Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI KECAMATAN SINGGARAN PATI KOTA BENGKULU Nina Anriana. Zulkarnain Yuliarso. Satria Putra Utama. Puspita Sari. Jurusan Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu Badan Riset dan Inovasi Nasional. Jakarta Pusat *corresponding author: ninaanriana13@gmail. * Received for review March 14, 2025. Accepted for publication April 8, 2025 Abstract Singgaran Pati District is one of the areas in Bengkulu City that has quite extensive agricultural land and is the largest rice producer. However, the area of agricultural land in this district continues to decline every year so that changes in land use result in a decrease in rice production. The first objective of this study was to analyze the amount of rice farming income and the second objective was to determine the factors that influence it in Singgaran Pati District. Bengkulu City. The research method used was a descriptive and quantitative approach with multiple linear regression analysis. The research sample was selected using the simple random sampling method, where each member of the population has an equal chance of being The number of samples used in this study was 75 rice farmers. The results showed that the average income of rice farmers in Singgaran Pati District reached IDR 6,833,753 per planting season. analyzing the factors that influence farmer income, this study tested 5 variables, namely age, education level, farming experience, number of family members, and area of cultivated land. Based on the analysis results, the variables of age, number of family dependents, and land area have a significant influence on farmers' income. Meanwhile, the level of education and farming experience do not show a significant influence on farmers' income. Keywords: Factor Analysis. Income. Rice Farming Abstrak Kecamatan Singgaran Pati menjadi salah satu wilayah di Kota Bengkulu yang mempunyai lahan pertanian cukup luas dan sebagai penghasil padi terbesar. Namun, luas lahan pertanian di kecamatan ini terus mengalami penurunan setiap tahunnya sehingga perubahan penggunaan lahan mengakibatkan penurunan produksi padi. Tujuan pertama penelitian ini untuk menganalisis besarnya pendapatan usahatani padi dan tujuan kedua yaitu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kecamatan Singgaran Pati. Kota Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda. Sampel penelitian dipilih menggunakan metode simple random sampling, di mana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 75 petani padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani padi di Kecamatan Singgaran Pati mencapai Rp 6. 753 per musim tanam. Dalam analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani, penelitian ini menguji 5 variabel, yaitu umur, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, jumlah tanggungan keluarga, dan luas lahan garapan. Berdasarkan hasil analisis, variabel usia, jumlah tanggungan keluarga, dan luas lahan memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Sementara itu, tingkat pendidikan serta pengalaman bertani tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani. Kata kunci: Analisis Faktor. Pendapatan. Usahatani Padi Copyright A 2025 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 PENDAHULUAN Komoditas pertanian yang paling banyak dibudidayakan oleh para petani adalah padi, baik segi kualitas maupun kuantitas, karena lebih dari setengah populasi bergantung pada padi sebagai sumber utama energi dan karbohidrat. Hasil produksi padi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan bagi masyarakat dan juga meningkatkan pendapatan petani padi. (Ningrat et , 2. Petani memiliki peran penting dalam mengelola serta menyediakan berbagai fasilitas produksi dan peralatan yang diperlukan saat aktivitas pertanian. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab dalam penerapan teknologi guna meningkatkan hasil produksi dan efisiensi Dalam menjalankan usahatani, petani harus mampu menyusun perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi alam, iklim, serta dinamika pasar agar dapat memperoleh pendapatan sebanyak mungkin untuk menutupi biaya hidup dan menjaga keberlanjutan usahataninya. (Tulong et al. , 2. Salah satu sektor unggulan dalam pertanian Indonesia adalah usahatani padi karena memiliki peran krusial dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, meskipun memiliki peran yang sangat krusial, keberlanjutan usahatani padi masih menghadapi berbagai tantangan. Tantangan ini terutama dirasakan oleh petani di daerah perkotaan, yang menghadapi hambatan berbeda dibandingkan dengan petani di Faktor seperti keterbatasan lahan, perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi area industri atau perumahan serta tingginya biaya produksi dan akses terhadap sumber daya pertanian menjadi kendala utama bagi petani di wilayah perkotaan dalam mempertahankan keberlanjutan usahatani padi mereka. Salah satu daerah penghasil beras di Provinsi Bengkulu adalah Kota Bengkulu. Pada sektor pertanian, luas panen padi menjadi faktor krusial karena secara langsung yang mempengaruhi jumlah produksi dan kapasitas produksi padi yang diperoleh. Semakin besar area lahan yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam, semakin besar pula potensi hasil panen yang Berikut Tabel 1 disajikan data mengenai luas panen, produksi, dan produktivitas padi di Kota Bengkulu selama periode 2021Ae2023. Tabel 1. Luas Panen. Produksi dan Produktivitas Padi di Kota Bengkulu Data Luas Panen Produksi dan Produktivitas Padi di Kota Bengkulu Tahun Luas Panen Padi (H. Produksi Padi (To. Produktivitas (Ton/H. 218,00 191,12 088,08 132,00 809,92 234,65 5,03 4,87 4,81 Sumber: BPS Provinsi Bengkulu . Berdasarkan data pada tabel di atas, luas panen padi di Kota Bengkulu menunjukkan adanya pola penyusutan lahan dari tahun 2021 hingga 2023. Akibat penyusutan lahan berdampak pada produksi padi yang juga terus menurun setiap tahunnya. Jika pada tahun 2021 produksi padi 132 ton, maka pada tahun 2023 jumlahnya berkurang menjadi 5. 234,65 ton. Selain itu, tren penurunan luas panen turut berkontribusi terhadap penurunan produktivitas padi, di mana Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 produktivitas per hektare mengalami penurunan dari 5,03 ton/ha pada tahun 2021 menjadi 4,81 ton/ha pada tahun 2023. Fenomena ini sama dengan studi analisis oleh (Fitriana et al. , 2. menyatakan bahwa luas lahan memiliki hubungan langsung dengan tingkat produktivitas padi. Dengan kata lain, semakin besar lahan yang tersedia untuk menanam, maka dapat mempengaruhi hasil produksi yang dapat diperoleh. Oleh karena itu, menurunnya luas panen di Kota Bengkulu secara signifikan berpengaruh terhadap menurunnya tingkat kuantitas padi di daerah. Kecamatan Singgaran Pati di Kota Bengkulu merupakan kawasan perkotaan yang masih memiliki lahan pertanian produktif sebagai penghasil beras, berkat keberadaan lahan sawah yang cukup luas. Namun, luas lahan pertanian di kecamatan ini terus mengalami penyusutan dari waktu ke waktu. Pada tahun 2015, luas lahan sawah di Kecamatan Singgaran Pati tercatat sebesar 255 hektar (BPS, 2. , tetapi pada tahun 2022 berkurang menjadi 177 hektar. (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, 2. Berdasarkan hasil survei lapangan serta wawancara dengan pihak kecamatan, berkurangnya lahan ini disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur, permukiman, serta kebutuhan pembangunan lainnya. Permasalahan yang terjadi akibat penurunan luas lahan setiap tahunnya, berdampak pada jumlah gabah yang di produksi petani. Adanya perubahan mengakibatkan, pendapatan petani pun turut mengalami fluktuasi. Menurut (Ummah, 2. terdapat hubungan erat antara luas lahan dan jumlah produksi, di mana penurunan luas lahan ini berpengaruh terhadap banyaknya produksi dalam satu musim tanam, begitu juga sebaliknya. Maka, banyaknya produksi sangat mempengaruhi besar kecilnya pendapatan dari usahatani padi. Dengan kata lain, tingginya produksi memiliki pengaruh pada peningkatan pendapatan yang diperoleh petani. Sehingga