PASTORALIA STIPAS Keuskupan Agung Kupang P-ISSN: 2579-9355 E-ISSN: 2797-2216 Jurnal Penelitian Dosen Volume 5 Nomor 2. Edisi Desembar 2024 MAKNA HAUTEAS DAN RELEVANSINYA BAGI IMAN UMAT SUKU NOPALA. MAUBESI AeATAMBUA Maria Roswita Mataufina. Florens Maxi Un Bria. Yofince Abatan. Kasmirus Abatan. STIPAS Keuskupan Agung Kupang . STIPAS Keuskupan Agung Kupang . STIPAS Keuskupan Agung Kupang . Universitas Muhammadiyah Kupang . mariaroswita26@gmail. com, . florensunbria@yahoo. com, abatanyofince@gmail. miruisabatan@gmail. Abstrak Hauteas adalah batang kayu bercabang yang dianggap suci oleh penduduk asli Timor. Tradisi ini tetap dijalankan oleh umat Suku Nopala sebagai bagian dari ritual adat yang mencerminkan kebahagiaan, antusiasme, dan persatuan sebagai saudara. Penelitian ini dilakukan untuk melestarikan kepercayaan budaya, memperdalam iman Katolik, dan memperkuat rasa persaudaraan dalam suku, yang berdampak pada penghormatan budaya antar suku. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif naturalistik. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hauteas berfungsi sebagai bahasa simbolik bagi Suku Nopala untuk menyatakan iman kepada Allah (Uis Nen. Hauteas melambangkan kekudusan, keilahian, dan keberadaan Allah Tritunggal. Proses penanaman Hauteas dan ritual di sekitarnya menunjukkan makna religius dan sosial yang mendalam, mempererat hubungan spiritual umat dengan Tuhan dan leluhur mereka. Kehadiran Hauteas juga relevan dengan pengembangan iman Katolik, karena menjadi jembatan pemahaman antara tradisi leluhur dan ajaran Katolik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Hauteas merupakan warisan iman yang tidak hanya menjadi simbol religius tetapi juga sarana untuk memperdalam hubungan antar anggota suku dan meningkatkan penghormatan lintas budaya. Pelestarian tradisi ini penting untuk memastikan makna spiritual dan budaya Hauteas tetap hidup di tengah perubahan zaman. Kata Kunci Hauteas. Iman. Suku Napola. Tradisi Katolik. Abstract Hauteas are branching wooden sticks that are considered sacred by the indigenous people of Timor. This tradition is still carried out by the Nopala tribe as part of traditional rituals that reflect happiness, enthusiasm and unity as brothers. This research was conducted to preserve cultural beliefs, deepen the Catholic faith, and strengthen feelings of brotherhood within the tribe, which has an impact on cultural respect between tribes. The method used is qualitative with a naturalistic descriptive approach. Data was collected through observation and in-depth The research results show that Hauteas functions as a symbolic language for the Nopala Tribe to express their faith in Allah (Uis Nen. Hauteas symbolizes holiness, divinity, and the existence of the Triune God. The process of planting Hauteas and the rituals surrounding it convey deep religious and social significance, strengthening the spiritual connection of the people with God and their ancestors. Hauteas' presence is also relevant to the development of the Catholic faith, because it is a bridge of understanding between ancestral traditions and Catholic This research concludes that Hauteas is a heritage of faith that is not only a religious symbol but also a means of deepening relationships between tribal members and increasing crosscultural respect. Preserving these traditions is important to ensure that the spiritual and cultural meaning of Hauteas remains alive amidst changing times. Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Keywords Hauteas. Faith. Napola Tribe. Catholic Tradition. PENDAHULUAN Kebudayaan merupakan suatu corak hidup yang bertumbuh, berkembang dan menjadi milik bersama suatu kalangan masyarakat dan diturunkan secara turun-temurun. Kebudayaa tercipta dari berbagai aspek kompleks, termasuk sistem kepercayaan dan politik, adat istiadat, bahasa, peralatan, busana, konstruksi, dan karya seni. Kebudayaan ialah corak hidup yang global. Kebudayaan itu rumit, konseptual, dan luas (Arvianto and Kharisma 2021:. Kebudayaan juga dapat dimengerti sebagai tingkah laku manusia yang dipelajari sampai kepada tradisi-tradisi, gagasan, simbol-simbol dan lain-lain. Kebudayaan juga tidak hanya eksklusif pada model rumah, perangkat dapur, perangkat pertanian, senjata, kesenian, bahasa