Serat Kanayagan dan Teori Laras Karya R. Machyar Angga Koesoemadinata Endang Caturwati Institut Seni Budaya Indonesia Bandung Abstrak: Tulisan ini membahas mengenai kiprah R. Mahyar Angga Koesoemadinata sebagai pencipta Notasi Sunda Serat Kanayagan yang dikenal tidak saja sebagai seniman dengan karya lagu-lagunya, tetapi juga sebagai peneliti atau Etnomusikologi Indonesia dengan temuannya Teori Laras 17 Nada yang dimplementasikan melalui alat musik 17 nada dan Gamelan Ki Pembayun 17 Nada. Banyak para pakar musik yang menganalisis karya-karyanya, baik pakar Indonesia maupun Pakar dari beberapa negara, serta dijadikan bahan tulisan Karya Disertasi, serta Jurnal. Karya Serat kanayagan masih digunakan di sekolah-sekolah oleh para Guru Seni Budaya, serta di Perguruan Seni sebagai materi bahan ajar membaca notasi Sunda. Begitu pula karya lagu-lagunya masih dinyanyikan pada acara-acara pentik, baik pada acara pergelaran maupun Festival Seni. Namun demikian, banyak yang tidak tahu, lagu-lagu tersebut karya R. Machyar, bahkan tidak tahu siapa sosok R. Mahyar. Tulisan ini, akan mengungkapkan bagaimana solusi untuk mensosialisasikan kembali karyakarya R. Machyar, sebagai karya anak bangsa yang mengispirasi. Metoda yang digunakan dengan cara Heuristik. Kritik Sumber. Interpretasi, dan Historeogfafi dengan Konsep Nilai Kasundaan Pok Prek Prak. Suatu solusi masalah yang ada, dibicarakan, difikirkan, dan dilaksanakan . Kata Kunci: Serat Kanayagan. Teori Laras . Machyar PENDAHULUAN Pertama kali penulis mengenal notasi Sunda pada tahun 1973, di Sekolah Konservatori Karawitan ( KOKAR) Bandung. Sebelumnya penulis sering mendengar lagu-lagu Sunda dari Radio Rebublik Indonesia (RRI) Bandung, pada tahun 1965-an . ala itu penulis masih duduk di Sekolah Dasar kelas dua ) yang dinyanyikan oleh Titim Fatimah dan Upit Sarimanah, baik lagu-lagu Kliningan maupun lagu-lagu Pop. Pada saat itu sangat jarang lagulagu anak dalam bahasa Sunda diperdengarkan di Radio. Begitu juga lagu anak-anak dalam bahasa Indonesia. Lagu-lagu yang sering dikumandangkan oleh Titip Fatimah, antara lain Lagu Cikapundung dan oleh Upit Sarimanah Lagu Bajing Luncat. Penulis pada waktu itu berumur 9 tahun, telah hafal lagu-lagu Cikapundung & Bajing Luncat, tanpa tahu apa artinya, dan juga lagu-lagu Kliningan yang lain seperti, lagu Kulu-kulu Bem dan Kangkung Bandung, yang berlajut di era tahun 70-an lagu Sunda lainnya berjudul Es Lilin. Panon Hideung. Bubuy Bulan. Sapu Nyere Pegat Simpai. Semua itu berlanjut sering penulis nyanyikan sendiri di rumah,atau pada acara Grup Rampak Sekar pada acara HUT RI di RW atau mengikuti lomba Lagu-lagu daerah, dengan mengalir tanpa tahu masing-masig lagu, termasuk kelompok genre apa, dan bagaimana notasinya. Pada saat itu yang penulis ketahui adalah, lagunya enak didengar, enak dinyanyikan, iramanya ritmis, tanpa tahu artinya apalagi makna konotatif atau denotatif, termasuk lagu dengan lirik yang berisi sisindiran, mana yang sampiran mana yang isi. Tidak ada yang menjadi hal penting untuk diketahui dan dipertanyakan, apalagi penulis sekolah di SD dan SMP IGN. Slamet Riyadi, sekolah Katolik yang mayoritas teman-teman penulis adalah berasal dari berbagai daerah yang berada di Indonesia (Sumatera. Ambon. Flores. NTT. Jawa. Menado. Kalimanta. , bahkan etnis China. Suku Sunda hanya beberapa orang. Begitu juga guru-guru sekolah nyaris tidak ada yang berasal dari Suku Sunda. Mayoritas dari daerah Batak. Menado. China dan Jawa. Apabila murid sekolah ada tugas mata pelajaran Seni Suara harus menyanyikan lagu Nasional dan lagu daerah, hanya penulis yang bisa menyanyikan lagu Sunda. Sampai pada tahun 1973, penulis masuk ke Sekolah Konservatori Karawitan ( KOKAR). Bandung, penulis baru mengenal notasi Sunda yang sering disebut Serat Kanayagan. Penulis juga baru mengenal perbedaan Laras Salendro. Pelog. Madenda. Degung, dengan berbagai Surupan Sorog. Liwung. Jawar, dan juga Matraman . Penulis betul-betul terkagum-kagum, karena sebelumnya sejak kecil di rumah. Bapak penulis mengajarkan lagulagu Jawa dan Gamelan Jawa dengan notasi Jawa ji ro lu pat mo nem ( laras Pelog & Salendr. , sesuai dengan lagu-lagu Dolanan untuk anak-anak. Kebetulan di rumah ada gamelan Jawa. Penulis sering mengikuti latihan gamelan hanya pada lagu-lagu bentuk Lancaran, sedangkan Ladrang dan Ketawang, diajarkan kepada para mahasiswa AIM (Akademi Industri Milite. Pindad, dan Mahasiswa