Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 494-500 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Peran Kompetensi Kepribadian Guru Terhadap Motivasi Belajar Anak Usia 5-6 Tahun Di PAUD Anna Olivia . Beya Lillah Sakinah2. Istiqomah Khairun Nisa3. Meiliani Safitri4. Rita Kurnia5 Info Artikel Abstract Keywords: Teacher Competence. Teacher Personality. Children's Learning. Motivation. Early Childhood Education (ECE) is a crucial phase in shaping childrenAos character and learning motivation, where teachers play a central role in the learning environment. This study aims to analyze the role of teachersAo personality competence in influencing the learning motivation of children aged 5Ae6 years in early childhood education settings. The research employed a qualitative library research method, utilizing data from scientific articles, accredited national journals, and relevant studies published within the last five years. Data were analyzed through data reduction, thematic categorization, and critical interpretation of previous research findings related to teacher personality competence and childrenAos learning motivation. The findings indicate that teachersAo personality competenciesAisuch as patience, empathy, emotional stability, role modeling, and interpersonal communication skillsAisignificantly contribute to enhancing childrenAos learning motivation. Teachers with positive personality traits are able to create a safe, enjoyable, and supportive learning atmosphere that fosters both intrinsic and extrinsic motivation in young children. Conversely, inadequate personality competence may reduce childrenAos interest, focus, and active participation in learning The practical implications of this study emphasize the importance of continuous development of early childhood teachersAo personality competence through training, self-reflection, and professional guidance to improve learning quality and strengthen childrenAos learning motivation. Kata kunci: Kompetensi Guru. Kepribadian Guru. Motivasi. Belajar Anak. Abstrak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fase penting dalam pembentukan karakter dan motivasi belajar anak, di mana guru berperan sebagai figur utama dalam lingkungan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kompetensi kepribadian guru terhadap motivasi 1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Riau. Pekanbaru. Indonesia Email: anna. olivia2065@student. 2 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Riau. Pekanbaru. Indonesia Email: beya. lillah1975@student. 3 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Riau. Pekanbaru. Indonesia Email: istiqomah. khairun2656@student. 4 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Riau. Pekanbaru. Indonesia Email: meiliani. safitri6974@student. 5 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Riau. Pekanbaru. Indonesia Email: rita. kurnia@lecturer. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 belajar anak usia 5Ae6 tahun di PAUD. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif, bersumber dari artikel ilmiah, jurnal nasional terakreditasi, dan hasil penelitian relevan yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tema, serta penafsiran kritis terhadap temuan penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kompetensi kepribadian guru dan motivasi belajar anak usia dini. Hasil kajian menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru, seperti kesabaran, empati, kestabilan emosi, keteladanan sikap, dan kemampuan komunikasi interpersonal, memiliki pengaruh signifikan dalam menumbuhkan motivasi belajar anak. Guru dengan kepribadian positif mampu menciptakan suasana belajar yang aman, menyenangkan, dan kondusif sehingga mendorong motivasi intrinsik dan ekstrinsik anak. Sebaliknya, rendahnya kompetensi kepribadian guru berpotensi menurunkan minat dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Implikasi praktis dari penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi kepribadian guru PAUD secara berkelanjutan melalui pelatihan, refleksi diri, dan pembinaan profesional guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan motivasi belajar anak usia Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 28 Oktober 2025 16 Desember 2025 17 Desember 2025 17 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Anna Olivia. Sakinah. Nisa. Safitri. , & Kurnia. Peran kompetensi kepribadian guru terhadap motivasi belajar anak usia 5Ae6 tahun di PAUD. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 494-500, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Nurhayati, nurhayatijm24@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Pada masa anak usia dini dapat dipercaya menjadi masa yang penting untuk perkembangan anak, karena pada usia ini anak mempunyaii kecerdasan dan bisa mengenal keterampilan dasar. Untuk perkembangan anak usia dini sangat cepat pada masa keemasan ( golden ag. Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah. Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan sesuai dengan tahap perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar (Kurnia et al. , 2. Pendidikan anak usia dini bertujuan untuk mengajarkan anak dan memberikan bekal kemampuan dasar kepada anak untuk mengembangan diri sesuai bakat dan kemampuan serta sebagai persiapan anak untuk masa depan. Pembelajaran baca tulis hitung . dapat dikenalkan sejak anak usia dini untuk mengetahui konsep kemampuan membaca,menulis dan berhitung karena pembelajaran ini bisa bergabung dengan kegiatan lainnya dan disusun dalam kurikulum Taman Kanak-kanak tanpa harus membuat anak kesusahan dalam pembelajaran. (Yunita et al. , 2. Guru PAUD memegang peranan kunci dalam menumbuhkan motivasi belajar anak usia dini melalui keteladanan sikap, konsistensi perilaku, serta hubungan interpersonal yang positif dengan peserta didik. Pendidikan anak usia dini menjadi fondasi awal dalam membentuk karakter serta potensi peserta didik. Pada masa usia 5Ae6 tahun, motivasi belajar anak sangat dipengaruhi oleh Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 lingkungan sosial dan emosional di sekolah, salah satunya peran guru sebagai figur utama dalam aktivitas pembelajaran (Aziz Mursal. Napitupulu Dedi Sahputra, 2. Nilai-nilai karakter yang diajarkan pada anak sejak usia dini merupakan fondasi penting agar terbentuknya susunan kehidupan masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia. Karakter yang baik perlu ditanamkan dan dibentuk sejak usia dini agar tertanam sehingga bisa mempraktek kan langsung. Usia dini merupakan masa kritis bagi terbentuknya karakter pada anak, agar anak tidak memiliki sifat yang merugikan orang disekitar nya. Selain menanamkan karakter yang baik kepada generasi muda adalah kunci dari langkah awal untuk membangun masa depan yang cerah (Wahyuni & Margaretha. Kompetensi kepribadian guru meliputi sikap jujur, sabar, bertanggung jawab, kreatif, dan empati mempengaruhi suasana kelas, interaksi sosial, serta penciptaan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak (Raihana et al. , 2. Guru dengan kepribadian positif mampu membangun rasa percaya diri, kemandirian, dan motivasi anak untuk aktif belajar melalui pendekatan personal, penguatan positif, dan pembelajaran menyenangkan (Aziz Mursal. Napitupulu Dedi Sahputra, 2. Seorang guru memegang kunci utama dalam pembangunan pendidikan, secara umum dalam pendidikan yang diselenggarakan pada jenjang formal, seorang guru diharapkan dapat berhasil dalam proses mengajar peserta didik nya . Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan dan guna meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga terdorong untuk melakukan nya. (Julaiha et al. , 2. Motivasi belajar pada anak usia dini erat kaitannya dengan minat, rasa ingin tahu, kegembiraan dan keterlibatan menjalani proses belajar. Guru yang mampu membangun hubungan emosional, memberikan apresiasi dan menciptakan kegiatan belajar yang interaktif, terbukti mendorong motivasi intrinsik dan ekstrinsik anak(Aziz Mursal. Napitupulu Dedi Sahputra, 2. Sebaliknya, kurangnya kompetensi kepribadian guru dapat menyebabkan anak cepat kehilangan konsentrasi, merasa bosan, atau kurang percaya diri di kelas (Julaiha et al. , 2. Hasil analisis dari berbagai studi pustaka PAUD menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru memiliki hubungan yang signifikan terhadap motivasi belajar anak, baik melalui survei, observasi, maupun wawancara di lingkungan PAUD. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur. Studi literatur memfokuskan pada analisis literatur, referensi, atau artikel ilmiah, skripsi terdahulu yang berkaitan dengan kompetensi guru PAUD dan dampaknya terhadap motivasi belajar pada anak usia dini. Studi literatur memungkinkan peneliti untuk melakukan pengumpulan pengetahuan yang sesuai dan berkaitan dengan topik penelitian atau masalah penelitian (Erika et al. , 2. Tahap-tahap penelitian ini sebagai berikut: . menentukan jenis-jenis literatur atau pustaka yang sesuai dengan topik penelitian. Jenis-jenis yang ditentukan yaitu: literatur yang berkaitan dengan kompetensi guru PAUD dan apa dampaknya terhadap perkembangan anak usia dini, serta literatur yang minimal diterbitkan lima tahun terakhir. mengumpulkan literatur dan mencari dibeberapa website seperti menggunakan Google Scholar. Kemudian ditinjau dan diseleksi sesuai dengan jenis-jenis yang sudah ditetapkan. menganalisis literatur yang sudah dikumpulkan. Analisis dilaksanakan dengan memilih literatur yang memiliki tujuan dan fokus penelitian yang sama, dan kemudian dibandingkan dan disusun hasil analisis tersebut. menyusun ulang menjadi suatu pokok yang diteliti dengan terstruktur, melakukan pembahasan dan menginterpretasi hasil analisis literatur, serta menyusun kesimpulan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Adapun hasil penelitian ini diperoleh dengan teknik observasi dilapangan secara langsung dan wawancara dengan narasumber terkait sebagai bentuk pencarian data yang kemudian peneliti lakukan Analisis ini terfokus pada kompetensi kepribadian guru di PAUD Happy Star Kids Pekanbaru yang berjumlah 7 orang guru dan kepala sekolah. Sehingga penelitian ini menghasilkan temuan, yaitu peran kompetensi kepribadian guru PAUD terhadap motivasi belajar anak usia 5-6 tahun di PAUD Happy Star Kids . Adapun temuan yang dilakukan melalui observasi dan wawancara yang menghasilkan jawaban dari guru: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, maka tentunya sumber data dalam penelitian ini sangatlah penting untuk memberikan informasi- informasi yang mendalam dan rinci, bagaimana kompetensi kepribadian guru di PAUD Happy Star Kids. Peneliti melaksanakan observasi sebagai metode pengambilan data dengan melihat secara langsung bagaimana kompetensi kepribadian guru di PAUD Happy Star Kids. Berikut pertanyaan wawancara dengan guru PAUD Happy Star Kids: M: Apa cara Ibu supaya anak mau fokus saat belajar? G: Guru harus penuh kasih sayang, hangat, dan sabar. Kami juga harus ceria dan kreatif agar belajar terasa seperti bermain, serta mampu bersikap tegas yang penuh kasih saat memberikan batasan M: Bagaimana Ibu mengendalikan emosi ketika anak-anak sulit diatur? G: Kuncinya adalah mengambil jeda . enarik napa. saat emosi memuncak, lalu mengubah perspektif. Ibu selalu mencari tahu akar masalah . apar, bosan, lela. agar bisa merespons dengan solusi, bukan dengan amarah M: Hal apa yang membuat Ibu selalu bersemangat datang mengajar? G: Semangat utama Ibu datang dari melihat kebahagiaan dan ekspresi 'Aha!' anak saat mereka berhasil melakukan hal baru. Pelukan tulus dan menyaksikan perkembangan ajaib mereka setiap hari adalah motivasi yang tak pernah habis M: Pernahkah Ibu belajar sesuatu yang baru lalu mencoba di kelas? Bisa diceritakan? G: Ibu pernah mencoba "Loose Parts Play" . ermain dengan bahan-bahan sederhan. Hasilnya, anak- anak menjadi jauh lebih kreatif, fokus, dan mandiri. Mereka menciptakan sendiri cerita dan mainan hanya dari ranting, batu, atau tutup botol. M: Apa yang biasanya Ibu lakukan untuk terus memperbaiki cara mengajar? G: Ibu rutin melakukan refleksi harian untuk mengevaluasi diri. Ibu juga aktif berdiskusi dengan guru lain dan rajin mengikuti pelatihan agar selalu tahu metode pengajaran terbaru, demi memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang anak Kompetensi kepribadian guru sangat erat hubungannya dengan karakter pribadi. Ciri-ciri kepribadian positif pada guru meliputi sikap yang ramah, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, sopan, empati, ikhlas, berakhlak mulia, serta konsisten menjalankan norma sosial dan hukum. Kepribadian positif guru ini berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa seperti kejujuran, kemandirian, dan semangat gotong royong. Misalnya, kepala sekolah sering memberikan arahan kepada guru yang sering terlambat, sehingga guru tersebut merasa tersentuh dan berusaha meningkatkan kedisiplinannya. Pembinaan yang diberikan oleh kepala sekolah tidak hanya sebatas peringatan, tetapi juga melalui penerapan langsung dan pemberian contoh yang baik. Kompetensi kepribadian seorang pendidik memiliki pengaruh besar terhadap proses belajar dan kebiasaan sehari-hari siswa. Sikap, semangat, kedisiplinan, pencapaian, serta hasrat siswa untuk terus belajar bisa dipengaruhi oleh tingkah laku guru selama kegiatan belajar. Siswa dapat berkembang dalam lingkungan yang positif jika pendidik mereka memiliki karakter yang menyenangkan yang turut membantu membentuk nilai-nilai moral mereka (Zalillah & Darmawan, 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Guru dengan kepribadian yang baik mampu menciptakan hal yang positif anatara guru dan siswa, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar mereka. Kepribadian guru yang seharusnya ada yaitu sabar, empati, dan memiliki komunikasi yang baik akan menciptakan suasana kelas yang kondusif, di mana siswa merasa dihargai dan dipahami. Hal ini penting karena pada usia sekolah dasar, siswa sangat dukungan emosional yang kuat untuk perkembangan akademis dan sosial mereka (Fransiska. Interpersonal antara guru dan siswa memainkan peran kunci dalam proses belajar mengajar, serta membantu meningkatkan motivasi dan kecerdasan siswa. Keterampilan komunikasi interpersonal yang baik, termasuk kemampuan sosial dan emosional, membuat pembelajaran lebih bervariasi, memberikan kesan kepada anak, dan menyenangkan. Guru yang mahir dalam komunikasi interpersonal dapat mendorong siswa untuk memiliki perilaku baik dan motivasi belajar yang kuat (MaAosum & Sriyanti, 2. Guru sangat berperan penting sebagai model teladan anak dan guru juga merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter anak usia dini. dalam pembentukkan karakter, anak cenderung melihat secara langsung dibanding mendengarkan kata kata. jadi guru harus menunjukkan sikap jujur, tepat waktu, dan konsisten dalam mengikuti aturan sehari-hari menjadi model nyata yang memperkuat pemahaman anak tentang kedisiplinan dan kejujuran yang penting bagi kehidupan sehari-hari. konteks ini guru bukan hanya sebagai pendidik akademik, tetapi juga model . moral yang mampu menanamkan prinsip hidup yang akan membentuk kepribadian anak hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka bersosialisasi di masyararakat (Rosnawati, 2. Kompetensi kepribadian guru penting untuk di ketahui muridnya. Seorang pengajar dengan karakter positif akan lebih dipercayai oleh siswa saat proses pendidikan dibandingkan dengan seorang pengajar yang memiliki kepribadian yang kurang baik. Secara sederhana, perilaku dan karakter seorang pengajar sangat mempengaruhi apakah siswa melihat mereka sebagai figur panutan atau tidak. Mengingat bahwa tugas seorang pengajar tidak hanya terbatas pada mengajar, tetapi juga mencakup aspek pendidikan. Pendidikan di sini mencakup tanggung jawab terhadap perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan psikomotor siswa. Dalam proses pendidikan, pengajar perlu lebih daripada sekadar menyampaikan materi, yaitu menunjukkan contoh langsung dari perilaku baik. Figur yang baik bagi siswa adalah pengajarnya Seorang pengajar yang dapat dicontoh adalah yang memiliki karakter yang baik. Hubungan antara karakter dan motivasi terletak pada kemampuan pengajar untuk menunjukkan dirinya sebagai sosok yang kredibel, sehingga siswa merasa bahwa mereka layak dididik oleh guru tersebut. Motivasi merupakan pendorong untuk menjalani aktivitas dengan tujuan tertentu (Hasan, 2. Pengembangan kompetensi guru Paud sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan hasil belajar anak-anak. Untuk menjadi seorang guru yang profesional, diperlukan seperangkat keterampilan dan kemampuan khusus dalam bentuk menguasai kompetensi guru dan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum sesuai dengan kualifikasi jenis dan jenjang pendidikan jalur sekolah tempatnya bekerja. kompetensi guru bisa dengan banyak cara, seperti: Mengikuti workshop dan seminar yang berkaitan dengan pengembangan guru, belajar bersama dengan teman sejawat atau bisa melalui video yang beredar di sosial media (Windi Pebriannti, 2. Menurut (Aziz Mursal. Napitupulu Dedi Sahputra, 2. Untuk meningkatkan semangat belajar anak, pendidik perlu mengimplementasikan metode yang lebih interaktif dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Salah satu cara yang dapat diambil adalah dengan: . Menerapkan pendekatan yang menggabungkan permainan dan pembelajaran. Melaksanakan kegiatan kreatif Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 seperti menceritakan kisah, bernyanyi, atau melakukan eksperimen sederhana serta memberikan variasi dalam aktivitas sehari-hari untuk membuat suasana belajar lebih menarik. Memanfaatkan berbagai media pembelajaran, seperti gambar, video, boneka jari, atau alat peraga, guna membantu anak memahami konsep dengan cara yang lebih menyenangkan. Memberikan peluang bagi anak untuk terlibat aktif, seperti melalui diskusi dasar atau permainan kelompok, yang dapat meningkatkan semangat mereka. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan penuh kesempatan untuk eksplorasi, anak-anak akan lebih termotivasi serta menikmati proses pembelajaran tanpa rasa jenuh. Untuk mengatasi tantangan dalam memotivasi belajar anak, guru perlu menerapkan strategi yang menekankan pada penciptaan suasana belajar yang kondusif dan menarik. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain: . Menyesuaikan metode pengajaran dengan karakteristik anak usia dini, seperti menggunakan pendekatan bermain sambil belajar, bercerita, bernyanyi, atau aktivitas eksploratif yang melibatkan gerakan fisik. Membuat ruang kelas yang nyaman, warna-warni, dan menyediakan berbagai media pembelajaran yang variatif sehingga anak lebih tertarik dan terdorong untuk belajar. Meminimalkan gangguan seperti kebisingan serta menerapkan jadwal belajar yang fleksibel diselingi dengan aktivitas fisik agar anak lebih fokus dan bersemangat dalam belajar. Memberikan dukungan emosional dan apresiasi yang cukup kepada anak. Memotivasi anak tidak hanya tentang metode mengajar, tetapi juga bagaimana guru berinteraksi dengan mereka. Pentingnya interaksi guru dengan anak, hal ini sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar anak. KESIMPULAN Berdasarkan rumusan masalah mengenai peran kompetensi kepribadian guru terhadap motivasi belajar anak usia 5Ae6 tahun, penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi kepribadian guruAi meliputi sikap sabar, empati, stabil secara emosional, jujur, bertanggung jawab, serta kemampuan komunikasi interpersonalAimemiliki pengaruh yang signifikan dalam menumbuhkan motivasi belajar anak usia dini. Temuan inti menunjukkan bahwa guru yang mampu membangun hubungan emosional positif, menjadi teladan perilaku, serta menciptakan suasana belajar yang hangat dan menyenangkan, cenderung lebih berhasil meningkatkan motivasi intrinsik dan keterlibatan aktif anak dalam Secara teoretis, hasil ini menguatkan pandangan bahwa kompetensi kepribadian merupakan dimensi esensial profesionalisme guru PAUD yang tidak hanya berdampak pada aspek afektif, tetapi juga mendukung perkembangan karakter dan kesiapan belajar anak secara holistik. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kepribadian guru melalui pelatihan berkelanjutan, refleksi diri, dan pembinaan institusional agar proses pembelajaran di PAUD berjalan lebih efektif dan bermakna. Dengan demikian, peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini tidak dapat dilepaskan dari kualitas pribadi guru sebagai figur sentral dalam lingkungan belajar. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk menggunakan metode empiris dengan pendekatan kuantitatif atau mixed methods, melibatkan sampel yang lebih luas, serta mengkaji hubungan kompetensi kepribadian guru dengan variabel lain seperti iklim kelas, keterlibatan orang tua, atau hasil belajar anak guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif dan mendalam. Saran