dan kesusastraan dan sebagainya. Tetapi lebih ditegaskan pada dimensi spiritual . yang melandasi terbentuknya elemen-elemen dan peristiwa-peristiwa (Silab. Kanahebi, and Bessie 1997:. Demensi spiritual dari sebuah kebudayaan itu bersifat abstrak. Kebudayaan yang bersifat abstrak itu meliputi norma, nilai, kepercayaan/keyakinan serta Kepercayaan ialah persepsi manusia mengenai segala sesuatu disekitarnya. Maka kepercayaan itu berkaitan dengan ide manusia mengenai, pribadi manusia, dan seluruh dimensi yang berhubungan dengan dimensi biologis, fisik, sosial, serta dunia supernatural (Liliweri 2003:. Menurut Chris Jenks. Budaya merupakan pencapaian maksimal umat manusia, bukan suatu kategori deskriptif yang berlaku bagi semua gagasan dan implementasi manusia. Paham ini tertuju pada puncak kebudayaan dimana pada saat yang sama menyajikan aspirasi dan juga membuka potensi. Budaya juga merupakan studi tentang kesempurnaan, membimbing manusia agar bisa menggambarkan kebenaraan kesempurnaan manusia sebagai kesempurnaan yang harmonis, mengembangkan seluruh sisi kemanusiaan kita dan sebagai suatu kesempurnaan yang lazim, mengembangkan semua bagian dalam suatu masyarakat (Jenks 1993:. Dalam masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, dan adat istiadat, spiritualitas dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti lagu, tarian, puisi, doa, dan upacara adat lainnya. Di lihat dari upacara adat dalam suatu budaya dapat dinyatakan bahwa manusia adalah makhluk spiritual sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk spiritual, seseorang pasti mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang yang lebih tinggi dan ada sesuatu yang lebih kuat di luar dirinya. Kepercayaan inilah yang kemudian membangun dirinya dan perbuatannya untuk senantiasa memusatkan hidupnya pada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih besar (Abatan. Aipipidely, and Kiling 2021:. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan masyarakat dawan (Atoni Timo. kecamatan Insana Tengah terkhusunya Suku Nopala yang adalah salah satu suku . dari usif (Raj. Usfinit (Arvianto and Kharisma 2. Suku Nopala ini merupakan salah satu suku yang terdapat di desa Letmafo Kecamatan Insana Tengah. Kabupaten Timur Timur Utara. Suku ini memiliki kepercayaan bahwa kehadiran sosok seseorang yang transenden memiliki kekuatan-kekuatan yang berada diluar dirinya. Maka sebagai bentuk Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 penghormatan terhadap yang transenden itu dilakukan berbagai upacara-upacara ritual adat. Salah satu upacara adat yang terus dilakukan dari zaman dahulu sampai sekarang dan yang masih dipertahankan adalah upacara budaya religius Hauteas. Hauteas adalah batang kayu yang bercabang tiga dengan ukuran panjang yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kayu ini ditaman di bagian Timur dari halaman rumah adat. Hauteas ini, bagi suku Nopala dipandang sebagai sebuah warisan iman atau kepercayaan yang di turunkan dari nenek moyang atau leluhur jauh sebelum mereka mengenal agama seperti agama Katolik. Kepercayaan kepada Hauteas ini merupakan warisan iman yang terus dilaksanakan oleh suku Nopala karena dilaksanakan melalui suatu upacara ritus yang dilakukan tepat di depan Hauteas. Suku Nopala dalam melaksanakan ritus ini dapat mengekspresikan iman dan keyakinan mereka kepada Allah yang mereka kenal melalui leluhur dan hal ini secara turun temurun terus berlanjut hingga saat ini (Boy 2020:. Seperti yang diyakini oleh suku Nopala bahwa Hauteas yang adalah batang kayu yang bercabang tiga memiliki arti teoligis yang mendasar diman setiap cabangnya memiliki arti iman kepada Allah, kepada adat nenek moyang dan kepada pemerintah. Oleh karena itu suku ini telah memiliki iman kepercayaan sebelum mengenal agama Katolik dan Ajaran Gereja Katolik menyebar masuk dalam suku ini. Upacara ritual Hauteas juga merupakan upacara iman yang diwariskan nenek moyang sejak zaman dahulu sebelum mereka mengenal agama katolik sampai sekarang. Upacara ini masih dilestarikan dan dihayati hingga saat ini oleh umat suku Nopala. Iman akan Tuhan sebenarnya sudah tumbuh dalam diri umat suku Nopala dan merupakan sebuah keyakinan atau kepercayaan yang asli atau spiritualitas tradisional kuno yang sudah melekat dalam