ITB yang berlatih setiap satu minggu satu . Prosiding Seminar Nasional Dengan berjalannya waktu mengikuti pelajaran di Jurusan Karawitan, dan juga grup Ganda Mekar pimpinan Mang Koko Koswara. Gentra Madya Pimpinan Bapak Nano. S, dan Mayang Binekas pimpinan Bapak Dadang Sulaeman, penulis menjadi paham dengan ilmu karawitan dan juga praktik langsung di lapangan sebagai pemain Gending Karesmen. Drama Swara. Degung. Angklung. Rampak Sekar, yang tentunya semuanya menambah kepekaan titi laras dan bisa membedakan berbagai laras. Semua mengalir begitu saja, sampai pada suatu masa merasakan, bahwa setiap lagu mempunyai karakter dan kekuatan rasa, ternyata selain dinyanyikan oleh suara vocal penyanyi yang bagus juga pengaruh dari syair, laras dan surupan, yang indah. Semua nada-nada tersebut berkembang di tanah Sunda yang kemudian dirangkai menjadi lagu, dengan pilihan nada-nada, surupan, serta laras dari para komposer lagu Sunda yang pada saat itu penulis hanya mengenal lagu-lagu karya Mang Koko. Karya Pak Nano. Padahal sebelumnya banyak para komposer lagu Sunda dengan berbagai genre, antara lain Tembang. Kawih. Pupuh. Kapesindenan. Lagu Pop Sunda, yang kemudian penulis ketahui semua lagu-lagu Sunda terdiri atas berbagai genre dan semua itu ada yang telah menyusun berupa buku, atau partitur lengkap dengan notasi sunda yang disebut sebagai Serat Kanayagan, yang selanjutnya diketahui bahwa notasi Sunda, diciptakan oleh seorang seniman yang juga pendiri Sekolah Konservatori Karawitan Sunda di Bandung, bernama R. Macyar Angga Koesoemadinata, yang pada saat itu sebagai Direktur Pertama, di sekolah tersebut. Jasa R. Machyar begitu besar bagi perkembangan karawitan Sunda. Kini Banyak para Sarjana. Magister, bahkan Dr Karawitan Sunda yang menganalisis dan menciptakan lagu-lagu Sunda dengan menggunakan Notasi Sunda, bahkan teori Laras karya R. Macyar yang diimplementasikan pada karya gamelan 17 nada berbama Ki Pembayun dan Gitar 17 Nada, banyak dianalisis dan kritik dari para etnomusikologi, baik Indonesia, maupun manca negara. Terlepas dari yang pro dan kontra, pada kenyataannya R. Mahyar telah berbuat hal yang bermanfaat bagi masyarkat, terutama untuk lingkungan akademis. Selain Karya Gamelan,dan gitar 17 nada sudah barang tentu R. Machyar banyak menciptakan lagu-lagu Sunda yang bermuatan pendidikan karakter dengan kelompok lagu anak-anak, hingga lagu-lagu yang diperuntukkan untuk umum. Namun demikian pada masa kini, banyak karya lagu R. Mahyar yang digunakan pada berbagai pertunjukan, terutama pada upacara Mapag Panganten, dan juga acara-acara sekolah, antara lain lagu 'Lemah Cai Kuring. Deungkleung Dengdek. Raden Dewi Sartika. Larkili. Nelengnengkung, para guru seni budaya dan pelaku seni tidak tahu bahwa lag-lagu tersebut, adalah karya R. Mahyar. Begitu juga lagu-lagu pupuh seperti Pucung. Berangkat dari pemikiran bagaimana dan yang terjadi di Maka Penulis bermaksud untuk meneliti lebih jauh mengapa hal tersebut bisa terjadi, dan bagaimana mengenalkan kembali karya-karya R. Machyar kepada masyakat Sunda khususnya. Indonesia Umumnya. METODE Penulisan mengenai Fenomena yang terjadi pada karya lagu R. Mahyar Angga Koesoemadinata di Masyarakat, adalah merupakan peristiwa sejarah dari masa lalu hingga masa kini. Oleh karenanya metoda yang tepat, dari serangkaian langkah sistematis yaitu, dengan mengumpulkan, mengevaluasi, dan menafsirkan buktibukti dari masa lalu untuk membangun pemahaman tentang peristiwa sejarah dengan langkah-langkah, sebagai Heuristik (Pengumpulan Sumbe. Mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah, baik lisan, tulisan, maupun benda. Kritik Sumber: Melakukan verifikasi terhadap sumber-sumber yang telah dikumpulkan, meliputi kritik eksternal . easlian sumbe. dan kritik internal . eterpercayaan isi sumbe. Interpretasi: Menafsirkan makna dari sumber-sumber sejarah yang telah dikritik, dengan mempertimbangkan berbagai perspektif dan konteks. Prosiding Seminar Nasional Historiografi (Penulisan Sejara. Menyusun hasil penelitian dalam bentuk tulisan sejarah yang sistematis dan logis . Metoda tersebut merupakan cara untuk menggali sumber yang akan berlanjut pada solusi keberlanjutan secara operasional dengan menggunakan konsep kasundaan. Pok Pek Prak , yaitu. Pok = omongan, dibicarakan. Pek= tawaran untuk samasama dipikirkan. Prak= dilakukan, untuk implentasi secara praktis, melakukan hal yang penting . HASIL DAN PEMBAHASAN Tulisan mengenai R. Mahyar telah banyak ditulis oleh para peneliti, baik berupa Jurnal. Tesis, bahkan karya lagu-lagunya telah banyak dinyanyikan oleh anak-anak sekolah, dan dilombakan, akan tertapi pada masa kini banyak para guru bahkan masyarakat tidak mengenal siapa penciptanya dan siapa R. Machyar. Hal tesebut penulis lakukan observasi ke beberapa sekolah, dan para guru seni Budaya di Bandung dan Sumedang, bahkan bertemu langsung dengan Ka. Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayan, beserta para Ka. Sie. Kebudayaan. Pariwisata, dan Kesenian. Penulis menggali informasi terutama terkait dengan pengetahuan tentang Bapak Musikologi Indonesia yang telah diakui oleh para Etnimusikolog Dunia, salah satunya Jaap Kunst, mengakui bahwa pada tahun 1927. Machyar satu-atunya musikolog di Pulau Jawa . Jaap Kunst, adalah seorang etnomusikologi Belanda, yang pada tahun . , sedang melakukan penilitian brerbagai seni suara di seluruh kepulauan Nusantara. Pertemuan dengan R. Mahchyar menjadikan adanya kolaborasi pertukaran ilmu, antara ilmu musik dari Jaap Kunst dan ilmu gamelan atau pelog-salendro dari R. Machjar. Dari kolaborasi tesebut R. Mahcyar lebih memahami konsep getaran suara, serta cara mengukur dengan instrumen yang menyangkut konversi matematik ke sekala musik dengan menggunakan nilai logaritma, konsep interval cents dari Ellis . dan Hornbostel . , serta musik Rule dari Reiner . Banyak informasi sepak terjang R. Machyar dari Sumber Primer, yaitu putra ke lima R. Machyar, yaitu Prof. Dr. Prajatna Koesoemadinata, beserta Istri, putra dan cucunya, serta purtra ke 9, yaitu R. Sabar Koesoemadinata sebagai saksi sejarah yang melihat langsung kiprah ayahandanya ketika masih hidup. Selain informasi secara lisan, penulis juga mendapatkan sumber sekunder berupa buku-buku karya R. Machyar, baik berupa biografi, tulisan tangan dan tulisan-tulisan, karya-karya yang masih berupa draf, arsip-arsip, serta alat musik R. Machyar berupa beberapa rebab dan gitar, yang dulu sering dibawa-bawa ketika R. Machyar mengajar di sekolah-sekolah, di Konservatori Karawitan Bandung, serta Konservatori Karawitan Solo, dan ASKI Solo . Bahkan dua kali penulis mendatangi rumah tempat di mana R. Machyar dilahirkan di Sumedang, yang kini dijadikan Mesium Da Mi Na Ti La. Penulis berkunjung ke Sumedang didampingi oleh Ka. Bidang Kebudayaan Disparbud Kab. Sumedang. Bapa Budi dan jajarannya, pada bulan Desember 2024, dilanjut pada bulan April bersama Bapak Prof. Dr. Prajatna Koesoemadinata, beserta ibu dan keluarga, yang juga dihadiri Ka. Bidang Kebudayaan lengkap dengan Ka. Sub Dit Kebudayaan. Pariwisata, dan Ka. Sie Kesenian. Selain meneliti dan menganalisis karya-karyanya, penulis juga diantar oleh keluarga kel. Machyar ( cucu dan buyut ) ke makam Kel. Besar R. Mahcyar di Sumedang. Banyak informasi yang penulis dapatkan, yang pada umumnya beberapa hal telah ditulis juga oleh para peneliti terdahulu, oleh karenanya pada tulisannya ini penulis hanya akan membahas yang tidak banyak ditulis orang, antara lain. Pada tahun 1958 s/d 1960. Mahcyar diangkat menjadi Direktur utama Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung. Setelah Pensiun, ian menjadi dosen luar biasa mengajar ilmu akustik dan gamelan di Konservatori Karawitan Surakarta dan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta. Machyar menikah degan Ibu Saminah yang berasal dari daerah majalengka, lulusan dari Sekolah Guru Perempuan Van Deventer (Pleiades Kweekschoo. dan dikaruniai 10 orang putra, yaitu: n n n Machjeu Koesoemadinata . Dr. Kama Kusumadinata . lm, ahli volkanologi pada Direktorat Vulkanologi. Departemen Pertambanga. Ny Karlina Sudarsono . Prosiding Seminar Nasional n n n n n n Soetedja Koesoemadinata . Prof. Dr. Prajatna Koesoemadinata (Guru Besar Emiritus dalam ilmu Geologi ITB)' Dr. Santosa Koesoemadinata . Pensiunan Peneliti Biologi di Departemen Pertania. Rarasati Djajakusumah . Prof. Dr. Roekmiati Tjokronegoro, (Guru Besar Ilmu Kimia di Universitas Padjadjara. Drs. Moehammad Sabar Koesoemadinata. MSP. (Ahli Geologi Kwarter pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Geolog. , n Ir. Margana Koesoemadinata . Ahli akustik di LIPI dan kemudian di KLH) Dari ke sepuluh anaknya, tidak ada satupun yang menggeluti seni karawitan atau seni musik sebagaimana ayahnya, tetapi justru menekuni bidang ilmu alam, kecuali Kang Sabar . anggilan