JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1243-1253 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah EFEKTIVITAS MEDIA BUKU PICTURE EXCHANGE COMMUNICATION SYSTEM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI EKSPRESIF PADA ANAK DENGAN GANGGUAN EMOSI DAN PERILAKU Suci Novita1. Marlina Marlina2. Damri Damri3. Yosa Yulia Nasri3 1,2 Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: suciinovita25@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 July 2025 Final Revised: 11 August 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 29 September 2025 Keywords: Emotional and Behavioral Disorders Expressive Communication PECS Book ABSTRACT Students with emotional and behavioral disorders generally experience difficulties in socializing, communicating, thinking processes, and have behaviors that can make the environment uncomfortable. Based on the results of the assessment that has been carried out in an inclusive school, there is one student with emotional and behavioral disorders who shows difficulties in expressive communication skills in class. The results of the identification and assessment that the researcher conducted are based on the identification instrument for children with special needs and expressive communication assessment. The purpose of this study is to test the effectiveness of the PECS book media in improving expressive communication skills in students with emotional and behavioral disorders. The study used a single subject research form with an A-B-A design. The research subject is one person with the target behavior of students with emotional and behavioral disorders who can improve their expressive communication skills. The results of the study show an increase in expressive communication skills in students after being given the PECS book media. It is recommended that teachers can use the PECS book media as a learning medium that aims to help students improve their expressive communication skills. ABSTRAK Siswa gangguan emosi dan perilaku pada umumnya mengalami hambatan dalam berosialisasi, berkomunikasi, proses berpikir, dan memilki perilaku yang dapat membuat lingkungan menjadi tidak nyaman. Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan di sekolah inklusi terdapat salah satu siswa gangguan emosi dan perilaku yang menunjukkan kesulitan dalam kemampuan komunikasi ekspresif di kelas. Hasil identifikasi dan asesmen yang peneliti lakukan didasari oleh instrumen identifikasi anak berkebutuhan khusus dan asesmen komunikasi ekspresif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menguji keefektifan media buku PECS dalam meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif pada siswa gangguan emosi dan perilaku. Penelitian menggunakan bentuk single subject research dengan desain A-B-A. Subjek penelitian satu orang dengan target behavior siswa gangguan emosi dan perilaku dapat meningkat kemampuan komunikasi ekspresifnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi ekspresif pada siswa setelah diberikannya media buku PECS. Disarankan kepada guru agar dapat menggunakan media buku PECS sebagai media pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif. Kata Kunci: Gangguan Emosi dan Perilaku. Komunikasi ekspresif. Media Buku PECS Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku PENDAHULUAN Salah satu bentuk komunikasi fundamental adalah komunikasi ekspresif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan ide, pendapat, dan perasaan baik secara verbal maupun non-verbal. Hal ini tidak hanya mendorong interaksi sosial, tetapi juga mendorong partisipasi dalam pembelajaran, kepercayaan diri, dan keputusan sehari-hari. Komunikasi ekspresif yang tidak efektif dapat menyebabkan kesalahpahaman, keraguan diri, dan bahkan masalah (Inah, 2. Dalam proses komunikasi, perbedaan karakter setiap individu dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan terjalinnya komunikasi. Pada anak tunagrahita, hambatan dalam bentuk keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara menjadi salah satu ciri khas yang melekat pada kondisi mereka (Sarrah & Marlina, 2. Komunikasi terbagi menjadi dua yaitu komunikasi ekspresif dan komunikasi reseptif. Komunikasi ekspresif merupakan bentuk penyempaian berbagai perasaan ataupun emosi seseorang terhadap orang lain (Hasiana, 2. , sedangkan komunikasi reseptif merupakan kemampuan untuk menerima dan memahami pesan. Komunikasi ekspresif mencakup kemampuan untuk mengekspresikan pesaan, pendapat, dan sikap terhadap orang lain melalui bahasa verbal dan non-verbal yang membantu anak untuk menyampaikan ide-ide, perasaan dan pendapat secara efektif (Wahid, 2. Komunikasi ekspresif dipilih sebagai aspek utama karena berperan penting dalam membantu individu untuk menyampaikan gagasan, emosi, dan kebutuhan mereka secara langsung kepada orang lain. Komunikasi ini mencerminkan kemampuan dalam menggunakan bahasa, baik melalui kata-kata . maupun tanpa kata . erakan, ekspresi wajah, simbo. (Spencer, 2. Kemampuan ini sangat penting karena berkaitan erat dengan interaksi sosial, keikutsetraan dalam kegiatan belajar, dan pengambilan keputusan sehari-hari. Beberapa media yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif yaitu dengan menggunakan Buku Pop-up, buku ini menawarkan pengalaman membaca yang menyenangkan dan interaktif secara visual, dan mendorong anak untuk bisa menceritakan kisah dan mengekspresikan emosi, harapan serta pandanganya (Lestari et al. Akan tetapi Buku Pop-Up ini kurang efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif dikarenakan tampilan Buku Pop-Up kurang menarik sehingga membuat anak kurang tertarik dan cepat merasa bosan dan juga menggunakan metode bermain peran dalam (Febrisma, 2. Beberapa cara yang digunakan oleh guru untuk melatih kemampuan komunikasi ekspresif adalah salah satunya memberikan intervensi preventif guru sering memberikan intervensi preventif agar mencegah perilaku negatif dan mendorong tindak tutur ekspresif (Marlina, 2. , intervensi ini melibatkan dorongan positif terhadap usaha anak dalam berkomunikasi (Budiasih, 2. Salah satu metode yang digunakan oleh guru yaitu metode bercerita digunakan oleh guru untuk melatih kemampuan komunikasi ekspresif pada anak, dengan menggunakan metode bercerita ini anak juga bisa meningkatkan rasa percaya diri (Marlina & Kusumastuti, 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan di SDN 02 Karan Aur Kota Pariaman, pada saat dilakuka identifikasi dengan menggunakan instrumen identifikasi anak dengan gangguan emosi dan perilaku (Marlina, 2. peneliti menemukan seorang anak bernama AP yang merupakan anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku tipe Anxious-withdraw (Marlina, 2. , tipe ini merupakan anak yang cenderung merasa cemas, pemalu, takut-takut, sering menyendiri, menghindari atau menarik diri dari lingkungan sosial, tidak dapat mengekspresikan perasaannya, dilihat dari tingkah laku anak didalam kelas anak sering menyendiri dan tidak ikut bermain bersama teman-temannya, dan dilihat Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku dari tingkah laku anak dirumah lebih memilih untuk bermain seorang diri, menghabiskan waktu dikamar, atau menyendiri daripada ikut serta dalam kegiatan bersama keluarga. Pada saat peneliti mengajak anak berkomunikasi anak sering merespon dengan anggukkan dan beberapa kali anak juga merespon dengan diam seperti penulis bertanya AuApa warna kesukaan muAy anak hanya diam, pertanyaan itu penulis berikan sebanyak tiga kali dan pada saat pertanyaan ketiga anak baru menjawab dengan kata AuBiruAy. Juga dilihat dari interaksi anak dengan teman-temannya anak banyak menyendiri dari pada ikut bermain bersama teman-temannya. Dari respon yang diberikan anak, peneliti melakukan asesmen dari hasil asesmen yang telah dilakukan anak mengalami gangguan komunikasi ekspresif dimana anak mengalami kesulitan dalam komunikasi secara verbal seperti anak sulit untuk mengungkapkan perasaannya maupun keinginannya dengan kalimat yang jelas seperti anak sulit merangkai kalimat untuk menjawab beberapa pertanyaan contohnya AuSaya pergi ke sekolah berjalan kakiAy dan serta secara non-verbal anak juga sulit untuk mengekspresikan perasaan yang dirasakannya dengan bahasa tubuhnya ataupun ekspresi wajahnya seperti anak saat marah dia hanya diam ataupun membentak bukan menyatakan AuAku sedang marahAy. Melihat masalah yang dialami oleh anak peneliti memberikan sebuah media yang bisa membantu meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif yaitu Buku Picture Exchange Communication System (PECS). Buku PECS adalah jenis sistem komunikasi augmentatif alternatif yang awalnya dikembangkan pada tahun 1985 oleh Andy Bondy. Ph. D, dan Lori Frost. MS, c-SLP untuk digunakan pada sisa prasekolah dengan gangguan spektrum autisme (ASD) dan sejak itu telah diperluas untuk semua usia dan disabilitas (Battaglia,D. , 2. Buku PECS adalah metode yang digunakan untuk melatih berkomunikasi dengan kemampuannya dalam meningkatkan komunikasi ekspresif terutama pada indikator komunikasi verbal dan non-verbal, melatih kemandirian anak dalam memulai interaksi, menekan perilaku agresif, atau menarik diri, serta fleksibelitas untuk diterapkan diberbagai konteks (Taufan et al. , 2. Alasan penulis memilih Buku PECS sebagai intervensi pada penelitian ini yaitu Buku PECS memiliki kelebihan dari media lainnya dengan Buku PECS bisa membantu anak untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasinya secara verbal maupun non-verbal dikarenakan pada Buku PECS terdapat kartu gambar yang bisa membantu anak untuk merangkai kalimat yang ingin diungkapkanya (Purnomo et al. , 2. Buku PECS ini berisikan gambar-gambar atau simbol yang digunakan untuk anak melakukan komunikasi. Pada Buku PECS ini anak diajarkan bagaimana cara mengekspresikan diri dan mengungkapkan apa yang diinginkan oleh anak. Buku PECS ini mempunyai kelebihan yaitu mudah dipahami, simbol-simbol yang terdapat didalam Buku PECS jelas dan sangat memudahkan orang lain memahami. Buku PECS mendorong kemandirian anak untuk memulai melakukan komunikasi dengan orang Buku PECS juga bisa membuat anak merasa percaya diri untuk memulai berkomunikasi (Aflahani & Rosdiana, 2. METODE PENELITIAN Subjek Penelitian Subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah satu orang anak yang berinisial AP yang bersekolah di SDN 02 KaranAur Kota Pariaman, berikut adalah kondisi dari subjek Penelitian Nama Usia 11 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku Kelas Jenis Disabilitas Hasil Asesmen Anak dengan gangguan emosi dan perilaku Berdasarkan hasil asesmen komunikasi ekspresif yang sudah dilakukan anak mengalami gangguan pada aspek komunikasi verbal dan nonverbal. Adapun dari hasil asesmen pada aspek komunikasi verbal anak kesulitan dalam mengungkapkan perasaanya melalui kata sederhana, anak juga mengalami kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya. Pada aspek komunikasi non-verbal anak juga mengalami kesulitan dalam mengekspresikan rasa senang, marah, ataupun sedihnya kepada orang lain. Setting Penelitian Penelitian dilaksanakan di SDN 02 Karan Aur Kota Pariaman dengan menggunakan ruangan khusus dengan Single Subject Reseacrh (SSR) sebagai jenis penelitian dan dengan menggunakan desain penelitian A-B-A (Marlina, 2. Penelitian dimulai pada tanggal 16 Juli- 5 Agustus. Pada kondisi baseline peneliti memberikan tes lisan kepada subjek dan pada saat kondisi intervensi peneliti berperan langsung dalam memberikan intervensi berupa media Buku PECS. Teknik Pengumpulan Data dan Pengukuran Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes lisan, dengan aspek verbal yang meliputi struktur kalimat yang digunakan untuk menyampaikan keinginan, pilihan kata yang digunakan harus sesuai dengan maksud dan emosi yang disampaikan, serta pada aspek non-verbal meliputi cara subjek menyampikan ekspresi yang dirasakannya serta gestur tubuh dalam berkomunikasi. Pengukuran data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan frekuensi, pengumpulan dalam penelitian ini menggunakan analisis visual grafik sebagai teknik analisis data yang terdiri dari analisis antar kondisi dan analisis dalam kondisi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian kondisi yaitu : kondisi fase baselina 1 (A. kondisi fase intervensi (B dan kondisi fase baseline 2 (A. Penelitian ini dilakukan sebanyak 13 kali pertemuan. Pada fase baseline (A. merupakan kondisi awal tingkat kemampuan komunikasi ekspresi anak sebelum diberikan intervensi. Untuk mengetahui data padaa kondisi baseline, peneliti memberikan tes lisan kepada anak. Untuk tes lisan tersebut anak diminta untuk menjawab pertanyaan yang peneliti berikan memuat aspek verbal dan non-verbal. Pengamatan dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan, yang dimulai pada tanggal 15,16, 17,18 Juli 2025, dengan frekuensi yang diperoleh pada fase ini yaitu 16 kejadian yang muncul. Selanjutnya yaitu. Fase intervensi merupakan kondisi penerapan atau pemberian perlakuan berupa bantuan dengan menggunakan media Buku PECS yang digunakan dalam membantu anak meningkatkan kemampuan komunikasi Pada fase intervensi, anak diberikan perlakuan sebanyak 5 kali pertemuan. Fase intervensi (B) dimulai dari tanggal 22 Juli- 29 Juli 2025. Setelah diberikan intervensi dengan menggunakan media buku PECS, yang dilakukan sebanyak 5 kai pertemuan, dengan hasil frekuensi yang muncul sebanyak 61 kali. Terakhir yaitu. Fase baseline (A. adalah fase Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku dimana tidak lagi diberikannya perlakuan atau intervensi, disetiap pertemuan anak diminta untuk melakukan tes secara lisan. Pada fase ini komunikasi eksprsif subjek sudah meningkat dari sebelumnya yang dilihat dari hasil yang didapatkan munculnya kejadian sebanyak 60 Berikut link video selama fase baseline 1, fase intervensi dan fase baseline 2 https://drive. com/drive/folders/157wlYROeArgjx5jjxJw7eL2co6Fve5Eg Analisis dalam kondisi pada penelitian ini dapat dilihat dari grafik di bawah ini Gambar 1. Grafik Visual Analisis Dalam Kondisi Keterangan : Baseline A1 Intervensi B Baseline A2 Trend Split Middle Mean Level Berdasarkan grafik analisis dalam kondisi akan menjelaskan perubahan data yang terjadi antara kondisi awal dan kondisi pada saat deberikan intervensi. Berikut Analisis dalam kondisi dapat dilihat dari beberapa komponen perubahan data pada grafik yaitu : panjang kondisi, estimasi kecenderungan arah, jejak data, stabilitas, level perubahan dan level stabilitas. Dilihat dari gambar 1 diketahui bahwa panjang kondisi dalam penelitian ini dilakukan sebanyak 13 kali pertemuan. Dimana fase (A. sebanyak 4 kali pertemuan, dengan estimasi kecenderungan arah menurun (-) yang bisa dilihat dari grafik hal ini disebabkan oleh kurangnya fokus subjek pada saat diberikan tes dikarenakan gangguan dari teman subjek, dengan kecenderungan stabilitas yang diperoleh berada pada kondisi 0%, jejak data pada kondisi ini menurun (-), serta level stabilitas berada pada rentang 4-4 , pada Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku level perubahan menunjukan berada pada tahap (=). Selanjutnya fase intervensi yang mana memberikan perlakuan kepada subjek dengan menggunakan media buku PECS, yang dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan, dengan menunjukkan kecenderungan arah mengalami peningkatan ( ), dan kecenderungan stabilitas yang diperoleh pada angka 20% dengan mean level 12,2, ketika diberikan media buku PECS yang terdiri dari lima jejak data yaitu 6,9,11,17,18 sehingga bisa disimpulkan bahwa kecenderungan jejak data fase intervensi (B) meningkat, stabilitas rentang pada fase intervensi (B) dengan rentang 6-18, serta level perubahan yang terjadi mengalami peningkatan sebanyak . Artinya, pada fase intervensi kemampuan subjek mengalami peningkatan, pada pertemuan ke 8 dan ke-9 mengalami peningkatan dikarenakan subjek mampu menjawab tes yang diberikan dengan berbantuan media buku PECS serta fokus dalam pelaksanaan tes tersebut. Selanjutnya. Pada fase baseline 2 (A. dengan panjang kondisi sebanyak 4 kali pertemuan, dengan kecenderungan arah mengalami peningkatan ( ) serta kecenderungan stabilitas yang diperoleh pada fase ini 75% dengan mean level 15, jejak data yang diperoleh meningkat ( ) stabilitas rentang pada fase ini dengan rentang 12-16, dengan level perubahan yang terjadi sebanyak ( . dan mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan subjek bisa menjawab semua tes yang diberikan oleh peneliti tanpa adanya bantuan dari media Buku PECS. Gambar 2. Grafik Visual Analisis Antar Kondisi Keterangan : Baseline A1 Intervensi B Baseline A2 Trend Split Middle Mean Level Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku Trend batas atas Berdasarkan grafik analisis data antar kondisi, yang akan dianalisis yaitu mengenai banyak variabel, perubahan kecenderungan arah, perubahan kecenderungan stabilitas, level perubahan, dan overlap data. Berikut penjelasannya Banyak variabel yang dirubah pada penelitian ini berjumlah satu yaitu meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif. Perubahan kecenderungan arah Dilihat pada kondisi baseline 1 (A. menunjukkan estimasi kecenderungan arah menurun (-), pada kondisi intervensi (B) memperlihatkan estimasi kecenderungan arah menunjukkan meningkat ( ), dan pada kondisi baseline 2 (A. dengan estimasi kecenderungan arah meningkat ( ). Ini menunjukkan adanya dampak positif dari pemberian media Buku PECS untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif pada anak dengan gangguan emosi dan perilaku. Perubahan kecenderungan stabilitas Perubahan kecenderunga stabilitas terlihat pada perolehan skor siswa yang konsisten di fase (A. , (B), ataupun (A. Pada fase baseline (A. point yang didapatkan tidak stabil , fase Intervensi (B) kecenderungan stabilitasnya adalah tidak stabil. Fase Baseline (A. kecenderungan stabilitasnya adalah tidak stabil. Level perubahan antar kondisi Perubahan level pada data baseline 1 (A. dan data intervensi mengalami peningkatan dengan perubahan sebanyak 2 . sedangkan pada data intervensi (B) dan data baseline 2 (A. juga mengalami peningkatan dengan perubahan sebanyak 12 . Data overlap Berdasarkan data yang didapatkan bahwasanya dari kondisi A1 ke kondisi B overlapnya . %) berarti kemempuan komunikasi ekspresif anak meningkat setelah diberikan perlakuan media buku PECS, sedangkan terhadap intervensi (B) ke kondisi baseline 2 (A. overlapnya 0%. Pembahasan Penelitian ini berguna untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif pada anak dengan gangguan emosi dan perilaku, penelitian selama 13 sesi pertemuan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penggunaan buku PECS memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan komunikasi ekspresif pada anak-anak dengan masalah emosi dan perilaku (Sukriananda & Mangunsong, 2. Anak-anak yang sebelumnya sulit dalam mengungkapkan kebutuhan atau keinginan mereka, setelah menerima intervensi menggunakan buku PECS, menunjukkan kemajuan dalam kemampuan menggunakan simbol visual untuk berkomunikasi. Hal ini sejalan dengan teori komunikasi alternatif dan augmentatif yang menjelaskan bahwa media berbasis gambar dapat berfungsi sebagai jembatan bagi anak-anak yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi untuk mengekspresikan diri dengan lebih jelas . Selain itu, penggunaan buku PECS juga membantu anak-anak mengurangi perilaku yang bermasalah karena mereka mendapatkan cara yang lebih tepat untuk menyampaikan perasaan atau kebutuhan mereka (Crowe et al. , 2. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa media buku PECS terbukti efektif dalam meningkatkan komunikasi ekspresif sekaligus mendukung perkembangan sosial-emosional anak-anak yang memiliki gangguan emosi dan perilaku. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media buku PECS tidak hanya Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku bantuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif tetapi juga membuka jalan untuk anak dengan gangguan emosi dan perilaku untuk lebih bisa mengeskpresikan dirinya. Anak-anak yang sebelumnya sering diam atau mengungkapkan kebutuhan atau keinginannya dengan cara berprilaku tidak sopan ataupun hanya menyimpan sendiri emosi yang ingin diungkapkannya, dengan bantuan buku PECS kini bisa menunjukkan gambar atau simbol untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan (Safira et al. , 2. Hasil analisis dari data memperlihatkan bahwa dengan diberikannya intervensi media buku Picture Exchange Communication System (PECS) dalam peningkatan kemampuan komunikasi ekspresif pada siswa gangguan emosi dan perilaku. Media buku Picture Exchange Communication System (PECS) adalah sebuah pendekatan yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi anak dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Yoder & Lieberman, 2. Setting Penelitian dilakukan di SDN 02 Karan Aur Kota Pariaman diruangan khusus selama 30 menit dimulai dari pukul 10:30 sampai pukul 11:00 dan Penelitian dilakukan