diri umat suku Nopala jauh sebelum agama katolik masuk ke Indonesia yang dibawa oleh para misionaris Portugis di Indonesia. Umat di suku Napola ketika mengadakan ritus atau upacara adat didepan Hauteas mereka sangat bahagia, senang, antusias dan bersatu dan saling membantu karena mereka merasa memiliki ritus hauteas itu sebagai warisan spiritual dari nenek moyang mereka. Studi tentang kepercayaan adat atau spiritualitas pada masyarakat adat telah dieksplorasi oleh peneliti di Thailand, yang mana dikatakan bahwa keyakinan spiritual adat sangat erat hubungannya dengan pengelolaan sumber daya alam (Chunhabunyatip et al. Sedangakan di India ditemukan bahwa spiritualitas terhadap suatu upacara adat merupakan salah satu praktik penyembuhan tradisional (Rowkith and Bhagwan 2. Menurut Sumirta dalam penelitian di Tse ditemukan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual membantu masyarakat adat di Australia dan Selandia Baru untuk pulih dari masalah kesehatan mental (Sumirta et al. Maka hingga saat ini, penelitian lapangan terus dilakukan oleh para peneliti untuk mengeksplorasi sejauh mana spiritualitas masyarakat adat ada kaitannya dengan kehidupan spiritual yang di sebut totem seperti hauteas. Menjelajahi topik ini maka, tujuan dari penelitian ini adalah melestarikan kepercayaan dan praktek budaya suku Nopala secara khusus dan masyarakat adat Timor pada umumnya, memperdalam iman katolik, memupuk rasa persaudaraan dalam suku yang kemudian berefek pada penghormatan budaya pada yang suku Konstruksi pengetahuan tentang adat Hauteas suku Nopala ini menunjukan bahwa masyarakat ini akan Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 memajukan konsep dan teori spiritualitas yang saat ini didominasi oleh konsep Barat, misalnya agama Kristen yang diperkenalkan di Timor Barat pada tahun 1912 (Nayuf 2. METODE Penelitian ini dilakukan mulai dari tanggal 01 Mei sampai tanggal 10 Mei 2024. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang mengutamakan analisa isi . ontent analys. dimana masalah atau temuan diperoleh dari lapangan dan kemudian diverifikasi kebenarannya dalam bentuk data empiris. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif naturalistik, dimana dapat menggambarkan secara holistik masalah yang diteliti. Lokasi penelitian yaiyu di Suku Nopala Ynang merupakan umat dari Paroki St. Yohanes Maria Vianney Maubesi. Sumber informan peneliti berjumlah 4 orang, informan utama 2 yang terdiri dari 1 kepala Suku dan 1 orang anggota suku. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara dan dokumentasi, sedangkan teknik analisa data menggunakan beberapa tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi, data verifikasi data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa umat suku Nopala telah memahami dengan baik makna dari Hauteas dan ritusnya. Menurut umat suku Nopala. Hauteas adalah tiang sakral peninggalan atau warisan leluhur sebagai sumber pemersatu seluruh anggota suku tertentu yang melambangkan kekuatan dan kehadiran Uis Neno/Allah. Hauteas juga masih ada dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi hingga Dan hampir semua suku dawan memiliki Hauteas yang tempatnya tepat di sebelah timur halaman rumah adat. Lima tema diambil dari data yang diperoleh, antara lain definisi dan proses penanaman Hauteas, makna religius, makna lingkungan dan sosial Hauteas, fungsi iman Katolik dari Hautes dan relevansinya bagi iman Katolik. Definisi dan Proses penanaman Hauteas Tema pertama yang dikaji dalam penelitian ini adalah defenisi dan proses penanaman Hauteas di halaman rumah adat bagian Timur. Menurut informan. Hauteas adalah sebuah kayu bercabang tiga . oef Para Informan mendefinisikan hauteas sebagai struktur kayu bercabang tiga yang terdiri dari satu cabang panjang di tengah yang diapiti oleh dua cabang pendek. Cabang yang lebih panjang melambangkan Tuhan, sedangkan dua cabang yang pendek lainnya melambangkan tradisi adat setempat dan pemerintah. Hauteas berasal dari pohon Nikis, yang diserpih dan digunakan bagian inti kayu atau yang disebut dalam bahasa dawan hauanaf. Pohon Nikis merupakan pohon pilihan nenek moyang untuk dijadikan sebagai Sesuai dengan arti dari nama pohon Nikis dalam bahasa dawan yaitu dinding/benteng/palang. Hauteas itu harus benar-benar dari inti kayu Nikis yang sudah tua atau yang biasa disebut hauanaf. Sehingga Hauteas bisa bertahan sampai bertahun-tahun (Yakobu. Adapun proses upacara penanaman Hauteas yang biasa dilakukan oleh suku Nopala sebagai berikut: Rumah adat harus sudah selesai dibangun. Mengadakan pertemuan atau musyawarah bersama usif dan para amaf untuk bersepakat dalam menentukan orang yang bertugas untuk mencari satu kayu bercabang Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 tiga/Hauteas dan juga meminta petunjuk dan kelancaran dari para leluhur dalam proses pencarian. Setelah menemukan pohon Nikis yang akan dijadikan sebagai Hauteas akan dilakukan upacara kecil sebagai tanda meminta ijin kepada alam sebelum memotong pohon tersebut. Setelah itu pohon di potong dan dibersihkan kemudian dibawa mendekat ke rumah adat lalu orang yang ditugaskan untuk mencari dan memotong kayu tersebut memberitahukan kepada kepala suku kalau mereka sudah menemukan pohon . Hauteas itu akan diusung menuju rumah adat dengan iringan gong dan tarian serta sorak sorai dengan teriakan AuPalateAy. Sebelum penanaman hauteas sudah ditugaskan dua orang yang terdiri dari satu perempuan dan satu laki-laki untuk mengambil dari air pemali dan kayu. Yang perempuan tugasnya untuk menimba air dari air pemali/oe kanaf dan yang laki-laki tugasnya untuk mengambil kayu kusambi yang kering berjumlah toef hiut/tujuh batang yang akan digunakan sebagai simbol untuk memasak hasil . Penanaman hauteas biasanya ditanam di halaman bagian timur dari sebuah rumah adat. Setelah hauteas itu ditanam akan dirayakan dengan tarian gong oleh para AuMeoAy yang dihadiri oleh semua anggota suku dan semua undangan yang hadir. Kemudian akan diikuti dengan misa syukur dan pemberkatan rumah adat dan hauteas. Hauteas oleh umat suku Nopala dilihat sebagai benteng yang melindungi seluruh anggota suku. Hal ini dilihat dari arti pilihan pohon atau kayu yang digunakan yaitu pohon nikis. Arti nikis dalam bahasa dawan yaitu dinding. Selain itu suku Nopala juga memberikan arti terhadap setiap bagian dari tiang yang bercabang Tiang bercabang tiga/hauteas dan semua bagiannya memiliki makna sebagai beirkut: . satu tiang bercabang tiga ini menunjukan kehadiran Allah Tri Tunggal. Bapa. Putra dan Roh Kudus. Buah kelapa muda yang ditancapkan pada cabang yang terpanjang merupakan simbol berkat dan pemurnian terhadap tiang yang bercabang tiga atau hauteas. Faut bena/batu plat itu simbol dari meja altar. Lingkaran batu yang dulu terbuat dari susunan batu ceper atau baki di sekitar hauteas yang sekarang sudah diganti dengan coran semen merupakan altar. Melalui pemberian arti dari setiap bagian dari hauteas ini menunjukkan bahwa segungguhnya dari warisan hauteas benih iman dari suku Nopala akan kehadiran Allah/Uis Neno sebagai Pencipta sudah tumbuh sejak zaman dahulu kala. Gereja pun mendukung setiap kebudayaan yang baik dan memberikan tujuan dan kontribusi yang baik terhadap pertumbuhan iman umatnya. Makna religius dari hauteas Tema kedua yang diperoleh dari para informan adalah makna spiriutal dari Hauteas. Bagi suku Nopala Hauteas dilihat sebagai rahmat dan pemberian dari Allah/Uis Neno, sehingga umat suku Nopala percaya bahwa Uis Neno direpresentasikan lewat cabang Hauteas yang panjang maka mereka setiap kali mereka melakukan upacara adat dan memanjatkan doa dialamatkan kepada Allah/Uis Neno. Doa yang disampaikan itu bersifat lisan yang ucapakn oleh kepala suku dan doa-doa ini merupakan sebuah kearifan lokal . ocal wisdo. yang diucapkan dalam bahasa dawan. Doa itu biasanya dimulai dengan membuang beras yang sudah ada pada genggaman kepala suku Nopala dan tua-tua adat lainnya yang hadir pada saat upacara di Hauteas. Saat membuang beras kepala suku akan berhitung mese, nu, teon, ha, niam, ne, oh hitu apinak aklahat uis neno tunan dan diikuti oleh para tua adat lainnya. Kemudian itu dikuti doa spontan yang akan diucapkan oleh kepala suku. Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Setelah menyampaikan doa akan dilakukan upacara adat dengan mempersembahkan seekor ayam Sebelum memulai ritus adat, para tua adat biasanya menyiapkan terlebih dahulu sebuanh nyiru . ebuah perabot rumah tangga yang terbuat dari anyaman daun lontar yang biasanya digunakan untuk menmpi beras dan lain-lai. Pada nyiru tersebut akan disimpan tujuh duan siirih pinang, tujuh buah pinang, kain sarung adat. Selain itu para tua adat akan menyalahkan tujuh batang lilin dibagian bawah Hauteas. Kemudian kepala suku akan menyembelih ayam sebagai persembahan. Setelah itu ayam akan dibersihkan dan akan diikuti dengan tae lilo . stilah bahasa dawan yang biasa dilakukan dengan mengamati usus aya. Menurut informan jika pada bagian usus yang telah ditentukan sebagai saran untuk melihat bahwa mereka mendapatkan berkat dan jalan kehidupan itu baik bila usus ayam itu terbuka jalannya. Demikian pun dengan gumpalan yang muncul dari bagian atas usus dianggap sebagai pertanda baik bagi mereka. gumpalan di usus bagian atas dan bawah dianggap pertanda buruk. Setelah itu, daging ayam jantan tersebut akan dimasak dan disajikan kepada Tuhan dan para leluhur dalam sebuah nyiru kecil yang disebut kasuAoi yang diletakkan di atas batu altar (Yakobus, 05 Mei 2. Tingginya dianggap sebagai pemberian Yang Mulia dan Tuhan (Uis Nen. , sehingga masyarakat di Timor Barat akan berdoa dan merayakan Tuhan di hadapan tinggi karena mereka percaya kehadiran Tuhan ada di cabang-cabangnya yang panjang. Doa merupakan ungkapan spontan dan langsung di hadapan Imam Besar. Namun, hanya sedikit orang yang dianggap sebagai pemimpin budaya yang bisa mengucapkan doa Doa-doa ini tidak diajarkan, melainkan diucapkan secara spontan dengan bahasa setempat. Usai sembahyang, masyarakat adat Timor melakukan upacara adat dengan mempersembahkan hewan . iasanya Sebelum upacara, para tetua adat biasanya menyiapkan nyiru . lat rumah tangga dari bambu yang biasa digunakan untuk menyaring bera. yang berisi tujuh butir beras, tujuh buah pinang, tujuh buah kacang aca, gelang adat dan juga bulu hewan kurban. Kemudian mereka menaruhnya di atas batu altar, dan para tetua mengambilnya satu per satu dan lebih banyak berdoa. Kemudian mereka menyembelih ayam sambil memperhatikan isi perutnya. Menurut para peserta, gumpalan dari usus bagian atas dianggap sebagai pertanda baik bagi mereka. sebaliknya, benjolan di usus bagian atas dan bawah dianggap pertanda buruk. Kemudian ayam jantan tersebut dimasak dan dipersembahkan kepada Tuhan dan leluhurnya dalam sebuah nyiru kecil yang diletakkan di atas batu altar. Bagi umat atau masyarakat suku Nopala eksistensi dari Hauteas merupakan manifestasi dari sesuatu yang kudus, yang ilahi, yang transenden, yang suci yaitu Uis Neno/Allah. Suku Nopala mempunyai keyakinan bahwa Hauteas juga merupakan tempat untuk berkomunikasi dengan Usi Neno/Allah melalui perantara para leluhur karena arwah para leluhur yang sudah meninggal itu sudah berada di surga dan dekat dengan Uis neno/Allah sehingga mereka bisa menjadi perantara setiap doa dan permohonan. Upacara inipun memiliki makna religius karena dalam upacara adat hauteas yang diutamakan adalah iman akan Uis Neno/Allah. Makna lingkungan dan sosial dari Hauteas Menurut suku Nopala rumah adat atau uam leu dan hauteas tidak bisa dipisahkan. Hal ini terlihat jelas ketika ingin membangun sebuah rumah adat ataupun memperbaiki rumah adat/uam leu pada saat Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 peresmiannya harus dilakukan upacara penanaman hauteas terlebih dahulu dengan sebuah proses upacara ritual yang meriah. Hauteas berasal dari pohon nikis yang telah diserpih kulit luarnya. Hauteas bagi suku Nopala sifatnya mengikat, mempersatukan seluruh anggota-anggotanya menjadi satu saudara dan satu leluhur. Eksistensi atau keberadaan Hauteas yang berada tepat di halaman bagian timur dari rumah adat bagi suku Nopala adalah untuk berkomunikasi dengan Usi Neno melalui perantara para Suku Nopala mempunyai keyakinan bahwa arwah para leluhur yang sudah meninggal itu sudah berada di surga dan dekat dengan Uis neno sehingga mereka bisa menjadi perantara setiap doa dan Hauteas mewakili sesuatu yang lain dan merupakan manifestasi dari sesuatu yang kudus, yang ilahi, yang transenden, yang suci. Hal di atas yang membuat suku Nopala percaya bahwa jika membutuhkan sesuatu seperti memintah kesuburan tanam, meminta curah hujan yang teratur, meminta perlindungan dalam perjalanan, mereka akan meminta atau memohonkan kepada Uis Neno di depan Hauteas melalui sebuah ritual adat. Begitu juga ketika musim panen tiba misalnya musin panen jagung, umat suku Nopala pun melakukan upacara syukur panen kepada Uis Neno/Allah di hauteas, dengan cara mereka akan mengikat tujuh bulir jagung yang masih lengkap dengan batang jagung yang masih segar dan hijau sebagai ungkapan persembahan kepada Allah yang telah melindungi tanaman jagung dan memberikan hasil yang baik . Demikian juga Hauteas merupakan persekutuan bagi anggota suku Nopala dalam melaksanakan berbagai ritus dan upacara adat untuk bersyukur kepada Uis Neno/Allah yang tetap setia menyertai mereka. Semua anggota keluarga dikumpulkan di halaman uam leu/rumah adat dekat di Hauteas untuk mensyukuri segala sesuatu yang mereka peroleh. Misalnya, dalam perayaan syukur tah feu/makan hasil panenan baru dan lain sebagainya. Beberapa informan mengatakan bahwa Hauteas memiliki arti dan fungsi bagi suku Nopala yakni bagi pribadi itu sendiri, keluarga, dan komunitas atau suku dimana mereka berada. Hauteas terhubungan langsung dengan individu karena dianggap sebagai pelindung, pemberi rejeki, sumber kekuatan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi individu tersebut yang beriman kepada Tuhan dan kepada hauteas . Berikut pernyataan dari salah satu informan yang dikutip, dimana ia menyatakan bahwa bagi dirinya hauteas merupakan sumber energy, yang memberi kekuatan dan memperkuat motivasi. Sebagai contoh ketika ia ingin bepergian ke suatu tempat yang jauh, terlebih dahulu ia akan meminta izin di depan hauteas karena baginya hauteas merupakan perlindungan dari Tuhan dan juga dari leluhur yang akan menemaninya dalam perjalanan, oleh karena itu ia akan tetap merasa aman sepanjang perjalanan. Suku Nopala percaya bahwa nenek moyang mereka terutama roh nenek moyang akan menjadi pelindung yang menjaga mereka kemanapun mereka pergi. Mereka juga percaya bahwa mereka dapat meminta apapun baik kebutuhan pribadi atau kebutuhan bersama dari hauteas dan melalui hauteas permohonan serta doa mereka akan dikabulkan. Bagi mereka Hauteas juga menghubungkan rasa persaudaraan dalam keluarga dan membangun solidaritas dengan suku lain. Ketika mereka berkumpul di depan hauteas, mereka menghabiskan waktu bersama-sama dan saling mengenal lebih baik diantara mereka. Makna iman dari Hauteas Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Iman merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari diri setiap manusia. Terserah dari manusia untuk menjaga iman kita agar tetap kuat atau membiarkannya untuk tidak stabil. Sebaliknya, iman Kristen adalah iman kepada Kristus Juruselamat. Kebudayaan adalah adat istiadat sekelompok orang yang diwariskan secara turun-temurun, yang mempengaruhi tindakan atau perilaku manusia yang mempunyai budaya tersebut. Iman dan kebudayaan mempunyai keterikatan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain, keduanya yang mempengaruhi kehidupan setiap individu (Mayra 2. Berdasarkan penjelasan di atas informan juga mengatakan bahwa sesungguhnya sebelum masuknya agama-agama konsep pemahaman tentang Allah sudah ada dan orang Timor menyebutnya Uis Neno. Pemahaman Allah sebagai Uis Neno dalam praktek ritus masyrakat Insana khususnya suku Nopala dengan menggunakan Hauteas sebagai bahasa simbolik untuk menyatakan cara beriman mereka kepada Allah. Bagi suku Nopala setiap kali mereka melihat Hauteas atau berada di depan Hauteas hati dan pikiran mereka senantiasa tertuju kepada Uis Neno yang kemudiang dalam pengembangan pemahaman disebut sebagai Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hauteas dianggap sakral oleh masyarakat suku Napola dan masih berfungsi sebagai tempat berdoa dan tempat melakukan ritual budaya. Ritual adat tersebut selalu dikaitkan dengan kepercayaan, selaras dengan spiritualitas nenek moyang yang melekat dalam wujud kehidupan masyarakat. Dalam ritual adat yang dilakukan berkaitan dengan siklus hidup manusia, seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian. Ada pula ritual yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat setempat, misalnya ritual menanam, ritual memanen, ritual meminta hujan, ritual meminta pekerjaan, dan ritual meminta kesehatan. Masyarakat percaya bahwa segala sesuatu yang diinginkan akan diperoleh melalui ritus yang diwariskan seperti kesehatan dan kesejahteraan, maka berbagai upacara atau ritus selalu dikaitkan dengan spiritualitas dan hauteas (Koentjaraningrat, 2. Hauteas juga bisa disebut sebagai suatu keyakinan asli atau trdisional. Melalui Hauteas orang Dawan (Atoen MetoA. percaya bahwa Uis neno yang menciptakan manusia dan memberi mereka kehidupan. Jauh sebelum dampak budaya Barat hingga pada ajaran agama. Atoen MetoAo sudah percaya akan adanya Sang Pencipta. Orang Dawan mempunyai kepercayaan bahwa tiga cabang dari Hauteas ini merupakan wujud dari tiga figur tertinggi. Cabang tertinggi dari Hauteas ialah simbol dari Tuhan pencipta kehidupan (Uis Nen. yang hidup sebelum segala sesuatu dan berada di luar jangkauan akal manusia, salah satu cabang yang pendek melambangkan Tuhan penguasa bumi (Uis Pa. , sedangkan cabang yang lainnya simbol dari nenek moyang (BeAoi-naAo. Dari Hauteas inilah nampak bahwa eksistensi iman orang dawan akan Tuhan Surgawi (Uis Nen. itu sudah ada dan tumbuh sejak dahulu . Tuhan Langit (Uis Nen. itu pada hakekatnya adalah pencipta, penyelenggara dan penyelamat. Walaupun Atoen MetoAo. rang Timo. pada waktu itu belum mengenyam pendidikan . tetapi, sikapnya terhadap yang Ilahi tumbuh dan berkembang hanya berlandaskan pengalaman hidup natural, namun perasaan dan kesadaran yang luar biasa akan kehadiran Tuhan Langit yang bersemayam di tempat yang tinggi hadir dalam hidupnya. Kasih, penyelenggaraan, perlindungan dan naungan Tuhan itu dirasakan dalam hati Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 orang dawan. Dalam bahasa Dawan. Hauteas disebut sebagai "hit beik ma hit matanik," yang berarti 'tenaga dan kekuatan' hidup. Hauteas juga melambangkan "iman" orang Dawan, yaitu kepada siapa masyarakat tradisional Dawan Cabang yang melambangkan surga/takhta merupakan tempat pertemuan para leluhur dengan Tuhan Langit (Uis Nen. dan Tuhan Bumi (Uis Pa. Di 'tempat suci' itu, leluhur manusia menyampaikan doa dan permohonan manusia kepada Tuhan Langit yang tinggi, yang merupakan Allah Tertinggi (Supreme Go. bagi manusia Dawan-Timor. Dalam keyakinan orang Dawan (Atoin Met. Tuhan Langit yang tinggi (Uis Neno Mnan. menguasai 'dunia atas', sementara Tuhan Bumi (Uis Pa. yang merupakan manifestasi dari Tuhan Langit menguasai 'dunia bawah/bumi'. Para leluhur (Bei - Na. berperan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan Langit dan Tuhan Bumi. Penancapan sebuah kelapa muda pada ujung cabang terpanjang/tertinggi dari Hauteas melambangkan berbagai rahmat Tuhan yang senantiasa tercurah kepada manusia. Hauteas didirikan di atas sebuah lingkaran/bundaran yang terbuat dari batu-batu, membentuk dan berfungsi sebagai sebuah Altar ini merupakan tempat pertemuan manusia dengan para leluhur, di mana doa, harapan, dan permohonan manusia disampaikan kepada Tuhan melalui leluhur. Dengan demikian. Hauteas bersama altarnya menjadi tanda dan simbol kehadiran serta keterlibatan yang ilahi dengan manusia Dawan dalam seluruh dinamika hidupnya. Secara filosofis. Hauteas merupakan perlambang kehidupan dan keharmonisan antara langit dan bumi. Tuhan dan manusia, makro dan mikro kosmos. Melalui tradisi Hauteas, manusia menghantar dan mempersembahkan doa dari yang kasat mata kepada yang tak kasat mata, atau dari yang kelihatan kepada yang tak kelihatan. Hauteas sarat dengan nilai religius dan budaya dari masyarakat suku Atoni di Timor. Dengan demikian. Hauteas tidak hanya menjadi simbol religius tetapi juga sarana untuk memperdalam hubungan antar anggota suku dan meningkatkan penghormatan lintas budaya. Pelestarian tradisi ini penting untuk memastikan makna spiritual dan budaya Hauteas tetap hidup di tengah perubahan zaman. Relevansi Hauteas bagi iman Katolik Hauteas memiliki relevansi yang signifikan dalam perkembangan iman Katolik di kalangan umat Suku Nopala. Tradisi Hauteas sebagai simbol spiritual menjadi jembatan antara iman tradisional dan ajaran Katolik. Sebelum mengenal agama Katolik, umat Suku Nopala telah memiliki pemahaman spiritual yang mendalam tentang Allah yang disebut Uis Neno. Melalui Hauteas, umat mengekspresikan iman mereka kepada Allah dengan melibatkan elemen-elemen sakral seperti cabang panjang yang melambangkan Uis Neno. Tuhan yang Maha Kuasa, dan cabang-cabang lainnya yang melambangkan tradisi leluhur dan Dalam perkembangan iman Katolik. Hauteas menjadi sarana untuk memahami konsep Tritunggal Mahakudus. Kehadiran para misionaris yang memperkenalkan ajaran Injil memberikan konteks baru bagi pemahaman tentang Uis Neno. Para misionaris menggunakan simbol-simbol yang telah dikenal, seperti Hauteas, untuk menjelaskan kepercayaan Katolik tentang Allah Tritunggal: Allah Bapa. Putra, dan Roh Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 Kudus. Dengan demikian. Hauteas menjadi medium transisi yang mempertemukan iman tradisional dengan teologi Katolik. Ritual adat di depan Hauteas, seperti doa dan persembahan, menunjukkan pengakuan umat terhadap kehadiran Allah dalam hidup mereka. Hal ini selaras dengan ajaran Katolik tentang penghormatan kepada Allah melalui ritus dan simbol-simbol suci. Dalam liturgi Katolik, misalnya, penggunaan altar dan persembahan juga memiliki makna yang mendalam, mirip dengan fungsi Hauteas sebagai tempat doa dan Hauteas juga menjadi sarana pembentukan komunitas iman. Upacara-upacara yang dilakukan di sekitar Hauteas mempererat hubungan antaranggota suku dan menumbuhkan solidaritas. Nilai-nilai persaudaraan dan kebersamaan ini sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik tentang pentingnya persatuan umat sebagai tubuh Kristus. Namun, tantangan dalam menjaga relevansi Hauteas bagi iman Katolik tetap ada, terutama di tengah perubahan zaman dan minat generasi muda yang cenderung menurun terhadap tradisi adat. Oleh karena itu, perlu ada upaya pendidikan dan katekese yang mengintegrasikan makna spiritual Hauteas dengan ajaran Katolik agar tradisi ini dapat terus hidup dan memberikan kontribusi bagi pengembangan iman umat Suku Nopala. Adapun pengembangan pemahaman umat/masyarakat suku Nopala yakni pengembangan konsep pemahaman suku Nopala tentang Allah yang dikonsepkan dalam Hauteas sebagai Uis Neno kemudian di dalam perkembangannya karena terbuka mereka dalam menerima ajaran gereja katolik melalui kehadiran para misionaris pada waktu itu. Dalam interaksi sehari-hari para missionaris mewartakan Injil, melakukan katekese Iman dan mengajarkan ajaran sosial gereja yang berbasis Kitab Suci. Inilah yang membuka pemahaman mereka bahwa Uis Neno yang diyakini sebagai penguasa dan pencipta alam ialah Tuhan Allah yang diimani dalam ajaran gereja katolik. Perziarahan hidup iman umat pada waktu itu bermula dari upacara-upacara kebudayaan. Hal ini menunjukkan bahwa iman dan budaya memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, keduanya saling mempengaruhi kehidupan manusia. Sebagai landasan persekutuan upacara yang dilakukan pada upacara Hauteas lazimnya dihadiri oleh seluruh anggota suku. Hauteas adalah batang kayu yang bercabang tiga yang memiliki arti teologis yang mendasar dari setiap cabangnya dan di dalamnya mengungkapkan iman kepercayaan umat suku Nopala sebelum mengenal agama Katolik dan Ajaran Gereja Katolik. KESIMPULAN Hauteas adalah warisan budaya dan spiritual yang mendalam bagi Suku Nopala, berfungsi sebagai simbol kehadiran Allah (Uis Nen. yang Maha Kuasa dan sumber kekuatan spiritual bagi masyarakatnya. Melalui Hauteas, umat Suku Nopala mengekspresikan iman mereka, menjaga tradisi leluhur, dan mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai persaudaraan, kebahagiaan, dan kesatuan yang mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa Hauteas tidak hanya menjadi pusat dari upacara adat dan ritual keagamaan, tetapi juga sebuah jembatan yang menghubungkan tradisi leluhur dengan ajaran Katolik. Kehadiran para misionaris Pastoralia Vol 5 No 2. Edisi Desember 2024 memperkaya pemahaman iman masyarakat dengan memperkenalkan konsep Tritunggal Mahakudus, yang telah diterima dan diadaptasi ke dalam kerangka kepercayaan lokal. Dalam proses ini. Hauteas menjadi simbol transisi yang mempertemukan spiritualitas tradisional dan teologi Katolik. Namun, tantangan di era modern seperti penurunan minat generasi muda terhadap tradisi adat dapat mengancam kelangsungan Hauteas. Oleh karena itu, upaya pelestarian yang melibatkan pendidikan, katekese, dan penguatan pemahaman akan makna Hauteas sebagai bagian integral dari iman Katolik sangat diperlukan. Dengan cara ini. Hauteas dapat terus menjadi inspirasi spiritual dan identitas budaya yang kuat bagi generasi mendatang, sekaligus memperkuat iman umat dalam konteks perubahan zaman. DAFTAR PUSTAKA