tersebut kemudian dipilah menjadi faktor internal . ekuatan dan kelemaha. serta faktor eksternal . eluang dan ancama. , yang selanjutnya menjadi dasar dalam analisis strategi pengembangan pertanian padi berkelanjutan. Sedangkan tahap ketiga dan keempat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MICMAC. Tingkat hubungan antar faktor dinilai dengan skala sebagai berikut: 0 = tidak ada hubungan. 1 = hubungan lemah. 2 = hubungan sedang. 3 = hubungan kuat. dan P = potential influence . eterkaitan antar faktor tidak dapat diketahui saat ini, namun memungkinkan di masa mendatang. akan mempengaruh. Hasil dari penilaian hubungan tersebut akan mengidentifikasi hubungan antarfaktor ke dalam tiga kelompok pengaruh yaitu: pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, dan pengaruh potensial. Pengaruh langsung terjadi jika satu faktor berpengaruh terhadap faktor lain secara langsung tanpa melalui faktor lain. Pengaruh tidak langsung terjadi jika satu faktor mempengaruhi faktor lain, dan faktor lain tersebut kemudian mempengaruhi faktor lainnya lagi. Pengaruh potensial terjadi jika pengaruh satu faktor bertentangan dengan faktor lainnya. Sementara itu jika tidak ada pengaruh langsung dari satu faktor terhadap faktor lain, maka disebut tidak berpengaruh (Stratigea 2. Gambar 1. Pengkategorian faktor berdasarkan pengaruh dan ketergantungannya. Nazarko J et al. Gambar 1 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antar faktor, baik pada kondisi saat ini maupun di masa mendatang, sehingga keterkaitan dapat dipastikan tidak relevan. Sementara itu, skor P digunakan ketika hubungan antar faktor tidak dapat ditentukan pada saat ini, namun berpotensi muncul atau berkembang di masa depan seiring dengan perubahan kebijakan, dinamika lingkungan, atau perkembangan Dengan demikian, skor 0 merepresentasikan ketiadaan hubungan yang tegas, sedangkan skor P mencerminkan ketidakpastian saat ini dengan kemungkinan keterkaitan di masa mendatang. Pemetaan faktor dalam MICMAC akan menghasilkan empat kuadran yang masing-masing menjelaskan status, peran dan implikasi dari setiap faktor yang ada pada kuadran tersebut sebagaimana disajikan pada Gambar 1 dan dijelaskan pada Tabel 1. Setiap posisi faktor menunjukkan perbedaan peran dari setiap faktor di dalam sistem. Ada delapan klasifikasi utama untuk faktor yaitu: . determinant factors pada kuadran I. crucial factors pada kuadran II. aim factors pada kuadran II. regulatory factors pada sumbu kuadran. result factors pada kuadran i. supplementary factors pada kuadran IV. external factors pada kuadran IV. autonomic factors pada kuadran IV (Nazarko et al. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. Tabel 3. Jenis, peran dan implikasi faktor dalam sistem MICMAC Jenis Faktor (Kuadra. Status dan Peran Faktor Implikasi Determinant factors pada Sangat berpengaruh dengan sedikit Elemen yang krusial dalam sistem karena dapat bertindak sebagai sistem kunci. Pengaruh faktor lain terhadap faktor ini tidak ditransmisikan ke dalam sistem. Crucial factors pada kuadran II Sangat berpengaruh, namun juga ketergantungan yang sangat tinggi pada faktor lain, faktor yang tidak Menggambarkan ketidakstabilan suatu sistem. Setiap perubahan yang terjadi pada faktor ini memiliki konsekuensi yang cukup serius pada faktor lain di dalam Faktor ini memerlukan pengawasan yang ketat. Aim factors pada kuadran II Berpengaruh, namun dipengaruhi oleh faktor lain daripada Faktor yang sangat sensitif, dikarenakan intervensi apa pun pada faktor ini akan berdampak pada sistem secara Regulatory factors pada sumbu kuadran Memiliki pengaruh dan ketergantungan yang seimbang. Berperan sebagai pengungkit dan juga sangat penting dalam mencapai tujuan strategis. Result factors pada kuadran i Memiliki pengaruh sangat kecil tapi Faktor ini cukup sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada determinant factors, crucial factors, aim factors dan regulatory factors, serta merupakan faktor hasil. Supplementary factors pada kuadran IV Memiliki pengaruh dan ketergantungan yang rendah. Berdampak minimal pada sistem. External factors pada kuadran IV Memiliki pengaruh yang sedang dan ketergantungan yang sangat kecil Berdampak relatif lebih kecil pada sistem daripada determinant factors, tetapi lebih besar daripada autonomic Autonomic factors pada kuadran IV Pengaruh kecil, ketergantungan kecil Memiliki potensi rendah untuk menghasilkan perubahan. Faktor ini juga dikatakan excluded karena tidak akan menghentikan bekerjanya suatu stem atau memanfaatkan sistem itu sendiri. Prinsip operasional dari cross-matrix pada MICMAC dalam menyaring influence factors dan dependence factors dilakukan melalui metode Lefebvre (Fauzi 2. Ketika misalnya ada tiga faktor yang berinteraksi satu sama lain yaitu A. B, dan C melalui pola interaksi yang berbeda di antara ketiganya, maka struktur hubungan ketiganya digambarkan dengan Boolean Matrix pada persamaan 1 dimana angka 1 menunjukkan jika ada hubungan antarfaktor dan angka 0 jika tidak ada hubungan. ya yaA ya Oc ycaycaycycnyc ya ycA=yaA ya . Oc ycoycuycoycuyco 2 1 1 Pada matriks di atas, pengaruh faktor terhadap dirinya sendiri tidak diperhitungkan. Matrik ini disebut Matrix of Direct Influence (MDI). Ketika pengaruh tidak langsung antarfaktor diperhitungkan maka akan Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. dihasilkan Matrix of Direct and Indirect Influence (MDII) yang diperoleh dari pengkuadratan dari MDI. Hasil MDII menunjukkan elemen diagonal yang semua 0 berubah menjadi 1. ya yaA ya Oc ycaycaycycnyc ya ycA2 = yaA Oc ycoycuycoycuyco 2 2 1 Jika interaksi dilakukan secara terus menerus dengan memangkatkan matriks di atas lebih besar lagi maka semua elemen pada matriks akan terisi atau tidak ada lagi angka 0 sebagaimana terlihat pada M5. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan langsung dan tidak langsung akan semakin stabil ketika dilakukan interaksi pengaruh tidak langsung secara terus menerus. ycA 3 = . 1 ycA 4 = . 1 ycA 5 = . 2 Hasil analisis MDI dan pemetaan hubungan antarfaktor kemudian akan menghasilkan jumlah pengaruh . dan ketergantungan . serta hirarki atau level antarfaktor seperti terlihat pada Gambar 2. Gambar 2. Pengaruh, ketergantungan dan level hasil analisis MDI (Nematpour dan Faraji . dalam Rahma . ) HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Faktor Strategis Hasil identifikasi yang dilakukan dengan stakeholder yang terkait dan terlibat dalam pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan di Indonesia menghasilkan 24 faktor strategis yang sesuai dengan Faktor tersebut dikelompokkan ke dalam lima dimensi seperti ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Faktor kunci yang diidentifikasi dalam pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan Grup Dimensi Faktor Ekologi Ekonomi Nama Faktor Label Sistem usaha tani padi ramah lingkungan Luas lahan baku sawah Ketahanan air pada lahan baku sawah Dampak perubahan iklim Akses petani terhadap pembiayaan pertanian Subsidi produksi pemerintah Produktivitas lahan baku sawah per tahun Harga gabah di tingkat petani Pendapatan petani dari budidaya padi per tahun Surplus beras di tingkat provinsi Efisiensi logistik dalam sistem usaha tani padi dan Tani_Ramah LBL-Sawah Air DPI Pembiayaan Subsidi ProdLahan HargaGabah Pendapatan Surplus Logistik Suplai Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Grup Dimensi Faktor Sosial Kelembagaan Teknologi Laya et al. Nama Faktor Label Konektifitas suplai beras antar wilayah surplus dan defisit Ketersediaan beras bermutu dan aman di tingkat Stabilitas harga beras tingkat konsumen Regenerasi petani muda (Regeneras. Jaminan sosial pendidikan dan kesehatan bagi keluarga tani miskin Kesejahteraan petani perdesaan Regulasi kebijakan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota Petani yang tergabung dalam kelompok tani Transformasi dan kolaborasi kelembagaan Ketersediaan prasarana dan sarana pertanian