Deden Haerudin. Fachri Helmanto Reinterpretasi dalam Pertunjukan Teater Lenong Betawi Deden Haerudin1. Fachri Helmanto2 Universitas Negeri Jakarta Universitas Djuanda ABSTRACT Urbanization and digitalization of culture in big cities including Jakarta, shift the way the younger generation interprets traditional symbols. Gatot Kaca, famous as a puppet character, also experienced reinterpretation through performing arts as a strategy for preserving cultural identity. This study aims to understand the reinterpretation in the Lenong Betawi performance of the play Satria Millennial, where Gatot Kaca is adapted into an urban expression space. Using a phenomenological approach, data was collected through interviews and documentation of the creative process of the Satria Millennial Furthermore, the data obtained were analyzed thematically following Moustakas' framework. The results show three main reinterpretations: . a pandemic-themed story, . the character of Gatot Kaca transforming into a comic-educational figure, and . the performance integrating lenong, musical, and urban humor. These three reinterpretations strengthen the function of art as a vehicle for cultural preservation, education, and mediation of local cultural identity in modern society. Keywords: reinterpretation. Gatot Kaca. Betawi lenong, urban theater, arts education ABSTRAK Urbanisasi dan digitalisasi budaya di kota besar termasuk Jakarta, menggeser cara generasi muda memaknai simbol tradisional. Gatot Kaca, terkenal selaku karakter pewayangan ikut mengalami Reinterpretasi melalui seni pertunjukan sebagai strategi pelestarian identitas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami reinterpretasi dalam pertunjukan Lenong Betawi lakon Satria Milenial, dimana Gatot Kaca diadaptasi ke dalam ruang ekspresi urban. Dengan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi proses kreatif pertunjukan Satria Milenial. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara tematik mengikuti kerangka kerja Moustakas. Hasil menunjukan tiga reinterpretasi utama: . cerita bertema pandemic, . karakter Gatot Kaca bertransformasi menjadi tokoh komikal-edukatif, dan . Pementasan berintegrasi lenong, musical, dan humor urban. Ketiga reinterpretasi tersebut memperkuat fungsi seni sebagai wahan pelestarian budaya, pendidikan dan mediasi identitas budaya lokal dalam masyarakat modern. Kata kunci: Reinterpretasi. Gatot Kaca, lenong Betawi, teater urban, pendidikan seni PENDAHULUAN Rachman, 2. Kekhasan yang melekat Teater Lenong Betawi berakar dalam dalam pementasan Lenong Betawi terwujud budaya masyarakat Betawi, yakni penduduk dalam cerita keseharian masyarakat dengan asli kota Jakarta. Indonesia (Oktaviani, 2022. narasi moral yang disampaikan degnan gaya Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Reinterpretasi dalam Pertunjukan Teater Lenong Betawi improvisasi, humor dan kedekatan emosional Matara, antara aktor dan penonton (Karim, 2. akademisi dari Universitas Negeri Jakarta. Dalam perkembangan teater ini, sejumlah adapatasi terhadap selera audiens kerap kali penghadiran karakter Gatot Kaca dalam ditemukan mengikuti isu sosial terkait deras urbanisasi yang diangkat. Namun, tantangan pewayangan Gatot Kaca, meskipun dikenal tetap bermunculan bahkan bertambah yakni luas dalam tradisi Jawa sebagai pahlawan dengan adanya kebijakan digitalisasi di dalam Mahabarata, telah banyak dihadirkan Indonesia. Sehingga urbanisasi dan digitalisasi di media konptemporer, dari lukisan, film, ini menggeser referensi budaya generasi muda hingga permainan digital Mobile Legends dari simbol lokal ke ikon populer. (Ruastiti et al. , 2. Namun, justru karena Sebagai Lenong Betawi. Tokoh Betawi ketenaran inilah. Gatot kaca menarik untuk melahirkan sejumlah tokoh legendaris yang direinterpretasi dalam pertunjukan rakyat kerap dihadirkan dalam berbagai bentuk pertunjukan, antara lain Si Pitung. Si Jampang. Penelitian terkait reinterpretasi karakter Si Doel, dan Ondel-ondel (Attas et al. , 2. Memang empat karakter tersebut tidak lahir sosok perempuan Jawa ke dalam produk dari pertunjukan lenong, namun karakter batik Aumbok semokAy dari Girilayu dan tersebut lazim dimunculkan dalam sejumlah AuMbok MaseAy dari Solo (Nurcahyanti et pementasan Lenong Betawi di Jakarta tentang , 2. Penelitian tersebut mengungkap (Si sosok perempuan memiliki potensi dalam Pitung dan Si Jampan. dan menggambarkan pemberdayaan ekonomi keluarga. Adapun kehidupan keseharian masyarakat Jakarta (Si penelitian tersebut berfokus pada disiplin Doel dan Ondel-onde. seni rupa. Selanjutnya kajian reinterpretasi Jakarta sebagai kota besar, tentu saja dalam konteks seni rupa juga menjadi menjadi salah satu destinasi migrasi nasional pijakan proses kreatif seniman rupa. Rian dan Suryanti mendalami Monumen Bagindo Aziz Betawi bercampur dengan budaya para Chan dengan pendekatan ikonografi (Rian & Para pendatang membawa ragam Suryanti, 2. Radi Arwinda termasuk salah budaya seperti Jawa. Tionghoa. Minang. Arab, satu seniman rupa yang mereinterpretasi dan sejumlah budaya wilayah di Indonesia budaya dengan pengubahan struktur persona Timur dan turut menggeser selera kolektif. terhadap fenomena di masyarakat (Putri et Sebagai konsekuensi, interaksi multikultural , 2. Reinterpretasi pada karya Arwinda ini menggeser simbol dan narasi budaya tersebut berupa penuangan ideologi urban tradisional hingga sajian pertunjukan Lenong popular ke dalam bentuk logo, lukisan dan Betawi membutuhkan karakter pengintegrasi dua dimensi lainnya. Untuk reinterpretasi yang mampu berbicara lintas latar sosial dan berikutnya adalah reinterpretasi di seni tari dalam pertunjukan wayang topeng. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Deden Haerudin. Fachri Helmanto Reinterpretasi reinterpretasi dalam pertunjukan Lenong berpijak pada tokoh emban atau pembantu Betawi lakon Satria Milenial yang disajikan oleh pangeran (Yanuartuti & Winarko, 2. Matara UNJ. Fokus reinterpretasi antara lain. Wujud reinterpretasi karakter terdapat pada cerita, karakter, dan pementasan. Ketiga aspek tersebut dipilih karena merepresentasikan dengan busana tari yang mencirikhaskannya. lapisan utama dalam struktur pertunjukan Meskipun penelitian-penelitian urban memberikan kontribusi konseptual tersebut masih dominan dalam ranah seni pada wacana pelestarian budaya melalui rupa dan tari, sementara praktik reinterpretasi inovasi edukatif berbasis teater rakyat. dalam seni teater tradisional urban seperti Lenong Betawi belum banyak diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif fenomenologi untuk menganalisis budaya dalam pertunjukan Satria Milenial bentuk-bentuk reinterpretasi karakter Gatot Kaca dalam pertunjukan Satria Milenial yang pertunjukan merupakan proses konstruksi disajikan oleh Matara yang dimainkan oleh ulang makna yang berlangsung pada ekspresi sejumlah mahasiswa dan dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. Stuart Hall mendukung dengan Pertunjukan ini dirancang sebagai media menyatakan bahwa representasi merupakan proses aktif membangun makna melalui karakter, cerita dan bentuk pementasan bahasa, imaji dan praksis (Hall, 1. Oleh Patrice Pavis, tiga hal tersebut dipertegas ke keterhubungan budaya populer dan fungsi dalam tiga ranah yakni tekstual, figurative, pedagogis seni. Matara. METODE Reinterpretasi skenografi-performatif (Pavis. Fenomenologi dipilih karena berorientasi Baik Hall maupun Pavis sepakat bahwa pada pengalaman dan intensionalitas kreatif reinterpretasi berlangsung dalam tiga lapisan para pelaku pertunjukan secara mendalam, yakni reinterpretasi cerita sebagai modifikasi sambil memahami proses pemaknaan ulang narasi sesuai kontek sosial baru, reinterpretasi terhadap simbol budaya yang dihadirkan di karakter sebagai transformasi simbolik, dan Fokus utama dalam fenomenologi reinterpretasi pementasan sebagai pembaruan bentuk komunikasi antara aktor dan penonton. direkonstruksi melalui pengalaman subyektif. Ketiga reinterpretasi itu membentuk struktur dari proses kreatif hingga persepsi pelaku dan dasar dari strategi mediasi budaya dalam seni pengamat (Moustakas, 1. atas karakter teater rakyat urban (Bennett, 1. Gatot Kaca. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 bentuk-bentuk Sumber data utama dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam dengan Reinterpretasi dalam Pertunjukan Teater Lenong Betawi sutradara, penulis naskah, dan aktor utama kebudayaan atas teks Mahabarata sebagai naskah sakral dan membukanya sebagai rekaman video, naskah pertunjukan dan kemungkinan cerita baru yang lebih reflektif, catatan proses kreatif. Pemilihan informan mempertimbangkan keterlibatan langsung Reinterpretasi tersebut berakar pada praktik teater global mereka dalam proses reinterpretasi. yang lazim memodifikasi karakter dan alur cerita untuk menyesuaikan visi artistic dan transendetal yang ditawarkan oleh moustakas, konteks zaman. Seperti halnya West Side terdiri dari epoche, horizonalisasi, klasterisasi Stry yang mereinterpretasi Romeo dan Juliet makna, dan sintesis tekstur dan struktur ke dalam konflik sosial di New York (Gatta. Data dianalisis secara tematik RapajiN, 2. , maka Satria Milenial pun dengan memetakan elemen reinterpretasi menata ulang narasi Gatot Kaca ke dalam dalam tiga aspek utama . erita, karakter dan dunia yang penuh perompak bermasker dan hoaks vaksin. Selain itu pertunjukan Satria triangulasi data dan konfirmasi Interpretasi Milenial dibuka dengan pendekatan humor bersama informan untuk menjaga koherensi musikal khas Betawi. Syair pembuka seperti dan keabsahan makna yang ditarik dari pantun yang melekat bagi masyarakat Betawi. pengalaman artistik tersebut. Di gambar 1, syair tersebut menginformasikan Analisis Validasi lokasi keramat sebagai penanda ciri khas persebaran masyarakat betawi. Syair Aupapaya HASIL DAN PEMBAHASAN matang dari keramat, keramatnya ada di Reinterpretasi Cerita dalam Satria Milenial kampung limaAy merepresentasikan kampung Pertunjukan Satria Milenial bersumber Kramat Tunggak di Jakarta Utara. Kramat Jati dari kisah Gatot Kaca sebagai sosok pahlawan di Jakarta Timur, kramat Kalong di Jakarta di kisah Mahabarata dengan pembingkaian Barat. Kramat Kwitang dan Kramat Sentiong refleksi sosial atas pandemic dan kekacauan yang keduanya di Jakarta Pusat (Alzamil, tata nilai di Indonesia. Pertunjukan ini Purbasari, 2. Syair sebagai penataan ulang makna yang dihasilkan harmoni alat musik Betawi modern yang dari pertemuan simbolik antara tradisi dan menyatakan serafin, accordeon, biola hingga modernitas (Widiharto & Santoso, 2. Syair tersebut bertugas tak sekedar Diperkuat oleh penulis naskah dan sutradara prolog penghibur tapi juga membuka horizon yang mengusung gagasan Gatot Kaca sebagai cerita ke dalam dunia yang akrab bagi cerita hidup yang mengalami perubahan penonton urban. Di titik ini Gatot Kaca tidak makna dalam ruang kota Jakarta. Tentu saja, lagi dimunculkan dari kerajaan Astina atau sutradara dan penulis menangguhkan bias Kurukshetra tetapi dari jalanan kampung Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Deden Haerudin. Fachri Helmanto Gambar 2 Memeragakan Jurus Ular dan Jarum Suntik (Sumber: Haerudin, 2. Gambar 1 Naskah Satria Milenial (Sumber: Haerudin, 2. keramat dan kondisi suasana pasca pandemic beladiri di masyarakat Betawi yakni sebagai yang menyimpang trauma sosial. sebuah rangkaian gerak. Reinterpretasi ini Cerita dibangun dalam ketidaklinearan merupakan suatu alih kode naratif yang lucu melalui fragmen-fragmen simbolik yang dapat dan edukatif. Cerita pewayangan yang penuh ditafsir ulang. Alih alih menjadi mitos, tokoh dengan konflik kosmis dan perang saudara pengelana waktu dimunculkan menyerahkan direduksi menjadi narasi moral tentang AusenjataAy berbentuk masker dan jarum suntik. keberanian menggunakan pengetahuan dan Hal ini menandakan bahwa kekuatan cerita empati untuk melawan ketidaktahuan. tidak lagi bersumber pada fisik atau otot Banyak pertunjukan teater di dunia baja, melainkan pada pemahaman sosial dan nalar ilmiah. Dalam satu adegan. Gatot Kaca karakter dan narasi dengan cara menggeser ditampilkan tidak sedang bertarung dengan Amaia Lamikiz Jauregiondo menyebut senjata gada, tetapi menghadapi musuh dengan simbol perlindungkan kesehatan. Pada musical adalah bentuk reinterpretasi cerita gambar 2, jurus yang digunakan merupakan jurus ular yang dimaknai sebagai symbol kolektif dan intensitas keterlibatan penonton Ular itu sendiri reinterpertasi (Jauregiondo, 2. Dalam hal ini. Satria Milenial dewa Asclepius atau dewa penyembuhan Lenong daengan musikalitasi pertunjukan melambangkan penyembuhan, pembaruan, rakyat sehingga cerita menjadi berterima bagi dan transformasi karena kemampuannya generasi muda. Penambahan lagu, dialog ritimis, dan pantun responsif tidak hanya kembali dan peremajaan (Gyner et al. , 2019. memperkuat karakter Betawi dalam struktur Panggabean & Tampubolon, 2. Jurus cerita, tetapi memberikan suspense yang melekat sebagai reinterpretasi kehidupan seni bersifat keseharian. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Reinterpretasi dalam Pertunjukan Teater Lenong Betawi Meskipun begitu, cerita Satria Milenial denyut zaman. tetap membentuk gugus makna baru seputar tema pahlawan, tanggung jawab sosial dan Reinterpretasi Karakter Gatot Kaca pendidikan masyarakat. Gatot Kaca tidak Dalam pewayangan Jawa. Gatot Kaca lagi digambarkan sebagai pahlawan Pandawa adalah figure legendaris yang dikenal dengan yang melayang di angkasa membawa petaka kekuatan tubuh yang luar biasa. Gatot bagi Kurawa, tetapi menjadi pangeran muda Kaca erat dengan symbol kesetiaan pada yang belajar dari Mboke . eneliti lintas Pandawa, lahir dari kawah Candradimuka, zama. bahwa kekuatan tidak terletak pada tubuh tetapi pada cara berpikir. Dalam versi seperti jangjang, gelang bahu dan Siger yang ini. Gatot Kaca menjadi lambang kaum muda mewakili kekuatan dewa . ihat gambar . yang berpikir kritis, terbuka terhadap zaman. Namun dalam Satria Milenial, tokoh ini tidak dan bersedia belajar dari siapa saja. Gatot Kaca dihadirkan sebagai reproduksi mitologi jawa. bahkan ditampilkan tidak langsung melawan Satria Milenial merupaka proyek kreatif musuh, melainkan menyadarakna lawan lewat Penulis naskah dengan sengaja symbol kesehatan. Cerita menjadi alat tafsir melepaskan makna sakral Gatot Kaca dalam zaman, menjadi media refleksi pendidikan dan Satria Milenial mengambil posisi penting sosok pahlawan kota, pembelajaran dan agen dalam peta pertunjukan berbasis budaya lokal perubahan sosial. Hal ini bukanlah bentuk yang fungsional secara pedagogis (Latifah & desakralisasi, tetapi cenderung dekonstruksi Kristiana, 2. simbolik agar tokoh tersebut menyuarakan Cerita Satria Milenial ini dirancang agar mampu menyentuh memori kolektif nilai-nilai baru dalam masyarakat urban masa Gatot kaca dalam Satria Milenial tidak membentuk pengetahuan baru melalui alat muncul dari langit atau medan perang, naratif seperti pengelana waktu, masker. Mboke. Kaca. Sekaligus Gatot Penonton . ihat hanya diajak tertawa, tetapi juga menyadari bahwa cerita lama bisa membawa pesan baru yang segar dan bermakna. Dengan Transformasi dalam satria milenial ini demikian, reinterpretasi cerita dalam Satria mereinterpretasi kekuatan Gatot kaca yang Milenial menjadi model hibridasi naratif dalam kisah Mahabarata berasal dari campur yakni mengolah mitos menjadi pesan sosial, tangan para dewa menjadi kekuatan yang dan membingkai kembali tradisi sebagai bersumber dari ilmu pengetahuan. Symbol panggung pendidikan public. Transformasi pengetahuan yang diwujudkan dalam satria semacam ini memperlihatkan bahwa narasi milenial berupa masker dan alat suntik. Dua bukanlah warisan beku melainkan organisme benda tersebut melekat dalam kehidupan hidup yang selalu bisa ditata ulang mengikuti masyarakat Betawi selama pandem COVID Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Deden Haerudin. Fachri Helmanto nilai edukatif, humor dan inklusivitas. Tidak hanya dari segi latar, reinterpretasi karakter ini juga menyentuh atribut visual. Jangjan, sayap yang biasanya digambarkan besar dan berbahan logam, kini dimaknai ulang menjadi kain sederhana (Lihat gambar . Jangjang ini dimaknai sebagai kekuatan terbang yang kini diwakili oleh mobilitas sosial dan fleksibilitas Siger, mahkota yang melambangkan Gambar 3 Gatot Kaca dalam Wayang Kulit . dan Satria Milenial . (Sumber: Haerudin, 2. lengkung kepala yang lebih kasual, serupa dengan aksesori Betawi. Gelang bahi, yang biasanya menjadi symbol otot baja Gatot Kaca diganti dengan jam tangan yakni suatu reinterpretasi cerdas yang menggambarkan bahwa kekuatan sejati kini terletak pada cara seseorang mengelola waktu, bukan otot. Dalam hal ini, gatot kaca telah menjelma Gambar 4 Gatot Kaca dan Khodam Bertemu Pengelana Waktu (Sumber: Haerudin, 2. edukatif, bukan lagi sekedar figur mitologis. Pendekatan ini sejalan dengan Frazer-Moyer Guse yang menekankan pentingnya penataan ulang sisi moral karakter untuk menghasilka Transformasi makna ini memperlihatkan kedalaman baru dalam dramaturgi. Gatot bahwa kekuatan tidak lagi bersumber dari kaca menjadi kuat dan bijkasana mempelajari ilahi, tetapi dari pemahaman terhadap dunia masa lalu untuk menyelamatkan masa depan nyata yang senantiasa berubah. dengan cara yang konstruktif. Berbagai Dari sisi dialog dan gestur. Gatot ulang karatker klasik menegasikan bahwa kaca juga mengalami pembaruan. Dalam pengubahan latar dan identitas merupakan pewayangan gatot kaca cenderung tampil strategi utama dalam proses reinterpretasi. dengan gaya formal dan penuh wibawa. Dalam Misalnya karakter klasik seperti Juliet dalam Satria Milenial, gatot kaca dihadikan secara Romeo dan Juliet dapat dipindahkan ke humoris, luwes, dan kadang tampak kikuk konteks urban kontemporer dan menghadapi saat menerima senjata dari pengelana waktu. konflik zaman baru (Lim et al. , 2. Demikian Hal ini memperlihatkan intensi kreatif untuk pula dengan Gatot Kaca di tangan Matara mengembalikan tokoh ke dalam kerangka diubah menjadi figur milenila yang mewakili yang lebih manusiawi dan mendekatkan Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Reinterpretasi dalam Pertunjukan Teater Lenong Betawi sosok Gatot kaca pada penonton masa kini. Reinterpretasi Pementasan dalam Konteks Temuan ini sejajar dengan temuan Halimah et Urban Lenong . dan Nur et al. yang mencatat Teater Tradisional, kecenderungan karakter (Noorzeha et al. , 2022. Betawi, memiliki kekuatan khas yang terletak Ylagan, 2. berubah menjadi humoris dalam berbagai pertunjukan tradisional. Humor Interaksi langsung dan spontan antara aktor menjadi medium naratif yang memungkinkan dan penonton menjadikan panggung menjadi proses desakralisasi yaitu melepaskan karakter ruang dialog sosial dan kultural. Dalam dari beban sakralitas agar karakter lebih lentur Satria Milenial, pementasan ini tidak sekedar dan reseptif terhadap reinterpretasi sosial . menghidupkan kembali bentuk pertunjukan Reinterpretasi gatot kaca dalam satria Betawi, milenial bukanlah karakter tunggal melainkan transformasi ruang teater menjadi wahana reprepresentasi dari narasi lintas waktu pendidikan, hiburan dan refleksi kolektif. dan budaya. Satria Milenial menjadi simpul Keputusan Matara UNJ untuk memainkan antara tradisi Betawi dan mitologi Jawa, antara semangat heroik dan kebijaksanaan penonton pelajar bukan tanpa pertimbangan. Satria milenial versi masyarakat Pertunjukan urban mewakili harapan akan hadirnya sebagai edutainment, menggabungkan humor tokoh pahlawan yang mampu memahami khas Betawi, struktur narasi kontemporer, dan kompleksitas masyarakat masa kini. Penonton visual teaterikal yang menyentuh tema-tema menyaksikan tokoh yang menegaskan bahwa actual seperti kesehatan public dan teknologi. kekuatan paling besar dalam zaman ini adalah Reinterpretasi empati, pengetahuan dan kesadaran budaya. dimulai dari penggunaan property yang Dengan demikian, reinterpretasi Gatot bersifat simbolik sekaligus kontekstual. Jarum Kaca dalam Satria Milenial adalah bentuk suntik dan masker mewakili krisis pandemic. artikulasi baru dari kekuatan budaya. Karakter Keduanya diangkat sebagai properti kerajaan Gatot kaca ini tidak hanya direkonstruksi secara visual dan naratif tapi juga secara Jarum suntik, misalnya, digunakan fungsional, yakni sebagai jembatan antara oleh tokoh perawat sebagai senjata untuk warisan dan pembaruan. Sejalan dengan Lehmann yang menyebut bahwa reinterpretasi sisi, ini melanjutkan tradisi lenong sebagai karakter dalam teater eksperimental adalah bentuk resistensi terhadap stagnasi kultural di sisi lain, adegan ini memuat (Lehmann, 2. , maka Satria Milenial adalah pesan moral yang jelas. Penempatan property bentuk perlawanan lebut terhadap kekauan kontemporer dalam tata panggung tradisional tradisi melalui estetika pertunjukan rakyat ini merupakan strategi reinterpretasi visual yang hidup dan lentur. Penggabungan unsur seni tradisi dan modern terletak Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Deden Haerudin. Fachri Helmanto pemanggungan, juga penggunaan property Pementasan urban seperti ini, dalam kekinian (Amri, 2. seperti jarum suntik batas tertentu, juga merefleksikan dinamika di jaman kerajaan. Rinterpretasi tidak hanya sosial Jakarta yang sarat dengan percampuran terjadi pada teks lakon, tetapi juga piranti nilai dan ketegangan antara tradisi dan visual dan gestural yang memperluas daya jangkau makna pertunjukan. kepercayaan ini sebagai elemen dramatik. Selain itu bentuk pementasan Satria Dengan Milenial tetap memelihara kerangka interaktif tetapi juga merangsang penonton untuk lenong namun dengan pendekatan baru merefleksikan realitas sosial mereka sendiri. yang lebih terstruktur. Dalam pembukaan Inilah esensi reinterpretasi dalam konteks pementasan: transformasi teater dari sekadar berperan sebagai raja. Hal ini menghadirkan ulang atas krisis kolektif. Transformasi ini tidak terjadi secara dan pneonton. Para aktor yang terdiri sporadis, melainkan melalui jalinan tiga dari mahasiswa dan dosen mengadposi proses reinterpretasi yang saling menopang. gaya imporvisasi lenong, namun dalam Cerita tradisional dari narasi Mahabharata kerangka narasi yang telah dirancang untuk digeser menjadi kisah kontemporer yang menyampaikan pesan kesehatan, etika sosial, menyinggung isu edukatif urban seperti dan kritik terhadap ketidakpekaan masyarakat Karakter Gatot Kaca direka ulang Ini sejalan dengan karakteristik lenong dari simbol keperkasaan mitologis menjadi sebagai pembawa pesan moral (Attas et figur populer yang humoris dan komunikatif, , 2. Di satria milenial, reinterpretasi hadir sebagai edutainer yang merakyat. Sementara itu, konvensi panggung teater seni hiburan menjadi instrumen pemaknaan beserta tujuan komunikatifnya. klasik dirombak melalui penggunaan media Keterlibatan langsung penonton, salah musikal, tata panggung simbolik, dan format satu ciri lenong Betawi, tidak dihapus dalam interaktif yang menggabungkan dalang dan reinterpretasi ini. Justru sebaliknya, dikuatkan penonton dalam ruang narasi yang cair. melalui humor kontekstual, gerakan teatrikal Ketiga aspek ini tidak berjalan terpisah, komikal, dan dialog satir yang mudah melainkan membentuk jejaring makna yang Misalnya, ketika tokoh Gatot Kaca saling menjelaskan. Untuk menggambarkan enggan bertarung karena lawannya takut keterkaitan tersebut, model berikut disusun jarum suntik, penonton diajak untuk melihat guna memperlihatkan alur reinterpretasi yang absurditas perlawanan dalam dunia modern. melibatkan cerita, karakter, dan pementasan Teater dalam hal ini berfungsi sebagai dalam satu kerangka dramatik yang utuh. ruang emansipasi simbolik, tempat gagasan Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Reinterpretasi dalam Pertunjukan Teater Lenong Betawi menawarkan bentuk resistensi simbolik, yakni menjaga akar sambil menjangkau masa depan. Tiga ditemukan, antara lain narasi pandemic sebagai konflik kontemporer, transformasi gatot kaca menjadi tokoh edukatif-humoris, serta pementasan lenong interaktif bernuansa Gambar 7. Model reinterpretasi teater Satria Milenial (Sumber: Haerudin, 2. Reinterpretasi memperlihatkan bahwa transformasi bukan sekedar estetika melainkan praktik kultural. Dengan demikian, reinterpretasi dalam Di ruang kota yang dipenuhi fragmentasi Satria Milenial tidak hanya bersifat estetis, nilai, satria milenial menjadi upaya kreatif melainkan juga epistemologis dan pedagogis. untuk merekatkan kembali ingatan kolektif Proses yang dimulai dari penangguhan sekaligus membuka ruang bagi generasi makna lama, pembukaan horizon baru dari muda untuk bernegosiasi dengan identitas pengalaman aktor dan penonton, hingga budayanya secara aktif dan reflektif. penyusunan makna kolektif melalui teks Namun perlu dicatat bahwa studi ini dan visual pertunjukan, mengantar teater ke masih berfokus pada pementasan akademik dalam wilayah refleksi kultural yang hidup dan belum menyentuh resepsi publik dari latar dan dialogis. Pertunjukan ini mencerminkan sosial berbeda. Di sini terbuka ruang untuk perubahan dengan secara aktif membentuk riset selanjutnya seperti pengujian dampak cara baru dalam memaknai tradisi, identitas, reinterpretasi terhadap pemahaman identitas dan edukasi. budaya pelajar atau eksplorasi bentuk-bentuk teater urban lain yang mengadopsi strategi reinterpretasi serupa terhadap tokoh-tokoh tradisional lainnya. SIMPULAN Milenial Dengan demikian, penelitian ini tidak menunjukkan bagaimana seni pertunjukan hanya menawarkan pemetaan ulang atas dapat menjadi strategi mediasi identitas representasi Gatot Kaca dalam lenong urban, tetapi juga membuka diskusi baru tentang Reinterpretasi Satria Pertunjukan merekonstruksi kembali cerita Gatot kaca dari identitas, khususnya dalam ekosistem urban ruang mitos menuju panggung kontemporer. yang cair dan penuh negosiasi simbolik. Satria Kali ini bukan untuk sekedar hiburan semata. Milenial menjadi contoh bahwa pertunjukan melainkan sebagai cara baru merawat warisan lokal, jika digarap dengan kesadaran kultural budaya melalui bahasa zaman kini. Di tengah dan strategi naratif yang adaptif, mampu krisis simbol, dan penanda budaya akibat menjadi medium refleksi, rekonstruksi, dan globalisasi dan komodifikasi media, seni teater regenerasi nilai budaya yang relevan. Jurnal Panggung V35/N3/09/2025 Deden Haerudin. Fachri Helmanto Hall, *** . Cultural Media. Culture Society, 2. , 57Ae72. https://doi. org/10. 1177/016344378000200106 Jauregiondo. From folklore to DAFTAR PUSTAKA