penelitian ini ingin melihat berapa besaran pendapatan yang diterima petani di Kecamatan Singgaran Pati. Akibat penurunan luas lahan setiap tahunnya, karena pendapatan usahatani merupakan salah satu ukuran ekonomi untuk menilai kelangsungan dan kinerja pertanian di masa Selain luas lahan, terdapat berbagai faktor lain yang mempengaruhi pendapatan petani Berdasarkan penelitian sebelumnya, faktor sosial petani juga diduga memiliki peran penting dalam menentukan besarnya pendapatan yang diperoleh. Kemampuan petani dalam mengambil keputusan, terutama dalam mengalokasikan biaya produksi sangat menentukan efisiensi dan produktivitas usahatani yang dilakukan. (Chuzaimah et al. , 2. Semakin baik petani dalam mengelola sumber daya yang dimiliki, semakin besar peluang petani untuk meningkatkan hasil panen dan pendapatan. Meskipun terdapat banyak penelitian yang membahas mengenai pendapatan dan faktor yang mempengaruhinya, namun kajian yang secara spesifik membahas hal ini di Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu masih terbatas. Oleh sebab itu, berdasarkan kondisi yang telah dijelaskan dalam latar belakang yaitu penurunan luas lahan yang mengakibatkan penurunan jumlah produksi padi dan pendapatan petani padi di Kecamatan Singgaran Pati. Maka, penelitian ini dilakukan sebagai upaya mengetahui jumlah penghasilan petani padi, dan mengetahui berbagai faktor yang diduga berpengaruh terhadap pendapatan petani di wilayah tersebut. Dengan diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhinya diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi dan mengefisiensi biaya produksi sehingga dapat meningkatkan besarnya pendapatan petani padi. Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 METODE PENELITIAN Penelitian ini secara sengaja menggunakan metode purposive dalam pemilihan lokasi, dengan memilih Kecamatan Singaran Pati sebagai wilayah penelitian. Pemilihan kecamatan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Singaran Pati merupakan bagian wilayah Kota Bengkulu yang dikenal dengan lahan persawahannya yang cukup luas. Dari enam kelurahan yang ada di kecamatan tersebut, dipilih dua kelurahan dengan luas wilayah terbesar, yaitu Kelurahan Dusun Besar dan Kelurahan Panorama, sebagai lokasi utama penelitian. Adapun penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu pada November hingga Desember 2024. Pada penelitian ini jumlah populasi pada Kecamatan Singgaran Pati di ambil sebanyak 75 orang petani padi dengan perhitungan metode slovin. Pada penelitian ini sampel diambil dengan metode Slovin. Sementara itu, banyaknya sampel pada setiap kelurahan menggunakan teknik alokasi proposional, di mana pada Kelurahan Dusun Besar akan diambil sebanyak 51 orang dan Kelurahan Panorama sebanyak 24 orang. Metode simple random sampling digunakan untuk melakukan penarikan sampel pada setiap kelurahan, yang diambil secara random dan sederhana untuk memberikan kesempatan kepada setiap populasi. (Lenaini, 2. Peneitian ini menerapkan dua jenis data yakni data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui tanya jawab menggunakan kuisioner. Selain itu, data yang diperoleh dari berbagai referensi. Misalnya dari buku, jurnal, website, dan instansi terkait seperti BPS ataupun literatur yang berkaitan dengan topik penelitian disebut data sekunder. Terdapat dua jenis metode pada penelitian ini yaitu deskriptif dan kuantitatif. Kondisi usahatani digambarkan menggunakan analisis deskriptif. Sedangkan pendapatan usahatani dan faktor-faktor penentunya dihitung dengan analisis kuantitatif. Berikut ini adalah rumus analisis yang digunakan. (Syarbiah & Saleh. Pendapatan Usahatani Padi Penerimaan Rumus yang dapat digunakan untuk menghitung penerimaan ialah dengan melakukan perkalian total hasil panen dengan harga pasar yang ditetapkan oleh petani: TR = Y. ycEycU Keterangan : ycEycU = Total penerimaan (Rp/UT/MT) = Produksi padi yang dihasilkan (Kg/UT/MT) = Harga jual produksi padi (Rp/K. Total Biaya Produksi Persamaan yang dapat diterapkan untuk menghitung keseluruhan pengeluaran produksi yang dikeluarkan petani selama satu musim tanam: TC = TFC TVC Keterangan : Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 TFC TVC = Total Biaya satu kali musim tanam (Rp/UT/MT) = Total biaya tetap (Rp/UT/MT) = Total biaya variabel (Rp/UT/MT) Pendapatan Usahatani Padi Rumus yang digunakan untuk menghitung pendapatan pertanian ialah dengan melakukan hasil kali antara total produksi dan harga produk yang dipasarkan oleh petani: I = TR-TC Keterangan: = Total pendapatan usahatani padi (Rp/UT/MT) = Total penerimaan usahatani padi (Rp/UT/MT) = Total biaya produksi (Rp/UT/MT) Faktor Pendapatan Usahatani Padi Pada analisis faktor-faktor yang digunakan diduga berpengaruh terhadap pendapatan Berdasarkan kelima variabel tersebut akan dianalisis dengan menerapkan pendekatan regresi linier berganda. (Yusuf Alwy et al. , 2. Untuk mengetahui pengaruh setiap variabel penelitian dengan analisis regresi linier berganda dapat menggunakan rumus Y= 0 1 Umr 2 Pddkn 3 Lput 4 Jtk 5 Llg e Keterangan : yu0 yu1 yu2 yu3 yu4 yu5 Umr Pddkn Lput Jtk Llg yce = Pendapatan Usahatani Padi = Konstanta = Koefisien Regresi = Umur (Th. = Tingkat Pendidikan (Th. = Lama Pengalaman Usahatani (Th. = Jumlah Tanggungan Keluarga (Or. = Luas Lahan Garapan (H. = Batas Toleransi Kesalahan 0,05% HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Petani Padi Karakteristik merupakan gambaran umum tentang kemampuan dalam mengelola usahatani di Kecamatan Singgaran Pati. Setiap petani memiliki keunikan dan sifat yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat keterampilan atau metode pertanian yang digunakan. (Sihombing & Hutahaean, 2. Karakteristik petani padi di Kecamatan Singgaran Pati yang disajikan pada Tabel 2. Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 Tabel 2. Karakteristik Petani Padi di Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu Kategori Uraian Total SMP Pendidikan Terakhir SMA (Tahu. Total Pengalaman Usahatani (Tahu. Total 0- 2 Jumlah Tanggungan Keluarga (Oran. Total 0,25-0,85 Luas Lahan Garapan 0,86-0,1,46 (H. 1,47-2,07 Total Milik Sendiri Status Kepimilikan Sewa Bagi Hasil Lahan (Oran. Penggarap Total Umur (Tahu. Jumlah (Oran. Persentase % Rata-Rata 0,58 Milik Sendiri Sumber: Data Primer . 2025 Hasil data di lapangan berdasarkan Tabel 2 menunjukan bahwa dari hasil data di lapangan Kecamatan Singgaran Pati rata-rata petani sudah berumur 56 tahun. Kondisi ini menunjukan jika petani di Kecamatan Singgaran Pati masih termasuk umur produktif, sehingga petani masih kuat secara fisik dalam melakukan aktivitas pertanian. Sedangkan tingkat pendidikan rata-rata petani padi di Kecamatan Singgaran Pati adalah 10 tahun yang artinya sama dengan SMA/Sederajat. Pendidikan berperan penting dalam membentuk pola pikir, tingginya pendidikan petani cenderung lebih terbuka juga lebih maju dibandingkan dengan pendidikan lebih rendah. (Gusti et al. , 2. Petani di Kecamatan Singgaran Pati ini juga memiliki pengalaman bertani cukup lama yaitu rata-rata 23 tahun. Dimana petani yang telah lama berkecimpung di bidang ini biasanya lebih memahami kondisi lahan dibandingkan petani pemula. Semakin lama pengalaman mereka, semakin terampil dalam mengelola usaha tani, mengolah hasil panen, dan memasarkan produk (Malia & Sopia, 2. Untuk jumlah anggota keluarga petani padi dalam penelitian ini berbeda-beda. Namun, petani di Kecamatan Singgaran Pati biasanya memiliki jumlah tanggungan paling banyak yaitu 3 orang. Berdasarkan penelitian (Sudiansyah et al. , 2. anggota keluarga menjadi aset tenaga kerja yang dapat membantu kegiatan dalam usahatani sehingga mengurangi Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 biaya tenaga kerja dari luar keluarga. Selain itu rata-rata di Kecamatan Singgaran Pati, sebagian besar petani mengelola lahan pertanian seluas 0,56 Ha. Dari jumlah tersebut, terdapat 15 petani dengan luas lahan lebih dari 0,56 Ha dengan mayoritas lahan berstatus kepemilikan sendiri. Menurut (Usman & Juliyanti, 2. , lahan produksi menjadi faktor produksi penting yang akan mempengaruhi banyaknya hasil produksi dan pendapatan dalam usahatani. (Manatar et al. , 2. menekankan bahwa status kepemilikan lahan juga berperan penting, petani yang memiliki lahan sendiri cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi karena tidak terbebani oleh biaya sewa dan pembagian hasil. 