pada lahan baku sawah Pengembangan inovasi sosial dan teknologi Tingkat adopsi inovasi dan teknologi oleh petani Transformasi digital/pertanian 5. BerasMutu StabHarga Regenerasi Jamsos Sejahtera Regulasi Poktan Kolaborasi PSP InSosTek Adopsi Agri 5. Keterkaitan dan Peran Antara Faktor Analisis struktural yang dilakukan memungkinkan pemisahan faktor-faktor kunci yang memberikan pengaruh kuat pada faktor-faktor lain dan pada saat yang sama sangat bergantung pada faktorfaktor lain (Godet 2. Hubungan keterkaitan langsung pada 24 faktor dalam MICMAC dianalisis melalui matriks cross-impact yaitu MDI (Matrix of Direct Influenc. Matriks dampak langsung pada Tabel 3 dibuat atas dasar matriks pengaruh langsung yang diisi stakeholder melalui kuisioner dan wawancara mendalam. Pengolahan hasil matrik MDI disajikan dalam bentuk peta pengkategorian faktor kunci menurut pengaruh dan ketergantungan pada Gambar 3 dan hubungan langsung antar faktor pada Gambar 4. Hasil matrik MDI menjelaskan posisi faktor terhadap faktor lainnya dengan mengelompokkan 24 faktor tersebut ke dalam empat kuadran berdasarkan kekuatan pengaruh langsung . irect influenc. dan ketergantungan langsung . irect dependenc. terhadap faktor lainnya. Tabel 5. Matrix of Direct Influence (MDI) untuk faktor strategis pembangunan wilayah pertanian padi 2 : LBL-Sawah 3 : Air 4 : DPI 5 : Pembiayaan 6 : Subsidi 7 : ProdLahan 8 : HargaGabah 9 : Pendapatan 10 : Surplus 11 : Logistik 12 : Suplai 13 : BerasMutu 14 : StabHarga 15 : Regenerasi 16 : Jamsos 17 : Sejahtera 18 : Regulasi 19 : Poktan 20 : Kolaborasi 21 : PSP 22 : InSosTek 23 : Adopsi 24 : Agri 5. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa A LIPSOR-EPITA-MICMAC 1 : Tani_Ramah 1 : Tan i_Ramah 2 : LBL-Sawah 3 : Air 4 : DPI 5 : Pembiayaan 6 : Subsid i 7 : Pro d Lah an 8 : Harg aGabah 9 : Pen d ap atan 10 : Surp lus 11 : Lo g istik 12 : Sup lai 13 : BerasMutu 14 : StabHarg a 15 : Reg en erasi 16 : Jamso s 17 : Sejah tera 18 : Reg ulasi 19 : Po ktan 20 : Ko labo rasi 21 : PSP 22 : In So sTek 23 : Ad o p si 24 : Ag ri 5. Laya et al. High Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 - Determinant factors - Aim factors - Regulatory factors - Result factors - Supplementary factors Low - Autonomic factors Low High Gambar 3. Peta Pengkategorian Faktor Kunci Menurut Pengaruh dan Ketergantungan. Gambar 3 menunjukkan hasil peta pengkategorian pengaruh dan ketergantungan antar faktor pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan. Terdapat tujuh determinant factors dari dimensi kelembagaan dan teknologi yang mempengaruhi sangat kuat . river factor. pada sistem, ditandai dengan rendahnya ketergantungan pada faktor lain. Faktor ini adalah regulasi, agri 5. 0, insostek, kolaborasi, psp, adopsi, dan poktan. Pada regulatory factors terdapat lima faktor dari dimensi ekologi dan ekonomi, yang dicirikan antara pengaruh dan ketergantungan seimbang, serta memiliki peran penting dalam mencapai tujuan strategis. Adapun faktor ini adalah LBL-sawah, air, pembiayaan, subsidi, dan DPI. Dari aim factors terdapat tiga faktor dari dimensi ekologi dan ekonomi, dicirikan dengan faktor yang sangat sensitif, dikarenakan intervensi apa pun pada faktor ini akan mempengaruhi sistem keseluruhan. Faktor ini adalah logistik, tani_ramah, dan prodlahan. Pada result factors terdapat tujuh faktor dari dimensi ekonomi dan sosial, yang sangat dipengaruhi dari faktor lainnya atau disebut juga faktor hasil. Faktor tersebut adalah suplai, hargagabah, surplus, pendapatan, stabharga, sejahtera, dan berasmutu. Faktor regenerasi pada dimensi sosial masuk ke dalam supplementary factors, yang memiliki pengaruh yang Pada autonomic factors terdapat faktor jamsos dari dimensi sosial, yang memiliki pengaruh sangat rendah di dalam sistem. Gambar 4. Hubungan pengaruh langsung antarfaktor Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. Gambar 4 memperlihatkan hubungan faktor yang secara kuat mempengaruhi faktor lainnya dalam pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan. Jika semakin tebal dan banyak garis yang keluar dari sebuah faktor, menunjukkan semakin besar dan kuat pengaruh faktor tersebut terhadap faktor lainnya. Begitu juga sebaliknya, semakin banyak garis yang masuk ke sebuah faktor, maka semakin kuat faktor tersebut dipengaruhi dan tergantung pada faktor lain (Rahma 2. Pengaruh yang sangat kuat ditunjukkan oleh garis merah sedangkan pengaruh yang paling lemah ditunjukkan oleh garis halus putus-putus berwarna Dapat terlihat bahwa faktor regulasi, agri 5. 0, insostek, kolaborasi. PSP, adopsi, dan poktan memiliki pengaruh langsung sangat kuat terhadap faktor lain, sedangkan faktor suplai, harga gabah, surplus, pendapatan, stabharga, sejahtera, dan berasmutu merupakan faktor paling dipengaruhi oleh faktor lainnya. Pada faktor logistik, tani_ramah, dan prodlahan berada pada kategori dipengaruhi dan mempengaruhi yang sangat kuat. Ketiga faktor tersebut sangat sensitif dikarenakan pada setiap perubahan yang terjadi pada determinant factors akan sangat mempengaruhi perubahan pada faktor ini. Sedangkan setiap perubahan pada ketiga faktor ini akan sangat mempengaruhi result factors. Sehingga setiap intevensi kebijakan pada faktor ini sangat berdampak pada sistem secara keseluruhan. Dari hasil analisis pengaruh dan ketergantungan langsung antarfaktor yang ditunjukkan pada Gambar 3 dan Gambar 4 dapat diketahui bahwa faktor-faktor dari dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi sangat mempengaruhi faktor lain di dalam sistem secara keseluruhan. Dalam dimensi kelembagaan fungsi faktor regulasi mempuyai peran yang sangat penting dalam menentukan aturan main yang harus dilaksanakan oleh seluruh stakeholder dalam mencapai hasil yang dituju. Faktor transformasi dan kolaborasi kelembagaan mempunyai dua fungsi utama yaitu: . melakukan penyesuaian tugas dan fungsi kelembagaan di dalam sistem terhadap semua perubahan yang terjadi untuk meningkatkan kinerja kelembagaan yang lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan, dan . mensinergikan seluruh stakeholder di dalam sistem secara berkesinambungan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing dalam mencapai tujuan. Menurut Fauzi . stakeholder merupakan entitas yang memiliki posisi dalam sistem dan berperan dalam memobilisasi sumber daya yang dimiliki untuk memengaruhi outcome secara langsung atau tidak langsung melalui pengaruhnya pada stakeholder lain. Petani padi di Indonesia masih dicirikan dengan tingkat pendidikan yang rendah, mengalami penuaan dan rendahnya literasi teknologi informasi (BPS 2. Peran faktor kelompok tani di dalam sistem pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan sangat penting dan strategis sebagai ruang kerjasama antar petani, kelas belajar dan berbagi pengetahuan antar petani, unit produksi usaha tani, transfer teknologi pada seluruh anggota, serta sebagai sasaran dalam pembangunan pertanian padi yang harus ditingkatkan Faktor-faktor dalam dimensi teknologi memiliki fungsi yang sangat strategis dan berdampak pada perubahan keseluruhan sistem. Adapun fungsi dari dimensi teknologi adalah meningkatkan produktifitas, keterpaduan, efisiensi, keadilan, kesejahteraan, daya saing, kebersamaan, kearifan lokal, kelestarian lingkungan, keberlanjutan dan perlindungan negara. Penggunaan teknologi yang tepat merupakan langkah nyata yang harus segera dilakukan dalam menghadapi tantangan pembangunan pertanian padi pada masa sekarang dan masa depan, dalam upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan, pembangunan ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan (FAO 2. Faktor hasil dari pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan merupakan faktor-faktor dari dimensi ekonomi dan dimensi sosial. Pada kedua kelompok ini terdapat tiga faktor dengan ketergantungan tertinggi yaitu: stabharga, sejahtera dan berasmutu. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor hasil yang akan dicapai di dalam sistem. Dalam mencapai faktor hasil, diperlukan faktor yang memiliki pengaruh dan ketergantungan cukup tinggi sebagai tujuan antara di dalam sistem, yang ditunjukkan pada faktor prodlahan, logistik dan taniramah. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Laya et al. High Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 - Determinant factors - Aim factors - Regulatory factors - Result factors - Supplementary factors Low - Autonomic factors Low High Gambar 5. Peta Pengkategorian Faktor Kunci Menurut Pengaruh dan Ketergantungan tidak Langsung. Pada Gambar 5 memetakan dan mengelompokkan faktor berdasarkan tingkat pengaruh dan ketergantungan tidak langsung antarfaktor. Ada beberapa perbedaan pada hasil pengelompokan faktor yang didasarkan pada pengaruh langsung (Gambar . dan pengaruh tidak langsung (Gambar . Terjadi perubahan tiga faktor pada kategori aim factors, diantaranya dua faktor ke kategori result factors yaitu tani_ramah dan prodlahan, serta satu faktor ke regulatory factors yaitu logistik. Lima faktor pada kategori regulatory factors juga terjadi perubahan yang diantaranya empat faktor ke kategori supplementary factors yaitu air. DPI, subsidi dan suplai, serta satu faktor ke kategori result factors yaitu pembiayaan. Pada determinat factors dan autonomic factors masih didominasi oleh faktor yang sama pada pengaruh langsung. Pengaruh dan ketergantungan tidak langsung menunjukkan suatu sistem yang sudah berjalan dengan stabil, serta menggambarkan pengaruh dan ketergantungan faktor pada masa depan (Fauzi 2. Dapat dilihat bahwa masih kuatnya faktor pada kelompok dimensi kelembagaan dan teknologi mempengaruhi pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan, dengan tiga faktor hasil yang masih sama yaitu stabharga, sejahtera dan berasmutu. Gambar 6. Hubungan pengaruh tidak langsung antarfaktor Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. Hasil dari pengelompokan faktor pada Gambar 6 menjelaskan kekuatan hubungan pengaruh tidak langsung antarfaktor. Angka pada setiap garis panah menunjukkan derajat pengaruh tidak langsung yang diperoleh melalui iterasi matriks Boolean pada software MICMAC. Pengaruh tidak langsung yang sangat kuat ditunjukkan pada faktor regulasi terhadap faktor sejahtera. Hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh faktor regulasi terhadap sejumlah variabel lain yang secara tidak langsung kemudian berpengaruh terhadap faktor sejahtera. Faktor kolaborasi, agri 5. 0, dan insostek juga memiliki pengaruh tidak langsung yang kuat terhadap faktor lain di dalam sistem. Hasil analisis tingkat pengaruh dan ketergantungan tidak langsung antarfaktor ini semakin menguatkan bahwa faktor-faktor yang masuk ke dalam dimensi kelembagaan dan teknologi sangat berpengaruh terhadap keseluruhan sistem. Sehingga diperlukan penguatan terhadadap faktor-faktor pada dimensi kelembagaan dan teknologi untuk mewujudkan pembangunan wilayah pertanian padi . Gambar 7. Klasifikasi faktor berdasarkan pengaruh . dan ketergantungan . Gambar 7 menunjukkan peringkat faktor berdasarkan derajat pengaruh . dan derajat ketergantungan . faktor terhadap faktor lainnya. Perubahan ini menggambarkan posisi peringkat faktor pada kondisi awal . atrik MDI) dan setelah dilakukan iterasi Boolean dengan MDII. Terlihat pergeseran urutan beberapa faktor. Berbeda dengan MDI dimana pengaruh variabel terhadap dirinya sendiri tidak diperhitungkan, maka MDII memperhitungkan pengaruh tidak langsung (Fauzi 2. Pergeseran urutan faktor juga menunjukkan suatu sistem yang sudah berjalan dengan stabil, serta menggambarkan pengaruh dan ketergantungan faktor pada masa depan. Dari Gambar 7 terlihat pergeseran faktor. Pada aspek faktor influence terdapat 18 faktor yang terjadi pergeseran setelah dilakukan iterasi dengan memperhatikan faktor pengaruh tidak langsung. Faktor yang mengalami penurunan tingkat yaitu . 