penulis kepada putra ke . , pernah sekolah di Konservatori Karawitan ( tidak sampai selesai karena sekolah juga di sekolah non sen. , dan bisa memainkan gamelan terutama rebab, juga bisa menari tari Sunda . Sebagai seniman karawitan Sunda. Pak Machjar banyak menciptakan lagu-lagu berbahasa Sunda, antara lain lagu yang dikenal di masyarakat Jawa Barat, seperti lagu Lemah Cai Kuring. Dewi Sartika. Dengkleng Dengdek. Lar Kili . Nimang. Sinom Puspasari, yang ditulis dalam buku-buku lagu, selain berupa syair juga notasi da mi na ti la, dan notasi sol mi sasi dan not balok. Selain mencipta banyak lagu. Machyar juga menulis naskah sandiwara dan Gending Karesme (Opera Sund. , yang disebut juga Rinenggasari, anata lain n n n n n Sarkam Sarkim . Permana Permana Sari . Sekar Mayang . Tresnawati . Iblis Mindo Wahyu . Machyar dikenal tidak hanya sebagai seniman yang menguasai lagu Sunda saja, tetapi juga Tembang Macapat Jawa, dan teori musik. Oleh karenanya selain dikenal sebagai pencipta sistem notasi da mi na ti la atau Serat Kanayagan untuk lagu-lagu Sunda, juga sebagai peneliti dan penulis teori mengenai seni laras dan gamelan multi laras, antara lain di antaranya Ringkesan Pangawikan Rinengga Swara yang ditulis pada buku . ari Arum 1950-1. Ilmu Seni Raras . dan juga buku lagu-lagu Sunda yang dibuat sesuai dengan perkembangan anak Sekolah Dasar (SD) Bersama Mr. Jaap Kunst. Machyar juga banyak menghasilkan tulisan . mengenai teori musik gamelan. Di antara hasil penelitian dan penciptaan dari Pak Machyar adalah eksperimental gamelan 9 tangga nada . untuk laras pelog, dan gamelan 10 tangga nada dengan laras salendro . Aakan tetapi pada zaman pendudukan Jepang . , kedua gamelan tersebut hilang. Begitu pula karya cipta gamelan 17 nada yang monumental Ki Pembayun . , setelah digunakan pada Festival RamayanaTk. Internasional di Pandaan tahun 1971, gamelan tersebut hilang di Pemda Jabar. Kini yang masih tersisa, adalah karya ciptanya berupa gitar akustik 17 nada, yang telah dibuat replikanya buah dan, sering dimainkan oleh Seniman . Sumber informasi lainnya, penulis menggali dari Ka. Selain dari hasil perbincangan, ternyata pihak para pejabat dan staf Disbudpar Kab. Sumedang, pada umumnya tidak tahu bahwa di Sumedang lahir seorang Maestro Karawitan Sunda yang luar biasa, bahkan rumahnya telah dijadikan Musium Seni, kebanggaan masayurakat Sunda Jawa Barat. Banyak yang kami diskusikan terutama, langkah-langkah yang harus kami lakukan untuk melestarikan karya-karya besar R. Machyar, mulai dari Seminar Nasional, yang akan dilanjut dengan mensosialisasikan kembali karya R. Machyar kepada masyarakat, termasuk merivitalisasi Museum Da Mi Na Ti La . Langkah pertama yang penulis lakukan beserta tim. Dr. Asep Nugraha. Dr. Otin Martini, dan para mahasiswa Pascasarjana ISBI Bandung, adalah dengan mengadakan Seminar Nasional dan Pergelaran beberapa Karya R. Macyar, yang dilaksanakan di Pascasarjana ISBI Bandung, dengan dukungan dari Kantor Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah IX, yang terdiri atas. Nara Sumber. Penanggap, dan Peserta Seminar, yang terdiri . Prosiding Seminar Nasional Nara Sumber (Key Note Speake. Nara Sumber terdiri atas Nara Sumber Kunci dan Peserta Call Paper, yaitu: n Prof. Dr. Prajatna Koesoemadinata ( Putra R. Machya. n Dr. Heri Herdini. Sn. Hum ( ISBI Bandun. n Dr. Iwan Gunawan. Pd. Sn ( UPI) n Dr. Aton Rustandi. Sn. n ( ISI Surakart. Penanggap n Ir. Dwi Hardjito n Dwiono Hermantoro. Kar. Nara Sumber Call Paper (Dosen. Mahasiswa dari Berbagai Perguruan Tinggi Seni ) Dari hasil pembahasan para nara sumber & penganggap, mayoritas membahas materi mengenai Eksistensi Mahyar, terutama sepak terjangnya di dunia karawitan dan musik, hingga penemuan teori laras 17 nada yang dimplementasikan pada waditra gamelan dan gitar, serta analisis ulang dan pengembangan digitalisasi. Materi dari Prof. Dr. Prajatna Koesoemadinata, karena dia pewaris naskah-naskah P. Machyar tentu saja sangat menguasai apa saja yang ditulis dan dibuat oleh R. Mahcyar hingga penulisan teori , mulai n Tahap- tahap pengukuran. n Instrumen pengukuran. n Objek pengukuran. n Nada Suara yang ditentukan sesuai perasaan para pelaku seni. Nada suara para Pesinden, selain suara sinden asal Jawa Barat, juga Nada suara dari para pesinden terkenal asak jawa solo, seperti Nyi Madularas dan Nyi. Bei Madusari. Nada suara Dalang, diperoleh dari beberapa dari Jawa Barat & Jawa Tengah. Pemain Rebab, selain berasal dari Sumedang. Bandung, juga dari Kraton Solo. Adapun Pemain Biola seperti Eshuys . , lulusan Konservatori Rotterdam dan Simon . Lulusan Konservatori Budapes. Selanjutnya Prajatna, membahas berbagai hal mengenai eksistensi R. Machyar mulai dari masa muda hingga proses berkesenian termasuk penelitiannya tentang laras yang telah dilakukan selama 50 tahun, serta menghasilkan karya puncak yang fenomenal, yaitu sistem nada Sunda atau Serat Kanayagan. Sistem Laras 15 Nada & 17 nada yang diimplementasikan pada gamelan dan gitar, serta kontribusina di masyarakat. Analisis Prajatna terhadap R. Machyar, adalah R. Machyar seorang Scientific Research, dengan metodologi peneltian laras yang sangat ilmiah secara teks dan konteks, yakni sebagai berikut: n MEMFORMULASIKAN MASALAH. Apakah lagu-lagu Sunda yang berlaraskan pelog salendro dapat dimainkan dengan menggunakan tangga nada barat yang sudah mapan di dunia ini? . Atau apakah pelog salendro ini mempunyai tangga-nada tersendiri? . Jika pelog dan salendro ini mempunyai tangga-nada tersendiri, bagaimana kah wujudnya tangga-nada ini? n MENGAJUKAN HIPOTESA KERJA: Sebagai hipotesa kerja perrtama RMA, adalah dengan mengiyakan pertanyaan yang pertama dan sebagai hipotesa alternatif adalah, bahwa Pelog dan Salendro mempunyai tangga nada tersendiri. n MELAKUKAN PENGUJIAN TERHADAP HIPOTESA-HIPOTESA DENGAN MELAKUKAN PENGAMATAN DAN PENGUKURAN terhadap nada-nada yang dipergunakan dalam lagu-lagu Sunda, baik yang dinyanyikan maupun terhadap nada yang telah diAofixAokan dalam nada-nada gamelan atau permainan instrumen-instrumen gamelan. Prosiding Seminar Nasional n PENGUJIAN TERHADAP HIPOTESA-HIPOTESA YANG BERKEMBANG MENJADI TEORI. Jika teorinya diterima oleh masyarakat, berarti lulus, bila tidak lulus maka hipotesa alternatif dicarikan untuk kemudian diuji kembali dengan melakukan pengamatan-pengamatan dan pengukuran-pengukuran sampai hipotesa alternatif inipun teruji dan tidak bertentangan dengan pengamatan-pengamatan selanjutnya . Prof. Prajatna, sebagai putra ke 5 R. Machyar dari 10 bersaudara, satu-satunya yang mempunyai kepedulian memelihara peninggalan berbagai arsip & artefak peninggalan ayahandanya, termasuk merekontruksi Gitar 17 Nada sebanyak 3 Gitar . ang asli hilan. Bahkan juga membangun Museum Da Mi Na TI La, sebagai tempat penyimpanan karya-karya R. Machyar. Gamelan 17 nada Ki Pembayun yang sempat hilang di Pemda Jabar, hanya tinggal nama, entah kapan dan siapa yang akan membuat rekontruksi. maha karya tersebut. ISBI Bandung telah membuat gamelan yang hampir serupa, bedanya hanya 15 nada dengan menggunakan Teori Machyar, bernama Gamelan Kyai Basundara. Karya Dr. Lili Suparli dan Edi Mulyana, dosen ISBI Bandung. Materi Dr. Heri Herdini, (ISBI Bandun. Heri Herdini, dalam pemaparan seminar membahas analisis ulang teori laras berdasarkan pengukuran tinggi nada . , serta alat ukur yang dipandang akurat yang dikemukakan beberapa pendapat para Etnomusikologi Asing, antara lain Win Van Zanten. Andew Weintraub. Mariko Sasaki yang meragukan atas penelitian Teori Laras R. Machyar. Teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar, khususnya teori patet, tidak hanya diajarkan dalam mata kuliah teori, tetapi juga diajarkan dalam mata kuliah praktik menabuh gamelan pelog/salendro. Demikian pula dengan teori lainnya, teori laras dan surupan pun telah diimplementasikan dalam pembuatan lagu yang diciptakan oleh seniman besar. Koko Koswara. Koko Koswara dalam menciptakan lagu-lagunya senantiasa menggunakan teori surupan. Hal ini terbukti dari notasi lagu yang dibuatnya selalu mencantumkan persoalan surupan, misalnya, lagu Kembang Impian surupan 4 = P. Angkrek Japati surupan 4 = T, dan sebagainya. Dr. Heri menawarkan pada peserta seminar, metode apa kiranya yang cocok untuk menelaah lebih lanjut mengenai Teiri laras R. Mahcyar. Permasalahannya memang agak rumit, karena laras dan surupan yang berkembang di masyarakat di Jawa Barat, setiap daerah mempunyai ukuran yang berbeda yang terkait dengan unsur rasa. Masing-masing daerah mengganggap ukuran rasa gamelannya sudah benar, yang dibuat melalui proses yang panjang, tidak hanya sekedar secara teknis tetapi juga melalui media spiritual dengan melakukan tirakat dan puasa. Beberapa waditra gamelan, apabila ketika pembuatannya para pengrajin gamelan tidak melakukan puasa, nyaris gamelan, khisisnya Goong misalnya tidak akan mengeluarkan bunyi sebagaimana yang diharapkan . Materi Dr. Iwan Gunawan (UPI Bandun. Membahas materi mengenai Implementasi Teori R. Machyar melalui Digitalisasi Sistem Laras Karawitan Sunda : Desain Preset laras, yang eksperimentalnya langsung bisa implenmentasi di masayarakat dan menjadi bahan ajar pada mahasiswa UPI Jurusan Musik. Perkembangan Preset Laras Sunda ini,dalam pemikirannya tidak hanya Inovasi teknologi musik saha. akan tetapi juga merupakan kontribusi penting dalam pelestarian dan revitalisi budaya. Iwam memandang sistem nada pada yang digunakan pada musik gamelan, memiliki fenimena yang sangat unik dibandingkan dengan berebagai sistem nada pada musik lainnya di seluruh dunia. Digitalisasi yang Iwan lakukan berdasarkan latas Teori Machyar tidak hanya menjawab tantangan teknis representasi laras lokal dalam media digital terapi juga menawarkan visi baru bagi masa depan musik tradisi dan ekosistem digital global. Teori Machayar dapat menjadi pijakan konseptual sekaligus operasional dalam desain preset laras Sunda Selain itu penggunaan teknologi open tuning system berbasis cent dapat menjadi langkah strategis untuk mengakomodasikeberagaman musikal di era globalisasi, sebagaimana diusulkan oleh Beurden dalam kajian tentang akses etis terhadap warisan budaya, . Prosiding Seminar Nasional Dr. Aton Rustandi Mulyana (ISI Surakart. Aton, dalam materinya memberikan wawasan mengenai tafsir ulang ketokohan Raden Machyar Angga Kusumadinata, meskipun semula menulis dirinya sebagai musikolog, adalah tokoh sejarah karawitan dan ilmu karawitan Sunda. tokoh yang kompeten sebagai seniman, pendidik, ilmuwan, inventor. Dalam konteks wacana kritis. Pak Machyar adalah agen perubahan sosial. Dalam konteks sebagai agen perubahan sosial. Machyar banyak berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan . , mendorong dan menguatkan akses partisipasi warga belajar seni, memroduksi bahan dan metode pembelajaran seni, mendidik SDM seni yang apresiatif dan mempelopori perintisan kompetensi seniman, pelatih/instruktur seni, guru seni, akademisi, peneliti, pengarang lagu, komposer. Keberadaan dan kemajuan Konservatori Karawitan. ASTI Bandung, dan perguruan tinggi seni lain yang membuka program atau mata kuliah karawitan Sunda hingga saat ini, termasuk institusi, civitas, dan alumni, tidak dapat dipisahkan dari jejak pemanfaatan pemikiran, aktivitas, dan karya-karya pak Machyar. Di kalangan ilmuwan. Pak Machyar juga membuka diskursus teori dan praktik musik. Ada pro kontra terhadap pemikiran teoritisnya, termasuk usulan rekonstruksi. Namun oleh Weintraub diakui bahwa pemikiran teoritis Pak Machyar tentang Sistem nada dan tangga Sunda tergolong canggih pada abad 20 Machyar memiliki kesadaran estetis dan etik dalam mewujudkan karya-karyanya. Pengalaman dan persepsi estetik menjadi dasar R. Machyar mengindera, merasakan, dan menilai ketepatan dan kesesuaian bunyi dari yang dibunyikan dengan bunyi yang didengarkan. Dalam penulisan pun kaidah estetik dan etik dianut oleh RMAK. Kejujuran R. Machyar dinyatakan dengan keterusterangan untuk menceritakan proses lahirnya buku. Pada kasus lain, respon ahli yang tidak sesuai ekspetasi R. Machyar saat demonstrasi memainkan lagu-lagu Sunda dengan gitar menyadarkan dirinya tentang etika juga estetika karawitan Sunda. Peristiwa mengesankan tersebut menjadi batu pijakan RMAK melakukan pencarian ilmiah yang selalu menyisakan pertanyaan-pertanyaan baru . Selain materi-materi ilmiah dari para Nara Sumber Kunci, ada dua penanggap yang lama berkecimpung di dunia karawitan, terutama berkaitan dengan teori R. Machyar dan juga pernah menjadi salah satu mahasiswa Machyar ketika kuliah di Akademi Seni Karawitan (ASKI) Surakarta, yaitu Dwi Hardjito dan Dwiono Hermantoro. Dwi Hardjito adalah dosen Etnomusikologi. Organologi & Akustika Nada . memaparkan , mengenai penelitiannya tentang Keunggulan metode perbandingan Interval Absolut R. Machyar merupakan karya yang berbobot dan sangat akademis. Metode Pembandingan Interval Absolut R. Machjar berhasil menjungkit tinggi kepercayaan diri para AuPangrawitAy serta para Pemikir Karawitan, di Surakarta. Mereka kini jadi insan yang siap mengglobalkan Keadiluhungan Slendro, ke Masyarakat Dunia. Hardjito mengambil kesimpulan bahwa, pada akhirnya "Masyarakat Global itu tiba di Surakarta, dan Yogya. dari The University of Michigan, akhir dekade 1970-an, dipimpin oleh Prof. Judith Becker. Tim Michigan, meneliti aspek Aksiologi dari perilaku dan pola pikir Compet- itive Advantage pendukung musik non-Barat, termasuk para Empu dan Pemikir Karawitan Surakarta dan Yogyakarta, yang memajukan Etnomusikologi . Akan halnya Dwiono Hermantoro. Dosen ASKI Surakarta, pada zamannya . 9-1997 dan pensiun dini 2. , sering melanglangbuana ke berbagai negara membawa misi seni gamelan, dengan karya-karya lagu dan gending Jawa dan Sunda. Bahkan Pernah membuka Prodi Karawitan Sunda di ASKI Surakarta dengan mahasiswa dari tanah Sunda, antara lain Seniman Sunda Nano. Ida Rosida. Dr. Lili Suparli. Ajo Sutardjo, mengatakan "Karya R. Machyar sudah selesai, dengan sumbangan hasil penelitiannya yang sangat luar biasa bagi perkembangan Karawitan Sunda dan Musik Indonesia pada saat itu. Penelitiannya betul-betul hasil kreativitas sendiri, tanpa ada yang memberikan dukungan dana. Oleh karenanya masyarakat sekarang tinggal meneruskan, dan mengembangkan tanpa harus membuat penilaian mana yang benar dan mana yang salah" . Prosiding Seminar Nasional KESIMPULAN Semua Penelitian para pakar atau para peneliti tentu ingin menemukan kebaruan/ inovasi dari yang sebelumnya belum ada menjadi ada serta ingin menemukan yang terbaik yang berguna bagi masyarakat. Machyar telah menemukan karya monumental berupa penemuan cara pembacaan notasi sunda atau serat kanayagan yang bisa digunakan untuk membaca nada berbagai laras yang ada di Jawa Barat dengan simbolsimbol penamaan da mi na ti la. Karya-karyanya sangat banyak berupa lagu-lagu Sunda yang telah di buat bukuajar untuk Sekolah Dasar juga untuk Umum. Karya yang sangat inovatif, adalah penemuan Teori Laras 17 nada yang diimplemantasikan pada Gitar 17 nada dan gamelan Ki Pembayun 17 Nada. Terlepas ada yang menerima atau tidak dengan Karya-karyanya, pada kenyataannya sistem nada Da Mi Na Ti la, masih digunakan hingga kini baik sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi Seni. Begitu pula karya Gamelan 17 Nada pernah dibuat dan digunakan pada Festival Ramayana Internasional di Pandaan pada tahun 1971. Begitu juga Gitar 17 nada, pada kenyataannya bisa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu dengan berbagai laras dan (Pentatonis: Pelog. Salendro. Degung. Madenda. Sorog. Liwung. Matraman, dan Diatonis: Mayor & Mino. Teori Laras R. Machyar, pada Seminar Internasional R. Machyar, tanggal 15 Juli di Pascasarjana ISBI Bandung, telah dipergelarkan oleh para Seniman, berupa sajian lagu & Musik, yakni Gitaris Wenardi, beserta tim membawakan Gitar 17 nada dengan lagu-lagu Sunda berbagai laras. Lagu 'Indonesia Pusaka', atas permintaan para peserta Seminar, termasuk lagu Barat berjudul Bulevard. Selanjutnya sajian Rampak Sekar dengan lagulagu karya R. Machyar, dibawakan oleh siswa SKMN 10 asuhan Suciati, serta Eksplorasi Digital Kecapi 15 Nada oleh Ricykiy Byayeun Mahasiswa S2 ISBI Bandung . Teori Laras dapat dimplementasikan oleh para seniman, baik secara natural untuk mengiringi lagu-lagu yang telah ada, atau juga karya R. Machyar dan lagu-lagu karya Komposer lainnya. Bahkan berupa Karya Inovasi Eksplorasi, baik untuk pergelaran maupun ujian karya seni. Penulis sering menyaksikan pergelaran di Sekolahsekolah dengan membawakan lagu. Lemah Cai Kuring. Dengkleng Dengdek. Dewi Sartika, ayun Ambing . Begitu juga pada Hajatan Mapag Panganten sering melihat Lagu Karya R. Mahyar, seperti lagu Larkili. Nimang. Beber Layar. Papalayon. Mupu Kembang. Jemplang Titi dan Jemplang Karang . , dinyanyikan Para Juru Kawih, namun ketika ditanya pada mereka apakah tahu karya siapa yang dinyanyikan? hampir 99 persen menjawab tidak tahu. Untuk langkah selanjutnya, merupakan bagian dari konsep Pok Pek Prak, adalah setelah diawali langkah pertama berupa Seminar Nasional mengenai kiprah R. Machyar (Po. , dan langkah kedua, membuat buku Prosiding Hasil Seminar R. Machyar (Pe. , maka sebagai penghormatan pada jasa-jasanya yang sangat luar biasa untuk perkembangan teori laras dan karya monumental Gitar & Gamelan 17 nada, dipandang perlu untuk mengadakan pelatihan lagu-lagu Karya. Machyar dan Gitar 17 nada, kepada masyarakat, terutama di kabupaten Sumedang sebagai tempat kelahiran R. Machyar khususnya, dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya (Pra. Selain mensosialisasikan kembali lagu-lagu karya R. Machyar, alangkah baiknya untuk langkah berikutnya, apabila pemerintah mendukung untuk merevitalisasi Museum milik R. Macyar yang bernama Museum Da Mi Na Til La , menjadi Museum yang layak dikunjungi oleh masyarakat untuk mengapresi, serta menjadi inspirasi para seniman dan pecinta seni, bahwa pernah lahir di tempat tersebut di Kabupaten Sumedang, seorang Musikologi yang selayaknya disebut sebagai Etnomusikologi yang luar biasa, dan diakui oleh para pakar dunia, yang karya monumentalnya masih dipergunakan hingga saat ini. Sebagaimana juga komposer dunia lainnya. Mozart misalnya di kota Salzburg. Austria, rumah kelahirannya menjadi Museum yang dikunjungi oleh para pengunjung dari berbagai penjuru dunia. Telah banyak penghargaan R. Machyar dari berbagai lembaga, di antaranya dari Gubernur Jawa Barat. Brig. Jen. TNI Mashudi pada tahun 1966, berupa Piagam Bidang Kesenian dalam Bidang Ilmu Kanayagan dan Seni Raras, serta Piagam Anugerah Seni, sebagai Ahli dan Penyusun Teori Karawitan Sunda dari Mentri Pendidikan Kebudayaan Mashuri, pada Tahun 1967 . Namun demikian belum ada penghargaan dari Presiden Republik Indonesia. Insya Allah Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IXKementrian Kebudayaan. Ibu Retno Raswati, beserta jajarannya akan membantu untuk dapat mewujudkan. Prosiding Seminar Nasional Kini Prof. Dr. Prajatna Koesoemadita, satu-satunya puta R. Machyar Koesoemadinata yang mempunyai perhatian, dengan menyimpan serta menyusun data-data penting R. Machyar, di Museum Da Mi Na Ti La, termasuk mewujudkan kembali Gitar 17 nada yang hilang, membayar seniman untuk mempelajarinya, serta merancang gambar bangunan, untuk merekontruksi Rumah ayahandanya R. Machyar Angga Koesoemadinata, pada tanggal 18 Agustus 2025 dalam usianya menjelang 80 tahun. Semoga karya-karya R. Macyar tetap menjadi karya kebanggaan Tanah Sunda Jawa Barat, dan Indonesia. DAFTAR PUSTAKA DAN SUMBER PRIMER Abdulah. Ilmu Sejarah dan Historiografi (Arah dan Perspekti. Jakarta: Gramedia. Crosse. Benedetto. ( 2. Sejarah Teori Historiografi . Jakarta: Indoliterasi Machyar Angga Koesoemadinata. Edited by his son Prajatna Koesoemadinata. Ilmu Seni Raras The Science of Music: Ethno-Musicologi of Indonesia ( The resullt of research and experiments counucted by the author spaning over five decades. Bandung: Ciburial 17 Home Publication. Mahcyar Angga Koesoemadinata. Ilmu Seni Raras. Djakarta: Pradnjaparamita. Ellis. FRS. " On the Musical Scales of Various Nations". Jurnal of the Society of Art. No. 1 ( . Vol. Wawancara dengan R. Sabar Koesoemadinata, di Bandung 18 Juli 2024. Wawancara dengan R. Prajatna Koesoemadinata, di Bandung 20 Juni 2024. Wawancara dengan D. Hermantoro, di Bandung 20 Desemberi 2024. Hasil Diskusi Tim Penelitan Mandiri, 2025. " Konservasi & Pengembangan Karya R. Macyar. Angga Koesomadinata. Bandung: Tim Peneltian R. Prajatna Koesoemadinata. "R. Machyar Angga Koesoemadinata sebagai Musikolog". Materi Seminar Nasional. Pascasarjana IBSI Bandung. Heri Herdini. " Stagnasi Perkembangan Teori Karawitan Sunda: Sebuah Tantangan dalam Mewujudkan Kemapanan Imu Karawitan Sunda di Era Generasi Emas". Materi Seminar Nasional Pascasarjana ISBI Bandung. Materi Seminar Nasional. Pascasarjana IBSI Bandung. Iwan Gunawan. 2025 "Digitalisasi Sistem Laras Karawitan Sunda: Desain Preset Laras Berdasarkan Teori Kusumadinata untuk Aplikasi Instrumen Virtual'. Materi Seminar Nasional Pascasarjana ISBI Bandung. Materi Seminar Nasional. Pascasarjana IBSI Bandung. Aton Rustandi Mulyana. Tafsir Ulang Ketokohan R. Machyar Angga Koesoemadinata. Dalam Perspektif Wacana Kritis. Materi Seminar Nasional Pascasarjana ISBI Bandung. Dwi Hardjito. "Metode Perbandingan Interval Absolut. Machyar sebagai Mesias Swrat Wedhapradangga dan Wedharnya dalam mengglobalkan Spirit Keadiluhungan Slendro" Materi Seminar Nasional Pascasarjana ISBI Bandung. Dwiono Hermantoro. "Karya Monumental . Machyar Angga Koesoemadinata. " Materi Seminar Nasional Pascasarjana ISBI Bandung. Mahcyar Angga Koesoemadinata. Sari Arum. Djilid Ka 1 & 2. Djakarta: Noordhoff- Kolff N. Mahcyar Angga Koesoemadinata. Diadjar Mamaos. Jilid 1 & 2. Djakarta: Lansdrukerru-Tevreden. Pantoen. Sumedang: Drukkerij-Pangadegan & 1950. Pangawikan Rinenggaswara. Djakarta: Noordhoff- Kolff N. Mahcyar Angga Koesoemadinata. "Tjarios Lalakon Diri Pribadi " Arsip Naskah Autobiiografi R. Mahcyar Angga Koesoemadinata. Ditulis di Sumedang, tahun 1926 . etikan pribad. Prosiding Seminar Nasional