2 Analisis Penerimaan Usahatani Padi Menurut (Andreas et al. , 2. , penerimaan usahatani dihitung dengan mengalikan total produksi gabah kering giling dalam satu musim tanam dengan harga jual di pasar. Perhitungan ini digunakan untuk mengetahui pendapatan yang diperoleh petani dari hasil produksi mereka. Sementara itu, rata-rata penerimaan petani di Kecamatan Singgaran Pati disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Rata-Rata Penerimaan Usahatani Padi di Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu Uraian Produksi (K. Harga (Rp/K. Penerimaan Usahatani (R. Kg/Ut/Mt Kg/Ha/Mt 878,338 Sumber: Data Primer . 2025 Hasil Tabel 3 menunjukkan bahwa Kecamatan ini menghasilkan gabah kering giling ratarata sebesar 2. 171 kg/Ut/Mt dan 3. 743 kg/Ha/Mt, dan harga jual yaitu Rp 6. 600 per kg. Dengan demikian jumlah penerimaan petani padi yaitu sebesar Rp. 329,436 dan Rp. 878,338/Ha/Mt. Penerimaan ini menunjukkan bahwa usaha tani padi memiliki potensi ekonomi yang signifikan sebagai sumber pendapatan bagi petani di Kecamatan Singgaran Pati. Kota Bengkulu. Namun, produksi padi di kecamatan ini jauh di bawah standar nasional, sekitar 4,57 ton per hektar per unit. Perbedaan ini dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya kondisi cuaca yang tidak mendukung, dan lahan kekeringan yang mengakibatkan penurunan hasil panen. Selain itu, teknik budidaya yang diterapkan di kecamatan ini belum seefisien metode yang digunakan secara nasional, seperti pemanfaatan benih berkualitas, pemberian pupuk secara tepat, serta pengendalian organisme penggangui tanaman. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Pasaribu, 2. yang menunjukan penerimaan petani padi di Desa Leppangan Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidrap rata-rata sebesar Rp. 395,000/Ha. Penerimaan yang lebih rendah pada lokasi ini disebabkan oleh jumlah produksi yang rendah dikarenakan kondisi lahan yang berada di daerah pegunungan, dimana dengan kondisi lahan yang berbukit menyulitkan pengolahan lahan, dan juga suhu yang dingin membuat pertumbuhan padi yang dihasilkan lebih sedikit, adapun faktor lain seperti harga jual di wilayah yang lebih rendah. 3 Analisis Biaya Usahatani Padi Seluruh pengeluaran petani dalam proses budidaya padi disebut dengan biaya usahatani. Ada 2 jenis biaya, yaitu biaya tetap dan variabel. (Ibrahim et al. , 2. Total rata-rata biaya produksi usahatani padi disajikan pada Tabel 4. Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 Tabel 4. Rata-rata Total Biaya Produksi Usahatani Padi di Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu Uraian Biaya Tetap (TFC) Pajak Sewa Lahan Biaya Variabel (TVC) Benih Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Biaya Sewa Traktor Total Biaya Produksi(TC) Biaya (Rp/Ut/M. Biaya (Rp/Ha/M. 66,091 640,316 495,683 294,310 434,943 724,672 Sumber: Data Primer . 2025 Hasil Tabel 4 diketahui jika pengeluaran usahatani padi dalam satu musim tanam dengan persentase biaya terbesar adalah tenaga kerja luar keluarga, yang mencapai 75,27% dari total biaya produksi per hektar, yaitu sebesar Rp 9. Selanjutnya, biaya pupuk dengan kontribusi sebesar 10,02% atau Rp 1. 310/Ha. Biaya sewa lahan dengan persentase 8,35%, yaitu sebesar Rp 1. 539/Ha. Berikutnya, biaya pestisida dengan persentase 3,37% dari total biaya, yaitu sebesar Rp 434. 943/Ha. Biaya benih dengan proporsi 2,22% atau Rp 287. 241/Ha. Sementara itu, biaya pajak dan sewa traktor memiliki kontribusi paling kecil terhadap total biaya produksi, masing-masing sebesar 0,51% Rp 66. 091/Ha dan 0,28% Rp 36. 781/Ha. Besarnya pengeluaran untuk tenaga kerja dalam usahatani padi disebabkan oleh kebutuhan dalam budidaya tanaman padi. Salah satu tahap yang memerlukan tenaga kerja dalam jumlah besar adalah pengolahan lahan, pemanenan, dan perontokan yang membutuhkan bantuan tenaga kerja luar keluarga. Dalam praktiknya, tenaga kerja dari dalam keluarga merupakan tenaga kerja yang paling banyak digunakan, karena lebih fleksibel dan ekonomis dibandingkan dengan tenaga kerja dari luar keluarga. Namun tenaga kerja dalam keluarga tidak diperhitungkan pada penelitian karena penelitian ini menghitung biaya usahatani secara rill, atau yang memang benarbenar dikeluarkan oleh petani. Penelitian terdahulu juga mengungkapkan bahwa biaya tenaga kerja menjadi salah satu faktor produksi dengan proporsi pengeluaran terbesar. (Rahmah & Wulandari, 2. Besarnya pengeluaran untuk tenaga kerja luar keluarga (TKLK) disebabkan oleh tingginya kebutuhan tenaga kerja dalam kegiatan usahatani. Penelitian sebelumnya juga menunjukan bahwa proporsi paling signifikan terjadi saat penanaman dan pemanenan berlangsung. (Kawengian et al. , 2. 4 Analisis Pendapatan Usahatani Padi Pendapatan petani merupakan hasil yang diterima petani. Pendapatan dapat diukur dengan melakukan pengurangan antara penerimaan dengan biaya usahatani per musim tanam. Pendapatan rata-rata usahatani padi dalam satu musim tanam dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rata-Rata Pendapatan Usahatani Padi di Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu Uraian Penerimaan Total Biaya Produksi Pendapatan Rp/Ut/Mt 329,436 495,683 833,753 Rp/Ha/Mt 878,338 782,332 Sumber: Data Primer . 2025 Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 Hasil Tabel 5 menggambarkan petani padi di Kecamatan Singgaran Pati rata-rata memiliki pendapatan sebesar Rp. 833,753/Ut/Mt dan Rp. 782,332/Ha/Mt. Pendapatan ini mencerminkan bahwa usahatani padi di daerah tersebut cukup menguntungkan secara finansial karena pendapatan petani melebihi seluruh biaya produksi. Keuntungan yang diperoleh petani ini memiliki masa depan yang menjanjikan dan dapat lebih ditingkatkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Penelitian sebelumnya yang dilakukan (Sukmayanto et al. , 2. menggambarkan ratarata pendapatan petani padi di wilayah Kabupaten Lampung Tengah yaitu sebesar Rp. 258,682/Ha/Mt. Perbedaan ini dipengaruhi oleh petani di Kabupaten Lampung Tengah yang menghasilkan produksi usahatani padi yang lebih besar yaitu sekitar 5,378 Kg. Sementara itu, terjadi perbedaan hasil usahatani antara kedua wilayah dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti penurunan produksi akibat kekeringan serta meningkatnya serangan hama dan penyakit yang berdampak pada hasil panen. 5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Tujuan dari analisis faktor yang diduga yang berpengaruh terhadap pendapatan ini adalah untuk menentukan variabel yang berpengaruh terhadap peningkatan besarnya pendapatan yang diperoleh petani di Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu. Untuk meilhat pengaruh dalam usahatani ini menggunakan bantuan program IBM SPSS Statistics 30. 0 dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Analisis Regresi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Variabel (Constan. Umur (X. Tingkat Pendidikan (X. Pengalaman Usahatani (X. Jumlah Tanggungan Keluarga (X. Luas Lahan Garapan (X. R-Square Uji F Unstandardized Coefficients Beta Sig . -taile. 105ycuyc 827ycuyc Sumber: Data Primer . 2025 Keterangan: = Signifikan pada tingkat kepercayaan 95 % = Tidak Signifikan Nilai koefisien determinasi (RA) dari Tabel 6 diperoleh sebesar 0,951, atau 95,1 persen. Yang berarti bahwa 95,10 persen variasi dalam pendapatan usahatani padi dapat dijelaskan oleh faktor-faktor seperti umur petani, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan garapan. Sementara itu, sebesar 4,9 persen sisanya dipengaruhi oleh unsur-unsur yang tidak ada dalam model analisis. Uji f adalah metode statistik untuk menganalisis apakah variabel independent dalam model memiliki dampak terhadap variabel dependent. (Indartini & Mutmainah, 2. Tingkat kepercayaan pada penelitian ini yaitu 95%, dengan nilai signifikansi 0,05 ( = 0,. Berdasarkan nilai signifikansi (Si. penelitian, hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa variabel kurang dari Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 . Pendapatan petani padi diduga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor independen yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain umur petani, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, jumlah tanggungan keluarga, dan luas lahan pertanian. Secara sederhana, faktor-faktor ini berperan secara bersamaan dalam menentukan tingkat pendapatan petani di daerah tersebut. Berdasarkan Tabel 6, menunjukan hasil analisis penelitian bahwa variabel umur, jumlah tanggungan keluarga, dan luas lahan garapan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap besarnya pendapatan usahatani padi. Namun, pendapatan petani padi di wilayah ini tidak dipengaruhi secara signifikan oleh variabel tingkat pendidikan serta pengalaman. Berikut penjelasan pengaruh masing-masing variabel yang digunakan. Umur Hasil analisis pada Tabel 6 menunjukkan umur memiliki nilai signifikansi < . ,038 < 0,. Berarti umur memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Koefisien sebesar 40,818 mengidentifikasi bahwa setiap penambahan umur sebesar 1% akan mengakibatkan peningkatan pendapatan petani sebesar 40,818%. Umur dapat mempengaruhi pendapatan karena semakin bertambahnya umur petani maka petani memiliki banyak pengalaman dan mudah beradaptasi dengan menerapkan teknik pengolahan usahatani yang lebih efisien mulai dari mengolah lahan, menanam, merawat, hingga memanen padi. Penelitian ini menunjukan kesamaan hasil dengan studi yang dilakukan oleh (Nugraha & Alamsyah, 2. meyatakan umur petani memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan Petani yang lebih tua cenderung memiliki semangat kerja lebih tinggi dalam meningkatkan pendapatan dibandingkan petani yang lebih muda. Faktor seperti pengalaman yang lebih luas, tanggung jawab ekonomi yang besar, serta kebutuhan untuk mencukupi kehidupan keluarga menjadi pendorong utama bagi petani yang lebih tua untuk bekerja lebih giat dan mencari cara dalam meningkatkan hasil panen. Tingkat Pendidikan Hasil analisis pada Tabel 6 menunjukkan tingkat pendidikan memiliki nilai signifikansi > . ,105 > 0,. Maka, kesimpulannya bahwa variabel tingkat pendidikan tidak ada pengaruh secara signifikan pada pendapatan yang diterima petani dan nilai koefisien sebesar -82. Nilai koefisien regresi bernilai negatif berarti semakin meningkat pendidikan menyebakan penurunan Dimana petani di Kecamatan Singgaran Pati memiliki tingkat pendidikan terakhir yaitu SMA. Akan tetapi, pendidikan yang diperoleh oleh petani hanya pendidikan formal saja, hal tersebut tidak cukup membantu petani memahami kondisi di lapangan. Maka petani juga membutuhkan pendidikan non formal yang dapat menunjang kegiatan di lapangan. Penelitian ini menunjukan kesamaan hasil dengan studi yang dilakukan oleh (Burano & Siska, 2. menyatakan hasil penelitiannya di Desa Sraturejo. Kecamatan Baureno. Kabupaten Bojonegoro, yang juga menemukan bahwa pendapatan petani tidak berpengaruh secara signifikan dengan tingkat pendidikan. Dari hasil uji tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan formal saja tidak menentukan tingkat pendapatan petani. Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 Pengalaman Usahatani Hasil analisis pada Tabel 6 menunjukkan pengalaman usahatani memiliki nilai signifikansi > . ,827 > 0,. Berarti pengalaman usahatani tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani dan nilai koefisien sebesar 3. Nilai koefisien regresi bernilai positif berarti semakin bertambah pengalaman usahatani maka tidak ada pengaruh terhadap peningkatan pendapatan. Dimana petani yang ada di Kecamatan Singgaran Pati memiliki pengalaman usahtani lebih dari 23 tahun, akan tetapi pengalaman lama tidak menjamin peningkatan pendapatan jika tidak diikuti dengan memiliki lahan yang cukup, modal dan teknologi. Penelitian ini menunjukan kesamaan hasil dengan studi yang dilakukan oleh (Werdhani et , 2. menunjukkan jika pengalaman bertani tidak berpengaruh secara signifikan dengan pendapatan petani. Berdasarkan luasnya lahan yang dimiliki petani dan pengaruh kemampuan pertanian mendasar yang tetap dan relatif konstan sepanjang waktu, membuat petani dengan berbagai tingkat pengalaman bertani tidak menunjukkan perbedaan pendapatan yang berarti. Oleh karena itu, pengelolaan lahan, penggunaan teknologi yang lebih baik, dan dukungan kebijakan yang mendorong hasil pertanian harus menjadi prioritas utama untuk meningkatkan pendapatan Jumlah Tanggungan Keluarga Hasil studi pada Tabel 6 mengidentifikasi banyaknya tanggungan keluarga dengan nilai signifikansi < . ,001 < 0,. Hal ini mengidentifikasi jika pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh jumlah tanggungan keluarga. Koefisien sebesar 454,955 menunjukkan bahwa semakin besar jumlah tanggungan keluarga, semakin besar pula pendapatan petani. Dimana setiap penambahan 1 orang tanggungan keluarga akan berdampak pada peningkatan pendapatan sebesar 45,495%. Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap pendapatan petani, karena dengan memiliki banyaknya tanggungan, maka anggota keluarga dapat berkontribusi dalam berbagai tahap pertanian, mulai dari persiapan lahan hingga proses panen. Dengan adanya tenaga kerja dari dalam keluarga, kebutuhan akan tenaga kerja upahan dapat dikurangi, akibatnya biaya produksi menjadi lebih efisien dan keuntungan yang diterima petani pun dapat meningkat. Penelitian ini menunjukan kesamaan hasil dengan studi yang dilakukan oleh (Nainggolan & Aritonang, 2. Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif antara pendapatan petani padi dan jumlah tanggungan keluarga. Jumlah tanggungan yang besar memungkinkan petani memanfaatkan lebih sedikit tenaga kerja luar, sehingga menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan. Luas Lahan Garapan Hasil analisis pada Tabel 6 menunjukkan luas lahan memiliki nilai signifikansi < . ,001 < 0,. Berarti luas lahan memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan petani. Nilai koefisien sebesar 15,370 menunjukkan bahwa setiap peningkatan luas lahan sebesar 1% akan berdampak pada peningkatan pendapatan sebesar 1,537%. Pengaruh antara besarnya lahan terhadap pendapatan petani terjadi karena meningkatnya luas lahan yang dimiliki, jumlah tanaman padi yang dapat ditanam juga semakin banyak. Agrisaintifika. Vol. No. 2, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Anriana dkk, 2025 Penelitian ini menunjukan kesamaan hasil dengan studi yang dilakukan oleh (Hendrawati, 2. mengatakan bahwa pendapatan petani dipengaruhi oleh luas lahan yang dimilki petani. Seiring dengan luas lahan yang dimanfaatkan dalam usahatani akan meningkatkan petani dalam menanam padi lebih banyak untuk meningkatkan hasil panen. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian melalui penerapan teknologi pertanian berdaya guna, contohnya pemanfaatan bibit unggul, pemupukan yang tepat, serta pengelolaan air yang lebih baik guna meningkatkan produktivitas lahan. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukan bahwa petani di Kecamatan Singgaran Pati memperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp. 833,753/Ut/Mt. Selain itu, dari hasil temuan penelitian dengan model regresi linier berganda mengidentifikasi jika terdapat 3 variabel yang berpengaruh yaitu variabel umur, jumlah tanggungan keluarga, dan luas lahan garapan. Sehingga saran penelitian ini terhadap petani di Kecamatan Singgaran Pati Kota Bengkulu untuk aktif mengikuti pelatihan dan penyuluhan pertanian guna meningkatkan pemahaman dalam pengelolaan sumber daya serta menghadapi fluktuasi harga pasar. Pemerintah juga perlu menjaga keberlanjutan usahatani padi dengan melindungi lahan pertanian dari alih fungsi serta meningkatkan dukungan berupa subsidi pupuk, benih, dan alat pertanian. Selain itu, stabilisasi harga gabah perlu diperkuat agar petani tidak mengalami kerugian akibat perubahan harga pasar. DAFTAR PUSTAKA