0, tani_ramah, prodlahan, air, pendapatan, surplus, jamsos dan berasmutu mengalami penurunan satu tingkat. logistik mengalami penurunan dua tingkat. suplai mengalami penurunan dua tingkat. Faktor yang mengalami kenaikan tingkat yaitu . LBL-sawah, hargagabah, sejahtera dan stabharga mengalami kenaikan satu tingkat. poktan dan pembiayaan mengalami kenaikan dua tingkat. regenerasi mengalami kenaikan empat tingkat. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. Pada aspek faktor dependence terdapat 15 faktor yang terjadi pergeseran setelah dilakukan iterasi MDII. Faktor yang mengalami penurunan tingkat yaitu . prodlahan dan surplus mengalami penurunan satu . berasmutu, tani_ramah dan DPI mengalami penurunan dua tingkat. suplai mengalami penurunan tiga tingkat. logistik mengalami penurunan empat tingkat. air mengalami penurunan empat tingkat. Faktor yang mengalami kenaikan tingkat yaitu . sejahtera, harga gabah dan subsidi mengalami kenaikan satu tingkat. stabharga mengalami kenaikan dua tingkat. faktor pembiayaan mengalami kenaikan empat tingkat. faktor regenerasi mengalami kenaikan lima tingkat. LBLsawah mengalami kenaikan enam tingkat. Hasil ini menunjukkan, bahwa dari pengaruh langsung maupun tidak langsung faktor regulasi berada pada posisi rangking pertama sebagai faktor yang paling mempengaruhi. Pada faktor dependence terjadi pergeseran dari prodlahan menjadi faktor sejahtera. Hasil ini semakin menguatkan bahwa faktor prodlahan dapat digunakan sebagai faktor tujuan antara yang harus dicapai pada masa sekarang dan setelah sistem sudah berjalan stabil hasil utama akan bergeser pada kesejahteraan. Pada Gambar 7 terlihat bahwa penurunan tingkat suatu faktor dalam analisis sistemik, baik pada aspek pengaruh . maupun ketergantungan . , mencerminkan terjadinya redistribusi peran dan fungsi dalam struktur dinamika sistem. Penurunan satu atau dua tingkat bukan sekadar perubahan posisi numerik, melainkan indikasi bahwa faktor tersebut mulai kehilangan kapasitasnya sebagai penggerak atau penentu arah sistem. Hal ini dapat terjadi karena adanya dominasi faktor lain yang lebih adaptif, responsif, atau memiliki konektivitas sistemik yang lebih luas. Misalnya, ketika faktor logistik dan suplai mengalami penurunan dua tingkat, hal ini dapat menunjukkan bahwa efektivitas distribusi dan ketersediaan beras tidak lagi berdiri sebagai pengaruh utama, melainkan semakin tergantung pada variabel seperti pembiayaan, kelembagaan petani, atau teknologi informasi yang lebih dinamis. Dampak dari penurunan ini bersifat sistemik dan berlapis. Secara langsung, faktor yang turun tingkat akan memiliki pengaruh yang lebih kecil terhadap variabel lain, sehingga intervensi kebijakan menghasilkan efek yang terbatas. Secara tidak langsung, penurunan tersebut dapat menyebabkan bottleneck dalam sistem, terutama jika faktor tersebut sebelumnya berperan sebagai penghubung antar subsistem. Penurunan juga dapat memicu penyesuaian arah kebijakan, di mana aktor sistem perlu mengalihkan fokus dari faktor yang menurun ke faktor yang naik tingkat agar tetap menjaga efektivitas intervensi. Dalam konteks kebijakan, hal ini menuntut fleksibilitas dan kemampuan adaptasi dalam merancang program, karena sistem yang kompleks tidak bersifat linier dan perubahan kecil dalam satu faktor dapat menghasilkan dampak besar pada keseluruhan struktur. Lebih jauh, penurunan tingkat juga dapat menjadi sinyal bahwa suatu faktor sedang mengalami penurunan efektivitas peran yaitu ketika kontribusinya terhadap sistem telah mencapai batas optimal dan tidak lagi menjadi prioritas dalam fase transformasi berikutnya. Oleh karena itu, analisis penurunan tingkat harus dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran sistemik, bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai penyesuaian alami dalam evolusi sistem agribisnis menuju keseimbangan baru yang lebih adaptif dan berkelanjutan. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Kesimpulan Analisis faktor kunci merupakan proses awal yang sangat penting untuk mengidentifikasi dan klasifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan. Dari hasil analisis hubungan pengaruh langsung maupun tidak langsung dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor dari dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi paling mempengaruhi dalam pada masa sekarang maupun masa depan. Faktor tersebut adalah regulasi, agri 5. 0, insostek, kolaborasi. PSP, adopsi, dan poktan. Sedangkan faktor yang memiliki ketergantungan sangat tinggi adalah faktor-faktor dari dimensi sosial dan dimensi ekonomi. Terdapat tiga faktor dengan tingkat ketergantungan tertinggi dan merupakan faktor hasil yang harus dicapai di dalam sistem yaitu: berasmutu, stabharga dan sejahtera. Faktor prodlahan merupakan faktor yang paling dipengaruhi pada masa sekarang, sehingga dapat digunakan sebagai faktor tujuan antara. Setelah sistem berjalan dengan stabil, pada masa depan faktor yang paling dipengaruhi adalah faktor Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Laya et al. Implikasi Kebijakan Hasil analisis faktor kunci dalam pembangunan wilayah pertanian padi berkelanjutan menunjukkan bahwa intervensi kebijakan harus diarahkan secara strategis pada dimensi kelembagaan, teknologi, sosial, dan ekonomi yang saling berinteraksi dalam sistem. Faktor-faktor seperti regulasi. Agri 5. 0, inovasi sosial dan teknologi . , kolaborasi, prasarana dan sarana produksi (PSP), adopsi teknologi, dan kelembagaan petani . memiliki tingkat pengaruh tinggi dalam membentuk dinamika sistem, sehingga perlu dijadikan titik masuk utama dalam perumusan kebijakan. Pemerintah perlu menyusun regulasi yang bersifat adaptif dan sinergis antar sektor, dengan fokus pada perlindungan lahan, insentif produksi, dan tata kelola pangan yang inklusif. Pengembangan Agri 5. 0 harus didukung melalui investasi teknologi presisi, insentif fiskal, dan integrasi ke dalam sistem pelatihan petani. Inovasi sosial dan teknologi perlu difasilitasi melalui skema pendanaan kompetitif, pembangunan pusat inovasi, dan kemitraan lintas aktor, termasuk diaspora dan lembaga riset. Kolaborasi multisektor harus diperkuat melalui platform koordinasi digital dan forum kebijakan lintas wilayah. Di sisi lain. PSP harus ditingkatkan melalui revitalisasi infrastruktur dasar pertanian dan digitalisasi distribusi input produksi. Adopsi teknologi oleh petani dapat dipercepat melalui pendekatan berbasis komunitas, skema pembiayaan mikro, dan monitoring berbasis indikator adopsi. Penguatan kelembagaan petani menjadi krusial untuk memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat posisi tawar dalam rantai nilai. Sementara itu, faktor-faktor hasil seperti beras bermutu, stabilitas harga, dan kesejahteraan petani memiliki tingkat ketergantungan tinggi dan merepresentasikan tujuan akhir dari sistem. Pemerintah perlu menetapkan standar mutu beras nasional, memperkuat cadangan pangan strategis, dan mengembangkan sistem informasi harga yang transparan. Kesejahteraan petani harus menjadi indikator utama dalam evaluasi kebijakan, melalui perlindungan pendapatan, diversifikasi usaha, dan penguatan jaminan sosial. Faktor produktivitas lahan . , yang saat ini paling dipengaruhi, dapat dijadikan sebagai tujuan antara dalam fase transisi Intervensi pada prodlahan harus diarahkan pada intensifikasi berbasis zonasi agroekologi dan pendampingan teknis berkelanjutan. Dengan pendekatan sistemik dan berbasis bukti, kebijakan yang dirumuskan akan mampu mendorong transformasi agribisnis nasional menuju keberlanjutan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan petani secara holistik. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian yang telah memberikan beasiswa pendidikan. Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi M. Sc. Dr. Ir. Lala M. Kolopaking M. , dan Dr. Ir. Sri Mulatsih M. Sc. Agr, selaku komisi pembimbing Institut Pertanian Bogor. Seluruh kelembagaan pertanian yang telah bersedian membantu dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA