Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Rahmayani Baqiyatun Shalihah1. Indah Pujiyanti2 1 Program Studi Arsitektur. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta 2 Program Studi Arsitektur. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta Email: baqiybaqiy@gmail. Abstrak Ruang publik menjadi kebutuhan komunal untuk mengakomodir berbagai aktivitas masyarakat, termasuk dalam pendidikan. Yogyakarta sebagai kota pendidikan menjadi destinasi bagi pelajar dan mahasiswa lokal maupun luar daerah untuk menempuh studi akibat daya tarik dari banyaknya institusi pendidikan berkualitas baik. Pendidikan menjadi kebutuhan dan hak setiap individu masyarakat, ini sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang wajib belajar 12 tahun. Namun, realitanya tidak semua masyarakat dapat mengenyam pendidikan formal yang salah satunya disebabkan faktor keterbatasan ekonomi. Kaum marginal menjadi kelompok masyarakat yang sulit mengakses pendidikan. Berkaitan dengan kebutuhan akan ruang public tersebut, pada tahun 2014 DIY telah dicanangkan sebagai provinsi inklusif. Namun secara implementasi khususnya pada fasilitas ruang publik yang sudah ada dirasa belum maksimal menerapkan desain yang inklusif. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan desain Community Learning Center (Pusat Kegiatan Belajar Masyaraka. di Yogyakarta yang menyediakan fasilitas pendidikan nonformal berupa pendidikan kesetaraan dan pendidikan keterampilan sebagai alternatif pendidikan bagi masyarakat khususnya kaum marginal dengan desain yang ramah bagi semua kalangan usia maupun disabilitas. Pendekatan inclusive design digunakan sebagai dasar perancangan melalui empat kriteria desain. functional, usable, desirable, dan viable. Kriteria tersebut akan diterapkan pada pengolahan area entrance, massa, sirkulasi dan akses, kualitas ruang, ruang dalam, dan ruang luar. Selain menunjang kebutuhan kegiatan belajar masyarakat, adanya fasilitas ini juga mendukung eksistensi Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan mendukung pemerintah daerah dalam mewujudkan DIY sebagai provinsi inklusif. Kata Kunci: Ruang publik. Community Learning Center. Inclusive design. Pendidikan. Article history: Received 2021-07-07. Revised 2021-08-21. Accepted 2021-09-21. PENDAHULUAN Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan ruang sebagai wadah untuk berbagai aktivitas interaksi sosialnya, semisal bertemu, berkumpul, berkomunikasi, refreshing, rekreasi atau hanya sekedar rehat sejenak. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan adanya ruang publik yang berfungsi sebagai tempat menampung aktivitas masyarakat, baik secara individu maupun secara kelompok. Ruang publik hingga kini menjadi salah satu kebutuhan komunal sekaligus komponen penting dalam tata ruang Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 sebuah kota, untuk mengakomodir berbagai aktivitas sosial masyarakat, salah satunya dalam hal pendidikan. Yogyakarta terkenal dengan banyak julukan, salah satunya dikenal dengan sebutan kota pendidikan. Sebagai kota pendidikan, tidak mengherankan jika Yogyakarta menjadi destinasi bagi para pelajar dan mahasiswa baik lokal maupun luar daerah untuk menempuh studi sebagai akibat daya tarik dari banyaknya institusi pendidikan, dari tingkat pendidikan kanak-kanak, pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi dengan kualitas yang baik. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta, pada tahun 2019 tercatat ada 575 institusi pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi yang ada di wilayah Kota Yogyakarta. Suasana kota yang nyaman, masyarakat yang dikenal ramah dan santun, serta budaya yang masih melekat. seperti dengan adanya Keraton Yogyakarta, acara-acara kesenian maupun kebudayaan yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya, dan juga komunitas-komunitas kreatif yang ada di Yogyakarta. Berbagai faktor tersebut menciptakan atmosfer kondusif bagi para penuntut ilmu yang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Tabel 1. Jumlah Sekolah dan Perguruan Tinggi di Kota Yogyakarta Jenis Instansi TK. SD. SMP. MTs SMA. SMK. Perguruan Tinggi SLB Jumlah Sumber: Badan Pusat Statistik, 2020 Pendidikan menjadi suatu kebutuhan dan hak bagi setiap individu masyarakat. Pendidikan berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang mampu berdaya guna, yang dapat berdampak positif pada kemajuan daerah di berbagai bidang. Pemerintah Indonesia pun juga telah mengeluarkan kebijakan wajib belajar 12 tahun. Namun, realita yang terjadi saat ini adalah tidak semua warga masyarakat dapat mengenyam pendidikan formal yang salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan ekonomi. Kaum marginal atau masyarakat miskin kota menjadi kelompok masyarakat yang sulit mengakses pendidikan. Maka dari itu, perlu adanya sarana pendidikan alternatif selain pendidikan formal melalui sekolah, khususnya bagi kaum marginal. Community Learning Center atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat menjadi suatu wadah kegiatan pembelajaran masyarakat sebagai alternatif untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan yang diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk mencapai Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 individu yang berdaya guna. Selain menunjang kebutuhan kegiatan belajar masyarakat, adanya fasilitas Community Learning Center ini juga mendukung eksistensi Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Berkaitan dengan kebutuhan akan ruang publik, isu ruang publik yang inklusif hingga saat ini dirasa belum optimal dalam Padahal, masyarakat sebagai subjek dari ruang publik itu sendiri merupakan suatu struktur elemen yang sudah seharusnya bersifat inklusif, mengingat di dalamnya sudah melingkupi keberagaman baik dari segi ras, agama, fisik, status sosial hingga usia. Dalam kitab suci Al QurAoan pun telah disinggung mengenai penciptaan manusia secara pluralistik dengan keberagaman dan kemajemukan, salah satunya yang tercantum dalam Q. Al Hujurat ayat 13. Pada tahun 2014 DIY telah mencanangkan diri sebagai provinsi inklusif dan sebelumnya telah mengeluarkan PERDA Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas yang baru berlaku efektif sejak tahun 2014. Namun faktanya, hingga kini secara implementasi terutama pada fasilitas umum atau ruang publik yang sudah ada di Yogyakarta dirasa belum maksimal dalam menerapkan desain yang inklusif. Sebagaimana mengutip dari pernyataan yang disampaikan Komisioner Bidang Pemantauan dan Layanan Pengaduan Komite Hak Disabilitas DIY dalam konferensi pers AoCatatan Akhir Tugas Komite Hak Disabilitas DIY 2017-2020Ao. Winarta . November . menyampaikan beberapa contoh aksesibilitas fasilitas umum di DIY terutama bagi para disabilitas masih jauh dari kata accessible. (Tribun, 2. Melihat fakta tersebut, maka inclusive design dipilih sebagai solusi untuk menjawab isu permasalahan yang ada dan juga mendukung pemerintah daerah dalam mewujudkan DIY sebagai provinsi inklusif. Pendekatan inclusive design ini akan diterapkan dalam perancangan Community Learning Center atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Yogyakarta dengan memperhatikan kebutuhan dan juga karakteristik tiap sasaran user yaitu masyarakat lokal khususnya kaum marginal, baik dari segi usia maupun bagi kalangan disabilitas. Tujuan Perancangan Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menghasilkan rancangan desain Community Learning Center atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Yogyakarta dengan pendekatan inclusive design, yang menyediakan fasilitas pendidikan nonformal dalam bentuk pendidikan kesetaraan dan pendidikan keterampilan sebagai alternatif pendidikan bagi masyarakat khususnya kaum Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 marginal dengan desain yang ramah bagi semua kalangan baik dari segi usia maupun bagi kalangan disabilitas. TINJAUAN PUSTAKA Community Learning Center Kumalawati . dalam penelitiannya yang berjudul AuGenengadal Community Center (Sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dengan Pendekatan Desain Arsitektur Vernakula. Ay, mendeskripsikan fungsi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau dalam penelitiannya disebut Community Center, yaitu sebagai tempat pelatihan dalam pemberdayaan masyarakat desa dan sarana pengembangan ekonomi kreatif. Perbedaan deskripsi dari Aufungsi Pusat Kegiatan Belajar MasyarakatAy antara penelitian Kumalawati dan penelitian ini adalah pada tinjauan aspek kegiatan-kegiatan yang diwadahi. Dalam penelitian Kumalawati kegiatan yang diwadahi lebih diarahkan kepada pemberdayaan masyarakat desa dan sarana pengembangan ekonomi kreatif. Sedangkan dalam penelitian ini, fungsi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau disebut Community Learning Center, yaitu sebagai pusat kegiatan masyarakat dengan fungsi edukasi dan rekreasi, yang mana kegiatan yang diwadahi lebih diarahkan pada sarana pendidikan nonformal dalam bentuk pendidikan kesetaraan dan pendidikan keterampilan sebagai alternatif pendidikan bagi kelompok masyarakat marginal. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 26 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hasil dari pendidikan nonformal dapat dinilai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah mengacu pada standar nasional pendidikan. Inclusive Design Istilah inclusive design ini muncul sebagai bentuk respon atas sering disalah artikannya istilah universal design yang awalnya berasal dari pergerakan bagi penyandang disabilitas, menjadi usaha mencari solusi universal untuk memenuhi kebutuhan semua orang (Laurens dan Tanuwidjaja, 2. Secara umum, istilah inclusive design dan universal design mempunyai latar belakang yang sama, namun terdapat perbedaan dari kedua istilah tersebut. Universal design lebih fokus terhadap desain final yang dihasilkan agar bisa digunakan semua orang tanpa harus beradaptasi dalam Mengutip dari penelitian Laurens dan Tanuwidjaja Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 . Universal design yang berfokus pada isu-isu teknis dan prosedural, justru menimbulkan stigmatisasi atau pengucilan individu karena desain mengakomodasi ketidakmampuan seseorang (Imrie, 2. Sedangkan inclusive design berfokus bukan pada hasil namun pada proses desain melalui pendekatan integratif, yaitu dengan pemahaman terhadap kebutuhan dan keberagaman pengguna agar dapat menghasilkan desain yang bisa digunakan tidak hanya pada kelompok tertentu tapi juga bisa menjangkau lebih banyak orang. Kartika. Mustaqimah. Hardiyati . penelitiannya menyebutkan empat kriteria inclusive design, yaitu. Functional . esain dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan Usable . esain dapat digunakan dan mudah dioperasika. Desirable . eberadaan desain diinginkan oleh penggun. Viable . esain layak digunakan oleh pengguna dengan memenuhi kriteria-kriteria sebelumny. (Tanuwidjaja, 2. Sedangkan menurut Pujiyanti . yang mengacu pada The Center of Universal Design . , terdapat 7 . prinsip Universal Design yang bisa digunakan dalam pendekatan desain inklusi, diantaranya sebagai berikut: Kesetaraan dalam penggunaan (Equitable Us. , yaitu desain dapat digunakan oleh semua pengguna dengan kondisi yang berbeda-beda. Fleksibilitas dalam penggunaan (Flexibility in Us. , yaitu desain dapat mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan setiap individu dengan cakupan yang luas. Cara penggunaan yang sederhana (Simple and Intuitive Us. , yaitu desain dapat dengan mudah dimengerti terlepas dari kondisi dan kemampuan pengguna. Informasi yang jelas (Perceptible Informatio. , yaitu desain memberikan informasi yang efektif kepada pengguna terlepas dari kondisi dan kemampuan pengguna. Ada toleransi terhadap kesalahan (Tolerance for Erro. , yaitu desain dapat meminimalisir konsekuensi dan resiko ketika terjadi kejadian atau tindakan tertentu. Hanya memerlukan sedikit upaya (Low Physical Effor. , yaitu desain dapat digunakan dengan efisien dan nyaman dalam segala kondisi. Terdapat ruang dan ukuran yang cukup untuk mencapai dan menggunakan (Size and Space for Approach and Us. , yaitu kesesuaian ukuran dan ruang untuk digunakan pengguna Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 terlepas dari postur dan kondisi fisik maupun perpindahan Berdasarkan penjabaran kriteria dan prinsip tersebut, dapat disimpulkan bahwa hal penting dalam desain inklusif adalah mengutamakan kesetaraan, kemudahan, kemandirian, dan Hal tersebut tercermin dalam kriteria inclusive design yang dapat diterapkan melalui prinsip-prinsip yang sesuai, yaitu sebagai berikut: Functional yang diterapkan melalui prinsip flexibility in use, prinsip perceptible information, dan prinsip tolerance for error. Usable yang diterapkan melalui prinsip simple and intuitive use, prinsip low physical effort, dan prinsip size and space for approach and use. Desirable yang diterapkan melalui prinsip equitable use dan prinsip perceptible information. Viable yang diterapkan melalui prinsip equitable use dan prinsip tolerance for error. PROSES RANCANG DAN EKSPLORASI Lokasi Proyek Kecamatan Umbulharjo merupakan 1 dari 10 kecamatan yang sudah ditetapkan menjadi kecamatan inklusi di Kota Yogyakarta. Umbulharjo juga menjadi salah satu kecamatan dengan angka kemiskinan paling tinggi di Kota Yogyakarta pada tahun 2020 yaitu mencapai 13,49 persen. Dalam PERDA tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta Tahun 2010-2029. Kecamatan Umbulharjo dikembangkan dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain yang relatif sudah berkembang. Beberapa faktor tersebut kemudian mendasari dipilihnya Kecamatan Umbulharjo menjadi lokasi untuk proyek Community Learning Center sebagai sebuah fasilitas penunjang kegiatan belajar masyarakat. Lokasi site yang dipilih tepatnya terletak di Jalan Ipda Tut Harsono. Kelurahan Muja Muju. Kecamatan Umbulharjo. Kota Yogyakarta. Site yang dipilih merupakan lahan kosong belum terbangun dan berbatasan dengan : - Utara : Kantor DPRD Kota Yogyakarta - Timur : Jalan Ipda Tut Harsono - Selatan : OYO 1334 De'amor Exclusive Timoho - Barat : Permukiman Warga Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Gambar. Lokasi Tapak Sumber: maps. Pemilihan site didasari oleh tersedianya lahan kosong yaitu tapak yang akan digunakan seluas A 8163. 23 m2. Selain itu lokasi site cukup dekat dengan instansi pendidikan, kantor pemerintahan, dan fasilitas pendukung pada area sekitar site, semisal halte Trans Jogja dan Rumah Sakit. Berdasarkan RDTR dan Peraturan Zonasi Kota Yogyakarta Tahun 2015-2035, peruntukan lahan site merupakan fungsi Perdagangan dan Jasa, dan Perumahan kepadatan tinggi. Selain itu dalam Indikasi Program Pemanfaatan Ruang masuk ke dalam zona Sarana Pelayanan Umum dengan kegiatan pengembangan dan pembangunan fasilitas penunjang sarana pendidikan. Untuk ketentuan intensitas pemanfaatan ruang berupa KDB sebesar 80%. KLB 6,4. KDH 10%. GSB minimal 5 meter, dan ketinggian bangunan maksimal 32 meter. Gambar. 2 Analisis Site Sumber: Analisis Penulis, 2021 Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Konsep Gubahan Massa Proses gubahan massa dimulai dengan mengikuti bentuk tapak yang disesuaikan dengan analisis peraturan garis sempadan bangunan, sehingga bangunan menjorok ke dalam. Dari bentuk yang didapatkan dibagi sesuai program zonasi ruang yang dibutuhkan dan dipotong di beberapa sisi untuk ruang terbuka. Beberapa sudut bangunan dibuat melengkung bertujuan agar aliran angin bisa mengalir masuk ke tiap sisi bangunan. Akses dibuat menjorok sebagai penanda akses masuk keluar serta sirkulasi di dalam site dibedakan antara sirkulasi kendaraan service dan kendaraan umum. Gambar. Gubahan Massa Sumber: Analisis Penulis, 2021 Konsep Pendekatan Perancangan Perancangan Community Learning Center menggunakan konsep pendekatan inclusive design sebagai dasar dalam Community Learning Center atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ini merupakan sebuah pusat kegiatan publik dengan fungsi edukasi dan rekreasi yang menyediakan fasilitas pendukung kegiatan belajar masyarakat, khususnya kaum Dalam pendekatan inclusive design diambil empat kriteria umum sebagai parameter yang akan diterapkan pada desain. Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Tabel 2. Penerapan Parameter Inclusive Design Kriteria Functional Usable Desirable Viable Prinsip Aspek Desain Entrance Massa Sirkulasi & Akses Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo flexibility in tolerance for simple and intuitive use low physical size and space for approach and equitable use equitable use tolerance for Oo Kualitas Ruang Ruang Dalam Ruang Luar Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Sumber: Penulis, 2021 Entrance Pengolahan entrance yang meliputi penempatan akses masuk dan akses keluar pada Community Learning Center menggunakan empat kriteria inclusive design yang diterapkan melalui akses yang mudah dijangkau, sederhana, sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan pengguna, serta mengutamakan kemandirian. Salah satu penerapannya yaitu dengan penggunaan pintu otomatis. Massa Pengolahan massa bangunan Community Learning Center menggunakan kriteria functional, desirable dan viable yang diterapkan pada bentuk dan zonasi atau pola tata ruang. Pengolahan desain disesuaikan dengan prinsip kesetaraan dalam penggunaan . quitable us. , prinsip kejelasan informasi . erceptible informatio. , dan prinsip keamanan dan keselamatan pengguna . olerance for erro. Sirkulasi dan Akses Pengolahan sirkulasi dan akses pada Community Learning Center yaitu meliputi pengolahan transportasi bangunan, koridor, dan jalur evakuasi darurat. Desain sirkulasi dilengkapi dengan fasilitas penunjang semisal hand railing, ramp, dan guiding block. Kualitas Ruang Pengolahan pada kualitas ruang dengan desain yang memberikan kenyamanan melalui pencahayaan dan penghawaan pada ruangan. Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Ruang Dalam Pengolahan ruang dalam pada Community Learning Center menggunakan empat kriteria inclusive design. Dalam pengolahan desain ruang dalam akan dipertimbangkan kebutuhan dan karakteristik pengguna, terutama bagi pengguna dengan kebutuhan khusus. Ruang Luar Pengolahan ruang luar pada Community Learning CenterAi meliputi pengolahan area parkir, pedestrian, dan landscapeAi menggunakan empat kriteria inclusive design. HASIL PERANCANGAN Penerapan Inclusive Design Berdasarkan teori inclusive design, terdapat empat kriteria desain yang inklusif, yaitu functional, usable, desirable, dan viable. Parameter inclusive design diterapkan di beberapa aspek dalam perancangan, di antaranya sebagai berikut : Entrance Area entrance atau akses keluar masuk pada bangunan penggunaan dan kemandirian. Dalam implementasinya yaitu penggunaan pintu sensor otomatis dan pintu dua arah. Selain itu warna pintu dibuat kontras dengan warna dinding agar mudah terlihat . olor contras. Gambar. Entrance Sumber : Penulis, 2021 Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Massa Pengolahan massa bangunan yaitu dengan membagi zonasi sesuai jenis kegiatan, seperti zona kegiatan layanan publik di gedung depan dan zona pendidikan kesetaraan dan pendidikan vokasi di gedung bagian belakang. Pembagian zonasi ini akan memudahkan pengguna menjangkau ruangan-ruangan sehingga tidak perlu berpindah terlalu jauh saat beraktivitas sesuai kebutuhannya. Untuk penerapan prinsip tolerance for error yaitu dengan meminimalisir perbedaan level permukaan lantaiAidengan flat surface dan tidak licin. Selain itu untuk merespon tingkat keterjangkauan pengguna yang berbeda-beda, dibuat area transit berupa area duduk di beberapa titik. Gambar. Massa Sumber : Penulis, 2021 Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Sirkulasi dan Akses Pengolahan sirkulasi dan akses berupa transportasi bangunan yang menggunakan lift, travelator, dan ramp yang dilengkapi railing. Untuk semua akses keluar masuk Untuk kemudahan akses bagi setiap pengguna, digunakan signage berupa LED Running text, signage dengan simbol dan braille, hand railing yang dilengkapi braille, dan guiding block. Gambar. Sirkulasi dan Akses Sumber : Penulis, 2021 Kualitas Ruang Untuk menjaga sirkulasi udara dan cahaya alami bisa masuk dengan baik, dibuat banyak bukaan di beberapa sisi Adanya skylight dan juga void pada bangunan juga membantu penghawaan dan pencahaayan secara alami. Pada beberapa ruang atau area dibuat terbuka atau tanpa dinding masif memberikan kesan lega dan luas. Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Gambar. Kualitas Ruang Sumber : Penulis, 2021 Ruang Dalam Pengolahan ruang dalam berupa penggunaan furnitur yang tidak terlalu tinggi agar bisa digunakan oleh semua orang dengan kemampuan dan kondisi fisik yang beragam. Selain itu, beberapa ruang dibuat dengan tanpa sekat atau dinding masif agar memudahkan mobilitas atau sirkulasi pengguna. Gambar. Ruang Dalam Sumber: Penulis, 2021 Ruang Luar Pengolahan ruang luar meliputi pengolahan area parkir, pedestrian, dan landscape. Pada pedestrian dibuat datar dan lurus, serta dilengkapi guiding block dan curbs cut di sisi Area parkir ditempatkan di beberapa titik dan Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 tidak jauh dari akses masuk bangunan, yang dilengkapi penanda parkir khusus untuk pengguna kendaraan difabel. Penambahan vegetasi seperti tanaman hias, pohon perindang dan pengarah juga menambah suasana asri pada kawasan. Gambar. Ruang Luar Sumber: Penulis, 2021 Hasil Rancangan Berikut merupakan hasil rancangan bangunan Community Learning Center. Gambar. Situasi Sumber : Penulis, 2021 Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Gambar. Siteplan Sumber: Penulis, 2021 Gambar. Fasad Bangunan Sumber: Penulis, 2021 Fasad pada bangunan Community Learning Center ini mengambil bentuk dan warna dari gelombang aliran air mengalir yang merujuk pada branding nama yang dipakai, yaitu WIDYA AMARTA Community Learning Center. Secara filosofis nama ini diambil dari bahasa sansekerta. AoWidyaAo yang berarti ilmu pengetahuan dan AoAmartaAo yang berarti air kehidupan. Nama tersebut juga merujuk dari istilah AoSEGORO AMARTOAo (Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokart. , yang merupakan strategi Pemerintah Kota Yogyakarta dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Yogyakarta. Sejalan dengan harapan bahwa WIDYA AMARTA Community Learning Center bisa seperti sebuah air kehidupan yang menjadi semangat bersama dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan mandiri melalui Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Gambar. Persektif Eksterior Sumber : Penulis, 2021 SIMPULAN Community Learning Center atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Yogyakarta ini dirancang sebagai sebuah fasilitas pendidikan nonformal yang mewadahi pendidikan kesetaraan dan pendidikan keterampilan sebagai alternatif pendidikan bagi masyarakat khususnya kaum marginal. Konsep inclusive design digunakan sebagai pendekatan dalam proses perancangan dengan menerapkan empat kriteria inclusive design pada beberapa aspek desain pada bangunan ini. Empat kriteria inclusive design yang diterapkan yaitu diantaranya kriteria functional, usable, desirable, dan viable. Perancangan Community Learning Center atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dengan pendekatan inclusive design ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pendidikan bagi banyak kalangan masyarakat juga mewadahi kebutuhan pengguna dengan kondisi yang beragam sekaligus secara arsitektural dapat menghilangkan deskriminasi fisik dalam penggunaan fasilitas publik. DAFTAR RUJUKAN Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta Dalam Angka Diakses https://jogjakota. id/publication/2020/04/27/2a6bb7 13d16b766c86776231/kota-yogyakarta-dalam-angka2020. Husna. Maruti A. Fasilitas Umum dengan Aksesibilitas Penyandang Disabilitas di DIY Dinilai Masih Jauh dari Standar di https://jogja. kses 17 Februari 2. Husna. Maruti A. Refleksi 6 Tahun DI Yogyakarta sebagai Provinsi Inklusif. Sejauh Mana Kepedulian Pemerintah? di https://jogja. kses 17 Februari 2. Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Journal of Architecture Student. Vol 2. No 2 . : November, 74-90 Kartika. Mustaqimah. & Hardiyati. Penerapan Desain Inklusif Pada Perancangan Sanggar Paud Inklusif di Yogyakarta. Jurnal Senthong Universitas Sebelas Maret. Vol. No. 1, . ttps://jurnal. , diakses 27 Februari 2021. KPS. Peningkatan Pendapatan Masyarakat Untuk Penuntasan Kemiskinan Kota Yogyakarta https://w. kses 16 Maret 2. Kumalawati. Mita. Genengadal Community Center (Sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dengan Pendekatan Desain Arsitektur Vernakula. Tugas Akhir Diterbitkan. Surakarta: Program Studi Arsitektur. Universitas Muhammadiyah Surakarta Laurens. & Tanuwidjaja. Melalui Pendekatan Desain Inklusi Menuju Arsitektur Yang Humanis. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Dies Jurusan Arsitektur. Universitas Kristen Petra. Surabaya, 4-5 Mei 2012 Marsa A. Muhammad. Revitalisasi Benteng Vastenburg Sebagai Mal Pelayanan Publik Surakarta dengan Pendekatan Inclusive Public Space Design. Tugas Akhir Diterbitkan. Surakarta: Program Studi Arsitektur. Universitas Muhammadiyah Surakarta Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta Tahun 20102029. Pujiyanti. Indah. Implementasi Universal Design Pada Fasilitas Pendidikan Tinggi. Jurnal Arsitektur Perencanaan . Vol. No. ttps://ejournal. , diakses 03 Maret 2021. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta