Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 ISSN : 1693-6876 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DAN INDIKATOR KEBANGKRUTAN PADA PT. BUKIT ASAM. Tbk BESERTA ANAK PERUSAHAAN Dra. Hj. Ani Nuraini. MMA). Tiara Putri A) . Dosen Fakultas Ekonomi . Mahasiswa Fakultas Ekonomi . Universitas Respati Indonesia Jakarta Jl. Bambu Apus I/ No. 3 Cipayung Jakarta Timur 13890 Email : urindo@indo. ABSTRAK Salah satu cara agar perusahaan tetap dapat bertahan, yaitu dengan menganalisa laporan keuangannya, untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan dari tahun ke tahun. Demikian pula yang dilakukan oleh PT. Bukit Asam,Tbk, yang bergerak dalam bidang pertambangan batu bara. Selain menganalisa laporan keuangan, dilakukan pula analisa indikator kebangkrutan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik analisis data menggunakan metode rasio keuangan untuk mengetahui kinerja dan posisi keuangan PT. Bukit Asam,Tbk dan metode kebangkrutan Altman Models untuk mengetahui kelangsungan perusahaan tersebut. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa pada tahun 2009-2013 dapat dikatakan menurun dari tahun ke tahun. tetapi dilihat dari rasio likuiditas dan rasio solvabilitas perusahaan cukup mampu dalam melunasi kewajibannya walaupun dalam kinerja keuangannya mengalami penurunan, untuk rasio aktivitas, perusahan mampu memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan Untuk rasio profitabilitasnya, mengalami penurunan, dan untuk analisa indikator kebangkrutan, perusahaan masuk ke dalam wilayah abu-abu. Dengan demikian perusahaan diharapkan dapat berbenah diri, dan dapat segera melakukan perbaikan agar memperoleh hasil yang lebih baik dimasa mendatang Kata kunci : laporan keuangan, rasio keuangan, indikator kebangkrutan Pendahuluan Latar belakang masalah Perkembangan posisi keuangan sangat penting bagi perusahaan, faktor terpenting untuk melihat perkembangan tersebut adalah pada unsur keuangannya, karena dari unsur tersebut dapat dievaluasi apakah kebijakan yang ditempuh sudah tepat atau belum. Karena mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan dan membuat para investor dan kreditor merasa khawatir jika perusahaan mengalami kesulitan kebangkrutan, maka salah satu cara yang dipakai untuk mengetahui kondisi keuangan suatu perusahaan adalah dengan laporan keuangan yang disusun pada setiap akhir tahun takwim yang berisi pertanggung jawaban bidang keuangan atas operasional perusahaan. Secara empiris prediksi kebangkrutan dapat dibuktikan, dengan menggunakan rasio-rasio keuangan, dibutuhkan tolok ukur yang dapat menggambarkan bagaimana kondisi dan prestasi yang dicapai oleh perusahaan dengan melakukan perbandingan antara perusahaan lain sejenis, dan yang paling sering menghubungakan dua data keuangan, satu dengan lainnya. Melihat pentingnya laporan keuangan pada suatu perusahaan, maka diambil judul AuAnalisis laporan keuangan dan indikator kebangkrutan pada PT. Bukit Asam Tbk periode tahun 2009-2013 . tudi kasu. Identifikasi Masalah : Analisis laporan keuangan PT . Bukit Asam,Tbk mempunyai rasio-rasio keuangan yang baik Posisi keuangan PT Bukit Asam. Tbk periode tahun 2009-2013 berdasarkan analisa rasio keuangan memiliki nilai zscore > 2. 90 atau non bangkrut Kemampuan produksi PT. Bukit Asam. Tbk mampu bersaing dengan produksi perusahaan sejenis Harga pokok produksi PT. Bukit Asam. Tbk mampu bersaing dengan harga pokok produksi perusahaan sejenis Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 Rumusan masalah : Apakah analisa laporan keuangan PT. Bukit Asam. Tbk mempunyai rasio-rasio keuangan yang baik ? Apakah posisi keuangan PT. Bukit Asam,Tbk periode tahun 2009-2013 berdasarkan analisa rasio keuangan memiliki nilai z-score > 2. 90 atau non Tujuan penelitian : Untuk memperoleh gambaran & mengetahui Apakah analisa laporan keuangan PT. Bukit Asam. Tbk mempunyai rasio-rasio keuangan yang baik ? Apakah posisi keuangan PT. Bukit Asam,Tbk periode tahun 2009-2013 berdasarkan analisa rasio keuangan memiliki nilai z-score > 2. 90 atau non Metodologi Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan data laporan keuangan periode 2009-2013 yang telah ada pada PT . Bukit Asam,Tbk Tempat dan waktu Tempat : PT. Bukit Asam. Tbk. Jl. HR. Rasuna Said. Menara KADIN. Kav. Kuningan. Jakarta Waktu : April -Juni Ao2014 Metode Penelitian Metode deskriptif, yaitu mengumpulkan data berupa laporan keuangan yang dianalisis pada PT. Bukit Asam,Tbk periode tahun 2009-2013 Instrumen penelitian menggunakan rasio-rasio. aktivitas, solvabilitas, profitabilitas dan nilai z-skor pada PT. Bukit Asam. Tbk periode 2009-2013 Teknik pengumpulan data data primer . ari lapanga. dengan cara survey/observasi dan wawancara, data sekunder . ari berbagai sumber studi kepustakaa. ISSN : 1693-6876 Teknik analisa data Data dianalisis menggunakan analisis kuantitatif . embuat perhitungan Hasil dan Pembahasan Sejarah perkembangan. PT. Bukit Asam. Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang penambangan batubara, operasinya meliputi pembukaan tanah pucuk, lapisan tanah penutup, mengembalikan lapisan tanah pucuk dan tanah penutup untuk kegiatan penanaman kembali. Proses terbatas hanya untuk memproduksi briket, berupa penambahan perekat terhadap butiran batubara seukuran pasir dilanjutkan dengan pressing membentuk kubus/ trapesium. Operasional tersebut dilakukan secara terencana, memperhatikan kaidah penambangan penambangan green mining. Pada tahun 2002. PT. BA mulai menjadi perusahaan public dan sahamnya mulai tercatat di Bursa Efek Surabaya dengan kode AuPTBAAy PT Bukit Asam juga memiliki entitas anak perusahaan antara lain : PT. Batubara Bukit Kendi dalam bidang usaha penambangan batubara PT. Internasional Prima Coal (IPC) dalam bidang usaha penambangan batubara PT. Bukit Pembangkit Inovative di bidang usaha pembangkit listrik tenaga uap PT. Bukit Asam Prima dalam bidang usaha perdagangan batubara PT. Bukit Asam Metana Ombilin dalam bidang usaha penambangan gas metana PT. Bukit Asam Metana Enim dalam bidang usaha penambangan gas metana PT. Bukit Asam Metana Peranap dalam bidang usaha penambangan gas metana PT. Bukit Asam Metana Banko dalam bidang usaha penambangan gas metana PT. Bukit Asam Transpacific Railway dalam bidang usaha angkutan batubara PT. Huadian Bukit Asam Power dalam bidang pembangkit listrik tenaga uap Hasil analisis laporan keuangan Rasio likuiditas Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 ISSN : 1693-6876 Perhitungan rasio lancar, yaitu aktiva lancar/ hutang lancar Tabel 1. Perhitungan rasio lancar Tahun Aktiva lancar Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Utang lancar Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Dari tabel 6. 4 diketahui rasio lancar PT. Bukit Asam. Tbk beserta anak perusahaannya tahun 2009-2013 dalam memenuhi kewajiban jangka Rasio lancar 4= 2:3 4,92 kali 5,79 kali 4,63 kali 4,92 kali 2,86 kali pendeknya dengan menggunakan rasio lancar cukup baik. Perhitungan Rasio cepat yaitu: . ktiva lancar Ae persediaa. : hutang lancar Tabel 1. Perhitungan rasio cepat Tahun Aktiva lancar Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Persediaan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Dari tabel 6. 5 diketahui bahwa rasio cepat perusahaan memperlihatkan perusahaan melunasi utang lancarnya dengan aktiva lancarnya kecuali persediaan . arena persediaan merupakan aktiva lancar yang Hutang lancar Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rasio cepat 5 = . :4 4,62 kali 5,42 kali 4,29 kali 4,49 kali 2,46 kali kurang likui. cukup baik. atau likuiditas perusahaan dalam keadaan cukup baik, walaupun rasio cepat tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 4,29 kali. Rasio aktivitas Rasio perputaran persediaan yaitu: harga pokok penjualan/ rata-rata persediaan Periode rata-rata persediaan = 360 hari/ rasio perputaran persediaan Rata-rata persediaan 2009 Rata-rata persediaan 2010 Rata-rata persediaan 2011 Rata-rata persediaan 2012 Rata-rata persediaan 2013 = . ersediaan th. 2008 persediaan th. = . : 2 = 414. = . ersediaan th. 2009 persediaan th. = . : 2 = 416. = . ersediaan th. 2010 persediaan th. = . : 2 = 534. = . ersediaan th. 2011 persediaan th. = . : 2 = 705. = . ersediaan th. 2012 persediaan th. = . : 2 = 833. Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 ISSN : 1693-6876 Tabel 1. Perhitungan rasio perputaran persediaan Tahun Harga pokok Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rata-rata Persediaan Rp. Rp. Rp. Rp. 705,398,5 Rp. Dari Tabel 6. 6 diketahui rasio perputaran persediaan di tahun 2010 mengalami peningkatan, yang berarti perusahaan sangat produktif dalam mengelola persediaannya. ITO ratio Umur persediaan 4=. 9,89 kali 10,21 kali 9,92 kali 9,22 kali 9,28 kali 36,40 hari 35,25 hari 36,29 hari 39,04 hari 38,79 hari mampu mengurangi resiko persediaan dari yang rusak menjadi lebih baik jika dilihat dari umur Tabel 1. Perhitungan rasio perputaran piutang Tahun Penjualan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rata-rata Piutang Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Dari tabel 6. 7 dapat dilihat Semakin lama periode rata-rata piutang usaha disebabkan penagihan bekerja kurang maksimal dan efisien, atau pihak konsumen dapat membayar kewajibannya tidak tepat waktu/tidak sesuai jadwal yang ditentukan perusahaan, sehingga ACRT ratio 6,20 kali 6,32 kali 9,71 kali 8,50 kali 7,54 kali Periode rerata Piutang usaha 58,06 hari 56,96 hari 37,07 hari 42,35 hari 47,74 hari perusahaan kurang baik dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Semakin kecil rasio perputaran piutang akan semakin kurang baik, karena rasio ini dapat menjadi indikator untuk menilai kebijakan pinjaman dan kebijakan penagihan perusahaan. Rasio perputaran total aktiva, yaitu penjualan dibagi rata-rata total aktiva Tahun Tabel 1. Perhitungan rasio perputaran total aktiva Rerata total aktiva TATO ratio Rp. Rp. 1,26 kali Rp. Rp. 0,94 kali Rp. Rp. 1,04 kali Rp. Rp. 0,95 kali Rp. Rp. 0,91 kali Dari tabel 6. 8 dapat diketahui bahwa rasio TATO perusahaan ditahun 2013 sebesar 0,91 kali. Berarti bahwa penggunaan setiap rupiah total yang dimiliki perusahaan akan menghasilkan besarnya penjualan sebesar 0,91 Sehingga setiap satu rupiah total aktiva yang dimiliki dapat menciptakan penjualan sebesar 0,91 rupiah. Melihat hal ini penjualan harus terus ditingkatkan agar dapat memberikan hasil yang terbaik bagi perusahaan. Semakin besar jumlah rasio ini akan semakin baik karena menggunakan total aktiva yang dimiliki dalam Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 ISSN : 1693-6876 Rasio solvabilitas Rasio utang,yaitu total hutang dibagi total asset Tabel 1. Perhitungan rasio utang Tahun Total hutang Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total aset Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rasio utang 28,38% 26,15% 29,04% 33,18% 35,33% Tabel 6. 9, total hutang menurun hanya pada tahun 2010, dengan rasio hutang sebesar, selebihnya rasio hutang mengalami kenaikan. 26,15% Rasio laba terhadap beban bunga (TIE: Time Interest Earne. TIE adalah laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dibagi bunga Tabel 1. Perhitungan TIE rasio Tahun Total hutang Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total aset Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Pada tabel 7. 0 perhitungan TIE rasio menunjukkan tahun 2011-2013 mengalami penurunan, disebabkan ada beban bunga yang mempengaruhi hasil TIE rasio. Pada Pembayaran bunga TIE rasio Rp. Rp. Rp. terdapat arus kas yang dapat mempengaruhi secara signifikan. Walaupun laba operasional turun tetapi PT. Bukit Asam. Tbk mampu memenuhi kewajiban membayar bunga Rasio profitabilitas Gross Profit Margin rasio perputaran total aktiva = laba bersih dibagi penjualan Tabel 1. Perhitungan gross profit margin Tahun Laba bersih Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Penjualan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Gross profit margin Rp. 0,30 Rp. 0,25 Rp. 0,29 Rp. 0,19 Rp. 0,20 Tabel 7. rasio gross profit margin PT. Bukit Asam,Tbk dan anak perusahaan tahun 2009 - 2013 selalu mengalami penurunan dan kurang stabil. Rasio daya laba dasar . asic earning power = BEP rasi. dihitung dengan menggunakan rumus : EBIT dibagi total aktiva Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 ISSN : 1693-6876 Tabel 1. Perhitungan gross profit margin Tahun EBIT Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total Aktiva Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Dari tabel 7. 2 dapat disimpulkan bahwa terdapat kemampuan perusahaan dalam BEP rasio Rp. 0,465 Rp. 0,298 Rp. 0,352 Rp. 0,307 Rp. 0,210 menghasilkan laba dari aktiva perusahaan sebelum pengaruh pajak serta bunga mengalami Rasio pengembalian total aktiva atau ROA (Return On Asset rasi. dapat dihitung dengan rumus: ROA = laba bersih dibagi total aktiva Tabel 2. Perhitungan ROA Tahun EBIT Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Tabel 7. ROA (Return On Asset rasi. , hasil ROA mengalami penurunan, yang dipengaruhi oleh turunnya laba bersih setelah pajak. Total Aktiva Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. BEP rasio Rp. 0,337 Rp. 0,230 Rp. 0,268 Rp. 0,178 Rp. 0,201 yang disebabkan oleh menurunnya nilai EBIT dan meningkatnya beban pajak yang harus dibayarkan. Rasio atas pengembalian ekuitas (ROE) = laba bersih dibagi ekuitas Tabel 2. Perhitungan ROE Tahun EBIT. aba bersi. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total Aktiva . Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. BEP rasio Rp. 0,478 Rp. 0,315 Rp. 0,378 Rp. 0,266 Rp. 0,311 Berdasarkan tabel 7. 4 rasio pengembalian terhadap modal sendiri (ROE) setiap tahunnya selalu kurang stabil, mengalami Namun secara umum cukup baik dalam pengembalian total ekuitasnya. Analisa indikator kebangkrutan dengan menggunakan metode Altman Models rumus ke-2 Fungsi diskriminan Z (Zet. yang ditemukan Edward I. Altman adalah : Keterangan : Z = Z-skor X1 = modal kerja/total aktiva X2 = laba ditahan/total aktiva X3 = laba sebelum bunga dan paja/total X4 = nilai pasar saham/total hutang X5 = penyimpangan yang terjadi Rumus z-skor perusahaan non manufaktur Z = 0,717 X1 0,847 X2 3,107 X3 0,420 X4 Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 Kriteria : < 1,23 1,23 < Z < 2,90 > 2,90 Bangkrut Area abu-abu Non bangkrut Perhitungan untuk mencari nilai variabel X dalam z-skor sebagai berikut : X1 = modal kerja dibagi total aktiva Modal kerja = total aktiva lancar-total kewajiban lancar ISSN : 1693-6876 Modal kerja tahun: 2009: Rp. 391 Ae Rp. 908 = Rp. 2010: Rp. 953 Ae Rp. 728 = Rp. 2011: Rp. 260 Ae Rp. 423 = Rp. 2012: Rp. 297 Ae Rp. 664 = Rp. 2013: Rp. 783 Ae Rp. 956 = Rp. Tabel 2. Perhitungan mencari nilai modal kerja/total aktiva Tahun Modal kerja Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total Aktiva Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Nilai X1 Rp. 0,67 Rp. 0,64 Rp. 0,60 Rp. 0,55 Rp. 0,36 Nilai X2 = Nilai laba ditahan/total aktiva Tabel 2. Perhitungan mencari nilai laba ditahan/total aktiva Tahun Laba ditahan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total Aktiva Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Nilai X2 Rp. 0,31 Rp. 0,22 Rp. 0,25 Rp. 0,18 Rp. 0,14 nilai X3= EBIT/total aktiva Tabel 2. Perhitungan mencari nilai EBIT/total aktiva Tahun Laba ditahan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total Aktiva Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Nilai X3 Rp. 0,46 Rp. 0,29 Rp. 0,35 Rp. 0,30 Rp. 0,22 X4 = nilai-nilai pasar saham / total hutang Tabel 2. Perhitungan mencari nilai-nilai pasar saham/ total hutang Tahun Nilai pasar saham Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Total hutang Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Nilai X4 2,48 2,80 2,45 2,01 1,83 Dari perhitungan diatas, maka diperoleh hasil dari nilai variabel X dalam z-skor dengan hasil sebagai Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 ISSN : 1693-6876 Tabel 2. Nilai variabel X Tahun 0,67 0,64 0,60 0,55 0,36 0,31 0,22 0,25 0,18 0,14 Perhitungan mencari z-skor adalah sebagai Z = 0,717 X1 0,847 X2 3,107 X3 0,420 X4 Tahun 2009 Z = 0,717 . 0,847 . 3,107 . 0,420 . = 0,48039 0,26257 1,42922 1,0416 = 3,21378 = 3,3 Tahun 2010 Z = 0,717 X1 0,847 X2 3,107 X3 0,420 X4 X = 0,717 . 0,847 . 3,107 0,420 . = 0,45888 0,18634 0,90103 1,176 = 2,72225 = 2,7 Tahun 2011 Z = 0,717 X1 0,847 X2 3,107 X3 0,420 X4 X 0,46 0,29 0,35 0,30 0,22 2,48 2,80 2,45 2,01 1,83 = 0,717 . 0,847 . 3,107 0,420 . = 0,4302 0,21175 1,08745 1,029 = 2,7584 = 2,75 Tahun 2012 Z = 0,717 X1 0,847 X2 3,107 X3 0,420 X4 X = 0,717 . 0,847 . 3,107 0,420 . = 0,39435 0,15246 0,9321 0,8442 = 2,32311 = 2,3 Tahun 2013 Z = 0,717 X1 0,847 X2 3,107 X3 0,420 X4 X = 0,717 . 0,847 . 3,107 0,420 . = 0,25812 0,11858 0,68354 0,7686 = 1,82884 = 1,83 Hasil perhitungan berikut keterangan dari nilai z-skor yang diperoleh, dengan menggunakan metode Altman Models adalah sebagai berikut : Tabel 2. Hasil perhitungan dan keterangan nilai Z-skor alam jutaan rupia. Tahun z-skor 2,75 1,83 Non-Bankrupt/ Aman Grey area/Wilayah abu-abu Grey area/Wilayah abu-abu Grey area/Wilayah abu-abu Grey area/Wilayah abu-abu Berdasarkan tabel 8. 0 diatas. Hasil mengetahui kelangsungan perusahaan dari data yang telah dihitung untuk formula z-skor dapat diketahui range untuk perusahaan yang tidak bangkrut . on-bankrupt ) nilai Z nya adalah lebih besar dari 2,90, untuk perusahaan yang keadaannya didalam daerah wilayah abu-abu . rey are. nilai Z nya terletak diantara 1,23 sampai dengan 2,90 dan untuk perusahaan yang dapat dikatakan bangkrut nilai Z nya adalah lebih kecil dari 1,23. Pada tahun 2013, perusahaan mengalami penurunan sangat signifikan dibandingkan Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. No. Juni 2015 dengan tahun sebelumnya, yaitu dari nilai Zskornya 1,83. Nilai tersebut merupakan nilai terendah dari periode tahun 2009-2013. Penurunan tersebut dapat dikatakan sebagai kondisi yang sangat buruk bila dibandingkan tahun 2012 yang nilai Z-skornya sebesar 2,3. Dengan nilai tersebut dikatakan bahwa PT. Bukit Asam. Tbk masih dalam keadaan grey Kesimpulan dan saran : Kesimpulan: Pada rasio likuiditas, dilihat dari tahun 2009 sampai 2013, secara umum: kondisi keuangan PT. Bukit Asam,Tbk dalam keadaan cukup baik, terutama pada tahun 2010 dengan rasio 5,79 kali, yang menandakan bahwa kewajiban jangka pendeknya rasio aktivitas dalam keadaan baik, karenan PT. Bukit Asam,Tbk mampu memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien perputaran piutang, serta perputaran total aktiva yang cukup baik dan stabil rasio solvabilitas, dari tahun 20092013 dikatakan dalam keadaan tidak stabil dengan persentase rasio hutang hanya mengalami kenaikan atau penurunan 2%-4%, maka dari itu penggunaan utang untuk membiayai kegiatan operasional PT. Bukit Asam,Tbk serta dalam pelunasan kewajibannya dapat dilakukan dengan cukup baik Pada rasio profitabilitas, dapat dikatakan menurun, kecuali tahun 2009 PT. Bukit Asam,Tbk dapat menghasilkan laba cukup besar. Yaitu ISSN : 1693-6876 area, sehingga perusahaan pun dapat bertahan dalam menjalankan kegiatan Namun diperlukan perubahan yang sangat berarti. Karena nilai Z nya sudah berada di bawah angka 2,0 jauh dari nilai 2,90 dan cukup berbahaya bagi kelangsungan kegiatan operasional PT. Bukit Asam,Tbk menghasilkan laba bersih 1 tahun sebesar 0,337 rupiah. Serta ROE sebesar Rp. 0,478 yang artinya tingkat keuntungan dan investasi yang dilakukan pemilik modal sebesar 0,478. Untuk kebangkrutan dengan menggunakan metode Altman Models, perusahaan masuk ke dalam wilayah abu-abu. Perusahaan berbenah diri agar memperoleh hasil yang lebih baik di tahun mendatang. Saran: