Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 13. No. Oktober 2022 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Potensi Ikan Kepala Timah (Aplocheilus panchax Hamilton, 1. sebagai Agen Biokontrol Jentik Nyamuk di Pulau Bangka The Potential of Aplocheilus panchax Hamilton, 1822 as Biocontrol Agent for Mosquitoes Larvae in Bangka Island Aprillysa Muharramnis Putri. Dendi Setiadi. Venny Oktari. Andri Kurniawan. * . Jurusan Akuakultur. Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi. Universitas Bangka Belitung. Kampus Teradu Balunijuk. Merawang. Bangka. Jurusan Agribisnis. Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi. Universitas Bangka Belitung. Kampus Teradu Balunijuk. Merawang. Bangka. *Penulis korespondensi : email : andri_pangkal@yahoo. (Diterima Mei 2022/Disetujui Agustus 2. ABSTRAK Pengendalian alami dari jentik nyamuk menggunakan predator alaminya adalah suatu solusi yang sangat memungkinkan untuk diterapkan sebagai bagian yang terintegrasi dari manajemen lingkungan untuk menghambat ancaman nyamuk. Beberapa agen biokontrol yang digunakan sebagai predator jentik nyamuk, ikan kepala timah (Aplocheilus pancha. dikenal efektif untuk mengendalikan populasi jentik nyamuk tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai efektivitas ikan kepala timah untuk mengkonsumsi jentik nyamuk sebagai pakan alaminya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agen biokontrol jentik nyamuk yang potensial di Pulau Bangka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total terbanyak jentik nyamuk yang dikonsumsi ikan kepala timah ditunjukkan pada Perlakuan C . ima ekor ikan di dalam akuariu. , yaitu 280-428 jentik nyamuk dalam 10 hari penelitian. Ikan kepala timah pada perlakuan tersebut dapat memakan jentik nyamuk dalam waktu 5 menit 1 detik hingga 5 menit 9 detik. Karakteristik air pada perlakuan tersebut menunjukkan suhu 27,5 oC dan nilai pH 5. Kata kunci: Aplocheilus panchax. Pulau Bangka, predasi, jentik nyamuk, pakan alami. ABSTRACT Biological control of mosquito larvae using natural predators is a feasible solution as a part of integrated environmental management to combat the mosquito menace. Among the biocontrol agents or the predators of mosquito larvae. Aplocheilus panchax is known to be effective in regulating the population of them. This research aimed to obtain an information about the effectiveness of Aplocheilus panchax to consume the mosquito larvae as their natural food so it can be used as a potential biocontrol agent for mosquito larvae in Bangka Island. The results showed the highest total of mosquito larvae that were consumed by Aploceilus panchax was shown at treatment C . ive fishes in aquariu. that 280-428 mosquitoe larvae in 10 research days. They ate mosquito larvae in 5 minutes 1 second to 5 minutes 9 seconds. While, the water characteristic during the research showed temperature 27,5 oC and nilai pH 5. Keywords: Aplocheilus panchax. Bangka Island, predation, mosquitoe larvae, natural food. PENDAHULUAN Kegiatan penambangan mineral timah di Pulau Bangka telah mengakibatkan terjadinya perubahan struktur ekologi. Salah satu dampak yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan tersebut adalah terbentuknya danau . yang menampung banyak sumber daya air. Karakteristik perairan pada kolong dengan umur tertentu menunjukkan kualitas perairan bersifat asam, kandungan oksigen To Cite this Paper: Putri. Setiadi. Oktari. Kurniawan. , 2022. Potensi Ikan Kepala Timah (Aplocheilus panchax Hamilton, 1. sebagai Agen Biokontrol Jentik Nyamuk di Pulau Bangka. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 98-104. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI terlarut rendah, nilai kapasitas pertukaran kation . apacity exchange capacit. rendah, dan tercemar logam berat (Kurniawan et al. , 2019. Kurniawan dan Mustikasari, 2. Hal ini menyebabkan perairan tersebut belum banyak dimanfaatkan untuk kegiatan primer maupun sekunder manusia. Konsekuensi logis dari keadaan tersebut menjadikan perairan kolong tersebut ditelantarkan sehingga berpotensi sebagai media hidup jentik nyamuk yang dapat menjadi vektor penyebab penyakit bagi manusia. Kondisi potensi ancaman ini perlu dikendalikan sehingga tidak menghasilkan dampak negatif yang merugikan masyarakat di sekitar lingkungan perairan tersebut. Ikan kepala timah (Aplocheilus panchax. Hamilton 1. adalah salah satu ikan yang ditemukan di perairan kolong pascatambang timah (Kurniawan et al. , 2. Ikan kepala timah merupakan anggota dari genus Aplocheilus dengan famili Aplocheilidae yang tersebar luas di daerah Kawasan Asia seperti Indonesia. India. Malaysia. Nepal. Bangladesh. Myanmar, dan Kamboja (Hermawan. Solekhah, 2016. Mustikasari et al. , 2020. Mustikasari & Agustiani, 2. Ikan kepala timah memiliki ciri adanya bintik putih pada bagian kepala yang masuk dalam kelas Actinopterygii dengan ordo Cyprinodontiformes yang dikelompokkan sebagai larvivora killifish (De Bruyn et al. , 2011. Beck et al. , 2017. Mustikasari et al. , 2020. Mustikasari & Agustiani, 2. Ikan kepala timah menjadi salah satu ikan larvivora yang berpotensi sebagai predator jentik nyamuk berbahaya dengan daya predasi tinggi untuk mengurangi tingkat prevalensi infeksi nyamuk (Chakraborty et al. , 2008. Manna et al. , 2011. Manangkalangi et al. , 2015. Abubakar et al. , 2019. Lukas et al. , 2. Hasil peneltian Pakpahan dan Julita . menjelaskan bahwa daya predasi ikan kepala timah lebih tinggi dan banyak di dalam aktivitas memangsa rata-rata 88 ekor jentik nyamuk Anopheles dibandingkan ikan guppy sebanyak rata-rata 56 ekor jentik. Potensi ikan kepala timah sebagai agen biokontrol terhadap jentik nyamuk perlu dikaji sebagai agen biologis pengendali keberadaan nyamuk di suatu perairan. Hal tersebut mendorong penelitian ini dengan tujuan untuk mempelajari efektivitas ikan kepala timah sebagai bioagen pengendali jentik nyamuk sehingga dapat diaplikasikan di perairan kolong pascatambang timah di Pulau Bangka. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan September sampai November tahun 2021 di Hatchery. Jurusan Akuakultur. Universitas Bangka Belitung. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menganalisis kemampuan makan atau predasi ikan kepala timah terhadap jentik nyamuk yang diberikan sebagai pakan. Penelitian yang dilakukan terdiri atas empat perlakuan, yaitu A . atu ekor ikan di dalam akuariu. B . iga ekor ikan di dalam akuariu. C . ima ekor ikan di dalam akuariu. , dan D . ujuh ekor ikan di dalam akuariu. dengan ukuran ikan berkisar antara 3,6-4,6 cm. Setiap perlakuan diberi makan jentik nyamuk secara ad satiation, yaitu pemberian pakan sedikit demi sedikit hingga ikan kenyang. Pakan berupa jentik nyamuk diberikan dengan frekuensi waktu pemberian sebanyak tiga kali, yaitu pagi . 30 WIB), siang . 30 WIB), dan sore . 30 WIB). Parameter penelitian yang diamati adalah jumlah jentik nyamuk yang dimakan oleh ikan kepala timah pada setiap perlakuan dan lama waktu yang diperlukan ikan kepala timah untuk menghabiskan pakan jentik nyamuk pada setiap waktu pemberian. Pengamatan parameter penelitian tersebut dilakukan setiap hari dengan dua kali ulangan untuk setiap perlakuannya dan diamati pada setiap frekuensi waktu pemberian pakan selama 10 hari. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan penelitian menunjukkan bahwa ikan kepala timah dapat memakan jentik nyamuk sebagai pakan alaminya. Jumlah jentik nyamuk yang dimakan oleh ikan kepala timah pada setiap waktu pemberian pakan untuk setiap perlakuan secara umum menunjukkan jumlah jentik nyamuk yang dimakan tidak berkorelasi positif dengan jumlah ikan di dalam akuarium. Jumlah total jentik nyamuk paling banyak dikonsumsi oleh ikan kepala timah ditunjukkan pada perlakuan C, yaitu lima ekor ikan dalam akuarium yang mampu menghabiskan 280-428 ekor jentik nyamuk selama 10 hari Jumlah total paling sedikit dikonsumsi oleh ikan kepala timah ditunjukkan pada perlakuan A, yaitu satu ekor ikan dalam akuarium yang mampu menghabiskan 49-71 ekor jentik nyamuk selama 10 hari penelitian (Tabel . To Cite this Paper: Putri. Setiadi. Oktari. Kurniawan. , 2022. Potensi Ikan Kepala Timah (Aplocheilus panchax Hamilton, 1. sebagai Agen Biokontrol Jentik Nyamuk di Pulau Bangka. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 98-104. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Tabel 1. Jumlah jentik nyamuk yang dimakan oleh ikan kepala timah pada setiap perlakuan A . ekor ika. Hari Oc Rerata/ 10 hari B . ekor ika. C . ekor ika. D . ekor ika. Pagi Siang Sore Jumlah Jentik Nyamuk yang Dimakan . Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Data-data yang ditampilkan pada Tabel 1 juga menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas makan ikan kepala timah yang tinggi terjadi pada waktu pagi hari. Hal ini ditunjukkan pada perlakuan B. C, dan D yang menampilkan rata-rata jentik nyamuk yang dimakan selama 10 hari penelitian memiliki jumlah yang tinggi pada pagi hari dibandingkan siang maupun sore hari. Namun demikian, pada perlakuan A. C, dan D juga mengindikasikan bahwa kecenderungan aktivitas makan dari ikan kepala timah juga tinggi atau stabil pada waktu sore hari dibandingkan siang harinya. Hal lainnya yang dapat diperoleh dari Tabel 1 adalah jumlah total jentik nyamuk yang dimakan oleh ikan kepala timah pada setiap hari pengamatan. Jumlah total jentik nyamuk yang dimakan pada setiap hari pengamatan secara umum menunjukkan bahwa secara umum perlakuan C, yaitu perlakuan ikan kepala timah sebanyak lima ekor dalam akuarium yang mengkonsumsi ikan paling banyak, meskipun pada hari ke-3, ke-9, dan ke-10 menunjukkan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar . Jumlah Jentik Nyamuk . Jumlah Jentik Nyamuk yang Dimakan Ikan Kepala Timah Hari Pengamatan (Hari Ke-) A . ekor ika. B . ekor ika. C . ekor ika. D . ekor ika. Gambar 1. Jumlah total jentik nyamuk yang dimakan oleh ikan kepala timah pada setiap hari To Cite this Paper: Putri. Setiadi. Oktari. Kurniawan. , 2022. Potensi Ikan Kepala Timah (Aplocheilus panchax Hamilton, 1. sebagai Agen Biokontrol Jentik Nyamuk di Pulau Bangka. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 98-104. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI Gambar 1 juga menunjukkan bahwa jumlah total jentik nyamuk yang dimakan pada setiap hari pengamatan secara umum menunjukkan peningkatan seiring lamanya waktu pemeliharaan ikan kepala timah. Pola tersebut dapat diamati pada perlakuan A dan perlakuan lainnya yang menunjukkan korelasi positif berupa pola peningkatan jumlah jentik nyamuk yang dimakan dibandingkan hari ke-1 pada awal pemeliharaan. Gambar 1 juga dapat menjelaskan bahwa jumlah ikan terbaik di dalam perlakuan tersebut adalah sebanyak lima ekor ikan. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah ikan yang lebih banyak seperti perlakuan D . ujuh ekor ika. tidak menunjukkan kemampuan makan atau predasi yang tinggi pula. Hal ini juga terkonfirmasi pada perlakuan B . iga ekor ika. yang menunjukkan jumlah jentik nyamuk paling banyak dimakan pada hari ke-10 pengamatan dibandingkan semua perlakuan lainnya. Hasil pengukuran terhadap waktu makan menunjukkan secara umum lamanya ikan kepala timah menghabiskan pakan berupa jentik nyamuk selama hari pengamatan berkisar antara 5 menit 1 detik hingga 5 menit 9 detik. Kemampuan makan ikan kepala timah yang menunjukkan peningkatan selama waktu pemeliharaan dapat dipengaruhi oleh pembiasaan makan terhadap pakan alami berupa jentik nyamuk tersebut. Faktor lingkungan yang diukur, yaitu suhu dan pH dapat dikatakan tidak menunjukkan pengaruh nyata dikarenakan kondisi perairan memiliki nilai suhu dan pH yang relatif sama, yaitu suhu air berkisar antara 27,5-27,8 oC dan nilai pH sebesar 5 (Gambar . Kondisi Suhu dan pH Air Pemeliharaan Gambar 2. Nilai suhu dan pH air pemeliharaan ikan kepala timah selama penelitian. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa ikan kepala timah (Aplocheilus pancha. sangat berpotensi sebagai agen biokontrol jentik nyamuk. Hal ini ditunjukkan dengan potensi predasi terhadap jentik nyamuk yang tinggi. Kemampuan predasi ikan kepala timah sebagai larvivora dapat dianggap lebih baik dibandingkan dengan beberapa ikan dari hasil penelitian lainnya. Hasil penelitian Mutmainah et al. , . menunjukkan bahwa satu jam pertama ikan cupang hanya mampu memakan 33 ekor jentik nyamuk, sedangkan ikan guppy memakan 12 ekor jentik nyamuk. Hasil penelitian Andriani et al. , . menunjukkan ikan lemon (Labidochromis caeruleu. memangsa 25 ekor jentik nyamuk dalam rata-rata waktu 5,7 menit dan ikan kapiat (Barbonymus schwanenfeldi. dengan waktu rata-rata 11,6 menit. Hasil penelitian Firmansyah et al. , . menunjukkan bahwa pemanfaatan ikan kepala timah sebagai predator jentik nyamuk lebih efektif dibandingkan dengan ikan wader pari (Rasbora argyrotaeni. dan ikan wader bintik dua (Puntius binotatu. Ikan kepala timah mampu memakan jentik nyamuk dengan rata-rata sebanyak 34 ekor dalam waktu 10 menit, ikan wader pari memakan jentik nyamuk rata-rata sebanyak 27 ekor jentik nyamuk, dan ikan wader bintik dua dengan rata-rata sebanyak 21 ekor jentik nyamuk dengan rentang waktu yang sama. Hal ini dikarenakan ikan kepala timah mempunyai mulut yang terletak di bagian atas yang memudahkan dalam memakan jentik nyamuk ketika sedang berenang. Perbandingan hasil-hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar untuk menyatakan bahwa ikan kepala timah sangat berpotensi sebagai pengendali alami dari jentik nyamuk di suatu lingkungan. Indikator lainnya yang mendukung adalah waktu makan yang relatif cepat untuk menghabiskan pakan alami tersebut. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ikan kepala timah mampu To Cite this Paper: Putri. Setiadi. Oktari. Kurniawan. , 2022. Potensi Ikan Kepala Timah (Aplocheilus panchax Hamilton, 1. sebagai Agen Biokontrol Jentik Nyamuk di Pulau Bangka. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 13 . : 98-104. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI menghabiskan jentik nyamuk yang diberikan dalam waktu 5 menit 1 detik hingga 5 menit 9 detik. Perlakuan C dan D menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tersebut, ikan kepala timah mampu menghabiskan rata-rata jentik nyamuk > 20 ekor setiap harinya sejak pengamatan hari ke-1. Perlakuan B menunjukkan kemampuan predasi jentik nyamuk > 20 ekor sejak pengamatan hari ke3. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa kemampuan makan ikan kepala timah yang diamati lebih cepat dibandingkan kemampuan predasi ikan kepala timah pada penelitian lainnya. Hasil penelitian Lukas et al. , . menunjukkan bahwa ikan A. panchax betina mampu menghabiskan 20 jentik nyamuk Aedes aegypti dalam waktu 6 menit 44 detik, sedangkan ikan jantan menghabiskan 20 jentik dalam waktu 9 menit 8 detik. Waktu terlama ikan A. panchax betina menghabiskan 20 ekor jentik adalah 36 menit 55 detik, sedangkan ikan jantan adalah 67 menit 25 detik. Lukas et al. , . menunjukkan bahwa adanya pengaruh dari perbedaan jenis kelamin ikan terhadap kemampuan predasinya. Hadidsyah et al. , . menjelaskan bahwa kecepatan daya predasi ikan dapat saja dipengaruhi faktor ukuran tubuh ikan yang berarti semakin besar tubuh ikan dibandingkan mangsanya, maka semakin banyak mangsa yang termakan ke mulut ikan. Namun demikian, karakteristik perairan lainnya seperti suhu, pH, oksigen terlarut, kecerahan perairan, ketersediaan pakan alami, tempat beraktivitas dan reproduksi, serta faktor lain di lingkungan penelitian maupun habitat alaminya dapat mempengaruhi kemampuan makan atau predasi ikan Hal ini relevan apabila ikan kepala timah digunakan sebagai predator alami nyamuk di perairan kolong pascatambang timah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perairan pascatambang timah menunjukkan kualitas perairan bersifat asam, kandungan oksigen terlarut rendah, nilai kapasitas pertukaran kation rendah, dan tercemar logam berat (Kurniawan et al. , 2019. Kurniawan dan Mustikasari, 2019. Kurniawan et al. , 2. dan ikan kepala timah menjadi salah satu ikan ekstremofil yang mampu hidup di lingkungan tersebut (Kurniawan dan Mustikasari, 2021. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan kepala timah (Aplocheilus pancha. sangat berpotensi dimanfaatkan sebagai agen biokontrol karena kemampuan predasinya baik di dalam memakan jentik Jumlah ikan yang digunakan sebagai predator dapat mempengaruhi jumlah jentik nyamuk yang dimakan sehingga pemanfaatan ikan kepala timah sebagai predator harus tetap memperhatikan jumlah optimal ikan yang dapat digunakan. Berbagai faktor dapat mempengaruhi efektivitas kemampuan predasi ikan kepala timah sehingga penelitian dalam skala lebih besar seperti di habitat alaminya perlu mendapatkan perhatian lanjutan sehingga dapat didapatkan informasi yang komprehensif berkenaan dengan kemampuan predasi ikan kepala timah. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada Universitas Bangka Belitung yang telah mamfasilitasi penulis untuk melakukan penelitian ini melalui bantuan Hibah MBKM Bidang Riset DAFTAR PUSTAKA