Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 Jumlah Produksi dan Kandungan Nutrisi Azolla caroliniana dengan Pemberian Pupuk Kompos Berbeda Anis Nugrahawati1*. Asih Makarti Muktitama1 Program Studi Akuakultur. Fakultas Pertanian. Universitas Malikussaleh INFO NASKAH Kata Kunci: caroliniana Wild. Kandungan nutrisi. Produksi. Diterima : 6 September 2023 Disetujui : 24 November 2023 ABSTRAK Azolla caroliniana Wild. merupakan kelompok pteridophyta yang tumbuh di permukaan air yang subur. caroliniana memiliki potensi sebagai pakan alternatif bagi ikan, namun belum banyak dimanfaatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis pupuk kandang terhadap produksi dan kandungan nutrisi A. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan P1 . P2 . ompos sap. P3 . ompos aya. P4 . ompos kambin. caroliniana dipelihara selama 15 hari dan diberi pupuk dengan dosis 250 g/m2. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah produksi, laju pertumbuhan relatif (RGR), doubling time (DT), dan kadar hara pada A. Hasil penelitian menunjukkan produksi A. caroliniana perlakuan 3 dan 4 tidak berbeda (P>0,. , akan tetapi berbeda dengan perlakuan 1 dan 2. caroliniana produksi P1 . ,55 . P2 . ,07 . P3 . ,82 . P4 . ,45 . RGR berkisar 0,01-0,04 g/hari. DT berkisar 17,19-68,30 hari. Kadar protein awal P . P1 . P2 . P3 . P4 . , dan kadar serat awal P . P1 . P2 . P3 . P4 . Pemberian jenis pupuk kompos ayam dan pupuk kompos kambing memiliki respon yang sama terhadap produksi A. Kampus Utama Cot Tengku Nie Reuleut. Muara Batu. Aceh Utara. Provinsi Aceh. Indonesia. Telp: . Fax. *Email anis. nugrahawati@unimal. The Effect of Different Compost Fertilizers on Production and Nutritional Content of caroliniana caroliniana Anis Nugrahawati1*. Asih Makarti Muktitama1 Department of Aquaculture. Faculty of Agriculture. Malikussaleh University ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords Azolla caroliniana Wild. is a group of pteridophyta which grows in a fertile water surface. caroliniana has high potential, but that has not been utilized. The purpose of this study is to find out the effect of different types of manures on the production and nutrient level in A. The research design used in this study was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 repetitions. P1 treatment . P2 . ompost of co. P3 . ompost of chicke. P4 . ompost of goa. caroliniana was taken care for 15 days and given 250 g/m2 dose of manure. Variables observed in this study are the production, relative growth rate (RGR), doubling time (DT), and nutrient level in A. The study showed that the production of A. caroliniana not different (P>0,05. carolinianaAos production of P1 . ,55 . P2 . ,07 . P3 . ,82 . P4 . ,45 . RGR ranges -0,01-0,04 g/day. DT ranges 17,19-68,30 day. The protein level of the beggining P . P1 . P2 . P3 . P4 . , and the fiber level of the beginning P . P1 . P2 . P3 . P4 . Giving of different types of manures have the same response to the production of A. caroliniana caroliniana Wild. Nutritional content. Production Kampus Utama Cot Tengku Nie Reuleut. Muara Batu. Aceh Utara. Provinsi Aceh. Indonesia. Telp : . Fax. *Email anis. nugrahawati@unimal. PENDAHULUAN Akuakultur merupakan sektor penghasil bahan pangan dengan pertumbuhan yang cepat dan memiliki potensi paling besar untuk memenuhi permintaan akan produk protein Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 pangan (Kumari et al. , 2. Produksi akuakultur dunia cenderung tumbuh secara konstan tetapi dengan laju pertumbuhan yang lambat (FAO, 2. Laju pertumbuhan produksi akuakultur yang lambat dipengaruhi beberapa hal, salah satunya oleh tingginya biaya pakan yang hampir menyentuh angka 70% dari total semua biaya produksi akuakultur. Sehingga dibutuhkan bahan pakan alternatif yang memiliki biaya yang lebih rendah. caroliniana merupakan tanaman air tawar yang mengapung, dan merupakan salah satu tanaman akuatik yang memiliki kecepatan tumbuh serta kandungan protein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan yang dapat diberikan secara langsung ataupun diolah terlebih dahulu menjadi pakan ikan (Radhakrishnan et al. , 2. caroliniana menjadi bahan pakanyang penting dalam akuakultur karena kandungan protein kasar yang lebih tinggi . % - 30%) dan kandungan asam amino esensial (AAE) . aya akan lisi. dibandingkan dengan tanaman hijau dan makrofita air lainnya (Panigrahi et al. , 2. Hal ini sesuai dengan Das et al. Kathirvelan et al. Listiowati dan Pramono . yang mengatakan bahwa A. caroliniana termasuk dalam famili A. carolinianaceae yang sangat kaya protein, asam amino esensial, vitamin . itamin A, vitamin B12, beta karote. dan mineral seperti: kalsium, fosfor, kalium, besi, tembaga, magnesium dll. Berdasarkan berat kering. caroliniana terdiri dari 25-35% kandungan protein, 10-15% kandungan mineral dan 7-10%, kombinasi asam amino, zat bioaktif dan biopolimer. berpotensi sebagai pakan untuk ikan tawes (Barbonymus gonionotu. dan ikan nila (Oreochromis niloticu. Proses budidaya diperlukan untuk memproduksi A. caroliniana, dan diperlukan penelitian dalam upaya mengeksplorasi A. Sumber utama bahan organik sebagai penyedia unsur hara (Nitrogen. Posfor, dan Kaliu. bagi pertumbuhan tanaman dapat diperoleh dari kotoran hewan ternak (Susylowati et al. , 2. Kotoran ayam, kambing, dan sapi sebagai pupuk organik diharapkan dapat berfungsi sebagai penyedia unsur hara yang dapat digunakan untuk pertumbuhan A. Bahan organik tersebut belum dapat dimanfaatkan oleh A. caroliniana sehingga diperlukan proses dekomposisi pada kotoran ternak tersebut. Proses pengomposan atau dekomposisi secara biologi dilakukan untuk mendapatkan bahan organik yang stabil, bebas dari patogen, berkurangnya bau, serta dapat meningkatkan ketersediaan hara, menurunkan kadar air dan menurunkan rasio C/N. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh jenis pupuk kompos yang berbeda terhadap produksi dan kandungan nutrisi A. BAHAN DAN METODE Prosedur Penelitian Pembuatan Kompos Pembuatan kompos dari kotoran sapi, kotoran ayam, dan kotoran kambing membutuhkan waktu 30 hari. Kotoran dipilih yang kering dan baunya tidak menyengat untuk mempercepat proses pengomposan. Masing-masing kotoran ditimbang sebanyak 10 kg. Penimbangan kotoran ini untuk memudahkan dalam menentukan dosis bahan-bahan pembuatan kompos seperti probiotik, dolomit . apur pertania. , gula, dan limbah gergaji kayu. Dosis bahanbahan pembuatan kompos untuk 10 kg yaitu probiotik sebanyak 20 mL, dolomit 200 g, gula 60 g, dan limbah gergaji sebanyak 2 kg. Dosis ini diperoleh dari booklet EM4 pertanian. Pencampuran bahan-bahan kompos dilakukan di atas plastik dengan membuatnya secara Pembuatan lapisan yaitu dengan cara menghamparkan kotoran setebal 20-30 cm kemudian dolomit, limbah gergaji kayu, dan probiotik/starter ditaburkan di atasnya. Lapisan Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 berikutnya dibuat sama dengan lapisan pertama hingga semua bahan habis. Lapisan tersebut dicampur dengan menggunakan sekop sehingga semua bahan tercampur. Bahan-bahan yang telah tercampur rata dipindahkan ke dalam karung. Setiap 4 hari sekali dilakukan pengadukan untuk mempercepat proses pengkomposan. Setelah 30 hari pupuk dilihat, jika pupuk sudah berubah menyerupai tanah berwarna coklat kehitaman, jika diraba suhu kompos dingin, memiliki tekstur remah dan tidak menggumpal dan memiliki bau yang tidak menyengat/busuk maka pupuk tersebut sudah menjadi kompos yang siap digunakan. Persiapan biota uji Tumbuhan A. caroliniana sp. diperoleh dari sawah yang berada di kawasan Beji. Purwokerto. caroliniana diaklimatisasi terlebih dahulu agar dapat beradaptasi pada media penelitian sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Caranya yaitu dengan menanam bibit A. caroliniana pada kolam perbanyakan agar pertumbuhannya stabil serta daunnya berwarna hijau tua. Persiapan Media Media tanam yang digunakan pada penelitian ini menggunakan air, tanah untuk perlakuan kontrol dan pupuk kompos ayam, sapi, dan kambing untuk ketiga perlakuan lainnya. Tanah dan pupuk kompos diletakan pada dasar akuarium sebanyak 250 g/m2 untuk keempat perlakuan, kemudian diberi air dengan ketinggian 10 Ae 15 cm dari permukaan tanah dan Kemudian masing masing kontainer diberi perlakuan sesuai denah. Setelah diberi perlakuan, media pemeliharaan dibiarkan satu minggu sebelum ditanami A. caroliniana agar pupuk terlarut dalam air dan mengalami perombakan. U2 U3 U4 U3 U2 U1 U3 U3 U4 U2 U2 U4 U4 Gambar 1. Denah . penelitian Keterangan : U1. U2. U3, dan U4 = Ulangan pada masing masing perlakuan P1 = Pemberian tanah . g/m. P2 = Pemberian pupuk kompos sapi . g/m. P3 = Pemberian pupuk kompos ayam . g/m. P4 = Pemberian pupuk kompos kambing . g/m. Penanaman Penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit dari kolam perbanyakan ke dalam media pemeliharaan, sebelumnya bibit ditiriskan terlebih dahulu kemudian ditimbang sebanyak 5g untuk setiap perlakuan dan ulangan. Bibit dipilih yang baik dan segar serta berwarna hijau tua . idak berwarna coklat/brownin. Sebelum penebaran dimulai, tumbuhan A. Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 yang telah ditimbang kemudian dibilas dengan air bersih secukupnya dan dimasukkan ke dalam larutan Kalium permanganat konsentrasi 20 ppm selama 60 menit (Arizal, 2. Tujuan perendaman tumbuhan ini dengan larutan tersebut adalah untuk mengurangi jumlah hama dan penyakit sehingga A. caroliniana yang telah siap untuk ditebar dan memiliki kondisi awal yang seragam sebelum diberi perlakuan. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan yang dilakukan yaitu pengontrolan pertumbuhan A. caroliniana dan pengendalian hama dan gulma yang berada di tempat penelitian. Pengontrolan pertumbuhan caroliniana dilakukan setiap hari dengan mengecek tanaman A. caroliniana dengan melakukan penimbangan berat A. Pengendalian hama dan gulma dilakukan secara mekanis, yaitu dengan mengambil dan mematikan atau membuang hama dan gulma apabila ditemukan di sekitar media pertumbuhan. Pemanenan Pemanenan A. caroliniana dilakukan setelah 15 hari penanaman. Pemanenan dilakukan dengan cara mengambil seluruh A. caroliniana yang berada dalam wadah pemeliharaan menggunakan serok berukuran kecil. caroliniana kemudian ditimbang untuk mengetahui berat akhir pemeliharaan. Pengukuran Kadar Protein dan Serat A. caroliniana yang telah ditimbang kemudian diletakkan pada baki plastik untuk proses penjemuran agar pada saat pengovenan A. caroliniana tidak terlalu basah. caroliniana yang telah dijemur kemudian dibungkus dengan alumunium foil untuk selanjutnya dilakukan pengovenan. Pengovenan dilakukan selama 3 hari dengan suhu 60 0C. caroliniana yang telah kering tidak memerlukan proses penggilingan karena jumlahnya sedikit dan dapat dihancurkan dengan mudah. caroliniana yang telah menjadi tepung kemudian di analisis proksimat untuk mengetahui kadar protein dan serat yang terkandung dalam A. Pengamatan dan Pengambilan Data Pengamatan dan pengambilan data dilakukan dari awal penanaman hingga akhir Pertambahan berat A. caroliniana diamati setiap 3 hari dimulai pada awal sampai akhir penelitian. Nilai protein dan serat A. caroliniana diamati dua kali yaitu pada saat awal dan akhir penelitian. Pengamatan pertambahan berat A. caroliniana dilakukan setiap tiga hari sekali dengan menimbang seluruh bibit A. caroliniana pada kolam penelitian, kemudian dikembalikan ke dalam wadah penelitian, dengan begitu dapat diketahui pertambahaan berat maksimal A. caroliniana dan hari pertumbuhan A. caroliniana mulai menurun hingga akhirnya unsur hara yang berada di dalam kolam penelitian tidak mampu menunjang pertumbuhan A. caroliniana atau produksi mulai menurun. caroliniana yang mengalami kerusakan dalam arti mengalami perubahan warna menjadi kecoklatan atau sudah tidak bisa tumbuh kemudian ditimbang. Analisis Data Data yang telah diperoleh pada penelitian ini kemudian ditabulasikan. Produksi A. caroliniana tersebut diuji secara statistik dengan uji ANOVA untuk mengetahui apakah Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 perlakuan berbeda nyata atau tidak, dengan tingkat kesalahan 5%. Bila hasil tersebut menunjukkan berbeda nyata atau sangat berbeda nyata, analisis dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Data nilai protein dan serat A. caroliniana dianalisis secara Variabel Pengamatan Data pada penelitian ini diolah dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: Produksi Besarnya produksi A. caroliniana dihitung dari berat awal penanaman hingga akhir Produksi A. caroliniana didapatkan dengan menggunakan rumus: Produksi = Berat akhir Ae Berat awal Doubling Time (DT) Tujuan penentuan doubling time yaitu untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh tanaman air untuk menggandakan biomassanya menjadi dua kali lipat dari biomassa Penentuan doubling time ini dapat dilakukan dengan pendekatan laju pertumbuhan relatif . elative growth rate/ RGR), yakni dengan membandingkan antara bobot basah awal dan bobot akhir selama pengujian. Doubling time atau waktu penggandaan biomassa tanaman air ditentukan dengan menggunakan rumus RGR (Mitchell dalam Zulmi, 2. ycIyaycI = ln ycOyc Oe ln ycO0 yc yaycuycycaycoycnycuyci ycNycnycoyce . aycN) = ycIyaycI Keterangan: RGR (Relative Growth Rat. = laju pertumbuhan relatif . /har. W0 = berat basah awal tanaman air . Wt = berat basah akhir tanaman air . t = waktu . HASIL Produksi A. Perlakuan pemberian kompos kambing (P. menghasilkan produksi A. sebesar 4,45 gram. Perlakuan pemberian pupuk kompos ayam (P. menghasilkan produksi caroliniana sebesar 3,82 gram, perlakuan pemberian kompos sapi (P. memiliki nilai produksi sebesar 2,07 gram, dan perlakuan pemberian tanah (P. memiliki nilai produksi sebesar 0,55 gram. Perlakuan pemberian kompos kambing menggambarkan produksi yang baik (Gambar . Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 Gambar 2. Rata-rata produksi A. caroliniana yang diberi pupuk berbeda Keterangan: 1: pemberian tanah pada media . g/m. 2: pemberian kompos sapi pada media . g/m. 3: pemberian kompos ayam pada media . g/m. 4: pemberian kompos kambing pada media . g/m. Laju pertumbuhan relatif (RGR) dan waktu penggandaan (Doubling Tim. Waktu penggandaan atau doubling time (DT) adalah waktu yang dibutuhkan oleh tanaman air untuk menggandakan biomassanya menjadi dua kali lipat dari biomassa awal. Penentuan doubling time ini dilakukan dengan pengukuran laju pertumbuhan relatif . elative growth rate/ RGR), yakni dengan membandingkan antara berat basah awal dan berat akhir selama pengujian. Tabel 1 menunjukan laju pertumbuhan relatif dan waktu penggandaan A. caroliniana dengan perlakuan yang berbeda. Tabel 1. Laju pertumbuhan relatif dan waktu penggandaan A. Perlakuan W0 . Wt . RGR . /har. DT . 4,55 5,65 6,82 8,11 -0,01 0,01 0,03 0,04 68,30 26,80 17,19 Kandungan nutrisi A. Kadar protein tertinggi pada tanaman A. caroliniana dijumpai pada sampel awal sebesar 26,79% dengan kadar serat kasar sebesar 7,38%. Dilakukan pemeliharaan selama 15 hari dengan 4 perlakuan dan mendapatkan hasil protein A. caroliniana yang lebih rendah dan kadar serat yang lebih tinggi dibandingkan dengan A. caroliniana sebelum penelitian. Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 Hal ini diduga karena A. caroliniana diambil dari pesawahan yang sedang ditanami padi, sehingga A. caroliniana mendapatkan unsur N dan P cukup tinggi dari pupuk kimia yang dipakai di pesawahan. Kandungan nilai nutrisi A. caroliniana dapat dilihat pada Tabel 6. Kadar protein pada A. caroliniana yang mengalami penurunan diduga karena kandungan unsur hara digunakan A. caroliniana bukan hanya untuk tumbuh besar, tetapi juga untuk pertambahan individu baru, sedangkan unsur hara yang berada pada media tumbuh diduga hanya dapat menunjang pertumbuhan A. caroliniana, sehingga kadar protein yang terdapat pada A. caroliniana setelah perlakuan lebih kecil dari A. caroliniana sebelum perlakuan. Tabel 2. Kandungan nutrisi A. Kadar air Perlakuan (%) Sebelum perlakuan 4,40 6,62 6,01 4,96 5,33 Protein Serat kasar % BK 26,79 7,38 19,68 12,43 22,98 14,92 23,19 13,65 23,34 9,14 Analisa kandungan NPK Masing-masing pupuk yang diberikan memiliki kadar N dan P, akan tetapi jumlahnya berbeda-beda (Tabel . Kadar N pada tanah memiliki nilai paling kecil yaitu sebesar 53,18 ppm, begitu juga dengan kadar P sebesar 11,98 ppm. Kadar N yang terdapat pada pupuk kompos sapi, ayam, dan kambing masing-masing secara berturut-turut memiliki nilai 207,13 ppm, 509,64 ppm, dan 381,28 ppm. Kadar P tersedia yang terdapat pada pupuk kompos sapi, ayam, dan kambing masing-masing secara berturut-turut memiliki nilai 844,26 ppm, 1324,57 ppm, dan 1442,18 ppm. Tabel 3. Hasil analisis kandungan N. K, dan pH Tanah. Kompos Sapi. Kompos Ayam. Kompos Kambing Parameter Satuan Tanah Kompos Kompos Kompos Sapi Ayam Kambing 53,18 207,13 509,64 381,28 P2O5 11,98 844,26 1324,57 1442,18 K2O 2,26 12,37 45,13 57,83 6,26 7,06 7,20 7,70 PEMBAHASAN Pemeliharaan A. caroliniana selama 15 hari didapatkan hasil pengukuran berupa produksi, laju pertumbuhan relatif, dan waktu penggandaan . oubling tim. Hasil penelitian menunjukan bahwa tanaman A. caroliniana yang dipelihara dengan pupuk kompos ayam tidak berbeda dengan A. caroliniana yang dipelihara dengan pupuk kompos kambing, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan dengan pemberian tanah dan perlakuan pemberian pupuk kompos sapi (Gambar . Perlakuan pemberian kompos kambing dan ayam menggambarkan produksi yang baik. Hal ini terlihat juga pada warna daun A. caroliniana yang berwarna hijau muda serta jumlah akar yang cukup banyak. Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 Banyaknya jumlah produksi A. caroliniana tergantung pada kadar nutrisi yang Masing-masing pupuk yang diberikan memiliki kadar N dan P, akan tetapi jumlahnya berbeda-beda (Tabel . Kadar N pada tanah memiliki nilai paling kecil yaitu sebesar 53,18 ppm, begitu juga dengan kadar P sebesar 11,98 ppm. Kadar N yang terdapat pada pupuk kompos sapi, ayam, dan kambing masing-masing secara berturut-turut memiliki nilai 207,13 ppm, 509,64 ppm, dan 381,28 ppm. Kadar P tersedia yang terdapat pada pupuk kompos sapi, ayam, dan kambing masing-masing secara berturut-turut memiliki nilai 844,26 ppm, 1324,57 ppm, dan 1442,18 ppm. Pupuk kompos ayam dan kambing pada perlakuan tiga dan empat memiliki kandungan N yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan, doubling time dan kandungan nutrisi A. caroliniana pada perlakuan tiga dan empat berbeda dengan dua perlakuan lainnya. Unsur hara N berfungsi menyusun asam amino, protein, asam nukleat, nukleotida, dan klorofil yang diperlukan untuk proses fotosintesis, sehingga dengan tercukupinya kebutuhan unsur hara N dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman . umlah anakan dan jumlah caban. , dan unsur hara K (Kaliu. juga merupakan salah satu unsur hara makro primer yang dibutuhkan tanaman sebagai aktivator enzim, membantu penyerapan air dan unsur hara serta membantu transportasi hasil asimilasi dari daun ke jaringan tanaman (Tufaila et al. , 2. Mosaic . menyatakan bahwa fosfor (P) merupakan nutrisi yang penting dan merupakan bagian dari beberapa senyawa struktur tanaman dan sebagai katalis dalam konversi berbagai reaksi biokimia penting dalam tanaman terutama perannya dalam menangkap dan mengubah energi matahari menjadi senyawa yang bermanfaat bagi tanaman . Fosfor adalah komponen penting dari DNA dari semua makhluk hidup. Fosfor adalah komponen penting dari ATP. Auunit energiAy dari tanaman. Selama fotosintesis berlangsung terdapat fosfor dalam strukturnya, selain itu fosfor juga memiliki peranan dalam proses perkembangan tanaman melalui pembentukan biji-bijian dan pertumbuhan hingga menjadi tanaman dewasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Manahan . , bahwa walaupun persentase fosfor yang dibutuhkan oleh tanaman relatif kecil, tetapi fosfor merupakan komponen esensial bagi tanaman. Waktu penggandaan atau doubling time (DT) adalah waktu yang dibutuhkan oleh tanaman air untuk menggandakan biomassanya menjadi dua kali lipat dari biomassa awal. Penentuan doubling time ini dilakukan dengan pengukuran laju pertumbuhan relatif . elative growth rate/ RGR), yakni dengan membandingkan antara berat basah awal dan berat akhir selama pengujian, kemudian doubling time dihitung dengan menggunakan rumus ln 2 dibagi nilai RGR. Tabel 2 menunjukan laju pertumbuhan relatif dan waktu penggandaan A. caroliniana dengan perlakuan yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian. RGR pada A. caroliniana caroliniana berkisar antara 0,01 hingga 0,04 dan doubling time berkisar antara 17,19 hingga 68,30 hari. Perlakuan 1 memiliki nilai RGR yang negatif dan tidak memiliki nilai doubling time karena berat akhir memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan berat awal penanaman. Kisaran laju pertumbuhan relatif dan doubling time A. caroliniana pada masing-masing perlakuan ini dipengaruhi oleh kandungan unsur N tersedia dan P tersedia pada masing-masing perlakuan. Selain itu, terdapat kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan bagi A. caroliniana, yaitu serangan larva ngengat pada semua perlakuan dan ulangan sehingga membuat laju pertumbuhan relatif dan waktu penggandaan A. caroliniana menjadi lebih lama. Kekurangan P tersedia dan serangan larva ngengat inilah yang paling berpengaruh terhadap Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 nilai RGR yang negatif pada Perlakuan 1. Hasan dan Chakrabarti . menyatakan bahwa caroliniana membutuhkan waktu antara 3Ae10 hari untuk menggandakan biomassanya, tergantung kondisi lingkungan dan hara yang terdapat pada media tumbuhnya. Waktu yang dibutuhkan A. caroliniana untuk menggandakan biomassa tergolong cukup lama jika dibandingkan dengan penelitian Hasan dan Chakrabarti . Watanabe et al. dalam Bangun . , menyatakan bahwa salah satu faktor yang menentukan laju pertumbuhan adalah kandungan P media tumbuh A. apabila kandungan P media tumbuh rendah, maka pertumbuhannya dapat terhambat. Fosfor adalah unsur hara makro yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman A. Media tumbuh yang tidak mengandung unsur P, proses fiksasi N oleh simbiosis Anabaena A. carolinianae akan terhambat. Hal ini disebabkan berkurangnya energi (ATP) yang sangat diperlukan dalam proses nitrogenase. Menurut Khan . dalam Handajani . , tanaman A. caroliniana yang kekurangan unsur P akan mengalami penurunan bobot segar tanaman sebesar 22%, serta penurunan kandungan N total tanaman hingga 16% akibat penurunan laju fiksasi N. Kadar protein tertinggi pada tanaman A. caroliniana dijumpai pada sampel awal sebesar 26,79% dengan kadar serat kasar sebesar 7,38%. Dilakukan pemeliharaan selama 15 hari dengan 4 perlakuan dan mendapatkan hasil protein A. caroliniana yang lebih rendah dan kadar serat yang lebih tinggi dibandingkan dengan A. caroliniana sebelum penelitian. Hal ini diduga karena A. caroliniana diambil dari pesawahan yang sedang ditanami padi, sehingga A. caroliniana mendapatkan unsur N dan P cukup tinggi dari pupuk kimia yang dipakai di pesawahan. Kandungan nilai nutrisi A. caroliniana dapat dilihat pada Tabel 2. Kadar protein pada A. caroliniana yang mengalami penurunan diduga karena kandungan unsur hara digunakan A. caroliniana bukan hanya untuk tumbuh besar, tetapi juga untuk pertambahan individu baru, sedangkan unsur hara yang berada pada media tumbuh diduga hanya dapat menunjang pertumbuhan A. caroliniana, sehingga kadar protein yang terdapat pada A. caroliniana setelah perlakuan lebih kecil dari A. caroliniana sebelum perlakuan. Kadar P tersedia pada media tumbuh A. caroliniana juga mempengaruhi kadar protein yang terkandung. Fiksasi nitrogen yang dilakukan Anabaena azolla dalam bentuk kerjasamanya dengan tanaman A. caroliniana merupakan suatu proses penting yang menjamin selalu tersedianya senyawa nitrogen bagi tanaman A. Walaupun nitrogen terdapat dalam jumlah besar dalam biosfer, akan tetapi tidak dapat digunakan secara langsung oleh A. Tanaman A. caroliniana terbukti dapat mensintesis senyawa N dan merubahnya ke dalam bentuk protein, meskipun kondisi media tumbuh rendah kadar N. Kadar protein dalam A. caroliniana merupakan perimbangan antara penyerapan N yang diberikan dalam media sebagai perlakuan dan dari hasil penambahan yang dilakukan oleh mikrosimbion Anabaena A. carolinianae dan nitrogen. Hal ini sesuai dengan Mosaic . yang menyatakan bahwa Fosfor merupakan komponen RNA, yaitu senyawa yang membaca kode genetik DNA untuk membangun protein dan senyawa lain yang penting untuk struktur tanaman, biji, dan transfer genetik. Menurut Cheng et al. , . fosfor merupakan nutrisi yang paling penting untuk pertumbuhan tanaman darat dan tanaman air, terutama dalam fiksasi N. Hal ini sesuai dengan pernyataan Khan . dalam Handajani . , tanaman A. caroliniana yang kekurangan unsur P akan mengalami penurunan kandungan N total tanaman hingga 16% akibat penurunan laju fiksasi N. Kualitas air merupakan salah satu poin penting untuk menjaga keberhasilan budidaya Kualitas air yang di perhatikan selama penelitian yaitu pH dan suhu media Hak Cipta milik Jurnal Intek Akuakultur Attribution-NonCommercial 4. 0 International Jurnal Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 2. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 18-28 pH media pertumbuhan cenderung bertambah mengikuti penambahan waktu Parameter kualitas air berupa pH media semua perlakuan selama pemeliharaan menunjukan kisaran nilai sebesar 7,6-8,6. Kisaran pH yang terukur dari perlakuan pemberian tanah dan perlakuan pemberian kompos sapi memiliki kisaran yang hampir sama di akhir penelitian yaitu sebesar 8,3-8,8. Begitu juga dengan perlakuan pemberian pupuk kompos ayam dan pemberian pupuk kompos kambing juga memiliki kisaran yang hampir sama yaitu antara 7,8-8,1. Kisaran pH yang optimal bagi pertumbuhan A. caroliniana adalah 4-7, tetapi A. caroliniana masih mampu hidup pada pH 3,5Ae10. Media pemeliharaan A. caroliniana memiliki temperatur yang stabil mulai dari awal penelitian hingga akhir penelitian, yaitu 28 0C. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lumpkin & Plucknett dalam Tamad . bahwa A. caroliniana sangat peka terhadap perubahan suhu. Tumbuhan A. caroliniana dapat berkembang dengan baik pada kisaran suhu 20-35 0C. Pertumbuhan A. caroliniana kurang baik pada suhu lebih dari 35 0C atau kurang dari 0 0C, namun beberapa spesies A. caroliniana dapat bertahan hidup sampai suhu 40 0C. KESIMPULAN Pemberian pupuk kompos ayam dan pupuk kompos kambing memberikan hasil produksi A. caroliniana yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pemberian tanah dan pupuk kompos sapi. Kandungan protein A. caroliniana dengan perlakuan pemberian kompos ayam dan kompos kambing lebih tinggi dibandingkan dua perlakuan lainnya, berbanding terbalik dengan kandungan serat yang lebih rendah disbanding dua perlakuan DAFTAR PUSTAKA