pada setiap hari senin sampai Tujuan utama dari media dengan metode Picture Exchange Communication System (PECS) adalah membantu anak secara spontan mengungkapkan interaksi yang komunikatif, membantu anak memahami fungsi dari komunikasi, dan mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi. Menurut Bondy dan frost (Goa dan Derung, 2. mengatakan AuPECS merupakan suatu pendekatan atau cara untuk melatih kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol non-verbalAy (Sunusi et al. , 2. Berdasarkan penelitian (Flippin et al. , 2. menunjukkan bahwasanya PECS memberikan efek kecil hingga sedang terhadap komunikasi fungsional pada anak dengan ASD. Penelitian oleh (Sukriananda & Mangunsong, 2. menunjukkan bahwa pelatihan PECS pada anak autis non-verbal meningkatkan inisiasi komunikasi mandiri hingga 40% hanya dalam delapan sesi. Hasil ini menegaskan bahwa PECS mendorong anak untuk aktif menginisiasi interaksi, bukan hanya Penerapan penelitian didasarkan pada karakteristik siswa gangguan emosi dan perilaku yang memberikan efek positif dalam upaya meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif pada siswa di sekolah. Hal ini dibuktikan dengan data perolehan peneliti, yang memperlihatkan peningkatan pemahaman siswa ketika diberikannya intervensi berupa media Picture Exchange Communication System (PECS). Adanya peningkatan yang positif pada siswa gangguan emosi dan perilaku di sekolah dengan diberikannya media Picture Exchange Communication System (PECS) ini diharapkan dapat menjadi penanganan pada kebutuhan dan karakteristik setiap individu. Keterbaruan dari penelitian ini terletak pada penggunaan Media buku PECS untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif pada anak dengan gangguan emosi dan Media buku PECS ini membuat anak lebih bisa leluasa untuk bisa mengekspresikan perasaannya serta keinginannya melalui simbol-simbol atau gambar yang terdapat di buku PECS, berbeda dengan penelitian yang dilakukan (Sari & Putri, 2. penelitian ini menekankan metode PECS sebagai media visual berbasis gambar dapat membantu anak autis mengatasi hambatan komunikasi dan meningkatkan ekspresivitas. Dengan adanya media buku PECS ini maka bisa menjadi refensi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif pada anak dengan gangguan emosi dan perilaku. KESIMPULAN Penelitian yang didasarkan pada data ini diterapkan untuk meningkatkan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Media Buku Picture Exchange Communication System Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Ekspresif Pada Anak Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku kemampuan komunikasi ekspresif dengan menerapkan media buku PECS bagi siswa gangguan emosi dan perilaku. Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimen dengan SSR (Single Subject Researc. sebagai pendekatan penelitian dan A-B-A sebagai desain Penelitian ini dilakukan sebanyak 13 sesi pertemuan . yang terbagi menjadi tiga fase, yaitu fase baseline (A. selama 4 sesi, intervensi (B) selama 5 sesi, dan baseline (A. selama 4 sesi. Pada fase baseline (A. sebelum diberikan intervensi mendapatkan frekuensi 4,5,3,4 dan Fase Intervensi (B) ketika diterapkan media buku Picture Exchange Communication System (PECS) mendapatkan frekuensi 6,9,11,17,18 serta Baseline (A. setelah diberikan intervensi mendapatkan frekuensi 12,16,16,16. Berdasarkan hasil data yang peneliti analisis tentang media Buku PECS untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif bagi siswa gangguan emosi dan perilaku di SD Negeri 02 Karan Aur. Media Buku PECS efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif bagi siswa gangguan emosi dan Data kecendrungan arah yang meningkat menunjukkan frekuensi kemampuan komunikasi ekspresif bertambah saat diberikannya penguatan/intervensi. Selain itu mean level kondisi intervensi lebih tinggi dibandingkan kondisi baseline. Penelitian dengan menerapkan Buku PECS didasarkan pada karakteristik dan kebutuhan siswa gangguan emosi dan perilaku yang berperan dalam peningkatan kemampuan komunikasi ekspresif. Peningkatan siswa ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam perolehan jumlah frekuensi yang didapat saat intervensi. REFERENSI